Cari Blog Ini

movie mania

1.

Midnight
Sun
Edward's  Story
by
Stephenie Meyer
  dari
official website Stephenie Meyer

oleh alan koesumah
www.alankoesumah.blogspot.com
1
   

1.Pandangan Pertama
Inilah saat dimana aku berharap bisa tidur.
Sekolah.
Atau,  penyiksaan  lebih  tepatnya?  Seandainya   ada  jalan  lain  menebus  dosa-dosaku.
Kejenuhan ini selalu sulit diatasi; setiap hari terasa lebih monoton dari sebelumnya.
Mungkin  bagiku inilah tidur—jika  didefinisikan  sebagai  bentuk  berdiam  diri  disela
aktivitas harian.
Aku menatap rekahan di pojok  kafetaria, membayangkan bentuk-bentuk abstrak. Itu
salah satu cara memelankan suara-suara riuh di kepalaku.
Beratus suara ini membuatku mati kebosanan.
Jika   menyangut   pikiran manusia,  aku  telah  mendengar  segalanya,  dan lagi,  hingga
ratusan  kali.  Hari  ini,  semua  tercurah pada  sebuah  peristiwa   sepele,  kedatangan  seorang
murid pindahan. Tidak terlalu sulit menyimpulkan pikiran-pikiran itu sekaligus. Aku telah
melihat sosoknya berulang-ulang, dari pikiran ke pikiran, dari segala sudut. Cuma perempuan
biasa. Kegemparan akibat  kedatangannya mudah ditebak—sama seperti menunjukan benda
berkilau pada anak kecil. Setengah laki-laki hidung belang bahkan sudah ingin bermeseraan
dengannya, hanya karena ia anak baru. Aku mesti lebih keras mengacuhkan mereka.
Hanya empat suara yang coba kuredam demi kesopanan dan bukannya karena tak suka:
milik keluargaku, yang terbiasa tanpa privasi disekitarku hingga tak perduli lagi. Aku coba
menjaga ruang pribadi mereka sebisanya. Berusaha tidak mendengarkan, kalau itu mungkin.
Berupaya sekuatnya, tapi tetap saja...aku tahu.
Rosalie  sedang  memikirkan,  seperti  biasa,  tentang  dirinya.  Dia  mendapati  pantulan
dirinya di kaca mata seseorang, dan puas  pada kesempurnaannya. Pemikiran Rosalie agak
2
   

dangkal. Tidak banyak kejutan.
Emmet masih menggerutu gara-gara kalah bertarung dengan Jasper tadi malam. Butuh
segala  kesabarannya  yang  pendek untuk bisa  tahan  hingga  sekolah usai  untuk  mengajak
Jasper tanding ulang. Aku tidak pernah terganggu dengan pikiran-pikiran Emmet. Dia jarang
memikirkan sesuatu tanpa diucapkan keras-keras atau langsung dikerjakan. Aku lebih merasa
bersalah membaca pikiran yang lainnya karena sebetulnya ingin disembunyikan. Jika pikiran
Rosalie dangkal, maka Emmet selaksa danau tak berbayang, sangat jelas.
Sedang Jasper...menderita. Aku mesti menahan agar tidak mendesah.
Edward.
Alice memanggil, dan langsung menarik perhatianku.
Itu seperti memanggil namaku keras-keras. Aku sedikit lega namaku telah ketinggalan
jaman—biasanya   menjengkelkan   tiap   ada   orang   memikirkan   nama   Edward   yang   lain,
otomatis menoleh...
Ini aku tidak menoleh. Alice dan aku cukup mahir berbincang seperti ini. Jarang yang
memergoki. Mataku masih tetap memandangi rekahan itu.
Bagaimana, apa dia masih bertahan?
Tanya Alice padaku.
Aku sedikit merengut, hanya perubahan  kecil  di sudut bibir.  Tidak ada  artinya bagi
yang lain. Mungkin dianggap eksrepresi jemu.
Alice langsung siaga. Kulihat pikirannya mengawasi Jasper  lewat penglihatannya.
Apa
ada bahaya?
Dia membaca lagi, sekilas kedepan, mencari tahu sumber kegusaranku.
Aku menoleh sedikit kekiri, seakan sedang memperhatikan  deretan bata  di dinding,
mendengus pelan, dan kembali ke kanan, pada celah di pojok. Hanya Alice yang tahu aku
sedang menggeleng.
Dia kembali tenang.
beritahu aku jika kondisinya memburuk.
Hanya mataku yang bergerak, keatas ke langit-langit, dan kembali kebawah.
terima kasih sudah mengawasinya.
Aku lega tidak perlu menjawabnya keras-keras. Apa  yang mesti  kukatakan? 'dengan
senang hati'? Jujur saja tidak begitu. Aku sangat terganggung mendengar pergulatan Jasper.
Apa perlu bereksperimen seperti ini? Bukannya lebih aman mengakui bahwa ia tidak akan
mampu mengatasi  rasa  hausnya  seperti  kami,  dan  jangan  terlalu  memaksanya. Mengapa
harus bermain-main dengan bencana?
3
   

Ini  sudah dua minggu sejak terakhir  berburu. Tidak terlalu sulit buat kami berempat.
Agak tidak nyaman kadang-kadang—jika  ada manusia berjalan  terlampau dekat, atau jika
angin   bertiup   ke   arah   yang   salah.   Tapi   manusia   jarang   mendekat.   Insting   mereka
memberitahu apa yang tidak dimengerti kesadaran mereka: bahwa kami berbahaya.
Jasper sedang sangat berbahaya saat ini.
Tiba-tiba, seorang perempuan berhenti di meja sebelah, mengobrol dengan temannya.
Dia menggoyang rambut pirang pendeknya, dan menelisipkan jemarinya. Pemanas  ruangan
meniup aromanya ke arah kami. Aku telah terbiasa dengan efeknya—perasaan terbakar yang
meninju tenggorokan, hasrat lapar di perut, otot-otot yang menegang, dan liur yang menetes
deras.
Semuanya normal, biasanya mudah diatasi. Tapi  sekarang, ketika mengawasi Jasper,
jadi   lebih   sulit.  Godaannya   lebih  besar,   dua   kali   lipat.  Rasa   haus   ganda,   bukan   cuma
dahagaku.
Jasper  membiarkan imajinasinya berkeliaran. Dia menggambarkannya dengan jelas—
membayangkan   dirinya   bangkit   dari   samping  Alice   dan   berdiri   di   samping   gadis   itu.
Membayangkan   mencondongkan   tubuhnya,   seakan   ingin   membisikan   sesuatu,   lalu
membiarkan  bibirnya   menyentuh  lengkung  tenggorokannya.  Membayangkan  denyut   nadi
yang mengalir dibalik kulit tipis itu terasa hangat di bibirnya.
Aku menendang kursinya.
Dia  terkejut dan menatapku sebentar, kemudian ter tunduk. Aku mendengar  perasaan
malu dan peperangan di kepalanya.
“Sori.” gerutu Jasper.
Aku mengangkat bahu.
“Kau   tidak   akan   melakukan   apapun.”   Alice   berbisik   menghiburnya.   “Aku   bisa
melihatnya.”
Aku coba tidak meringis agar tidak membongkar kegusaran Alice. Kami harus bekerja
sama, aku dan Alice. Ini tidak mudah, mendengar  suara-suara atau melihat masa depan. Itu
adalah keanehan bagi kami yang sudah aneh. Kami saling menjaga rahasia.
“Bisa  sedikit  membantu  jika   kau  pandang  mer eka  sebagai   manusia.”  Saran  Alice,
nadanya yang tinggi mengalun bagai musik, terlalu cepat untuk telinga manusia. “Namanya
4
   

