Jasper—pada penampilan dan pemikiran. Pasangan yang sangat cocok.
Setelah beberapa saat, semuanya—kecuali Esme—berhenti memikirkan aku. Dan aku
mulai bermain dengan nada-nada lembut agar tidak menarik perhatian.
Aku tidak memperhatikan mereka lagi selama beberapa lama, membiarkan musiknya
mengalihkanku dari kegelisahan. Rasanya sulit menghilangkan Bella dari pandangan dan
pikiranku. Aku hanya kembali memperhatikan pembicaraan mereka ketika Peter dan
Charlotte sudah hampir pergi.
“Kalau kau bertemu Maria lagi,” kata Jasper sedikit khawatir. “Katakan padanya aku
harap dia baik-baik saja.”
Maria adalah vampir yang telah menciptakan Jasper dan Peter—Jasper diciptakan di
pertengahan abad sembilan belas, sedang Peter baru belakangan, pada tahun 1940an. Maria
pernah sekali mencari Jasper pada saat kami di Calgary. Itu adalah kunjungan yang luarbiasa
—kami harus cepat-cepat pindah. Jasper memintanya dengan sopan agar ia menjauhi dirinya.
“Kurasa itu tidak akan segera terjadi,” jawab Peter sambil tertawa—tidak disangkal lagi
Maria berbahaya, dan tidak ada banyak cinta diantara dia dan Peter sebelumnya. Peter cuma
dimanfaatkan sepeninggal Jasper. Jasper selalu menjadi favorit Maria; dia menganggapnya
detail sepele saat pernah sekali berencana membunuh Jasper. “Tapi mungkin saja aku akan
bertemu dengannya.”
Kemudian mereka bersalaman, siap-siap untuk pergi. Kuhentikan laguku di tengah-
tengah, dan dengan tergesa-gesa berdiri.
“Charlotte, Peter,” salamku sambil mengangguk.
“Menyenangkan bertemu lagi denganmu, Edward,” ujar Charlotte basa-basi. Sementar a
Peter cuma menjawab dengan anggukan.
Dasar orang gila,
umpat Emmet padaku.
Idiot,
Rosalie memikirkan hal yang sama.
Kasihan,
itu Esme.
Dan Alice, dengan suara mencibir,
mereka akan langsung ke timur, menuju Seattle.
Tidak mendekati Port Angeles.
Dia memperlihatkan bukti penglihatannya.
Aku pura-pura tidak mendengar. Alasanku sudah cukup lemah.
Setelah di dalam mobil, aku merasa lebih tenang; dengung mantap suara mesin yang
167
telah di
tune-up
oleh Rosalie—tahun lalu, saat moodnya lebih baik—terdengar
menyenangkan. Rasanya lega bisa di jalan lagi, mengetahui setiap mil yang kulewati
membawaku semakin dekat dengan Bella.
168
9. Port Angeles
Masih terlalu terang bagiku untuk berkendaraan di dalam kota saat tiba di Port Angeles;
matahari masih terlalu tinggi diatas. Dan, meski jendelaku sangat gelap, tidak ada alasan
untuk mengambil resiko. Mengambil resiko
lebih,
lebih tepatnya.
Aku sangat yakin mampu menemukan pikiran Jessica dari jauh—pikiran dia lebih keras
ketimbang Angela. Setelah menemukan Jessica, aku akan menemukan Angela. Kemudian,
ketika makin gelap, aku bisa mendekat. Untuk saat ini, aku keluar dari jalan utama untuk
menunggu di daerah pinggir kota yang tampaknya jarang dilewati orang.
Aku tahu kira-kira ke arah mana harus mencari—hanya ada satu tempat untuk mencari
gaun di Port Angeles. Tidak terlalu lama, setelah menemukan Jessica, yang sedang memutar-
mutar badannya di depan tiga bidang cermin, aku bisa melihat Bella lewat pikirannya. Bella
sedang memuji gaun panjang hitam yang ia kenakan.
Bella masih kelihatan kesal. Ha ha. Angela betul—Tyler cuma membual. Tapi aku tidak
mengerti kenapa dia sekesal itu. Paling tidak dia tahu dia punya kencan cadangan untuk
pesta prom. Bagaimana jika Mike tidak menikmati pesta dansa besok, dan ia tidak
mengajakku kencan lagi? Bagaimana jika dia mengajak Bella ke pesta prom? Apa Bella
akan mengajak Mike ke pesta dansa jika aku tidak mengajaknya duluan? Apakah menurut
Mike dia lebih cantik ketimbang aku? Apakah dia pikir dirinya lebih cantik dibanding aku?
“Kurasa aku lebih suka yang biru. Sesuai dengan warna matamu.”
Jessica tersenyum palsu pada Bella, sementara matanya memperhatikan dengan curiga.
Apa dia sungguh-sungguh dengan ucapannya? Atau yang ia inginkan aku terlihat
seperti sapi di hari sabtu nanti?
Belum-belum aku sudah lelah mendengarkan Jessica. Aku mencari Angela di dekat situ
—ah, tapi Angela sedang ganti baju, dan aku langsung cepat-cepat keluar dari kepalanya
untuk memberi dia privasi.
Well
, tidak ada sesuatu yang akan menimpa Bella selama dia di department store.
Biarkan saja mereka belanja dan kemudian mencari mereka lagi saat sudah selesai. Tidak
akan lama lagi gelap—awan mulai berarak kembali, bertiup dari arah barat. Aku hanya bisa
169
menangkap kelebatannya melalui sela-sela daun, tapi bisa kulihat awan-awan itu akan
mempercepat matahari tenggelam. Aku menanti-nantikannya dengan tidak sabar. Besok aku
akan bisa duduk disamping Bella lagi, memonopoli perhatiannya di jam makan siang lagi.
Aku bisa menanyakan segala pertanyaan yang selama ini kusimpan...
Jadi, ia kesal dengan kepongahan Tyler. Aku bisa melihat itu di kepala Tyler—bahwa
dia bersungguh-sungguh ketika menyinggung tentang prom, bahwa ia menegaskan niatnya.
Aku mengingat kembali ekspresi Bella siang itu—tidak percaya dan marah—dan aku
tergelak. Kira-kira apa yang akan ia katakan pada Tyler tentang ini. Aku tidak akan
melewatkan kesempatan melihat reaksi Bella.
Waktu berjalan lambat selama menunggu gelap datang. Secara berkala aku mengecek
Jessica; suara mentalnya paling mudah ditemukan. Tapi aku tidak suka berlama-lama disitu.
Aku melihat dimana mereka berencana untuk makan. Pasti sudah gelap ketika waktunya
makan malam...mungkin aku akan secara tidak sengaja makan di restor an yang sama.
Kusentuh handphone di kantongku, mempertimbangkan untuk mengajak Alice keluar
makan... Dia akan suka itu, tapi dia juga pasti akan minta bicara dengan Bella. Aku belum
yakin aku siap untuk melibatkan Bella
lebih
jauh kedalam duniaku. Bukannya satu vampir
saja sudah merepotkan?
Aku kembali mengecek Jessica lagi. Dia sedang memikirkan tentang perhiasannya,
minta pendapat Angela.
“Mungkin sebaiknya aku mengembalikan kalungnya. Aku sudah punya satu di rumah
yang sepertinya juga cocok, dan aku sudah membelanjakan uangku lebih dari seharusnya...”
Ibuku pasti akan marah besar. Apa yang kupikirkan?
“Aku tidak masalah kembali ke toko. Tapi bagaimana jika nanti Bella mencari-cari
kita?”
Apa ini? Bella tidak bersama mereka? Aku memperhatikan lewat mata Jessica,
kemudian ganti ke Angela. Mereka di trotoar di depan deretan toko-toko, baru saja balik arah.
Bella tidak kelihatan dimana-mana.
Siapa yang peduli dengan Bella?
Pikir Jess tidak sabaran, sebelum menjawab
pertanyaan Angela.
