Cari Blog Ini

movie mania

4.


Ketika   usaha   penyelamatan   mulai   dilakukan—para   orang   dewasa   datang,   pihak
berwajib  ditelepon,  suara  sirene  di   kejauhan—aku  berusaha   mengabaikan  gadis   itu   dan
meletakan hal yang terpenting pada tempatnya. Aku mencari ke setiap benak di parkiran, para
saksi   dan   orang-orang   yang   baru   datang,   dan   tidak   menemukan   hal   yang   berbahaya.
Beberapa  ada   yang  terkejut   melihat  aku  disamping   Bella,  tapi  semuanya  terpecahkan—
karena  tidak   ada   lagi  kemungkinan   pemecahan  yang  lain—bahwa  mereka   hanya   tidak
menyadari aku berdiri di samping gadis itu sebelumnya.
Hanya dia yang tidak mau menerima penjelasan yang mudah, tapi dia bukan saksi yang
akan   dianggap   layak.   Dia   ketakutan,   trauma,   belum   ditambah   benturan   di   kepalanya.
Kemungkinan agak syok. Akan lebih mudah untuk membalikan ceritanya, bukan kah begitu?
Tidak akan ada yang percaya pada cerita seperti itu ketika banyak penonton justru bersaksi
sebaliknya...
Aku mengernyit ketika menangkap pikiran Rosalie, Jasper, dan Emmet, yang baru saja
datang. Aku mesti membayar mahal nanti malam.
Aku ingin meratakan bekas penyok pada mobil coklat yang terhantam pundakku, tapi
dia terlalu dekat. Aku mesti menunggu sampai gadis itu teralihkan.
Sangat menjengkelkan harus  menunggu—banyak mata  menatapku—saat  orang-orang
berusaha menggeser
van
nya. Aku mungkin saja membantu mereka, agar lebih cepat, tapi aku
sudah cukup terlibat masalah. Lagipula gadis ini matanya tajam. Akhirnya, mereka berhasil
menggeser
van
nya cukup jauh hingga tim medis bisa mendatangi kami dengan tandu.
Sesosok pria beruban yang tidak asing mendekatiku.
“Hey, Edward,” Brett Warner menyapa. Dia seorang perawat. Aku mengenalnya cukup
baik dari  rumah sakit. Ini suatu keberuntungan—satu-satunya keberuntungan hari ini—dia
yang pertama kali tiba. Dalam pikirannya ia tidak curiga. “Apa kau baik-baik saja,
kid
?”

Perfect,
Brett. Aku tidak kena apa-apa. Tapi sepertinya Bella mengalami gegar otak.
Kepalanya terbentur cukup keras ketika aku mendorongnya...”
Brett ganti  mengarahkan perhatiannya pada si gadis, yang menatapku sengit merasa
dikhianati. Oh, iya betul. Dia seorang martir  pendiam—dia lebih memilih menderita diam-
diam.
Dia tidak langsung membantah ceritaku. Itu membuatku lebih rileks.
61
   

