Aku ingin ada seseorang yang bertanggung jawab—agar ada seseorang yang bisa
kulawan. Seseorang untuk dihancurkan agar Bella bisa kembali aman.
Bella sangat diam; napasnya semakin cepat.
Aku mendongak melihatnya, sadar akhirnya akan segera melihat ekpresi takut di
wajahnya. Bukankah aku baru saja mengakui telah hampir membunuhnya? Lebih dekat dari
sekedar
van
yang seinchi lagi hampir melindasnya. Tapi tetap saja, anehnya, wajahnya tetap
tenang. Matanya masih menatapku lekat-lekat, namun kali ini dengan tatapan prihatin.
“Kau ingat?” Dia pasti ingat.
“Ya,” jawabnya tenang. Matanya yang dalam, sepenuhnya sadar.
Dia tahu. Dia tahu aku pernah berniat untuk membunuhnya.
Lalu, dimana jeritannya?
“Tapi toh sekarang kau tetap duduk di sini.” Aku mempertanyakan sikapnya yang
bertolak belakang.
“Ya, di sinilah aku duduk... berkat dirimu.” Eksoresinya berubah, jadi penasaran, dan
dengan mudahnya langsung mengganti topik, “karena, entah bagaimana, kau tahu bagaimana
menemukanku hari ini...”
Dengan sia-sia, sekali lagi aku berusaha menembus pikirannya, mencoba mati- matian
untuk memahami. Itu tidak masuk logika berpikirku. Bagaimana bisa dia peduli dengan yang
lainnya, ketika kebenarannya yang mengerikan telah terungkap?
Dia menunggu penasaran. Kulitnya pucat—yang memang aslinya begitu, tapi tetap saja
membuatku khawatir. Makan malamnya masih tetap tidak tersentuh. Jika ceritaku diteruskan,
dia akan butuh tambahan tenaga saat syoknya pecah.
Aku pun mengajukan syaratku. “Kau makan, aku bicara.”
Dia mengolahnya selama sepersekian detik, lalu cepat-cepat menyendok dan
mengunyah raviolinya. Dia terlihat lebih penasaran dari yang ditunjukan matanya.
“Mengikuti jejakmu lebih sulit daripada seharusnya.” Akhirnya aku meneruskan
certaku. “Biasanya, setelah pernah mendengar pikiran seseorang, aku bisa dengan mudah
menemukannya.”
Aku mengamati wajahnya baik-baik saat mengatakannya. Inilah saatnya kengerian dia
akan muncul. Menebak reaksinya dengan betul adalah satu hal, menyaksikannya terjadi
193
adalah kesulitan yang lain.
Dia tidak bergerak, matanya lebar. Rahangku sendiri terkunci rapat saat menunggu
detik-detik dia akan panik.
Tapi dia hanya mengerjap satu kali, menelan keras-keras, dan cepat-cepat mengambil
satu suapan lagi ke mulutnya. Dia ingin aku meneruskan.
“Aku mengikuti Jessica,” lanjutku sambil memperhatikan setiap kata-kataku meresap.
“Dengan tidak hati-hati—”aku tidak bisa menahan diri untuk tidak menambahkan,“—seperti
kataku, hanya kau yang bisa mendapat masalah di Port Angeles.” Sadarkah dia bahwa jarang
orang punya pengalaman hampir mati seperti dia. Atau, apa menurutnya dia itu normal-
normal saja? Dia jauh dari normal dibanding orang-orang yang pernah kutemui. “Awalnya
aku tidak memperhatikan ketika kau pergi sendirian. Lalu, ketika aku menyadari kau tidak
bersamanya lagi, aku pergi mencarimu di toko buku yang kulihat dalam pikirannya. Aku tahu
kau tidak masuk ke sana, dan kau pergi ke arah selatan... dan aku tahu kau toh harus kembali.
Jadi, aku hanya menunggumu, sambil secara acak membaca pikiran orang-orang di jalan—
melihat apakah ada yang memperhatikanmu sehingga aku tahu di mana kau berada. Aku tak
punya alasan untuk khawatir... tapi anehnya aku toh khawatir juga.”
Napasku memburu saat ingat kepanikan itu. Bersama derasnya udara yang masuk,
napasnya membakar tenggorokanku. Dan itu membuatku lega. Itu adalah rasa sakit yang
menandakan dia masih hidup. Selama aku masih merasa terbakar, berarti dia aman.
“Aku mulai bermobil berputar-putar, masih sambil... mendengarkan.” Kuharap kata-
kataku terdengar masuk akal. Ini pasti membingungkan. “Matahari akhirnya terbenam, dan
aku nyaris keluar dan mengikutimu dengan berjalan kaki. Dan lalu—”
Saat ingatan itu kembali—sejernih seperti sedang mengalaminya lagi—kurasakan
napsu membunuh kembali membilas tubuhku, mengunci tubuhku jadi es.
Aku mau orang itu mati. Aku butuh dia mati. Rahangku terkatup rapat saat
berkonsentrasi untuk bisa tetap duduk. Bella masih membutuhkanku. Itulah yang paling
penting.
“Lalu apa?” bisiknya dengan mata coklat gelapnya yang lebar.
“Aku mendengar apa yang mereka pikirkan,” ujarku dari sela gigi, tidak sanggup untuk
tidak menggeram. “Aku melihat wajahmu dalam pikirannya.”
194
Dorongan untuk membunuh itu begitu kuat, aku hampir tidak kuat menahannya. Aku
masih tahu pasti dimana keberadaan orang itu. Pikiran-pikiran busuknya menghisap di
kegelapan malam, menarikku ke arahnya...
