Cari Blog Ini

movie mania

7.


kuberikan—kebenaran yang kuharap tidak akan pernah dia ketahui?
“Tertantung apa yang kau inginkan?”
“Tidak susah kok,” Dia berjanji.
Aku menunggu, lagi-lagi penasaran.
“Kira-kira...” Dia menatap ke botol  limun, mengitari mulut botolnya dengan jarinya,
“Maukah kau memberitahuku dulu sebelum lain kali memutuskan untuk mengabaikan aku,
demi kebaikanku sendiri? Jadi aku bisa siap-siap.”
Dia   ingin  diperingatkan  dulu?  Berarti,  diabaikan  olehku  adalah  sesuatu  yang  tidak
menyenangkan... Aku tersenyum.
“Kedengarannya adil.”
“Terima kasih,” jawabnya sambil mendongak menatapku. Wajahnya begitu lega hingga
aku ingin tertawa karena kelegaanku sendiri.
“Lalu apa aku juga boleh minta satu jawaban sebagai gantinya?” tanyaku penuh harap.
“Satu,” dia mengijinkan.
“Ceritakan padaku
satu
teori.”
Wajahnya merona lagi. “Jangan yang itu.”
“Kau tidak memberi syarat, kau sudah janji untuk menjawab satu.”
“Sedang kau sendiri melanggar janjimu.” Dia mendebat balik.
Dan itu tepat mengenaiku.
“Satu teori saja—aku tidak akan tertawa.”
“Pasti   kau   bakal   tertawa.”   Dia   kelihatannya   sangat   yakin,   meski   aku   tidak   bisa
membayangkan sesuatu yang lucu tentang itu.
Sekali lagi aku mencoba membujuknya. Aku menatap lekat-lekat kedalam matanya—
sesuatu yang mudah dilakukan, dengan matanya yang begitu dalam—dan berbisik, “
Please
?”
Dia mengedip, dan wajahnya berubah kosong.
Well,
itu bukan reaksi yang kuharapkan.
“Mmm, apa?” tanyanya, terlihat pusing.
Ada apa dengan dia? Tapi aku tidak akan menyerah.
“Ceritakan   satu   teori,   sedikit   saja.”   Aku   memohon   dengan   suara   halus,
memperhatankan matanya dalam tatapanku.
122
   

Terkejut dan puas, ternyata berhasil...
“Ehh,
well
, digigit laba-laba yang mengandung radioaktif?”
Cerita komik? Pantas saja dia pikir aku bakal tertawa.
“Itu tidak terlalu kreatif.” Aku mencibirnya, berusaha menyembunyikan kelegaanku.
“Ya maaf, cuma itu yang kupunya.”
Dia agak tersinggung. Dan itu membuatku lebih senang. Aku bisa menggodanya lagi.
“Mendekatipun tidak.”
“Tidak ada laba-laba?”
“Tidak ada.”
“Tidak ada radioaktif?”
“Tidak.”
“Sial,” keluhnya.
Aku cepat-cepat mengalihkan—sebelum dia bertanya tentang
gigitan.

Kryptonite
juga
tidak melemahkanku.” Kemudian aku tertawa, karena dia pikir aku adalah
superhero.
“Kau seharusnya tidak boleh ketawa, ingat?”
Aku tersenyum dan menutup mulut.
“Nanti juga aku tahu.”
Dan ketika dia tahu, ia akan lari.
“Kuharap kau tidak mencobanya.”Nnada menggodaku sepenuhnya lenyap.
“Karena...?”
Aku behutang kejujuran padanya. Tetap saja, aku berusaha tersenyum, agar tidak tidak
kedengaran mengancam. “Bagaimana kalau aku bukan seorang
superhero
? Bagaimana kalau
aku orang jahatnya?”
Matanya melebar dan bibirnya sedikit membuka. “Oh,” ujarnya. Dan sedetik kemudian,
“Aku mengerti.”
Dia akhirnya mendengar peringatanku.
“Benarkah?” tanyaku, menyembunyikan penderitaanku.
“Kau berbahaya?” Napasnya memburu, dan jantungnya berdetak kian cepat.
Aku tidak tahu harus menjawab apa. Apa ini kesempatan terakhirku bersamanya? Apa
dia akan segera lari? Masih sempatkah untuk mengatakan bahwa aku mencintai dia sebelum
123
   

ia pergi? Atau itu akan lebih membikin dia takut?
“Tapi   tidak   jahat,”   bisiknya   sambil   menggeleng.   Tidak   terpancar   ketakutan   dari
matanya yang jernih. “Tidak, aku tidak percaya kau jahat.”
Aku menarik napas. “Kau salah.”
Tentu saja aku jahat. Bukannya sekarang aku sedang bersorak gembira, karena dia salah
menilaiku? Jika aku orang baik, aku akan menjauh darinya.
Aku mengulurkan tangan ke meja, menjangkau tutup botol limunnya sebagai alasan.
Dia tidak bereaksi dengan gerakan tiba-tiba ini. Dia benar-benar tidak takut padaku. Belum.
Aku   memutar   tutup   botolnya   seper ti   gasing,   memperhatikan   itu,   bukannya   dia.
Pikiranku buntu.
Lari, Bella, lari.
Aku tidak sanggup mengucapkannya keras-keras.
Namun tiba-tiba dia terloncat. “Kita bakal terlambat,” ujarnya saat aku mulai khawatir
—entah bagaimana—ia bisa mendengar peringatan di kepalaku.
“Aku tidak ikut pelajaran hari ini.”
“Kenapa?”
Karena aku tidak mau membunuhmu.
“Sekali-kali membolos itu menyehatkan.”
Lebih tepatnya, jauh lebih baik bagi manusia  jika  seorang vampir  membolos di hari
ketika darah manusia tumpah. Hari ini Mr. Banner  akan menguji golongan darah. Tadi pagi
Alice sudah membolos duluan.

Well
, aku akan masuk,”
Itu tidak mengejutkan. Dia orang yang bertanggung jawab—selalu melakukan sesuatu
yang benar.
Aku, kebalikannya.
“Kalau   begitu  sampai   ketemu   lagi.”  jawabku  sesantai  mungkin  sambil   melihat   ke
bawah, ke tutup botol yang kuputar.
Dan, ngomong-ngomong, aku memujamu...dalam cara
yang menakutkan dan membahayakan.
Dia   ragu-ragu,   dan   aku   sempat   berharap   ia   akan   memilih   untuk   tetap   tinggal
bersamaku. Tapi bel berbunyi dan ia cepat-cepat pergi.
Kutunggu  dia  sampai  keluar,  kemudian  kusimpan  tutup  botol  tadi  ke  saku—sebuah
kenang-kenangan dari pembicaraan yang sangat menyenangkan ini—dan berjalan menembus
124
   