Petugas  medis  berikutnya  memaksa  agar  aku  juga  dirawat, tapi tidak  sulit  menolak
mereka. Aku berjanji  akan  membiarkan  ayahku  sendiri  yang memeriksa,  dan  dia  setuju.
Dengan kebanyakan manusia, bicara dengan nada meyakinkan sudah lebih dari cukup. Buat
kebanyakan manusia, bukan untuk gadis ini. Apa dia cocok dengan
satupun
ciri-ciri normal?
Saat  mereka   mengenakan  penyangga   leher   ke   dia—dan  mukanya  langsung  merah
padam karena malu—aku menggunakan momen itu untuk diam-diam membetulkan lekukan
di mobil coklat dengan belakang kaki. Hanya saudara-saudaraku yang melihat, dan aku bisa
mendengar pikiran Emmet berjanji akan membereskan sisanya kalau ada yang terlewat.
Aku bersyukur  atas bantuannya—dan lebih bersyukur lagi bahwa Emmet, paling tidak,
telah   memaafkan   pilihan   berbahayaku—aku   merasa   lebih   tenang   saat   naik   kedepan
ambulance, disamping Brett.
Kepala polisi datang sebelum Bella dinaikan ke ambulance.
Meskipun   tidak   terucap,   kepanikan   pikirannya   mengalahkan   semua   pikiran   lain
disekitarnya. Sangat cemas dan mer asa bersalah, gelombang besar  perasaan itu membuatnya
pilu saat melihat anak perempuan satu-satunya diatas tandu.
Rintihan dia sampai padaku, menggema makin dalam. Saat Alice memberi peringatan
bahwa membunuh putri
Chief
Swan juga akan membunuhnya, dia tidak melebih-lebihkan.
Kepalaku tertunduk merasa bersalah.
“Bella!” Dia berteriak panik.
“Aku baik-baik saja Char—Dad.” keluhnya. “Aku tidak terluka.”
Kata-kata Bella tidak terlalu menenangkan ayahnya. Dia  bertanya ke petugas  medis
terdekat menuntut informasi lebih banyak.
Baru setelah mendengarnya bicara, mengucapkan satu kalimat utuh selain panik, aku
menyadari bahwa kecemasan dia
bukannya
tidak terucap. Aku hanya... tidak bisa mendengar
ada kata-katanya yang jelas.
Hmm. Charlie  Swan tidak sependiam putrinya, tapi aku bisa  melihat darimana  Bella
mendapatkannya. Menarik.
Aku belum pernah menghabiskan terlalu banyak waktu disekitar
chief
Swan. Aku selalu
menganggapnya   berpikiran   lamban—baru   sekarang   aku   sadar   bahwa   cuma
aku
yang
menganggap dia lamban. Pikirannya sebagian tersembunyi, bukannya kosong. Aku cuma bisa
62
   

menangkap satu nada, sedang sisa harmoni lainnya...
Aku ingin mendengar lebih banyak, siapa tahu misteri kecil baru ini bisa membawaku
menemukan kunci rahasia gadis itu. Tapi sebentar lagi Bella akan dimasukan ke ambulance.
Cukup   sulit   menjauhkan   diri   dari   misteri   yang   telah   membuatku   terobsesi.   Tapi
sekarang ada yang lebih penting—untuk menilai kejadian tadi dari berbagai sudut. Aku mesti
mendengarkan, untuk memastikan kami tidak dalam bahaya hingga harus  cepat-cepat pergi.
Aku harus konsentrasi.
Tidak ada yang perlu dikhawatirkan dari pikiran-pikiran yang ada di ambulance. Sejauh
yang bisa  mereka katakan, tidak ada luka serius  pada gadis  ini. Dan Bella  masih bertahan
pada cerita yang kuajukan, sejauh ini.
Ketika tiba di rumah sakit, prioritas pertama adalah mencari Carlisle. Aku cepat-cepat
menghambur dari pintu depan, tapi aku juga tidak bisa melepas Bella dari pengawasan; aku
mengawasi dia lewat pikiran tim medis.
Cukup  mudah menemukan pikiran  ayahku. Dia  ada  di dalam  kantornya  yang  kecil,
seorang diri—keberuntungan kedua di hari sial ini.
“Carlisle.”
Dia mendengarku mendekat tak sabar, dan segera waspada begitu melihat wajahku. Dia
langsung terlonjak berdiri. Wajahnya pucat. Dia bertumpu keatas meja kayu
walnut
nya yang
rapih sambil menatapku nanar.
Edward—kau tidak—
“Tidak, tidak, bukan itu.”
Dia langsung menghela napas lega.
Tentu saja. Maaf aku berpikiran yang tidak-tidak.
Matamu, tentu saja, aku seharusnya tahu...
dia menyadari mataku yang masih keemasan.
“Dia terluka Carlisle, mungkin tidak serius, tapi—“
“Apa yang terjadi?”
“Gara-gara mobil bodoh itu. Dia ada di tempat yang salah pada waktu yang salah. Tapi
aku tidak bisa membiarkannya—membiarkan mobil itu meremukan dia—“
Coba ulangi, aku tidak mengerti. Bagaimana kau terlibat?
“Sebuah mobil
van
tergelincir  diatas es,” aku berbisik ngeri. Aku menatap dinding di
belakangnya saat bicara. Bukannya menjejali dengan bingkai ijasah, dia menggantung satu
63
   

