Cari Blog Ini

movie mania

11.


meninggalkannya.
Adakah yang bisa kulakukan yang
tidak
akan melukainya? Apa saja?
Aku seharusnya tetap pergi. Aku seharusnya tidak kembali ke Forks. Aku hanya akan
membuatnya menderita.
Pertanyaannya   sekarang,   apakah   itu   akan   menghentikan   keinginanku   untuk   tetap
tinggal? Apakah itu bisa mencegahku untuk menjadikannya lebih buruk lagi?
Melihat perasaanku saat ini, merasakan kehangatannya di sampingku...
Tidak, tetap tidak bisa. Tidak akan ada yang bisa  menghentikanku. Aku tidak  akan
sanggup untuk pergi. Aku tidak akan sanggup meninggalkan dia.
“Ah.” Aku mengerang tak berdaya. “Ini salah.”
“Memangnya aku bilang apa?” tanyanya cepat-cepat, merasa bersalah.
“Tidakkah kau mengerti, Bella? Tidak masalah bagiku membuat diriku sendiri merana,
tapi kalau kau melibatkan dirimu terlalu jauh, itu masalah lain lagi. aku tak mau mendengar
kau merasa seperti itu lagi.” Itulah yang sebenarnya, sekaligus kebohongan. Bagian diriku
yang paling egois mengawang-awang  karena  tahu dia juga  menginginkan aku seperti  aku
menginginkan   dia.   “Ini   salah.   Ini   tidak   aman.   Aku   berbahaya,   Bella—kumohon,
mengertilah.”
“Tidak.” Bibirnya mencebik merajuk.
Aku berperang dengan diriku sendiri begitu hebatnya—sebagian ingin dia menerimaku
apa adanya, sebagian ingin dia mendengar  peringatanku dan lari—sehingga kata-kata yang
keluar berupa geraman. “Aku serius.”
“Begitu juga aku.” Dia bersikeras. “Sudah kubilang, tidak penting kau itu apa. Sudah
terlambat.”
Terlambat?
Dalam ingatanku, dunia begitu muram, gelap dan pucat, saat aku mengawasi bayang-
bayang hitam  merangkak di pekarangan rumah Bella  menuju  sosoknya yang  tertidur. Tak
terelakan   dan   tak   terhentikan.   Bayang-bayang   itu   mencuri   rona   pada   kulitnya,   dan
menenggelamkan dia kedalam kegelapan.
Terlambat?
Penglihatan Alice muncul di kepalaku, mata merah- darah Bella menatapku datar. Tanpa
211
   

ekspresi—tapi  tidak  mungkin  dia
tidak
membenciku  atas   masa   depan   itu.   Membenciku
karena telah merampas segalanya. Merampas hidupnya dan jiwanya.
Ini belum terlambat.
“Jangan pernah katakan itu,” desisku.
Dia  melihat keluar  jendela, dan dia menggigit bibirnya lagi. Tangannya  mengeras di
pangkuannya. Napasnya tersedak dan tak beraturan.
“Apa yang sedang kau pikirkan?” Aku harus tahu.
Dia  menggeleng tanpa melihat  ke arahku. Aku  melihat  sesuatu  berkilau di  pipinya,
seperti kristal.
Perasaanku   langsung   nyeri.   “Kau   menangis?”  Aku   membuatnya
menangis
.  Aku
melukainya sedalam itu.
Dia menghapus air matanya dengan punggung tangan.
“Tidak,” elaknya dengan suara gemetar.
Instingku yang terpendam dalam mendorongku untuk meraih dia—dalam detik itu aku
merasa menjadi lebih manusia dari kapanpun. Tapi kemudian aku ingat bahwa aku...bukan.
Dan kuturunkan tanganku.
“Maafkan aku,”  sesalku dengan rahangku terkunci. Bagaimana  bisa  aku mengatakan
padanya seberapa menyesalnya aku? Maaf  atas segala kesalahan bodoh yang telah kubuat.
Maaf atas keegoisanku yang tak beujung. Maaf atas nasibnya yang sial karena untuk pertama
kalinya telah menginspirasi aku pada kisah cinta yang tragis ini. Maaf juga atas sesuatu yang
diluar   konstrolku—bahwa   aku   telah   menjadi   monster   yang   dipilih   oleh   takdir   untuk
mengakhiri hidupnya.
Aku   mengambil   napas   dalam-dalam—mengabaikan   rasa   perih   yang   diakibatkan
aromanya—dan berusaha menguasai diri.
Aku ingin mengganti topik, untuk memikirkan sesuatu yang lain. Dan untung bagiku,
rasa penasaranku pada gadis ini tidak ada habis-habisnya. Aku selalu punya pertanyaan.
“Aku bertanya-tanya,” kataku kemudian.
“Ya?” Dia berusaha tegar, namun air mata masih menggantung di suaranya.
“Apa  yang kau pikirkan di lorong tadi, sebelum aku muncul? Aku tak bisa  mengerti
ekspresimu—kau tidak  terlihat  setakut  itu,  kau seperti  sedang  berkonsentrasi  keras  pada
212
   

sesuatu.”   Aku   ingat   ekspresinya—sambil   berusaha   melupakan   dari   mata   siapa   aku
melihatnya—tatapannya penuh tekad.
“Aku sedang mencoba mengingat bagimana cara menghadapi serangan. Kau tahu kan,
ilmu bela diri,” jawabnya dengan lebih terkendali. Tapi kemudian nadanya yang tenang tidak
berlanjut, nadanya berubah jadi marah, “Aku bermaksud menghancurkan hidungnya hingga
melesak ke kepala.”
Kini  kemarahannya yang menggemaskan tidak lagi lucu. Aku bisa melihat sosoknya
yang  rapuh—hanya   balutan  sutra  diatas  permukaan  kaca—terpojok  oleh  manusia   bengis
kekar yang ingin menyakitinya. Amarah mendidih di belakang kepalaku.
“Kau  akan  melawan  mereka?”  Aku  ingin  mengerang.  Instingnya  mematikan—bagi
dirinya sendiri. “Tidakkah kau ingin melarikan diri?”
“Aku sering terjatuh kalau lari,” ucapnya malu-malu.
“Bagaimana kalau berteriak meminta tolong?”
“Aku juga bermaksud melakukannya.”
Aku  menggeleng-geleng  tidak percaya.  Bagaimana  caranya  dia  bisa  bertahan  hidup
sebelum datang ke Forks?
“Kau   benar.”   Suaraku   terdengar   masam.   “Aku   jelas-jelas   melawan   takdir   karena
mencoba menjagamu tetap hidup.”
Dia menghela napas, dan memandang keluar jendela. Kemudian ia kembali menatapku.
“Apakah besok kita akan bertemu?” pintanya tiba-tiba.
Karena toh akhirnya akan ke neraka juga, jadi kenapa tidak sekalian saja.
“Ya—ada   tugas   yang   harus   dikumpulkan.”   Aku   tersenyum   padanya.   Rasanya
menyenangkan bisa melakukannya. “Aku akan menunggumu saat makan siang.”
Jantungnya berdegup kencang; jantungku yang mati mendadak terasa hangat.
Aku menghentikan mobil di depan rumahnya. Dia tetap tidak bergerak.
“Kau
janji
akan datang besok?”
“Aku janji.”
Kok bisa-bisanya melakukan sesuatu yang salah tapi terasa semenyenangkan ini? Pasti
ada yang keliru.
Dia mengangguk puas, dan mulai mencopot jaketku.
213
   

Aku  buru-buru mencegahnya,  “kau boleh  menyimpannya.” Aku ingin dia  memiliki
sesuatu  dariku.  Sebuah  kenang-kenangan,  seperti  tutup  botol  dalam  sakuku... “Kau  tidak
punya jaket yang bisa kau pakai besok.”
Dia   tetap   mengembalikannya   padaku   sambil   tersenyum   menyesal.   “Aku   tak   mau
menjelaskannya pada Charlie.”
Bisa kubayangkan. Aku pun tersenyum. “Oh, benar.”
Dia sudah memegang gagang pintu mobil, tapi berhenti. Dia enggan pergi, sama seperti
aku enggan dia pergi.
Aku tidak mau meninggalkannya tanpa perlindungan, bahkan hanya sebentar saja...
Peter  dan Charlotte sedang dalam perjalanan, pasti sudah jauh melewati Seattle. Tapi
selalu  ada  yang  lain.   Dunia   ini   bukan   tempat   yang   aman  buat   manusia,  dan   buat   dia
kelihatannya jauh lebih berbahaya lagi.
“Bella?”  Dan  aku  terkejut  dengan  betapa  menyenangkannya  rasanya  hanya  dengan
mengucapkan namanya saja.
“Ya?”
“Maukah kau beranji padaku?”
“Ya.”   Dia   langsung   setuju.   Tapi   kemudian   tatapannya   menajam,   seakan   sedang
mencari-cari alasan untuk menolak.
“Jangan pergi ke hutan seorang diri.” Aku bertanya-tanya, apakah permintaan itu akan
memicu penolakan di matanya.
Dia mengerjap, kaget. “Kenapa?”
Aku menoleh ke kegelapan malam yang tidak bisa dipercaya. Ketiadaan cahaya bukan
masalah   buat   mata
ku,
tapi   itu   juga   berlaku   sama   buat   pemburu   lainnya.   Itu   hanya
membutakan manusia.
“Aku tidak selalu yang paling berbahaya di luar sana. Anggap saja begitu.”
Dia   gemetar,   namun   cepat   menguasai   dir i,   dan   bahkan   sempat   tersenyum   ketika
mengatakan, “terserah apa katamu.”
Napasnya menyentuh wajahku, begitu manis dan harum.
Aku bisa tinggal begini semalaman, tapi dia butuh tidur. Dua keinginan itu kelihatannya
sama kuat, dan masih berperang dalam  diriku: menginginkan dia versus menginginkan dia
214
   

