kuberikan—kebenaran yang kuharap tidak akan pernah dia ketahui?
“Tertantung apa yang kau inginkan?”
“Tidak susah kok,” Dia berjanji.
Aku menunggu, lagi-lagi penasaran.
“Kira-kira...” Dia menatap ke botol limun, mengitari mulut botolnya dengan jarinya,
“Maukah kau memberitahuku dulu sebelum lain kali memutuskan untuk mengabaikan aku,
demi kebaikanku sendiri? Jadi aku bisa siap-siap.”
Dia ingin diperingatkan dulu? Berarti, diabaikan olehku adalah sesuatu yang tidak
menyenangkan... Aku tersenyum.
“Kedengarannya adil.”
“Terima kasih,” jawabnya sambil mendongak menatapku. Wajahnya begitu lega hingga
aku ingin tertawa karena kelegaanku sendiri.
“Lalu apa aku juga boleh minta satu jawaban sebagai gantinya?” tanyaku penuh harap.
“Satu,” dia mengijinkan.
“Ceritakan padaku
satu
teori.”
Wajahnya merona lagi. “Jangan yang itu.”
“Kau tidak memberi syarat, kau sudah janji untuk menjawab satu.”
“Sedang kau sendiri melanggar janjimu.” Dia mendebat balik.
Dan itu tepat mengenaiku.
“Satu teori saja—aku tidak akan tertawa.”
“Pasti kau bakal tertawa.” Dia kelihatannya sangat yakin, meski aku tidak bisa
membayangkan sesuatu yang lucu tentang itu.
Sekali lagi aku mencoba membujuknya. Aku menatap lekat-lekat kedalam matanya—
sesuatu yang mudah dilakukan, dengan matanya yang begitu dalam—dan berbisik, “
Please
?”
Dia mengedip, dan wajahnya berubah kosong.
Well,
itu bukan reaksi yang kuharapkan.
“Mmm, apa?” tanyanya, terlihat pusing.
Ada apa dengan dia? Tapi aku tidak akan menyerah.
“Ceritakan satu teori, sedikit saja.” Aku memohon dengan suara halus,
memperhatankan matanya dalam tatapanku.
122
Terkejut dan puas, ternyata berhasil...
“Ehh,
well
, digigit laba-laba yang mengandung radioaktif?”
Cerita komik? Pantas saja dia pikir aku bakal tertawa.
“Itu tidak terlalu kreatif.” Aku mencibirnya, berusaha menyembunyikan kelegaanku.
“Ya maaf, cuma itu yang kupunya.”
Dia agak tersinggung. Dan itu membuatku lebih senang. Aku bisa menggodanya lagi.
“Mendekatipun tidak.”
“Tidak ada laba-laba?”
“Tidak ada.”
“Tidak ada radioaktif?”
“Tidak.”
“Sial,” keluhnya.
Aku cepat-cepat mengalihkan—sebelum dia bertanya tentang
gigitan.
“
Kryptonite
juga
tidak melemahkanku.” Kemudian aku tertawa, karena dia pikir aku adalah
superhero.
“Kau seharusnya tidak boleh ketawa, ingat?”
Aku tersenyum dan menutup mulut.
“Nanti juga aku tahu.”
Dan ketika dia tahu, ia akan lari.
“Kuharap kau tidak mencobanya.”Nnada menggodaku sepenuhnya lenyap.
“Karena...?”
Aku behutang kejujuran padanya. Tetap saja, aku berusaha tersenyum, agar tidak tidak
kedengaran mengancam. “Bagaimana kalau aku bukan seorang
superhero
? Bagaimana kalau
aku orang jahatnya?”
Matanya melebar dan bibirnya sedikit membuka. “Oh,” ujarnya. Dan sedetik kemudian,
“Aku mengerti.”
Dia akhirnya mendengar peringatanku.
“Benarkah?” tanyaku, menyembunyikan penderitaanku.
“Kau berbahaya?” Napasnya memburu, dan jantungnya berdetak kian cepat.
Aku tidak tahu harus menjawab apa. Apa ini kesempatan terakhirku bersamanya? Apa
dia akan segera lari? Masih sempatkah untuk mengatakan bahwa aku mencintai dia sebelum
123
ia pergi? Atau itu akan lebih membikin dia takut?
“Tapi tidak jahat,” bisiknya sambil menggeleng. Tidak terpancar ketakutan dari
matanya yang jernih. “Tidak, aku tidak percaya kau jahat.”
Aku menarik napas. “Kau salah.”
Tentu saja aku jahat. Bukannya sekarang aku sedang bersorak gembira, karena dia salah
menilaiku? Jika aku orang baik, aku akan menjauh darinya.
Aku mengulurkan tangan ke meja, menjangkau tutup botol limunnya sebagai alasan.
Dia tidak bereaksi dengan gerakan tiba-tiba ini. Dia benar-benar tidak takut padaku. Belum.
Aku memutar tutup botolnya seper ti gasing, memperhatikan itu, bukannya dia.
Pikiranku buntu.
Lari, Bella, lari.
Aku tidak sanggup mengucapkannya keras-keras.
Namun tiba-tiba dia terloncat. “Kita bakal terlambat,” ujarnya saat aku mulai khawatir
—entah bagaimana—ia bisa mendengar peringatan di kepalaku.
“Aku tidak ikut pelajaran hari ini.”
“Kenapa?”
Karena aku tidak mau membunuhmu.
“Sekali-kali membolos itu menyehatkan.”
Lebih tepatnya, jauh lebih baik bagi manusia jika seorang vampir membolos di hari
ketika darah manusia tumpah. Hari ini Mr. Banner akan menguji golongan darah. Tadi pagi
Alice sudah membolos duluan.
“
Well
, aku akan masuk,”
Itu tidak mengejutkan. Dia orang yang bertanggung jawab—selalu melakukan sesuatu
yang benar.
Aku, kebalikannya.
“Kalau begitu sampai ketemu lagi.” jawabku sesantai mungkin sambil melihat ke
bawah, ke tutup botol yang kuputar.
Dan, ngomong-ngomong, aku memujamu...dalam cara
yang menakutkan dan membahayakan.
Dia ragu-ragu, dan aku sempat berharap ia akan memilih untuk tetap tinggal
bersamaku. Tapi bel berbunyi dan ia cepat-cepat pergi.
Kutunggu dia sampai keluar, kemudian kusimpan tutup botol tadi ke saku—sebuah
kenang-kenangan dari pembicaraan yang sangat menyenangkan ini—dan berjalan menembus
124
hujan ke mobil.
Aku menyalakan CD musik kesukaanku, Debussy—CD yang sama dengan yang
kudengarkan di hari pertama itu. Tapi aku tidak mendengarkannya terlalu lama. Alunan nada
yang lain mengalir di kepalaku, penggalan lagu yang menyenangkan dan menggugahku. Jadi,
kumatikan CDnya dan ganti mendengarkan musik di kepalaku, memainkan penggalannya
sampai berhasil mengembangkannya jadi satu harmonisasi lengkap. Secara naluri, jari-jariku
menari di udara memainkan tuts-tuts piano kasat mata.