hujan ke mobil.
Aku   menyalakan   CD   musik   kesukaanku,   Debussy—CD   yang   sama   dengan   yang
kudengarkan di hari pertama itu. Tapi aku tidak mendengarkannya terlalu lama. Alunan nada
yang lain mengalir di kepalaku, penggalan lagu yang menyenangkan dan menggugahku. Jadi,
kumatikan CDnya  dan ganti mendengarkan musik di  kepalaku, memainkan penggalannya
sampai berhasil mengembangkannya jadi satu harmonisasi lengkap. Secara naluri, jari-jariku
menari di udara memainkan tuts-tuts piano kasat mata.
Komposisi lagunya hampir  lengkap ketika aku menangkap gelombang kerisauan-batin
yang mendalam.
Aku mencari sumber suaranya.
Apa dia akan pingsan? Apa yang mesti kulakukan?
Mike membatin panik.
Beberapa  ratus meter dari  tempatku, Mike Newton meletakan tubuh lunglai Bella ke
trotoar. Dia merosot tak berdaya ke semen dingin. Matanya tertutup, kulitnya sepucat mayat.
Aku hampir menendang pintu mobilku.
“Bella?!” Teriakku.
Tidak ada perubahan di wajah pucatnya saat aku meneriakan namanya.
Sekujur tubuhku mendingin melebihi es.
Dengan   marah   aku   menyelidiki   pikiran   Mike,   yang   terkejut   sekaligus   jengkel
melihatku. Dan dia hanya memikirkan kemarahannya hingga aku tidak tahu apa yang terjadi
pada Bella. Jika dia sampai menyakiti Bella, aku akan membinasakannya.
“Apa yang terjadi—apa dia sakit?” Aku menuntut jawaban sambil berusaha fokus pada
pikiran si bocah. Rasanya menjengkelkan harus berjalan dengan langkah manusia. Harusnya
tadi aku datang diam-diam.
Kemudian, aku mendengar detak jantung dan napasnya yang datar. Saat aku mendekat,
dia memejamkan matanya lebih rapat. Itu meringankan kepanikanku.
Aku   melihat   sekelebatan   ingatan   di  pikiran   Mike,   sekelumit   gambaran   dari   kelas
Biologi. Kepala Bella terkulai di meja kami berdua, kulit gadingnya berubah hijau. Setetes
cairan kental merah di kertas putih...
Tes golongan darah.
Aku langsung berhenti di tempat, menahan napasku. Aromanya aku sudah biasa, tapi
125
   

darah segar adalah sama sekali lain.
“Kurasa dia pingsan,” ujar  Mike dengan cemas sekaligus  marah. “Aku tidak tahu apa
yang terjadi, dia bahkan tidak menusuk jarinya.”
Kelegaan langsung melandaku, aku bernapas lagi, merasakan udara disekelilingku. Ah,
aku bisa mencium setitik darah dari bekas tusukan Mike Newton. Di waktu lalu, mungkin itu
akan mengundang seleraku.
Aku berlutut  disamping Bella  sementara  Mike menunggu di  dekatku, marah karena
campur tanganku.
“Bella. Kau bisa mendengarku?”
“Tidak,” erangnya. “Pergi sana.”
Kelegaan itu begitu luarbiasa hingga aku tertawa. Dia baik-baik saja.
“Aku mau membawanya ke UKS,” sergah Mike. “Tapi dia tak bisa berjalan lebih jauh
lagi.”
“Aku yang akan mengantarnya. Kau bisa kembali ke kelas,” kataku mengusirnya.
Mike menggertakan gigi. “Tidak. Aku yang seharusnya melakukannya.”
Aku malas berdebat dengan bocah satu ini.
Berdebar-debar  dan takut, setengah bersyukur  dan cemas, mengingat bahayanya jika
menyentuh dia, dengan lembut aku mengangkat Bella dan membopongnya di lenganku. Aku
menyentuh hanya bajunya, menjaga jarak tubuhnya sejauh mungkin. Aku melangkah cepat-
cepat untuk menyelamatkan dia—menjauh dariku, dengan kata lain.
Matanya terbuka, bingung.
“Turunkan aku,” tuntutnya dengan suara lemah—malu, ditebak dari ekspresinya. Dia
tidak suka menunjukan kelemahannya.
Aku hampir tidak mendengar protes Mike di belakangku.
“Kau tampak kacau,” kataku sambil menyeringai karena tidak ada yang salah padanya
selain kepala pusing dan perut yang lemah.
“Turunkan aku,” ujarnya. Bibirnya putih.
“Jadi kau pingsan karena melihat darah?” Bisakah lebih ironis lagi?
Dia menutup mata dan mengatupkan bibirnya.
“Dan bahkan bukan darahmu sendiri,” aku menambahkan. Seringaiku makin lebar.
126
   

Kami sampai  di  depan TU. Pintunya sedikit  terbuka. Aku membukanya dengan kaki
agar bisa lewat.
Ms. Cope terloncat kaget. “Oh, ya ampun,” dia terengah saat memeriksa gadis kelabu
di tanganku ini.
“Dia pingsan di kelas biologi,” aku menerangkan, sebelum imajinasinya terlalu jauh.
Ms.   Cope   buru-buru   membuka   pintu   ke   ruang   UKS.   Mata   Bella   terbuka   lagi,
mengawasinya. Aku mendengar  pikiran takjub Mrs. Hammond, juru rawat keibuan yang ada
di UKS, saat aku masuk dan membaringkan Bella ke sebuah tempat tidur yang sudah lusuh.
Begitu Bella  tidak  lagi  di  tanganku,  aku  langsung  menjauh  ke  tembok.  Tubuhku  terlalu
bersemangat, terlalu berhasrat. Otot-ototku tegang. Dan liurku mengalir  deras. Dia sangat
hangat dan harum.
“Di hanya sedikit  lemah,” aku meyakinkan Mrs. Hammond. “Mereka sedang mengetes
golongan darah di kelas Biologi.”
Dia mengangguk mengerti sekarang. “Selalu saja ada yang pingsan.”
Aku menahan tawa. Pastilah Bella yang satu itu.
“Berbaringlah sebentar, sayang.”  Mrs. Hammond berkata  menenangkan. “Nanti juga
sembuh.”
“Aku tahu,” jawab Bella.
“Apa ini sering terjadi?” sang perawat bertanya.
“Kadang-kadang,” Bella mengakui.
Aku berusaha menyamarkan tawaku dengan batuk.
Itu  mengalihkan   perhatian   Mrs.   Hammond  padaku.  “Kau  boleh  kembali   ke  kelas
sekarang.”
Aku menatap langsung ke matanya dan berbohong dengan keyakinan sempurna. “Aku
disuruh menemaninya.”
Hmmm... Apa iya... Ah sudahlah.
Mrs. Hammond mengangguk.
Itu berhasil dengan baik padanya. Kenapa kalau dengan Bella jadi sulit?
“Aku akan mengambilkan kompres  untukmu, sayang.” Mrs. Hammond merasa tidak
nyaman   setelah   menatap   mataku—sebagaimana   manusia
seharusnya—
dan   pergi   keluar
ruangan.
127
   