Aku menutup wajahku. Ekspresiku pasti seperti monster, pemburu, dan pembunuh.
Dengan mata tertutup, aku membayangkan wajah Bella supaya bisa mengendalikan diri.
Fokus hanya pada wajahnya, kelembutan tulang-tulang tubuhnya, lapisan tipis kulitnya yang
pucat—seperti balutan sutra di atas permukaan kaca, sangat lembut dan mudah pecah. Dia
terlalu rapuh untuk dunia ini. Dia
butuh
seorang pelindung. Dan, melalui takdir yang salah
kaprah, aku satu-satunya yang paling memungkinkan untuk mengisi posisi itu.
Aku coba menjelaskan reaksiku yang keji supaya dia mengerti.
“Sulit... sulit sekali—kau tak bisa membayangkan betapa sulitnya—hanya pergi
menyelamatkanmu, dan membiarkan mereka... tetap hidup,” bisikku. “Aku bisa saja
membiarkanmu pergi dengan Jessica dan Angela, tapi aku takut kalau kau meninggalkanku
sendirian, aku akan pergi mencari mereka.”
Untuk kedua kalinya malam ini, aku mengakui niatku untuk membunuh. Paling tidak
yang satu ini bisa dipertanggung jawabkan.
Dia masih saja diam saat aku berusaha mengendalikan diri. Aku mendengarkan detak
jantungnya; iramanya sempat tidak teratur, tapi makin lama makin lambat sampai akhirnya
tenang lagi. Napasnya juga tenang dan teratur.
Aku sendiri sudah hampir lepas kendali. Aku mesti cepat-cepat mengantarnya pulang
sebelum...
Apakah setelah itu aku akan membunuh mereka? Apakah aku akan menjadi pembunuh
lagi setelah kini dia mempercayaiku? Adakah cara untuk menghentikanku?
Dia janji akan memberitahu teorinya ketika kami sendirian. Maukah aku
mendengarnya? Aku penasaran, tapi jangan-jangan konsekuensinya justru jadi lebih buruk
ketimbang tidak tahu.
Dalam batas tertentu, dia sudah cukup banyak mendengar kebenaran yang sanggup dia
terima dalam satu malam.
Aku menatapnya lagi, dan wajahnya lebih pucat dari sebelumnya, tapi tenang.
“Kau sudah siap pulang?” tanyaku.
195
“Aku siap untuk pulang.” Sepertinya dia memilih kata-katanya dengan hati-hati, seakan
jawaban sederhana 'ya' tidak sepenuhnya mengungkapkan apa yang ingin ia katakan.
Benar-benar membuat frustasi.
Pelayan itu kembali. Dia mendengar pernyataan Bella saat sedang lewat di bilik
sebelah. Dia membayangkan apa lagi yang bisa ditawarkan padaku. Dan aku ingin mengusir
sebagian tawaran itu yang terlanjur terdengar oleh pikiranku.
“Jadi bagaimana?” tanyan pelayan itu padaku.
“Kami mau bayar, terima kasih,” jawabku sambil masih terus menatap Bella.
Napas pelayan itu memburu, dan sesaat dia—meminjam istilah Bella—terpesona oleh
suaraku.
Seketika itu juga, saat mendengar bagaimana suaraku kedengarannya di kepala pelayan
itu, aku jadi menyadari kenapa malam ini aku bisa menarik begitu banyak kekaguman—tidak
diiringi oleh takut seperti biasanya.
Alasannya karena Bella. Berusaha mati-matian jadi aman buat dia, jadi lebih tidak
menakutkan, jadi
manusia,
membuatku kehilangan tajiku. Kini manusia hanya melihat
indahnya saja karena
iner
-hororku telah kutahan.
Aku mendongak, melihat ke si pelayan, menunggu dia menguasai diri. Sekarang jadi
sedikit lucu, setelah mengerti alasannya.
“T-tentu,” ujarnya terbata-bata. “Ini dia.”
Dia menyerahkan folder berisi tagihan. Di benaknya dia memikirkan secarik kertas
yang ia selipkan di bawah resi. Secarik kertas dengan nama dan nomer telepon dir inya.
Ya, ini cukup lucu.
Aku menyelipkan uangku tanpa membuka foldernya dan langsung kukembalikan.
Dengan begitu dia tidak perlu repot-repot menunggu telepon yang tak akan pernah datang.
“Simpan saja kembaliannya.” Kuharap tipsnya yang besar bisa mengobati kekecewaan
pelayan itu.
Aku berdiri, dan Bella cepat-cepat mengikuti. Aku ingin menawarkan tanganku, tapi
kupikir itu akan memaksakan keberuntunganku sedikit terlalu jauh untuk satu malam. Aku
mengucapkan terima kasih pada si pelayan tanpa mengalihkan pandangan dari Bella.
Kami berjalan menuju pintu keluar; aku berjalan di sampingnya sedekat yang aku
196
berani. Cukup dekat hingga kehangatan tubuhnya terasa seperti sentuhan langsung pada sisi
kiri tubuhku. Saat dia melewatiku yang sedang menahan pintu restoran untuknya, dia
menghela napas pelan. Itu membuatku bertanya-tanya, penyesalan apa yang membuatnya
sedih. Aku menatap ke dalam matanya, sudah ingin bertanya, ketika tiba-tiba ia menunduk,
kelihatan malu. Itu membuatku lebih penasaran lagi, tapi juga segan untuk bertanya.