Komposisi lagunya hampir lengkap ketika aku menangkap gelombang kerisauan-batin
yang mendalam.
Aku mencari sumber suaranya.
Apa dia akan pingsan? Apa yang mesti kulakukan?
Mike membatin panik.
Beberapa ratus meter dari tempatku, Mike Newton meletakan tubuh lunglai Bella ke
trotoar. Dia merosot tak berdaya ke semen dingin. Matanya tertutup, kulitnya sepucat mayat.
Aku hampir menendang pintu mobilku.
“Bella?!” Teriakku.
Tidak ada perubahan di wajah pucatnya saat aku meneriakan namanya.
Sekujur tubuhku mendingin melebihi es.
Dengan marah aku menyelidiki pikiran Mike, yang terkejut sekaligus jengkel
melihatku. Dan dia hanya memikirkan kemarahannya hingga aku tidak tahu apa yang terjadi
pada Bella. Jika dia sampai menyakiti Bella, aku akan membinasakannya.
“Apa yang terjadi—apa dia sakit?” Aku menuntut jawaban sambil berusaha fokus pada
pikiran si bocah. Rasanya menjengkelkan harus berjalan dengan langkah manusia. Harusnya
tadi aku datang diam-diam.
Kemudian, aku mendengar detak jantung dan napasnya yang datar. Saat aku mendekat,
dia memejamkan matanya lebih rapat. Itu meringankan kepanikanku.
Aku melihat sekelebatan ingatan di pikiran Mike, sekelumit gambaran dari kelas
Biologi. Kepala Bella terkulai di meja kami berdua, kulit gadingnya berubah hijau. Setetes
cairan kental merah di kertas putih...
Tes golongan darah.
Aku langsung berhenti di tempat, menahan napasku. Aromanya aku sudah biasa, tapi
125
darah segar adalah sama sekali lain.
“Kurasa dia pingsan,” ujar Mike dengan cemas sekaligus marah. “Aku tidak tahu apa
yang terjadi, dia bahkan tidak menusuk jarinya.”
Kelegaan langsung melandaku, aku bernapas lagi, merasakan udara disekelilingku. Ah,
aku bisa mencium setitik darah dari bekas tusukan Mike Newton. Di waktu lalu, mungkin itu
akan mengundang seleraku.
Aku berlutut disamping Bella sementara Mike menunggu di dekatku, marah karena
campur tanganku.
“Bella. Kau bisa mendengarku?”
“Tidak,” erangnya. “Pergi sana.”
Kelegaan itu begitu luarbiasa hingga aku tertawa. Dia baik-baik saja.
“Aku mau membawanya ke UKS,” sergah Mike. “Tapi dia tak bisa berjalan lebih jauh
lagi.”
“Aku yang akan mengantarnya. Kau bisa kembali ke kelas,” kataku mengusirnya.
Mike menggertakan gigi. “Tidak. Aku yang seharusnya melakukannya.”
Aku malas berdebat dengan bocah satu ini.
Berdebar-debar dan takut, setengah bersyukur dan cemas, mengingat bahayanya jika
menyentuh dia, dengan lembut aku mengangkat Bella dan membopongnya di lenganku. Aku
menyentuh hanya bajunya, menjaga jarak tubuhnya sejauh mungkin. Aku melangkah cepat-
cepat untuk menyelamatkan dia—menjauh dariku, dengan kata lain.
Matanya terbuka, bingung.
“Turunkan aku,” tuntutnya dengan suara lemah—malu, ditebak dari ekspresinya. Dia
tidak suka menunjukan kelemahannya.
Aku hampir tidak mendengar protes Mike di belakangku.
“Kau tampak kacau,” kataku sambil menyeringai karena tidak ada yang salah padanya
selain kepala pusing dan perut yang lemah.
“Turunkan aku,” ujarnya. Bibirnya putih.
“Jadi kau pingsan karena melihat darah?” Bisakah lebih ironis lagi?
Dia menutup mata dan mengatupkan bibirnya.
“Dan bahkan bukan darahmu sendiri,” aku menambahkan. Seringaiku makin lebar.
126
Kami sampai di depan TU. Pintunya sedikit terbuka. Aku membukanya dengan kaki
agar bisa lewat.
Ms. Cope terloncat kaget. “Oh, ya ampun,” dia terengah saat memeriksa gadis kelabu
di tanganku ini.
“Dia pingsan di kelas biologi,” aku menerangkan, sebelum imajinasinya terlalu jauh.
Ms. Cope buru-buru membuka pintu ke ruang UKS. Mata Bella terbuka lagi,
mengawasinya. Aku mendengar pikiran takjub Mrs. Hammond, juru rawat keibuan yang ada
di UKS, saat aku masuk dan membaringkan Bella ke sebuah tempat tidur yang sudah lusuh.
Begitu Bella tidak lagi di tanganku, aku langsung menjauh ke tembok. Tubuhku terlalu
bersemangat, terlalu berhasrat. Otot-ototku tegang. Dan liurku mengalir deras. Dia sangat
hangat dan harum.
“Di hanya sedikit lemah,” aku meyakinkan Mrs. Hammond. “Mereka sedang mengetes
golongan darah di kelas Biologi.”
Dia mengangguk mengerti sekarang. “Selalu saja ada yang pingsan.”
Aku menahan tawa. Pastilah Bella yang satu itu.
“Berbaringlah sebentar, sayang.” Mrs. Hammond berkata menenangkan. “Nanti juga
sembuh.”
“Aku tahu,” jawab Bella.
“Apa ini sering terjadi?” sang perawat bertanya.
“Kadang-kadang,” Bella mengakui.
Aku berusaha menyamarkan tawaku dengan batuk.
Itu mengalihkan perhatian Mrs. Hammond padaku. “Kau boleh kembali ke kelas
sekarang.”
Aku menatap langsung ke matanya dan berbohong dengan keyakinan sempurna. “Aku
disuruh menemaninya.”
Hmmm... Apa iya... Ah sudahlah.
Mrs. Hammond mengangguk.
Itu berhasil dengan baik padanya. Kenapa kalau dengan Bella jadi sulit?
“Aku akan mengambilkan kompres untukmu, sayang.” Mrs. Hammond merasa tidak
nyaman setelah menatap mataku—sebagaimana manusia
seharusnya—
dan pergi keluar
ruangan.
127
“Kau betul.” Bella mengerang, menutup matanya.
Yang dia maksud apa? Dan pikiranku langsung mengarah ke kesimpulan yang terburuk:
dia menerima peringatanku.
“Biasanya begitu.” Aku berusaha kedengaran bangga; sepertinya tidak terlalu
meyakinkan. “Tapi kali ini tentang apa?”
“Membolos itu sehat,” desahnya.
Ah, lega lagi.
Kemudian dia terdiam, hanya bernapas pelan-pelan. Bibirnya mulai berubah merah
muda. Komposisi bibirnya terlihat tidak imbang, bibir bawahnya sedikit lebih penuh
dibanding bibir atasnya. Dan memandangi bibirnya membuatku merasa aneh. Membuatku
ingin mendekat, yang mana bukan ide yang bagus.