“Kau betul.” Bella mengerang, menutup matanya.
Yang dia maksud apa? Dan pikiranku langsung mengarah ke kesimpulan yang terburuk:
dia menerima peringatanku.
“Biasanya   begitu.”   Aku   berusaha   kedengaran   bangga;   sepertinya   tidak   terlalu
meyakinkan. “Tapi kali ini tentang apa?”
“Membolos itu sehat,” desahnya.
Ah, lega lagi.
Kemudian  dia  terdiam, hanya  bernapas   pelan-pelan. Bibirnya  mulai  berubah  merah
muda.   Komposisi   bibirnya   terlihat   tidak   imbang,   bibir   bawahnya   sedikit   lebih   penuh
dibanding bibir  atasnya. Dan memandangi bibirnya membuatku merasa aneh. Membuatku
ingin mendekat, yang mana bukan ide yang bagus.
“Tadi   kau   sempat   membuatku   takut.”   Aku   coba   memulai   pembicaraan   agar   bisa
mendengar   suaranya   lagi.  “Kukira  Newton  sedang   menyer et  mayatmu  untuk  dikubur  di
hutan.”
“Ha ha,” ucapnya tidak terhibur.
“Jujur saja—aku pernah melihat mayat dengan kondisi lebih baik.” Itu betul. “Hampir
saja aku membalas pembunuhmu.” Dan aku memang hampir begitu.
“Kasihan Mike,” desahnya. “Berani taruhan dia pasti marah.”
Aku langsung berang mendengarnya, namun cepat-cepat kutahan. Kepeduliannya pasti
lebih karena kasihan. Dia baik hati. Cuma itu.
“Dia sangat membenciku.” Aku senang jika Mike memang begitu.
“Kau tidak mungkin tahu pasti.”
“Aku lihat wajahnya, makanya aku tahu.” Itu mungkin ada benarnya, dengan membaca
wajahnya  cukup  untuk  menarik kesimpulan seperti  itu.  Segala  latihan selama  ini  dengan
Bella menajamkan kemampuanku membaca ekspresi manusia.
“Bagaimana kau bisa menemukanku? Kukira kau membolos.” Wajahnya terlihat lebih
baik—warna kehijauan telah lenyap dari balik kulitnya yang bening.
“Aku sedang di dalam mobil, mendengarkan CD.”
Ekspresinya sedikit berubah, seakan entah bagaimana jawaban biasaku membuatnya
terkejut.
128
   

Dia   menutup   matanya   lagi   ketika   Mrs.   Hammond   kembali   dengan   membawa
kompresan es.
“Pakai ini, sayang,” perawat itu menaruh kompresnya di kening Bella. “Kau kelihatan
jauh lebih baik.”
“Kurasa  aku baik-baik saja,”  jawab Bella. Ia bangkit duduk sembari menyingkirkan
kompresannya. Bukan kejutan. Dia tidak suka dapat perhatian.
Tangan keriput Mrs. Hammond menahan Bella agar kembali berbaring, tapi kemudian
Ms. Cope membuka pintu dan masuk. Bersama kedatangannya tercium juga bau darah segar,
cuma bau ringan.
Di belakang Ms. Cope, Mike Newton masih marah sekali, berharap bocah yang baru
saja ia tuntun adalah gadis yang ada disini bersamaku.
“Kita kedatangan satu lagi,” ujar Ms. Cope.
Bella buru-buru melompat turun dari tempat tidur, ingin cepat- cepat menyingkir.
“Ini,”   katanya  cepat,  mengembalikan  kompresnya   ke   Mrs.  Hammond.  “Aku   tidak
memerlukannya.”
Mike menggerutu saat dia setengah menyeret Lee Stevens melewati pintu. Darah masih
menetes dari tangan Lee yang sedang memegangi wajahnya, menetes turun ke lengannya.
“Oh, tidak.” Ini tandaku untuk pergi—dan kelihatannya buat Bella juga. “Ayo keluar
dari sini, Bella.”
Dia menatapku dengan pandangan bingung.
“Percayalah—ayo.”
Dia memutar  dan menangkap pintunya sebelum tertutup, buru-buru keluar  dari UKS.
Aku mengikuti tepat di belakangnya. Kibasan rambutnya sempat membelai tanganku...
Dia menoleh melihatku, masih dengan mata lebarnya.
“Kau benar-benar menuruti perkataanku.” Ini yang pertama.
Hidung mungilnya mengerut. “Aku mencium bau darah.”
Aku menatapnya heran. “Manusia tidak bisa mencium darah.”

Well
, aku bisa—itulah yang membuatku mual. Baunya seperti karat...dan garam.”
Wajahku membeku, melongo.
Apa  dia  betul-betul  manusia?   Dia
terlihat
seperti   manusia. Dia  terasa  lembut  bagi
129
   

manusia.  Baunya   seperti   manusia—
well
,  jauh  lebih  baik   sebetulnya.  Tingkahnya   seperti
manusia...kira-kira begitu. Tapi dia tidak berpikir layaknya manusia, atau bereaksi seperti itu.
Memang, apa lagi pilihannya selain manusia?
“Kenapa?” tanyanya penasaran.
“Bukan apa-apa.”
Kemudian Mike Newton datang menyela, masuk dengan pikiran marah besar.

Kau
kelihatan lebih baik,” ujarnya kasar pada Bella.
Tanganku mengejang, ingin memberinya pelajaran. Aku harus hati-hati, atau aku akan
betul-betul membunuh bocah menjengkelkan ini.
“Jauhkan tanganmu,” katanya. Sesaat kupikir dia sedang bicara padaku.
“Sudah  tidak  berdarah  lagi,”  jawab  Mike   sambil   menahan  marah.  “Apa   kau  akan
kembali ke kelas?”
“Apa kau bercanda? Aku hanya akan kembali kesini lagi.”
Itu bagus sekali. Kupikir  aku akan kehilangan satu jam penuh bersamanya, tapi justru
dapat   tambahan  waktu.  Aku  jadi  merasa   tamak,  orang  kikir   yang   mendambakan  setiap
tambahan waktu.
“Kurasa betul...” gumam mike. “Jadi kau akan pergi pekan ini? Ke pantai?”
Ah, mereka punya rencana. Aku membeku ditempat karena marah. Tenang, itu cuma
tamasya  bersama.  Aku sudah  melihat  rencana  ini  di  pikiran mur id-murid lainnya.  Bukan
cuma   mereka  berdua.  Tapi   aku  masih  juga  geram.  Aku  menyandar  ke   komputer,  tidak
bergerak, berusaha mengendalikan diriku.
“Tentu saja, aku kan sudah bilang akan ikut,” jawabnya pada Mike.
Jadi dia berkata ya padanya juga.
Cemburu langsung membakarku, lebih menyakitkan daripada  haus.
Bukan,   itu   cuma   tamasya   bersama,   aku   berusaha   meyakinkan   diriku.   Dia   hanya
menghabiskan waktu bersama teman-temannya. Tidak lebih.
“Kita akan kumpul di toko ayahku jam sepuluh.”
Dan si Cullen TIDAK diundang.
“Aku akan datang.”
“Kalau begitu sampai ketemu lagi di gimnasium.”
“Sampai nanti,” balasnya.
130
   