Whitney. Dia memiliki adik perempuan kecil yang dia puja. Ibunya  mengundang Esme  di
pesta kebun, kau ingat?”
“Aku tahu siapa dia.” gerutu Jasper. Dia berpaling ke salah satu jendela kecil di bawah
langit-langit. Nada gusarnya mengakhiri pembicaraan.
Dia  harus  berburu  nanti  malam. Sangat  ceroboh mengambil  resiko seperti ini, coba
menguji kekuatannya, untuk  membangun daya tahannya.  Jasper  sebaiknya menerima saja
batasannya dan bertindak semampunya. Kebiasaan lamanya tidak cocok dengan gaya hidup
kami; tidak seharusnya memaksakan diri.
Alice mendesah dan berdiri, mengambil nampan makannya—yang sekedar  properti—
dan berlalu sendirian. Dia tahu kapan Jasper merasa cukup. Kendati Rosalie dan Emmet lebih
mencolok kedekatannya, adalah Alice dan Jasper yang lebih saling memahami.
Edward Cullen.
Secara reflek aku menoleh begitu namaku dipanggil, walau tidak benar-benar diucap,
hanya dipikirkan.
Kemudian,   selama   sepersekian   detik   mataku   terpaku   pada   sepasang   mata   lebar
manusia, berwarna coklat muda, pada wajah pucat yang menyerupai hati. Aku mengenalinya,
meskipun belum melihatnya sendiri. Wajahnya hampir  ada di seluruh kepala orang-orang. Si
murid baru, Isabella Swan. Putri kepala polisi kota ini, yang terdampar karena soal perwalian.
Bella. Dia mengoreksi yang memanggilnya dengan nama lengkap...
Aku   berpaling   darinya,   bosan.   Pada   detik   itu   juga   aku   sadar   bukan   dia   yang
memikirkan namaku.
Tentu saja dia sudah jatuh cinta pada keluarga Cullen,
kudengar pikiran tadi berlanjut.
Kukenali   'suaranya',   Jessica   Stanley—belum   cukup   lama   sejak   ia   menggangguku
dengan perbincangan di  kepalanya.  Betapa  melegakan ketika  akhirnya  ketergila-gilaannya
berakhir. Biasanya mustahil meloloskan diri dari lamunan konyolnya yang tak ada habisnya.
Aku harap, ketika itu, bisa menjelaskan padanya apa yang
sebenarnya
terjadi jika bibirku,
dan sederetan gigi dibaliknya,  berada dekat di  telinganya. Itu akan menghentikan fantasi-
fantasinya   yang   menjengkelkan.   Memikirkan   bagaimana   reaksinya   hampir   membuatku
tersenyum.
Sedikit lemak akan lebih baik buatnya,
Jessica melanjutkan.
Dia bahkan tidak cakep.
5
   

Entah kenapa Eric selalu menatapnya...atau Mike.
Dia  mengernyit  dipikirannya  ketika  menyebut nama  yang  terakhir.  Pujaan barunya,
Mike Newton yang populer, yang jelas-jelas cuek. Namun rupanya, bersikap sebaliknya pada
si murid baru. Lagi-lagi seperti anak kecil yang melihat benda berkilau. Ini membuat Jessica
gusar, meskipun tetap bersikap ramah dengan menjelaskan perihal keluarga Cullen. Murid
baru itu pasti menanyakan kami.
Semua orang ikut memperhatikanku,
sambil lalu Jessica puas dengan dirinya.
Betapa
beruntungnya  Bella  sekelas  denganku di  dua  mata  pelajaran...pasti  Mike  akan bertanya
padaku apa yang dia--
Aku berusaha menghalau pembicaraan tolol itu, sebelum membuatku gila.
“Jessica Stanley sedang mengupas kebobrokan keluarga Cullen ke si Swan anak baru
itu.” aku berbisik ke Emmet untuk mengalihkan perhatian.
Dia tertawa geli.
Kuharap kisahnya menarik,
pikirnya.
“Kurang   imajinatif,   sebetulnya.   Cuma   skandal-skandal   kuno.   Tidak   ada   bagian
horornya. Sedikit mengecewakan.”
Dan si murid baru? Apa dia juga kecewa?
Aku mencari tahu pikiran si  murid baru ini, Bella, tentang cerita-cerita Jessica. Apa
pendapatnya ketika melihat keluarga aneh, berkulit putih-kapur, yang diasingkan ini?
Itu tanggung jawabku buat mengetahui reaksinya. Aku bertindak sebagai pengawas—
itu istilah yang peling mendekati—bagi keluargaku. Untuk melindungi kami. Jika seseorang
curiga, aku bisa memberi peringatan awal dan mundur  teratur. Itu sempat terjadi—beberapa
manusia dengan imajinasi berlebihan mengaggap kami mirip dengan karakter  di buku atau
film. Biasanya tebakan mereka salah, tapi lebih baik menyingkir daripada mengambil resiko.
Jarang  ada  yang  menebak  dengan  tepat.  Kami  tidak  memberi  mereka  kesempatan  untuk
menguji hipotesisnya. Kami langsung menghilang, dan sekedar jadi kenangan buruk...
Aku tidak mendengar  apa-apa, meskipun telah menyimak disebelah monolog internal
Jessica yang berhamburan tak karuan. Seperti tidak ada orang. Sangat ganjil, apa dia telah
pindah?   Sepertinya   belum,   Jessica   masih   berbincang   dengannya.   Aku   mendongak
memastikan, sedikit heran. Memastikan 'pendengaran' ekstraku—ini belum pernah dilakukan.
Kembali, pandanganku terpaku pada mata lebar  coklat yang sama. Dia masih duduk
6
   