“Tadi kau sempat membuatku takut.” Aku coba memulai pembicaraan agar bisa
mendengar suaranya lagi. “Kukira Newton sedang menyer et mayatmu untuk dikubur di
hutan.”
“Ha ha,” ucapnya tidak terhibur.
“Jujur saja—aku pernah melihat mayat dengan kondisi lebih baik.” Itu betul. “Hampir
saja aku membalas pembunuhmu.” Dan aku memang hampir begitu.
“Kasihan Mike,” desahnya. “Berani taruhan dia pasti marah.”
Aku langsung berang mendengarnya, namun cepat-cepat kutahan. Kepeduliannya pasti
lebih karena kasihan. Dia baik hati. Cuma itu.
“Dia sangat membenciku.” Aku senang jika Mike memang begitu.
“Kau tidak mungkin tahu pasti.”
“Aku lihat wajahnya, makanya aku tahu.” Itu mungkin ada benarnya, dengan membaca
wajahnya cukup untuk menarik kesimpulan seperti itu. Segala latihan selama ini dengan
Bella menajamkan kemampuanku membaca ekspresi manusia.
“Bagaimana kau bisa menemukanku? Kukira kau membolos.” Wajahnya terlihat lebih
baik—warna kehijauan telah lenyap dari balik kulitnya yang bening.
“Aku sedang di dalam mobil, mendengarkan CD.”
Ekspresinya sedikit berubah, seakan entah bagaimana jawaban biasaku membuatnya
terkejut.
128
Dia menutup matanya lagi ketika Mrs. Hammond kembali dengan membawa
kompresan es.
“Pakai ini, sayang,” perawat itu menaruh kompresnya di kening Bella. “Kau kelihatan
jauh lebih baik.”
“Kurasa aku baik-baik saja,” jawab Bella. Ia bangkit duduk sembari menyingkirkan
kompresannya. Bukan kejutan. Dia tidak suka dapat perhatian.
Tangan keriput Mrs. Hammond menahan Bella agar kembali berbaring, tapi kemudian
Ms. Cope membuka pintu dan masuk. Bersama kedatangannya tercium juga bau darah segar,
cuma bau ringan.
Di belakang Ms. Cope, Mike Newton masih marah sekali, berharap bocah yang baru
saja ia tuntun adalah gadis yang ada disini bersamaku.
“Kita kedatangan satu lagi,” ujar Ms. Cope.
Bella buru-buru melompat turun dari tempat tidur, ingin cepat- cepat menyingkir.
“Ini,” katanya cepat, mengembalikan kompresnya ke Mrs. Hammond. “Aku tidak
memerlukannya.”
Mike menggerutu saat dia setengah menyeret Lee Stevens melewati pintu. Darah masih
menetes dari tangan Lee yang sedang memegangi wajahnya, menetes turun ke lengannya.
“Oh, tidak.” Ini tandaku untuk pergi—dan kelihatannya buat Bella juga. “Ayo keluar
dari sini, Bella.”
Dia menatapku dengan pandangan bingung.
“Percayalah—ayo.”
Dia memutar dan menangkap pintunya sebelum tertutup, buru-buru keluar dari UKS.
Aku mengikuti tepat di belakangnya. Kibasan rambutnya sempat membelai tanganku...
Dia menoleh melihatku, masih dengan mata lebarnya.
“Kau benar-benar menuruti perkataanku.” Ini yang pertama.
Hidung mungilnya mengerut. “Aku mencium bau darah.”
Aku menatapnya heran. “Manusia tidak bisa mencium darah.”
“
Well
, aku bisa—itulah yang membuatku mual. Baunya seperti karat...dan garam.”
Wajahku membeku, melongo.
Apa dia betul-betul manusia? Dia
terlihat
seperti manusia. Dia terasa lembut bagi
129
manusia. Baunya seperti manusia—
well
, jauh lebih baik sebetulnya. Tingkahnya seperti
manusia...kira-kira begitu. Tapi dia tidak berpikir layaknya manusia, atau bereaksi seperti itu.
Memang, apa lagi pilihannya selain manusia?
“Kenapa?” tanyanya penasaran.
“Bukan apa-apa.”
Kemudian Mike Newton datang menyela, masuk dengan pikiran marah besar.
“
Kau
kelihatan lebih baik,” ujarnya kasar pada Bella.
Tanganku mengejang, ingin memberinya pelajaran. Aku harus hati-hati, atau aku akan
betul-betul membunuh bocah menjengkelkan ini.
“Jauhkan tanganmu,” katanya. Sesaat kupikir dia sedang bicara padaku.
“Sudah tidak berdarah lagi,” jawab Mike sambil menahan marah. “Apa kau akan
kembali ke kelas?”
“Apa kau bercanda? Aku hanya akan kembali kesini lagi.”
Itu bagus sekali. Kupikir aku akan kehilangan satu jam penuh bersamanya, tapi justru
dapat tambahan waktu. Aku jadi merasa tamak, orang kikir yang mendambakan setiap
tambahan waktu.
“Kurasa betul...” gumam mike. “Jadi kau akan pergi pekan ini? Ke pantai?”
Ah, mereka punya rencana. Aku membeku ditempat karena marah. Tenang, itu cuma
tamasya bersama. Aku sudah melihat rencana ini di pikiran mur id-murid lainnya. Bukan
cuma mereka berdua. Tapi aku masih juga geram. Aku menyandar ke komputer, tidak
bergerak, berusaha mengendalikan diriku.
“Tentu saja, aku kan sudah bilang akan ikut,” jawabnya pada Mike.
Jadi dia berkata ya padanya juga.
Cemburu langsung membakarku, lebih menyakitkan daripada haus.
Bukan, itu cuma tamasya bersama, aku berusaha meyakinkan diriku. Dia hanya
menghabiskan waktu bersama teman-temannya. Tidak lebih.
“Kita akan kumpul di toko ayahku jam sepuluh.”
Dan si Cullen TIDAK diundang.
“Aku akan datang.”
“Kalau begitu sampai ketemu lagi di gimnasium.”
“Sampai nanti,” balasnya.
130
Mike berjalan ogah- ogahan kembali ke kelas. Pikirannya penuh kemarahan.
Apa yang
Bella lihat dari orang aneh itu? Tentu saja dia memang kaya. Menurut perempuan-
perempuan dia itu keren, tapi menurutku tidak. Terlalu...terlalu sempurna. Berani taruhan
ayahnya pasti melakukan eksperimen operasi plastik pada mereka semua. Itulah kenapa
semuanya putih sekali dan cantik. Itu tidak wajar. Dan tatapannya agak...menakutkan.
Kadang, saat dia menatapku, berani sumpah ia seperti ingin membunuhku... dasar orang
aneh...
Mike tidak sepenuhnya keliru.
“Gimnasium,” Bella mengulang pelan. Mengerang.