“Dia baik-baik saja. Kita masih punya banyak waktu sebelum ke
restoran, bahkan jika kita kembali dulu. Lagipula, kurasa dia sedang ingin sendirian.”
Aku
170
menangkap sekelebatan gambaran toko buku yang Jess pikir tempat tujuan Bella.
“Ayo cepat kalau begitu,”
ujar Angela.
Kuharap Bella tidak beranggapan kami
menelantarkan dia. Dia baik padaku selama di mobil tadi... Dia benar-benar orang yang
menyenangkan. Tapi kelihatannya dia agak murung seharian ini. Aku bertanya-tanya, apa
karena Edward Cullen? Berani taruhan, itulah alasannya kenapa ia menanyakan tentang
keluarganya...
Seharusnya aku lebih memperhatikan. Apa saja yang sudah kulewatkan? Bella
berkeliaran sendirian. Dan tadi dia menanyakan tentang aku?
Angela sedang memperhatikan Jessica sekarang—Jessica sedang mengoceh tentang si
bodoh Mike—dan aku tidak mendapatkan info lebih banyak dari dia.
Aku menilai sekelilingku. Sebentar lagi matahari di belakang awan. Jika aku tetap
berada di sisi barat, dimana gedung-gedung akan menghalangi sinar matahari yang mulai
redup...
Aku mulai cemas begitu menyetir melewati jalanan sepi menuju pusat kota. Ini sesuatu
yang tidak kuperhitungkan—Bella memisahkan diri—dan aku tidak tahu bagaimana caranya
menemukan dia. Aku
harusnya
mempertimbangkan hal ini.
Aku tahu seluk-beluk Port Angeles; mobilku langsung menuju ke toko buku yang ada
di pikiran Jessica, berharap pencarianku singkat, tapi sekaligus sangsi ini akan berjalan
dengan mudah. Mana pernah Bella membuatnya jadi mudah?
Tentu saja tokonya kosong, kecuali seorang perempuan berbaju aneh dibelakang konter.
Ini bukan tempat yang bagi Bella menarik—terlalu
hipies
untuk orang seperti dia. Aku
bertanya-tanya, apa dia bahkan repot-repot mau masuk?
Ada sebidang lahan yang terhalang matahari, bisa untuk tempatku parkir... Juga ada
jalur gelap yang langsung menuju ke toko itu. Aku seharusnya tidak melakukannya,
berkeliaran ketika matahari masih bersinar itu tidak aman. Bagaimana jika ada mobil lewat
yang memantulkan cahaya matahari di waktu yang salah?
Tapi aku tidak tahu lagi bagaimana caranya mencari Bella!
Aku parkir dan langsung keluar, tetap berada dibalik bayang-bayang. Aku melangkah
cepat-cepat menuju toko itu, ada sedikit sisa aroma Bella di udara. Dia sempat kesini, di
trotoar, tapi tidak ada tanda-tanda aromanya di dalam toko.
171
“Selamat datang! Ada yang bisa saya bantu—” sapa penjaga toko itu, tapi aku sudah
keluar lagi.
Aku mengikuti bau Bella sejauh bayangan gedung-gedung, berhenti ketika tiba di tubir
cahaya matahari.
Betapa tidak berdayanya aku—terpenjara oleh seberkas sinar yang melintang di trotar
di depanku. Terkungkung.
Aku cuma bisa menebak dia terus jalan menuju ke utara. Tidak terlalu banyak yang bisa
dilihat disana. Apa dia tersesat?
Well
, kemungkinan itu tidak terlalu mengherankan.
Aku kembali ke mobil dan menyusuri jalanan itu pelan- pelan, mencari-cari dia. Aku
keluar tiap menemukan sisi gelap yang terhalang matahari, tapi hanya sempat satu kali
menangkap aromanya, dan arahnya membingungkan aku. Dia berencana mau kemana?
Aku bolak-balik antara toko buku dan restoran beberapa kali, berharap melihatnya di
jalanan. Jessica dan Angela sudah sampai di restoran, berusaha memutuskan apa akan
langsung memesan atau menunggu Bella dulu. Jessica memaksa untuk memesan secepatnya.
Aku mulai berganti-ganti melihat ke pikiran orang-orang asing, mencari lewat mata
mereka. Pastilah seseorang sempat melihat dia di suatu tempat.
Makin lama dia hilang aku semakin waswas dibuatnya. Tidak pernah terpikir
sebelumnya betapa sulitnya mencari dia. Seperti sekarang, dia hilang dari pengawasanku, dan
keluar dari jalur normal orang-orang. Aku tidak suka ini.
Awan-awan mulai berkumpul di horizon. Beberapa menit lagi, aku akan bebas
mencarinya di luar. Kalau sudah begitu tidak akan memakan waktu lama. Sinar matahari lah
yang membuatku tak berdaya. Hanya beberapa menit lagi, kemudian keuntungan akan berada
di pihakku lagi dan manusia lah yang tidak berdaya.
Pikiran satu ke pikiran lainnya. Ada begitu banyak pikiran-pikiran sepele.
...
kurasa anakku telinganya infeksi lagi...
Apakah enam-empat-kosong atau enam-kosong-empat...?
Terlambat lagi. Aku mesti memberitahunya...
Ini dia datang! Aha!
Itu dia wajahnya. Akhirnya seseorang menyadari dia!
Kelegaanku hanya berlangsung sepersekian detik, karena kemudian aku membaca lebih
172
jauh pikiran pria yang memandang penuh nafsu ke wajahnya di tengah keremangan.
Itu pikiran orang asing, tapi tidak sepenuhnya asing. Dulu aku pernah memburu orang-
orang dengan pikiran seperti ini.
“TIDAK!” teriakku, dan geraman panjang keluar dari tenggorokanku. Kakiku
menginjak pedal gas dalam-dalam, tapi kemana tujuanku?
Aku cuma tahu kira-kira lokasi pikirannya, tapi tidak tahu pasti persisnya. Sesuatu,
pasti ada sesuatu—nama jalan, plang toko, sesuatu dalam pandangannya yang bisa
menunjukan keberadaannya. Tapi Bella tenggelam di balik bayang-bayang, dan mata pria itu
hanya fokus ke ekspresi takut Bella—menikmati ketakutannya.
Wajah Bella jadi buram di pikirannya, terselimuti ingatan wajah-wajah lainnya. Bella
bukan korban pertamanya.
Suara geramanku menggetarkan kaca mobil, tapi tidak mengalihkan perhatianku.
Tidak ada jendela-jendela di tembok di belakang Bella. Di sekitar daerah industri, jauh
dari lokasi pertokoan yang ramai. Mobilku mendecit membelok di pertigaan. Pada saat
pengemudi lain membunyikan klakson, suaranya sudah jauh di belakangku.
Coba lihat bagaimana dia gemetaran!
Orang itu terkekeh. Ekspresi ngerilah yang ia
cari—bagian yang ia nikmati.
“Pergi dariku.”
Suara Bella rendah dan tenang, bukan jeritan.
“Jangan seperti itu manis.”
Pria itu menoleh ke suara tawa kasar yang berasal dari jurusan lain. Keributan itu
membuatnya marah—
diam, Jeff!
batinnya—tapi dia senang melihat Bella menjengit kaget.
Itu membuatnya bergairah. Dia membayangkan bagaimana Bella akan memohon-mohon...
Aku tidak menyadari masih ada tambahan satu orang lagi sampai mendengar suara
tawanya menyusul si Jeff tadi. Aku pindah ke pikiran orang itu, putus asa mencari sesuatu
yang bisa dijadikan petunjuk. Dia melangkah ke arah Bella, melenturkan tangannya.
Pikiran dua orang itu tidak sebusuk yang pertama. Mereka tidak menyadari seberapa
jauh orang yang mereka panggil Lonnie itu akan berbuat. Mereka asal mengikuti Lonnie.
Mereka dijanjikan akan bersenang-senang...