disitu, sedang melirik kesini, sesuatu yang wajar, sementara Jessica meneruskan gosipnya.
Memikirkan tentang kami, itu juga wajar.
Tapi aku tidak mendengar bisikanpun.
Rona   hangat   merah  muncul  di   pipinya  ketika   menunduk,  malu  kedapatan  mencuri
pandang. Untung Jasper tidak melihat. Sulit dibayangkan bagaimana reaksinya jika melihat
rona merah itu.
Perasaannya   tampak   jelas   di   mimiknya,   sejelas   ada   torehan   huruf   di   keningnya:
terkejut, begitu mendapati tanda-tanda perbedaan antara kaumnya  dengan kami; penasaran,
setelah mendengar dongeng Jessica; dan sesuatu yang lain...takjub? Itu bukan yang pertama.
Kami terlihat  indah  bagi  mereka, mangsa  alami  kami. Kemudian, malu  setelah terpergok
sedang memperhatikan diriku.
Tetap  saja,  meskipun tampak  jelas  pada  matanya  yang  aneh—aneh,  karena  terlihat
begitu dalam; mata coklat biasanya datar—aku tidak mendengar apapun kecuali keheningan.
Tidak ada sama sekali.
Sejenak aku merasa tidak nyaman.
Ini sesuatu yang belum pernah kujumpai. Apa ada yang aneh denganku hari ini? Aku
merasa baik-baik saja. Khawatir, aku mencoba lebih keras.
Suara-suara yang sebelumnya kujauhkan mendadak berteriak di kepalaku.
...kira-kira   apa   musik   kesukaannya...mungkin   aku   bisa   menyinggung   CD   baru
itu...
Mike Newton sedang berpikir, dua meja disebalahnya—memperhatikan Bella Swan.
Coba lihat bagaimana dia menatapnya...
Eric Yorkie berpikir  tak senang, juga masih
sekitaran perempuan itu.
...
benar-benar memuakan. Kau pikir dia itu terkenal atau bagaimana, bahkan Edward
Cullen, menatapnya...
Lauren Mallory sangat cemburu hingga wajahnya bisa-bisa menghijau.
Dan Jessica, memamerkan teman barunya. Menggelikan...
sindiran terus bermuntahan dari
pikirannya.
...
sepertinya semua orang sudah menanyakan hal itu ke dia. Tapi aku ingin ngobrol
dengannya. Aku mesti memikirkan pertanyaan baru.
Renung Asley Downing.
...
mungkin ia akan ada di kelas bahasa Spanyolku...
June Richardson berharap.
...
banyak yang mesti dikerjakan nanti malam! Trigonometri, dan tes bahasa Inggris.
7
   

Kuharap ibuku...
Angela Weber, gadis pendiam. Pikirannya paling ramah. Satu-satunya  di
meja yang tidak terobsesi pada si Bella.
Aku dapat mendengar semuanya, tiap hal sepele yang terlintas  di benak mereka. Tapi
tidak dari murid baru dengan mata memperdaya itu.
Dan, tentu saja, aku bisa mendengar  apa yang dibicarakannya ke Jessica. Tidak perlu
membaca pikiran untuk mendengar suara lirihnya dengan jelas.
“Cowok berambut coklat kemererahan itu siapa?” aku dengar  ia bertanya, mengerling
dari sudut matanya, dan buru-buru menghindar ketika tahu aku masih menatapnya.
Jika aku berhar ap suaranya bisa membantu menemukan pikirannya, yang hilang entah
dimana,  aku  kecewa.   Biasanya,  pikiran   orang-orang   memiliki   suara   yang  sama   dengan
aslinya. Tapi nada pelan dan pemalu ini terdengar  asing, tidak ada diantara ratusan pikiran
yang bersautan di seantero kafetaria. Aku yakin itu. Suaranya benar-benar baru.
Oh, selamat, idiot!
Pikir Jessica sebelum menjawab pertanyaannya. “Itu Edward. Dia
tampan, tentu saja, tapi jangan buang-buang waktu. Dia tidak berkencan. Kelihatannya tak
satupun perempuan disini cukup cantik baginya.” Dia mendengus.
Aku memutar  kepala menyembunyikan senyum. Dia tidak tahu betapa beruntungnya
mereka tidak memenuhi seleraku.
Dibalik  kegetiran itu, muncul dorongan  aneh, sesuatu  yang tidak kupahami. Ini ada
hubungannya   dengan   pikiran-pikiran  tersembunyi  Jessica...aku   merasakan   desakan  aneh
untuk turun tangan, melindungi Bella  Swan ini  dari  kesinisan Jessica.  Sungguh  perasaan
yang aneh. Coba menemukan motifasi  dibaliknya, aku mempelajari  murid baru itu sekali
lagi.
Mungkin sekedar  insting terpendam untuk melindunggi—yang kuat pada yang lemah.
Perempuan  ini   kelihatan  lebih  rapuh  dibanding  yang   lainnya.  Kulitnya  begitu   tipis   dan
trasparan hingga sulit dibayangkan mampu melindunginya dari dunia luar. Aku bisa melihat
darahnya berdenyut melewati pembuluhnya, dibawah membrannya  yang pucat dan jernih...
tapi   sebaiknya   tidak  berkonsentrasi  pada  hal   itu.  Aku  sudah  cukup  baik  dengan  pilihan
hidupku, tapi sama hausnya dengan Jasper. Tidak ada untungnya mengundang godaan.
Ada kerut samar diantara alisnya yang tidak ia sadari.
Benar-benar   menjengkelkan!  Aku   bisa   melihat   dengan   jelas   bagaimana   ia   tersiksa
8
   

