Cari Blog Ini

movie mania

9.


Jasper—pada penampilan dan pemikiran. Pasangan yang sangat cocok.
Setelah beberapa saat, semuanya—kecuali Esme—berhenti memikirkan aku. Dan aku
mulai bermain dengan nada-nada lembut agar tidak menarik perhatian.
Aku tidak memperhatikan mereka lagi selama beberapa lama, membiarkan musiknya
mengalihkanku dari  kegelisahan. Rasanya sulit  menghilangkan Bella  dari  pandangan  dan
pikiranku.   Aku   hanya   kembali   memperhatikan   pembicaraan   mereka   ketika   Peter   dan
Charlotte sudah hampir pergi.
“Kalau kau bertemu Maria lagi,” kata Jasper  sedikit khawatir. “Katakan padanya aku
harap dia baik-baik saja.”
Maria adalah vampir  yang telah menciptakan Jasper  dan Peter—Jasper  diciptakan di
pertengahan abad sembilan belas, sedang Peter  baru belakangan, pada tahun 1940an. Maria
pernah sekali mencari Jasper pada saat kami di Calgary. Itu adalah kunjungan yang luarbiasa
—kami harus cepat-cepat pindah. Jasper memintanya dengan sopan agar  ia menjauhi dirinya.
“Kurasa itu tidak akan segera terjadi,” jawab Peter sambil tertawa—tidak disangkal lagi
Maria berbahaya, dan tidak ada banyak cinta diantara dia dan Peter sebelumnya. Peter cuma
dimanfaatkan sepeninggal Jasper. Jasper  selalu menjadi favorit  Maria; dia menganggapnya
detail sepele saat pernah sekali berencana membunuh Jasper. “Tapi mungkin saja aku akan
bertemu dengannya.”
Kemudian  mereka bersalaman, siap-siap untuk pergi.  Kuhentikan laguku di  tengah-
tengah, dan dengan tergesa-gesa berdiri.
“Charlotte, Peter,” salamku sambil mengangguk.
“Menyenangkan bertemu lagi denganmu, Edward,” ujar Charlotte basa-basi. Sementar a
Peter cuma menjawab dengan anggukan.
Dasar orang gila,
umpat Emmet padaku.
Idiot,
Rosalie memikirkan hal yang sama.
Kasihan,
itu Esme.
Dan Alice, dengan suara mencibir,
mereka  akan langsung ke timur, menuju Seattle.
Tidak mendekati Port Angeles.
Dia memperlihatkan bukti penglihatannya.
Aku pura-pura tidak mendengar. Alasanku sudah cukup lemah.
Setelah di dalam mobil, aku merasa lebih tenang; dengung mantap suara mesin yang
167
   

telah   di
tune-up
oleh   Rosalie—tahun   lalu,   saat   moodnya   lebih   baik—terdengar
menyenangkan.   Rasanya   lega   bisa   di   jalan   lagi,   mengetahui   setiap   mil   yang   kulewati
membawaku semakin dekat dengan Bella.
168
   

9. Port Angeles
Masih terlalu terang bagiku untuk berkendaraan di dalam kota saat tiba di Port Angeles;
matahari  masih  terlalu tinggi diatas. Dan,  meski jendelaku sangat  gelap, tidak ada  alasan
untuk mengambil resiko. Mengambil resiko
lebih,
lebih tepatnya.
Aku sangat yakin mampu menemukan pikiran Jessica dari jauh—pikiran dia lebih keras
ketimbang Angela. Setelah menemukan Jessica, aku akan menemukan Angela. Kemudian,
ketika makin gelap, aku bisa mendekat. Untuk saat ini, aku keluar  dari jalan utama untuk
menunggu di daerah pinggir kota yang tampaknya jarang dilewati orang.
Aku tahu kira-kira ke arah mana harus mencari—hanya ada satu tempat untuk mencari
gaun di Port Angeles. Tidak terlalu lama, setelah menemukan Jessica, yang sedang memutar-
mutar badannya di depan tiga bidang cermin, aku bisa melihat Bella lewat pikirannya. Bella
sedang memuji gaun panjang hitam yang ia kenakan.
Bella masih kelihatan kesal. Ha ha. Angela betul—Tyler cuma membual. Tapi aku tidak
mengerti kenapa dia sekesal itu. Paling tidak  dia tahu dia punya kencan cadangan untuk
pesta   prom.   Bagaimana   jika   Mike   tidak   menikmati   pesta   dansa   besok,   dan   ia   tidak
mengajakku kencan lagi? Bagaimana jika dia mengajak Bella ke pesta prom? Apa  Bella
akan mengajak Mike ke pesta dansa jika aku tidak mengajaknya duluan? Apakah menurut
Mike dia lebih cantik ketimbang aku? Apakah dia pikir dirinya lebih cantik dibanding aku?
“Kurasa aku lebih suka yang biru. Sesuai dengan warna matamu.”
Jessica tersenyum palsu pada Bella, sementara matanya memperhatikan dengan curiga.
Apa  dia  sungguh-sungguh  dengan  ucapannya?  Atau yang ia inginkan  aku terlihat
seperti sapi di hari sabtu nanti?
Belum-belum aku sudah lelah mendengarkan Jessica. Aku mencari Angela di dekat situ
—ah, tapi Angela sedang ganti  baju,  dan aku langsung cepat-cepat  keluar  dari kepalanya
untuk memberi dia privasi.
Well
,  tidak  ada  sesuatu  yang akan  menimpa  Bella  selama  dia  di  department  store.
Biarkan saja mereka belanja  dan kemudian mencari mereka  lagi saat sudah selesai. Tidak
akan lama lagi gelap—awan mulai berarak kembali, bertiup dari arah barat. Aku hanya bisa
169
   

menangkap   kelebatannya   melalui   sela-sela   daun,   tapi   bisa   kulihat  awan-awan   itu  akan
mempercepat matahari tenggelam. Aku menanti-nantikannya dengan tidak sabar. Besok aku
akan bisa duduk disamping Bella lagi, memonopoli perhatiannya di jam makan siang lagi.
Aku bisa menanyakan segala pertanyaan yang selama ini kusimpan...
Jadi, ia kesal dengan kepongahan Tyler. Aku bisa melihat itu di kepala Tyler—bahwa
dia bersungguh-sungguh ketika menyinggung tentang prom, bahwa ia menegaskan niatnya.
Aku   mengingat   kembali   ekspresi   Bella   siang   itu—tidak   percaya   dan   marah—dan   aku
tergelak.   Kira-kira   apa   yang   akan   ia   katakan   pada   Tyler   tentang   ini.   Aku   tidak   akan
melewatkan kesempatan melihat reaksi Bella.
Waktu berjalan lambat selama menunggu gelap datang. Secara berkala aku mengecek
Jessica; suara mentalnya paling mudah ditemukan. Tapi aku tidak suka berlama-lama disitu.
Aku  melihat  dimana  mereka berencana untuk makan. Pasti  sudah gelap  ketika waktunya
makan malam...mungkin aku akan secara tidak sengaja makan di restor an yang sama.
Kusentuh handphone di kantongku, mempertimbangkan untuk mengajak Alice keluar
makan... Dia akan suka itu, tapi dia juga pasti akan minta bicara dengan Bella. Aku belum
yakin aku siap untuk melibatkan Bella
lebih
jauh kedalam duniaku. Bukannya satu vampir
saja sudah merepotkan?
Aku  kembali  mengecek  Jessica  lagi. Dia  sedang memikirkan  tentang  perhiasannya,
minta pendapat Angela.
“Mungkin sebaiknya aku mengembalikan kalungnya. Aku sudah punya satu di rumah
yang sepertinya juga cocok, dan aku sudah membelanjakan uangku lebih dari seharusnya...”
Ibuku pasti akan marah besar. Apa yang kupikirkan?
“Aku tidak  masalah kembali ke toko. Tapi  bagaimana jika nanti Bella mencari-cari
kita?”
Apa   ini?   Bella   tidak   bersama   mereka?  Aku   memperhatikan   lewat   mata   Jessica,
kemudian ganti ke Angela. Mereka di trotoar di depan deretan toko-toko, baru saja balik arah.
Bella tidak kelihatan dimana-mana.
Siapa   yang   peduli   dengan   Bella?
Pikir   Jess   tidak   sabaran,   sebelum   menjawab
pertanyaan  Angela.
“Dia   baik-baik   saja.   Kita  masih   punya   banyak   waktu   sebelum   ke
restoran, bahkan jika kita kembali dulu. Lagipula, kurasa dia sedang ingin sendirian.”
Aku
170
   