Aku menatapnya, dan ia terlihat sedih akan suatu lagi. Aku tidak yakin apa
penyebabnya, tapi jelas dia tidak ingin pergi ke kelas berikutnya bersama Mike. Dan aku
sangat setuju pada hal itu.
Aku mendekat ke sisinya, lalu menunduk ke wajahnya, merasakan hangat kulitnya
menjalar ke bibirku. Aku tidak berani untuk bernapas.
“Aku bisa mengaturnya,” bisikku pada dia. “Duduklah dan perlihatkan wajah
pucatmu.”
Dia melakukan apa yang kuminta, duduk di salah satu kursi lipat dan menyandarkan
badannya ke tembok, sementara, di belakangku, Ms. Cope keluar dari dalam UKS menuju
mejanya. Dengan mata yang tertutup, Bella kelihatan seperti pingsan lagi. Rona wajahnya
belum kembali seperti semula.
Aku menoleh ke Ms. Cope. Semoga Bella memperhatikan, pikirku sinis. Seperti inilah
manusia
semestinya
bereaksi.
“Ms. Cope?” kataku dengan menggunakan suara membujuk lagi.
Bulu matanya mengedip-ngedip tak sadar, dan jantungnya berdetak cepat.
Terlalu
muda, kendalikan dirimu!
“Ya?”
Ini menarik. Ketika detak jantung Shelly Cope bertambah cepat, itu karena dia
mendapati diriku menarik secara fisik, bukan karena takut. Aku sudah terbiasa menghadapi
reaksi seperti itu dari para manusia-perempuan...tapi aku tidak pernah mempertimbangkan
penjelasan itu ketika detak jantung Bella memburu.
Aku cukup suka itu. Terlalu suka, sebetulnya. Aku tersenyum, dan napas Ms. Cope
131
makin memburu.
“Setelah ini Bella ada pelajaran olahraga, dan sepertinya kondisinya belum pulih benar.
Sebetulnya saya berpikir untuk mengantarnya pulang sekarang. Apa saya bisa minta tolong
dimintakan ijin buatnya?” Aku menatap kedalam matanya yang dangkal, menikmati
bagaimana hal ini mengalutkan pikirannya. Jangan-jangan, mungkinkah Bella...?
Mrs. Cope harus menelan ludah dulu sebelum menjawab. “Apa kau butuh ijin juga,
Edward?”
“Tidak, Mrs. Goff tidak akan keberatan.”
Aku tidak terlalu memperhatikannya sekarang. Aku sedang memper timbangkan
kemungkinan terbaru ini.
Hmmm...Aku ingin percaya bahwa Bella mendapatiku menarik seperti menurut
manusia lainnya, tapi kapan Bella pernah berpikiran sama seperti manusia lainnya? Aku tidak
boleh terlalu berharap.
“Oke, kalau begitu semuanya beres. Kau merasa lebih baik, Bella?”
Bella mengangguk lemah—sedikit dilebih-lebihkan.
“Apa kau bisa berjalan, atau perlu kugendong lagi?” tanyaku geli melihat aktingnya.
Dia pasti lebih memilih jalan—dia tidak mau terlihat lemah.
“Aku jalan saja,” jawabnya.
Betul lagi. Aku mulai lebih baik dalam hal ini.
Dia bangkit berdiri, ragu-ragu sebentar seperti sedang mengecek keseimbangannya.
Aku menahan pintu untuknya, dan kami berjalan menembus hujan.
Aku memperhatikan bagaimana dia menengadahkan wajahnya menghadap rintik-rintik
hujan dengan mata tertutup, sebaris senyum di bibirnya.
Apa yang sedang ia pikirkan?
Tindakannya terlihat ganjil, dan aku langsung menyadari penyebabnya. Perempuan normal
tidak akan menentang hujan seperti itu; mereka biasanya memakai makeup, bahkan disini di
kota hujan seperti Forks.
Bella tidak pernah memakai makeup, dan memang sebaiknya tidak. Industri kosmetik
memperoleh jutaan dolar tiap tahunnya dari para wanita yang berusaha mendapatkan kulit
seperti dia.
“Terima kasih.” Dia tersenyum padaku. “Lumayan juga bisa bolos kelas olahraga.”
132
Aku memandang ke seberang kampus, bertanya-tanya bagaimana caranya
memperpanjang waktu bersamanya. “Dengan senang hati,” jawabku.
“Jadi apa kau ikut? Maksudku, sabtu ini?” Dia terdengar berharap.
Ah, harapannya menyenangkan. Dia ingin aku yang bersamanya, bukan Mike Newton.
Dan aku ingin berkata ya. Tapi ada banyak hal yang mesti dipertimbangkan. Salah satunya,
matahari akan bersinar cerah sabtu ini...
“Sebenarnya kalian akan pergi kemana?” Aku berusaha terdengar acuh, seakan tidak
terlalu berarti. Mike sempat menyebut
pantai.
Tidak mungkin menghindari sinar matahari
disana.
“La Push, ke First Beach.”
Sial.
Well
, kalau begitu mustahil.
Bagaimanapun, Emmet bakal marah jika aku membatalkan rencana kami.
Aku meliriknya, tersenyum kecut. “Aku rasa aku tidak diundang.”
Dia mendesah, lebih dulu menyerah. “Aku baru saja mengundangmu.”
“Sudahlah, sebaiknya kita jangan terlalu mendesak Mike lagi minggu ini. Kita tidak
ingin membuat dia marah, kan?” Aku sebetulnya memikirkan diriku sendiri yang lepas
kendali pada
Mike yang malang,
dan sangat menikmati bayangannya.
“Mike-schmike,” katanya lagi-lagi dengan nada penolakan. Aku tersenyum lebar.
Kemudian dia berjalan menjauh.
Tanpa memikirkan tindakanku, aku menangkap belakang mantelnya. Dia tersentak
berhenti.
“Memangnya kau mau pergi kemana?” Aku hampir marah karena dia meninggalkanku.
Aku masih belum puas bersama dengannya. Dia tidak bisa pergi, jangan dulu.
“Pulang,” jawabnya bingung, tidak mengerti kenapa itu membuatku kesal.
“Apa tadi kau tidak dengar aku berjanji mengantarmu pulang dengan selamat? Pikirmu
aku akan membiarkanmu mengemudi dengan kondisi seperti ini?” Aku tahu dia tidak akan
suka
itu—
pandanganku yang menilai dia lemah. Tapi aku juga butuh latihan untuk perjalanan
ke Seattle. Untuk melihat, apa aku sanggup menahan diri saat berdua saja dengannya di
ruang tertutup. Perjalanan yang ini cukup singkat untuk latihan.
“Kondisi seperti apa?” protesnya. “Lalu trukku bagaimana?”
133
“Akan kuminta Alice mengantarnya sepulang sekolah nanti.” Dengan hati-hati aku
menariknya mundur ke mobilku. Aku mesti hati-hati karena berjalan
maju
saja sudah cukup
sulit buatnya.