lukisan cat minyak sederhana—salah satu lukisan favoritnya, karya seorang pelukis bernama
Hassam. “Dia  tidak jauh di  depannya. Alice  sempat  melihat itu. Tapi tidak  cukup waktu
untuk melakukan apapun kecuali
lari
melintasi parkiran dan menyelamatkan dia. Tidak ada
yang memperhatikan... kecuali dia. Aku juga mesti menghentikan
Van
itu, tapi lagi, tidak ada
yang   melihat...kecuali   dia.   Aku...aku   minta   maaf   Carlisle.   Aku   tidak   ber maksud
membahayakan kita.”
Dia mengitari meja dan memegang pundakku.
Kau melakukan hal yang benar. Dan itu tidak mudah bagimu. Aku bangga padamu
Edward.
Aku kembali sanggup menatap matanya. “Dia tahu ada sesuatu...yang salah denganku.”
“Itu tidak penting. Jika kita harus pergi, kita pergi. Apa yang sudah ia katakan ke orang-
orang?”
Aku menggeleng, sedikit frustasi. “Belum ada.”
Belum?
“Dia menyetujui versi ceritaku—tapi dia mengharapkan penjelasan.”
Alisnya mengerut, mempertimbangkan kejadian ini.
“Kepalanya  terbentur—
well
,  aku  yang  melakukannya,”  aku  buru-buru melanjutkan.
“Aku menjatuhkan dia ke  aspal  agak  keras. Kelihatannya  tidak apa-apa, tapi...  jadi  tidak
cukup untuk mendeskreditkan dia.”
Aku merasa seperti orang rendahan hanya dengan mengatakannya.
Carlisle mendengar  kesan itu pada suaraku.
Barangkali tidak perlu. Kita tunggu saja
apa yang terjadi, mari? Sepertinya aku punya pasien yang harus diperiksa.
“Kumohon,” Ujarku. “Aku sangat khawatir telah menciderainya.”
Ekspresi Carlisle terlihat lebih cerah. Dia merapihkan rambut putihnya—sedikit lebih
terang dari mata emasnya—dan tertawa.
Ini  merupakan hari yang menarik  bagimu bukan?
Dia  membatin. Aku  bisa  melihat
ironinya, dan itu menggelitik, paling tidak bagi dia. Tadi aku berlaku sebaliknya dari peranku
semestinya.  Entah  kapan,  pada  sekejapan  sembrono  tadi,  ketika  bergerak  kilat   melintasi
parkiran, aku bertransformasi dari seorang pembunuh menjadi penolong.
Aku tertawa  bersama  Carlisle, mengingat  aku pernah yakin bahwa  Bella tidak akan
64
   

pernah membutuhkan perlindungan dari bahaya apapun lebih dari aku. Ada kegetiran pada
tawaku karena hal itu masih sepenuhnya betul.
Aku menunggu sendirian di kantor  Carlisle—masa penantian yang paling lama  yang
pernah kurasakan—mendengarkan semua pikiran di rumah sakit.
Tyler Crowley, si pengemudi
van
, kelihatannya terluka lebih serius. Perhatian perawat
beralih ke dia, sementara Bella menunggu giliran dirontgen. Carlisle tidak turun tangan, dia
mempercayai   diagnosa   asistennya   bahwa   si   gadis   hanya   luka   ringan.   Itu   tidak   terlalu
membuatku lega, tapi aku tahu Carlisle benar. Sekali melihat wajahnya, Bella akan langsung
ingat padaku, pada fakta bahwa ada sesuatu yang tidak beres  dengan keluargaku. Itu akan
membuatnya cerita kemana-mana.
Kini ia punya lawan bicara yang cukup bersemangat. Tyler merasa sangat bersalah, dan
tidak bisa berhenti mengungkapkan penyesalannya. Aku bisa melihat ekspresi Bella melalui
mata Tyler. Sangat jelas gadis itu berharap dia berhenti. Bisa-bisanya Tyler tidak melihat hal
itu?
Kemudian   tiba   saat   yang   membuatku   tegang.   Tyler   bertanya   bagaimana   ia   bisa
menyingkir dari jalan.
Aku menunggu, tidak bernapas. Ia ragu-ragu.

Mmm...
” aku mendengar  dia menggumam. Kemudian diam cukup lama hingga Tyler
menduga   pertanyaannya   telah   membuat   bingung.   Akhirnya   ia   melanjutkan.   “
Edward
menarikku dari jalan.