menangkap sekelebatan gambaran toko buku yang Jess pikir tempat tujuan Bella.
“Ayo   cepat   kalau   begitu,”
ujar  Angela.
Kuharap   Bella   tidak   beranggapan   kami
menelantarkan dia. Dia baik padaku selama di  mobil  tadi... Dia benar-benar orang yang
menyenangkan. Tapi kelihatannya dia agak murung seharian ini. Aku bertanya-tanya, apa
karena Edward Cullen? Berani taruhan, itulah alasannya kenapa ia menanyakan tentang
keluarganya...
Seharusnya   aku   lebih   memperhatikan.  Apa   saja   yang   sudah   kulewatkan?   Bella
berkeliaran sendirian. Dan tadi dia menanyakan tentang aku?
Angela sedang memperhatikan Jessica sekarang—Jessica sedang mengoceh tentang si
bodoh Mike—dan aku tidak mendapatkan info lebih banyak dari dia.
Aku  menilai  sekelilingku. Sebentar  lagi matahari  di  belakang  awan.  Jika  aku tetap
berada  di sisi barat, dimana  gedung-gedung akan menghalangi sinar  matahari yang mulai
redup...
Aku mulai cemas begitu menyetir melewati jalanan sepi menuju pusat kota. Ini sesuatu
yang tidak kuperhitungkan—Bella memisahkan diri—dan aku tidak tahu bagaimana caranya
menemukan dia. Aku
harusnya
mempertimbangkan hal ini.
Aku tahu seluk-beluk Port Angeles; mobilku langsung menuju ke toko buku yang ada
di  pikiran  Jessica,  berharap  pencarianku  singkat,  tapi   sekaligus  sangsi  ini  akan   berjalan
dengan mudah. Mana pernah Bella membuatnya jadi mudah?
Tentu saja tokonya kosong, kecuali seorang perempuan berbaju aneh dibelakang konter.
Ini  bukan  tempat   yang  bagi  Bella   menarik—terlalu
hipies
untuk  orang  seperti   dia.  Aku
bertanya-tanya, apa dia bahkan repot-repot mau masuk?
Ada sebidang lahan yang terhalang matahari, bisa  untuk tempatku parkir... Juga ada
jalur   gelap   yang   langsung   menuju   ke   toko   itu.   Aku   seharusnya   tidak   melakukannya,
berkeliaran ketika matahari masih bersinar itu tidak aman. Bagaimana jika ada mobil lewat
yang memantulkan cahaya matahari di waktu yang salah?
Tapi aku tidak tahu lagi bagaimana caranya mencari Bella!
Aku parkir  dan langsung keluar, tetap berada dibalik bayang-bayang. Aku melangkah
cepat-cepat menuju toko itu, ada  sedikit  sisa  aroma  Bella  di udara. Dia sempat kesini, di
trotoar, tapi tidak ada tanda-tanda aromanya di dalam toko.
171
   

“Selamat datang! Ada yang bisa saya bantu—” sapa penjaga toko itu, tapi aku sudah
keluar lagi.
Aku mengikuti bau Bella sejauh bayangan gedung-gedung, berhenti ketika tiba di tubir
cahaya matahari.
Betapa tidak berdayanya aku—terpenjara oleh seberkas sinar yang melintang di trotar
di depanku. Terkungkung.
Aku cuma bisa menebak dia terus jalan menuju ke utara. Tidak terlalu banyak yang bisa
dilihat disana. Apa dia tersesat?
Well
, kemungkinan itu tidak terlalu mengherankan.
Aku kembali ke mobil dan menyusuri jalanan itu pelan- pelan, mencari-cari  dia. Aku
keluar   tiap menemukan  sisi  gelap  yang  terhalang  matahari,  tapi  hanya   sempat  satu  kali
menangkap aromanya, dan arahnya membingungkan aku. Dia berencana mau kemana?
Aku bolak-balik antara toko buku dan restoran beberapa kali, berharap melihatnya di
jalanan.   Jessica   dan  Angela   sudah  sampai   di   restoran,   berusaha   memutuskan   apa   akan
langsung memesan atau menunggu Bella dulu. Jessica memaksa untuk memesan secepatnya.
Aku mulai  berganti-ganti  melihat  ke pikiran orang-orang asing, mencari lewat mata
mereka. Pastilah seseorang sempat melihat dia di suatu tempat.
Makin   lama   dia   hilang   aku   semakin   waswas   dibuatnya.   Tidak   pernah   terpikir
sebelumnya betapa sulitnya mencari dia. Seperti sekarang, dia hilang dari pengawasanku, dan
keluar dari jalur normal orang-orang. Aku tidak suka ini.
Awan-awan   mulai   berkumpul   di   horizon.   Beberapa   menit   lagi,   aku   akan   bebas
mencarinya di luar. Kalau sudah begitu tidak akan memakan waktu lama. Sinar matahari lah
yang membuatku tak berdaya. Hanya beberapa menit lagi, kemudian keuntungan akan berada
di pihakku lagi dan manusia lah yang tidak berdaya.
Pikiran satu ke pikiran lainnya. Ada begitu banyak pikiran-pikiran sepele.
...
kurasa anakku telinganya infeksi lagi...
Apakah enam-empat-kosong atau enam-kosong-empat...?
Terlambat lagi. Aku mesti memberitahunya...
Ini dia datang! Aha!
Itu dia wajahnya. Akhirnya seseorang menyadari dia!
Kelegaanku hanya berlangsung sepersekian detik, karena kemudian aku membaca lebih
172
   

jauh pikiran pria yang memandang penuh nafsu ke wajahnya di tengah keremangan.
Itu pikiran orang asing, tapi tidak sepenuhnya asing. Dulu aku pernah memburu orang-
orang dengan pikiran seperti ini.
“TIDAK!”   teriakku,   dan   geraman   panjang   keluar   dari   tenggorokanku.   Kakiku
menginjak pedal gas dalam-dalam, tapi kemana tujuanku?
Aku cuma tahu kira-kira  lokasi  pikirannya, tapi tidak  tahu pasti persisnya. Sesuatu,
pasti   ada   sesuatu—nama   jalan,   plang   toko,   sesuatu   dalam   pandangannya   yang   bisa
menunjukan keberadaannya. Tapi Bella tenggelam di balik bayang-bayang, dan mata pria itu
hanya fokus ke ekspresi takut Bella—menikmati ketakutannya.
Wajah Bella jadi buram di pikirannya, terselimuti ingatan wajah-wajah lainnya. Bella
bukan korban pertamanya.
Suara geramanku menggetarkan kaca mobil, tapi tidak mengalihkan perhatianku.
Tidak ada jendela-jendela di tembok di belakang Bella. Di sekitar daerah industri, jauh
dari  lokasi  pertokoan  yang   ramai.  Mobilku  mendecit  membelok  di  pertigaan.  Pada  saat
pengemudi lain membunyikan klakson, suaranya sudah jauh di belakangku.
Coba lihat bagaimana dia gemetaran!
Orang itu terkekeh. Ekspresi  ngerilah yang ia
cari—bagian yang ia nikmati.
“Pergi dariku.”
Suara Bella rendah dan tenang, bukan jeritan.
“Jangan seperti itu manis.”
Pria  itu menoleh ke  suara  tawa  kasar  yang  berasal  dari  jurusan lain.  Keributan itu
membuatnya marah—
diam, Jeff!
batinnya—tapi dia senang melihat Bella menjengit kaget.
Itu membuatnya bergairah. Dia membayangkan bagaimana Bella akan memohon-mohon...
Aku tidak menyadari masih ada tambahan satu  orang lagi  sampai  mendengar  suara
tawanya menyusul si Jeff  tadi. Aku pindah ke pikiran orang itu, putus asa mencari sesuatu
yang bisa dijadikan petunjuk. Dia melangkah ke arah Bella, melenturkan tangannya.
Pikiran dua orang itu tidak sebusuk yang pertama. Mereka tidak menyadari seberapa
jauh orang yang mereka  panggil  Lonnie itu akan berbuat. Mereka  asal mengikuti Lonnie.
Mereka dijanjikan akan bersenang-senang...
Satu dari mereka memandang ke ujung jalan dengan gugup—dia tidak ingin kepergok
sedang melecehkan seorang perempuan—dan itu memberi tahu apa yang kubutuhkan. Aku
173
   