Satu dari mereka memandang ke ujung jalan dengan gugup—dia tidak ingin kepergok
sedang melecehkan seorang perempuan—dan itu memberi tahu apa yang kubutuhkan. Aku
173
mengenali perempatan yang ia lihat.
Aku langsung menerabas lampu merah, memotong diantara celah sempit diantara dua
mobil yang melintas. Bunyi klakson nyaring di belakangku.
Teleponku bergetar di kantong. Tidak kugubris.
Lonnie maju pelan-pelan ke arah Bella, sengaja membikin tegang—saat- saat penuh
teror membangunkan minatnya. Dia menunggu Bella menjerit, siap-siap untuk
menikmatinya.
Tapi Bella mengunci rahangnya rapat-rapat. Orang itu terkejut—dia berharap Bella
akan mencoba untuk lari. Terkejut dan agak kecewa. Dia suka jika harus mengejar
mangsanya, ketegangan dari berburu.
Y
ang ini pemberani. Barangkali lebih baik...akan lebih ada perlawanan.
Aku tinggal satu blok lagi. Monster itu bisa mendengar raungan mesinku, tapi tidak
mempedulikannya, dia terlalu memperhatikan korbannya.
Aku ingin melihat bagaimana dia menikmati perburuan ketika dialah mangsanya. Aku
ingin melihat bagaimana pendapatnya tentang gaya berburu
ku.
Di bagian lain dalam kepalaku, aku sudah mendata berbagai bentuk siksaan yang
pernah kusaksikan selama masa perang dulu, mencari yang paling menyakitkan. Dia harus
menderita atas hal ini. Dia harus betul-betul tersiksa. Yang lainnya hanya akan mati karena
ikut membantu. Tapi si monster bernama
Lonnie
ini tidak akan mati secepat itu. Dia akan
memohon-mohon, tapi tidak akan segera kukabulkan.
Dia ada di tengah jalan, menyudutkan Bella.
Dengan ngebut aku membelok di pojokan hingga mobiku terbanting kesamping.
Lampu sorotku menerangi mereka, membuat mereka terloncat kaget. Aku bisa saja
menerjang si pemimpinnya, tapi kematian itu akan terlalu cepat.
Aku langsung membanting kemudi hingga mobilku berputar dan berbalik arah, dengan
begitu pintu penumpangnya lebih dekat dengan posisi Bella. Aku segera membukanya, dan ia
sudah lari menuju mobilku.
“Cepat masuk,” teriakku setengah menggeram.
Apa-apan ini?
Aku tahu ini ide yang buruk! Dia tidak sendirian.
174
Harus kah aku lari?
Sepertinya aku mau muntah...
Tanpa ragu-ragu Bella meloncat masuk, membanting pintu di belakangnya.
Dan kemudian ia menatapku dengan pandangan paling percaya yang pernah kulihat,
dan segala rencana kejiku langsung runtuh.
Butuh waktu tidak sampai sedetik untuk menyadari bahwa aku tidak akan sanggup
meninggalkan dia sendirian di mobil sementara aku memberi perhitungan dengan empat
orang tadi. Apa yang akan kukatakan padanya, jangan melihat? Ha! Kapan dia pernah
menuruti yang kuminta? Kapan dia pernah melakukan tindakan yang aman?
Mungkinkah aku menggiring mereka pergi, menjauh dari Bella, dan meninggalkan dia
sendirian disini? Hampir tidak mungkin ada penjahat lain yang berkeliaran di Port Angeles
malam ini, tapi yang pertama tadi juga hampir tidak mungkin! Seperti magnet, dia menarik
segala bahaya menuju ke arahnya. Dia tidak boleh lepas dari pengawasanku.
Sepertinya, sebagian ekspresi Bella mirip dengan para penjahat tadi saat aku
membawanya pergi begitu cepat, ternganga bingung. Dia tidak menyadari kebimbanganku
yang sekejap tadi. Dia akan mengira sedari awal rencananya memang akan melarikan diri.
Aku bahkan tidak sanggup menerjang mereka. Itu akan membuat dia ngeri.
Keinginanku untuk membunuh monster itu begitu hebatnya hingga mendengingkan
telingaku dan mengaburkan penglihatanku, dan sampai terasa di lidahku. Otot-ototku
menegang, memohon untuk segera dilampiaskan. Aku
harus
membunuhnya. Aku akan
mengulitinya pelan-pelan, sedikit demi sedikit, kulit dari dagingnya, daging dari tulangnya...
Kecuali bahwa sang gadis—satu-satunya gadis di dunia ini—sedang mencengkram
kursinya dengan dua tangan, menatap ke arahku. Matanya masih lebar dan sepenuhnya
percaya. Balas dendam mesti menunggu.
“Pakai sabuk pengamanmu,” perintahku. Suaraku kasar, sarat kebencian dan haus
darah. Bukan haus darah yang biasanya. Aku tidak sudi menodai diriku dengan memasukan
bagian dari monster itu ke badanku.
Bella memasang sabuk pengamannya, berjengit ketika mendengar suaranya. Bunyi
kecil seperti itu membuatnya terloncat, namun dia bergeming saat aku membawanya pergi
dengan ngebut, melanggar semua rambu lalu lintas. Bisa kurasakan pandangannya padaku.
175
Anehnya, dia kelihatan tenang. Bagiku itu tidak masuk akal—tidak dengan apa yang baru
saja dialami.
“Apa kau baik-baik saja?” tanyanya dengan suara berat karena tertekan dan takut.
Dia
ingin tahu apa
aku
baik-baik saja?
Aku memikirkan pertanyaannya selama sepersekian detik, tidak cukup lama baginya
untuk menyadari kebimbanganku.
Baik-baik saja
kah
aku?
“Tidak,” aku menyadari. Nadaku menggelegak marah.
Aku membawanya ke jalanan sepi, tempatku menunggu tadi. Sekarang gelap gulita.
Rerimbunan pohon di pinggir jalan.
Aku sangat murka hingga tubuhku membeku di tempat, sepenuhnya tidak bergerak.
Tangan dinginku yang terkunci, gatal ingin meremukkan penyerang gadis ini, untuk
mencincangnya kecil-kecil hingga badannya tidak mungkin dikenali...
Tapi itu berarti meninggalkannya sendirian disini, tidak terlindungi di tengah
kegelapan.
“Bella?” tanyaku dari sela-sela gigi.
“Ya?” jawabnya dengan suara parau. Dia berdeham pelan.
“Apa kau baik-baik saja?” Itu betul-betul hal yang paling penting. Prioritas pertama.
Pembalasan adalah hal yang kedua. Aku
tahu
itu, tapi badanku begitu dipenuhi amarah
hingga membuatku sulit untuk berpikir.
“Iya.” Suaranya masih pekat—karena takut, tidak salah lagi.
Dengan demikian aku tidak bisa meninggalkannya.
Bahkan seandainya dia tidak selalu berada dalam bahaya karena alasan yang tidak
masuk akal—karena lelucon tidak bertanggung jawab untuk mempermainkan diriku—,
bahkan jika aku bisa
yakin
dia akan sepenuhnya baik-baik saja selama aku tidak ada, aku
tetap tidak akan membiarkannya sendirian di tengah kegelapan.
Dia pasti sangat ketakutan.
Namun tetap saja, aku tidak sedang dalam kondisi yang sanggup untuk menenangkan
dia—bahkan itu jika aku tahu bagaimana car a menenangkan dia, yang aku tidak tahu. Pasti
dia merasakan hawa kekejaman keluar dariku. Itu pasti kentara sekali. Aku akan semakin
membuatnya takut jika tidak sanggup mendinginkan nafsu membunuh yang mendidih dalam
176
diriku.
Aku mesti memikikirkan sesuatu yang lain.
“Tolong alihkan perhatianku,” pohonku padanya.
“Maaf, apa?”
Hampir aku tidak sanggup menjelaskan yang kumaksud.