“Lepaskan!” Protesnya sambil memutar badan dan hampir tersandung. Aku
mengulurkan satu tangan, tapi dia sudah berhasil menyeimbangkan diri sebelum
pertolonganku dibutuhkan. Tidak seharusnya aku mencari-cari alasan untuk menyentuhnya.
Itu membuatku teringat pada reaksi Ms. Cope, tapi aku menundanya untuk kupikirkan
nanti. Ada banyak hal yang mesti dipertimbangkan menyangkut soal itu.
Kulepaskan dia sesampainya di samping mobil, dan ia tersandung pintunya. Aku
harusnya lebih hati-hati lagi melihat keseimbangannya yang seperti itu...
“Kau
kasar
sekali!”
“Pintunya tidak dikunci.”
Aku masuk ke sisi pengemudi dan menyalakan mesinnya. Dia tetap ngotot berdiri
diluar meski hujan mulai deras dan aku tahu dia tidak suka dingin dan basah. Rambut
tebalnya nya mulai basah kuyup, lebih gelap hingga nyaris hitam.
“Aku sangat mampu menyetir sendiri ke rumah!”
Tentu saja dia bisa—hanya saja aku yang tidak sanggup membiarkannya pergi.
Aku menurunkan jendela dan mencondongkan badan kearahnya. “Masuklah, Bella.”
Matanya menyipit, dan tebakanku dia sedang menimbang-nimbang apa akan lari saja
atau tidak.
“Aku tinggal menyeretmu lagi,” kataku sungguh-sungguh, menikmati ekspresi tersiksa
di wajahnya saat ia menyadari aku serius.
Sesaat dia berdiri kaku, tapi kemudian membuka pintu dan masuk. Air menetes-netes
dari rambutnya, sepatu bootsnya mendecit basah.
“Ini benar-benar tidak perlu,” ucapnya dingin. Sepertinya ada nada malu dibalik
kejengkelannya.
Aku menyalakan penghangat agar dia merasa lebih nyaman, dan menyetel musik
dengan suara pelan sebagai background. Aku mengemudikan mobilku keluar parkir an,
sambil memperhatikan dia dari ujung mataku. Bibir bawahnya sedikit maju dengan ekspresi
keras kepala. Aku memperhatikannya baik-baik, mempelajari bagaimana dampaknya pada
134
perasaanku... mengingat kembali reaksi Ms. Cope...
Tahu-tahu dia melihat ke arah tapeku dan tersenyum, matanya melebar. “Clair de
Lune?” Tanyanya.
Pecinta musik klasik? “Kau tahu
Debussy
?”
“Tidak terlalu,” jawabnya. “Ibuku sering menyetel musik klasik—aku cuma tahu yang
kusuka.”
“Ini juga salah satu kesukaanku.” Aku memperhatikan hujan di luar,
mempertimbangkan hal itu. Ternyata aku punya kesamaan dengan gadis ini. Sebelumnya aku
berpikir bahwa kami berdua bertolak belakang dalam segala hal.
Dia terlihat lebih santai, memperhatikan hujan diluar sepertiku. Aku menggunakan
kesempatan ini untuk bereksperimen dengan bernapas.
Aku menarik napas hati-hati lewat hidung.
Pekat.
Kucengkram roda kemudi lebih kencang. Hujan membuat aromanya lebih harum. Aku
tidak pernah berpikir bisa seperti itu. Sial, tiba-tiba jadi membayangkan bagaimana rasanya.
Aku berusaha menelan rasa terbakar di tenggorokanku, memikirkan hal lain.
“Ibumu seperti apa?” Aku bertanya untuk mengalihkan perhatian.
Bella tersenyum. “Dia sangat mirip denganku, tapi lebih cantik.”
Aku ragu itu.
“Terlalu banyak Charlie dalam diriku,” dia melanjutkan. “Ibuku punya sifat lebih
terbuka, dan lebih berani.”
Aku juga ragu itu.
“Dia tidak terlalu bertanggung jawab dan agak eksentrik, dan dia juru masak yang
sangat payah. Dia teman baikku.” Suaranya berubah sayu; keningnya mengerut.
Lagi, dia terdengar lebih seperti orangtua ketimbang anak.
Aku berhenti di depan rumahnya, ter lambat untuk khawatir darimana mana aku bisa
tahu rumahnya. Tidak, ini tidak akan terlalu mencurigakan di kota kecil seperti ini, apalagi
dengan ayahnya yang kepala polisi...
“Berapa umurmu, Bella?” Dia pasti lebih tua dari penampilannya. Mungkin dia
terlambat masuk sekolah, atau pernah tinggal kelas...kalau itu sepertinya tidak.
135
“Tujuh belas.”
“Kau tidak kelihatan seperti berumur tujuh belas.”
Dia tertawa.
“Kenapa?”
“Ibuku selalu bilang aku terlahir dengan umur 35 tahun dan makin mendekati paruh
baya tiap tahunnya.” Dia tertawa lagi, dan mendesah. “
Well
, harus ada yang menjadi orang
dewasanya.”
Itu menjelaskan beberapa hal. Aku bisa melihatnya sekarang...bagaimana seorang ibu
yang tidak terlalu bertanggung jawab menjelaskan kedewasaannya Bella. Dia harus dewasa
lebih cepat, untuk menjadi pengawas. Itulah kenapa dia tidak suka diurus—dia merasa itu
tugasnya.
“Kau sendiri tidak kelihatan seperti murid SMA,” katanya, membuyarkan lamunanku.
Aku menyeringai. Dari segala yang kutangkap tentang dia, dia menangkap lebih
banyak tentang diriku. Aku buru-buru mengganti topik.
“Jadi kenapa ibumu menikah dengan Phil?”
Dia ragu sejenak sebelum menjawab. “Ibuku...dia sangat muda untuk umurnya. Kurasa
Phil membuatnya merasa lebih muda lagi. Dalam beberapa hal, ibuku tergila-gila padanya.”
Dia menggeleng dengan tatapan senyum.
“Apa kau setuju?”
“Apa itu penting? Aku ingin dia bahagia...dan Phill lah yang ia mau.”
Ketidak egoisan tanggapannya mungkin akan mengejutkan aku, kecuali bahwa hal itu
sangat cocok dengan kepribadiannya yang telah kupelajari.
“Kau baik sekali...aku jadi berpikir...”
“Apa?”
“Apa dia juga akan bersikap sama denganmu? Tidak perduli siapapun pilihanmu?”
Itu pertanyaan konyol, dan aku tidak bisa membuat suaraku tetap santai saat
menanyakannya. Sungguh bodoh mempertimbangkan ada orang tua yang akan merestui
anaknya dengan
ku
. Lebih bodoh lagi berpikir bahwa Bella mau memilihku.
“Aku...aku rasa begitu,” jawabnya terbata-bata, mungkin karena tatapanku. Takut...
Atau tertarik?
136
“Tapi dia lah yang jadi orangtua. Jadi agak beda,” lanjutnya.
Aku tersenyum kecut. “Berarti dilarang jika orangnya terlalu menyeramkan.”