mengenali perempatan yang ia lihat.
Aku langsung menerabas lampu merah, memotong diantara celah sempit diantara dua
mobil yang melintas. Bunyi klakson nyaring di belakangku.
Teleponku bergetar di kantong. Tidak kugubris.
Lonnie  maju pelan-pelan  ke  arah  Bella, sengaja  membikin  tegang—saat- saat  penuh
teror   membangunkan   minatnya.   Dia   menunggu   Bella   menjerit,   siap-siap   untuk
menikmatinya.
Tapi  Bella  mengunci  rahangnya  rapat-rapat. Orang  itu  terkejut—dia  berharap Bella
akan   mencoba   untuk   lari.   Terkejut   dan   agak   kecewa.   Dia   suka   jika   harus   mengejar
mangsanya, ketegangan dari berburu.
Y
ang ini pemberani. Barangkali lebih baik...akan lebih ada perlawanan.
Aku tinggal satu blok lagi. Monster  itu bisa mendengar  raungan mesinku, tapi tidak
mempedulikannya, dia terlalu memperhatikan korbannya.
Aku ingin melihat bagaimana dia menikmati perburuan ketika dialah mangsanya. Aku
ingin melihat bagaimana pendapatnya tentang gaya berburu
ku.
Di  bagian   lain   dalam  kepalaku,  aku  sudah  mendata  berbagai   bentuk  siksaan  yang
pernah kusaksikan selama masa perang dulu, mencari yang paling menyakitkan. Dia harus
menderita atas hal ini. Dia harus betul-betul tersiksa. Yang lainnya hanya akan mati karena
ikut membantu. Tapi si monster  bernama
Lonnie
ini tidak akan mati secepat itu. Dia akan
memohon-mohon, tapi tidak akan segera kukabulkan.
Dia ada di tengah jalan, menyudutkan Bella.
Dengan   ngebut   aku   membelok   di   pojokan   hingga   mobiku   terbanting   kesamping.
Lampu   sorotku   menerangi   mereka,   membuat   mereka   terloncat   kaget.   Aku   bisa   saja
menerjang si pemimpinnya, tapi kematian itu akan terlalu cepat.
Aku langsung membanting kemudi hingga mobilku berputar dan berbalik arah, dengan
begitu pintu penumpangnya lebih dekat dengan posisi Bella. Aku segera membukanya, dan ia
sudah lari menuju mobilku.
“Cepat masuk,” teriakku setengah menggeram.
Apa-apan ini?
Aku tahu ini ide yang buruk! Dia tidak sendirian.
174
   

Harus kah aku lari?
Sepertinya aku mau muntah...
Tanpa ragu-ragu Bella meloncat masuk, membanting pintu di belakangnya.
Dan kemudian ia menatapku dengan pandangan paling percaya yang pernah kulihat,
dan segala rencana kejiku langsung runtuh.
Butuh waktu  tidak sampai sedetik  untuk menyadari bahwa  aku  tidak akan sanggup
meninggalkan dia  sendirian di  mobil  sementara  aku  memberi  perhitungan dengan  empat
orang  tadi.  Apa   yang  akan  kukatakan  padanya,  jangan  melihat?   Ha!   Kapan  dia  pernah
menuruti yang kuminta? Kapan dia pernah melakukan tindakan yang aman?
Mungkinkah aku menggiring mereka pergi, menjauh dari Bella, dan meninggalkan dia
sendirian disini? Hampir tidak mungkin ada penjahat lain yang berkeliaran di Port Angeles
malam ini, tapi yang pertama tadi juga hampir tidak mungkin! Seperti magnet, dia menarik
segala bahaya menuju ke arahnya. Dia tidak boleh lepas dari pengawasanku.
Sepertinya,   sebagian   ekspresi   Bella   mirip   dengan   para   penjahat   tadi   saat   aku
membawanya pergi begitu cepat, ternganga bingung. Dia tidak menyadari kebimbanganku
yang sekejap tadi. Dia akan mengira sedari awal rencananya memang akan melarikan diri.
Aku bahkan tidak sanggup menerjang mereka. Itu akan membuat dia ngeri.
Keinginanku  untuk  membunuh  monster  itu begitu  hebatnya  hingga  mendengingkan
telingaku   dan   mengaburkan   penglihatanku,   dan   sampai   terasa   di   lidahku.   Otot-ototku
menegang,   memohon  untuk   segera   dilampiaskan.  Aku
harus
membunuhnya.  Aku  akan
mengulitinya pelan-pelan, sedikit demi sedikit, kulit dari dagingnya, daging dari tulangnya...
Kecuali   bahwa  sang  gadis—satu-satunya  gadis  di  dunia  ini—sedang  mencengkram
kursinya  dengan  dua  tangan,  menatap  ke  arahku.  Matanya   masih  lebar  dan   sepenuhnya
percaya. Balas dendam mesti menunggu.
“Pakai   sabuk  pengamanmu,”  perintahku.  Suaraku   kasar,  sarat   kebencian  dan  haus
darah. Bukan haus darah yang biasanya. Aku tidak sudi menodai diriku dengan memasukan
bagian dari monster itu ke badanku.
Bella   memasang  sabuk  pengamannya,  berjengit  ketika   mendengar   suaranya.  Bunyi
kecil seperti itu membuatnya terloncat, namun dia bergeming saat aku membawanya pergi
dengan ngebut, melanggar  semua rambu lalu lintas. Bisa kurasakan pandangannya padaku.
175
   

Anehnya, dia kelihatan tenang. Bagiku itu tidak masuk akal—tidak dengan apa yang baru
saja dialami.
“Apa kau baik-baik saja?” tanyanya dengan suara berat karena tertekan dan takut.
Dia
ingin tahu apa
aku
baik-baik saja?
Aku memikirkan pertanyaannya  selama  sepersekian detik, tidak cukup lama baginya
untuk menyadari kebimbanganku.
Baik-baik saja
kah
aku?
“Tidak,” aku menyadari. Nadaku menggelegak marah.
Aku membawanya  ke jalanan sepi, tempatku menunggu tadi. Sekarang gelap gulita.
Rerimbunan pohon di pinggir jalan.
Aku sangat  murka  hingga tubuhku membeku di  tempat, sepenuhnya tidak bergerak.
Tangan   dinginku   yang   terkunci,   gatal   ingin   meremukkan   penyerang   gadis   ini,   untuk
mencincangnya kecil-kecil hingga badannya tidak mungkin dikenali...
Tapi   itu   berarti   meninggalkannya   sendirian   disini,   tidak   terlindungi   di   tengah
kegelapan.
“Bella?” tanyaku dari sela-sela gigi.
“Ya?” jawabnya dengan suara parau. Dia berdeham pelan.
“Apa  kau baik-baik saja?” Itu betul-betul hal yang paling penting. Prioritas pertama.
Pembalasan  adalah  hal  yang  kedua. Aku
tahu
itu,  tapi  badanku  begitu  dipenuhi  amarah
hingga membuatku sulit untuk berpikir.
“Iya.” Suaranya masih pekat—karena takut, tidak salah lagi.
Dengan demikian aku tidak bisa meninggalkannya.
Bahkan  seandainya  dia  tidak selalu  berada  dalam  bahaya  karena  alasan yang tidak
masuk   akal—karena   lelucon   tidak   bertanggung   jawab   untuk   mempermainkan   diriku—,
bahkan jika aku bisa
yakin
dia akan sepenuhnya baik-baik saja  selama aku tidak ada, aku
tetap tidak akan membiarkannya sendirian di tengah kegelapan.
Dia pasti sangat ketakutan.
Namun tetap saja, aku tidak sedang dalam kondisi yang sanggup untuk menenangkan
dia—bahkan itu jika aku tahu bagaimana car a menenangkan dia, yang aku tidak tahu. Pasti
dia merasakan hawa  kekejaman keluar  dariku. Itu pasti kentara sekali. Aku akan semakin
membuatnya takut jika tidak sanggup mendinginkan nafsu membunuh yang mendidih dalam
176
   

