Cari Blog Ini

movie mania

10.



Aku  ingin  ada   seseorang   yang  bertanggung  jawab—agar   ada   seseorang  yang   bisa
kulawan. Seseorang untuk dihancurkan agar Bella bisa kembali aman.
Bella sangat diam; napasnya semakin cepat.
Aku   mendongak  melihatnya,   sadar   akhirnya   akan  segera  melihat   ekpresi   takut   di
wajahnya. Bukankah aku baru saja mengakui telah hampir  membunuhnya? Lebih dekat dari
sekedar
van
yang seinchi lagi hampir melindasnya. Tapi tetap saja, anehnya, wajahnya tetap
tenang. Matanya masih menatapku lekat-lekat, namun kali ini dengan tatapan prihatin.
“Kau ingat?” Dia pasti ingat.
“Ya,” jawabnya tenang. Matanya yang dalam, sepenuhnya sadar.
Dia tahu. Dia tahu aku pernah berniat untuk membunuhnya.
Lalu, dimana jeritannya?
“Tapi  toh  sekarang  kau tetap  duduk di  sini.” Aku  mempertanyakan  sikapnya  yang
bertolak belakang.
“Ya, di sinilah aku duduk... berkat dirimu.” Eksoresinya  berubah, jadi penasaran, dan
dengan mudahnya langsung mengganti topik, “karena, entah bagaimana, kau tahu bagaimana
menemukanku hari ini...”
Dengan sia-sia, sekali lagi aku berusaha menembus pikirannya, mencoba mati- matian
untuk memahami. Itu tidak masuk logika berpikirku. Bagaimana bisa dia peduli dengan yang
lainnya, ketika kebenarannya yang mengerikan telah terungkap?
Dia menunggu penasaran. Kulitnya pucat—yang memang aslinya begitu, tapi tetap saja
membuatku khawatir. Makan malamnya masih tetap tidak tersentuh. Jika ceritaku diteruskan,
dia akan butuh tambahan tenaga saat syoknya pecah.
Aku pun mengajukan syaratku. “Kau makan, aku bicara.”
Dia   mengolahnya   selama   sepersekian   detik,   lalu   cepat-cepat   menyendok   dan
mengunyah raviolinya. Dia terlihat lebih penasaran dari yang ditunjukan matanya.
“Mengikuti   jejakmu   lebih   sulit   daripada   seharusnya.”  Akhirnya   aku   meneruskan
certaku. “Biasanya,  setelah pernah mendengar   pikiran  seseorang, aku bisa dengan mudah
menemukannya.”
Aku mengamati wajahnya baik-baik saat mengatakannya. Inilah saatnya kengerian dia
akan  muncul.  Menebak  reaksinya  dengan  betul   adalah  satu  hal,  menyaksikannya   terjadi
193
   

adalah kesulitan yang lain.
Dia  tidak  bergerak, matanya  lebar. Rahangku sendiri  terkunci rapat  saat  menunggu
detik-detik dia akan panik.
Tapi dia hanya mengerjap satu kali, menelan keras-keras, dan cepat-cepat mengambil
satu suapan lagi ke mulutnya. Dia ingin aku meneruskan.
“Aku mengikuti Jessica,” lanjutku sambil memperhatikan setiap kata-kataku meresap.
“Dengan tidak hati-hati—”aku tidak bisa menahan diri untuk tidak menambahkan,“—seperti
kataku, hanya kau yang bisa mendapat masalah di Port Angeles.” Sadarkah dia bahwa jarang
orang punya pengalaman  hampir  mati  seperti  dia. Atau,  apa  menurutnya dia itu  normal-
normal saja? Dia jauh dari normal dibanding orang-orang yang pernah kutemui. “Awalnya
aku tidak memperhatikan ketika kau pergi sendirian. Lalu, ketika aku menyadari kau tidak
bersamanya lagi, aku pergi mencarimu di toko buku yang kulihat dalam pikirannya. Aku tahu
kau tidak masuk ke sana, dan kau pergi ke arah selatan... dan aku tahu kau toh harus kembali.
Jadi, aku hanya menunggumu, sambil secara acak membaca pikiran orang-orang di jalan—
melihat apakah ada yang memperhatikanmu sehingga aku tahu di mana kau berada. Aku tak
punya alasan untuk khawatir... tapi anehnya aku toh khawatir juga.”
Napasku  memburu  saat  ingat  kepanikan itu.  Bersama  derasnya  udara  yang  masuk,
napasnya membakar  tenggorokanku.  Dan itu membuatku  lega. Itu  adalah rasa  sakit  yang
menandakan dia masih hidup. Selama aku masih merasa terbakar, berarti dia aman.
“Aku  mulai bermobil  berputar-putar,  masih sambil...  mendengarkan.”  Kuharap kata-
kataku terdengar  masuk akal. Ini pasti membingungkan. “Matahari akhirnya terbenam, dan
aku nyaris keluar dan mengikutimu dengan berjalan kaki. Dan lalu—”
Saat   ingatan   itu   kembali—sejernih   seperti   sedang   mengalaminya   lagi—kurasakan
napsu membunuh kembali membilas tubuhku, mengunci tubuhku jadi es.
Aku   mau   orang   itu   mati.   Aku   butuh   dia   mati.   Rahangku   terkatup   rapat   saat
berkonsentrasi   untuk  bisa  tetap  duduk.  Bella  masih membutuhkanku.  Itulah  yang  paling
penting.
“Lalu apa?” bisiknya dengan mata coklat gelapnya yang lebar.
“Aku mendengar apa yang mereka pikirkan,” ujarku dari sela gigi, tidak sanggup untuk
tidak menggeram. “Aku melihat wajahmu dalam pikirannya.”
194
   