aman.
Aku mendesah pada kemustahilan ini.
“Sampai   ketemu   besok,”   ucapku,   meski   tahu   aku   akan   segera   menemuinya   jauh
sebelum itu. Dia sendiri baru akan bertemu dengan
ku
besok.
“Baik kalau begitu.” Kemudian dia membuka pintu.
Lagi-lagi terasa nyeri sekali, melihatnya pergi.
Aku mencondongkan badan ke arahnya, ingin menahan dia disini. “Bella?”
Dia menoleh, dan membeku, terkejut mendapati wajah kami begitu dekat.
Begitu   pula   denganku,   meluap-luap   karena   kedekatan   ini.   Kehangatan   datang
bergelombang   membasuh   wajahku.   Aku   bisa   merasakan   segalanya   kecuali   kelembutan
kulitnya...
Jantungnya berdegup kencang, dan bibirnya merekah.
“Tidur nyenyak ya,” bisikku, dan segera menjauh sebelum dorongan dalam tubuhku—
entah haus yang biasanya atau hasrat aneh yang baru kali ini kurasakan—akan membuatku
melakukan sesuatu yang bisa menyakitinya.
Untuk sesaat dia masih duduk diam tidak bergerak, matanya melebar  dan membeku.
Terpesona, kukira.
Begitu pula denganku.
Dia   kembali   menguasai   diri—meski   wajahnya   masih   agak   terpana—dan   terlihat
limbung ketika keluar dari mobil hingga harus berpegangan agar tidak jatuh.
Aku tertawa geli—berharap dia tidak mendengarnya.
Aku melihat dia sempat  tersandung ketika  sampai di  depan pintu. Untuk  sementara
aman. Dan aku akan segera kembali untuk memastikan.
Aku bisa merasakan tatapannya mengikutiku saat mobilku melaju pergi. Ini merupakan
sensasi yang berbeda dari biasanya. Biasanya, secara harfiah aku
menyaksikan
diriku melalui
pandangan orang lain yang menatapku pergi. Tapi anehnya ini jauh lebih menyenangkan—
sensasi   semu   dari   tatapan  yang   mengawasi.  Aku   tahu   ini   menyenangkan  hanya   karena
tatapannya berasal dari Bella
.
Berjuta  pikiran berkecamuk dalam  kepalaku saat  berkendara  tanpa  tujuan di  tengah
kegelapan malam.
215
   

Selama beberapa lama aku berputar-putar tak tentu arah. Aku memikirkan Bella, lega
karena akhirnya dia tahu yang sebenarnya. Tidak perlu lagi waswas  jati  diriku terbongkar.
Dia sudah tahu. Itu tidak penting buat  dia. Meski  jelas-jelas buat dia ini buruk, tetap saja
sangat melegakan.
Lebih dari itu, aku memikirkan perasaan Bella padaku. Dia tidak mungkin menyukaiku
sebesar   aku  mencintanya—perasaan cinta  yang  sedahsyat  dan semelimpah  ini  barangkali
akan menghancurkan tubuh rapuh dia. Tapi perasaannya cukup kuat juga. Cukup kuat hingga
bisa   menundukkan   insting   takut   dia.   Cukup   kuat   untuk   ingin   bersamaku.   Dan   berada
bersamanya adalah kebahagiaan paling besar yang pernah kurasakan.
Untuk sesaat—saat aku sudah sendirian dan tidak ada siapapun yang bisa kusakiti—aku
membiarkan diriku untuk menikmati kebahagiaan ini tanpa harus dibebani tragedinya. Hanya
untuk merasa  bahagia karena  dia juga  menyukaiku. Hanya untuk bersuka ria karena telah
berhasil   memenangkan   perasaannya.   Hanya   untuk   terus   mengingat   kembali   bagaimana
rasanya duduk di dekat dia, mendengar suaranya, dan mendapat senyumannya.
Aku  mengingat   kembali  senyum   itu,  menyaksikan  bibirnya  yang  penuh  ter tarik  di
kedua sudutnya  hingga menggerakkan garis-garis pipinya, bagaimana matanya menghangat
dan   mencair...   Malam   ini   jari-jarinya   terasa   hangat   dan   lembut   pada   tanganku.   Aku
membayangkan bagaimana rasanya jika menyentuh kulit pipinya yang lembut—balutan sutra
pada permukaan kaca...begitu mudah pecah.
Aku   tidak   tahu   kemana   anganku   berujung   hingga   terlambat.   Pada   saat   sedang
menyelami kerapuhannya, gambaran baru wajahnya menyeruak dalam anganku.
Tersesat  di tengah kegelapan, pucat  karena  takut—namun rahangnya terkunci  penuh
tekad, tatapannya sengit, badannya  yang ramping siap menyerang sosok-sosok besar  yang
mengurungnya. Mimpi buruk yang suram...
“Ah.” Aku mengerang saat kebencian membara yang telah terlupakan oleh kebahagiaan
tadi, muncul lagi ke permukaan.
Aku sendirian. Bella telah aman di  rumahnya; untuk sesaat  aku lega bahwa Charlie
Swan—kepala   polisi   setempat,   yang   terlatih   dan   bersenjata—merupakan   ayahnya.   Itu
membuatnya lebih aman.
Dia sudah aman. Tidak akan makan waktu lama untuk membalas orang-orang itu...
216
   

Tidak. Bella layak mendapatkan yang lebih baik dari itu. Aku tidak akan membiarkan
dia jatuh cinta pada seorang pembunuh.
Tapi...bagaimana  dengan perempuan-perempuan lain yang bisa  jadi  korban manusia
biadab itu?
Bella memang sudah aman. Angela dan Jessica juga sudah aman di rumahnya.
Namun  monster   itu  masih  berkeliaran  di   Port  Angeles.   Monster-manusia—apa  itu
membuatnya jadi urusan manusia?  Untuk melakukan pembunuhan, yang sudah gatal ingin
kulakukan, adalah salah. Aku tahu itu. Tapi membiarkannya berkeliaran untuk menyerang
orang lain juga tidak benar.
Si penerima tamu pirang yang di restoran tadi, si pelayan yang tak pernah kuperhatikan,
keduanya  sama-sama  membuatku  kesal.  Tapi,  bukan  berarti  mereka  pantas  untuk  berada
dalam bahaya.
Satu dari mereka mungkin Bellanya seseorang.
Kenyataan itu memastikan keputusanku.
Aku memutar mobil ke utara. Aku langsung tancap gas begitu punya tujuan. Kapanpun
aku punya masalah yang tidak bisa kuatasi, aku tahu kemana bisa minta bantuan.
Alice  sedang  duduk  di  beranda, menungguku. Aku berhenti  di  depan  rumah,  tidak
masuk ke garasi.
“Carlisle di ruangannya,” Alice memberitahuku sebelum aku sempat bertanya.
“Terima kasih,” ucapku sambil mengacak-acak rambutnya saat melewati dia.
Terima kasih telah menjawab teleponku,
sindirnya dalam hati.
“Oh.”  Aku berhenti di  depan pintu, mengeluarkan hand phoneku, lalu membukanya.
“Sori. Aku bahkan tidak mengecek itu dari siapa. Aku sedang...sibuk.”
“Ya, aku tahu. Aku juga minta maaf. Pada saat aku melihat itu akan terjadi, kau sudah
tahu.”
“Tadi itu hampir saja...” gumamku.
Maaf,
ulangnya, malu pada dirinya.
Sangat mudah untuk berbaik hati karena tahu Bella sudah aman. “Tidak usah menyesal.
Aku mengerti kau tidak mungkin mengawasi segalanya. Tidak ada yang berharap kau bisa
jadi mahatahu, Alice.”
217
   

“Thanks.”
“Aku hampir  mengajakmu makan malam tadi—apa kau sempat  melihat  itu sebelum
aku berubah pikiran?”
Dia cemberut. “Tidak, aku melewatkan itu juga. Coba aku tahu. Aku pasti datang.”
“Kau sedang berkonsentrasi ke apa, sampai melewatkan begitu banyak?”
Jasper  sedang  memikirkan perayaan  anniversary  kami.
Dia  tertawa.
Dia berusaha
untuk tidak membuat keputusan tentang hadiahku, tapi kurasa aku bisa menebaknya...
“Dasar, memalukan.”
“Yup.”
Dia mengerutkan bibir dan menatapku, ada ekspresi menuduh pada wajahnya.
Lain kali
aku akan mengawasi lebih baik. Apa kau akan memberitahu mereka kalau dia tahu?
Aku mengeluh. “Ya. Nanti.”
Aku tidak akan bilang apa-apa. Tapi tolong beritahu Rosalie ketika aku sedang tidak
ada, oke?
“Oke.”
Bella menerimanya dengan baik.
“Terlalu baik.”
Alice cemberut padaku.
Jangan meremehkan Bella.
Aku   berusaha   memblokir   gambaran   yang   tidak   ingin   kulihat—Bella   dan   Alice
bersahabat.
Karena mulai tak sabar, aku mengeluh panjang. Aku ingin segera menyelesaikan babak
selanjutnya dari malam ini; aku ingin segera mengakhirinya. Tapi aku sedikit waswas untuk
meninggalkan Forks...
“Alice...” Tapi dia sudah tahu apa yang ingin kutanyakan.
Malam  ini  dia akan baik-baik  saja. Mulai  sekarang aku akan  mengawasinya lebih
baik. Bisa dibilang dia membutuhkan pengawasan dua puluh empat jam penuh, iya kan?
“Kurang lebih begitu.”
“Ngomong-ngomong, kau akan segera menemuinya tidak lama lagi.”
Aku mengambil napas panjang. Kata-kata itu begitu indah buatku.
“Ayo sana—cepat selesaikan biar kau bisa segera menemuinya.”
218
   