disana, berbincang dengan orang asing, jadi pusat perhatian. Aku bisa merasakan perasaan
malunya   dari   caranya   menahan  pundak-lemahnya.   Curiga,  seakan  menunggu   datangnya
penolakan. Tapi  tetap saja  aku  cuma  bisa  menilai. Cuma  melihat. Cuma  membayangkan.
Tidak ada  kecuali keheningan dari  mahluk yang tidak istimewa ini. Aku tidak mendengar
apa-apa. Kenapa?
“Ayo pergi.” Rosalie berbisik, memecah perhatianku.
Aku berpaling lega. Aku tidak ingin gagal lagi—itu membuat kesal. Dan aku  tidak
ingin tertarik pada pikirannya yang tersembunyi hanya karena tersembunyi dariku. Tak ada
keraguan, ketika mampu  menembus  pikirannya—dan  aku
akan
mencari  cara—pasti sama
sempit dan dangkalnya seperti manusia lainnya. Tidak sepadan dengan usahanya.
“Jadi,   apa   murid   baru   itu   takut?”   tanya   Emmet,   dia   masih   menunggu   jawaban
pertanyaan tadi.
Aku angkat bahu. Dan ia tidak terlalu tertarik untuk bertanya lebih jauh. Begitu juga
denganku.
Kami bangkit dari meja dan berjalan keluar kafetaria.
Emmet, Rosalie, dan Jasper  berakting sebagai senior; mereka  pergi ke  kelas  mereka.
Peranku lebih muda. Aku menuju kelas biologi, bersiap untuk bosan. Tidak mungkin bagi Mr.
Banner, yang kecerdasannya rata-rata, menyinggung topik yang mengejutkan seseorang yang
memegang dua gelar kedokteran.
Di   kelas,  aku  duduk  di  kursiku   dan  mengambil  buku  biologi—satu  lagi  peralatan
kamuflase   lainnya;   aku   sudah   menguasai   semua   isinya.  Aku   satu-satunya   yang   duduk
sendirian. Manusia tidak  cukup cerdas  untuk
tahu
mereka  takut, tapi insting bertahannya
cukup untuk membuat mereka menyingkir.
Ruangan mulai terisi setelah istirahat selesai. Aku bersandar  di kursi dan menunggu
waktu berlalu. Lagi, aku berharap bisa tidur.
Karena   mungkin   aku   akan   memikirkan   tentang   dia.   Ketika  Angela   Weber  masuk
bersama murid baru itu, namanya memicu perhatian.
Bella kelihatannya sepemalu diriku.  Pasti  hari  ini  berat buat  dia. Aku harap  bisa
mengucapkan sesuatu...tapi mungkin akan kedengaran bodoh...
Yes!
Pikir Mike Newton, menggeser duduknya untuk melihat gadis itu.
9
   

Masih  saja,  dari  tempat  Bella  Swan,  tidak  ada  apa-apa.  Ruang  kosong  dimana  isi
pikirannya seharusnya membuatku jengkel.
Dia mendekat, melintasi gangku menuju meja guru. Gadis malang; satu-satunya tempat
kosong cuma di sampingku. Kubersihkan bagian mejanya, menyingkirkan buku-bukuku. Aku
ragu  ia  akan  nyaman.   Dia  mengambil   satu  semester   penuh—di   kelas   ini,   paling  tidak.
Mungkin, dengan duduk  disampingnya,  aku bisa  memecahkan rahasianya...bukannya aku
butuh posisi dekat sebelumnya...juga bukannya akan menemukan hal yang menarik...
Bella Swan berjalan melintasi hembusan pemanas ruangan yang bertiup ke arahku.
Aromanya langsung menghantamku dengan keras, seperti pendobrak yang tak kenal
ampun. Tidak ada gambaran kekejian yang mampu mendeskripsikan dorongan yang tiba-tiba
melandaku.
Dalam   sekejap,   aku   tidak   lagi   mendekai   seperti   manusia;   tidak   ada   lagi   jejak
kemanusiaan yang tersisa.
Aku adalah pemangsa. Dia buruanku. Tidak ada yang lebih penting selain itu.
Tidak  ada   ruangan   penuh  saksi—di   pikiranku   mereka  telah  jadi   korban  yang  tak
terelakan. Misteri  pikirannya telah lenyap. Tidak ada  artinya.  Sebentar  lagi ia tidak akan
memikirkannya.
Aku adalah vampir, dan dia memiliki darah paling manis yang pernah kucium selama
delapan puluh tahun.
Aku tidak pernah membayangkan aroma manis senikmat ini betul-betul ada. Jika aku
pernah  tahu,  aku  telah  memburunya   sejak   lama.  Akan  kususuri   bumi   mencarinya.   Bisa
kubayangkan sedapnya...
Rasa  haus membakar kerongkonganku seperti tinju api. Mulutku hambar  dan kering.
Liur  yang menetes  deras tidak mampu mengusirnya. Perutku melilit oleh lapar akibat haus.
Otot-ototku menegang siap terlontar.
Satu detik belum lagi lewat. Dia masih pada langkah yang sama ketika angin bertiup.
Setelah kakinya  menjejak, matanya  melirikku, gerakan yang maksudnya diam-diam.
Pandangannya bertemu, dan kulihat bayangan diriku terpantul pada cermin lebar matanya.
Wajah syok yang kulihat menyelamatkan nyawanya seketika itu juga.
Dia  tidak membuatnya lebih mudah. Ketika mengkaji  ekspresiku, darah mengalir  ke
10
   