Dorongan untuk membunuh itu begitu kuat, aku hampir  tidak kuat menahannya. Aku
masih   tahu   pasti  dimana   keberadaan  orang  itu.  Pikiran-pikiran   busuknya   menghisap   di
kegelapan malam, menarikku ke arahnya...
Aku  menutup wajahku.  Ekspresiku pasti  seperti  monster,  pemburu, dan pembunuh.
Dengan  mata  tertutup,  aku  membayangkan  wajah Bella  supaya  bisa  mengendalikan diri.
Fokus hanya pada wajahnya, kelembutan tulang-tulang tubuhnya, lapisan tipis kulitnya yang
pucat—seperti balutan sutra di atas permukaan kaca, sangat lembut dan mudah pecah. Dia
terlalu rapuh untuk dunia ini. Dia
butuh
seorang pelindung. Dan, melalui takdir yang salah
kaprah, aku satu-satunya yang paling memungkinkan untuk mengisi posisi itu.
Aku coba menjelaskan reaksiku yang keji supaya dia mengerti.
“Sulit...   sulit   sekali—kau   tak   bisa   membayangkan   betapa   sulitnya—hanya   pergi
menyelamatkanmu,   dan   membiarkan   mereka...   tetap   hidup,”   bisikku.   “Aku   bisa   saja
membiarkanmu pergi dengan Jessica dan Angela, tapi aku takut kalau kau meninggalkanku
sendirian, aku akan pergi mencari mereka.”
Untuk kedua kalinya malam ini, aku mengakui niatku untuk membunuh. Paling tidak
yang satu ini bisa dipertanggung jawabkan.
Dia masih saja diam saat aku berusaha mengendalikan diri. Aku mendengarkan detak
jantungnya; iramanya sempat tidak teratur, tapi makin lama makin lambat sampai akhirnya
tenang lagi. Napasnya juga tenang dan teratur.
Aku sendiri sudah hampir lepas kendali. Aku mesti cepat-cepat mengantarnya  pulang
sebelum...
Apakah setelah itu aku akan membunuh mereka? Apakah aku akan menjadi pembunuh
lagi setelah kini dia mempercayaiku? Adakah cara untuk menghentikanku?
Dia   janji   akan   memberitahu   teorinya   ketika   kami   sendirian.   Maukah   aku
mendengarnya?  Aku penasaran, tapi jangan-jangan konsekuensinya justru jadi lebih buruk
ketimbang tidak tahu.
Dalam batas tertentu, dia sudah cukup banyak mendengar  kebenaran yang sanggup dia
terima dalam satu malam.
Aku menatapnya lagi, dan wajahnya lebih pucat dari sebelumnya, tapi tenang.
“Kau sudah siap pulang?” tanyaku.
195
   

“Aku siap untuk pulang.” Sepertinya dia memilih kata-katanya dengan hati-hati, seakan
jawaban sederhana 'ya' tidak sepenuhnya mengungkapkan apa yang ingin ia katakan.
Benar-benar membuat frustasi.
Pelayan   itu  kembali.   Dia  mendengar  pernyataan   Bella   saat   sedang   lewat   di   bilik
sebelah. Dia membayangkan apa lagi yang bisa ditawarkan padaku. Dan aku ingin mengusir
sebagian tawaran itu yang terlanjur terdengar oleh pikiranku.
“Jadi bagaimana?” tanyan pelayan itu padaku.
“Kami mau bayar, terima kasih,” jawabku sambil masih terus menatap Bella.
Napas pelayan itu memburu, dan sesaat dia—meminjam istilah Bella—terpesona oleh
suaraku.
Seketika itu juga, saat mendengar bagaimana suaraku kedengarannya di kepala pelayan
itu, aku jadi menyadari kenapa malam ini aku bisa menarik begitu banyak kekaguman—tidak
diiringi oleh takut seperti biasanya.
Alasannya  karena  Bella.  Berusaha  mati-matian jadi  aman buat  dia,  jadi  lebih  tidak
menakutkan,   jadi
manusia,
membuatku   kehilangan  tajiku.   Kini   manusia   hanya   melihat
indahnya saja karena
iner
-hororku telah kutahan.
Aku mendongak, melihat ke si pelayan, menunggu dia menguasai diri. Sekarang jadi
sedikit lucu, setelah mengerti alasannya.
“T-tentu,” ujarnya terbata-bata. “Ini dia.”
Dia  menyerahkan folder  berisi  tagihan.  Di  benaknya dia memikirkan  secarik kertas
yang ia selipkan di bawah resi. Secarik kertas dengan nama dan nomer telepon dir inya.
Ya, ini cukup lucu.
Aku   menyelipkan  uangku  tanpa   membuka   foldernya   dan   langsung   kukembalikan.
Dengan begitu dia tidak perlu repot-repot menunggu telepon yang tak akan pernah datang.
“Simpan saja kembaliannya.” Kuharap tipsnya yang besar  bisa mengobati kekecewaan
pelayan itu.
Aku berdiri, dan Bella  cepat-cepat mengikuti. Aku ingin menawarkan tanganku, tapi
kupikir  itu akan memaksakan keberuntunganku sedikit  terlalu jauh untuk satu malam. Aku
mengucapkan terima kasih pada si pelayan tanpa mengalihkan pandangan dari Bella.
Kami  berjalan  menuju  pintu keluar;  aku berjalan  di  sampingnya   sedekat  yang aku
196
   