Mike berjalan ogah- ogahan kembali ke kelas. Pikirannya penuh kemarahan.
Apa yang
Bella   lihat   dari   orang   aneh   itu?   Tentu   saja   dia   memang   kaya.   Menurut   perempuan-
perempuan dia itu keren, tapi menurutku tidak. Terlalu...terlalu sempurna. Berani taruhan
ayahnya  pasti melakukan  eksperimen  operasi plastik  pada mereka  semua.  Itulah  kenapa
semuanya  putih  sekali  dan  cantik.  Itu   tidak   wajar.  Dan  tatapannya  agak...menakutkan.
Kadang, saat dia menatapku, berani sumpah ia seperti  ingin membunuhku... dasar orang
aneh...
Mike tidak sepenuhnya keliru.
“Gimnasium,” Bella mengulang pelan. Mengerang.
Aku   menatapnya,   dan   ia   terlihat   sedih   akan   suatu   lagi.   Aku   tidak   yakin   apa
penyebabnya, tapi  jelas  dia tidak ingin pergi  ke kelas berikutnya  bersama Mike. Dan aku
sangat setuju pada hal itu.
Aku  mendekat  ke  sisinya,  lalu menunduk  ke  wajahnya,  merasakan  hangat  kulitnya
menjalar ke bibirku. Aku tidak berani untuk bernapas.
“Aku   bisa   mengaturnya,”   bisikku   pada   dia.   “Duduklah   dan   perlihatkan   wajah
pucatmu.”
Dia melakukan apa yang kuminta, duduk di salah satu kursi lipat  dan menyandarkan
badannya ke tembok, sementara, di belakangku, Ms. Cope keluar  dari dalam UKS  menuju
mejanya. Dengan mata yang tertutup, Bella kelihatan seperti  pingsan lagi. Rona wajahnya
belum kembali seperti semula.
Aku menoleh ke Ms. Cope. Semoga Bella memperhatikan, pikirku sinis. Seperti inilah
manusia
semestinya
bereaksi.
“Ms. Cope?” kataku dengan menggunakan suara membujuk lagi.
Bulu  matanya   mengedip-ngedip  tak  sadar,  dan  jantungnya   berdetak  cepat.
Terlalu
muda, kendalikan dirimu!
“Ya?”
Ini   menarik.   Ketika   detak   jantung   Shelly   Cope   bertambah   cepat,   itu   karena   dia
mendapati diriku menarik secara fisik, bukan karena takut. Aku sudah terbiasa menghadapi
reaksi seperti itu dari para manusia-perempuan...tapi  aku tidak pernah mempertimbangkan
penjelasan itu ketika detak jantung Bella memburu.
Aku cukup  suka  itu. Terlalu suka, sebetulnya. Aku tersenyum, dan napas  Ms.  Cope
131
   

makin memburu.
“Setelah ini Bella ada pelajaran olahraga, dan sepertinya kondisinya belum pulih benar.
Sebetulnya saya berpikir untuk mengantarnya pulang sekarang. Apa saya bisa minta tolong
dimintakan   ijin   buatnya?”   Aku   menatap   kedalam   matanya   yang   dangkal,   menikmati
bagaimana hal ini mengalutkan pikirannya. Jangan-jangan, mungkinkah Bella...?
Mrs. Cope harus  menelan ludah dulu sebelum  menjawab. “Apa kau butuh ijin juga,
Edward?”
“Tidak, Mrs. Goff tidak akan keberatan.”
Aku   tidak   terlalu   memperhatikannya   sekarang.   Aku   sedang   memper timbangkan
kemungkinan terbaru ini.
Hmmm...Aku   ingin   percaya   bahwa   Bella   mendapatiku   menarik   seperti   menurut
manusia lainnya, tapi kapan Bella pernah berpikiran sama seperti manusia lainnya? Aku tidak
boleh terlalu berharap.
“Oke, kalau begitu semuanya beres. Kau merasa lebih baik, Bella?”
Bella mengangguk lemah—sedikit dilebih-lebihkan.
“Apa kau bisa berjalan, atau perlu kugendong lagi?” tanyaku geli melihat aktingnya.
Dia pasti lebih memilih jalan—dia tidak mau terlihat lemah.
“Aku jalan saja,” jawabnya.
Betul lagi. Aku mulai lebih baik dalam hal ini.
Dia  bangkit  berdiri,  ragu-ragu  sebentar  seperti  sedang  mengecek  keseimbangannya.
Aku menahan pintu untuknya, dan kami berjalan menembus hujan.
Aku memperhatikan bagaimana dia menengadahkan wajahnya menghadap rintik-rintik
hujan  dengan  mata  tertutup,  sebaris  senyum  di  bibirnya.
Apa  yang  sedang  ia  pikirkan?
Tindakannya  terlihat ganjil, dan aku langsung menyadari penyebabnya. Perempuan normal
tidak akan menentang hujan seperti itu; mereka biasanya memakai makeup, bahkan disini di
kota hujan seperti Forks.
Bella tidak pernah memakai makeup, dan memang sebaiknya tidak. Industri kosmetik
memperoleh jutaan dolar  tiap tahunnya dari para  wanita yang berusaha  mendapatkan kulit
seperti dia.
“Terima kasih.” Dia tersenyum padaku. “Lumayan juga bisa bolos kelas olahraga.”
132
   

Aku   memandang   ke   seberang   kampus,   bertanya-tanya   bagaimana   caranya
memperpanjang waktu bersamanya. “Dengan senang hati,” jawabku.
“Jadi apa kau ikut? Maksudku, sabtu ini?” Dia terdengar berharap.
Ah, harapannya menyenangkan. Dia ingin aku yang bersamanya, bukan Mike Newton.
Dan aku ingin berkata ya. Tapi ada banyak hal yang mesti dipertimbangkan. Salah satunya,
matahari akan bersinar cerah sabtu ini...
“Sebenarnya  kalian akan pergi kemana?” Aku berusaha terdengar acuh, seakan tidak
terlalu berarti. Mike  sempat  menyebut
pantai.
Tidak mungkin menghindari sinar  matahari
disana.
“La Push, ke First Beach.”
Sial.
Well
, kalau begitu mustahil.
Bagaimanapun, Emmet bakal marah jika aku membatalkan rencana kami.
Aku meliriknya, tersenyum kecut. “Aku rasa aku tidak diundang.”
Dia mendesah, lebih dulu menyerah. “Aku baru saja mengundangmu.”
“Sudahlah, sebaiknya kita jangan terlalu mendesak Mike lagi minggu ini. Kita tidak
ingin  membuat  dia   marah,  kan?”  Aku  sebetulnya  memikirkan  diriku  sendiri   yang  lepas
kendali pada
Mike yang malang,
dan sangat menikmati bayangannya.
“Mike-schmike,” katanya lagi-lagi dengan nada penolakan. Aku tersenyum lebar.
Kemudian dia berjalan menjauh.
Tanpa   memikirkan  tindakanku,  aku  menangkap   belakang  mantelnya.  Dia   tersentak
berhenti.
“Memangnya kau mau pergi kemana?” Aku hampir marah karena dia meninggalkanku.
Aku masih belum puas bersama dengannya. Dia tidak bisa pergi, jangan dulu.
“Pulang,” jawabnya bingung, tidak mengerti kenapa itu membuatku kesal.
“Apa tadi kau tidak dengar aku berjanji mengantarmu pulang dengan selamat? Pikirmu
aku akan membiarkanmu mengemudi dengan kondisi seperti ini?” Aku tahu dia tidak akan
suka
itu—
pandanganku yang menilai dia lemah. Tapi aku juga butuh latihan untuk perjalanan
ke Seattle. Untuk melihat,  apa  aku sanggup  menahan diri saat  berdua saja  dengannya di
ruang tertutup. Perjalanan yang ini cukup singkat untuk latihan.
“Kondisi seperti apa?” protesnya. “Lalu trukku bagaimana?”
133
   