pipinya, mengubah warnanya sangat menggiurkan. Aromanya sesuatu yang baru di otakku.
Tidak   mungkin   melewatinya   begitu   saja.   Pikiranku   pun   mengamuk,   memberontak,   tak
karuan.
Langkahnya   lebih  cepat,  seakan  tahu   saatnya   untuk  lari.  Ketergesaan  membuatnya
kikuk—dia tersandung, hampir  menubruk kursi depanku. Rapuh, lemah. Bahkan lebih untuk
ukuran manusia.
Aku berupaya fokus  pada pantulan wajah di matanya, wajah yang langsung kukenali.
Monster dalam diriku—sosok yang kukalahkan lewat kerja keras  dan kedisiplinan puluhan
tahun. Betapa mudahnya sekarang muncul!
Aroma manis itu berputar di sekelilingku. Mencabik pikiranku, dan hampir membuatku
bertindak.
Jangan!
Tanganku mencengkram  ujung meja, menahanku tetap duduk. Kayunya  tidak  cukup
keras. Serat kayunya lantak jadi bubuk, meninggalkan bentuk jari terpahat dibalik meja.
Hilangkan   bukti.   Itu   aturan   dasar.   Aku   cepat-cepat   memipis   dengan   ujung   jari,
meninggalkan coakan dan serbuk di lantai. Kusingkirkan dengan kaki.
Hilangkan bukti. Korban yang tidak terelakan...
Aku tahu akan tiba waktunya. Gadis  itu  akan  duduk di  sampingku.  Dan aku  harus
membunuhnya.
Penonton  tak   bersalah  di   kelas   ini,   delapan   belas   murid  dan  seorang  guru,   akan
menyaksikannya.
Kubuang jauh pikiran itu. Bahkan saat kondisiku lebih buruk, aku tidak sekeji ini. Aku
belum   pernah  membunuh  orang  tidak  bersalah. Tidak  selama  delapan  puluh tahun.  Dan
sekarang aku merencanakan pembantaian dua puluh orang sekaligus.
Sosok monster itu membuatku muak.
Sebagian diriku gemetar, sebagian lagi menyusun rencana.
Jika kubunuh gadis itu duluan, aku cuma punya waktu lima belas detik sebelum seisi
ruangan   panik.   Mungkin  sedikit   lebih  lama,  jika  mereka   tidak   menyadari   yang  sedang
kulakukan. Dia  sendiri  tidak punya  waktu  untuk menjerit  atau kesakitan;  aku tidak akan
membunuhnya   dengan   kejam.  Cuma   itu   yang   bisa  kuberi   pada   monster   dalam   diriku,
11
   

darahnya yang menggiurkan.
Tapi kemudian aku mesti mencegah mereka lari. Tidak ada masalah dengan jendela,
terlalu tinggi dan kecil untuk dilewati. Hanya pintu—halangi dan mereka terperangkap.
Sedikit  lebih  sulit   menghabisi  mereka  ketika  panik  dan  berhamburan.  Bukan  tidak
mungkin,  tapi  terlalu  berisik.  Akan  ada  banyak jeritan.  Seseorang  akan  mendengar...dan
terpaksa membunuh lebih banyak lagi.
Dan darahnya akan mendingin.
Aromanya menghantamku, menutup kerongkonganku dengan rasa sakit...
Maka saksinya lebih dulu.
Aku memetakan di kepalaku. Aku di tengah ruangan, di deretan terbelakang. Kuhabisi
dulu sisi  kanan. Bisa kupatahkan empat  atau lima leher  perdetik, begitu taksiranku. Tidak
akan terlalu ribut. Mereka beruntung; tidak menyadari yang terjadi. Kemudian berputar  di
depan lalu menghabisi sisi sebelah kiri. Itu akan makan waktu, paling tidak, lima detik untuk
menghabisi seisi ruangan.
Cukup lama bagi Bella Swan menyaksikan, sekilas, apa yang akan menimpanya. Cukup
lama untuk ngeri. Cukup lama, jika syok tidak membuatnya membeku, untuk membuatnya
menjerit. Satu jeritan halus yang tidak akan memanggil siapa-siapa.
Kutarik napas panjang. Aromanya bagai api yang berpacu di pembuluh darahku yang
kering, membakar keluar dari jantungku, dan menghabiskan setiap sisi baik dalam diriku.
Dia baru saja membelok. Dalam beberapa detik, dia akan duduk dekatku.
Monster di kepalaku tersenyum.
Seseorang menutup bukunya dengan keras. Aku tidak melihat siapa manusia terkutuk
itu. Tapi gerakannya mengirim gelombang kenormalan. Udara bersih terhembus ke mukaku.
Dalam satu detik yang singkat, pikiranku kembali jernih. Dalam detik yang berharga
itu, aku melihat dua wajah bersebelahan.
Satu adalah diriku, atau lebih cocok: monster  bermata  merah yang telah membunuh
banyak   orang.  Membenarkan  pembunuhan  itu.  Algojo  para  pembunuh  yang  membunuh
sesamanya, para monster  yang tidak terlalu berbahaya. Itu memang berlagak seperti Tuhan;
kuakui itu—memutuskan siapa  yang pantas dihukum  mati. Cuma itu pembelaan lemahku.
Aku telah merasakan darah manusia, tapi hanya secara harafiah. Semua korbanku, tidak lebih
12
   

manusia daripada ku.
Wajah yang lain adalah Calisle.
Tidak ada kemiripan diantara keduanya. Bagai terang dan langit gelap.
Tak ada alasan untuk mirip. Carlisle bukan ayah biologisku. Kami tak memiliki ciri-ciri
serupa. Kesamaan  warna kulit  cuma kekhasan untuk mahluk seperti  kami; setiap  vampir
memiliki kulit pucat sedingin es. Kesamaan warna mata adalah hal yang lain—cermin dari
gaya hidup bersama.
Tetap saja, walau tanpa kemiripan dasar, wajahku telah mencer minkan dirinya, sampai
tingkat   tertentu,   setelah   tujuh   puluh   tahun   berhasil   mengikuti   pilihan   hidupnya.
Penampakanku   tidak   berubah,   tapi   sepertinya   kebijakannya   telah   membentuk   diriku.
Kasihnya terlihat pada bentuk mulutku. Kesabarannya terlihat pada alisku.
Semua itu kini tergantikan oleh sosok monster. Dalam sekejap, tidak ada yang tersisa
dari jejak penciptaku, guruku, ayahku dalam segalanya. Mataku akan semerah iblis; segala
kemiripan akan lenyap selamanya.
Dalam   pikiranku,   mata   lembut   Carlisle   tidak   menghakimi.   Aku   tahu   ia   akan
memaafkan tindakan mengerikanku. Karena dia menyayangiku. Karena pikirnya aku lebih
baik dari itu. Dan ia akan tetap menyayangiku, bahkan setelah kutunjukan dia salah.
Bella  Swan  duduk di  sebelahku,  gerakannya  canggung—agak  takut?  Bau  darahnya
mengembang dalam gumpalan awan yang tidak dapat ditolak lagi.
Akan kubuktikan ayahku salah. Kenyataan ini sama menyakitkannya dengan api yang
membakar kerongkonganku.
Aku menjauh darinya—memberontak dari monster yang ingin segera menerjangnya.
Kenapa dia harus  datang? Kenapa dia harus hidup? Kenapa dia harus merusak setitik
kedamaian     dari   ke   tak-hidupanku?   Mengapa   pengganggu   ini   dilahirkan?   Dia   akan
menghancurkanku!
Aku membuang muka. Tiba-tiba kebencian meliputiku.
Siapa   mahluk   ini?   Kenapa   aku,   kenapa   sekarang?   Kenapa   aku   mesti   kehilangan
segalanya hanya karena ia kebetulan memilih tinggal di kota ini?
Kenapa ia harus datang kesini!
Aku tidak mau menjadi monster!  Aku tidak mau membunuh seisi kelas ini!  Aku tak
13
   