Dia menyeringai padaku. “Apa maksudmu menyeramkan? Banyak tindikan di wajah
dan tatoo di sekujur badan?”
“Kurasa itu salah satu definisinya.” Definisi yang jauh dari mengerikan kalau buatku.
“Lantas apa definnisimu?”
Dia selalu menanyakan pertanyaan yang keliru. Atau lebih bisa dibilang pertanyaan
yang tepat. Sesuatu yang tidak ingin kujawab, dalam kondisi apapun.
“Menurutmu apa
aku
bisa menyeramkan?” tanyaku padanya sambil berusaha
tersenyum.
Dia mempertimbangkan dulu sebelum menjawabnya dengan nada serius.
“Hmmm...kupikir kau
bisa,
kalau mau.”
Aku juga serius. “Apa sekarang kau takut padaku?”
Dia langsung menjawab, kali ini tanpa dipikir. “Tidak.”
Aku jadi lebih mudah tersenyum. Aku tidak berpikir dia sepenuhnya jujur, tapi dia juga
tidak sepenuhnya bohong. Paling tidak dia tidak terlalu takut hingga ingin pergi. Aku
bertanya-tanya bagaimana perasaannya jika kuberitahu bahwa dia sedang bicara dengan
seorang vampir. Aku buru-buru membuang bayangan itu.
“Jadi, apakah sekarang kau mau cerita tentang keluargamu? Pasti jauh lebih menarik
daripada ceritaku.”
Lebih menakutkan, paling tidak.
“Apa yang ingin kau ketahui?” Aku bertanya waspada.
“Keluarga Cullen mengadopsimu?”
“Ya.”
Dia bimbang sebentar, kemudian bicar a dengan suara pelan. “Apa yang terjadi dengan
orangtuamu?”
Ini tidak terlalu sulit; bahkan aku tidak perlu berbohong. “Mereka sudah lama
meninggal.”
“Oh, maaf,” gumamnya, jelas khawatir telah melukaiku.
Dia
mengkhawatirkan
aku.
137
“Aku tidak terlalu ingat mereka,” aku meyakinkannya. “Sejak lama Carlisle dan Esme
sudah jadi orangtuaku.”
“Dan kau menyayangi mereka?”
Aku tersenyum. “Ya. Aku tidak bisa membayangkan dua orang yang lebih baik.”
“Kau sangat beruntung.”
“Aku tahu.” Dalam kondisi itu, soal orangtuaku, keberuntunganku tidak bisa diingkari.
“Dan saudara-saudaramu?”
Jika aku membiarkannya bertanya lebih jauh, aku terpaksa berbohong. Aku melirik ke
jam, kecewa karena karena waktuku dengan dia hampir habis.
“Saudara-saudaraku, Jasper dan Rosalie, akan kesal jika harus berdiri di tengah hujan
menungguku.”
“Oh, iya, sori, sepertinya kau harus pergi.”
Dia tidak bergerak. Dia tidak ingin cepat-cepat berakhir juga. Aku sangat, sangat suka
itu.
“Dan kau mungkin juga ingin trukmu kembali sebelum ayahmu pulang, jadi kau tidak
perlu cerita tentang insiden di kelas biologi tadi.” Aku menyeringai teringat bagaimana dia
merasa malu tadi dalam gendonganku.
“Aku yakin dia sudah dengar. Tidak ada rahasia di Forks.” Dia menyebut nama kota
Forks dengan nada sebal yang kentara.
Aku tertawa mendengar ungkapannya. Tidak ada rahasia, tentu saja. “Selamat
bersenang-senang di pantai.” Aku melihat ke hujan yang turun deras, tahu cuaca seperti ini
tidak akan berlangsung lama, dan beraharap—lebih dari biasanya—bahwa cuaca akan seperti
ini terus. “Cuaca nya bagus untuk berjemur.” Paling tidak akan begitu pada hari sabtu. Dia
akan menikmati itu.
“Apa aku akan bertemu dengamu besok?”
Perasaan khawatir di nadanya membuatku senang.
“Tidak. Emmet dan aku memulai akhir pekan lebih awal.” Sekarang aku marah pada
diriku sendiri karena telah membuat rencana itu. Aku bisa membatalkannya...tapi dengan
kondisi seperti ini, tidak ada lagi istilah terlalu banyak berburu. Dan keluargaku sudah cukup
khawatir dengan tingkahku tanpa perlu kutunjukan betapa obsesifnya aku sekarang.
138
“Apa yang kalian lakukan?” tanyanya, kedengarannya tidak terlalu senang dengan
rencanaku.
Itu juga bagus.
“Kami mau hiking ke Goat Rocks Wilderness, sebelah selatan Rainier.” Emmet sangat
bernafsu dengan musim beruang.
“Oh. Kalau begitu selamat besenang-senang.” Dia mengatakannya setengah hati.
Ketidak semangatannya lagi-lagi membuatku senang.
Saat memandangnya, aku merasa menderita pada pikiran akan berpisah dengannya
walau hanya untuk sebentar. Dia terlalu lembut dan rapuh. Rasanya terlalu ceroboh untuk
melepasnya dari pengawasanku. Apapun bisa terjadi padanya. Dan tetap saja, hal yang
paling buruk yang mungkin terjadi, adalah hal yang diakibatkan jika bersama denganku.
“Maukah kau melakukan sesuatu untukku akhir pekan ini?” Tanyaku serius.
Dia mengangguk, matanya melebar dan bertanya-tanya pada kesungguhanku.
Buat tetap santai.
“Jangan tersinggung, tapi kau sepertinya tipe orang yang menarik bahaya seperti
magnet. Jadi...cobalah untuk tidak jatuh ke laut atau terlindas apapun, oke?”
Aku tersenyum sebentar, berharap dia tidak melihat kesedihan di mataku. Kuharap
keadaan dia jauh lebih baik saat jauh dariku, tidak perduli apa yang akan terjadi padanya
disana.
Lari, Bella, lari. Aku terlalu mencintaimu, demi kebaikanmu dan aku.
Dia tersinggung dengan ucapanku. “Akan kuusahakan,” ucapnya ketus sambil
mendelik marah kemudian meloncat keluar kebawah guyuran hujan dan membanting
pintunya keras-keras.
Mirip kucing marah yang berpikir dirinya adalah seekor macan.
Aku membuka telapak tanganku, melirik kunci yang ada di genggamanku, yang baru
saja kuambil dari kantong jaketnya, kemudian sambil tersenyum melihat dia berjalan
menjauh.
139
7. Melody
Aku masih harus menunggu dulu setelah sampai di sekolah. Jam pelajaran terakhir
belum selesai. Itu bagus, karena ada yang mesti kupikirkan, dan aku butuh waktu sendirian.
Aromanya masih tertinggal di dalam mobil. Aku membiarkan jendelanya tetap tertutup,
membiarkan aromanya menyer angku, berusaha membiasakan diri dengan kuatnya api yang
membakar tenggorokanku.
Daya tarik.
Itu hal yang rumit untuk direnungkan. Ada begitu banyak sisi. Ada begitu banyak arti
dan tingkatan. Tidak sama dengan cinta, tapi berhubungan erat dengan itu.