“Coba ceritakan sesuatu yang sepele sampai aku tenang.” Rahangku masih terkatup
rapat. Hanya karena dia membutuhkan aku, aku tetap bertahan di mobil. Aku masih bisa
mendengar pikiran orang itu, kecewa dan marah... Aku tahu dimana menemukannya...
Kupejamkan mata, berharap tidak bisa menemukannya.
“Mmm...” dia ragu-ragu—sepertinya berusaha memahami permintaanku. “Aku ingin
melindas Tyler Crowley besok sebelum masuk sekolah?” Dia mengatakannya seakan itu
sebuah pertanyaan.
Ya—inilah yang kubutuhkan. Tentu saja Bella akan mengatakan sesuatu yang tidak
kukira. Seperti sebelumnya, ancaman yang keluar dari bibirnya begitu menggelikan. Jika aku
tidak sedang terbakar oleh nafsu membunuh, pasti aku sudah tertawa.
“Kenapa?” tukasku, memaksanya untuk bicara lagi.
“Dia memberitahu semua orang bahwa ia akan mengajakku ke pesta prom,” suaranya
diliputi kegeraman seperti kucing-manis, khas dirinya. “Entah dia gila atau dia masih
mencoba menebus kesalahannya karena hampir membunuhku tempo...
well,
kau pasti ingat,”
tambahnya dengan nada datar. “Dan dia pikir pesta
prom
cara yang tepat. Jadi setelah
kuhitung-hitung, kalau aku membahayakan hidupnya, berarti kedudukan kami seri, dan dia
tidak perlu terus-menerus memperbaiki hubungan. Aku tidak butuh musuh dan barangkali
Lauren akan bersikap biasa kalau Tyler menjauhiki. Meski begitu aku mungkin perlu
menghancurkan mobil Sentranya.” Dia melanjutkan, kali ini penuh pertimbangan, “kalau
tidak punya mobil, berarti dia tidak bisa mengajak siapa-siapa ke
prom
...”
Rasanya menyenangkan, sekali-kali melihat di salah. Kegigihan Tyler tidak ada
hubungannya dengan insiden waktu itu. Bella tidak menyadari daya tarik dirinya di mata
bocah-bocah di seantero sekolahan. Dan apa dia juga tidak melihat efek daya tariknya
padaku?
Ah, itu manjur. Ketidak wajaran proses berpikirnya selalu mengasyikan. Aku mulai bisa
177
mengendalikan diri, untuk memikirkan selain balas dendam dan penyiksaan...
“Aku sudah mendengar tentang itu,” kataku padanya. Dia berhenti bicara. Padahal aku
butuh dia meneruskannya.
“
Kau
sudah mendengarnya?” tanyanya heran. Suaranya pun jadi lebih marah. “Jika dia
lumpuh dari leher kebawah, dia tidak akan bisa ke prom.”
Kuharap, entah bagaimana, aku bisa minta dia terus bicara tentang mengancam dan
melukai tanpa harus kedengaran gila. Dia tidak bisa memilih cara lain yang lebih baik untuk
menenangkan diriku. Dan perkataannya—ungkapan sarkasme dan hiperbolanya—pengingat
yang kubutuhkan di saat seperti ini.
Aku menghela napas dan membuka mata.
“Lebih baik?” tanyanya takut-takut.
“Tidak terlalu.”
Tidak, aku lebih tenang, tapi tidak lebih baik. Itu karena aku sadar tidak dapat
membunuh monster bernama Lonnie itu, padahal aku masih menginginkannya hampir
melebihi segalanya di dunia. Hampir.
Satu-satunya yang saat ini kubutuhkan melebihi keinginan membunuhku adalah gadis
ini. Meski aku tidak bisa mendapatkan dia, dan hanya bisa memimpikannya saja, berhasil
mencegahku untuk berkeliaran sebagai seoerang pembunuh nanti malam.
Bella layak mendapatkan lebih dari sekedar seorang pembunuh.
Aku menghabiskan tujuh dekade berusaha menjadi lebih dari itu—apapun selain
seorang pembunuh. Dan tujuh dekade itu tetap tidak membuatku layak atas gadis yang duduk
disampingku ini. Dan jika aku kembali ke kehidupan itu—kehidupan seorang pembunuh—
bahkan jika cuma untuk sehari, sudah pasti akan membuat gadis ini berada diluar
jangkauanku selamanya. Bahkan jika aku tidak meminum darahnya—bahkan jika aku tidak
meninggalkan bukti merah menyala di mataku—akankah dia melihat perbedaannya?
Aku berusaha untuk bisa jadi lebih pantas. Aku tahu, itu tujuan yang mustahil, tapi aku
tetap akan berusaha.
“Apa yang terjadi?” bisiknya.
Napasnya memenuhi penciumanku, dan aku diingatkan kenapa aku tidak mungkin
layak baginya. Setelah semua kejadian ini, bahkan dengan segala perasaan sayangku
178
padanya...dia masih membuatku meneteskan liur.
Aku akan mengatakan sejujur yang kubisa. Aku hutang itu padanya.
“Kadang-kadang aku punya masalah dengan emosiku, Bella.” Aku menatap keluar, ke
kegelapan malam, berharap dia mendengar kengerian yang terkandung dalam perkataanku,
tapi sekaligus berharap dia tidak mendengarnya. Seringkali dia tidak mendengarnya.
Lari,
Bella, lari. Tinggal, Bella, tinggal.
“Tapi
tidak
akan menolong bila aku berbalik dan
memburu...” Hanya memikirkannya hampir membuatku keluar dari mobil. Aku menarik
napas dalam-dalam, membiarkan aromanya membakar tenggorokanku. “Setidaknya itu yang
coba kukatakan pada diriku sendiri.”
“Oh.”
Dia tidak mengatakan apa-apa lagi. Seberapa banyak yang ia dengar? Aku melir ik
diam-diam, tapi wajahnya tidak ketebak. Kosong karena syok, barangkali. Paling tidak dia
tidak menjerit. Belum.
Selama beberapa waktu kami diam. Aku berperang dengan diriku sendiri, berusaha
menjadi apa yang seharusnya. Sesuatu yang tidak aku bisa.
“Jessica dan Angela pasti khawatir,” ucapnya pelan. Suaranya sangat tenang. Aku tidak
yakin bagaimana dia bisa begitu. Apa saking syoknya? Atau, barangkali kejadian malam ini
belum mengendap dalam pikirannya. “Aku seharusnya menemui mereka,” ucapnya lagi.
Apa dia ingin menjauh dariku? Atau dia cuma tidak ingin teman-temannya
mencemaskan dia?
Tanpa berkata apa-apa aku menyalakan mobil dan mengantarnya. Semakin dekat ke
kota, semakin sulit untuk bertahan pada tujuanku. Aku begitu
dekat
dengan berandalan itu...
Jika itu mustahil—jika memang tidak mungkin mendapatkan, atau pantas, atas gadis ini
—maka apa alasannya membiarkan orang itu tidak dihukum? Tentu aku bisa membolehkan
diriku jika kondisinya seperti itu...
Tidak. Aku tidak menyerah. Belum. Aku terlalu mengiginkan Bella untuk menyerah.
Kami sudah tiba di restor an sebelum sempat menyelesaikan pikiranku. Jessica dan
Angela sudah selesai makan. Sekarang keduanya benar-benar mencemaskan Bella. Mereka
sudah mau mulai mencarinya, menuju jalanan yang gelap.
Ini bukan malam yang tepat bagi mereka untuk berkeliaran—
179
“Bagaimana kau bisa tahu dimana...?” Pertanyaan Bella yang tidak selesai menyelaku,
dan aku sadar lagi-lagi telah bertindak ceroboh. Aku terlalu sibuk dengan pikir anku hingga
lupa bertanya dimana dia mesti bertemu dengan teman-temannya.
Tapi, alih-alih mencecarku dengan pertanyaan, Bella cuma menggeleng dan setengah
tersenyum.
Apa
itu
maksudnya?
Well
, aku tidak punya waktu untuk memikirkan penerimaan anehnya atas pengetahuan
anehku. Aku membuka pintuku.