Aku mengangguk, dan buru-buru ke kamar Carlisle.
Dia  sedang  menungguku, pandangannya  ke  arah pintu dan bukannya  ke buku  tebal
yang ada di mejanya.
“Aku mendengar Alice memberitahumu dimana aku,” sambutnya sambil tersenyum.
Akhirnya aku merasa lega bisa bertemu Carlisle, untuk melihat empati dan kecerdasan
di matanya. Dia pasti tahu apa yang mesti dilakukan.
“Aku butuh bantuan.”
“Apa saja, Edward.”
“Apa Alice memberitahumu apa yang terjadi pada Bella tadi?”
Hampir terjadi,
dia mengoreksi.
“Ya,   hampir.   Aku   bingung,   Carlisle.   Kau   tahu,   aku   ingin...sangat   ingin...untuk
membunuh orang itu.” kata-kata itu berhamburan begitu saja. “Sangat ingin. Tapi aku tahu itu
salah, karena itu berarti balas  dendam, bukan keadilan. Murni karena  marah. Namun tetap
saja,   rasanya   tidak   benar   membiarkan   seorang   pembunuh   dan   pemerkosa   kambuhan
berkeliaran   di   Port  Angeles!  Aku   tidak   kenal   penduduk   di   sana,   tapi   aku   tidak   bisa
membiarkan  ada  perempuan  lain  yang  akan  menggantikan  posisi   Bella  dan  jadi   korban
monster   itu.   Perempuan  itu   mungkin   punya  seseorang  yang   perasaannya   sama   dengan
perasaanku pada Bella. Sama menderitanya seperti diriku jika dia disakiti. Itu tidak betul—”
Senyum lebarnya yang tiba-tiba muncul menghentikan semburan kata-kataku.
Efek   kehadirannya  sangat   baik  untukmu,  iya  kan?  Kau  jadi  begitu  pengasih,  dan
sangat terkontrol. Aku terkesan.
“Aku tidak sedang butuh pujian, Carlisle.”
“Tentu saja tidak. Tapi aku kan tidak bisa mengekang pikiranku.” Dia tersenyum lagi.
“Aku akan membereskannya. Kau tenang saja. Tidak akan ada lagi korban berikutnya.”
Aku bisa melihat rencana di kepalanya. Itulah tepatnya yang kubutuhkan. Memang, itu
tidak memuaskan insting buasku, tapi aku bisa melihat itu hal yang tepat.
“Akan kutunjukan dimana orang itu.”
“Ayo kita pergi.”
Dia mengambil tas  dokter  hitam miliknya. Sebetulnya aku lebih setuju jika memakai
penenang   yang   lebih   kuat—seperti   dengan   memecahkan   kepalanya—tapi   biar   Carlisle
219
   

melakukan dengan caranya.
Kami memakai mobilku. Alice masih ada di beranda. Dia tersenyum dan melambaikan
tangan saat kami menjauh. Kulihat  dia mengecek jauh ke depan di pikirannya; kami tidak
akan kesulitan.
Perjalanannya  sangat   singkat  karena  jalanan  kosong. Lampu  mobil  kumatikan agar
tidak  menarik  perhatian.  Aku  tersenyum  membayangkan  bagaimana  reaksi  Bella  dengan
kecepatan seperti
ini.
Padahal tadi, sebelum dia protes, aku sudah lebih pelan dari biasanya—
untuk memperlama waktu.
Carlisle juga sedang memikirkan Bella.
Tak kusangka sebaik ini dampak Bella bagi Edward. Sangat tak terduga. Barangkali
memang harus seperti ini jalannya. Mungkin ini demi tujuan yang lebih jauh. Hanya saja...
Dia  membayangkan Bella  dengan kulit pucat  dingin  dan mata  merah-darah, namun
segera mengalihkan bayangan itu.
Ya.
Hanya  saja.
Sudah  tentu.   Karena,   dimana   sisi   baiknya   kalau  menghancurkan
sesuatu yang begitu murni dan indah?
Aku memandang ke kegelapan malam. Semua kebahagiaan tadi hancur  karena pikiran
Carlisle.
Edward   pantas   untuk   bahagia.  Dia   harus   bahagia.
Kesungguhan  pikiran   Carlisle
mengejutkanku.
Pasti ada jalan keluar,
pikirnya lagi.
Kuharap aku bisa mempercayai itu. Tapi tidak ada tujuan yang lebih jauh dari apa yang
terjadi pada Bella. Yang ada hanya siluman rubah-betina jahat yang mengendalikanku, yang
tidak tahan melihat Bella menjalani kehidupannya.
Aku tidak berlama-lama di Port Angeles. Aku membawa Carlisle ke depan bar, tempat
mahluk bernama Lonnie itu meratapi kekecewaannya  bersama dua  rekannya—yang sudah
lebih dulu mabuk berat. Carlisle bisa melihat betapa beratnya bagiku untuk berada sedekat ini
—hingga bisa mendengar pikiran monster  itu dan melihat ingatannya, ingatan tentang Bella
yang bercampur dengan gadis-gadis lain yang sudah jadi korbannya.
Napasku memburu. Kucengkram erat kemudi di hadapanku.
Pergilah, Edward,
ucap Carlisle lembut.
Akan kubuat dia tidak bisa menyakiti siapa-
siapa lagi. Kembalilah ke Bella.
220
   

Pilihan   kata   Carlisle   sangat   tepat.   Nama   Bella   adalah   satu-satunya   yang   bisa
mengalihkan pikiranku.
Kutinggalkan Carlisle sendirian di mobil, dan lari menuju Forks lewat hutan. Ini makan
waktu lebih cepat ketimbang naik mobil. Hanya dalam beberapa menit aku sudah meniti di
bawah jendela kamar Bella dan merangkak masuk.
Aku mendesah lega. Semuanya telah seperti seharusnya. Bella aman di tempat tidurnya,
bermimpi, dengan rambutnya yang basah tergerai diatas bantal.
Tapi,  tidak  seperti  malam-malam   lainnya,  kini   dia   meringkuk  memeluk  badannya.
Kurasa  karena   dingin.   Sebelum   aku  sempat   duduk   di   tempat   biasanya,   dia   menggigil,
bibirnya ikut gemetar.
Aku   memperhatikan   sejenak,   kemudian   menyelinap  keluar   ke   lorong,   menjelejahi
bagian dalam rumahnya untuk pertama kalinya.
Dengkuran Charlie  keras  dan stabil. Aku bahkan hampir bisa menangkap mimpinya.
Sesuatu tentang kegiatan di air dan menunggu dengan sabar...memancing barangkali?
Nah, disana, di dekat tangga, letak lemari yang kucari-cari. Aku membukanya penuh
harap, dan menemukan yang kucari. Aku memilih selimut yang paling tebal, dan kubawa
kembali ke kamar. Akan kukembalikan lagi sebelum dia bangun, tidak akan ada yang tahu.
Sambil menahan napas, dengan hati-hati kuselimuti dia; dia tidak beraksi dengan beban
tambahan itu. Kemudian aku kembali duduk di kursi goyang di pojokan.
Sambil   menunggu   waswas   sampai   dia   merasa   hangat,   aku   memikirkan   Carlisle,
bertanya-tanya dimana dia sekarang. Aku tahu rencananya akan berjalan lancar—Alice telah
melihatnya.
Memikirkan   ayahku   membuatku   menghela   napas—Car lisle   terlalu   memujiku.
Seandainya  saja  aku  adalah  sosok  yang  ia  pikir.  Sosok  itu,  yang  pantas  untuk  bahagia,
barangkali cukup pantas buat gadis yang sedang tidur ini. Betapa berbedanya seandainya aku
bisa menjadi Edward yang seperti itu.
Saat sedang mempertimbangkan hal itu, tiba-tiba  muncul  gambaran  lain yang  tidak
diundang.
Untuk sesaat, sosok siluman rubah betina yang tadi kubayangkan, yang mengidamkan
kehancuran Bella, digantikan oleh sosok malaikat bodoh yang sembrono. Seorang malaikat
221
   

pelindung—sesuatu yang seperti versi Carlisle tentang diriku. Dengan senyum acuh, mata
biru yang licik,  malaikat itu  membuat  Bella sedemikian rupa  hingga  tidak  mungkin  bisa
kujaga: Aroma  tajam  yang konyol  untuk menggugah  seleraku, pikiran  yang  sunyi  untuk
memancing  penasaranku,  kecantikan  yang  mempesona  untuk  menghipnotis   mataku,  hati
yang   tidak  egois   untuk  menangkap  kekagumanku;   Dia  hapus   juga  insting   pelindungan
dirinya—supaya   Bella   tidak   takut   dan   betah   berada   di   dekatku—dan,   yang   terakhir,
tambahkan kesialan tanpa batas.
Dengan tawa sembrono, malaikat yang tidak bertanggung jawab itu mendorong kreasi
rapuhnya   tepat   ke   hadapanku.   Dia   percayakan   Bella   pada   moralku   yang   rusak   untuk
menjaganya tetap hidup.
Dalam pandangan ini, aku bukan eksekutor Bella, melainkan dialah hadiahku.
Aku menggeleng-geleng sendiri pada bayangan malaikat tak bermoral seperti itu. Dia
tidak jauh berbeda dengan monster. Tidak mungkin mahluk suci bisa berkelakuan seburuk
itu. Paling tidak kalau siluman rubah betina aku masih bisa melawannya.
Lagi pula, aku tidak punya malaikat pelindung. Mereka cuma untuk orang-orang baik
—orang-orang seperti Bella. Tapi  dimana  malaikat  dia selama ini?  Siapa yang mengawasi
dia?
Aku tertawa pelan, tertegun, saat menyadari bahwa saat ini aku lah yang memainkan
peran itu.
Malaikat berwujud vampir—benar-benar kontras.
Setelah lewat  setengah jam, posisi Bella  mulai lebih rileks. Napasnya  makin dalam.
Dan dia mulai bergumam. Aku tersenyum puas. Ini hal sepele, tapi paling tidak malam ini dia
bisa tidur lebih nyaman berkat aku disini.
“Edward,” desahnya, dan dia tersenyum.
Aku menyingkirkan tragedinya sesaat, membiarkan diriku diliputi kebahagiaan.
222
   