berani. Cukup dekat hingga kehangatan tubuhnya terasa seperti sentuhan langsung pada sisi
kiri   tubuhku.   Saat   dia   melewatiku   yang   sedang   menahan   pintu  restoran   untuknya,   dia
menghela  napas  pelan. Itu membuatku bertanya-tanya,  penyesalan apa yang membuatnya
sedih. Aku menatap ke dalam matanya, sudah ingin bertanya, ketika tiba-tiba ia menunduk,
kelihatan   malu.   Itu   membuatku   lebih   penasaran   lagi,   tapi   juga   segan   untuk   bertanya.
Keheningan diantara kami berlanjut sampai saat aku membukakan pintu mobil buat dia dan
masuk.
Aku menyalakan pemanas—hawa hangat memenuhi kabin mobilku; mobil yang dingin
pasti  membuatnya  tidak nyaman. Dia  bersidekap di  balik jaketku, secercah  senyum pada
bibirnya.
Aku menunggu, menunda pembicaraan sampai lampu-lampu di pinggir jalan memudar.
Itu membuatku merasa semakin berdua saja dengannya.
Apa itu langkah yang tepat? Kini, saat hanya fokus padanya, mobilku terlihat sangat
kecil. Aromanya bergelung-gelung didalam kabin bersama dengan hembusan dar i pemanas,
bergolak dan menguat. Aromanya tumbuh jadi kekuatan tersendiri yang lebih besar, seperti
entitas lain di dalam mobil. Sebuah kehadiran yang membutuhkan pengakuan.
Pasti begitu; aku terbakar. Meski begitu rasa terbakar  ini bisa kuterima. Sangat pantas
untukku. Aku sudah diberikan sangat banyak malam ini—lebih dari yang kuharapkan. Dan,
disinilah  dia,  masih  ingin  berada  di  sisiku.  Aku  berhutang  sesuatu   atas  hal  ini. Sebuah
pengorbanan. Perasaan terbakar.
Ugh, seandainya saja aku bisa menahan hanya sebatas itu; cuma terbakar, tidak lebih.
Tapi  yang terjadi;  liur  telah  membanjiri  mulutku,  dan  otot-ototku  menegang, seakan  aku
sedang berburu...
Aku  harus  menghindari  pikiran  seperti  itu.  Dan  sepertinya  aku tahu  apa  yang  bisa
mengalihkan perhatianku.
“Sekarang,” kataku ragu, takut rasa terbakar ini jadi lepas kendali. “Giliranmu.”
197
   

10. Teori
“Boleh aku bertanya satu hal lagi?” Bukannya menjawab pertanyaanku, dia justru mau
bertanya lagi.
Aku sudah terpojok, cemas menunggu yang terburuk. Namun, aku cukup tergoda juga
untuk bisa memperlama situasi ini; dengan Bella bersamaku, atas kemauannya sendiri. Aku
mendesah atas dilema ini, kemudian mengiyakan, “Satu saja.”

Well
...” dia ragu sejenak, seperti sedang mempertimbangkan pertanyaan mana yang
mau diungkap. “Katamu kau tahu aku tidak masuk ke toko buku itu, dan aku pergi ke selatan.
Aku hanya bertanya-tanya, bagaimana kau mengetahuinya.”
Aku menatap ke luar jendela. Ini dia, satu pertanyaan lagi yang akan mengungkap tidak
satupun darinya, tapi terlalu banyak dariku.
“Kupikir kita telah melewati tahap pura-pura,” tukasnya dengan nada kecewa.
Betapa ironis. Dengan mudah ia bisa mengelak tanpa perlu bersusah payah.
Well
, dia mau aku bicara apa adanya. Bagaimanapun juga, pembicaraan ini tidak akan
berakhir dengan baik.
“Baiklah kalau begitu,” ujarku akhirnya. “Aku mengikuti aroma tubuhmu.”
Aku  ingin  melihat  wajahnya,  tapi  terlalu takut  dengan  apa  yang  akan kulihat.  Aku
hanya mendengarkan napasnya, yang makin cepat lalu kembali ter atur.
Setelah beberapa  saat, dia sudah  bicara  lagi. Suaranya  jauh lebih  tenang dari  yang
kuharapkan, “kau belum menjawab satu pertanyaan yang tadi...” .
Aku menoleh ke arahnya  sambil  mengerutkan dahi.  Dia juga sedang  mengulur-ulur
waktu.
“Yang mana?”
“Bagaimana caranya—membaca pikiran?” Dia mengulang pertanyaan di resotran tadi.
“Bisakah kau membaca pikiran  siapa saja, di  mana  saja?  Bagaimana  kau melakukannya?
Apakah keluargamu yang lain bisa...?” Dia berhenti, tersipu lagi.
“Itu lebih dari satu pertanyaan.”
Dia hanya menatapku, menunggu jawabannya.
198
   