diriku.
Aku mesti memikikirkan sesuatu yang lain.
“Tolong alihkan perhatianku,” pohonku padanya.
“Maaf, apa?”
Hampir aku tidak sanggup menjelaskan yang kumaksud.
“Coba ceritakan sesuatu  yang sepele sampai aku tenang.” Rahangku masih  terkatup
rapat. Hanya karena dia membutuhkan aku, aku  tetap bertahan di  mobil. Aku masih bisa
mendengar pikiran orang itu, kecewa dan marah... Aku tahu dimana menemukannya...
Kupejamkan mata, berharap tidak bisa menemukannya.
“Mmm...” dia ragu-ragu—sepertinya berusaha  memahami permintaanku. “Aku ingin
melindas  Tyler  Crowley besok  sebelum  masuk  sekolah?”  Dia  mengatakannya  seakan  itu
sebuah pertanyaan.
Ya—inilah yang  kubutuhkan. Tentu  saja  Bella  akan  mengatakan  sesuatu  yang tidak
kukira. Seperti sebelumnya, ancaman yang keluar dari bibirnya begitu menggelikan. Jika aku
tidak sedang terbakar oleh nafsu membunuh, pasti aku sudah tertawa.
“Kenapa?” tukasku, memaksanya untuk bicara lagi.
“Dia memberitahu semua orang bahwa ia akan mengajakku ke pesta prom,” suaranya
diliputi   kegeraman  seperti   kucing-manis,   khas   dirinya.   “Entah   dia   gila   atau   dia   masih
mencoba menebus kesalahannya karena hampir membunuhku tempo...
well,
kau pasti ingat,”
tambahnya  dengan  nada   datar.  “Dan  dia   pikir  pesta
prom
cara  yang  tepat.  Jadi   setelah
kuhitung-hitung, kalau aku membahayakan hidupnya, berarti kedudukan kami seri, dan dia
tidak perlu terus-menerus  memperbaiki hubungan. Aku tidak butuh musuh dan barangkali
Lauren   akan   bersikap   biasa   kalau   Tyler   menjauhiki.   Meski   begitu  aku   mungkin   perlu
menghancurkan  mobil  Sentranya.”  Dia  melanjutkan,  kali  ini penuh pertimbangan,  “kalau
tidak punya mobil, berarti dia tidak bisa mengajak siapa-siapa ke
prom
...”
Rasanya   menyenangkan,   sekali-kali   melihat   di   salah.   Kegigihan   Tyler   tidak   ada
hubungannya dengan insiden waktu itu. Bella tidak menyadari  daya tarik dirinya di  mata
bocah-bocah  di   seantero  sekolahan.  Dan  apa   dia   juga  tidak   melihat   efek  daya  tariknya
padaku?
Ah, itu manjur. Ketidak wajaran proses berpikirnya selalu mengasyikan. Aku mulai bisa
177
   

mengendalikan diri, untuk memikirkan selain balas dendam dan penyiksaan...
“Aku sudah mendengar tentang itu,” kataku padanya. Dia berhenti bicara. Padahal aku
butuh dia meneruskannya.

Kau
sudah mendengarnya?” tanyanya heran. Suaranya pun jadi lebih marah. “Jika dia
lumpuh dari leher kebawah, dia tidak akan bisa ke prom.”
Kuharap, entah bagaimana, aku bisa  minta dia  terus  bicara tentang mengancam  dan
melukai tanpa harus kedengaran gila. Dia tidak bisa memilih cara lain yang lebih baik untuk
menenangkan diriku. Dan perkataannya—ungkapan sarkasme dan hiperbolanya—pengingat
yang kubutuhkan di saat seperti ini.
Aku menghela napas dan membuka mata.
“Lebih baik?” tanyanya takut-takut.
“Tidak terlalu.”
Tidak,   aku   lebih   tenang,   tapi   tidak   lebih  baik.   Itu   karena   aku   sadar   tidak   dapat
membunuh   monster   bernama   Lonnie   itu,   padahal   aku   masih   menginginkannya   hampir
melebihi segalanya di dunia. Hampir.
Satu-satunya yang saat ini kubutuhkan melebihi keinginan membunuhku adalah gadis
ini. Meski aku tidak bisa mendapatkan dia, dan hanya bisa memimpikannya saja, berhasil
mencegahku untuk berkeliaran sebagai seoerang pembunuh nanti malam.
Bella layak mendapatkan lebih dari sekedar seorang pembunuh.
Aku   menghabiskan   tujuh   dekade   berusaha   menjadi   lebih   dari   itu—apapun   selain
seorang pembunuh. Dan tujuh dekade itu tetap tidak membuatku layak atas gadis yang duduk
disampingku ini. Dan jika aku kembali ke kehidupan itu—kehidupan seorang pembunuh—
bahkan   jika   cuma   untuk   sehari,   sudah   pasti   akan   membuat   gadis   ini   berada   diluar
jangkauanku selamanya. Bahkan jika aku tidak meminum darahnya—bahkan jika aku tidak
meninggalkan bukti merah menyala di mataku—akankah dia melihat perbedaannya?
Aku berusaha untuk bisa jadi lebih pantas. Aku tahu, itu tujuan yang mustahil, tapi aku
tetap akan berusaha.
“Apa yang terjadi?” bisiknya.
Napasnya   memenuhi  penciumanku,  dan  aku  diingatkan  kenapa  aku  tidak  mungkin
layak   baginya.   Setelah   semua   kejadian   ini,   bahkan   dengan   segala   perasaan   sayangku
178
   

padanya...dia masih membuatku meneteskan liur.
Aku akan mengatakan sejujur yang kubisa. Aku hutang itu padanya.
“Kadang-kadang aku punya masalah dengan emosiku, Bella.” Aku menatap keluar, ke
kegelapan malam, berharap dia mendengar  kengerian yang terkandung dalam perkataanku,
tapi  sekaligus  berharap dia tidak mendengarnya. Seringkali dia tidak mendengarnya.
Lari,
Bella,   lari.   Tinggal,   Bella,   tinggal.
“Tapi
tidak
akan   menolong   bila   aku   berbalik   dan
memburu...”  Hanya  memikirkannya  hampir  membuatku  keluar   dari   mobil. Aku  menarik
napas dalam-dalam, membiarkan aromanya membakar tenggorokanku. “Setidaknya itu yang
coba kukatakan pada diriku sendiri.”
“Oh.”
Dia  tidak  mengatakan  apa-apa  lagi.  Seberapa  banyak  yang  ia  dengar? Aku melir ik
diam-diam, tapi wajahnya tidak ketebak. Kosong karena syok, barangkali. Paling tidak dia
tidak menjerit. Belum.
Selama  beberapa  waktu kami  diam. Aku  berperang dengan diriku sendiri, berusaha
menjadi apa yang seharusnya. Sesuatu yang tidak aku bisa.
“Jessica dan Angela pasti khawatir,” ucapnya pelan. Suaranya sangat tenang. Aku tidak
yakin bagaimana dia bisa begitu. Apa saking syoknya? Atau, barangkali kejadian malam ini
belum mengendap dalam pikirannya. “Aku seharusnya menemui mereka,” ucapnya lagi.
Apa   dia   ingin   menjauh   dariku?   Atau   dia   cuma   tidak   ingin   teman-temannya
mencemaskan dia?
Tanpa  berkata apa-apa aku menyalakan mobil dan mengantarnya. Semakin dekat  ke
kota, semakin sulit untuk bertahan pada tujuanku. Aku begitu
dekat
dengan berandalan itu...
Jika itu mustahil—jika memang tidak mungkin mendapatkan, atau pantas, atas gadis ini
—maka apa alasannya membiarkan orang itu tidak dihukum? Tentu aku bisa membolehkan
diriku jika kondisinya seperti itu...
Tidak. Aku tidak menyerah. Belum. Aku terlalu mengiginkan Bella untuk menyerah.
Kami  sudah tiba  di  restor an  sebelum  sempat  menyelesaikan  pikiranku.  Jessica   dan
Angela sudah selesai makan. Sekarang keduanya benar-benar mencemaskan Bella. Mereka
sudah mau mulai mencarinya, menuju jalanan yang gelap.
Ini bukan malam yang tepat bagi mereka untuk berkeliaran—
179
   