Aku menghela napas. Tapi kemudian napasku memburu. Aku belum pernah mendengar
dia mengucapkan namaku. Aku suka pada cara dia mengucapkannya—bahkan hanya dengan
mendengarnya melalui pikiran Tyler. Aku ingin mendengarnya sendiri...

Edward Cullen,
”  dia berkata, ketika  Tyler  tidak menyadari siapa  yang dia  maksud.
Tiba-tiba  aku  sudah  di  depan  pintu,  tanganku pada  gagang  pintu.  Hasrat  untuk  bertemu
dengan dia berkembang makin kuat. Aku harus  mengingatkan diriku sendiri untuk berhati-
hati.
“Dia berdiri disebelahku.

“Cullen?”  Huh, itu aneh. “Aku tidak  melihat dia.” aku bersumpah... “Wow, kurasa
65
   

kejadiannya berlangsung cepat sekali. Apa dia baik-baik saja?”
“Sepertinya  begitu. Dia  ada disini  entah  dimana, tapi mereka  tidak  membawa dia
dengan tandu.”
Aku melihat tatapan menimbang pada wajahnya, kecurigaan menggantung di matanya,
tapi perubahan kecil pada ekspresinya tidak dilihat Tyler.
Dia   cantik,
dia   sedang   berpikir,  baru  menyadar i  pikirannya.
Bahkan  ketika  acak-
acakan   begini.  Bukan   tipeku,  tapi   tetap  saja...   aku   harus   mengajaknya   kencan.   Untuk
membayar hari ini...
Dalam sekejap aku sudah berada di koridor, setengah jalan menuju UGD, tanpa berpikir
apa   yang  sedang  kulakukan.  Untungnya,  seorang   perawat   masuk   duluan—Giliran   Bella
untuk dirontgen
.
Aku bersembunyi  di pojokan, berusaha menguasai  diri  saat  ia didorong
dengan kursi roda.
Aku tidak perduli jika menurut Tyler  dia cantik. Semua bisa melihat hal itu. Tidak ada
alasan bagiku untuk merasa...bagaiman
yang
kurasakan? Terganggu? Atau,
marah
kah yang
lebih tepat? Tidak masuk akal.
Aku   diam   selama   mungkin,   tapi   ketidaksabaran-ku   yang   akhirnya   menang.  Aku
mengambil  jalan  memutar  ke  ruang  rontgen.  Tapi dia sudah  dibawa  balik  lagi  ke  UGD.
Namun aku sempat mencuri lihat hasil rontgennya saat si perawat pergi.
Aku jauh lebih tenang. Kepalanya baik-baik saja. Aku tidak melukainya, tidak terlalu.
Carlisle memergokiku.
Kau kelihatan jauh lebih baik
, dia berkomentar.
Aku hanya melihat lurus kedepan. Kami tidak sendirian, koridor penuh dengan perawat
dan pengunjung.
Ah, iya.
Carlisle memasang hasil rontgennya ke
lightboard
, tapi aku tidak perlu melihat
dua kali.
Kurasa begitu. Dia baik-baik saja. Kerja bagus, Edward.
Nada persetujuan dari ayahku membuat reaksiku campur aduk. Aku seharusnya senang,
namun aku tahu ia tidak akan setuju dengan apa yang akan kulakukan, paling tidak jika tahu
motivasiku sebenarnya...
“Kurasa   aku   akan   bicar a   dengannya—sebelum   dia   bertemu   dengan   mu,”   aku
menggumam dibalik napas. “Bersikap normal, seperti tidak terjadi apa-apa. Agar  dia tidak
66
   