Sudahlah,   kenapa   tidak   sekalian   saja   kuceritakan?   Toh   dia   sudah   bisa   menebak
sebagian ceritanya. Lagi pula ini topik yang jauh lebih mudah ketimbang perkar a besarnya.
“Tidak, hanya aku yang bisa. Dan aku tak bisa mendengar siapa saja, di mana saja. Aku
harus cukup dekat dengan orang itu. Semakin aku mengenal suara seseorang, meski jauh pun
aku bisa mendengar mereka. Tapi tetap saja, tak lebih dari beberapa mil.”
Aku coba mencari cara untuk menggambarkannya  supaya  dia bisa mengerti. Sebuah
analogi yang bisa membantu. “Kurang lebih seperti  berada di ruangan besar  penuh orang,
semua bicara serentak. Hanya suara senandung—suara-suara dengungan di  latar  belakang.
Setelah fokus  pada satu suara, barulah apa yang mereka pikirkan menjadi jelas. Kebanyakan
aku  mendengarkan  semuanya—dan  itu bisa  sangat  mengganggu.  Kemudian  lebih mudah
untuk  terlihat
normal,
”—aku  meringis—“ketika   aku   sedang  tidak   sengaja   menjawab   isi
pikiran seseorang dan bukannya apa yang dikatakannya.”
“Menurutmu kenapa kau tidak bisa mendengarku?” Dia bertanya- tanya.
Aku memberinya kebenaran dan analogi lain, “aku tidak tahu. Satu-satunya dugaanku,
mungkin   jalan   pikiranmu   berbeda   dengan   yang   lainnya.   Dengan   kata   lain,   misalnya
pikiranmu ada di gelombang AM, sementara aku hanya bisa menangkap gelombang FM.”
Aku sadar dia pasti tidak akan suka analogi itu. Dan aku tersenyum membayangkannya.
Dia tidak akan mengecewakan tebakanku.
“Pikiranku tidak berjalan dengan benar?” protesnya dengan suara tinggi. “Maksudmu
aku aneh?”
Ah, ironi lagi.
“Akulah yang mendengar suara-suara dalam pikiranku, tapi justru kau yang khawatir
dirimu
aneh.”  Aku tertawa. Dia mengerti hal  yang kecil-kecil, namun terbalik memahami
gambaran besarnya. Selalu saja instingnya keliru...
Dia menggigit bibirnya, kerut diantara matanya semakin dalam.
“Jangan khawatir,” aku meyakinkan. “Itu cuma teori...” Dan ada teori lain yang lebih
penting untuk didiskusikan. Teorinya dia. Dan aku tidak sabar ingin cepat-cepat diselesaikan.
Makin mengulur-ulur waktu justru membuat makin tersiksa.
“Yang mengingatkan aku, sekarang giliranmu,” ujarku dengan perasaan ambigu, antara
waswas dengan enggan.
199
   

Dia  mengambil napas  dalam-dalam, masih sambil  menggigit bibir—aku khawatir  dia
akan melukai dirinya sendiri. Dia menatap kedalam mataku, wajahnya gelish.
“Bukankah sekarang kita sudah melewati tahap mengelak?” desakku halus.
Dia   menunduk,  bergulat  dengan  pikirannya.  Tiba-tiba, dia  mengejang  dan  matanya
membalalak ngeri. Untuk pertama kali, ekspresi wajahnya ketakutan.
Napasnya tertahan. “Gila!”
Aku kalang-kabut. Apa yang dia lihat? Bagaimana aku menakutinya?
Kemudian dia berteriak panik, “Pelankan mobilnya!”
“Kenapa?” aku sama sekali tidak mengerti.
“Kau melaju seratus mil per  jam!” jeritnya padaku. Dia melihat keluar jendela dengan
tatapan ngeri.
Hal sepele begini, cuma karena ngebut, membuat dia teriak ketakutan?
Aku memutar bola mataku. “Tenang, Bella.”
“Apa kau mencoba membunuh kita berdua?” sergahnya masih dengan suara tinggi dan
tajam.
“Kita tidak akan kenapa-kenapa.”
Dia menghirup napas dalam-dalam, kemudian pelan-pelan bicara dengan lebih tenang.
“Kenapa, kau terburu-buru seperti ini?”
“Aku selalu mengemudi seperti ini.”
Aku bertemu pandangan dengannya, dan terhibur oleh ekspresi syok dia.
“Jangan alihkan pandanganmu dari jalan!” teriaknya lagi.
“Aku belum pernah kenapa-kenapa, Bella—aku bahkan belum pernah ditilang.” Aku
tersenyum lebar  dan menunjuk keningku. Itu jadi lebih menggelikan—bisa melucu tentang
sesuatu yang rahasia dan ganjil dengan Bella. “Radar pendeteksi alami,” kataku.
“Sangat lucu,” sindirnya dengan nada takut daripada marah. “Charlie polisi, kau tidak
lupa, kan? Aku dibesarkan untuk mematuhi atur an lalu lintas. Lagi pula, kalau kau menerjang
pohon dan membuat kita berdua cedera, barangkali kau masih bisa selamat.”
“Barangkali,”  kataku mengiyakan dan tertawa sebentar. Ya, nasib kamu berdua akan
sedikit berbeda jika terjadi apa-apa. Wajar  dia takut, meski dengan kelihaianku mengemudi...
“Tapi kau tidak.”
200
   

Sambil menghela napas aku menurunkan kecepatan. “Puas?”
Dia mengamati spedometernya. “Hampir.”
Apa ini masih terlalu cepat? “Aku tidak suka mengemudi pelan-pelan,” gumamku, tapi
membiarkan jarumnya turun beberapa garis lagi.
“Kau bilang ini pelan?” protesnya.
“Sudah cukup menngomentari cara mengemudiku,” kataku tidak sabar. Sudah berapa
kali  dia mengelak pertanyaanku?  Tiga kali? Empat? Apa spekulasi  dia semanakutkan itu?
Aku harus tahu—secepatnya. “Aku masih menantikan teori terakhirmu.”
Dia menggigit bibirnya lagi, ekspresinya berubah waswas.
“Aku   tidak   bakal   tertawa.”   Suaraku   melunak.   Aku   tidak   ingin   dia   jadi   tertekan.
Kuharap alasan dia enggan bicara hanya karena malu.
“Aku lebih khawatir kau bakal marah padaku,” bisiknya.
Kupaksakan suaraku untuk tetap tenang. “Seburuk itukah?”
“Kurang-lebih, ya.”
Dia menunduk, menolak menatap mataku. Beberapa detik telah lewat.
“Katakan saja.”
Suaranya sangat pelan. “Aku tak tahu bagaimana memulainya.”
“Kenapa  kau  tidak  mulai  dari  awal...”  Aku  ingat  ucapannya   saat   di  restoran  tadi.
“Katamu kesimpulanmu tidak muncul begitu saja.”
“Tidak.” Dia kembali diam lagi.
Aku mengir a-ngira sesuatu yang mungkin menginspirasi dia. “Apa yang memicunya—
buku? Film?”
Aku mestinya mengecek koleksi bukunya. Aku tidak menyangka jika novelnya Bram
Stroker atau Annie Rice ada diantara tumpukan buku-buku dia...
“Tidak, semuanya berawal hari sabtu, di pantai.”
Ini lebih mengejutkan lagi. Gosip tentang kami belum pernah menyimpang seaneh itu
—atau setepat itu. Apa ada rumor baru yang kulewatkan?
Bella melirik dan melihat kekagetan di wajahku.
“Aku bertemu teman lama keluargaku—Jacob Black.” Dia melanjutkan. “Ayahnya dan
Charlie telah berteman sejak aku masih bayi.”
201
   