“Akan  kuminta Alice  mengantarnya   sepulang  sekolah nanti.”   Dengan  hati-hati  aku
menariknya mundur  ke mobilku. Aku mesti hati-hati karena berjalan
maju
saja sudah cukup
sulit buatnya.
“Lepaskan!”   Protesnya   sambil   memutar   badan   dan   hampir   tersandung.   Aku
mengulurkan   satu   tangan,   tapi   dia   sudah   berhasil   menyeimbangkan   diri   sebelum
pertolonganku dibutuhkan. Tidak seharusnya aku mencari-cari alasan untuk menyentuhnya.
Itu membuatku teringat pada reaksi Ms. Cope, tapi aku menundanya untuk kupikirkan
nanti. Ada banyak hal yang mesti dipertimbangkan menyangkut soal itu.
Kulepaskan   dia   sesampainya   di   samping   mobil,  dan  ia  tersandung   pintunya. Aku
harusnya lebih hati-hati lagi melihat keseimbangannya yang seperti itu...
“Kau
kasar
sekali!”
“Pintunya tidak dikunci.”
Aku  masuk  ke  sisi  pengemudi  dan menyalakan  mesinnya.  Dia   tetap ngotot  berdiri
diluar   meski  hujan  mulai  deras   dan  aku  tahu  dia  tidak  suka  dingin dan  basah.  Rambut
tebalnya nya mulai basah kuyup, lebih gelap hingga nyaris hitam.
“Aku sangat mampu menyetir sendiri ke rumah!”
Tentu saja dia bisa—hanya saja aku yang tidak sanggup membiarkannya pergi.
Aku menurunkan jendela dan mencondongkan badan kearahnya. “Masuklah, Bella.”
Matanya menyipit, dan tebakanku dia sedang menimbang-nimbang apa akan lari saja
atau tidak.
“Aku tinggal menyeretmu lagi,” kataku sungguh-sungguh, menikmati ekspresi tersiksa
di wajahnya saat ia menyadari aku serius.
Sesaat dia berdiri kaku, tapi kemudian membuka pintu dan masuk. Air menetes-netes
dari rambutnya, sepatu bootsnya mendecit basah.
“Ini   benar-benar   tidak   perlu,”   ucapnya   dingin.   Sepertinya   ada   nada   malu   dibalik
kejengkelannya.
Aku  menyalakan   penghangat  agar  dia  merasa   lebih  nyaman,  dan  menyetel  musik
dengan   suara   pelan   sebagai   background.  Aku   mengemudikan   mobilku   keluar   parkir an,
sambil memperhatikan dia dari ujung mataku. Bibir  bawahnya sedikit maju dengan ekspresi
keras  kepala. Aku memperhatikannya baik-baik, mempelajari  bagaimana  dampaknya pada
134
   

perasaanku... mengingat kembali reaksi Ms. Cope...
Tahu-tahu  dia   melihat   ke  arah  tapeku  dan   tersenyum,   matanya  melebar.  “Clair   de
Lune?” Tanyanya.
Pecinta musik klasik? “Kau tahu
Debussy
?”
“Tidak terlalu,” jawabnya. “Ibuku sering menyetel musik klasik—aku cuma tahu yang
kusuka.”
“Ini   juga   salah   satu   kesukaanku.”   Aku   memperhatikan   hujan   di   luar,
mempertimbangkan hal itu. Ternyata aku punya kesamaan dengan gadis ini. Sebelumnya aku
berpikir bahwa kami berdua bertolak belakang dalam segala hal.
Dia   terlihat  lebih  santai,  memperhatikan hujan  diluar   sepertiku. Aku  menggunakan
kesempatan ini untuk bereksperimen dengan bernapas.
Aku menarik napas hati-hati lewat hidung.
Pekat.
Kucengkram roda kemudi lebih kencang. Hujan membuat aromanya lebih harum. Aku
tidak pernah berpikir bisa seperti itu. Sial, tiba-tiba jadi membayangkan bagaimana rasanya.
Aku berusaha menelan rasa terbakar di tenggorokanku, memikirkan hal lain.
“Ibumu seperti apa?” Aku bertanya untuk mengalihkan perhatian.
Bella tersenyum. “Dia sangat mirip denganku, tapi lebih cantik.”
Aku ragu itu.
“Terlalu  banyak   Charlie  dalam   diriku,”  dia  melanjutkan.  “Ibuku   punya  sifat   lebih
terbuka, dan lebih berani.”
Aku juga ragu itu.
“Dia tidak  terlalu  bertanggung jawab dan  agak  eksentrik, dan  dia  juru masak yang
sangat payah. Dia teman baikku.” Suaranya berubah sayu; keningnya mengerut.
Lagi, dia terdengar lebih seperti orangtua ketimbang anak.
Aku berhenti di depan rumahnya, ter lambat untuk khawatir  darimana mana aku bisa
tahu rumahnya. Tidak, ini tidak akan terlalu mencurigakan di kota kecil seperti ini, apalagi
dengan  ayahnya yang kepala polisi...
“Berapa   umurmu,   Bella?”   Dia   pasti   lebih   tua   dari   penampilannya.   Mungkin   dia
terlambat masuk sekolah, atau pernah tinggal kelas...kalau itu sepertinya tidak.
135
   

“Tujuh belas.”
“Kau tidak kelihatan seperti berumur tujuh belas.”
Dia tertawa.
“Kenapa?”
“Ibuku selalu bilang aku terlahir  dengan umur 35 tahun dan makin mendekati  paruh
baya tiap tahunnya.” Dia tertawa lagi, dan mendesah. “
Well
, harus ada yang menjadi orang
dewasanya.”
Itu menjelaskan beberapa  hal. Aku bisa melihatnya sekarang...bagaimana seorang ibu
yang tidak terlalu bertanggung jawab menjelaskan kedewasaannya Bella. Dia harus dewasa
lebih cepat, untuk menjadi  pengawas. Itulah kenapa dia tidak suka  diurus—dia merasa itu
tugasnya.
“Kau sendiri tidak kelihatan seperti murid SMA,” katanya, membuyarkan lamunanku.
Aku   menyeringai.   Dari   segala   yang  kutangkap   tentang   dia,   dia   menangkap   lebih
banyak tentang diriku. Aku buru-buru mengganti topik.
“Jadi kenapa ibumu menikah dengan Phil?”
Dia ragu sejenak sebelum menjawab. “Ibuku...dia sangat muda untuk umurnya. Kurasa
Phil membuatnya merasa lebih muda lagi. Dalam beberapa hal, ibuku tergila-gila padanya.”
Dia menggeleng dengan tatapan senyum.
“Apa kau setuju?”
“Apa itu penting? Aku ingin dia bahagia...dan Phill lah yang ia mau.”
Ketidak egoisan tanggapannya mungkin akan mengejutkan aku, kecuali bahwa hal itu
sangat cocok dengan kepribadiannya yang telah kupelajari.
“Kau baik sekali...aku jadi berpikir...”
“Apa?”
“Apa dia juga akan bersikap sama denganmu? Tidak perduli siapapun pilihanmu?”
Itu   pertanyaan   konyol,   dan   aku   tidak   bisa   membuat   suaraku   tetap   santai   saat
menanyakannya.  Sungguh   bodoh  mempertimbangkan  ada  orang  tua   yang  akan  merestui
anaknya dengan
ku
. Lebih bodoh lagi berpikir bahwa Bella mau memilihku.
“Aku...aku  rasa   begitu,”  jawabnya  terbata-bata,  mungkin  karena   tatapanku.  Takut...
Atau tertarik?
136
   