makin curiga.” semuanya alasan yang bisa diterima.
Carlisle  mengangguk-angguk  sendirian,   masih   memandangi   hasil   rontgennya.   “Ide
bagus. Hmm...”
Aku melirik untuk melihat apa yang menarik perhatiannya.
Coba lihat bekas-bekas memar ini! Berapa kali dulu ibunya menjatuhkan dia?
Carlisle tertawa sendiri pada leluconnya.
“Aku mulai berpikir gadis itu betul-betul punya nasib sial. Selalu berada di tempat yang
salah dan waktu yang salah.”
Forks tentunya tempat yang salah bagi dia, dengan kau disini.
Aku terdiam
Sudah sana. Jangan buat dia curiga. Aku akan menyusul sebentar lagi.
Aku   cepat-cepat   pergi,   merasa   bersalah.  Mungkin   aku   memang  pembohong  besar
hingga bisa mengelabui Carlisle.
Ketika sampai di UGD, Tyler  terlihat masih terus menggumakan peyesalan. Gadis  itu
berusaha  mengabaikannya  dengan pura-pura  tidur. Matanya  tertutup,  tapi  napasnya  tidak
teratur, dan sesekali jarinya bergerak tidak sabar.
Aku   menatap   wajahnya   lama-lama.   Ini   terakhir   kalinya   aku   akan   melihat   dia.
Kenyataan   itu   memicu   rasa   nyer i   di   dadaku.   Apa   alasannya   karena   aku   tidak   suka
meninggalkan misteri yang tidak terpecahkan? Tapi sepertinya itu tidak cukup menjelaskan.
Akhirnya aku menarik napas dalam-dalam dan mendekat.
Ketika Tyler  melihatku, ia  sudah akan bicara, tapi aku memberi isyrat agar  dia tetap
tenang.
“Apa dia tidur?” aku bergumam pelan.
Mata Bella tiba-tiba terbuka dan melihat ke arahku. Matanya sesaat melebar, kemudian
menyipit dengan tatapan marah dan curiga. Aku ingat punya peran yang harus  kumainkan,
jadi aku tersenyum seakan tidak ada kejadian apa-apa pagi ini—selain luka di kepalanya dan
imajinasinya yang berlebihan.
“Hai, Edward,” sapa Tyler. “Aku sangat menyesal—“
Aku mengangkat tanganku. “Tidak ada darah, tidak seru.” aku berkata masam. Tanpa
berpikir, aku tersenyum terlalu lebar pada leluconku.
67
   

Ternyata  mudah  mengabaikan Tyler,  yang terbaring tidak jauh dariku dengan darah
segar pada lukanya. Aku tidak pernah memahami bagaimana Carlisle melakukannya—tidak
mengindahkan  darah  pasiennya  selama  merawat   mereka.  Bukan   kah  godaan  yang  terus
menerus akan membuat pikiran kacau, sangat bahaya...? Tapi sekarang... Aku bisa mengerti.
Jika kau
sangat-sangat
fokus pada hal lain
,
godaan itu jadi tidak ada artinya.
Bahkan darah segar Tyler pada kepalanya yang terbalut perban jadi tidak berarti apa-
apa dihadapan Bella.
Aku menjaga jarak darinya, duduk di ujung tempat tidur Tyler.
“Jadi, apa kata mereka?” aku bertanya padanya.
Bibir   bawahnya   sedikit   mencebik.   “Aku   baik- baik   saja.   Tapi   mereka   tidak
mengijinkanku pergi. Bagaimana bisa kau tidak ditandu seperti kami?”
Ketidaksabarannya membuatku tersenyum lagi.
Aku bisa mendengar suara Carlisle di koridor.
“Itu cuma soal siapa yang kau kenal,” aku berkata santai. “Tapi jangan khawatir, aku
datang untuk menyelamatkanmu.”
Aku   menatap   reaksinya   baik-baik   saat   ayahku   masuk.   Matanya   membesar   dan
mulutnya   benar-benar   ternganga.   Aku   mengerang   dalam   hati.   Tentu   saja   dia   melihat
kemiripan kami.
“Jadi, Miss  Swan, bagaimana perasanmu?“  Carlisle bertanya.  Dia punya sikap yang
menyejukan disamping kebaikan hatinya. Para pasiennya biasanya langsung merasa tenang.
Tapi aku tidak bisa mengatakan bagaimana pengaruhnya pada gadis ini.
“Aku baik-baik saja,” dia berkata pelan.
Carlisle  menyematkan hasil rontgennya ke
lightboard
disamping tempat tidur. “Hasil
rontgenmu baik. Apa kepalamu sakit? Kata Edward kau terbentur cukup keras.”
Dia  mengeluh, dan berkata, “Aku tidak apa-apa,” jawabnya lagi, kali  ini agak tidak
sabaran. Kemudian ia mengerling kesal padaku.
Carlisle   mendekat   dan   tangannya   meraba   ringan   kepalanya   sampai   menemukan
benjolan dibawah rambutnya.
Aku terkejut dengan gelombang emosi yang tiba-tiba melandaku.
Aku  telah  melihat  Carlisle   merawat   manusia   ribuan  kali.  Bertahun-tahun  lalu,  aku
68
   