“Apa yang kau lakukan?” tanyanya, kedengarannya kaget.
Tidak membiarkan kau lepas dari pengawasanku. Tidak membiarkan diriku sendirian
malam ini. Dengan urutan seperti itu.
“Mengajakmu makan malam.”
Baiklah ini akan menarik. Sepertinya akan sangat berbeda dengan bayangan akan
mengajak Alice dan pura-pura secara tidak sengaja memilih restoran yang sama. Dan kini,
disinilah aku, bisa dibilang kencan dengannya. Hanya saja ini tidak masuk hitungan, karena
aku tidak memberinya kesempatan untuk menolak.
Dia sudah setengah membuka pintunya sebelum aku memutar lewat depan—biasanya
aku tidak sefrustasi ini saat harus bergerak secara wajar—dan bukannya menungguku untuk
membukakan pintu. Apa ini karena dia tidak terbiasa diperlakukan seperti seorang
perempuan terhormat, atau karena dia tidak menganggapku sebagai seorang laki-laki
terhormat?
Aku menunggunya menyusulku, yang makin waswas saat teman-temannya mulai
masuk ke lorong gelap.
“Cepat hentikan Jessica dan Angela sebelum aku harus mencari mereka juga,”
perintahku cepat-cepat. “Kurasa aku tidak akan sanggup menahan diriku kalau bertemu
berandalan-berandalan itu lagi.” Tidak, aku tidak akan cukup kuat untuk itu.
Dia gemetar, tapi kemudian cepat-cepat menguasai diri. Dia mengejar mereka
kemudian berteriak, “Jess! Angela!” dengan suara keras. Mereka menoleh, dan Bella
melambaikan tangan kearah mereka.
Bella! Oh, dia aman!
Pikir Angela lega.
Setelat ini?
Jessica menggerutu sendiri, tapi juga bersyukur karena Bella baik-baik saja.
180
Ini membuatku sedikit lebih menyukai dia.
Mereka buru-buru kembali, dan kemudian terhenti, syok, ketika melihatku
disampingnya.
Eh-oh!
Pikiran Jessica kalang kabut.
Tidak mungkin!
Edward Cullen? Apa Bella pergi sendirian untuk mencari dia? Tapi kenapa Bella
menanyakan kepergian mereka keluar kota jika Bella tahu dia ada disini...
Aku menangkap
sekelebatan ekspresi malu-malu Bella ketika menanyakan Angela apakah keluargaku sering
absen dari sekolah.
Tidak, Bella tidak mungkin tahu.
Pikir Angela kemudian.
Pikiran Jessica beralih dari terkejut jadi curiga.
Bella menutup-nutupi sesuatu dariku.
“Aku tersesat. Dan kemudian aku berpapasan dengan Edward,” ujar Bella sambil
menunjuk kearahku. Nadanya luar biasa normal, seakan itu sepenuhnya yang terjadi.
Pikirannya pasti syok. Itu satu-satunya penjelasan kenapa dia begitu tenang.
“Bolehkah aku bergabung dengan kalian?” tanyaku bersikap sopan; aku tahu mereka
sudah makan.
Ya ampun, dia keren banget!
Batin Jessica. Mendadak pikirannya tidak karuan.
Angela juga tidak terlalu berbeda.
Coba tadi tidak makan duluan. Wow. Tapi. Wow.
Nah, kenapa juga aku tidak bisa melakukan seperti itu pada Bella?
“Eh...tentu saja,” Jessica setuju.
Angela mengerutkan dahi. “Mmm, sebetulnya, Bella, kami sudah makan ketika
menunggu tadi,” dia mengakui. “Sori.”
Apa? Diam!
Protes Jessica dalam hati.
Bella mengangkat bahu dengan santai. Begitu tenang. Pasti memang syok. “Tidak apa-
apa—lagi pula aku tidak lapar.”
“Kurasa kau tetap butuh makan sesuatu.” Aku tidak sependapat. Dia membutuhkan
gula di aliran darahnya—meski begini saja sudah terasa manis, pikirku masam. Sebentar lagi
serangan syoknya akan muncul ke permukaan, dan perut kosong tidak akan membantu. Dia
mudah pingsan, berdasar pengalaman yang lalu.
Teman-temannya tidak berada dalam bahaya jika mereka langsung pulang. Bukan
mereka
yang dikuntit oleh bahaya
.
Lagipula aku lebih memilih berdua saja dengan Bella—selama dia tidak keberatan.
181
“Apakah kalian keberatan jika nanti aku saja yang mengantar Bella pulang?” tanyaku
pada Jessica sebelum Bella bisa merespon. “Dengan begitu kalian tidak perlu menunggu dia
makan.”
“Eh, tidak masalah, kurasa...” Jessica menatap kelat-lekat pada Bella, mencari tanda-
tanda bahwa inilah yang ia inginkan.
Aku tidak mau pergi...tapi barangkali Bella menginginkan Edward untuk dirinya
sendiri. Siapa yang tidak akan begitu?
batin Jess. Pada saat bersamaan, dia melihat Bella
mengedip.
Bella
mengedip
?
“Oke,” ujar Angela cepat, ingin segera menyingkir jika memang itu yang Bella mau.
Dan kelihatannya memang itulah yang dia mau. “Sampai ketemu besok, Bella...Edward.”
Angela berjuang mengucapkan namaku dengan nada santai. Kemudian ia menyambar tangan
Jessica dan menyeretnya pergi.
Aku harus mencari cara untuk berterima kasih pada Angela.
Mobil Jessica berada tidak jauh, diparkir dibawah lampu jalan. Bella mengawasi
mereka dengan seksama—sedikit kerut prihatin terlihat diantara matanya—sampai mereka
masuk ke mobil. Jadi dia pasti sepenuhnya sadar atas bahaya yang menimpanya tadi. Jessica
melambai saat pergi, dan Bella melambai balik. Baru setelah mobilnya lenyap, ia menarik
napas dalam-dalam dan menoleh ke arahku.
“Jujur saja aku tidak lapar,” katanya padaku.
Kenapa dia harus menunggu mereka pergi baru bicara? Mungkinkah dia betul-betul
ingin berduaan saja denganku—bahkan sekarang, setelah menyaksikan nafsu membunuhku?
Entah itu masalahnya atau bukan, dia perlu makan sesuatu.
“Kalau begitu, hibur aku.”
Kubukakan pintu restoran untuknya.
Aku berjalan di sisinya menuju ke tempat penerima tamu. Bella kelihatannya masih
menutup diri. Aku ingin menyentuh tangannya, keningnya, untuk mengecek suhu badannya.
Tapi tangan dinginku hanya akan ditolaknya, seperti yang lalu.
Ya ampun,
pikiran penerima tamu itu menyelinap kedalam kesadaranku.
Oh, ya ampun.
Sepertinya ini malam keberuntunganku. Atau, aku hanya menyadarinya lebih karena
182
sangat berhar ap bahwa Bella akan memandangku seperti itu? Kami selalu terlihat menarik
bagi mangsa kami. Aku belum pernah terlalu memikirkan tentang itu sebelumnya. Biasanya
—kecuali pada orang-orang seperti Ms. Cope dan Jessica Stanley, yang berusaha keras
menumpulkan ketakutannya—rasa takut langsung melanda setelah daya tarik awal...
“Meja untuk dua orang?” kataku pelan ketika penerima tamu itu tidak juga bicara.
“Oh, eh, iya. Selamat datang di La Bella Italia.”
Hmm! Suaranya!
“Silahkan ikuti
saya.” Pikirannya sedang menebak-nebak.
Barangkali dia sepupunya. Gadis ini tidak mungkin adiknya, mereka sama sekali tidak
mirip. Tapi keluarga, pasti itu. Dia tidak mungkin berkencan dengannya.
Mata manusia memang kabur; Mereka sama sekali tidak melihat dengan jelas.