Aku sama sekali tidak tahu jika Bella tertarik padaku. (Mungkinkah kesunyian
pikirannya akan terus membuatku makin frustasi sampai akhirnya membuatku gila? Atau,
apa ada batasannya yang pada akhirnya akan kucapai?)
Aku coba membandingkan respon fisiknya Bella dengan respon fisiknya orang-orang
lain, seperti Ms. Cope dan Jessica Stanley. Tapi, pebandingannya tidak meyakinkan. Ciri-ciri
yang sama—perubahan detak jantung dan irama napas—juga bisa merupakan ciri dari rasa
takut, syok, atau cemas. Lagipula, juga tidak cocok jika Bella sampai membayangkan jenis-
jenis imajinasi yang biasa dipikirkan Jessica. Bagaimanapun, Bella sangat tahu ada sesuatu
yang salah dengan diriku, walau tidak tahu apa tepatnya. Dia pernah menyentuh kulitku yang
dingin, kemudian menarik tangannya begitu merasakan dinginnya.
Tapi tetap saja...
Aku mengingat lagi segala fantasi yang biasanya menjengkelkanku, tapi kini
menggantinya dengan membayangkan Bella di posisi Jessica...
Napasku makin memburu, api merayap membakar tenggorokanku.
Bagaimana jika
Bella
lah yang sedang membayangkan bagaimana tanganku memeluk
tubuh rapuhnya? Merasakan dirinya ditarik lebih rapat ke pelukanku, dan kemudian
bagaimana aku memegang dagunya dengan jari-jariku? Menyingkap rambut gelapnya yang
menutupi wajah meronanya dengan tanganku, menyelipkannya ke balik telinga? Menelusuri
bibirnya yang penuh dengan ujung jariku? Mendekatkan wajahku padanya, dimana aku bisa
140
merasakan kehangatan napasnya di mulutku? Lebih dekat lagi...
Tapi kemudian aku menyentakan diri dari bayangan itu, mengetahui, seperti yang
kuketahui ketika Jessica membayangkan hal ini, apa yang akan terjadi jika aku sedekat itu
dengannya.
Ketertarikan itu bagai buah simalakama, karena aku sudah terlanjur terlalu tertarik pada
Bella dengan cara yang paling buruk.
Apa aku menginginkan Bella tertarik padaku, seperti seorang perempuan pada pria?
Itu pertanyaan yang salah. Pertanyaan yang benar adalah: apa
sebaiknya
aku
menginginkan Bella untuk tertarik padaku seperti itu? Dan jawabannya adalah tidak. Karena
aku bukan pria-manusia, itu tidak adil buatnya.
Dengan segenap raga, aku mendambakan bisa menjadi manusia, supaya bisa
merengkuhnya dalam pelukanku tanpa harus membahayakan nyawanya. Supaya aku bebas
membayangkan apa saja dalam fantasiku. Fantasi yang tidak perlu berakhir dengan darahnya
di tanganku, dan mataku yang menyala merah oleh darahnya.
Pengejaranku padanya tidak masuk akal. Hubungan seperti apa yang bisa kutawarkan
ke dia jika aku tidak bisa menanggung resiko menyentuhnya?
Aku menunduk dan menutup mukaku dengan tangan.
Lebih membingungkan lagi karena aku belum pernah merasa semanusia ini seumur
hidupku—bahkan tidak ketika
masih
manusia, selama yang bisa kuingat. Ketika itu,
pikiranku dipenuhi dengan kebanggaan seorang prajurit. Perang besar menghiasai seluruh
masa remajaku. Dan aku baru jalan sembilan bulan dari ulang tahunku yang ke-18 ketika
wabah influensa merebak... Ingatan yang kumiliki selama menjadi manusia sangat kabur,
ingatan suram yang makin kabur tiap dekadenya. Yang paling kuingat adalah ibuku, dan
kurasakan kepedihan purba ketika mengingat wajahnya. Samar-samar aku ingat bagaimana
dia sangat membenci keinginanku menjadi prajurit. Dia berdoa setiap malam agar 'perang
yang mengerikan' itu cepat berakhir...
Selain hal itu, tidak ada lagi kenangan indah yang bisa kuingat. Selain cinta ibuku,
tidak ada lagi cinta yang membuatku ingin tetap tinggal...
Ini sama sekali baru untukku. Aku tidak punya pengalaman yang bisa kubandingkan.
Cintaku pada Bella awalnya murni, tapi kini mulai keruh. Aku sangat ingin bisa
141
menyentuhnya. Apa dia merasakan hal yang sama?
Itu tidak penting, aku berusaha meyakinkan diriku sendiri.
Aku memandangi tanganku yang putih, membenci kekerasannya, dinginnya,
kekuatannya yang tidak normal...
Kemudian aku terloncat ketika tiba-tiba pintu belakang terbuka.
Wah, kau tidak sadar aku datang. Ini pertama kalinya,
batin Emmet ketika ia
menyelinap masuk ke mobil. “Berani taruhan Mrs. Goff pasti mengira kau pakai narkoba,
kau kelihatan aneh belakangan ini. Darimana saja kau tadi?”
“Aku tadi...memberi pertolongan.”
Hah?
Aku terkekeh. “Menggotong orang sakit, pokoknya begitulah.”
Itu membuatnya makin bingung, tapi kemudian ia mengambil napas dan mendapati
aromanya di mobil.
“Oh... gadis itu lagi?”
Aku menyeringai.
Perkembangannya makin aneh.
“Kau tahu sendiri...”
Dia menghirup lagi. “Hmmm, baunya memang lumayan, iya kan?”
Suara geraman langsung keluar dari mulutku sebelum kata-katanya berakhir. Respon
spontan.
“Tenang, Edward, aku cuma komentar.”
Yang lain kemudian datang. Rosalie langsung menyadari aromanya dan memelototiku.
Marahnya masih belum reda. Entah apa masalahnya, yang bisa kudengar cuma celaannya.
Aku juga tidak suka dengan reaksi Jasper. Seperti Emmet, dia menyadari aroma Bella
cukup mengundang selera. Tapi efeknya bagi mereka tidak sampai sepersekian dari yang
kurasakan. Tetap saja, aku kesal darahnya terasa manis untuk mereka. Jasper masih sulit
mengendalikan diri...
Alice menyelinap ke sisiku dengan tangan terbuka meminta kunci truk Bella.
“Aku cuma melihat aku melakukannya,” katanya samar-samar seperti kebiasaannya.
“Kau harus menerangkan alasannya.”
142
“Ini bukan berarti—”
“Aku tahu, aku tahu. Aku akan menunggu. Tidak akan lama lagi.”
Aku mendesah dan menyerahkan kuncinya.
Aku mengikuti dia ke rumah Bella. Hujan turun sangat deras, begitu lebat hingga
mungkin Bella tidak akan mendengar raungan mesin truknya. Aku melihat ke jendelanya,
tapi dia tidak melihat keluar. Mungkin dia tidak disitu. Tidak ada pikiran yang bisa didengar.