Keheningan diantara kami berlanjut sampai saat aku membukakan pintu mobil buat dia dan
masuk.
Aku menyalakan pemanas—hawa hangat memenuhi kabin mobilku; mobil yang dingin
pasti membuatnya tidak nyaman. Dia bersidekap di balik jaketku, secercah senyum pada
bibirnya.
Aku menunggu, menunda pembicaraan sampai lampu-lampu di pinggir jalan memudar.
Itu membuatku merasa semakin berdua saja dengannya.
Apa itu langkah yang tepat? Kini, saat hanya fokus padanya, mobilku terlihat sangat
kecil. Aromanya bergelung-gelung didalam kabin bersama dengan hembusan dar i pemanas,
bergolak dan menguat. Aromanya tumbuh jadi kekuatan tersendiri yang lebih besar, seperti
entitas lain di dalam mobil. Sebuah kehadiran yang membutuhkan pengakuan.
Pasti begitu; aku terbakar. Meski begitu rasa terbakar ini bisa kuterima. Sangat pantas
untukku. Aku sudah diberikan sangat banyak malam ini—lebih dari yang kuharapkan. Dan,
disinilah dia, masih ingin berada di sisiku. Aku berhutang sesuatu atas hal ini. Sebuah
pengorbanan. Perasaan terbakar.
Ugh, seandainya saja aku bisa menahan hanya sebatas itu; cuma terbakar, tidak lebih.
Tapi yang terjadi; liur telah membanjiri mulutku, dan otot-ototku menegang, seakan aku
sedang berburu...
Aku harus menghindari pikiran seperti itu. Dan sepertinya aku tahu apa yang bisa
mengalihkan perhatianku.
“Sekarang,” kataku ragu, takut rasa terbakar ini jadi lepas kendali. “Giliranmu.”
197
10. Teori
“Boleh aku bertanya satu hal lagi?” Bukannya menjawab pertanyaanku, dia justru mau
bertanya lagi.
Aku sudah terpojok, cemas menunggu yang terburuk. Namun, aku cukup tergoda juga
untuk bisa memperlama situasi ini; dengan Bella bersamaku, atas kemauannya sendiri. Aku
mendesah atas dilema ini, kemudian mengiyakan, “Satu saja.”
“
Well
...” dia ragu sejenak, seperti sedang mempertimbangkan pertanyaan mana yang
mau diungkap. “Katamu kau tahu aku tidak masuk ke toko buku itu, dan aku pergi ke selatan.
Aku hanya bertanya-tanya, bagaimana kau mengetahuinya.”
Aku menatap ke luar jendela. Ini dia, satu pertanyaan lagi yang akan mengungkap tidak
satupun darinya, tapi terlalu banyak dariku.
“Kupikir kita telah melewati tahap pura-pura,” tukasnya dengan nada kecewa.
Betapa ironis. Dengan mudah ia bisa mengelak tanpa perlu bersusah payah.
Well
, dia mau aku bicara apa adanya. Bagaimanapun juga, pembicaraan ini tidak akan
berakhir dengan baik.
“Baiklah kalau begitu,” ujarku akhirnya. “Aku mengikuti aroma tubuhmu.”
Aku ingin melihat wajahnya, tapi terlalu takut dengan apa yang akan kulihat. Aku
hanya mendengarkan napasnya, yang makin cepat lalu kembali ter atur.
Setelah beberapa saat, dia sudah bicara lagi. Suaranya jauh lebih tenang dari yang
kuharapkan, “kau belum menjawab satu pertanyaan yang tadi...” .
Aku menoleh ke arahnya sambil mengerutkan dahi. Dia juga sedang mengulur-ulur
waktu.
“Yang mana?”
“Bagaimana caranya—membaca pikiran?” Dia mengulang pertanyaan di resotran tadi.
“Bisakah kau membaca pikiran siapa saja, di mana saja? Bagaimana kau melakukannya?
Apakah keluargamu yang lain bisa...?” Dia berhenti, tersipu lagi.
“Itu lebih dari satu pertanyaan.”
Dia hanya menatapku, menunggu jawabannya.
198
Sudahlah, kenapa tidak sekalian saja kuceritakan? Toh dia sudah bisa menebak
sebagian ceritanya. Lagi pula ini topik yang jauh lebih mudah ketimbang perkar a besarnya.
“Tidak, hanya aku yang bisa. Dan aku tak bisa mendengar siapa saja, di mana saja. Aku
harus cukup dekat dengan orang itu. Semakin aku mengenal suara seseorang, meski jauh pun
aku bisa mendengar mereka. Tapi tetap saja, tak lebih dari beberapa mil.”
Aku coba mencari cara untuk menggambarkannya supaya dia bisa mengerti. Sebuah
analogi yang bisa membantu. “Kurang lebih seperti berada di ruangan besar penuh orang,
semua bicara serentak. Hanya suara senandung—suara-suara dengungan di latar belakang.
Setelah fokus pada satu suara, barulah apa yang mereka pikirkan menjadi jelas. Kebanyakan
aku mendengarkan semuanya—dan itu bisa sangat mengganggu. Kemudian lebih mudah
untuk terlihat
normal,
”—aku meringis—“ketika aku sedang tidak sengaja menjawab isi
pikiran seseorang dan bukannya apa yang dikatakannya.”
“Menurutmu kenapa kau tidak bisa mendengarku?” Dia bertanya- tanya.
Aku memberinya kebenaran dan analogi lain, “aku tidak tahu. Satu-satunya dugaanku,
mungkin jalan pikiranmu berbeda dengan yang lainnya. Dengan kata lain, misalnya
pikiranmu ada di gelombang AM, sementara aku hanya bisa menangkap gelombang FM.”