“Bagaimana kau bisa tahu dimana...?” Pertanyaan Bella yang tidak selesai menyelaku,
dan aku sadar lagi-lagi telah bertindak ceroboh. Aku terlalu sibuk dengan pikir anku hingga
lupa bertanya dimana dia mesti bertemu dengan teman-temannya.
Tapi, alih-alih mencecarku dengan pertanyaan, Bella cuma menggeleng dan setengah
tersenyum.
Apa
itu
maksudnya?
Well
, aku tidak punya waktu untuk memikirkan penerimaan anehnya atas pengetahuan
anehku. Aku membuka pintuku.
“Apa yang kau lakukan?” tanyanya, kedengarannya kaget.
Tidak membiarkan kau lepas  dari pengawasanku. Tidak membiarkan diriku sendirian
malam ini. Dengan urutan seperti itu.
“Mengajakmu makan malam.”
Baiklah  ini   akan  menarik.  Sepertinya  akan  sangat   berbeda  dengan  bayangan  akan
mengajak Alice dan pura-pura secara tidak sengaja memilih restoran yang sama. Dan kini,
disinilah aku, bisa dibilang kencan dengannya. Hanya saja ini tidak masuk hitungan, karena
aku tidak memberinya kesempatan untuk menolak.
Dia sudah setengah membuka pintunya sebelum aku memutar  lewat depan—biasanya
aku tidak sefrustasi ini saat harus bergerak secara wajar—dan bukannya menungguku untuk
membukakan   pintu.   Apa   ini   karena   dia   tidak   terbiasa   diperlakukan   seperti   seorang
perempuan   terhormat,   atau   karena   dia   tidak   menganggapku   sebagai   seorang   laki-laki
terhormat?
Aku   menunggunya   menyusulku,   yang   makin   waswas   saat   teman-temannya   mulai
masuk ke lorong gelap.
“Cepat   hentikan   Jessica   dan   Angela   sebelum   aku   harus   mencari   mereka   juga,”
perintahku  cepat-cepat.  “Kurasa  aku  tidak  akan  sanggup   menahan  diriku  kalau  bertemu
berandalan-berandalan itu lagi.” Tidak, aku tidak akan cukup kuat untuk itu.
Dia   gemetar,   tapi   kemudian   cepat-cepat   menguasai   diri.   Dia   mengejar   mereka
kemudian   berteriak,   “Jess!   Angela!”   dengan   suara   keras.   Mereka   menoleh,   dan   Bella
melambaikan tangan kearah mereka.
Bella! Oh, dia aman!
Pikir Angela lega.
Setelat ini?
Jessica menggerutu sendiri, tapi juga bersyukur karena Bella baik-baik saja.
180
   

Ini membuatku sedikit lebih menyukai dia.
Mereka   buru-buru   kembali,   dan   kemudian   terhenti,   syok,   ketika   melihatku
disampingnya.
Eh-oh!
Pikiran Jessica kalang kabut.
Tidak mungkin!
Edward  Cullen? Apa  Bella  pergi  sendirian  untuk  mencari  dia? Tapi  kenapa  Bella
menanyakan kepergian mereka keluar  kota jika Bella tahu dia ada disini...
Aku menangkap
sekelebatan ekspresi malu-malu Bella ketika menanyakan Angela apakah keluargaku sering
absen dari sekolah.
Tidak, Bella tidak mungkin tahu.
Pikir Angela kemudian.
Pikiran Jessica beralih dari terkejut jadi curiga.
Bella menutup-nutupi sesuatu dariku.
“Aku   tersesat.  Dan  kemudian   aku  berpapasan  dengan  Edward,”  ujar  Bella   sambil
menunjuk kearahku. Nadanya luar biasa normal, seakan itu sepenuhnya yang terjadi.
Pikirannya pasti syok. Itu satu-satunya penjelasan kenapa dia begitu tenang.
“Bolehkah aku bergabung dengan kalian?” tanyaku bersikap sopan;  aku tahu mereka
sudah makan.
Ya ampun, dia keren banget!
Batin Jessica. Mendadak pikirannya tidak karuan.
Angela juga tidak terlalu berbeda.
Coba tadi tidak makan duluan. Wow. Tapi. Wow.
Nah, kenapa juga aku tidak bisa melakukan seperti itu pada Bella?
“Eh...tentu saja,” Jessica setuju.
Angela   mengerutkan   dahi.   “Mmm,   sebetulnya,   Bella,   kami   sudah   makan   ketika
menunggu tadi,” dia mengakui. “Sori.”
Apa? Diam!
Protes Jessica dalam hati.
Bella mengangkat bahu dengan santai. Begitu tenang. Pasti memang syok. “Tidak apa-
apa—lagi pula aku tidak lapar.”
“Kurasa  kau  tetap butuh makan sesuatu.” Aku  tidak sependapat.  Dia membutuhkan
gula di aliran darahnya—meski begini saja sudah terasa manis, pikirku masam. Sebentar  lagi
serangan syoknya akan muncul ke permukaan, dan perut kosong tidak akan membantu. Dia
mudah pingsan, berdasar pengalaman yang lalu.
Teman-temannya   tidak  berada  dalam   bahaya  jika   mereka  langsung  pulang.   Bukan
mereka
yang dikuntit oleh bahaya
.
Lagipula aku lebih memilih berdua saja dengan Bella—selama dia tidak keberatan.
181
   

“Apakah kalian keberatan jika nanti aku saja yang mengantar Bella pulang?” tanyaku
pada Jessica sebelum Bella bisa merespon. “Dengan begitu kalian tidak perlu menunggu dia
makan.”
“Eh, tidak masalah, kurasa...” Jessica menatap kelat-lekat pada Bella, mencari tanda-
tanda bahwa inilah yang ia inginkan.
Aku   tidak   mau   pergi...tapi   barangkali   Bella   menginginkan  Edward   untuk   dirinya
sendiri. Siapa yang tidak  akan begitu?
batin Jess. Pada saat  bersamaan, dia melihat  Bella
mengedip.
Bella
mengedip
?
“Oke,” ujar  Angela cepat, ingin segera menyingkir  jika memang itu yang Bella mau.
Dan kelihatannya memang  itulah yang dia mau. “Sampai ketemu besok, Bella...Edward.”
Angela berjuang mengucapkan namaku dengan nada santai. Kemudian ia menyambar tangan
Jessica dan menyeretnya pergi.
Aku harus mencari cara untuk berterima kasih pada Angela.
Mobil  Jessica   berada   tidak  jauh,   diparkir   dibawah   lampu  jalan.   Bella   mengawasi
mereka dengan seksama—sedikit kerut  prihatin terlihat  diantara matanya—sampai  mereka
masuk ke mobil. Jadi dia pasti sepenuhnya sadar  atas bahaya yang menimpanya tadi. Jessica
melambai saat pergi, dan Bella melambai balik. Baru setelah mobilnya lenyap, ia menarik
napas dalam-dalam dan menoleh ke arahku.
“Jujur saja aku tidak lapar,” katanya padaku.
Kenapa dia  harus  menunggu mereka pergi  baru bicara?  Mungkinkah dia betul-betul
ingin berduaan saja denganku—bahkan sekarang, setelah menyaksikan nafsu membunuhku?
Entah itu masalahnya atau bukan, dia perlu makan sesuatu.
“Kalau begitu, hibur aku.”
Kubukakan pintu restoran untuknya.
Aku berjalan  di sisinya menuju ke tempat  penerima tamu. Bella kelihatannya masih
menutup diri. Aku ingin menyentuh tangannya, keningnya, untuk mengecek suhu badannya.
Tapi tangan dinginku hanya akan ditolaknya, seperti yang lalu.
Ya ampun,
pikiran penerima tamu itu menyelinap kedalam kesadaranku.
Oh, ya ampun.
Sepertinya  ini malam keberuntunganku. Atau, aku hanya menyadarinya lebih karena
182
   