Jacob Black—nama itu asing, namun mengingatkan pada sesuatu... pada  suatu
masa
jauh ke belakang... Aku menatap keluar, mencari-cari dalam ingatanku, berusaha menemukan
hubungannya.
“Ayahnya salah satu tetua suku Quileute,” tambahnya.
Jacob Black.
Ephraim Black.
Keturunannya, tidak salah lagi.
Ini benar-benar buruk.
Bella tahu yang sebenarnya.
Mendadak   pikiranku   jadi   tidak   karuan,   pada   saat   bersamaan,   jalanan   di   depan
membelok.   Badanku   kaku   karena   merana—mematung,   tidak   bergerak,   kecuali   sedikit
gerakan otomatis untuk membelokkan kemudi.
Bella tahu yang sebenarnya.
Tapi..., jika  dia  sudah tahu sejak  kemarin sabtu..., berarti  semalaman ini  dia  sudah
tahu... Dan tetap saja...
“Kami jalan-jalan,” dia melanjutkan. “Dan dia menceritakan beberapa legenda tua—
kurasa dia mencoba menakut-nakuitiku. Dia menceritakan salah satunya...”
Dia berhenti sebentar, tapi sudah tidak ada gunanya ragu-ragu; aku sudah tahu apa yang
akan ia katakan. Satu-satunya misteri yang tersisa adalah mengapa ia masih disini denganku?
“Lanjutkan...”
Dia menghembuskan napas, ucapannya lebih sekedar bisikan, “tentang vampir.”
Aku berjengit mendengarnya, namun segera bisa menguasai diri. Entah bagaimana, itu
jauh lebih parah ketimbang ketimbang tahu kalau dia tahu; mendengar dia mengucapkan kata
itu.
“Dan kau langsung teringat padaku?”
“Tidak. Dia... menyebut keluargamu.”
Sungguh ironis, justru keturunan Ephraim  sendiri lah yang  telah melanggar  sumpah
yang ia buat. Cucunya sendiri, atau barangkali cicitnya. Berapa tahun sudah berselang? Tujuh
puluh tahun?
Seharusnya aku sadar bahwa bukan para tetua, yang
percaya
dengan legenda itu, yang
mesti diwaspadai. Tapi, tentu saja, adalah generasi mudanya—yang telah diperingatkan, tapi
dipikirnya itu cuma kisah takhayul yang bisa ditertawakan. Dan disitulah letak bahaya yang
202
   

sebenarnya.
Itu   artinya   sekarang   aku   bebas   untuk   membantai   suku   kecil   itu,   dan   aku   tidak
keberatan. Ephraim dan para pelindungnya telah lama mati...
“Dia hanya mengaggap itu takhayul yang konyol,” ujar  Bella tiba-tiba. Suaranya kini
jadi waswas. “Dia tidak bermaksud supaya aku berpikir yang bukan-bukan.”
Lewat sudut mataku, aku melihat dia meremas-remas tangannya gelisah.
“Itu salahku,” ucapnya kemudian setelah diam sejenak. Ia tertunduk malu. “Aku yang
memaksanya bercerita padaku.”
“Kenapa?” Sekarang tidak sulit untuk  menjaga  suaraku tetap  tenang.  Yang terburuk
telah lewat. Selama  kami berdua  terus  bicara  tentang asal-usul teori  dia, maka tidak perlu
membahas bagaimana kelanjutannya.
“Lauren mengatakan sesuatu tentang kau—dia mencoba memprovokasiku.” Wajahnya
merengut saat mengingatnya. Pikiranku sedikit teralihkan, membayangkan bagaimana Bella
bisa terprovokasi oleh gunjingan tentang diriku... “Dan seorang cowok yang lebih tua dari
suku  itu  bilang  kalau  keluargamu  tidak  datang  ke  reservasi.  Hanya   saja,  sepertinya  ada
maksud lain di  balik perkataannya. Jadi  aku memancing Jacob  pergi berduaan denganku,
untuk memancingnya agar mau cerita.”
Kepalanya tertunduk lebih dalam lagi, ekspresinya terlihat...bersalah.
Aku berpaling dan tergelak.
Dia
merasa  bersalah? Apa coba yang telah dia lakukan
sampai dia merasa tercela sedemikian rupa?
“Memancing bagaimana?”
“Aku   mencoba   merayunya—dan   ternyata   hasilnya   lebih   baik   dari   yang   kuduga.”
Suaranya berubah ragu saat mengingat kesuksesannya itu.
Aku bisa membayangkan—mengingat daya tariknya di mata para lelaki, dan ketidak
sadaran dia atas hal itu—jadi betapa luas biasanya dia ketika
mencoba
untuk mengeluarkan
pesonanya.  Aku   jadi   merasa   kasihan   pada  bocah  lugu  yang  telah  menjadi   korban  daya
pikatnya yang luar biasa itu.
“Kalau  saja aku melihatnya...”  Dan aku tertawa  membayangkannya. Andai  saja  aku
bisa mendengar  reaksi bocah itu, menyaksikan penaklukannya secara langsung.  “Dan kau
menuduhku membuat orang terpesona—Jacob Black yang malang.”
203
   