bahkan  membantunya—meski  dalam situasi yang tidak melibatkan darah. Jadi  bukan hal
baru melihat bagaimana dia berinteraksi dengan gadis  itu seakan dia sendiri juga manusia.
Aku  kadang  iri  pada  penguasaan dirinya,  tapi  itu berbeda dengan emosi  yang kurasakan
sekarang. Yang kuiri lebih dari sekedar  penguasaan dirinya. Aku iri pada pada perbedaan
Carlisle   dan   aku—bahwa   ia   dapat   menyentuh   gadis   itu   dengan   lembut,   tanpa   takut,
mengetahui ia tidak akan menyakitinya...
Bella mengernyit, dan aku mengejang di tempat. Untuk sesaat aku mesti berkonsentrasi
untuk membuat postur tubuhku rileks.
“Sakit?” tanya Carlisle.
Sesaat dagunya tersentak. “Tidak juga,”
Satu lagi kepingan karakter gadis itu terungkap; dia berani. Dia tidak suka menunjukan
kelemahannya.
Kemungkinan ia adalah mahluk paling rapuh yang pernah kutemui, dan ia tidak ingin
terlihat lemah. Aku sedikit terkekeh.
Kembali dia mengerling kesal.

Well,”
ujar  Carlisle.  “Ayahmu   ada   di  ruang   tunggu—kau  bisa   pulang  dengannya
sekarang. Tapi kembali lah jika kau mer asa pusing atau penglihatanmu tergganggu.”
Ayahnya disini? Aku menyapu pikiran-pikiran yang ada di ruang tunggu. Tapi aku tidak
bisa menemukan suara mentalnya sebelum Bella kembali bicara, wajahnya gelisah.
“Bolehkah aku kembali ke sekolah?”
“Mungkin kau bisa istirahat dulu hari ini,” Carlisle menyarankan.
Matanya kembali menuduhku, “Apa
dia
boleh pergi ke sekolah?”
Bersikap   normal,   jangan  mencurigakan...abaikan  rasanya   saat  ia  menatap   kedalam
mataku...
“Harus ada orang yang menyebarkan kabar baik bahwa kita selamat,” kataku.
“Sebetulnya,”   Carlisle   mengoreksi,   “Hampir   sebagian   besar   murid   ada   di   ruang
tunggu.”
Kali  ini  aku  sudah mengantisipasi  reaksinya—enggan mendapat  perhatian.  Dan dia
tidak mengecewakan.
“Oh tidak,” dia mengerang dan menutup wajahnya dengan tangan.
69
   

Aku senang akhirnya bisa menebaknya dengan betul. Aku mulai bisa memahami dia...
“Apa kau ingin tetap tinggal disini?” Tanya Carlisle.
“Tidak, tidak!” dia buru-buru menolak, mengayunkan kakinya ke samping dan merosot
turun ingin berdiri.  Dia tersandung  kedepan, hilang keseimbangan, lalu  jatuh ke  pelukan
Carlisle. Carlisle menangkapnya kemudian menyeimbangkan dia.
Lagi, rasa iri itu melanda diriku.
“Aku baik-baik saja,” ujarnya cepat. Rona merah muda terlihat di pipinya.
Tentu saja  itu  tidak mengganggu  Carlisle.  Dia  memastikan Bella  berdiri  seimbang,
kemudian melepaskan peganggannya.
“Minum Tylenol untuk mengurangi rasa sakitnya,” Dia memberitahu.
“Sakitnya tidak separah itu kok.”
Carlisle   tersenyum  saat  menandatangani   surat   keterangannya.   “Kedengarannya   kau
sangat beruntung.”
Dia   memutar   wajahnya   pelan  untuk   menatapku   tajam.  “Beruntung   karena   Edward
kebetulan berdiri disebelahku.”
“Oh,  baik kalau  begitu,”  Carlisle  cepat- cepat   mengiyakan,  sama  mendengar  seperti
yang   kudengar   pada   suaranya.   Dia   tidak   menganggap   kecurigaannya   sebagai   imajinasi
belaka. Belum.
Kupasrahkan padamu
, Carlisle berkata dalam hati.
Atasi dengan cara yang menurutmu
paling baik.
“terima  kasih banyak,” aku berbisik, pelan dan cepat. Tidak ada manusia yang bisa
mendengarku. Bibir  Carlisle bergerak sedikit mendengar  gerundelanku. “Aku kahwatir
kau
harus
tinggal bersama kami lebih lama,” katanya pada Tyler  begitu mulai memeriksa luka-
lukanya yang diakibatkan goresan pecahan kaca.
Well
,   aku   yang   cari   gara-gara,   jadi   cukup   adil   jika   aku   sendiri   yang   harus
menghadapinya.
Mendadak Bella menghampiriku, tidak berhenti hingga cukup dekat. Membuatku tidak
nyaman. Aku ingat tadi sempat berharap ia akan menghampiriku... Ini seperti memperolok
harapanku.
“Bisa aku bicara denganmu sebentar?” dia berbisik padaku.
70
   