sangat berhar ap bahwa Bella akan memandangku seperti itu? Kami selalu terlihat menarik
bagi mangsa kami. Aku belum pernah terlalu memikirkan tentang itu sebelumnya. Biasanya
—kecuali  pada  orang-orang  seperti   Ms.  Cope   dan  Jessica  Stanley,   yang  berusaha   keras
menumpulkan ketakutannya—rasa takut langsung melanda setelah daya tarik awal...
“Meja untuk dua orang?” kataku pelan ketika penerima tamu itu tidak juga bicara.
“Oh,  eh, iya. Selamat  datang di La Bella  Italia.”
Hmm!    Suaranya!
“Silahkan ikuti
saya.” Pikirannya sedang menebak-nebak.
Barangkali dia sepupunya. Gadis ini tidak mungkin adiknya, mereka sama sekali tidak
mirip. Tapi keluarga, pasti itu. Dia tidak mungkin berkencan dengannya.
Mata   manusia   memang   kabur;   Mereka   sama   sekali   tidak   melihat   dengan   jelas.
Bagaimana bisa perempuan picik ini menilai daya tarik fisikku—perangkap bagi mangsaku
—begitu menarik,  namun  tidak  dapat   melihat  kesempurnaan  yang  lembut  pada  gadis  di
sampingku ini?
Well, lebih baik tidak usah mengambil resiko,
batin penerima tamu itu saat membawa
kami ke sebuah meja di tengah ruangan yang paling ramai.
Bisakah aku memberikan nomer
teleponku selama ada gadis itu...?
Aku mengambil selembar uang dari kantongku. Orang-orang jadi sangat kooperatif jika
uang dilibatkan.
Tanpa ambil pusing, Bella sudah duduk di meja yang ditunjuk. Aku menggeleng, dan
dia  jadi  ragu, menelengkan  kepala  penasaran. Ya, dia  akan  sangat  penasaran  malam  ini.
Keramaian bukan tempat yang cocok untuk pembicaraan seperti itu.
“Barangkali ada tempat  yang lebih pribadi?” pintaku pada si penerima tamu sembari
menyodorkan   uangku.   Matanya   melebar   terkejut,   kemudian   menyipit   saat   tangannya
mengambil uang tip itu.
“Tentu saja.”
Dia mengintip uang itu saat mengantar kami memutari dinding pemisah.
Lima puluh dolar untuk meja yang lebih baik? Dia juga kaya. Itu masuk akal—berani
taruhan pasti harga jaketnya lebih mahal dari gajiku. Sialan. Kenapa juga dia mau tempat
yang lebih privasi bersama gadis ini?
Dia  menawari kami sebuah bilik di pojokan yang sepi, dimana tidak ada orang yang
183
   

akan melihat kami—untuk melihat reaksi Bella atas  apapun yang akan kusampaikan. Aku
sama sekali tidak tahu apa yang akan dia tanyakan nanti. Atau, apa yang akan kuceritakan.
Seberapa banyak yang bisa ia tebak? Apa penjelasan dari kejadian tadi, yang ia ceritkan
pada dirinya sendiri?
“Bagaimana kalau disini?” tanya penerima tamu itu.
“Sempurna,”   kataku  dengan   perasaan   terganggu  karena  sikap  tidak  sopannya  pada
Bella. Aku  tersenyum  lebar-lebar   ke dia, menunjukan  seluruh baris  gigiku. Biar   dia  lihat
siapa diriku sebenarnya.
Wow.
“Mmm...pelayan kalian akan segera datang.”
Dia tidak mungkin nyata. Ini pasti
mimpi. Barangkali  gadis  itu akan hilang...mungkin aku akan menulis nomer  teleponku di
piringnya memakai saos...
Dia berlalu dengan langkah sempoyongan.
Aneh. Dia masih tidak takut. Aku jadi ingat Emmet pernah menggodaku di kafetaria
beberapa waktu lalu.
Berani taruhan aku bisa menakuti dia lebih dari itu.
Apa aku kehilangan kemampuanku yang satu itu?
“Seharusnya  kau  tidak  melakukan  itu  pada  orang-orang,”  Bella  menyela  pikiranku
dengan nada tidak setuju. “Tidak adil.”
Aku  memperhatikan  ekspresinya.  Yang  dia  maksud  apa? Aku  tidak  menakut-nakuti
perempuan tadi, meski itu yang kuinginkan. “Melakukan apa?”
“Membuat mereka terpesona seperti itu—barangkali sekarang dia sedang sesak napas
di dapur.”
Hmm. Bella hampir  betul. Penerima tamu itu bisa dibilang setengah linglung saat ini,
menggambarkan penilaiannya yang keliru tentang diriku pada temannya yang pelayan.
“Oh, yang benar saja,” Bella mencemoohku ketika aku tidak langsung menjawab. “Kau
pasti
tahu bagaimana reaksi orang terhadapmu.”
“Aku membuat orang terpesona?” Itu istilah yang menarik untuk mendeskripsikannya.
Cukup akurat untuk malam ini. Aku bertanya-tanya, kenapa berbeda dengan...
“Kau tidak menyadarinya?” tanya Bella masih tidak percaya. “Kau pikir orang bisa jadi
seperti itu dengan mudahnya?”
“Apa  aku  membuatmu terpesona?”  Aku langsung  mengucapkannya  begitu saja, dan
sudah terlambat untuk menariknya kembali.
184
   

Tapi,  sebelum   aku  sempat   menyesalinya,  dia   sudah  menjawab,  “sering  kali.”   Dan
pipinya bersemu merah muda.
Aku membuat dia terpesona.
Jantungku yang mati  membusung  oleh  harapan  yang  lebih besar  dari  apapun  yang
pernah kurasakan.
“Halo,” sapa seseorang. Seorang pelayan memperkenalkan dir inya. Pikirannya nyaring
sekali,  dan  lebih  ekplisit  dari  penerima  tamu  tadi,  tapi   kukecilkan  volumenya.  Alih-alih
mendengarkan,  aku  menatap  wajah  Bella,  melihat   darahnya   mengalir   dibawah   kulitnya.
Kuabaikan bagaimana itu membakar  tenggorokanku, perhatianku lebih tertuju bagaimana itu
membuat terang wajah pucatnya, bagaimana itu melenyapkan
cream
pada kulitnya...
Si pelayan masih menunggu pesananku. Ah, dia minta pesanan minum kami. Aku tidak
peduli dan terus saja memandangi Bella. Akhirnya si pelayan dengan enggan ganti menoleh
ke Bella.
“Boleh saya minta coke?” tanya Bella, seakan minta persetujuan.
“Dua  coke,” aku meralat. Haus—rasa haus manusia—adalah tanda-tanda syok. Akan
kupastikan dia punya cukup gula dari soda pada sistem pencernaan tubuhnya.
Meski begitu dia terlihat sehat. Lebih dari sehat bahkan. Dia terlihat bercahaya.
“Apa?” tanyanya—sepertinya bertanya-tanya kenapa aku memperhatikan dia. Samar-
samar aku sadar pelayan itu telah pergi.
“Bagaimana perasaanmu?” tanyaku.
Dia mengerjap, terkejut oleh pertanyaanku. “Aku baik-baik saja.”
“Kau tidak merasa pusing, sakit, kedinginan?”
Sekarang dia bahkan jadi lebih bingung. “Haruskah begitu?”

Well
,   sebetulnya   aku   menunggumu   syok.”  Aku   setengah   tersenyum,   menantikan
sangkalannya. Dia tidak akan mau diperhatikan.
Butuh semenit baginya untuk menjawab. Matanya berubah agak tidak fokus. Kadang-
kadang dia terlihat seperti itu, ketika aku tersenyum padanya. Apakah dia...terpesona?
Aku sangat ingin mempercayai itu.
“Kurasa itu tidak akan terjadi. Aku selalu bisa menguasai diri jika terjadi sesuatu yang
tidak menyenangkan,” jawabnya, sedikit kehabisan napas.
185
   

Berarti, apa dia sering mengalami kejadian-kejadian buruk? Apa hidupnya selalu penuh
resiko seperti ini?
“Sama,”  ujarku.  “Aku akan merasa  lebih  baik jika kau sudah cukup mengkonsumsi
minuman atau makanan yang manis-manis.”
Si pelayan kembali dengan membawa dua coke dan sekeranjang roti. Dia menaruhnya
didepanku,  dan  menanyakan  pesananku  sambil   berusaha  menatap mataku. Aku  memberi
tanda   agar   dia   seharusnya   melayani   Bella,   dan   kembali   mengecilkan   volume   suara
pikirannya. Isi pikirannya vulgar.
“Mmm...” Bella melirik sekilas ke menu. “Aku pesan jamur ravioli.”
Si pelayan cepat-cepat berpaling padaku. “Dan anda?”
“Aku tidak pesan apa-apa.”
Bella  membuat ekspresi  datar.  Hmm.  Dia  pasti  menyadari  bahwa  aku  tidak pernah
makan. Dia menyadari semuanya. Dan aku selalu lupa untuk berhati-hati di depannya.
Aku menunggu hingga kami sendirian lagi.
“Minumlah,” aku memaksa.
Aku terkejut ketika  ia  langsung menurut. Dia  minum sampai  gelasnya  kosong,  jadi
kudorong gelas kedua padanya. Dahiku sedikit mengerut. Haus, atau syok?
Dia minum lagi sedikit, kemudian sempat menggigil.
“Kau kedinginan?”
“Ini  cuma  karena  cokenya,”  tapi  dia   gemetar  lagi,  bibirnya  ikut   menggigil  seakan
giginya akan menggemeretak.
Blus cantik yang ia pakai terlihat terlalu tipis untuk bisa melindungi tubuhnya; blus itu
menggantung seperti kulit kedua, hampir  serapuh kulit aslinya. Dia terlihat sangat  lemah,
sangat manusia. “Kau tidak punya jaket?”
“Punya.” Dia mencari-cari bingung. “Oh—ketinggalan di mobil Jessica.”
Kucopot  jaketku, berharap suhu tubuhku tidak terlalu berpengaruh. Seharusnya akan
lebih  menyenangkan   jika   bisa   menawarinya   jaket  yang   hangat.  Dia  menatapku,  pipinya
merona lagi. Apa yang sedang ia pikirkan sekarang?
Kuserahkan   jaketku   ke   seberang   meja,   dan   ia   langsung   memakainya,   kemudian
menggigil lagi.
186
   