Aku sadar dia pasti tidak akan suka analogi itu. Dan aku tersenyum membayangkannya.
Dia tidak akan mengecewakan tebakanku.
“Pikiranku tidak berjalan dengan benar?” protesnya dengan suara tinggi. “Maksudmu
aku aneh?”
Ah, ironi lagi.
“Akulah yang mendengar suara-suara dalam pikiranku, tapi justru kau yang khawatir
dirimu
aneh.” Aku tertawa. Dia mengerti hal yang kecil-kecil, namun terbalik memahami
gambaran besarnya. Selalu saja instingnya keliru...
Dia menggigit bibirnya, kerut diantara matanya semakin dalam.
“Jangan khawatir,” aku meyakinkan. “Itu cuma teori...” Dan ada teori lain yang lebih
penting untuk didiskusikan. Teorinya dia. Dan aku tidak sabar ingin cepat-cepat diselesaikan.
Makin mengulur-ulur waktu justru membuat makin tersiksa.
“Yang mengingatkan aku, sekarang giliranmu,” ujarku dengan perasaan ambigu, antara
waswas dengan enggan.
199
Dia mengambil napas dalam-dalam, masih sambil menggigit bibir—aku khawatir dia
akan melukai dirinya sendiri. Dia menatap kedalam mataku, wajahnya gelish.
“Bukankah sekarang kita sudah melewati tahap mengelak?” desakku halus.
Dia menunduk, bergulat dengan pikirannya. Tiba-tiba, dia mengejang dan matanya
membalalak ngeri. Untuk pertama kali, ekspresi wajahnya ketakutan.
Napasnya tertahan. “Gila!”
Aku kalang-kabut. Apa yang dia lihat? Bagaimana aku menakutinya?
Kemudian dia berteriak panik, “Pelankan mobilnya!”
“Kenapa?” aku sama sekali tidak mengerti.
“Kau melaju seratus mil per jam!” jeritnya padaku. Dia melihat keluar jendela dengan
tatapan ngeri.
Hal sepele begini, cuma karena ngebut, membuat dia teriak ketakutan?
Aku memutar bola mataku. “Tenang, Bella.”
“Apa kau mencoba membunuh kita berdua?” sergahnya masih dengan suara tinggi dan
tajam.
“Kita tidak akan kenapa-kenapa.”
Dia menghirup napas dalam-dalam, kemudian pelan-pelan bicara dengan lebih tenang.
“Kenapa, kau terburu-buru seperti ini?”
“Aku selalu mengemudi seperti ini.”
Aku bertemu pandangan dengannya, dan terhibur oleh ekspresi syok dia.
“Jangan alihkan pandanganmu dari jalan!” teriaknya lagi.
“Aku belum pernah kenapa-kenapa, Bella—aku bahkan belum pernah ditilang.” Aku
tersenyum lebar dan menunjuk keningku. Itu jadi lebih menggelikan—bisa melucu tentang
sesuatu yang rahasia dan ganjil dengan Bella. “Radar pendeteksi alami,” kataku.
“Sangat lucu,” sindirnya dengan nada takut daripada marah. “Charlie polisi, kau tidak
lupa, kan? Aku dibesarkan untuk mematuhi atur an lalu lintas. Lagi pula, kalau kau menerjang
pohon dan membuat kita berdua cedera, barangkali kau masih bisa selamat.”
“Barangkali,” kataku mengiyakan dan tertawa sebentar. Ya, nasib kamu berdua akan
sedikit berbeda jika terjadi apa-apa. Wajar dia takut, meski dengan kelihaianku mengemudi...
“Tapi kau tidak.”
200
Sambil menghela napas aku menurunkan kecepatan. “Puas?”
Dia mengamati spedometernya. “Hampir.”
Apa ini masih terlalu cepat? “Aku tidak suka mengemudi pelan-pelan,” gumamku, tapi
membiarkan jarumnya turun beberapa garis lagi.
“Kau bilang ini pelan?” protesnya.
“Sudah cukup menngomentari cara mengemudiku,” kataku tidak sabar. Sudah berapa
kali dia mengelak pertanyaanku? Tiga kali? Empat? Apa spekulasi dia semanakutkan itu?
Aku harus tahu—secepatnya. “Aku masih menantikan teori terakhirmu.”
Dia menggigit bibirnya lagi, ekspresinya berubah waswas.
“Aku tidak bakal tertawa.” Suaraku melunak. Aku tidak ingin dia jadi tertekan.
Kuharap alasan dia enggan bicara hanya karena malu.
“Aku lebih khawatir kau bakal marah padaku,” bisiknya.
Kupaksakan suaraku untuk tetap tenang. “Seburuk itukah?”
“Kurang-lebih, ya.”
Dia menunduk, menolak menatap mataku. Beberapa detik telah lewat.
“Katakan saja.”
Suaranya sangat pelan. “Aku tak tahu bagaimana memulainya.”
“Kenapa kau tidak mulai dari awal...” Aku ingat ucapannya saat di restoran tadi.
“Katamu kesimpulanmu tidak muncul begitu saja.”
“Tidak.” Dia kembali diam lagi.
Aku mengir a-ngira sesuatu yang mungkin menginspirasi dia. “Apa yang memicunya—
buku? Film?”
Aku mestinya mengecek koleksi bukunya. Aku tidak menyangka jika novelnya Bram
Stroker atau Annie Rice ada diantara tumpukan buku-buku dia...