Ternyata  aku tidak  terlalu  marah kepada  sumber   kebocoran rahasiaku, tidak  seperti
yang kukira akan kurasakan. Bocah itu tidak tahu apa-apa. Dan bagaimana mungkin ada pria
yang bisa menolak kemauan gadis ini? Aku justru  bersimpati pada bocah itu, Bella  sama
sekali tidak tahu bagaimana dampaknya terhadap pikiran Jacob Black yang malang itu.
Aku merasakan wajah  Bella yang tersipu menghangatkan udara  diantara  kami. Aku
melirik ke arahnya, dia sedang memandang ke luar jendela. Dia tidak bicara lagi.
“Lalu, apa yang kau lakukan?” tanyaku pelan. Waktunya kembali ke cerita horor.
“Aku mencari keterangan di internet.”
Betapa praktisnya. “Dan, apakah hasilnya membuatmu yakin?”
“Tidak,” jawabnya. “Tidak ada yang cocok. Kebanyakan konyol. Kemudian...”
Dia diam lagi. Aku mendengar giginya terkatup rapat.
“Apa?”  desakku. Apa  yang dia temukan? Apa  yang membuat mimpi  buruk ini  jadi
masuk akal buat dia?
Ada jeda sejenak, dan kemudian ia berbisik, “kuputuskan itu tidak penting.”
Syok membekukan pikiranku selama sepersekian detik. Kemudian semuanya jadi jelas.
Kenapa tadi ia menyuruh teman-temannya pergi ketimbang pulang bersama mereka. Kenapa
ia kembali masuk kedalam mobilku dan bukannya lari ketakutan mencari polisi...
Reaksinya   selalu   salah—selalu  sangat  salah.  Dia   menar ik  bahaya  ke   arahnya.  Dia
mengundangnya.
“Itu tidak
penting
?”  Aku hampir  menggeram karena  marah. Bagaimana caranya  aku
bisa melindungi seseorang yang sangat...sangat...sangat tidak ingin dilindungi?
“Tidak,” jawabnya dengan suara yang begitu lembut. “Tidak penting bagiku apa pun
kau ini.”
Dia sungguh tidak masuk akal.
“Kau tidak peduli kalau aku monster? Kalau aku bukan
manusia
?”
“Tidak.”
Aku mulai mempertanyakan, apa kondisi psikisnya benar-benar stabil.
Barangkali aku bisa mengatur agar ia mendapat perawatan yang terbaik... Carlisle pasti
punya  koneksi  dokter  yang  terbaik,  terapis   yang  paling   andal.  Barangkali   sesuatu  bisa
dilakukan   untuk  menyembuhkan   apapun   yang   salah   dari   dirinya,   apapun   itu   yang   jadi
204
   

penyebab hingga ia bisa duduk dengan tenang di samping seorang vampir. Aku akan selalu
mengawasi  selama dia dirawat, seperti cara  biasanya, dan mengunjunginya sesering yang
dibolehkan...
“Kau marah,” keluhnya. “Seharusnya aku tidak mengatakan apa-apa.”
Kata-katanya itu...seakan dengan menyembunyikan pendapat  absurdnya itu akan bisa
menolong kerumitan ini.
“Tidak. Lebih baik aku tahu apa yang kau pikirkan—bahkan meskipun pikiranmu itu
tidak waras.”
“Jadi aku salah lagi?” Kini nadanya sedikit menantang.
“Bukan   itu   maksudku!”   Gigiku  terkatup  rapat   lagi.   “'itu  tidak   penting'!”   ulangku
dengan nada pedas.
Dia menahan napas. “Aku benar?”
“Apakah itu
penting
?” balasku.
“Tidak juga.” Suaranya sudah tenang lagi. “Tapi aku
memang
penasaran.”
Tidak juga. Itu tidak penting. Dia tidak peduli. Dia tahu aku bukan manusia, seorang
monster, dan hal itu tidak penting buatnya.
Disamping  mencemaskan  kewarasannya,  aku  mulai  merasakan   sebungkah  harapan.
Tapi aku segera membuangnya jauh-jauh.
“Apa yang membuatmu penasaran?” Tidak ada lagi rahasia yang tersisa, cuma detail-
detail kecil.
“Berapa umurmu?”
Jawabanku sudah otomatis dan mendarah daging, “tujuh belas.”
“Dan sudah berapa lama kau berumur tujuh belas?”
Aku mencoba untuk tidak tersenyum saat mendengar nada protesnya. “Cukup lama.”
“Oke.” Mendadak dia  jadi bersemangat. Dia  tersenyum padaku. Ketika aku menatap
balik, lagi-lagi dengan perasaan cemas dengan kondisi mentalnya, senyumannya justru makin
lebar. Aku cuma meringis.
“Jangan tertawa.” Dia mewanti-wanti. “Tapi bagaimana kau bisa keluar di siang hari?”
Bagaimanapun juga  aku tertawa. Sepertinya riset dia tidak menemukan sesuatu yang
baru. “Mitos.”
205
   