Membuatku murung tidak bisa mendengar apa-apa untuk mengecek keadaanya—untuk
memastikan dia senang, atau paling tidak aman.
Alice masuk ke kursi belakang dan kami kembali ke rumah. Jalanan kosong, jadi cuma
butuh beberapa menit. Kami sama-sama masuk ke rumah, lalu sibuk dengan kegiatan
masing-masing.
Emmet dan Jasper meneruskan permainan caturnya yang rumit, menggabungkan empat
papan catur jadi satu—memanjang sepanjang tembok belakang—dengan aturan rumit yang
mereka buat sendiri. Mereka tidak mengijinkan aku ikut main; cuma tinggal Alice yang mau
bermain denganku.
Dia kini sibuk dengan komputernya, dekat Emmet dan Jasper. Aku bisa mendengar
monitornya menyala. Alice sedang mengerjakan proyek fashionnya untuk pakaian Rosalie.
Tapi Rosalie tidak menemaninya hari ini. Padahal biasanya dia berdiri di belakang Alice,
memberi saran potongan dan warna sembari jari Alice menari di layar sentuhnya yang sangat
sensitif (Carlisle dan aku mesti mengutak-atik sistemnya, agar layarnya bisa merespon
temperatur dingin kami). Sebagai gantinya, Rosalie meringkuk dengan marah yang
terpendam di sofa, mengganti-ganti chanel TV layar datar di depannya denga kecepatan dua
puluh chanel pedetik tanpa henti. Bisa kudengar dia sedang berusaha memutuskan, apa
sebaiknya ke garasi saja, untuk menyetel mesin BMWnya lagi.
Esme di lantai atas, sedang bersenandung di depan rencana bangunan yang baru ia
rancang.
Alice menjulurkan kepalanya ke balik tembok sebentar untuk memberitahu Jasper
langkah Emmet berikutnya—Emmet duduk di lantai memunggunginya. Sementara itu Jasper
menjaga ekspresinya tetap datar saat ia memakan Ratu andalan Emmet.
Dan aku, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, hingga membuatku malu, duduk
143
di depan
grand
piano indah yang ada di seberang pintu masuk.
Jari-jariku mengalir lembut mencoba nadanya. Setelannya masih sempurna.
Diatas, Esme menghentikan pekerjaannya, menelengkan kepalanya ke samping.
Aku mulai memainkan baris pertama dari alunan nada yang tadi mendatangiku sewaktu
di mobil, merasa senang karena terdengar jauh lebih baik dari yang kubayangkan.
Edward bermain lagi
, pikir Esme gembira. Senyum lebar muncul di wajahnya. Dia
bangkit dari meja dan berjalan tanpa suara menuju tangga.
Aku menambahkan harmonisasi baru, membiarkan melodi utamanya mengalir.
Esme mendesah bahagia, duduk di anak tangga paling atas, dan menyandarkan
kepalanya pada pegangan tangga.
Lagu baru. Sudah lama sekali. Alunan yang indah.
Kubiarkan melodinya mengalir ke arah yang baru, mengikutinya dengan alunan bass.
Edward menciptakan lagu lagi?
Batin Rosalie, dan dia menggertakan giginya dengan
sengit.
Tepat pada saat itu, dia kelepasan, dan aku bisa membaca alasan utama kemarahannya.
Aku bisa melihat kenapa belakangan ini ia memusuhiku, kenapa membunuh Isabella Swan
tidak mengganggunya sama sekali. Pada Rosalie, selalu tentang kesombongan.
Musikku terhenti, dan aku sudah tertawa sebelum bisa kutahan, gelak tawa yang sudah
pecah sebelum tanganku sempat menutup mulut.
Rosalie memelotiku, matanya nyalang marah besar.
Emmet dan Jasper ikut menoleh, dan bisa kudenar kebingungan Esme. Dia secepat kilat
turun, menatap aku dan Rosalie bergantian.
“Jangan berhenti, Edward.” Esme menyemangati setelah suasana sempet tegang.
Aku mulai main lagi, kembali memunggungi Rosalie sembari berusaha keras menahan
seringaiku. Rosalie sendiri sudah bangkit berdiri dan berjalan keluar, lebih pada marah
daripada malu. Tapi, tentu saja cukup malu.
Kalau kau sampai buka mulut, aku akan memburumu seperti anjing.
Aku tertawa lagi.
“Ada apa, Rose?” Emmet memanggilnya. Rosalie tidak menengok. Dia terus saja
berjalan kesal ke garasi, kemudian menggeliat masuk ke bawah mobilnya seakan mau
mengubur diri dibawah situ.
144
“Tentang apa itu tadi?” Emmet bertanya padaku.
“Aku sama sekali tidak tahu.” Aku berbohong.
Emmet menggerutu frustasi.
“Teruskan lagunya,” Esme mendesak lagi. Tanganku baru saja terhenti.
Aku mengabulkan permintaannya. Esme pindah ke belakangku, meletakan tangannya
keatas pundakku.
Lagunya mulai terbentuk, tapi belum lengkap. Aku mencoba-coba
bridge
nya, tapi entah
kenapa tidak pas.
“Lagu yang cantik. Apa sudah ada judulnya?” tanya Esme.
“Belum.”
“Apa cer ita dibaliknya?” tanyanya dengan senyum. Ini membuatnya sangat senang, dan
aku jadi merasa bersalah telah menelantarkan musikku begitu lama. Itu sangat egois.
“Ini lagu...nina bobo, kukira.” Akhirnya aku bisa menemukan
bridgenya.
Dengan
mudah lalu menghantar ke bait selanjutnya, hidup begitu saja.
“Lagu nina bobo,” Esme mengulangi pada dirinya sendiri.
Ada
cerita dibalik melodi ini, dan saat melihatnya, alunan berikutnya muncul begitu
saja. Ceritanya tentang seorang gadis yang terlelap di sebuah ranjang sempit; berambut gelap,
tebal, dan acak-acakan bagai ganggang laut terhampar di atas bantal...
Alice beranjak duduk di sebelahku. Dengan suara ringan bagai tiupan genta, ia
menyenandungkan alunan nada dua oktaf lebih tinggi dari melodiku.
“Aku suka,” bisiknya. “Tapi bagaimana jika begini.”
Aku menambahkan baitnya ke dalam harmoni—jari-jariku kini menari di sepanjang
tutsnya untuk menyatukan potongan-potongan itu jadi satu—menggubahnya sedikit,
membawanya ke melodi yang lain...
Dia menangkap suasananya, dan ikut bernyanyi.
“Ya, sempurna,” kataku mengomentari.
Esme meremas bahuku.
Tapi aku bisa melihat bagian akhirnya. Dengan suara Alice meliuk tinggi dan
membawanya ke tempat lain, aku bisa melihat bagaimana seharusnya akhir lagu ini. Karena
sang gadis-tidur telah sempurna sebagaimana adanya, perubahan apapun akan salah.
145
7.
Langganan:
Postingan (Atom)