“Tidak, semuanya berawal hari sabtu, di pantai.”
Ini lebih mengejutkan lagi. Gosip tentang kami belum pernah menyimpang seaneh itu
—atau setepat itu. Apa ada rumor baru yang kulewatkan?
Bella melirik dan melihat kekagetan di wajahku.
“Aku bertemu teman lama keluargaku—Jacob Black.” Dia melanjutkan. “Ayahnya dan
Charlie telah berteman sejak aku masih bayi.”
201
Jacob Black—nama itu asing, namun mengingatkan pada sesuatu... pada suatu
masa
jauh ke belakang... Aku menatap keluar, mencari-cari dalam ingatanku, berusaha menemukan
hubungannya.
“Ayahnya salah satu tetua suku Quileute,” tambahnya.
Jacob Black.
Ephraim Black.
Keturunannya, tidak salah lagi.
Ini benar-benar buruk.
Bella tahu yang sebenarnya.
Mendadak pikiranku jadi tidak karuan, pada saat bersamaan, jalanan di depan
membelok. Badanku kaku karena merana—mematung, tidak bergerak, kecuali sedikit
gerakan otomatis untuk membelokkan kemudi.
Bella tahu yang sebenarnya.
Tapi..., jika dia sudah tahu sejak kemarin sabtu..., berarti semalaman ini dia sudah
tahu... Dan tetap saja...
“Kami jalan-jalan,” dia melanjutkan. “Dan dia menceritakan beberapa legenda tua—
kurasa dia mencoba menakut-nakuitiku. Dia menceritakan salah satunya...”
Dia berhenti sebentar, tapi sudah tidak ada gunanya ragu-ragu; aku sudah tahu apa yang
akan ia katakan. Satu-satunya misteri yang tersisa adalah mengapa ia masih disini denganku?
“Lanjutkan...”
Dia menghembuskan napas, ucapannya lebih sekedar bisikan, “tentang vampir.”
Aku berjengit mendengarnya, namun segera bisa menguasai diri. Entah bagaimana, itu
jauh lebih parah ketimbang ketimbang tahu kalau dia tahu; mendengar dia mengucapkan kata
itu.
“Dan kau langsung teringat padaku?”
“Tidak. Dia... menyebut keluargamu.”
Sungguh ironis, justru keturunan Ephraim sendiri lah yang telah melanggar sumpah
yang ia buat. Cucunya sendiri, atau barangkali cicitnya. Berapa tahun sudah berselang? Tujuh
puluh tahun?
Seharusnya aku sadar bahwa bukan para tetua, yang
percaya
dengan legenda itu, yang
mesti diwaspadai. Tapi, tentu saja, adalah generasi mudanya—yang telah diperingatkan, tapi
dipikirnya itu cuma kisah takhayul yang bisa ditertawakan. Dan disitulah letak bahaya yang
202
sebenarnya.
Itu artinya sekarang aku bebas untuk membantai suku kecil itu, dan aku tidak
keberatan. Ephraim dan para pelindungnya telah lama mati...
“Dia hanya mengaggap itu takhayul yang konyol,” ujar Bella tiba-tiba. Suaranya kini
jadi waswas. “Dia tidak bermaksud supaya aku berpikir yang bukan-bukan.”
Lewat sudut mataku, aku melihat dia meremas-remas tangannya gelisah.
“Itu salahku,” ucapnya kemudian setelah diam sejenak. Ia tertunduk malu. “Aku yang
memaksanya bercerita padaku.”
“Kenapa?” Sekarang tidak sulit untuk menjaga suaraku tetap tenang. Yang terburuk
telah lewat. Selama kami berdua terus bicara tentang asal-usul teori dia, maka tidak perlu
membahas bagaimana kelanjutannya.
“Lauren mengatakan sesuatu tentang kau—dia mencoba memprovokasiku.” Wajahnya
merengut saat mengingatnya. Pikiranku sedikit teralihkan, membayangkan bagaimana Bella
bisa terprovokasi oleh gunjingan tentang diriku... “Dan seorang cowok yang lebih tua dari
suku itu bilang kalau keluargamu tidak datang ke reservasi. Hanya saja, sepertinya ada
maksud lain di balik perkataannya. Jadi aku memancing Jacob pergi berduaan denganku,
untuk memancingnya agar mau cerita.”
Kepalanya tertunduk lebih dalam lagi, ekspresinya terlihat...bersalah.
Aku berpaling dan tergelak.
Dia
merasa bersalah? Apa coba yang telah dia lakukan
sampai dia merasa tercela sedemikian rupa?
“Memancing bagaimana?”
“Aku mencoba merayunya—dan ternyata hasilnya lebih baik dari yang kuduga.”
Suaranya berubah ragu saat mengingat kesuksesannya itu.
Aku bisa membayangkan—mengingat daya tariknya di mata para lelaki, dan ketidak
sadaran dia atas hal itu—jadi betapa luas biasanya dia ketika
mencoba
untuk mengeluarkan
pesonanya. Aku jadi merasa kasihan pada bocah lugu yang telah menjadi korban daya
pikatnya yang luar biasa itu.
“Kalau saja aku melihatnya...” Dan aku tertawa membayangkannya. Andai saja aku
bisa mendengar reaksi bocah itu, menyaksikan penaklukannya secara langsung. “Dan kau
menuduhku membuat orang terpesona—Jacob Black yang malang.”