Bagaimana bisa perempuan picik ini menilai daya tarik fisikku—perangkap bagi mangsaku
—begitu menarik, namun tidak dapat melihat kesempurnaan yang lembut pada gadis di
sampingku ini?
Well, lebih baik tidak usah mengambil resiko,
batin penerima tamu itu saat membawa
kami ke sebuah meja di tengah ruangan yang paling ramai.
Bisakah aku memberikan nomer
teleponku selama ada gadis itu...?
Aku mengambil selembar uang dari kantongku. Orang-orang jadi sangat kooperatif jika
uang dilibatkan.
Tanpa ambil pusing, Bella sudah duduk di meja yang ditunjuk. Aku menggeleng, dan
dia jadi ragu, menelengkan kepala penasaran. Ya, dia akan sangat penasaran malam ini.
Keramaian bukan tempat yang cocok untuk pembicaraan seperti itu.
“Barangkali ada tempat yang lebih pribadi?” pintaku pada si penerima tamu sembari
menyodorkan uangku. Matanya melebar terkejut, kemudian menyipit saat tangannya
mengambil uang tip itu.
“Tentu saja.”
Dia mengintip uang itu saat mengantar kami memutari dinding pemisah.
Lima puluh dolar untuk meja yang lebih baik? Dia juga kaya. Itu masuk akal—berani
taruhan pasti harga jaketnya lebih mahal dari gajiku. Sialan. Kenapa juga dia mau tempat
yang lebih privasi bersama gadis ini?
Dia menawari kami sebuah bilik di pojokan yang sepi, dimana tidak ada orang yang
183
akan melihat kami—untuk melihat reaksi Bella atas apapun yang akan kusampaikan. Aku
sama sekali tidak tahu apa yang akan dia tanyakan nanti. Atau, apa yang akan kuceritakan.
Seberapa banyak yang bisa ia tebak? Apa penjelasan dari kejadian tadi, yang ia ceritkan
pada dirinya sendiri?
“Bagaimana kalau disini?” tanya penerima tamu itu.
“Sempurna,” kataku dengan perasaan terganggu karena sikap tidak sopannya pada
Bella. Aku tersenyum lebar-lebar ke dia, menunjukan seluruh baris gigiku. Biar dia lihat
siapa diriku sebenarnya.
Wow.
“Mmm...pelayan kalian akan segera datang.”
Dia tidak mungkin nyata. Ini pasti
mimpi. Barangkali gadis itu akan hilang...mungkin aku akan menulis nomer teleponku di
piringnya memakai saos...
Dia berlalu dengan langkah sempoyongan.
Aneh. Dia masih tidak takut. Aku jadi ingat Emmet pernah menggodaku di kafetaria
beberapa waktu lalu.
Berani taruhan aku bisa menakuti dia lebih dari itu.
Apa aku kehilangan kemampuanku yang satu itu?
“Seharusnya kau tidak melakukan itu pada orang-orang,” Bella menyela pikiranku
dengan nada tidak setuju. “Tidak adil.”
Aku memperhatikan ekspresinya. Yang dia maksud apa? Aku tidak menakut-nakuti
perempuan tadi, meski itu yang kuinginkan. “Melakukan apa?”
“Membuat mereka terpesona seperti itu—barangkali sekarang dia sedang sesak napas
di dapur.”
Hmm. Bella hampir betul. Penerima tamu itu bisa dibilang setengah linglung saat ini,
menggambarkan penilaiannya yang keliru tentang diriku pada temannya yang pelayan.
“Oh, yang benar saja,” Bella mencemoohku ketika aku tidak langsung menjawab. “Kau
pasti
tahu bagaimana reaksi orang terhadapmu.”
“Aku membuat orang terpesona?” Itu istilah yang menarik untuk mendeskripsikannya.
Cukup akurat untuk malam ini. Aku bertanya-tanya, kenapa berbeda dengan...
“Kau tidak menyadarinya?” tanya Bella masih tidak percaya. “Kau pikir orang bisa jadi
seperti itu dengan mudahnya?”
“Apa aku membuatmu terpesona?” Aku langsung mengucapkannya begitu saja, dan
sudah terlambat untuk menariknya kembali.
184
Tapi, sebelum aku sempat menyesalinya, dia sudah menjawab, “sering kali.” Dan
pipinya bersemu merah muda.
Aku membuat dia terpesona.
Jantungku yang mati membusung oleh harapan yang lebih besar dari apapun yang
pernah kurasakan.
“Halo,” sapa seseorang. Seorang pelayan memperkenalkan dir inya. Pikirannya nyaring
sekali, dan lebih ekplisit dari penerima tamu tadi, tapi kukecilkan volumenya. Alih-alih
mendengarkan, aku menatap wajah Bella, melihat darahnya mengalir dibawah kulitnya.
Kuabaikan bagaimana itu membakar tenggorokanku, perhatianku lebih tertuju bagaimana itu
membuat terang wajah pucatnya, bagaimana itu melenyapkan
cream
pada kulitnya...
Si pelayan masih menunggu pesananku. Ah, dia minta pesanan minum kami. Aku tidak
peduli dan terus saja memandangi Bella. Akhirnya si pelayan dengan enggan ganti menoleh
ke Bella.
“Boleh saya minta coke?” tanya Bella, seakan minta persetujuan.
“Dua coke,” aku meralat. Haus—rasa haus manusia—adalah tanda-tanda syok. Akan
kupastikan dia punya cukup gula dari soda pada sistem pencernaan tubuhnya.
Meski begitu dia terlihat sehat. Lebih dari sehat bahkan. Dia terlihat bercahaya.
“Apa?” tanyanya—sepertinya bertanya-tanya kenapa aku memperhatikan dia. Samar-
samar aku sadar pelayan itu telah pergi.
“Bagaimana perasaanmu?” tanyaku.
Dia mengerjap, terkejut oleh pertanyaanku. “Aku baik-baik saja.”
“Kau tidak merasa pusing, sakit, kedinginan?”
Sekarang dia bahkan jadi lebih bingung. “Haruskah begitu?”
“
Well
, sebetulnya aku menunggumu syok.” Aku setengah tersenyum, menantikan
sangkalannya. Dia tidak akan mau diperhatikan.
Butuh semenit baginya untuk menjawab. Matanya berubah agak tidak fokus. Kadang-
kadang dia terlihat seperti itu, ketika aku tersenyum padanya. Apakah dia...terpesona?
Aku sangat ingin mempercayai itu.
“Kurasa itu tidak akan terjadi. Aku selalu bisa menguasai diri jika terjadi sesuatu yang
tidak menyenangkan,” jawabnya, sedikit kehabisan napas.
185
Berarti, apa dia sering mengalami kejadian-kejadian buruk? Apa hidupnya selalu penuh
resiko seperti ini?
“Sama,” ujarku. “Aku akan merasa lebih baik jika kau sudah cukup mengkonsumsi
minuman atau makanan yang manis-manis.”
Si pelayan kembali dengan membawa dua coke dan sekeranjang roti. Dia menaruhnya
didepanku, dan menanyakan pesananku sambil berusaha menatap mataku. Aku memberi
tanda agar dia seharusnya melayani Bella, dan kembali mengecilkan volume suara
pikirannya. Isi pikirannya vulgar.
“Mmm...” Bella melirik sekilas ke menu. “Aku pesan jamur ravioli.”
Si pelayan cepat-cepat berpaling padaku. “Dan anda?”
“Aku tidak pesan apa-apa.”
Bella membuat ekspresi datar. Hmm. Dia pasti menyadari bahwa aku tidak pernah
makan. Dia menyadari semuanya. Dan aku selalu lupa untuk berhati-hati di depannya.
Aku menunggu hingga kami sendirian lagi.
“Minumlah,” aku memaksa.
Aku terkejut ketika ia langsung menurut. Dia minum sampai gelasnya kosong, jadi
kudorong gelas kedua padanya. Dahiku sedikit mengerut. Haus, atau syok?
Dia minum lagi sedikit, kemudian sempat menggigil.