“Tapi dia lah yang jadi orangtua. Jadi agak beda,” lanjutnya.
Aku tersenyum kecut. “Berarti dilarang jika orangnya terlalu menyeramkan.”
Dia  menyeringai padaku. “Apa  maksudmu menyeramkan? Banyak tindikan di wajah
dan tatoo di sekujur badan?”
“Kurasa itu salah satu definisinya.” Definisi yang jauh dari mengerikan kalau buatku.
“Lantas apa definnisimu?”
Dia  selalu menanyakan pertanyaan  yang keliru. Atau lebih bisa  dibilang pertanyaan
yang tepat. Sesuatu yang tidak ingin kujawab, dalam kondisi apapun.
“Menurutmu   apa
aku
bisa   menyeramkan?”   tanyaku   padanya   sambil   berusaha
tersenyum.
Dia   mempertimbangkan   dulu   sebelum   menjawabnya   dengan   nada   serius.
“Hmmm...kupikir kau
bisa,
kalau mau.”
Aku juga serius. “Apa sekarang kau takut padaku?”
Dia langsung menjawab, kali ini tanpa dipikir. “Tidak.”
Aku jadi lebih mudah tersenyum. Aku tidak berpikir  dia sepenuhnya jujur, tapi dia juga
tidak  sepenuhnya  bohong.   Paling   tidak  dia   tidak  terlalu  takut   hingga   ingin  pergi.  Aku
bertanya-tanya  bagaimana  perasaannya   jika   kuberitahu  bahwa   dia   sedang  bicara  dengan
seorang vampir. Aku buru-buru membuang bayangan itu.
“Jadi, apakah sekarang kau mau cerita tentang keluargamu?  Pasti jauh lebih menarik
daripada ceritaku.”
Lebih menakutkan, paling tidak.
“Apa yang ingin kau ketahui?” Aku bertanya waspada.
“Keluarga Cullen mengadopsimu?”
“Ya.”
Dia bimbang sebentar, kemudian bicar a dengan suara pelan. “Apa yang terjadi dengan
orangtuamu?”
Ini   tidak   terlalu   sulit;   bahkan   aku   tidak   perlu   berbohong.   “Mereka   sudah   lama
meninggal.”
“Oh, maaf,” gumamnya, jelas khawatir telah melukaiku.
Dia
mengkhawatirkan
aku.
137
   

“Aku tidak terlalu ingat mereka,” aku meyakinkannya. “Sejak lama Carlisle dan Esme
sudah jadi orangtuaku.”
“Dan kau menyayangi mereka?”
Aku tersenyum. “Ya. Aku tidak bisa membayangkan dua orang yang lebih baik.”
“Kau sangat beruntung.”
“Aku tahu.” Dalam kondisi itu, soal orangtuaku, keberuntunganku tidak bisa diingkari.
“Dan saudara-saudaramu?”
Jika aku membiarkannya bertanya lebih jauh, aku terpaksa berbohong. Aku melirik ke
jam, kecewa karena karena waktuku dengan dia hampir habis.
“Saudara-saudaraku, Jasper  dan Rosalie, akan kesal jika harus berdiri di tengah hujan
menungguku.”
“Oh, iya, sori, sepertinya kau harus pergi.”
Dia tidak bergerak. Dia tidak ingin cepat-cepat berakhir juga. Aku sangat, sangat suka
itu.
“Dan kau mungkin juga ingin trukmu kembali sebelum ayahmu pulang, jadi kau tidak
perlu cerita tentang insiden di kelas biologi tadi.” Aku menyeringai teringat bagaimana dia
merasa malu tadi dalam gendonganku.
“Aku yakin dia sudah dengar. Tidak ada rahasia di Forks.” Dia menyebut nama kota
Forks dengan nada sebal yang kentara.
Aku   tertawa   mendengar   ungkapannya.   Tidak   ada   rahasia,   tentu   saja.   “Selamat
bersenang-senang di pantai.” Aku melihat ke hujan yang turun deras, tahu cuaca seperti ini
tidak akan berlangsung lama, dan beraharap—lebih dari biasanya—bahwa cuaca akan seperti
ini terus. “Cuaca nya bagus untuk berjemur.” Paling tidak akan begitu pada hari sabtu. Dia
akan menikmati itu.
“Apa aku akan bertemu dengamu besok?”
Perasaan khawatir di nadanya membuatku senang.
“Tidak. Emmet dan aku memulai akhir  pekan lebih awal.” Sekarang aku marah pada
diriku  sendiri  karena  telah membuat rencana  itu. Aku bisa  membatalkannya...tapi dengan
kondisi seperti ini, tidak ada lagi istilah terlalu banyak berburu. Dan keluargaku sudah cukup
khawatir dengan tingkahku tanpa perlu kutunjukan betapa obsesifnya aku sekarang.
138
   

“Apa   yang  kalian  lakukan?”  tanyanya,  kedengarannya  tidak  terlalu  senang  dengan
rencanaku.
Itu juga bagus.
“Kami mau hiking ke Goat Rocks Wilderness, sebelah selatan Rainier.” Emmet sangat
bernafsu dengan musim beruang.
“Oh.   Kalau   begitu   selamat   besenang-senang.”   Dia   mengatakannya   setengah   hati.
Ketidak semangatannya lagi-lagi membuatku senang.
Saat  memandangnya,  aku  merasa  menderita  pada  pikiran  akan  berpisah  dengannya
walau hanya  untuk sebentar. Dia terlalu lembut dan rapuh. Rasanya  terlalu ceroboh untuk
melepasnya   dari  pengawasanku.  Apapun   bisa  terjadi  padanya.  Dan  tetap  saja,  hal   yang
paling buruk yang mungkin terjadi, adalah hal yang diakibatkan jika bersama denganku.
“Maukah kau melakukan sesuatu untukku akhir pekan ini?” Tanyaku serius.
Dia mengangguk, matanya melebar dan bertanya-tanya pada kesungguhanku.
Buat tetap santai.
“Jangan   tersinggung,   tapi  kau  sepertinya   tipe   orang   yang  menarik  bahaya   seperti
magnet. Jadi...cobalah untuk tidak jatuh ke laut atau terlindas apapun, oke?”
Aku  tersenyum  sebentar, berharap  dia  tidak  melihat  kesedihan  di  mataku.  Kuharap
keadaan dia jauh lebih baik saat jauh dariku, tidak perduli apa yang akan terjadi  padanya
disana.
Lari, Bella, lari. Aku terlalu mencintaimu, demi kebaikanmu dan aku.
Dia   tersinggung   dengan   ucapanku.   “Akan   kuusahakan,”   ucapnya   ketus   sambil
mendelik   marah   kemudian   meloncat   keluar   kebawah   guyuran   hujan   dan   membanting
pintunya keras-keras.
Mirip kucing marah yang berpikir dirinya adalah seekor macan.
Aku membuka telapak tanganku, melirik kunci yang ada di genggamanku, yang baru
saja   kuambil   dari   kantong   jaketnya,   kemudian   sambil   tersenyum   melihat   dia   berjalan
menjauh.
139
   