11. Interogasi
CNN mengulas berita itu duluan.
Aku   bersyukur   muncul   sebelum   aku   berangkat   sekolah.   Aku   tidak   sabar   ingin
mendengar  cara manusia  mengulas  kejadiannya, dan seberapa menarik perhatian.  Untung
hari ini ada berita yang lebih besar. Ada gempa bumi di  Amerika Selatan dan penculikan
tokoh politik di Timur  Tengah. Jadi berita itu cuma diulas beberapa detik, dengan satu foto
yang tidak jelas.
“Alonzo Calderas Wallace, tersangka pembunuh dan pemerkosa kambuhan, yang jadi
buron di negara bagian Texas dan Oklahoma, telah berhasil ditangkap di Portland, Oregon.
Wallace   berhasil   ditangkap   berkat   adanya   informasi   dari   orang   yang   tak   dikenal.   Dia
ditemukan tidak sadarkan diri di sebuah gang dini hari tadi, hanya beberapa meter dari kantor
polisi. Saat ini pihak berwenang belum bisa  menentukan apakah dia akan disidangkan di
Texas atau di Oklahoma.”
Fotonya  agak buram, foto buron. Dia masih berjanggut lebat waktu foto itu diambil.
Bahkan jika Bella menonton dia tidak akan mengenalinya. Kuharap dia tidak menonton; itu
bisa membuatnya ketakutan.
“Beritanya  tidak  akan sampai  ke  Forks. Kejadiannya  terlalu jauh  untuk  jadi  berita
lokal,” beritahu Alice padaku. “Beruntung ada Carlisle yang bisa membawanya keluar  dari
negara bagian ini.”
Aku mengangguk. Bella sendiri tidak terlalu sering nonton TV. Aku juga jarang melihat
ayahnya menonton acara selain olahraga.
Aku telah melakukan yang   kubisa. Monster  itu tidak lagi berkeliaran, dan aku tidak
jadi   pembunuh.   Paling   tidak,   bukan   belakangan   ini.   Pilihanku   tepat   dengan
mempercayakannya  pada  Carlisle, walaupun aku  tidak sepenuhnya  puas  penjahat  itu bisa
lolos  semudah itu. Kuharap dia  akan diadili di Texas, dimana hukuman mati masih sering
diberikan...
Tidak. Itu tidak penting lagi. Aku akan melupakan hal itu, dan fokus  pada apa yang
paling penting.
223
   

Aku baru meninggalkan kamar Bella tidak sampai satu jam yang lalu, tapi aku sudah
tidak sabar ingin menemuinya lagi.
“Alice, maukah kau—”
Dia langsung memotongku, “Rosalie yang akan mengemudi. Dia akan berlagak marah,
tapi tahu sendiri, dia akan senang punya alasan untuk memamerkan mobilnya.” Alice tertawa
riang.
Aku tersenyum padanya. “Sampai ketemu di sekolah.”
Alice menghela napas, dan senyumku berubah jadi seringai.
Aku tahu, aku tahu,
batinnya.
Belum saatnya. Aku Akan menunggu sampai kau siap
buat Bella mengenalku. Kau mestinya tahu, ini bukan karena aku egois. Bella juga akan
menyukaiku.
Aku tidak menanggapi, dan buru-buru  keluar. Itu cara pandang yang berbeda  untuk
melihat   situasi   ini.
Maukah
Bella  mengenal  Alice?   Maukah   dia   punya  sahabat   seorang
vampir?
Kalau dari sudut pandang Bella...mungkin ide itu tidak terlalu mengganggu.
Aku mengeluh sendiri. Apa yang Bella mau dan apa yang terbaik bagi Bella adalah dua
hal yang bertentangan.
Aku mulai gelisah ketika parkir  di depan rumah Bella. Pepatah manusia mengatakan,
banyak hal kelihatan berbeda di pagi hari—hal itu berubah karena kau tidur. Apakah aku juga
akan kelihatan berbeda di mata Bella, di bawah langit mendung dan berkabut pada pagi hari
ini? Mungkinkah kebenaran itu akhirnya meresap ketika dia tidur? Mungkinkah akhirnya dia
takut?
Sepertinya   tadi  malam  mimpinya  indah.  Ketika  menggumamkan  namaku  berulang-
ulang, dia tersenyum. Lebih dari sekali dia memohon agar  aku tetap tinggal. Apa itu tidak
akan ada artinya hari ini?
Aku  menunggu  dengan cemas,  mendengarkan suara-suara   yang  ditimbulkannya  di
dalam rumah—langkahnya yang setengah berlari di tangga, sobekan kertas timah, benturan
botol-botol saat dia menutup lemari es. Sepertinya dia sedang terburu-buru. Tidak sabar ingin
cepat-cepat ke sekolah? Bayangan itu membuatku tersenyum, penuh harapan lagi.
Aku melihat ke jam. Sepertinya—jika menghitung-hitung kecepatan maksimal truknya
224
   

—dia hampir terlambat.
Bella menghambur  keluar rumah. Tasnya disampirkan di pundak. Rambut ikalnya agak
berantakan. Sweter  hijau yang dia pakai tidak cukup tebal untuk melindungi tubuhnya dari
dinginnya kabut.
Sweter  panjang itu ukurannya  kebesaran sehingga menyamarkan bentuk tubuh Bella
yang gemulai, mengubah lekuk-lekuknya yang menawan jadi tidak berbentuk. Namun aku
sama   menyukainya   seperti   jika   dia   memakai   blus   biru   muda   tadi   malam...warna   biru
mengalir  bagai air  di permukaan tubuhnya, kainnya membalut kulitnya begitu rupa  hingga
terlihat sangat menarik, potongannya cukup pendek untuk menunjukkan tulang selangkanya
yang mempesona, yang melengkung indah dari bawah leher...
Kurasa lebih  baik aku menjauhkan bayangan itu. Jadi aku bersyukur  dengan  sweter
yang dia pakai. Aku tidak boleh membuat kesalahan. Dan merupakan kesalahan besar jika
aku sampai  terhanyut pada hasrat aneh yang mulai  terbebas dalam  diriku, hasrat  terhadap
bibirnya...kulitnya...tubuhnya.... Hasrat yang selama seratus  tahun terkurung rapat. Tapi aku
tidak boleh membayangkan itu. Aku tidak boleh membayangkan menyentuhnya, karena itu
mustahil.
Aku akan meremukkan dia.
Setelah  membanting  pintu  Bella  langsung  lari  hingga  hampir  saja  tidak  menyadari
mobilku.
Kemudian dia berhenti mendadak. Tubuhnya membeku. Tasnya merosot ke tangan, dan
matanya membelalak saat melihat mobilku.
Aku keluar, tanpa repot-repot mengekang kecepatan kilatku, dan membukakan pintu
mobil  untuk dia. Aku tidak mau mengelabuinya lagi—paling tidak saat  kami  berdua, aku
akan menjadi diriku sendiri.
Dia menatapku, terkejut saat aku muncul begitu saja. Kemudian kekagetan di matanya
berubah jadi sesuatu yang lain, dan aku tidak perlu lagi takut perasaannya berubah. Hangat,
kagum, terpesona, semua jadi satu pada mata coklatnya yang mencair.
“Kau mau berangkat bersamaku hari ini?” tanyaku padanya. Tidak seperti waktu makan
malam kemarin, aku memberinya pilihan. Mulai sekarang, semua harus sesuai kemauannya.
“Ya, terima kasih,” gumamnya sambil masuk kedalam mobilku tanpa ragu-ragu.
225
   

Apa  aku akan  berhenti  keheranan,  bahwa  akulah  orang yang  dijawab  ya   olehnya?
Sepertinya aku akan terus heran.
Aku langsung melesat mengitari mobil, tidak sabar  ingin berada di sampingnya. Dia
tidak terlihat kaget dengan kemunculanku yang tiba-tiba.
Kebahagiaan  yang  kurasakan  ketika   dia   duduk  disampingku  seperti   ini,   tidak  ada
bandingannya. Walau aku  sangat  menikmati  kedekatan  keluargaku, juga dengan berbagai
kemewahan yang kupunya, aku belum pernah merasa sebahagia ini. Bahkan walau tahu kalau
ini  salah,  bahwa   ini   tidak  akan  berakhir  dengan  baik,  tetap   saja   tidak  bisa  menghapus
senyumku.
Jaketku kusampirkan di sandaran kursinya. Kulihat dia memandanginya.
“Aku   membawakan  jaket   untukmu.”   Itu  alasan   yang   kupakai  untuk  datang   tanpa
diundang. Pagi ini dingin. Dia tidak punya jaket. Tentunya ini bentuk sikap ksatria yang bisa
diterima. “Aku tak ingin kau sakit atau apa.”
“Aku tak selemah itu, kau tahu,” sanggahnya  sambil menatap dadaku dan bukannya
wajahku, seakan dia ragu-ragu untuk menatap mataku. Tapi jaketku dipakai juga tanpa harus
kupaksa.
“Benarkah?” gumamku sendiri.
Dia terlihat menerawang ke luar  saat kami mulai jalan. Aku hanya tahan berdiam diri
selama beberapa detik. Aku harus tahu apa yang dia pikirkan pagi ini. Ada banyak hal yang
berubah diantara kami sejak matahari terbit.
“Apa tidak ada rentetan pertanyaan hari ini?” tanyaku sesantai mungkin.
Dia  tersenyum,  terlihat  lega  aku mengungkitnya.  “Apakah  pertanyaan- pertanyaanku
mengganggumu?”
“Tidak   seperti   reaksimu,”   jawabku   jujur   sambil   tersenyum   untuk   membalas
senyumnya.
Ujung bibirnya mengerut turun. “Apakah reaksiku buruk?”
“Tidak, itu masalahnya. Kau menerimanya dengan tenang sekali—tidak wajar.” Tidak
ada   satu   jeritanpun.   Bagaimana   itu  mungkin?   “Itu   memuatku   bertanya-tanya,   apa   yang
sebenarnya kau pikirkan.”
Tentu saja, apapun yang dia perbuat atau tidak perbuat, membuatku bertanya-tanya.
226
   