203
Ternyata aku tidak terlalu marah kepada sumber kebocoran rahasiaku, tidak seperti
yang kukira akan kurasakan. Bocah itu tidak tahu apa-apa. Dan bagaimana mungkin ada pria
yang bisa menolak kemauan gadis ini? Aku justru bersimpati pada bocah itu, Bella sama
sekali tidak tahu bagaimana dampaknya terhadap pikiran Jacob Black yang malang itu.
Aku merasakan wajah Bella yang tersipu menghangatkan udara diantara kami. Aku
melirik ke arahnya, dia sedang memandang ke luar jendela. Dia tidak bicara lagi.
“Lalu, apa yang kau lakukan?” tanyaku pelan. Waktunya kembali ke cerita horor.
“Aku mencari keterangan di internet.”
Betapa praktisnya. “Dan, apakah hasilnya membuatmu yakin?”
“Tidak,” jawabnya. “Tidak ada yang cocok. Kebanyakan konyol. Kemudian...”
Dia diam lagi. Aku mendengar giginya terkatup rapat.
“Apa?” desakku. Apa yang dia temukan? Apa yang membuat mimpi buruk ini jadi
masuk akal buat dia?
Ada jeda sejenak, dan kemudian ia berbisik, “kuputuskan itu tidak penting.”
Syok membekukan pikiranku selama sepersekian detik. Kemudian semuanya jadi jelas.
Kenapa tadi ia menyuruh teman-temannya pergi ketimbang pulang bersama mereka. Kenapa
ia kembali masuk kedalam mobilku dan bukannya lari ketakutan mencari polisi...
Reaksinya selalu salah—selalu sangat salah. Dia menar ik bahaya ke arahnya. Dia
mengundangnya.
“Itu tidak
penting
?” Aku hampir menggeram karena marah. Bagaimana caranya aku
bisa melindungi seseorang yang sangat...sangat...sangat tidak ingin dilindungi?
“Tidak,” jawabnya dengan suara yang begitu lembut. “Tidak penting bagiku apa pun
kau ini.”
Dia sungguh tidak masuk akal.
“Kau tidak peduli kalau aku monster? Kalau aku bukan
manusia
?”
“Tidak.”
Aku mulai mempertanyakan, apa kondisi psikisnya benar-benar stabil.
Barangkali aku bisa mengatur agar ia mendapat perawatan yang terbaik... Carlisle pasti
punya koneksi dokter yang terbaik, terapis yang paling andal. Barangkali sesuatu bisa
dilakukan untuk menyembuhkan apapun yang salah dari dirinya, apapun itu yang jadi
204
penyebab hingga ia bisa duduk dengan tenang di samping seorang vampir. Aku akan selalu
mengawasi selama dia dirawat, seperti cara biasanya, dan mengunjunginya sesering yang
dibolehkan...
“Kau marah,” keluhnya. “Seharusnya aku tidak mengatakan apa-apa.”
Kata-katanya itu...seakan dengan menyembunyikan pendapat absurdnya itu akan bisa
menolong kerumitan ini.
“Tidak. Lebih baik aku tahu apa yang kau pikirkan—bahkan meskipun pikiranmu itu
tidak waras.”
“Jadi aku salah lagi?” Kini nadanya sedikit menantang.
“Bukan itu maksudku!” Gigiku terkatup rapat lagi. “'itu tidak penting'!” ulangku
dengan nada pedas.
Dia menahan napas. “Aku benar?”
“Apakah itu
penting
?” balasku.
“Tidak juga.” Suaranya sudah tenang lagi. “Tapi aku
memang
penasaran.”
Tidak juga. Itu tidak penting. Dia tidak peduli. Dia tahu aku bukan manusia, seorang
monster, dan hal itu tidak penting buatnya.
Disamping mencemaskan kewarasannya, aku mulai merasakan sebungkah harapan.
Tapi aku segera membuangnya jauh-jauh.
“Apa yang membuatmu penasaran?” Tidak ada lagi rahasia yang tersisa, cuma detail-
detail kecil.
“Berapa umurmu?”
Jawabanku sudah otomatis dan mendarah daging, “tujuh belas.”
“Dan sudah berapa lama kau berumur tujuh belas?”
Aku mencoba untuk tidak tersenyum saat mendengar nada protesnya. “Cukup lama.”
“Oke.” Mendadak dia jadi bersemangat. Dia tersenyum padaku. Ketika aku menatap
balik, lagi-lagi dengan perasaan cemas dengan kondisi mentalnya, senyumannya justru makin
lebar. Aku cuma meringis.
“Jangan tertawa.” Dia mewanti-wanti. “Tapi bagaimana kau bisa keluar di siang hari?”
Bagaimanapun juga aku tertawa. Sepertinya riset dia tidak menemukan sesuatu yang
baru. “Mitos.”
205
“Terbakar matahari?”
“Mitos.”
“Tidur di peti mati?”
“Mitos.”
Tidur sudah bukan lagi jadi bagian hidupku sejak lama—tidak hingga beberapa malam
terakhir saat aku mengawasi Bella bermimpi...
“Aku tidak bisa tidur,” gumamku, menjawab pertanyaannya terus terang.
Dia terdiam sejenak.
“Sama sekali?”
“Tidak pernah.” Aku menghela napas.
Kupandangi mata coklatnya yang dalam, dan aku jadi rindu untuk tidur. Bukan untuk
melarikan diri dari bosan, seperti sebelumnya, tapi lebih karena untuk bisa
bermimpi.
Barangkali, jika aku bisa tidur, jika aku bisa bermimpi, maka untuk beberapa saat aku bisa
tinggal di dunia dimana aku dan Bella bisa bersama-sama. Dia memimpikan aku. Aku ingin
memimpikan dia.