“Kau kedinginan?”
“Ini cuma karena cokenya,” tapi dia gemetar lagi, bibirnya ikut menggigil seakan
giginya akan menggemeretak.
Blus cantik yang ia pakai terlihat terlalu tipis untuk bisa melindungi tubuhnya; blus itu
menggantung seperti kulit kedua, hampir serapuh kulit aslinya. Dia terlihat sangat lemah,
sangat manusia. “Kau tidak punya jaket?”
“Punya.” Dia mencari-cari bingung. “Oh—ketinggalan di mobil Jessica.”
Kucopot jaketku, berharap suhu tubuhku tidak terlalu berpengaruh. Seharusnya akan
lebih menyenangkan jika bisa menawarinya jaket yang hangat. Dia menatapku, pipinya
merona lagi. Apa yang sedang ia pikirkan sekarang?
Kuserahkan jaketku ke seberang meja, dan ia langsung memakainya, kemudian
menggigil lagi.
186
Ya, akan lebih baik jika hangat.
“Terima kasih,” ujarnya. Dia mengambil napas dalam-dalam, lalu menarik lengan
jaketnya yang kepanjangan sampai tangannya muncul. Dia mengambil napas dalam-dalam
lagi.
Apakah kejadian tadi akhirnya mengendap juga? Warna kulitnya masih bagus; kulitnya
terlihat seperti susu dan mawar, jika dipadankan dengan warna biru-tua blusnya.
“Warna biru itu terlihat indah di kulitmu,” pujiku. Sekedar bersikap sopan.
Dia tersipu, menambah indah efeknya.
Dia kelihatan baik-baik saja, tapi tidak perlu mengambil resiko. Kudorong keranjang
roti itu ke arahnya.
“Sungguh,” dia menolak, menebak niatku. “Aku tidak merasa syok.”
“Seharusnya kau syok—orang
normal
akan begitu. Kau bahkan tidak terlihat
gemetaran.” Aku menatapnya, menolak pendapatnya, bertanya-tanya kenapa dia tidak bisa
jadi normal, kemudian sangsi jika aku memang ingin dia seperti itu.
“Aku merasa sangat aman denganmu,” ujarnya dengan tatapan penuh percaya. Rasa
percaya yang tidak pantas kudapatkan.
Instingnya sangat keliru—bertolak belakang. Pasti itu masalahnya. Dia tidak mengenali
bahaya seperti orang normal lainnya. Sikapnya bertolak belakang. Alih-alih lari, dia tinggal,
mendekati apa yang seharusnya membuat dia takut...
Bagaimana caranya aku bisa melindungi dia dariku ketika
tidak ada
satupun dari kita
yang menginginkannya?
“Ini lebih rumit dari yang kubayangkan,” gumamku.
Bisa kulihat dia berusaha mencerna perkataanku. Dan aku bertanya-tanya apa hasilnya.
Dia mengambil secuil roti dan mulai memakannya tanpa sepenuhnya sadar dengan
tindakannya. Dia mengunyah sebentar, lalu menelengkan kepala penuh pertimbangan.
“Biasanya suasana hatimu lebih baik ketika warna matamu terang,” ujarnya dengan
nada santai.
Pengamatannya membuatku terkesima. “Apa?”
“Kau selalu lebih pemarah ketika matamu berwarna hitam—tadi kupikir matamu
berubah kelam. Aku punya teori tentang itu.”
187
Jadi dia telah punya penjelasan sendiri. Tentu saja dia begitu. Aku jadi khawatir,
seberapa dekat pada kebenaran.
“Teori lagi?”
“Hmm-mm.” Dia mengunyah satu gigitan lagi, benar-benar tidak sadar, seakan tidak
sedang membahas tentang monster pada si monster sendiri.
“Kuharap kau lebih kreatif kali ini...” kataku bohong. Yang sesungguhnya, kuharap dia
salah—
meleset sangat jauh. “Atau kamu masih mengutip dari buku-buku komik?”
“
Well
, tidak, aku tidak mendapatkannya dari komik,” jawabnya agak malu. “Tapi aku
juga tidak menduga-duganya sendiri,”
“Dan?” tanyaku dari sela gigi.
Tentu dia tidak akan bicara setenang ini jika mau teriak.
Saat dia bimbang sambil menggigit bibirnya, si pelayan datang membawa pesanannya.
Aku tidak terlalu memperhatikan pelayan itu saat ia meletakan piringnya di depan Bella dan
bertanya padaku apa aku butuh sesuatu.
Aku menolak, tapi minta tambahan soda. Pelayan itu tidak menyadari gelas Bella yang
sudah kosong. Kemudian dia mengambilnya, dan pergi.
“Apa katamu tadi?” bisikku penasaran setelah kami sudah berdua lagi.
“Aku akan menceritakannya di mobil,” jawabnya pelan. Ah, ini pasti buruk. Dia tidak
mau membicarakan tebakannya di tengah orang banyak. “Kalau...” dia menambahkan tiba-
tiba.
“Ada syaratnya?” Aku begitu tegang hingga hampir menggeramkan kata-katanya.
“Tentu saja aku punya beberapa pertanyaan.”
“Tidak masalah.” Aku mengiyakan dengan suara parau.
Pertanyaan-pertanyaannya mungkin cukup memberiku petunjuk kemana arah
pikirannya. Tapi bagaimana aku mesti menjawabnya? Dengan kebohongan yang bertanggung
jawab? Atau aku mesti mengelak? Atau tidak menjawabnya sama sekali?
Kami duduk diam saat si pelayan mengisi kembali sodanya.
“
Well
, ayo mulai,” kataku dengan rahang terkunci ketika si pelayan sudah pergi.
“Kenapa kau berada di Port Angeles?”
Itu pertanyaan yang terlalu mudah—buat dia. Itu sama sekali tidak mengungkapkan isi
188
pikirannya, sedang jawabanku, jika yang sebenarnya, akan mengungkapkan terlalu banyak.
Biar dia mengungkapkan sesuatu dulu.
“Berikutnya,” sergahku.
“Tapi itu yang paling mudah,”
“Berikutnya,” kataku lagi.
Dia frustasi dengan penolakanku. Dia berpaling, menatap makanannya. Pelan-pelan,
sambil berpikir keras, dia menggigit dan mengunyah rotinya dengan penuh pertimbangan.
Dia menelannya dengan bantuan soda, dan akhirnya menatapku. Matanya menyipit curiga.
“Oke, kalau begitu,” katanya. “Katakan saja, secara hipotesis tentu saja, seseorang...
bisa mengetahui apa yang dipikirkan orang lain, membaca pikiran, kau tahu—dengan
beberapa pengecualian.”
Bisa saja lebih parah dari ini.
Ini menjelaskan senyum kecil di mobil tadi. Daya tangkapnya cepat. Belum pernah ada
orang yang bisa menebak kemampuanku, kecuali Carlisle. Itu jadi agak jelas karena pada
awalnya aku menjawab semua isi pikirannya seakan dia mengucapkannya padaku. Dia
mengerti duluan, sebelum aku...
Pertanyaannya tidak terlalu buruk. Dia sudah lebih dulu tahu ada yang tidak beres
dengan diriku, jadi ini tidak seburuk sebelumnya. Membaca pikiran, bagaimanapun, bukan
termasuk ciri-ciri vampir. Aku akan mengikuti hipotesisnya.
“Hanya
satu
pengecualian,” koreksiku. “Secara hipotesis.”
Dia menahan senyum—persetujuan samarku membuatnya senang.
“Baik kalau begitu, dengan satu pengecualian. Bagaimana cara kejranya? Apa saja
batasan-batasannya? Bagaimana bisa... seseorang... menemukan orang lain pada saat yang
tepat? Bagaimana kau bisa tahu dia sedang dalam kesulitan?”
“Secara hipotesis?”
“Tentu saja.” Bibirnya mengejang, mata coklat beningnya berharap penasaran.
“
Well
,” aku ragu-ragu. “Kalau.. seseorang itu...”