“Aku selalu mengatakan apa yang sebenarnya kupikirkan.”
“Kau mengeditnya.”
Dia  menggigit  bibirnya  lagi, kelihatannya  tidak sadar—reflek  ketika sedang tegang.
“Tidak terlalu banyak.”
Hanya dengan mendengar  kata-kata itu sudah membuat penasaranku memuncak. Apa
yang dengan sengaja ia tutupi dariku?
“Cukup untuk memuatku gila,” sergahku.
Dia ragu sejenak, lalu berbisik, “Kau tidak ingin mendengarnya.”
Aku harus berpikir sebentar, mengulang kembali seluruh pembicaraan tadi malam, kata
perkata, mencari hubungannya. Mungkin aku mesti lebih berkonsentrasi lagi karena aku tidak
bisa membayangkan ada sesuatu yang tidak ingin kudengar dari dia. Tapi kemudian—karena
nada bicaranya sama dengan tadi malam; ada kepedihan yang tiba-tiba muncul—aku ingat.
Secara   spesifik   aku  sempat   meminta  dia  untuk  tidak  mengucapkan  pikirannya;
Jangan
pernah katakan itu.
Aku hampir menggeram ketika itu, dan membuatnya menangis...
Apa   itu   yang   ia   sembunyikan?   Kedalaman   perasaannya   padaku?   Bahwa   sosokku
sebagai monster tidak penting buatnya, dan bahwa sudah terlambat untuk berubah pikiran?
Aku tidak bisa  berkata apa-apa. Kebahagiaan dan penderitaan ini terlalu kuat untuk
diungkapkan  lewat  kata-kata.   Benturan  keduanya   terlalu   liar   untuk   dijelaskan.   Keadaan
hening, hanya ada suara dari detak jantungnya yang teratur.
“Di mana keluargamu yang lain?” tanyanya tiba-tiba.
Aku  mengambil  napas  panjang—merasakan  aroma  pekatnya  yang membakar   untuk
pertama kalinya  pagi ini; aku mulai terbiasa, aku menyadari  dengan puas—dan memaksa
diriku serileks mungkin.
“Mereka naik mobil Rosalie.” Kebetulan ada tempat kosong di samping mobil yang ia
tanyakan,  dan  aku  parkir  disitu.  Kuseembunyikan   senyumku  saat  matanya  membelalak.
“Kelewat mencolok, kan?”
“Mmm, wow. Kalau Rosalie punya
itu
, kenapa dia pergi bersamamu? “
Rosalie  pasti   akan  menikmati  reaksi  Bella...jika  dia  mau  bersikap  obyektif  tentang
Bella, yang mana kuragukan.
“Seperti kataku, kelewat mencolok. Kami
berusaha
membaur.”
227
   

“Kalian tidak berhasil.” Dan dia tertawa riang.
Keriangan suara tawanya menghangatkan jantungku.
“Jadi   kenapa   Rosalie   mengemudi   sendiri   kalau   itu   kelewat   menarik   perhatian?”
tanyanya heran.
“Tidakkah kau tahu? Aku melanggar
semua
aturan sekarang.”
Jawabanku   pasti   tidak   terlalu   menakuktkan—jadi   tentu   saja,   Bella   tersenyum
mendengarnya.
Dia  tidak menunggu untuk dibukakan pintu, sama seperti tadi  malam. Sekarang aku
harus   menjaga   sikapku—jadi   aku   tidak   bisa   melesat   untuk   menahannya—tapi   untuk
selanjutnya dia harus mulai membiasakan diri untuk diperlakukan dengan sopan. Dan harus
secepatnya.
Aku berjalan di sampingnya sedekat yang aku berani sambil mengamati kalau-kalau dia
merasa risih. Dua kali tangannya sedikit terjuntai ke arahku, namun ditarik lagi. Kelihatannya
seperti
ingin menyentuhku... Napasku memburu.
“Kenapa   kalian   mempunyai   mobil-mobil   seperti   itu?   Kalau   kalian   memang
menginginkan privasi?” tanyanya sambil jalan.
“Memanjakan diri. Kami semua suka ngebut.”
“Sudah kuduga,” gumamnya masam.
Dia tidak mendongak untuk melihat seringai jailku.
Ya ampun!  Aku tidak percaya  ini!  Bagaimana cara Bella melakukannya? Aku tidak
mengerti! Kenapa?
Suara  batin Jessica  menyela pikiranku. Dia sedang menunggu Bella, berlindung dari
guyuran hujan di bawah atap kafetaria. Jaket Bella di tangannya. Matanya membelalak tidak
percaya.
Kemudian   Bella   melihat   juga.   Rona   merah   muda   muncul   di   pipinya   ketika   dia
menangkap reaksi Jessica. Pikiran Jessica
terbaca
dengan jelas di wajahnya.
“Hei  Jessica.  Terima  kasih  sudah  ingat  membawanya,”  sapa  Bella.  Dia  mengambil
jaketnya dan Jessica memberikan masih sambil melongo.
Aku   harus   sopan  pada   teman   Bella,   entah   dia   itu   teman   yang   baik  atau  bukan.
“Selamat, pagi Jessica.”
228
   

Waahhh...
Mata   Jessica   makin   membelalak.   Ini   aneh...dan   jujur   saja,   sedikit
memalukan...menyadari   bagaimana   berada   di   dekat   Bella   telah   melunakkan   diriku.
Sepertinya   tidak   ada   lagi   orang   yang   takut.   Jika   Emmet   sampai   tahu,   dia   pasti   akan
menertawaiku habis-habisan.
“Err...hai,” gumam Jessica  tidak jelas. Kemudian matanya memelototi  Bella. “Kalau
begitu sampai ketemu di kelas Trigono.”
Kau  harus  menceritakan semuanya.  Tidak  boleh  tidak. Setiap detailnya. Aku harus
mendapatkan detailnya! Si Edward CULLEN!! Dunia tidak adil!
Bibir Bella cemberut. “Yeah, sampai ketemu nanti.”
Benak Jessica makin berkeliaran saat berjalan menuju kelas. Sesekali dia menoleh ke
belakang.
Cerita lengkapnya. Aku tidak  mau terima jika kurang dari itu. Apa mereka memang
sudah berencana untuk bertemu tadi malam? Apa mereka sudah berkencan? Sudah berapa
lama? Tega-teganya Bella merahasiakan hal ini? Kenapa juga dia
mau
merahasiakannya?
Ini tidak mungkin cuma iseng—Bella pasti serius. Apa ada kemungkinan yang lain? Aku
akan
mencari tahu. Kira-kira, apa dia sudah menciumnya? Ya ampun...
Benak Jessica tiba-tiba
terputus, dia ganti membayangkan adegan itu. Aku langsung berusaha mengusirnya.
Itu tidak akan mungkin terjadi. Namun tetap saja aku...
Tidak, aku menolak untuk membenarkan tindakan yang seperti itu, bahkan tidak ke
diriku sendiri. Aku menginginkan dia dengan cara salah seperti apa lagi? Dan cara mana yang
akhirnya akan berujung pada kematiannya?
Aku menggeleng, berusaha ceria lagi.
“Apa yang akan kau katakan padanya?” .
“Hei!” desisnya tajam. “Kupikir kau tak bisa membaca pikiranku!”
“Aku  tak  bisa.”  Aku menatap kaget, berusaha mengolah ucapanya. Ah—kami  pasti
memikirkan hal yang sama. Hmm...aku cukup suka itu. “Bagaimanapun, aku bisa membaca
pikirannya—dia tak sabar ingin menginterogasimu di kelas.”
Bella  mengerang. Kemudian  dengan begitu  saja  dia melepas  jaketku. Awalnya  aku
tidak   sadar—aku   sama   sekali   tidak   meminta   jaketku;   aku   lebih   memilih   dia   pakai
229
   

terus...sebagai   kenang-kenangan—jadi   aku   terlambat   membantu   melepaskannya.   Dia
mengembalikan jaketku, dan memakai jaketnya sendiri tanpa melihat kalau tanganku sudah
siap membantu. Aku merengut karenanya, namun cepat  mengontrol ekspresiku agar  tidak
dilihat dia.
“Jadi, kau akan bilang apa padanya?” desakku.
“Tolong bantu aku sedikit. Apa yang ingin diketahuinya?”
Aku tersenyum, dan menggeleng. Aku ingin mendengar  apa yang dia pikirkan saat itu
juga, tanpa persiapan. “Itu tidak adil.”
Matanya menyipit. “Tidak, kau tidak akan memberitahu apa yang kau ketahui—itu baru
tidak adil.”
Betul—dia tidak suka standar ganda.
Kami sampai di depan kelasnya—dimana aku harus  meninggalkan dia; aku bertanya-
tanya apa Ms. Cope mau membantu menukar jadwal pelajaran bahasa Inggrisku... Sebaiknya
jangan, aku harus berlaku adil.
“Dia ingin tahu apakah kita  diam-diam  berkencan,” kataku lambat-lambat. “Dan dia
ingin tahu bagaimana perasaanmu terhadapku.”
Matanya melebar—bukannya kaget, tapi dibuat-buat. Dia sok polos.
“Iihh,” gumamnya. “Apa yang harus kukatakan?”
“Hmm.” Dia selalu saja mencoba mengorekku ketimbang membuka pikirannya sendir i.
Aku menimbang-nimbang bagaimana menjawabnya.
Sejumput rambutnya yang agak basah karena kabut, terlepas dari belakang telinga, dan
terjuntai di sekitar tulang selangkanya yang sekarang tersembunyi dibalik sweter. Itu menarik
perhatian mataku...pada lekuk tulangnya yang masih agak kelihatan...
Kuraih rambut  itu hati-hati agar  jangan sampai menyentuh kulitnya—pagi ini sudah
cukup dingin tanpa ketambahan sentuhanku—dan mengembalikannya ke balik telinga agar
tidak menarik perhatianku lagi. Aku ingat saat Mike Newton menyentuh rambutnya, ketika
itu Bella langsung menjauh. Kali ini reaksinya sama sekali berbeda; pupil matanya melebar,
aliran darah di balik kulitnya menderas, dan detak jantungnya mendadak tidak beraturan.
Aku berusaha menyembunyikan senyumku saat menjawab pertanyaannya. “Kurasa kau
bisa mengatakan ya untuk petanyaan pertama... kalau kau tidak keberatan—,”  biarkan dia
230
   