ingin kehilangan segala yang berhasil kuraih lewat pengorbanan dan penyangkalan seumur
hidup!
Aku tidak mau. Dan dia tidak bisa memaksaku.
Bau adalah masalahnya, bau mengundang darahnya. Jika ada cara melawannya...jika
saja sapuan angin segar menjernihkan pikiranku.
Tiba-tiba   Bella   Swan   menggerai   rambut   panjangnya   yang   berwarna   mahoni
kesampingku.
Apa dia gila? Itu sama dengan menyemangati sang monster! Menggodanya.
Tidak  ada  lagi  hembusan  yang  bisa  mengusir   wanginya.  Sebentar   lagi  semua akan
hilang.
Tidak, tak ada lagi angin yang membantu. Tapi, aku tidak harus bernapas.
Kuhentikan aliran udara di paru-paruku; sedikit lega, tapi masih jauh dari aman. Aku
masih   memiliki   ingatan   aromanya,   rasanya   di   belakang   lidahku.   Aku   tidak   mampu
menahannya terlalu lama. Tapi mungkin bisa untuk satu jam. Satu jam. Cukup untuk keluar
dari ruangan penuh korban ini. Korban yang tidak seharusnya  jadi  korban. Jika  aku bisa
mehannya selama satu jam.
Ini   tidak   nyaman,   tidak   bernapas.   Tubuhku   tidak   memerlukan   oksigen,   tapi   itu
berlawanan dengan instingku. Aku mengandalkan penciuman lebih dari indra lainnya ketika
tertekan. Jadi penuntun ketika berburu. Itu adalah alarm  awal ketika muncul bahaya. Aku
belum  pernah  menemui  situasi  yang  sangat  berbahaya, tapi  kewaspadaan  kami  melebihi
manusia.
Tidak nyaman, namun dapat diatasi. Lebih dapat  ditahan daripada mencium
baunya
tanpa menenggelamkan gigiku pada kulitnya yang tipis, tembus pandang, menggiurkan, dan
kemudian merasakan basahnya, hangatnya, denyut—
Satu jam! Hanya satu jam. Aku tidak boleh memikirkan itu.
Gadis  itu membiarkan  rambutnya melewati bahu. Aku tidak bisa  melihat  wajahnya,
untuk membaca emosinya lewat  mata jernihnya yang dalam. Apa itu alasannya menggerai
rambut?   Menyembunyikan   matanya   dariku?   Karena   takut?   Malu?   Untuk   menyimpan
rahasianya?
Namun kejengkelan karena tidak mampu membaca pikirannya tidak sebanding dengan
14
   

kebutuhan—dan kebencian—yang melanda kini. Betapa  bencinya  aku  pada wanita  lemah
kekanakan disampingku ini. Membencinya dengan segenap rasa, sebesar  seluruh tekadku,
kecintaanku   pada   keluaragaku,   anganku   untuk   menjadi   lebih   baik...   Membencinya.
Membenci bagaimana ia membuatku seperti ini—itu sedikit  membantu. Ya, kemarahanku
tadi  masih   kurang,   tapi   itu   membantu.  Jadi   sebaiknya   fokus   pada   emosiku  agar   tidak
membayangkan mencicipi dia...
Benci dan marah. Gusar. Apa satu jam akan lewat?
Dan   ketika   satu   jam   berakhir...   ia   akan   meninggalkan   ruangan.   Lalu   apa   yang
kulakukan?
Aku bisa memperkenalkan diri.
Hai, namaku Edward Cullen. Boleh kutemani ke kelas
berikutnya?
Dia  akan mau.  Itu sesuatu yang  sopan.  Meskipun  takut,  ia  akan  mengikuti.  Cukup
mudah   menyesatkannya.  Batas  luar   hutan   tidak  jauh  dari   parkiran. Aku   bisa  beralasan
ketinggalan buku di mobil...
Apakah ada yang menyadari aku bersamanya? Sekarang hujan, seperti biasa, dua orang
bermantel berjalan di parkiran tidak akan mencurigakan.
Kecuali aku bukan satu-satunya yang seharian ini memperhatikan dirinya—meskipun
tidak seorangpun sewaspada diriku. Mike Newton, terkecuali, dia cukup penasaran dengan
kegelisahan Bella—dia tidak nyaman di dekatku, seperti yang lainnya, sebelum  aromanya
merusak segalanya. Mike Newton akan tahu jika dia pergi denganku.
Jika mampu satu jam, bisakah dua jam?
Kusentak rasa terbakar yang perih ini.
Dia akan pulang ke rumah kosong. Sherif  Swan bekerja seharian. Aku tahu rumahnya,
seperti kutau setiap rumah disini. Rumahnya di pinggir  hutan. Tanpa tetangga. Bahkan jika
sempat berteriak, yang sangat mustahil, tidak akan ada yang mendengar.
Itu cara yang lebih bertanggung jawab. Aku tahan puluhan tahun tanpa darah manusia.
Jika menahan napas, aku bisa tahan dua jam. Dan saat ia sendirian, tidak ada orang lain yang
terluka.
Dan tidak perlu terburu-buru menikmatinya
, monster di kepalaku setuju.
Meskipun aku membenci dirinya, aku tahu itu tidak beralasan. Aku tahu yang kubenci
sebenarnya adalah diriku sendiri. Dan aku akan lebih membenci kami berdua ketika ia mati.
15
   