Ya, akan lebih baik jika hangat.
“Terima   kasih,”   ujarnya.  Dia   mengambil  napas   dalam-dalam,   lalu  menarik  lengan
jaketnya yang kepanjangan sampai tangannya muncul. Dia mengambil  napas  dalam-dalam
lagi.
Apakah kejadian tadi akhirnya mengendap juga? Warna kulitnya masih bagus; kulitnya
terlihat seperti susu dan mawar, jika dipadankan dengan warna biru-tua blusnya.
“Warna biru itu terlihat indah di kulitmu,” pujiku. Sekedar bersikap sopan.
Dia tersipu, menambah indah efeknya.
Dia  kelihatan baik-baik saja, tapi tidak perlu mengambil resiko. Kudorong keranjang
roti itu ke arahnya.
“Sungguh,” dia menolak, menebak niatku. “Aku tidak merasa syok.”
“Seharusnya   kau   syok—orang
normal
akan   begitu.   Kau   bahkan   tidak   terlihat
gemetaran.” Aku menatapnya, menolak pendapatnya, bertanya-tanya  kenapa dia tidak bisa
jadi normal, kemudian sangsi jika aku memang ingin dia seperti itu.
“Aku merasa sangat aman denganmu,” ujarnya dengan tatapan penuh percaya. Rasa
percaya yang tidak pantas kudapatkan.
Instingnya sangat keliru—bertolak belakang. Pasti itu masalahnya. Dia tidak mengenali
bahaya seperti orang normal lainnya. Sikapnya bertolak belakang. Alih-alih lari, dia tinggal,
mendekati apa yang seharusnya membuat dia takut...
Bagaimana caranya aku bisa melindungi dia dariku ketika
tidak ada
satupun dari kita
yang menginginkannya?
“Ini lebih rumit dari yang kubayangkan,” gumamku.
Bisa kulihat dia berusaha mencerna perkataanku. Dan aku bertanya-tanya apa hasilnya.
Dia  mengambil  secuil  roti  dan mulai  memakannya  tanpa  sepenuhnya  sadar  dengan
tindakannya. Dia mengunyah sebentar, lalu menelengkan kepala penuh pertimbangan.
“Biasanya  suasana hatimu lebih baik ketika warna  matamu terang,”  ujarnya dengan
nada santai.
Pengamatannya membuatku terkesima. “Apa?”
“Kau  selalu   lebih   pemarah   ketika   matamu  berwarna   hitam—tadi   kupikir   matamu
berubah kelam. Aku punya teori tentang itu.”
187
   

Jadi   dia   telah  punya   penjelasan  sendiri.  Tentu  saja  dia   begitu. Aku  jadi  khawatir,
seberapa dekat pada kebenaran.
“Teori lagi?”
“Hmm-mm.” Dia mengunyah satu gigitan lagi, benar-benar  tidak sadar, seakan tidak
sedang membahas tentang monster pada si monster sendiri.
“Kuharap kau lebih kreatif kali ini...” kataku bohong. Yang sesungguhnya, kuharap dia
salah—
meleset sangat jauh. “Atau kamu masih mengutip dari buku-buku komik?”

Well
, tidak, aku tidak mendapatkannya dari komik,” jawabnya agak malu. “Tapi aku
juga tidak menduga-duganya sendiri,”
“Dan?” tanyaku dari sela gigi.
Tentu dia tidak akan bicara setenang ini jika mau teriak.
Saat dia bimbang sambil menggigit bibirnya, si pelayan datang membawa pesanannya.
Aku tidak terlalu memperhatikan pelayan itu saat ia meletakan piringnya di depan Bella dan
bertanya padaku apa aku butuh sesuatu.
Aku menolak, tapi minta tambahan soda. Pelayan itu tidak menyadari gelas Bella yang
sudah kosong. Kemudian dia mengambilnya, dan pergi.
“Apa katamu tadi?” bisikku penasaran setelah kami sudah berdua lagi.
“Aku akan menceritakannya di mobil,” jawabnya pelan. Ah, ini pasti buruk. Dia tidak
mau membicarakan tebakannya di tengah orang banyak. “Kalau...” dia menambahkan tiba-
tiba.
“Ada syaratnya?” Aku begitu tegang hingga hampir menggeramkan kata-katanya.
“Tentu saja aku punya beberapa pertanyaan.”
“Tidak masalah.” Aku mengiyakan dengan suara parau.
Pertanyaan-pertanyaannya   mungkin   cukup   memberiku   petunjuk   kemana   arah
pikirannya. Tapi bagaimana aku mesti menjawabnya? Dengan kebohongan yang bertanggung
jawab? Atau aku mesti mengelak? Atau tidak menjawabnya sama sekali?
Kami duduk diam saat si pelayan mengisi kembali sodanya.

Well
, ayo mulai,” kataku dengan rahang terkunci ketika si pelayan sudah pergi.
“Kenapa kau berada di Port Angeles?”
Itu pertanyaan yang terlalu mudah—buat dia. Itu sama sekali tidak mengungkapkan isi
188
   

pikirannya, sedang jawabanku, jika yang sebenarnya, akan mengungkapkan terlalu banyak.
Biar dia mengungkapkan sesuatu dulu.
“Berikutnya,” sergahku.
“Tapi itu yang paling mudah,”
“Berikutnya,” kataku lagi.
Dia  frustasi dengan penolakanku. Dia berpaling, menatap  makanannya.  Pelan-pelan,
sambil berpikir  keras, dia menggigit dan mengunyah rotinya dengan penuh pertimbangan.
Dia menelannya dengan bantuan soda, dan akhirnya menatapku. Matanya menyipit curiga.
“Oke, kalau begitu,”  katanya. “Katakan saja, secara hipotesis tentu saja, seseorang...
bisa   mengetahui   apa   yang   dipikirkan   orang   lain,   membaca   pikiran,   kau   tahu—dengan
beberapa pengecualian.”
Bisa saja lebih parah dari ini.
Ini menjelaskan senyum kecil di mobil tadi. Daya tangkapnya cepat. Belum pernah ada
orang yang bisa menebak kemampuanku, kecuali Carlisle. Itu jadi agak jelas karena pada
awalnya   aku   menjawab  semua  isi  pikirannya   seakan  dia   mengucapkannya  padaku.  Dia
mengerti duluan, sebelum aku...
Pertanyaannya  tidak  terlalu buruk.  Dia  sudah  lebih dulu  tahu ada  yang  tidak beres
dengan diriku, jadi ini tidak seburuk sebelumnya. Membaca pikiran, bagaimanapun, bukan
termasuk ciri-ciri vampir. Aku akan mengikuti hipotesisnya.
“Hanya
satu
pengecualian,” koreksiku. “Secara hipotesis.”
Dia menahan senyum—persetujuan samarku membuatnya senang.
“Baik  kalau  begitu, dengan  satu  pengecualian.  Bagaimana  cara  kejranya?  Apa  saja
batasan-batasannya? Bagaimana bisa... seseorang... menemukan orang lain pada saat  yang
tepat? Bagaimana kau bisa tahu dia sedang dalam kesulitan?”
“Secara hipotesis?”
“Tentu saja.” Bibirnya mengejang, mata coklat beningnya berharap penasaran.