“Terbakar matahari?”
“Mitos.”
“Tidur di peti mati?”
“Mitos.”
Tidur sudah bukan lagi jadi bagian hidupku sejak lama—tidak hingga beberapa malam
terakhir saat aku mengawasi Bella bermimpi...
“Aku tidak bisa tidur,” gumamku, menjawab pertanyaannya terus terang.
Dia terdiam sejenak.
“Sama sekali?”
“Tidak pernah.” Aku menghela napas.
Kupandangi mata coklatnya yang dalam, dan aku jadi rindu untuk tidur. Bukan untuk
melarikan  diri   dari   bosan,   seperti   sebelumnya,   tapi  lebih   karena   untuk   bisa
bermimpi.
Barangkali, jika aku bisa tidur, jika aku bisa bermimpi, maka untuk beberapa saat aku bisa
tinggal di dunia dimana aku dan Bella bisa bersama-sama. Dia memimpikan aku. Aku ingin
memimpikan dia.
Dia menatap balik, ekspresinya keheranan. Aku pun berpaling.
Aku tidak mungkin memimpikan dia. Tidak seharusnya dia memimpikan aku.
“Kau belum melontarkan pertanyaan yang paling penting.” Jantungku semakin beku,
lebih keras dari biasanya. Dia harus dipaksa untuk memahami. Dia harus menyadari bahaya
apa yang sedang ia hadapi. Dia harus  kubuat mengerti bahwa semua ini
adalah
penting—
jauh lebih penting dari pertimbangan apapun. Pertimbangan-pertimbangan seperti bahwa aku
mencintai dia.
“Yang mana?” tanyanya terkejut dan tidak sadar.
Itu   cuma   membuat   suaraku   makin   parau.   “Kau   tidak   peduli   dengan   dengan
makananku?”
“Oh, itu.” Dia bicara begitu pelan hingga aku tidak bisa mengartikan intonasinya.
“Ya, itu. Tidakkah kau ingin tahu
apakah
aku minum darah?”
Dia   tersentak   mendengar   pertanyaanku   yang   langsung   ke   sasaran.  Akhirnya.   Dia
mengerti juga.

Well
, Jacob mengatakan sesuatu tentang itu.”
206
   

“Apa yang dikatakan Jacob?”
“Dia  bilang   kau  tidak...  memburu   manusia.  Katanya  keluargamu  seharusnya   tidak
berbahaya karena kalian hanya memburu binatang.”
“Dia bilang kami tidak berbahaya?” ulangku sinis.
“Tidak juga,” dia membetulkan. “Dia bilang kalian
seharusnya
tidak berbahaya. Tapi
suku Quileute masih tidak menginginkan kehadiran kalan di tanah mereka, untuk berjaga-
jaga.”
Aku   memandang   lurus   kedepan.   Pikiranku   menggeram   putus   asa.   Tenggorokanku
terbakar oleh rasa haus yang sangat kukenal.
“Jadi  apakah  itu  benar?”  Suaranya  setenang  seakan  sedang  membicarakan  laporan
cuaca. “Tentang tidak memburu manusia?”
“Suku Quileute punya ingatan yang panjang.”
Dia mengangguk sendiri sambil berpikir keras.
“Tapi jangan senang  dulu,” kataku  cepat-cepat. “Mereka benar  untuk tetap menjaga
jarak dengan kami. Kami masih berbahaya.”
“Aku tidak mengerti.”
Tentu saja dia tidak mengerti. Bagaimana caranya membuat dia mengerti?
“Kami  berusaha,” aku coba  menjelaskan  pelan-pelan.  “Kami  biasanya  sangat  andal
dengan apa yang kami lakukan. Tapi kadang kami juga membuat kesalahan. Aku, contohnya,
membiarkan diriku berduaan denganmu.”
Aromanya masih sangat tajam di dalam sini. Aku sudah mulai terbiasa, aku hampir bisa
mengabaikannya, tapi tidak bisa dipungkiri bahwa  tubuhku masih menginginkan dia untuk
alasan yang salah. Liur masih membanjiri mulutku.
“Kau sebut ini kesalahan?” suaranya terdengar sedih. Dan itu meluluhkanku. Dia ingin
bersama denganku—terlepas dari segalanya, dia ingin bersama denganku.
Harapan kembali mengembang. Dan lagi-lagi kembali kukibas.
“Kesalahan   yang   sangat   berbahaya.”   Aku   mengatakan   sejujur-jujurnya,   berharap
akhirnya dia bisa mengerti.
Selama beberapa saat dia tidak menanggapi. Bisa kudengar  irama napasnya berubah—
jadi tidak beraturan, yang anehnya tidak seperti ketakutan.
207
   

“Ceritakan lagi,” ujarnya tiba-tiba. Suaranya bergetar sedih.
Aku mengamati baik-baik.
Ah, dia terluka. Bagaimana bisa aku membiarkan
ini
?
“Apa  lagi, yang ingn kau ketahui?” Aku mencari-cari cara untuk membuatnya tidak
terluka. Dia tidak boleh terluka. Aku tidak boleh membiarkan dia sampai terluka.
“Katakan kenapa kau memburu binatang dan bukan manusia?” Suaranya masih sedih
dan putus asa.
Bukankah sudah jelas? Atau, barangkali ini juga tidak penting buat dia.
“Aku tidak
ingin
menjadi monster,” gumamku.
“Tapi binatang tidak cukup bukan?”
Aku mencari perbandingan lain agar dia bisa mengerti. “Aku tidak yakin tentu saja, tapi
aku membandingkannya  dengan hidup hanya  dengan makan tahu dan susu kedelai; kami
menyebut diri kami vegetarian, lelucon di antara kami sendiri. Tidak benar-benar memuaskan
lapar kami—atau dahaga tepatnya. Tapi membuat kami cukup kuat untuk bertahan. Hampir
sepanjang  waktu.”   Suaraku  merendah;  aku  merasa   malu  atas   bahaya   yang  kuakibatkan
padanya. Bahaya yang terus saja kubiarkan... “Kadang-kadang lebih sulit dari yang lainnya.”
“Apakah sekarang sangat sulit bagimu?”
Aku menghela napas. Tentu  saja dia akan menanyakan pertanyaan yang tidak ingin
kujawab. “Ya,” jawabku terus-terang.
Kali ini aku bisa menebak respon fisiknya dengan benar: irama napasnya terjaga, detak
jantungnya teratur. Aku sudah menduga itu, tapi tetap tidak bisa memahaminya. Kenapa dia
tidak takut?
“Tapi kau tidak sedang lapar.” Dia kedengaran yakin.
“Kenapa kau berpikir begitu?”
“Matamu,”   ungkapnya   begitu   saja.   “Sudah   kubilang   aku   punya   teori.   Aku
memperhatikan bahwa orang-orang—khususnya  cowok—jadi lebih pemarah ketika mereka
lapar.”
Aku terkekeh mendengar  istilahnya:
pemarah
. Kedengarannya  lebih bersahabat, tapi
lagi-lagi tepat sasaran. “Kau ini memang pengamat, ya kan?” Aku kembali tertawa.
Dia   sedikit   tersenyum.  Kerut   diantara  matanya  muncul  lagi,  sepertinya  dia   sedang
208
   