7. Melody
Aku masih harus  menunggu  dulu setelah  sampai  di  sekolah.  Jam pelajaran  terakhir
belum selesai. Itu bagus, karena ada yang mesti kupikirkan, dan aku butuh waktu sendirian.
Aromanya masih tertinggal di dalam mobil. Aku membiarkan jendelanya tetap tertutup,
membiarkan aromanya menyer angku, berusaha membiasakan diri dengan kuatnya api yang
membakar tenggorokanku.
Daya tarik.
Itu hal yang rumit untuk direnungkan. Ada begitu banyak sisi. Ada begitu banyak arti
dan tingkatan. Tidak sama dengan cinta, tapi berhubungan erat dengan itu.
Aku   sama   sekali   tidak   tahu   jika   Bella   tertarik   padaku.   (Mungkinkah   kesunyian
pikirannya akan terus  membuatku makin frustasi  sampai  akhirnya  membuatku gila? Atau,
apa ada batasannya yang pada akhirnya akan kucapai?)
Aku coba membandingkan respon fisiknya Bella dengan respon fisiknya orang-orang
lain, seperti Ms. Cope dan Jessica Stanley. Tapi, pebandingannya tidak meyakinkan. Ciri-ciri
yang sama—perubahan detak jantung dan irama napas—juga bisa merupakan ciri dari rasa
takut, syok, atau cemas. Lagipula, juga tidak cocok jika Bella sampai membayangkan jenis-
jenis imajinasi yang biasa dipikirkan Jessica. Bagaimanapun, Bella sangat tahu ada sesuatu
yang salah dengan diriku, walau tidak tahu apa tepatnya. Dia pernah menyentuh kulitku yang
dingin, kemudian menarik tangannya begitu merasakan dinginnya.
Tapi tetap saja...
Aku   mengingat   lagi   segala   fantasi   yang   biasanya   menjengkelkanku,   tapi   kini
menggantinya dengan membayangkan Bella di posisi Jessica...
Napasku makin memburu, api merayap membakar tenggorokanku.
Bagaimana jika
Bella
lah yang sedang membayangkan bagaimana tanganku memeluk
tubuh   rapuhnya?   Merasakan   dirinya   ditarik   lebih   rapat   ke   pelukanku,   dan   kemudian
bagaimana aku memegang dagunya dengan jari-jariku? Menyingkap rambut gelapnya yang
menutupi wajah meronanya dengan tanganku, menyelipkannya ke balik telinga? Menelusuri
bibirnya yang penuh dengan ujung jariku? Mendekatkan wajahku padanya, dimana aku bisa
140
   

merasakan kehangatan napasnya di mulutku? Lebih dekat lagi...
Tapi   kemudian  aku   menyentakan  diri   dari  bayangan  itu,  mengetahui,  seperti   yang
kuketahui ketika Jessica membayangkan hal ini, apa yang akan terjadi jika aku sedekat itu
dengannya.
Ketertarikan itu bagai buah simalakama, karena aku sudah terlanjur terlalu tertarik pada
Bella dengan cara yang paling buruk.
Apa aku menginginkan Bella tertarik padaku, seperti seorang perempuan pada pria?
Itu   pertanyaan   yang   salah.   Pertanyaan   yang   benar   adalah:   apa
sebaiknya
aku
menginginkan Bella untuk tertarik padaku seperti itu? Dan jawabannya adalah tidak. Karena
aku bukan pria-manusia, itu tidak adil buatnya.
Dengan   segenap   raga,   aku   mendambakan   bisa   menjadi   manusia,   supaya   bisa
merengkuhnya dalam pelukanku tanpa harus membahayakan nyawanya. Supaya aku bebas
membayangkan apa saja dalam fantasiku. Fantasi yang tidak perlu berakhir  dengan darahnya
di tanganku, dan mataku yang menyala merah oleh darahnya.
Pengejaranku padanya tidak masuk akal. Hubungan seperti apa yang bisa kutawarkan
ke dia jika aku tidak bisa menanggung resiko menyentuhnya?
Aku menunduk dan menutup mukaku dengan tangan.
Lebih  membingungkan lagi  karena  aku belum  pernah merasa  semanusia  ini  seumur
hidupku—bahkan   tidak   ketika
masih
manusia,   selama   yang   bisa   kuingat.   Ketika   itu,
pikiranku dipenuhi  dengan  kebanggaan seorang prajurit. Perang besar  menghiasai seluruh
masa remajaku. Dan aku baru jalan sembilan bulan dari ulang tahunku yang ke-18 ketika
wabah influensa merebak... Ingatan yang kumiliki  selama menjadi manusia sangat kabur,
ingatan suram  yang makin  kabur  tiap  dekadenya. Yang paling kuingat  adalah ibuku,  dan
kurasakan kepedihan purba ketika mengingat wajahnya. Samar-samar  aku ingat bagaimana
dia sangat  membenci keinginanku menjadi prajurit. Dia berdoa  setiap malam agar  'perang
yang mengerikan' itu cepat berakhir...
Selain hal itu, tidak ada  lagi  kenangan indah yang bisa kuingat. Selain cinta  ibuku,
tidak ada lagi cinta yang membuatku ingin tetap tinggal...
Ini sama sekali baru untukku. Aku tidak punya pengalaman yang bisa kubandingkan.
Cintaku   pada   Bella  awalnya   murni,   tapi   kini   mulai   keruh.  Aku   sangat   ingin   bisa
141
   

menyentuhnya. Apa dia merasakan hal yang sama?
Itu tidak penting, aku berusaha meyakinkan diriku sendiri.
Aku   memandangi   tanganku   yang   putih,   membenci   kekerasannya,   dinginnya,
kekuatannya yang tidak normal...
Kemudian aku terloncat ketika tiba-tiba pintu belakang terbuka.
Wah,   kau   tidak   sadar   aku   datang.   Ini   pertama   kalinya,
batin   Emmet   ketika   ia
menyelinap masuk ke mobil. “Berani taruhan Mrs. Goff  pasti mengira kau pakai  narkoba,
kau kelihatan aneh belakangan ini. Darimana saja kau tadi?”
“Aku tadi...memberi pertolongan.”
Hah?
Aku terkekeh. “Menggotong orang sakit, pokoknya begitulah.”
Itu membuatnya makin bingung, tapi kemudian ia  mengambil  napas  dan mendapati
aromanya di mobil.
“Oh... gadis itu lagi?”
Aku menyeringai.
Perkembangannya makin aneh.
“Kau tahu sendiri...”
Dia menghirup lagi. “Hmmm, baunya memang lumayan, iya kan?”
Suara  geraman langsung keluar  dari  mulutku sebelum kata-katanya berakhir. Respon
spontan.
“Tenang, Edward, aku cuma komentar.”
Yang lain kemudian datang. Rosalie langsung menyadari aromanya dan memelototiku.
Marahnya masih belum reda. Entah apa masalahnya, yang bisa kudengar cuma celaannya.
Aku juga tidak suka dengan reaksi Jasper. Seperti Emmet, dia menyadari aroma Bella
cukup mengundang selera. Tapi  efeknya  bagi  mereka tidak sampai  sepersekian dari  yang
kurasakan. Tetap saja, aku kesal darahnya  terasa  manis  untuk mereka. Jasper  masih sulit
mengendalikan diri...
Alice menyelinap ke sisiku dengan tangan terbuka meminta kunci truk Bella.
“Aku  cuma  melihat  aku melakukannya,”  katanya samar-samar  seperti  kebiasaannya.
“Kau harus menerangkan alasannya.”
142
   