yang memilih, harus selalu begitu, “—itu lebih mudah daripada penjelasan lainnya.”
“Aku tak keberatan,” bisiknya. Detak jantungnya masih belum teratur.
“Dan   untuk   pertanyaan   yang   satu   lagi...”   kini   aku   tidak   bisa   menyembunyikan
senyumku. “
Well
, aku akan mendengar  jawabannya langsung darimu.”
Biarkan Bella mempertimbangkan hal
itu.
Aku menahan tawaku saat syok terlihat di
wajahnya.
Aku cepat-cepat berbalik, sebelum dia sempat menuntut jawaban lagi. Aku menemui
kesulitan untuk tidak menjawab apapun yang ia tanya. Dan aku ingin mendengar pikiran
nya,
bukan pikiranku sendiri.
“Sampai ketemu saat makan siang,” kataku sambil menoleh melihatnya, sekedar alasan
untuk  mengecek  apa   dia  masih memandangiku  dengan terlongo.  Dan,  dia  masih  begitu,
dengan mulut terbuka. Aku berbalik lagi dan tertawa.
Samar-samar  aku  menyadari  pikiran  syok  orang-orang  disekitarku—tatapan  mereka
bergantian ke aku dan Bella. Namun aku tidak terlalu memperhatikan mereka. Aku tidak bisa
berkonsentrasi. Untuk melangkah dengan tenang saja  sudah susah. Aku ingin lari—benar-
benar  lari, secepat kilat hingga menghilang, seperti terbang. Sebagian dariku sekarang sudah
terbang.
Sesampainya  di  kelas  jaketku  kupakai. Keharuman  pekat  Bella  yang  tertinggal  pun
bergelung disekelilingku. Kubiarkan tenggorokanku terbakar supaya nanti saat bertemu lagi
lebih mudah mengatasinya.
Ada untungnya juga para guru sudah tidak pernah menanyaiku lagi. Hari ini mungkin
mereka  bisa   memergokiku  tanpa  jawaban.  Pikiranku  sedang  berkeliaran  ke   tempat   lain;
hanya badanku yang di kelas.
Tentu saja aku sedang memandangi Bella. Itu jadi alamiah—sealami seperti bernapas.
Dia   sedang   bercakap-cakap   dengan   Mike   Newton,   dan   sebisa   mungkin   berusaha
mengalihkan pembicaraan  ke Jessica. Aku  menyer ingai  begitu lebar   hingga  Rob Sawyer,
yang duduk di meja sebelahku, berjengit di kursinya dan bergeser menjauh.
Ugh. Menyeramkan.
Well
, aku tidak sepenuhnya kehilangan tajiku.
Kadang-kadang aku juga mengawasi Jessica. Dia tidak sabar  menunggu jam ke empat,
231
   

dan sedang memikirkan daftar pertanyaan untuk Bella. Aku sendiri sepuluh kali lebih tidak
sabar ketimbang Jessica.
Dan aku juga mendengarkan Angela Weber.
Aku tidak lupa dengan hutang budiku padanya—karena telah memikirkan yang baik-
baik   saja   tentang   Bella   dan  pertolongannya   tadi   malam.  Jadi   sepanjang  pelajaran   aku
mencari-cari sesuatu yang ia inginkan. Kusangka itu akan mudah; seperti kebanyakan orang,
pasti   ada   barang-barang  mewah  atau  benda  tertentu  yang  dia   idam-idamkan.   Beberapa,
mungkin. Aku akan mengirimkannya tanpa nama, dan menganggap impas.
Tapi   ternyata   Angela   sama   polosnya   dengan   Bella.   Pikirannya   sangat  aneh  untuk
ukuran remaja. Bahagia. Barangkali ini alasan dari kebaikan hatinya yang tidak lazim—dia
satu dari  beberapa orang yang telah memiliki yang dia  inginkan, dan menginginkan yang
telah ia miliki. Jika tidak sedang memperhatikan pelajaran, dia memikirkan adik kembarnya,
yang akan ia ajak ke pantai akhir pekan nanti—terhibur oleh semangat mereka dengan sikap
hampir keibuan. Dia sering diminta menjaga mereka, tapi itu tidak membuatnya kesal... Itu
sangat murah hati.
Tapi tidak terlalu menolong buatku.
Pasti  ada  sesuatu yang dia mau. Aku cuma  perlu terus  mencari. Tapi  nanti  lagi. Ini
saatnya kelas Trigono Bella bersama Jessica.
Aku  tidak  memperhatikan  jalanku  saat  menuju  kelas   bahasa  Inggris.  Jessica  sudah
duduk di kursinya. Kedua  kakinya  mengetuk-ngetuk lantai tidak sabaran menunggu Bella
datang.
Sebaliknya, ketika  sampai  di  kursiku,  aku  langsung  sepenuhnya  diam. Aku  sampai
harus mengingatkan diriku untuk sesekali membuat gerakan, untuk memainkan sandiwaraku
sebagai manusia. Itu sangat sulit, pikiranku terlalu fokus ke Jessica. Kuharap dia benar-benar
memperhatikan, benar-benar membaca wajah Bella untukku.
Ketukan Jessica makin cepat ketika Bella memasuki kelas.
Dia kelihatan...murung. Kenapa? Mungkin tidak terjadi apa-apa antara dia dengan
Edward  Cullen.  Itu  pasti  mengecewakan. Kecuali...dengan  begitu  Edward  berarti  masih
sendirian...jika tiba-tiba Edward tertarik untuk kencan, aku tidak kebaratan membantunya...
Wajah Bella tidak kelihatan murung, melainkan malas. Dia gelisah—dia tahu aku akan
232
   

mendengar semuanya. Aku tersenyum sendiri.
“Ceritakan  semuanya!”
desak  Jess, sementara  Bella masih  melepas  jaketnya untuk
disampirkan di kursi. Dia bergerak dengan enngan.
Ugh, di lamban sekali. Ayo cepat ceritakan!
“Apa yang ingin kau ketahui?”
tanya Bella setengah hati setelah dia duduk.
“Apa yang terjadi semalam?”
“Dia mengajakku makan malam, lalu mengantarku pulang.”
Lalu? Ayolah, pasti lebih dari itu!  Paling-paling dia bohong, aku tahu itu. Aku akan
cari tahu yang sebenarnya.
“Bagaimana kau bisa pulang secepat itu?”
Kulihat Bella memutar bola matanya dari pandangan curiga Jessica.
“Dia ngebut seperti orang sinting. Mengerikan.”
Dia tersenyum, senyuman kecil. Dan aku tergelak, memotong pembicaraan Mr. Mason.
Tawaku berusaha kuubah jadi batuk, tapi tidak ada yang tertipu. Mr. Mason memelototiku,
tapi aku bahkan tidak mau repot-repot mendengarkan pikirannya. Aku masih sibuk dengan
Jessica.
Huh.  Sepertinya  dia  menceritakan  yang  sebenarnya. Kenapa dia mesti  membuatku
menanyakannya   kata   per   kata?   Kalau   itu   aku,   pasti   sudah   tidak   sabar   untuk
menceritakannya.
“Apakah   itu   semacam   kencan—apakah   kau   memberitahunya   untuk   menemuimu
disana?”
Jessica  mengamati  baik-baik ekspresi  Bella, dan  kecewa  karena kelihatannya  datar-
datar saja.
“Tidak—aku
sangat
terkejut melihatnya di sana,”
beritahu Bella.
Apa yang terjadi?? “Tapi hari ini  dia menjemputmu ke  sekolah?”  Pasti  ada cerita
lainnya.
“Ya—itu juga kejutan. Dia memerhatikan aku tidak membawa jaket semalam.”
Itu tidak terlalu menarik,
batin Jessica, lagi-lagi kecewa.
Aku  capek  mendengar   rentetan  pertanyaannya—aku   mau  mendengar   sesuatu   yang
belum kuketahui. Kuharap Jessica tidak terlalu kecewa hingga melewatkan pertanyaan yang
233
   