Kulewati   menit   demi   menit   dengan   cara   ini—membayangkan   cara   terbaik
membunuhnya.   Tapi   aku   menghindari   bayangan   saat   mengeksekusinya.   Itu   terlalu
berlebihan. Aku  bisa kalah dan membunuh semuanya  sekarang juga.  Maka  aku  membuat
strategi, tidak lebih. Dengan begitu satu jam akan berhasil kulalui.
Di  penghujung,  dia  mencuri  pandang lewat  celah rambutnya. Kebencian mendalam
langsung menusukku ketika pandangan kami bertemu—melihatnya di pantulan matanya yang
ketakutan. Darah memerah di pipinya, dan aku sudah akan bergerak.
Tapi bel berbunyi. Selamat karena bel—Klise. Kami berdua sama-sama selamat. Dia,
dari kematian. Aku, walau hanya menunda, dari perubahan menjadi mahluk mengerikan yang
menjijikan.
Aku tidak berjalan sepelan semestinya ketika meluncur  keluar. Mungkin mer eka akan
curiga ada yang tidak beres dengan gerakanku. Tapi tidak ada yang memperhatikan. Semua
masih berkutat pada gadis yang telah dikutuk mati satu jam lagi.
Aku bersembunyi dalam mobil.
Sebenarnya aku tidak suka bersembunyi. Terlalu pengecut. Tapi ini pengecualian.
Aku sedang tidak tahan dekat-dekat manusia.  Berkonsenstrasi untuk tidak mebunuh
satu orang membuatku ingin melampiaskannya ke orang lain. Betapa sia-sia. Jika menyerah
pada sang monster, sama saja kalah.
Kunyalakan   CD   yang   biasanya   menenangkan.   Tapi   efeknya   cuma   sedikit.   Yang
kubutuhkan  adalah  udara  bersih,  basah, dan dingin, yang mengalir  bersama  rintik hujan.
Meskipun dapat mengingat bau darah Bella Swan dengan jelas, menghirup udara segar sama
seperti membilas organ tubuhku dari infeksi.
Kini  aku kembali waras. Aku bisa berpikir. Dapat bertarung lagi, melawan apa yang
kutentang.
Aku tidak perlu ke rumahnya. Tidak perlu membunuhnya. Jelas, aku mahluk rasional,
dan punya pilihan. Selalu ada pilihan.
Itu tidak kurasakan ketika di kelas...tapi sekarang sudah jauh darinya. Mungkin, jika
menjauh dengan sangat, sangat hati-hati, hidupku tidak perlu berubah. Semua bisa berjalan
seperti   keinginanku.   Kenapa   membiarkan   pengganggu-menggiurkan   tak-berharga
merusaknya?
16
   

Tidak
perlu
mengecewakan   ayahku.   Tidak   perlu   membuat   ibuku   tertekan,
khawatir...terluka. Ya, itu akan melukai ibu angkatku. Dan Esme begitu penuh cinta, halus,
dan lembut. Menyebabkan seseorang seperti Esme terluka tidak bisa dimaafkan.
Sungguh ironis tadi aku ingin melindunginya dari sindiran Jessica Stanley yang tidak
berbahaya. Aku adalah orang terakhir  yang akan jadi pelindung Isabella Swan. Aku adalah
ancamannya paling berbahaya.
Dimana  Alice? Apa  dia  belum melihatku membunuh si  Swan dalam beragam  cara?
Kenapa   dia   tidak   membantu—mengehentikan   atau   menolong   membereskan   bukti-bukti,
apapunlah?   Apa   dia   terlalu   terlena   mengawasi   bahaya   dari   Jasper,   hingga   melewati
kemungkinan yang lebih mengerikan? Apa aku sekuat yang dia pikirkan? Apa aku tidak akan
menyentuh gadis itu?
Sepertinya itu tidak benar. Alice pasti sedang berkonsenstrasi pada Jasper.
Aku   mencari   posisinya,   ke   bangungan   kecil   kelas   bahasa   Inggris.   Tidak   sulit
menemukan 'suaranya' yang sangat kukenal. Tebakanku betul. Segenap pikirannya tercurah
pada Jasper, mengawasi secara ketat pilihan-pilihan kecil tiap menitnya.
Aku beraharap bisa minta saranya, tapi di sisi lain, aku lega ia tidak mengetahui apa
yang mampu kulakukan. Bahwa ia tidak menyadari pembantaian yang kupertimbangkan tadi.
Terasa hal lain membakarku—rasa malu. Aku tidak ingin yang lain tahu.
Jika  bisa menghindar   dari Bella  Swan, jika mampu bertahan tidak membunuhnya—
bahkan  ketika memikirkannya, monster  dalam  diriku menggeliat  dan menggeretakan gigi
frustasi—maka tidak ada yang perlu tahu. Jika aku menjauh dari baunya...
Tidak  ada   alasan  untuk  tidak  mencoba.  Pilih  yang  benar.  Coba   menjadi  apa  yang
Carlisle pikirkan tentang diriku.
Jam terakhir sekolah hampir selesai. Kuputuskan menjalankan rencana itu. Lebih baik
daripada  menunggu  di  parkiran,  bisa  saja  ia  lewat  dan  merusak  niatku.  Lagi, kurasakan
kebencian yang tak adil pada gadis itu. Aku benci karena ia hampir mengalahkanku. Bisa saja
ia mengubahku menjadi sesuatu yang kukutuk.
Aku bergegas—sedikit terlalu cepat, tapi tidak ada yang melihat—melintasi parkiran
menuju ruang Tata Usaha. Tidak mungkin berjumpa dengan Bella Swan disana. Dia mesti
dihindari layaknya wabah menular.
17
   

Di dalam cuma ada seorang pegawai, yang memang ingin kutemui.
Dia tidak menyadari kedatanganku.
“Mrs. Cope?”
Perempuan yang rambutnya dicat merah itu mendongak dan matanya melebar. Selalu
saja lengah. Sesuatu yang tidak mereka pahami, tak perduli berapa kalipun bertemu salah
satu dari kami.
“Oh,” dia kaget, agak gugup. Dia merapihkan t-shirtnya.
Konyol,
pikirnya pada dirinya.
Dia cukup muda untuk jadi anakku. Terlalu muda untuk memandangnya seperti itu...
“Halo,
Edward. Ada yang bisa dibantu?” bulu matanya bergoyang dibalik kacamatanya yang tebal.
Risih. Tapi aku tahu caranya untuk mempesona ketika dibutuhkan. Mudah, mengingat
aku bisa membaca pikiran sekaligus isyarat tubuhnya.
Aku bersandar  kedepan, menatapnya seakan sedang menyelami mata  coklatnya yang
datar. Pikirannya sudah tidak karu-karuan. Ini akan mudah.
“Saya  ingin  minta  tolong  dengan  jadwal  saya,”  kataku  sehalus  mungkin  agar  tidak
menakutinya.
Detak jantungnya makin cepat.
“Tentu,   Edward.   Apa   yang   bisa   saya   bantu?”
terlalu   muda,   terlalu   muda,
dia
merapalnya  berulang-ulang. Salah, tentu saja. Aku lebih tua  dari kakeknya. Tapi berdasar
tanggal di SIM, dia betul.
“Kira-kira  apa  saya  bisa  menukar  jam  pelajaran biologi  saya?  Dengan kelas   senior
mungkin?”
“Apa ada masalah dengan Mr. Banner?”
“Bukan itu, saya sudah pernah mempelajarai materinya...”
“Pada waktu di Alaska, ya...” bibir  tipisnya mengkerut ketika mempertimbangkan ini.
Mereka lebih pantas kuliah. Banyak guru yang mengeluh. Nilainya sempurna, tidak pernah
ragu di kelas, tidak pernah salah ketika ujian—seakan selalu menemukan cara menyontek.
Mr. Varner lebih memilih percaya mereka mencontek daripada beranggapan ada murid yang
lebih pintar darinya... aku yakin ibunya mengajari mereka di rumah...
“Sayangnya, Edward,
semua kelas sudah penuh. Para guru tidak ingin kelasnya lebih dari duapuluh lima orang—”
“Saya tidak akan menyulitkan di kelas.”
18
   