Dia menatap balik, ekspresinya keheranan. Aku pun berpaling.
Aku tidak mungkin memimpikan dia. Tidak seharusnya dia memimpikan aku.
“Kau belum melontarkan pertanyaan yang paling penting.” Jantungku semakin beku,
lebih keras dari biasanya. Dia harus dipaksa untuk memahami. Dia harus menyadari bahaya
apa yang sedang ia hadapi. Dia harus kubuat mengerti bahwa semua ini
adalah
penting—
jauh lebih penting dari pertimbangan apapun. Pertimbangan-pertimbangan seperti bahwa aku
mencintai dia.
“Yang mana?” tanyanya terkejut dan tidak sadar.
Itu cuma membuat suaraku makin parau. “Kau tidak peduli dengan dengan
makananku?”
“Oh, itu.” Dia bicara begitu pelan hingga aku tidak bisa mengartikan intonasinya.
“Ya, itu. Tidakkah kau ingin tahu
apakah
aku minum darah?”
Dia tersentak mendengar pertanyaanku yang langsung ke sasaran. Akhirnya. Dia
mengerti juga.
“
Well
, Jacob mengatakan sesuatu tentang itu.”
206
“Apa yang dikatakan Jacob?”
“Dia bilang kau tidak... memburu manusia. Katanya keluargamu seharusnya tidak
berbahaya karena kalian hanya memburu binatang.”
“Dia bilang kami tidak berbahaya?” ulangku sinis.
“Tidak juga,” dia membetulkan. “Dia bilang kalian
seharusnya
tidak berbahaya. Tapi
suku Quileute masih tidak menginginkan kehadiran kalan di tanah mereka, untuk berjaga-
jaga.”
Aku memandang lurus kedepan. Pikiranku menggeram putus asa. Tenggorokanku
terbakar oleh rasa haus yang sangat kukenal.
“Jadi apakah itu benar?” Suaranya setenang seakan sedang membicarakan laporan
cuaca. “Tentang tidak memburu manusia?”
“Suku Quileute punya ingatan yang panjang.”
Dia mengangguk sendiri sambil berpikir keras.
“Tapi jangan senang dulu,” kataku cepat-cepat. “Mereka benar untuk tetap menjaga
jarak dengan kami. Kami masih berbahaya.”
“Aku tidak mengerti.”
Tentu saja dia tidak mengerti. Bagaimana caranya membuat dia mengerti?
“Kami berusaha,” aku coba menjelaskan pelan-pelan. “Kami biasanya sangat andal
dengan apa yang kami lakukan. Tapi kadang kami juga membuat kesalahan. Aku, contohnya,
membiarkan diriku berduaan denganmu.”
Aromanya masih sangat tajam di dalam sini. Aku sudah mulai terbiasa, aku hampir bisa
mengabaikannya, tapi tidak bisa dipungkiri bahwa tubuhku masih menginginkan dia untuk
alasan yang salah. Liur masih membanjiri mulutku.
“Kau sebut ini kesalahan?” suaranya terdengar sedih. Dan itu meluluhkanku. Dia ingin
bersama denganku—terlepas dari segalanya, dia ingin bersama denganku.
Harapan kembali mengembang. Dan lagi-lagi kembali kukibas.
“Kesalahan yang sangat berbahaya.” Aku mengatakan sejujur-jujurnya, berharap
akhirnya dia bisa mengerti.
Selama beberapa saat dia tidak menanggapi. Bisa kudengar irama napasnya berubah—
jadi tidak beraturan, yang anehnya tidak seperti ketakutan.
207
“Ceritakan lagi,” ujarnya tiba-tiba. Suaranya bergetar sedih.
Aku mengamati baik-baik.
Ah, dia terluka. Bagaimana bisa aku membiarkan
ini
?
“Apa lagi, yang ingn kau ketahui?” Aku mencari-cari cara untuk membuatnya tidak
terluka. Dia tidak boleh terluka. Aku tidak boleh membiarkan dia sampai terluka.
“Katakan kenapa kau memburu binatang dan bukan manusia?” Suaranya masih sedih
dan putus asa.
Bukankah sudah jelas? Atau, barangkali ini juga tidak penting buat dia.
“Aku tidak
ingin
menjadi monster,” gumamku.
“Tapi binatang tidak cukup bukan?”
Aku mencari perbandingan lain agar dia bisa mengerti. “Aku tidak yakin tentu saja, tapi
aku membandingkannya dengan hidup hanya dengan makan tahu dan susu kedelai; kami
menyebut diri kami vegetarian, lelucon di antara kami sendiri. Tidak benar-benar memuaskan
lapar kami—atau dahaga tepatnya. Tapi membuat kami cukup kuat untuk bertahan. Hampir
sepanjang waktu.” Suaraku merendah; aku merasa malu atas bahaya yang kuakibatkan
padanya. Bahaya yang terus saja kubiarkan... “Kadang-kadang lebih sulit dari yang lainnya.”
“Apakah sekarang sangat sulit bagimu?”
Aku menghela napas. Tentu saja dia akan menanyakan pertanyaan yang tidak ingin
kujawab. “Ya,” jawabku terus-terang.
Kali ini aku bisa menebak respon fisiknya dengan benar: irama napasnya terjaga, detak
jantungnya teratur. Aku sudah menduga itu, tapi tetap tidak bisa memahaminya. Kenapa dia
tidak takut?
“Tapi kau tidak sedang lapar.” Dia kedengaran yakin.