kutunggu-tunggu.
“Jadi, kalian akan berkencan lagi?”
desak Jessica.
“Dia menawarkan mengantarku ke  Seattle  sabtu nanti, karena menurut dia, trukku
tidak bakal sanggup—apakah itu masuk hitungan?”
Hmm.  Sepertinya  Edward  juga  cukup  serius...well,  jaga  Bella baik-baik. Pasti  ada
yang aneh dengan si Edward, jika bukan Bella-nya yang aneh. Bagaimana INI bisa terjadi?
“Ya.”
Jessica menjawab pertanyaan Bella.
“Well, kalau begitu, ya,”
tegas Bella.
“W-o-w. Edward Cullen.” Entah Bella menyukai Edward atau tidak, ini berita besar.
“Aku tahu,”
desah Bella.
Nada suara Bella menyemangati Jessica.
Akhirnya—dia menyadari juga situasinya. Dia
juga pasti tahu...
“Tunggu!”
Tiba-tiba dia ingat pertanyaan yang paling penting. “
Apakah dia sudah
menciummu?” Please bilang ya. Lalu ceritakan setiap detailnya!
“Belum,”
gumam  Bella  pelan, lalu dia menunduk, memandangi tangannya. “
Bukan
begitu.”
Sial. Kuharap... Ha. Sepertinya Bella juga mengharapkannya.
Aku mengerutkan dahi. Bella memang terlihat kecewa akan sesuatu, tapi tidak mungkin
itu alasannya. Dia tidak mungkin menginginkan hal itu. Dia tidak mungkin mau sedekat itu
dengan
gigi
ku. Seperti yang dia ketahui, aku punya taring.
Aku menggigil.
“Menurutmu hari sabtu...?”
desak Jessica lagi.
Bella bahkan terlihat lebih kecewa ketika berkata,
“Aku sangat meragukannya.”
Yah, dia memang menginginkannya. Itu pasti menyebalkan buat dia.
Apakah karena melihatnya lewat persepsi Jessica maka sepertinya asumsi Jessica betul?
Selama   setengah   detik   pikiranku   disela   oleh   bayangan—yang   mustahil—tentang
bagaimana rasanya jika mencium Bella. Bibirku pada bibirnya, batu-dingin pada kehangatan,
merasakan kelembutannya yang seperti sutra...
Kemudian dia mati.
Aku menggeleng-geleng sambil meringis, lalu memperhatikan lagi.
234
   

“Apa yang kalian obrolkan?” Apa kau bicara dengannya, atau kau justru membuatnya
harus bertanya satu persatu seperti ini?
Aku tersenyum kecut. Tebakan Jessica tidak terlalu melenceng.
“Entahlah,  Jess,  banyak.  Kami   membicarakan  tentang  tugas   esai  bahasa  Inggris,
sedikit.”
Sangat, sangat sedikit. Aku tersenyum lebar.
Oh, AYOLAH. “Ayolah, Bella! Ceritakan detailnya.”
Bella ragu sejenak.
“Well,   baiklah...   akan   kuceritakan   satu.   Mestinya   kau   lihat   pelayan   restoran
merayunya—terang-terangan sekali. Tapi dia tidak memerhatikan pelayan itu sama sekali.”
Detail yang aneh untuk diceritakan. Aku bahkan tidak menyangka Bella menyadari hal
itu. Sepertinya itu tidak terlalu relevan.
Menarik... “Itu pertanda baik. Apakah pelayan itu cantik?”
Hmm.   Jessica   menanggapinya   dengan   lebih   serius   ketimbang   aku.   Pasti   urusan
perempuan.
“Sangat,” ujar Bella. “Dan barangkali umurnya 19 atau 20.”
Sesaat Jessica ingat ketika ia dan Mike kencan senin kemarin—Mike bersikap terlalu
sopan  dengan  si  pelayan,  yang  menurut  Jessica  sama  sekali  tidak  cantik.  Dia   mengusir
ingatan itu dan kembali. Dia mengekang kekesalannya agar  bisa meneruskan pertanyaannya.
“Lebih baik lagi. dia pasti menyukaimu.”
“Ku
rasa
begitu,”
ucap Bella   tidak yakin,  dan  aku hampir  saja  berdiri.  “
Tapi  sulit
mengetahuinya. Sikapnya selalu misterius.”
Aku pasti tidak setransparan dan se-lepas kendali  seperti yang kupikir. Namun tetap
saja...dengan pengamatan yang ia punya... Bagaimana mungkin dia tidak menyadari bahwa
aku jatuh cinta padanya? Kuulang kembali seluruh pembicaraan kami berdua, dan baru sadar
aku memang belum  pernah mengucapkan kata-kata  itu. Tapi rasanya  ungkapan itu sudah
terbalut dalam setiap kata yang kuucapkan.
Wow. Bagaimana caranya kau bisa duduk di samping seorang model dan mengobrol
dengannya? “Aku tidak mengira kau berani sekali hanya berduaan dengannya.”
Bella terlihat syok.
“Kenapa?”
235
   

Reaksi yang aneh. Memangnya menurut dia yang kumaksud apa? “Dia begitu...” Apa
istilahnya   yang   tepat?   “Mengintimidasi.   Aku   takkan   tahu   apa   yang   harus   kukatakan
padanya.” Bahkan tadi aku tidak bisa bicara dengan benar, padahal dia cuma mengucapkan
selamat pagi. Aku pasti kelihatan seperti orang idiot.
Bella  tersenyum.
“Tapi aku memang punya beberapa masalah dengan logika ketika
bersamanya.”
Dia pasti sekedar menghibur Jessica. Bella terlihat begitu terkendali ketika bersamaku.
“Oh, well,” desah Jessica. “Dia memang luar biasa tampan.”
Tatapan  Bella   tiba-tiba  jadi  dingin.  Pancaran   matanya   mirip  seperti   ketika   sedang
tersinggung. Jessica sendiri tidak menangkap perubahan itu.
“Dia jauh lebih dari pada sekedar sangat tampan,”
tukas Bella.
Oooh. Akhirnya muncul juga. “Sungguh? Seperti apa?”
Bella  menggigit bibirnya  sebelum menjawab.
“Aku tak bisa menjelaskannya dengan
tepat...  tapi  dia  jauh   lebih  luar   biasa  di  balik   wajahnya.”
Dia   berpaling   dari   Jessica,
tatapannya berubah tidak fokus seakan sedang memandangi sesuatu yang jauh.
Yang   kurasakan   saat   ini  mirip   dengan  yang   kurasakan  ketika   Carlisle   atau  Esme
menyanjungku lebih dari yang sepantasnya. Mirip, tapi lebih dalam, dan lebih melimpah.
Jangan  berlagak   bodoh—tidak  ada  yang  lebih  baik   ketimbang  wajahnya!  Kecuali
mungkin badannya. Hhh. “Apakah itu mungkin?”
Jessica terkikik.
Bella tidak menoleh. Dia terus memandang ke kejauhan, mengabaikan Jessica.
Orang   normal   pasti   sudah   berbunga-bunga.   Barangkali   jika   kutanyakan   dengan
bahasa  yang  lebih  sederhana.  Ha  ha.  Aku   seperti  bicara   dengan  anak  TK.  “Jadi,  kau
menyukainya?”
Badanku membeku.
Bella tidak melihat ke Jessica.
“Ya.”
“Maksudku, kau
benar-benar
menyukainya?”
“Ya.”
Lihat, dia tersipu-sipu!
Ya, aku sedang melihatnya.

Seberapa
suka?”
desak Jessica.
236
   

Ruang kelasku mungkin saja diguncang gempa dan aku tidak menyadarinya.
Wajah Bella bersemu merah—aku hampir bisa merasakan hangatnya.
“Terlalu suka,” bisiknya. “Lebih dari dia menyukaiku. Tapi aku tidak tahu bagaimana
mengatasinya.”
Sial! Apa tadi yang Mr. Varner tanyakan? “Mmm. Nomer berapa Mr. Varner?”
Untung Jessica tidak bisa menanyai Bella lagi. Aku butuh waktu sebentar.
Apa coba yang dipikirkan gadis itu?
Lebih dari dia menyukaiku?
Darimana dia dapat
ide
itu
?
Tapi aku tidak tahu bagaimana mengatasinya
? Apa coba itu artinya? Aku tidak bisa
menemukan penjelasan yang rasional dari perkataanya. Ucapannya tak beralasan.
Rasanya  aku  seperti   tidak  dihargai.  Sesuatu   yang  sudah  sangat-sangat   jelas,  entah
bagaimana   jadi   terpelintir   di   dalam   otaknya   yang   ganjil.
Lebih   dari   dia   menyukaiku
?
Barangkali dia memang masih perlu dibawa ke psikiater.
Aku melihat  ke  jam, dan  menggertakan gigi. Kenapa  satu  menit  jadi  terasa seabad
untuk mahluk abadi sepertiku? Kemana larinya akal sehatku?
Rahangku   terkatup   rapat   selama   jam   pelajaran   Mr.   Varner.   Aku   lebih   banyak
mendengar  pelajaran di kelas Bella  ketimbang di  kelasku sendiri. Bella  dan Jessica  tidak
bicara lagi, tapi sesekali Jessica melirik ke Bella. Satu kali, wajahnya sempat bersemu merah
tanpa alasan yang jelas.
Jam makan siang tidak datang-datang juga.
Kuharap Jessica bisa mendapatkan semua jawaban yang kutunggu saat jam pelajaran
selesai. Tapi Bella lebih cepat dari dia.
Sesaat setelah bel bunyi, Bella menoleh ke Jessica.
“Di   kelas   Inggris,   Mike   bertanya  apakah   kau   mengatakan   sesuatu   tentang  Senin
Malam,”
kata Bella  sambil  tersenyum. Aku  mengerti  apa  yang dia lakukan—menyerang
adalah pertahanan yang terbaik.
Mike bertanya tentang aku?
Perasaan senang membuat pikiran Jessica jadi melunak,
tanpa sindiran seperti biasanya.
“Kau bercanda! Apa katamu?”
“Kubilang kau sangat menikmatinya—dia kelihatan senang.”
“Katakan apa persisnya yang dikatakannya, juga jawabanmu!”
Jelas, cuma itu yang bisa kudapat dari Jessica hari ini. Bella tersenyum seakan sedang
237
   