“Ini bukan berarti—”
“Aku tahu, aku tahu. Aku akan menunggu. Tidak akan lama lagi.”
Aku mendesah dan menyerahkan kuncinya.
Aku  mengikuti  dia   ke  rumah  Bella.  Hujan  turun  sangat  deras, begitu  lebat  hingga
mungkin Bella tidak akan mendengar  raungan mesin truknya. Aku melihat  ke  jendelanya,
tapi dia tidak melihat keluar. Mungkin dia tidak disitu. Tidak ada pikiran yang bisa didengar.
Membuatku murung tidak bisa mendengar apa-apa untuk mengecek keadaanya—untuk
memastikan dia senang, atau paling tidak aman.
Alice masuk ke kursi belakang dan kami kembali ke rumah. Jalanan kosong, jadi cuma
butuh   beberapa   menit.   Kami   sama-sama   masuk   ke   rumah,   lalu   sibuk   dengan   kegiatan
masing-masing.
Emmet dan Jasper meneruskan permainan caturnya yang rumit, menggabungkan empat
papan catur jadi satu—memanjang sepanjang tembok belakang—dengan aturan rumit yang
mereka buat sendiri. Mereka tidak mengijinkan aku ikut main; cuma tinggal Alice yang mau
bermain denganku.
Dia  kini  sibuk dengan  komputernya, dekat Emmet dan  Jasper. Aku bisa  mendengar
monitornya menyala. Alice sedang mengerjakan proyek fashionnya untuk pakaian Rosalie.
Tapi  Rosalie  tidak menemaninya hari  ini. Padahal biasanya dia berdiri di belakang Alice,
memberi saran potongan dan warna sembari jari Alice menari di layar sentuhnya yang sangat
sensitif   (Carlisle   dan   aku   mesti   mengutak-atik   sistemnya,  agar   layarnya  bisa  merespon
temperatur   dingin   kami).   Sebagai   gantinya,   Rosalie   meringkuk   dengan   marah   yang
terpendam di sofa, mengganti-ganti chanel TV layar  datar di depannya denga kecepatan dua
puluh  chanel  pedetik  tanpa   henti.  Bisa  kudengar   dia  sedang  berusaha  memutuskan,   apa
sebaiknya ke garasi saja, untuk menyetel mesin BMWnya lagi.
Esme di  lantai  atas,  sedang bersenandung di  depan  rencana bangunan yang  baru ia
rancang.
Alice   menjulurkan  kepalanya  ke   balik  tembok  sebentar   untuk   memberitahu  Jasper
langkah Emmet berikutnya—Emmet duduk di lantai memunggunginya. Sementara itu Jasper
menjaga ekspresinya tetap datar saat ia memakan Ratu andalan Emmet.
Dan aku, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, hingga membuatku malu, duduk
143
   

di depan
grand
piano indah yang ada di seberang pintu masuk.
Jari-jariku mengalir lembut mencoba nadanya. Setelannya masih sempurna.
Diatas, Esme menghentikan pekerjaannya, menelengkan kepalanya ke samping.
Aku mulai memainkan baris pertama dari alunan nada yang tadi mendatangiku sewaktu
di mobil, merasa senang karena terdengar jauh lebih baik dari yang kubayangkan.
Edward bermain lagi
, pikir  Esme  gembira. Senyum  lebar  muncul  di wajahnya.  Dia
bangkit dari meja dan berjalan tanpa suara menuju tangga.
Aku menambahkan harmonisasi baru, membiarkan melodi utamanya mengalir.
Esme   mendesah   bahagia,   duduk   di   anak   tangga   paling   atas,   dan   menyandarkan
kepalanya pada pegangan tangga.
Lagu baru. Sudah lama sekali. Alunan yang indah.
Kubiarkan melodinya mengalir ke arah yang baru, mengikutinya dengan alunan bass.
Edward menciptakan lagu lagi?
Batin Rosalie, dan dia menggertakan giginya dengan
sengit.
Tepat pada saat itu, dia kelepasan, dan aku bisa membaca alasan utama kemarahannya.
Aku bisa melihat kenapa belakangan ini ia memusuhiku, kenapa membunuh Isabella Swan
tidak mengganggunya sama sekali. Pada Rosalie, selalu tentang kesombongan.
Musikku terhenti, dan aku sudah tertawa sebelum bisa kutahan, gelak tawa yang sudah
pecah sebelum tanganku sempat menutup mulut.
Rosalie memelotiku, matanya nyalang marah besar.
Emmet dan Jasper ikut menoleh, dan bisa kudenar kebingungan Esme. Dia secepat kilat
turun, menatap aku dan Rosalie bergantian.
“Jangan berhenti, Edward.” Esme menyemangati setelah suasana sempet tegang.
Aku mulai main lagi, kembali memunggungi Rosalie sembari berusaha keras menahan
seringaiku.  Rosalie   sendiri   sudah  bangkit  berdiri  dan   berjalan  keluar,  lebih  pada  marah
daripada malu. Tapi, tentu saja cukup malu.
Kalau kau sampai buka mulut, aku akan memburumu seperti anjing.
Aku tertawa lagi.
“Ada   apa,   Rose?”  Emmet  memanggilnya.   Rosalie   tidak  menengok.  Dia   terus  saja
berjalan   kesal   ke   garasi,   kemudian   menggeliat  masuk   ke   bawah   mobilnya  seakan  mau
mengubur diri dibawah situ.
144
   

“Tentang apa itu tadi?” Emmet bertanya padaku.
“Aku sama sekali tidak tahu.” Aku berbohong.
Emmet menggerutu frustasi.
“Teruskan lagunya,” Esme mendesak lagi. Tanganku baru saja terhenti.
Aku mengabulkan permintaannya. Esme pindah ke belakangku, meletakan tangannya
keatas pundakku.
Lagunya mulai terbentuk, tapi belum lengkap. Aku mencoba-coba
bridge
nya, tapi entah
kenapa tidak pas.
“Lagu yang cantik. Apa sudah ada judulnya?” tanya Esme.
“Belum.”
“Apa cer ita dibaliknya?” tanyanya dengan senyum. Ini membuatnya sangat senang, dan
aku jadi merasa bersalah telah menelantarkan musikku begitu lama. Itu sangat egois.
“Ini   lagu...nina  bobo,   kukira.”  Akhirnya   aku  bisa   menemukan
bridgenya.
Dengan
mudah lalu menghantar ke bait selanjutnya, hidup begitu saja.
“Lagu nina bobo,” Esme mengulangi pada dirinya sendiri.
Ada
cerita dibalik melodi ini, dan saat melihatnya, alunan berikutnya muncul begitu
saja. Ceritanya tentang seorang gadis yang terlelap di sebuah ranjang sempit; berambut gelap,
tebal, dan acak-acakan bagai ganggang laut terhampar di atas bantal...
Alice   beranjak   duduk   di   sebelahku.   Dengan   suara   ringan   bagai   tiupan   genta,   ia
menyenandungkan alunan nada dua oktaf lebih tinggi dari melodiku.
“Aku suka,” bisiknya. “Tapi bagaimana jika begini.”
Aku menambahkan baitnya  ke  dalam harmoni—jari-jariku kini menari  di sepanjang
tutsnya   untuk   menyatukan   potongan-potongan   itu   jadi   satu—menggubahnya   sedikit,
membawanya ke melodi yang lain...
Dia menangkap suasananya, dan ikut bernyanyi.
“Ya, sempurna,” kataku mengomentari.
Esme meremas bahuku.
Tapi   aku   bisa   melihat   bagian   akhirnya.   Dengan   suara   Alice   meliuk   tinggi   dan
membawanya ke tempat lain, aku bisa melihat bagaimana seharusnya akhir lagu ini. Karena
sang gadis-tidur telah sempurna sebagaimana adanya, perubahan apapun akan salah.
145

Baca selanjutnya ..