Tentu saja tidak. Keluarga Cullen tidak akan begitu.
“Saya tahu itu, Edward. Tapi tidak
ada cukup kursi...”
“Kalau begitu bisa saya batalkan kelasnya? Saya bisa belajar sendiri.”
“Membatalkan pelajaran biologi?” mulutnya terngaga.
Itu gila. Apa susahnya duduk
manis di mata pelajaran yang sudah dikuasai? Pasti ada masalah dengan Mr. Banner. Apa
perlu nanti kubicarakan dengan Bob?
“Nilaimu tidak akan cukup untuk lulus.”
“Saya akan mengejarnya tahun depan.”
“Mungkin kamu perlu ijin dulu dari orang tuamu.”
Pintu membuka di belakang, tapi siapapun itu tidak memikirkan diriku, jadi kuacuhkan.
Aku mencondongkan tubuh lebih dekat, dan kubuka mataku lebih lebar. Akan lebih baik jika
keemasan daripada hitam. Kelegamannya membuat orang takut, sebagaimana mestinya.
“Please, Mrs. Cope?” kubuat suranya semerdu mungkin—itu dapat sangat membujuk.
“Apa tidak ada kelas apapun yang bisa saya tukar? Pasti ada kelas kosong lain? Kelas biologi
itu tidak mungkin satu-satunya...”
Aku   tersenyum,   berhati-hati   agar   tidak   memperlihatkan   gigiku   ter lalu   lebar   dan
membuatnya takut.
Jantungnya berdetak lebih kencang.
Terlalu muda
, dia mengingatkan dirinya dengan
galau. “Mungkin saya bisa bicara dengan Bob—maksud saya Mr. Banner. Akan saya lihat
jika—“
Satu detik lebih  dari  cukup  untuk mengubah  segalanya:  suasana di  dalam  ruangan,
tujuanku kesini, alasanku mencondongkan tubuh ke perempuan ini... semuanya lenyap.
Satu  detik   yang   dibutuhkan   Samantha   Wells  untuk  membuka  pintu   dan   menaruh
laporan di rak, lalu keluar  lagi. Satu detik yang dibutuhkan bagi hembusan angin dari pintu
melabrakku. Satu detik yang kubutuhkan untuk menyadari mengapa pikiran orang pertama
tadi tidak mengganggu.
Aku menoleh, meskipun tidak perlu. Aku  menoleh pelan, berjuang  agar  otot-ototku
tidak memberontak.
Bella Swan sedang berdiri dekat pintu. Secarik kertas  ditangannya. Matanya melebar
ketika mendapati tatapan ganas dan tak manusiawiku.
Bau darahnya memenuhi ruang kecil hangat ini. Kerongokonganku membara. Monster
19
   

itu kembali menatapku dari matanya, topeng iblis.
Tanganku bersiap di meja. Tak perlu melihat untuk menjangkau kepala Mrs. Cope dan
membenturkannya ke meja hingga membunuhnya. Dua nyawa, daripada duapuluh. Cukup
adil.
Sang monster menuggu gelisah, lapar, ingin cepat-cepat menyelesaikannya.
Tapi selalu ada pilihan—pasti ada.
Kuhentikan napasku, dan menampilkan wajah Carlisle di depan mataku. Aku berbalik
ke Mrs. Cope, dan 'mendengar'  kekagetannya  melihat  perubahan  ekspresiku. Dia mundur,
tapi ketakutannya tidak terucap.
Menggunakan segala daya yang kulatih puluhan tahun menyangkal diri, aku berkata
sehalus mungkin. Ada cukup udara di paru-paru untuk bicara sekali lagi, dengan cepat.
“Kalau  begitu lupakan  saja. Aku  tahu  ini  tidak  mungkin.  terima  kasih  banyak atas
bantuannya.”
Aku  cepat-cepat  keluar,  berusaha  tidak  merasakan kehangatan  darah  gadis   itu  saat
melewatinya.
Aku tidak berhenti sampai tiba di mobil, berjalan terlalu cepat. Kebanyakan sudah pada
pulang,  tidak terlalu banyak  saksi.  Aku  mendengar  suara  D.J.  Garret, melihat,  kemudian
mengabaikannya...
Darimana   datangnya   si   Edward—seperti   muncul   begitu   saja...   mulai   lagi,
membayangkan yang aneh-aneh. Mom selalu bilang...
Ketika menyelinap kedalam mobil, semua sudah disitu. Aku berusaha mengatur napas,
tapi justru terengah mencari udara segar seperti habis tercekik.
“Edward?” Alice bertanya, suaranya waspada.
Aku cuma menggeleng.
“Apa   yang   terjadi   padamu?”   Emmet   mendesak   khawatir.   Pikirannya   teralihkan,
sementara, dari kenyataan bahwa Jasper sedang tidak mood untuk pertandingan ulang.
Bukannya   menjawab,   aku   buru-buru   memundurkan   mobil.   Aku   mesti   cepat- cepat
meninggalkan parkiran sebelum Bella Swan datang. Bagiku dia setan yang menghantuiku...
Aku menginjak pedal gas dalam-dalam. Kecepatanku sudah empat puluh mil sebelum keluar
parkiran. Di jalan, aku mencapai tujuh puluh sebelum tiba di kelokan.
20

Baca selanjutnya ..