memikirkan hal yang sama, seakan dia telah memenangkan ronde ini.
Well
,   pada  saat   makan  siang  nanti   akan  lain   ceritanya.  Aku   harus   lebih   berhasil
ketimbang Jessica. Akan kupastikan itu.
Hanya   kadang-kadang  Aku   saja   mengecek   pikiran   Jessica   selama   jam   pelajaran
selanjutnya.  Aku   tidak   tahan  dengan   obsesinya   pada   Mike   Newton.  Aku   sudah  cukup
mendengar tentang Mike Newton selama dua minggu ini. Sudah untung dia masih hidup.
Aku berjalan dengan malas ke ruang gimnasium bersama Alice. Kami selalu malas jika
menyangkut aktivitas fisik bersama manusia. Ini hari pertama bermain badminton. Alice jadi
pasanganku. Aku mendesah bosan, mengayunkan raketku dengan sangat-sangat pelan untuk
mengembalikan   kok   nya  ke  seberang   net.   Lauren  Mallory   jadi   lawan   kami;  dia   gagal
memukulnya. Alice memutar-mutar raketnya sambil menatap ke langit-langit.
Kami   semua   membenci   pelajaran   olahraga,   terutama   Emmet.   Mengalah   dalam
pertandingan bertentangan dengan filosofi hidupnya. Pelajaran olahraga hari ini lebih parah
dari biasanya—aku hampir sekesal Emmet.
Sebalum   kepalaku  meledak,  Coach  Clapp  menyudahi   permainan.  Dengan  geli   aku
bersyukur  dia  melewatkan  sarapannya—percobaan  awal  untuk diet—dan  rasa  lapar   yang
diakibatkannya   membuat   dia   ingin  cepat-cepat  mencari   makan.   Dia   berjanji   ke   dirinya
sendiri akan mengulang lagi besok...
Ini memberiku cukup waktu untuk ke kelas Bella sebelum dia keluar.
Selamat bersenang- senang,
batin Alice saat dia bergegas menemui Jasper.
Aku cuma
perlu bersabar  beberapa hari lagi. Kurasa  kau tidak mau menyampaikan salamku untuk
Bella, kan?
Aku menggeleng jengkel. Apa semua paranormal memang sombong?
Sekedar   informasi,  matahari  akan  bersinar  cerah  akhir   pekan  nanti.  Kau  mungkin
perlu mengatur ulang rencanamu.
Aku menghela napas saat berjalan ke arah yang berlawanan dengan Alice. Sombong,
tapi jelas berguna.
Aku bersandar  di depan kelas Bella, menunggu. Aku berdiri cukup dekat hingga bisa
mendengar suara Jessica dari balik tembok, sama jelasnya dengan suara pikirannya.
“Hari ini kau tidak akan duduk bersama kami, kan?”
dia terlihat...berseri- seri. Berani
238
   

taruhan, pasti ada banyak yang tidak ia ceritakan.
“Ku
rasa
tidak,” jawab Bella. Anehnya, dengan ragu.
Bukannya tadi aku sudah janji akan makan siang bersamanya? Apa yang dia
pikir
?
Mereka keluar kelas berdua, sama-sama tercengang ketika melihatku. Tapi aku cuma
bisa mendengar pikiran Jessica.
Baik  sekali  dia.  Wow.  Oh,  pasti  itu, pasti  ada  lebih  banyak  lagi  yang tidak  Bella
ceritakan. Barangkali aku akan meneleponnya nanti malam...atau mungkin aku tidak usah
menyemangatinya. Huh. Kuharap Edward cepat bosan dengan Bella. Mike sih cukup manis
tapi...wow.
“Sampai nanti, Bella.”
Bella menghampiriku, berhenti beberapa langkah dariku, masih belum yakin. Pipinya
merona merah muda.
Aku sekarang cukup mengenalnya untuk yakin bahwa bukan takut yang membuatnya
ragu. Rupanya ini ada kaitannya dengan jurang perasaan yang dia bayangkan.
Lebih dari dia
menyukaiku
. Sangat absurd!
“Halo,” sapaku dengan suara parau.
Wajahnya makin cerah. “Hai.”
Kelihatannya dia tidak tahu harus berkata apa lagi, jadi kami diam saja selama berjalan
ke kafetaria.
Jaketku bekerja  dengan baik—aromanya jadi  tidak setajam  biasanya. Ini  cuma rasa
terbakar yang sudah sering kurasakan. Dengan mudah bisa kuabaikan.
Bella  nampak   resah   ketika   berjalan   di   antrian.   Tanpa  sadar   dia   memain-mainkan
resleting   jaketnya,   dan   mengganti-ganti   tumpuan   kakinya   dengan   gugup.   Dia   sering
melirikku, namun tiap kali bertemu pandang, dia langsung menunduk, seakan malu. Apa ini
karena ada begitu banyak orang yang menatap kami? Mungkin dia bisa mendengar bisikan-
bisikan mereka—gosip yang terucap tidak beda dengan isi kepala mereka.
Atau barangkali dia sadar, dari melihat ekspresiku, bahwa dia dalam kesulitan.
Dia  tidak bicara apa-apa sampai aku mengambil  makanan untuk dia. Aku tidak tahu
kesukaannya apa—belum tahu—jadi aku mengambil satu dari tiap makanan yang ada.
“Apa yang kau lakukan?” desisnya pelan. “Kau tidak mengambil itu semua untukku,
239
   

kan?”
Aku   menggeleng,   dan   membawa   nampannya   ke   kasir.   “Tentu   saja   separuhnya
untukku.”
Alisnya terangkat skeptis, tapi tidak berkomentar. Setelah membayar makanannya, aku
mengajaknya duduk di tempat kami  bicara minggu lalu. Sepertinya itu sudah berlalu lama
sekali. Semuanya tampak berbeda sekarang.
Dia duduk di sebrangku lagi. Kudorong nampannya ke dia.
“Ambil apa saja yang kau mau.”
Dia   mengambil   sebuah   apel   dan   memutar-mutarnya   di   tangan.   Sorot   matanya
menyelidik.
“Aku penasaran.”
Benar-benar kejutan.
“Apa  yang kau lakukan bila  ada yang menantangmu makan?”  Dia mengucapkannya
dengan   sangat   pelan   hingga   tidak   mungkin   ada   orang   yang   bisa   mendengar.   Telinga
keluargaku   lain   lagi,   jika   mereka   sedang   memperhatikan.   Mestinya   aku   terlebih   dulu
mengatakan sesuatu ke mereka...
“Kau selalu saja  penasaran,” keluhku. Oh, baiklah. Ini  bukannya  aku belum pernah
makan sebelumnya. Ini bagian dari bersikap ksatria. Bagian yang tidak menyenangkan.
Aku mengambil  yang terdekat, dan menatap matanya sembari menggigit apapun ini.
Tanpa   melihat   aku   tidak   tahu   apa   yang   kumakan.   Bentuknya   tipis   dan   padat,   sama
menjijikannya  dengan semua makanan  manusia  lainnya. Aku  mengunyah cepat-cepat  dan
menelannya, menyembunyikan ekspresi  jijik di wajahku. Gumpalan makanan itu bergerak
pelan   dan   tidak   nyaman   di   tenggorokanku.   Aku   mengeluh   saat   memikirkan   harus
memuntahkannya lagi nanti. Menjijikan!
Ekspresi Bella syok. Kagum.
“Kalau seseorang menantangmu makan kotoran, kau bisa melakukannya, ya kan?”
Hidungnya mengerut dan ia tersenyum. “Aku pernah melakukannya... ketika ditantang.
Tidak terlalu buruk.”
Aku tertawa. “Kurasa aku tidak terkejut.”
Mereka terlihat  nyaman,  ya kan? Dilihat  dari  bahasa  tubuhnya  begitu. Nanti  biar
240
   

kuberitahu ke Bella. Edward mencondongkan tubuhnya ke Bella seperti seharusnya jika dia
tertarik  pada Bella. Dia terlihat tertarik. Dia terlihat...sempurna.
Jessica  menghela napas.
Yumy.
Aku bertemu pandang dengan tatapan penasaran Jessica, dan dia langsung berpaling
gugup, cekikikan ke teman sebelahnya.
Hmm. Barangkali sebaiknya aku tetap dengan Mike saja. Realita, bukan fantasi...
“Jessica   sedang   memerhatikan   semua   tindak-tandukku.”   Aku   memberitahu   Bella.
“Nanti dia akan memaparkannya padamu.”
Kusorongkan   sisa   makanannya   ke   Bella—pizza,   setelah   kulihat—bertanya-tanya
bagaimana memulainya. Rasa frustasiku kembali muncul, kata-kata itu terulang kembali di
kepalaku:
lebih dari dia menyukaiku. Tapi aku tidak tahu bagaimana cara mengatasinya.
Dia  menggigit sisa pizza tadi. Itu membuatku takjub, melihat begitu percayanya dia
padaku. Tentu saja dia  tidak tahu aku punya  liur  berbisa yang beracun—meski tidak akan
menular dengan cara seperti itu. Tetap saja, kukira dia akan memperlakukanku dengan cara
yang berbeda, seperti sesuatu yang lain. Tapi dia tidak pernah memperlakukanku berbeda—
paling tidak, tidak dengan cara yang negatif...
Aku mesti memulainya pelan-pelan.
“Jadi pelayannya cantik, ya?”
Dia mengangkat alisnya. “Kau benar-benar tidak memerhatikan?”
Dia  pikir   ada perempuan lain  yang bisa mengalihkan perhatianku darinya. Lagi-lagi
absurd.
“Tidak. Aku memikirkan banyak hal.” Diantaranya perhatianku tertuju pada blus  tipis
yang membalut tubuhnya...
Untungnya sekarang dia memakai sweter jelek ini.
“Perempuan malang,” ujar Bella sambil tersenyum.
Dia  senang aku tidak tertarik pada pelayan itu. Cukup bisa dipahami. Sudah berapa
kali, coba, aku membayangkan meremukkan Mike Newton sewaktu di kelas Biologi?
Tapi tidak mungkin dia percaya bahwa perasaan manusianya, pengalaman tujuh belas
tahunnya yang pendek, bisa  lebih kuat dari hasrat abadi yang telah terbangun selama satu
abad dalam diriku.
241

Baca selanjutnya ..