Well
,” aku ragu-ragu. “Kalau.. seseorang itu...”
“Sebut saja dia Joe.” Dia menawarkan.
Aku jadi  tersenyum  melihat semangatnya. Apa  dia  betul-betul berpikir  bahwa yang
sebenarnya adalah sesuatu yang baik? Apa tidak pernah terpikir, jika rahasiaku sesuatu yang
189
   

menyenangkan, buat apa selama ini merahasiakannya dari dia?
“Ya  sudah.” akhirnya aku setuju. “Kalau Joe memerhatikan, pemilihan waktnya  tak
perlu setepat itu.” Aku menggeleng, menahan untuk tidak gemetar  pada pikiran bagaimana
hampir terlambatnya aku tadi. “Hanya
kau
yang bisa mendapat masalah di kota sekecil ini.
Kau bisa  membuat angka  tindak kriminal meningkat  untuk kurun waktu satu dekade, kau
tahu itu.”
Sudut bibirnya  turun, dan ia memberengut. “Kita sedang membicarakan kasus secara
hipotesis,”
Aku tertawa melihat kekesalannya.
Bibirnya,   kulitnya...  Terlihat   sangat   lembut.   Aku   ingin   menyentuhnya.  Aku   ingin
menyentuh sudut birbirnya dengan ujung jariku dan mengembalikan senyumannya. Mustahil.
Kulitku akan menjijikan buat dia.
“Betul juga,” kataku kembali pada pembicaraan, sebelum aku jadi tertekan. “Bisakah
kita memanggilmu Jasmine?”
Dia mencondongkan tubuhnya di atas meja ke arahku, segala humor dan kesal hilang
dari matanya.
“Bagaimana kau bisa tahu?” tanyanya dengan suara rendah dan tajam.
Haruskah aku memberitahu yang sebenarnya? Dan, jika iya, seberapa banyak?
Aku ingin menceritakannya  ke dia. Aku ingin merasa pantas  atas  kepercayaan yang
masih kulihat dari wajahnya.
“Kau tahu, kau bisa mempercayaiku,” bisiknya. Dan ia mengulurkan tagan seakan ingin
menyentuh tanganku yang ada di atas meja.
Segera   kutarik   tanganku—benci   membayangkan   bagaimana   reaksinya   atas   kulit
dinginku yang seperti batu—dan dia menjatuhkan tangannya.
Aku tahu aku bisa memper yai dia untuk menjaga rahasiaku; dia sangat bisa dipercaya.
Tapi aku tidak percaya dia tidak akan takut. Dia
sebaiknya
takut. Kebenarannya
adalah
horor.
“Aku tak tahu apakah aku masih punya pilihan,” gumamku. Aku ingat pernah sekali
menggodanya dengan menyebut dia 'tak pernah memperhatikan sekelilingnya.' Dan waktu itu
aku membuatnya tersinggung—jika aku menilai ekspresinya dengan benar.
Well
, paling tidak
aku  bisa  meluruskan  kesalahan  persepsi  itu.  “Aku  salah—kau  lebih  teliti  daripada   yang
190
   

kukira.” Mungkin dia tidak sadar, tapi aku baru saja memberinya banyak pujian. Dia tidak
melewatkan apapun.
“Kupikir kau selalu benar.” Dia tersenyum meledekku.
“Biasanya begitu.” Biasanya aku tahu apa yang kulakukan. Biasanya aku selalu yakin
dengan langkahku. Tapi sekarang semuanya kacau dan tak terkendali.
Tetap saja, aku tidak mau menukarnya. Aku tidak mau kehidupan yang masuk akal.
Tidak jika kekacauan berarti bisa bersama Bella.
“Aku juga salah menilaimu mengenai suatu hal.” Aku melanjutkan untuk meluruskan
poin yang lain. “Kau bukan daya tarik terdahadap kecelakaan—penggolongan itu tidak cukup
luas. Kau  daya  tarik  terhadap
masalah
.  Kalau  ada  sesuatu  yang  berbahaya  dalam  radius
sepuluh mil. Masalah itu selalu bisa menemukanmu.” Kenapa harus dia? Apa yang sudah ia
lakukan sampai pantas mendapatkan semua ini?
Wajah  Bella  berubah  serius   lagi.  “Dan  kau  menempatkanmu  dirimu  sendiri   dalam
kategori itu?”
Ketimbang pertanyaan lain, kejujuran sangat penting untuk menjawab pertanyaan ini.
“Tak salah lagi.”
Matanya sedikit menyipit—kini bukan curiga, tapi anehnya prihatin. Dia mengulurkan
tangannya ke atas meja lagi, pelan dan penuh pertimbangan. Aku sedikit menarik tanganku,
tapi   dia   mengabaikannya,   bersikeras   untuk   menyentuhku.  Aku   menahan   napas—bukan
karena aromanya, tapi karena takut. Takut kulitku akan membuatnya  muak. Takut dia akan
lari.
Ujung jarinya  menyentuh ringan punggung tanganku. Kehangatan sentuhannya  yang
lembut tidak seperti yang  pernah kurasakan selama ini. Ini hampir  murni menyenangkan.
Mungkin saja akan begitu jika tanpa ketakutanku.
Aku memperhatikan wajahnya  saat  dia  merasakan tangan  dinginku  yang membeku,
masih dengan tidak bernapas. Secercah senyum muncul di sudut bibirnya.
“Terima kasih.” Dia balas menatapku dengan tatapan lekat miliknya. “Sudah dua kali
kau menyelamatkanku.”
Jari-jarinya yang lembut  tetap  tinggal di  tanganku seakan telah menemukan tempat
yang menyenangkan.
191
   

Aku menjawabnya setenang yang kubisa, “Jangan ada yang ketiga kali, oke?”
Dia cemberut, tapi mengangguk.
Kutarik  tanganku dari  bawah  tangannya.  Meski  sentuhannya  begitu menyenangkan,
aku  tidak  mau  menunggu  sampai  batas   toleransinya  yang  ajaib  habis,  dan  berubah  jadi
penolakan. Kemudian kusembunyikan tanganku di bawah meja.
Aku membaca matanya; meski pikirannya sunyi, aku bisa merasakan pancaran percaya
sekaligus kagum dari situ. Saat itu juga aku sadar  aku
ingin
menjawab semua pertanyaannya.
Bukan karena aku berhutang padanya. Bukan karena aku ingin dia percaya padaku.
Aku ingin dia
mengenal
ku.
“Aku membuntutimu ke Port Angeles.” Kata-kata itu keluar begitu cepat tanpa sempat
kuedit. Aku tahu bahaya dari kejujuranku, resiko yang kuambil. Kapan saja, ketenangannya
yang ganjil  ini bisa  pecah jadi  histeris. Namun, itu justru mendorongku untuk bicara lebih
cepat lagi. “Aku tak pernah menjaga  seseorang sebelumnya, dan ini lebih merepotkan dari
yang kusangka. Tapi  barangkali itu hanya  karena itu adalah kau. Orang normal sepertinya
bisa melewati satu hari tanpa mengalami begitu banyak bencana...”
Aku mengamatinya, menunggu.
Dia tersenyum. Sudut bibirnya terangkat keatas, dan mata coklatnya menghangat.
Aku baru saja mengaku membuntuti dia, dan dia tersenyum.
“Pernahkah kau berpikir  mungin takdir  telah memilihku sejak pertama, pada insiden
van itu, dan kau malah mencampurinya?” tanyanya kemudian.
“Itu bukan  yang pertama,” sanggahku sambil menunduk, menatap taplak meja yang
berwarna merah marun. Bahuku terkulai malu. Pertahananku mulai runtuh, kebenaran terus
saja   mengalir   dengan   ceroboh.   “Takdir   pertama   kali   memilihmu   ketika   aku   bertemu
denganmu.”
Itu  betul,  dan  itu  membuatku  marah.  Aku   telah   memposisikan  diriku  bagai   pisau
guillotine
dalam hidupnya. Itu sama seperti dia telah divonis mati oleh takdir kejam yang
tidak   adil.   Dan—sejak   kelemahan   tekadku   akhirnya   terbukti—takdir   itu   melanjutkan
usahanya untuk mengeksekusi dia.
Aku membayangkan wujud takdir itu—siluman rubah betina bengis yang pencemburu
dan pendendam.

Baca selanjutnya ..