“Kenapa kau berpikir begitu?”
“Matamu,” ungkapnya begitu saja. “Sudah kubilang aku punya teori. Aku
memperhatikan bahwa orang-orang—khususnya cowok—jadi lebih pemarah ketika mereka
lapar.”
Aku terkekeh mendengar istilahnya:
pemarah
. Kedengarannya lebih bersahabat, tapi
lagi-lagi tepat sasaran. “Kau ini memang pengamat, ya kan?” Aku kembali tertawa.
Dia sedikit tersenyum. Kerut diantara matanya muncul lagi, sepertinya dia sedang
208
berkonsentrasi pada sesuatu.
“Apakah kau pergi berburu akhir pekan ini, dengan Emmet?” tanyanya setelah tawaku
reda. Nada bicaranya yang biasa-biasa saja sungguh menakjubkan, sekaligus membuat
frustasi. Bagaimana bisa dia menerimanya begitu saja. Justru aku yang lebih mendekati syok
ketimbang dia.
“Ya.” Aku hampir memberitahu sebatas itu saja, namun aku merasakan dorongan yang
sama seperti di restoran tadi: Aku ingin dia mengenal diriku. “Aku tidak ingin pergi.” Aku
melanjutkan pelan-pelan, “tapi ini penting. Lebih mudah berada di sekitarmu ketika aku tidak
sedang haus.”
“Kenapa kau tidak ingin pergi?”
Aku mengambil napas panjang, dan kemudian menoleh, menatap matanya. Kejujuran
yang seperti ini sama sulitnya.
“Itu membuatku... khawatir...”—kurasa istilah itu cukup memadai, meski masih belum
cukup kuat—“berada jauh darimu. Aku tidak bercanda ketika memintamu untuk tidak jatuh
ke laut atau tidak kenapa-kenapa kamis lalu. Sepanjang akhir pekan aku tak bisa
berkonsentrasi karena mengkhawatirkanmu. Dan setelah apa yang terjadi malam ini, aku
terkejut kau bisa melewati seluruh akhir pekan ini tanpa tergores.” Lalu aku ingat bekas luka
di telapak tangannya. “
Well
, tidak benar-benar tanpa tergores sebetulnya.”
“Apa?”
“Tanganmu...”
Dia menghela napas dan cemberut. “Aku terjatuh.”
“Sudah kuduga.” Aku tak sanggup menahan senyum. “Kurasa, mengingat siapa dirimu,
kejadiannya bisa lebih buruk lagi—dan kemungkinan itu menyiksaku selama kepergianku.
Tiga hari yang amat panjang. Aku benar-benar membuat Emmet kesal.” Dan sepertinya
Emmet sampai sekarang masih kesal, juga seluruh keluargaku. Kecuali Alice...
“Tiga hari?” Suaranya mendadak berubah tajam. “Bukankah kau baru kembali hari
ini?”
Aku tidak mengerti kenapa dia jadi kesal. “Tidak, kami kembali hari minggu.”
“Lalu kenapa tak satu pun dari kalian masuk sekolah?”
Kemarahannya membuatku bingung. Kelihatannya dia tidak sadar kalau pertanyaan itu
209
masih ada hubungannya dengan mitos-mitos tadi.
“
Well
, kau bertanya apakah matahari menyakitiku, dan memang tidak,” jawabku. “Tapi
aku tak bisa keluar ketika matahari bersinar—setidaknya, tidak di tempat yang bisa dilihat
orang.”
Jawabanku mengalihkan dia dari kekesalannya yang misterius. “Kenapa?” Dia
menelengkan kepalanya ke satu sisi.
Aku ragu bisa menemukan analogi yang pas untuk menjelaskan yang satu ini. Jadi aku
cuma mengatakan, “kapan-kapan akan kutunjukan padamu.”
Kemudian aku jadi bertanya-tanya, apa ini akan jadi janji yang pada akhirnya akan
kuingkari. Apakah aku akan melihatnya lagi setelah malam ini? Apa aku cukup mencintai dia
namun juga sanggup untuk meninggalkannya?
“Kau kan bisa meneleponku,” ucapnya pelan.
Jalan keluar yang aneh. “Tapi aku tahu kau baik-baik saja,”
“Tapi
aku
tidak tahu di mana
kau
berada. Aku—” mendadak ia berhenti, dan
memandangi tangannya.
“Apa?”
“Aku tidak suka,” ucapnya malu, kulit di sekitar pipinya menghangat. “Tidak bertemu
denganmu. Itu juga membuatku waswas.”
Apa kau puas sekarang?
Bentakku pada diriku sendiri.
Well
, inilah ganjarannya karena
sudah berharap.
Aku bingung, gembira, ngeri—sebagian besar ngeri—menyadari bagaimana akhirnya
angan-anganku mendekati kenyataan. Inilah alasannya kenapa 'tidak penting' jika aku adalah
seorang monster. Alasan yang sama persis dengan alasan kenapa segala aturan itu juga tidak
penting buatku; kenapa yang benar dan salah jadi kabur, kenapa segala prioritasku hanya
terpusat pada gadis ini.
...Bella juga menyukaiku.
Aku tahu itu tidak ada apa-apanya dibanding dengan bagaimana aku mencintai dia.
Tapi itu sudah cukup buat dia untuk mengambil resiko dengan duduk disini bersamaku.
Untuk melakukannya dengan senang hati.
...Cukup untuk membuatnya merana jika aku melakukan tindakan yang
benar
dan
210
10.
Langganan:
Postingan (Atom)