“Sebut saja dia Joe.” Dia menawarkan.
Aku jadi tersenyum melihat semangatnya. Apa dia betul-betul berpikir bahwa yang
sebenarnya adalah sesuatu yang baik? Apa tidak pernah terpikir, jika rahasiaku sesuatu yang
189
menyenangkan, buat apa selama ini merahasiakannya dari dia?
“Ya sudah.” akhirnya aku setuju. “Kalau Joe memerhatikan, pemilihan waktnya tak
perlu setepat itu.” Aku menggeleng, menahan untuk tidak gemetar pada pikiran bagaimana
hampir terlambatnya aku tadi. “Hanya
kau
yang bisa mendapat masalah di kota sekecil ini.
Kau bisa membuat angka tindak kriminal meningkat untuk kurun waktu satu dekade, kau
tahu itu.”
Sudut bibirnya turun, dan ia memberengut. “Kita sedang membicarakan kasus secara
hipotesis,”
Aku tertawa melihat kekesalannya.
Bibirnya, kulitnya... Terlihat sangat lembut. Aku ingin menyentuhnya. Aku ingin
menyentuh sudut birbirnya dengan ujung jariku dan mengembalikan senyumannya. Mustahil.
Kulitku akan menjijikan buat dia.
“Betul juga,” kataku kembali pada pembicaraan, sebelum aku jadi tertekan. “Bisakah
kita memanggilmu Jasmine?”
Dia mencondongkan tubuhnya di atas meja ke arahku, segala humor dan kesal hilang
dari matanya.
“Bagaimana kau bisa tahu?” tanyanya dengan suara rendah dan tajam.
Haruskah aku memberitahu yang sebenarnya? Dan, jika iya, seberapa banyak?
Aku ingin menceritakannya ke dia. Aku ingin merasa pantas atas kepercayaan yang
masih kulihat dari wajahnya.
“Kau tahu, kau bisa mempercayaiku,” bisiknya. Dan ia mengulurkan tagan seakan ingin
menyentuh tanganku yang ada di atas meja.
Segera kutarik tanganku—benci membayangkan bagaimana reaksinya atas kulit
dinginku yang seperti batu—dan dia menjatuhkan tangannya.
Aku tahu aku bisa memper yai dia untuk menjaga rahasiaku; dia sangat bisa dipercaya.
Tapi aku tidak percaya dia tidak akan takut. Dia
sebaiknya
takut. Kebenarannya
adalah
horor.
“Aku tak tahu apakah aku masih punya pilihan,” gumamku. Aku ingat pernah sekali
menggodanya dengan menyebut dia 'tak pernah memperhatikan sekelilingnya.' Dan waktu itu
aku membuatnya tersinggung—jika aku menilai ekspresinya dengan benar.
Well
, paling tidak
aku bisa meluruskan kesalahan persepsi itu. “Aku salah—kau lebih teliti daripada yang
190
kukira.” Mungkin dia tidak sadar, tapi aku baru saja memberinya banyak pujian. Dia tidak
melewatkan apapun.
“Kupikir kau selalu benar.” Dia tersenyum meledekku.
“Biasanya begitu.” Biasanya aku tahu apa yang kulakukan. Biasanya aku selalu yakin
dengan langkahku. Tapi sekarang semuanya kacau dan tak terkendali.
Tetap saja, aku tidak mau menukarnya. Aku tidak mau kehidupan yang masuk akal.
Tidak jika kekacauan berarti bisa bersama Bella.
“Aku juga salah menilaimu mengenai suatu hal.” Aku melanjutkan untuk meluruskan
poin yang lain. “Kau bukan daya tarik terdahadap kecelakaan—penggolongan itu tidak cukup
luas. Kau daya tarik terhadap
masalah
. Kalau ada sesuatu yang berbahaya dalam radius
sepuluh mil. Masalah itu selalu bisa menemukanmu.” Kenapa harus dia? Apa yang sudah ia
lakukan sampai pantas mendapatkan semua ini?
Wajah Bella berubah serius lagi. “Dan kau menempatkanmu dirimu sendiri dalam
kategori itu?”
Ketimbang pertanyaan lain, kejujuran sangat penting untuk menjawab pertanyaan ini.
“Tak salah lagi.”
Matanya sedikit menyipit—kini bukan curiga, tapi anehnya prihatin. Dia mengulurkan
tangannya ke atas meja lagi, pelan dan penuh pertimbangan. Aku sedikit menarik tanganku,
tapi dia mengabaikannya, bersikeras untuk menyentuhku. Aku menahan napas—bukan
karena aromanya, tapi karena takut. Takut kulitku akan membuatnya muak. Takut dia akan
lari.
Ujung jarinya menyentuh ringan punggung tanganku. Kehangatan sentuhannya yang
lembut tidak seperti yang pernah kurasakan selama ini. Ini hampir murni menyenangkan.
Mungkin saja akan begitu jika tanpa ketakutanku.
Aku memperhatikan wajahnya saat dia merasakan tangan dinginku yang membeku,
masih dengan tidak bernapas. Secercah senyum muncul di sudut bibirnya.
“Terima kasih.” Dia balas menatapku dengan tatapan lekat miliknya. “Sudah dua kali
kau menyelamatkanku.”
Jari-jarinya yang lembut tetap tinggal di tanganku seakan telah menemukan tempat
yang menyenangkan.
191
Aku menjawabnya setenang yang kubisa, “Jangan ada yang ketiga kali, oke?”
Dia cemberut, tapi mengangguk.
Kutarik tanganku dari bawah tangannya. Meski sentuhannya begitu menyenangkan,
aku tidak mau menunggu sampai batas toleransinya yang ajaib habis, dan berubah jadi
penolakan. Kemudian kusembunyikan tanganku di bawah meja.
Aku membaca matanya; meski pikirannya sunyi, aku bisa merasakan pancaran percaya
sekaligus kagum dari situ. Saat itu juga aku sadar aku
ingin
menjawab semua pertanyaannya.
Bukan karena aku berhutang padanya. Bukan karena aku ingin dia percaya padaku.
Aku ingin dia
mengenal
ku.
“Aku membuntutimu ke Port Angeles.” Kata-kata itu keluar begitu cepat tanpa sempat
kuedit. Aku tahu bahaya dari kejujuranku, resiko yang kuambil. Kapan saja, ketenangannya
yang ganjil ini bisa pecah jadi histeris. Namun, itu justru mendorongku untuk bicara lebih
cepat lagi. “Aku tak pernah menjaga seseorang sebelumnya, dan ini lebih merepotkan dari
yang kusangka. Tapi barangkali itu hanya karena itu adalah kau. Orang normal sepertinya
bisa melewati satu hari tanpa mengalami begitu banyak bencana...”
Aku mengamatinya, menunggu.
Dia tersenyum. Sudut bibirnya terangkat keatas, dan mata coklatnya menghangat.
Aku baru saja mengaku membuntuti dia, dan dia tersenyum.
“Pernahkah kau berpikir mungin takdir telah memilihku sejak pertama, pada insiden
van itu, dan kau malah mencampurinya?” tanyanya kemudian.
“Itu bukan yang pertama,” sanggahku sambil menunduk, menatap taplak meja yang
berwarna merah marun. Bahuku terkulai malu. Pertahananku mulai runtuh, kebenaran terus
saja mengalir dengan ceroboh. “Takdir pertama kali memilihmu ketika aku bertemu
denganmu.”
Itu betul, dan itu membuatku marah. Aku telah memposisikan diriku bagai pisau
guillotine
dalam hidupnya. Itu sama seperti dia telah divonis mati oleh takdir kejam yang
tidak adil. Dan—sejak kelemahan tekadku akhirnya terbukti—takdir itu melanjutkan
usahanya untuk mengeksekusi dia.
Aku membayangkan wujud takdir itu—siluman rubah betina bengis yang pencemburu
dan pendendam.
9.
Langganan:
Postingan (Atom)