berkonsentrasi pada sesuatu.
“Apakah kau pergi berburu akhir pekan ini, dengan Emmet?” tanyanya setelah tawaku
reda.   Nada   bicaranya   yang   biasa-biasa   saja   sungguh   menakjubkan,   sekaligus   membuat
frustasi. Bagaimana bisa dia menerimanya begitu saja. Justru aku yang lebih mendekati syok
ketimbang dia.
“Ya.” Aku hampir memberitahu sebatas itu saja, namun aku merasakan dorongan yang
sama seperti di restoran tadi: Aku ingin dia mengenal diriku. “Aku tidak ingin pergi.” Aku
melanjutkan pelan-pelan, “tapi ini penting. Lebih mudah berada di sekitarmu ketika aku tidak
sedang haus.”
“Kenapa kau tidak ingin pergi?”
Aku mengambil napas panjang, dan kemudian menoleh, menatap matanya. Kejujuran
yang seperti ini sama sulitnya.
“Itu membuatku... khawatir...”—kurasa istilah itu cukup memadai, meski masih belum
cukup kuat—“berada jauh darimu. Aku tidak bercanda ketika memintamu untuk tidak jatuh
ke   laut   atau   tidak   kenapa-kenapa   kamis   lalu.   Sepanjang   akhir   pekan   aku   tak   bisa
berkonsentrasi  karena  mengkhawatirkanmu. Dan  setelah apa yang terjadi malam ini,  aku
terkejut kau bisa melewati seluruh akhir pekan ini tanpa tergores.” Lalu aku ingat bekas luka
di telapak tangannya. “
Well
, tidak benar-benar tanpa tergores sebetulnya.”
“Apa?”
“Tanganmu...”
Dia menghela napas dan cemberut. “Aku terjatuh.”
“Sudah kuduga.” Aku tak sanggup menahan senyum. “Kurasa, mengingat siapa dirimu,
kejadiannya bisa lebih buruk lagi—dan kemungkinan itu menyiksaku selama kepergianku.
Tiga  hari   yang  amat  panjang. Aku  benar-benar  membuat   Emmet  kesal.”  Dan  sepertinya
Emmet sampai sekarang masih kesal, juga seluruh keluargaku. Kecuali Alice...
“Tiga  hari?” Suaranya mendadak berubah tajam. “Bukankah  kau baru kembali  hari
ini?”
Aku tidak mengerti kenapa dia jadi kesal. “Tidak, kami kembali hari minggu.”
“Lalu kenapa tak satu pun dari kalian masuk sekolah?”
Kemarahannya membuatku bingung. Kelihatannya dia tidak sadar kalau pertanyaan itu
209
   
masih ada hubungannya dengan mitos-mitos tadi.

Well
, kau bertanya apakah matahari menyakitiku, dan memang tidak,” jawabku. “Tapi
aku tak bisa  keluar  ketika matahari bersinar—setidaknya, tidak di tempat yang bisa dilihat
orang.”
Jawabanku   mengalihkan   dia   dari   kekesalannya   yang   misterius.   “Kenapa?”   Dia
menelengkan kepalanya ke satu sisi.
Aku ragu bisa menemukan analogi yang pas untuk menjelaskan yang satu ini. Jadi aku
cuma mengatakan, “kapan-kapan akan kutunjukan padamu.”
Kemudian  aku jadi bertanya-tanya, apa ini  akan jadi  janji yang  pada akhirnya akan
kuingkari. Apakah aku akan melihatnya lagi setelah malam ini? Apa aku cukup mencintai dia
namun juga sanggup untuk meninggalkannya?
“Kau kan bisa meneleponku,” ucapnya pelan.
Jalan keluar yang aneh. “Tapi aku tahu kau baik-baik saja,”
“Tapi
aku
tidak   tahu   di   mana
kau
berada.   Aku—”   mendadak   ia   berhenti,   dan
memandangi tangannya.
“Apa?”
“Aku tidak suka,” ucapnya malu, kulit di sekitar pipinya menghangat. “Tidak bertemu
denganmu. Itu juga membuatku waswas.”
Apa kau puas sekarang?
Bentakku pada diriku sendiri.
Well
, inilah ganjarannya karena
sudah berharap.
Aku bingung, gembira, ngeri—sebagian besar  ngeri—menyadari bagaimana akhirnya
angan-anganku mendekati kenyataan. Inilah alasannya kenapa 'tidak penting' jika aku adalah
seorang monster. Alasan yang sama persis dengan alasan kenapa segala aturan itu juga tidak
penting buatku;  kenapa  yang benar  dan salah jadi  kabur, kenapa segala prioritasku hanya
terpusat pada gadis ini.
...Bella juga menyukaiku.
Aku tahu itu tidak ada apa-apanya dibanding dengan bagaimana aku  mencintai dia.
Tapi  itu  sudah  cukup  buat  dia untuk mengambil  resiko  dengan  duduk disini  bersamaku.
Untuk melakukannya dengan senang hati.
...Cukup  untuk  membuatnya  merana   jika   aku  melakukan  tindakan  yang
benar
dan
210

Baca selanjutnya ..