Kehangatan  napasnya  menyapu  wajahku  dan  aku  agak  terhuyung  selangkah.  Daya
mengundang-selera-nya   tidak   berkurang   sedikitpun.   Setiap   kali   berada   di   dekatku,   dia
memicu setiap jengkal instingku yang paling kuno. Liur  mengalir  di mulutku, dan tubuhku
berhasrat  untuk  menerjang—untuk merenggut  dia  dengan tanganku sebelum  mematahkan
lehernya dengan satu gigitan.
Pikiranku lebih kuat dari tubuhku, tapi hampir saja.
“Ayahmu menunggumu,” aku mengingatkan dia, rahangku terkatup rapat.
Dia memandang sekilas ke Carlisle dan Tyler. Tyler  sama sekali tidak memperhatikan,
tapi Carlisle mengawasi tiap tarikan napasku.
Hati-hati, Edward.
“Aku ingin bicara denganmu berdua, jika kau tidak keberatan,” dia memaksa setengah
berbisik.
Aku ingin mengatakan sangat keberatan, tapi aku tahu aku harus  melakukan ini pada
akhirnya. Maka sebaiknya kulakukan saat ini juga.
Emosiku  campur  aduk  saat  menurutinya  keluar  ruangan, mendengarkan langkahnya
terhuyung-huyung di belakangku, berusaha mengejar.
Aku punya pertunjukan yang mesti kupentaskan. Aku tahu peran yang akan kumainkan
—karakterku sebagai tokoh antagonis. Aku akan berbohong, mengejek, dan kejam.
Hal itu bertolak belakang dengan setiap dorongan hatiku—dorongan hati manusia yang
selama puluhan tahun ini kupegang. Aku belum pernah menginginkan untuk layak dipercaya
lebih daripada saat ini, ketika aku harus menghancurkan setiap kemungkinan itu.
Lebih buruk lagi, ini akan menjadi ingatan terakhir dia tentang aku. Ini adalah adegan
perpisahan dariku.
Aku berbalik ke dia.
“Kau mau apa sih?” aku bertanya dengan suara dingin.
Dia   terkesiap  karena   sikap  permusuhanku.  Matanya  berubah  penuh  tanya,  ekspresi
yang selama ini menghantuiku...
“Kau berhutang penjelasan padaku,” dia berkata dengan suara pelan; wajah gadingnya
memucat.
Sangat sulit mempertahankan suaraku agar tetap kasar. “Aku menyelamatkan hidupmu
71
   

—aku tidak berhutang apa-apa padamu.”
Dia tersentak. Seperti terbakar oleh asam mengetahui perkataanku telah menyakiti dia.
“Kau sudah janji,” dia berbisik.
“Bella, kepalamu terbentur, kau tidak tahu apa yang kau bicarakan.”
Dagunya terangkat. “Tak ada yang salah dengan kepalaku.”
Dia   marah   sekarang,   dan   itu   jadi   lebih   mudah.   Mataku   bertemu  dengan   tatapan
tajamnya, membuat wajahku makin garang.
“Apa yang kau inginkan dariku, Bella?”
“Aku ingin tahu yang sebenarnya. Aku ingin tahu alasan kenapa aku harus berbohong
untukmu.”
Apa yang dia inginkan cukup adil—membuatku frustasi harus menyangkalnya.
“Apa
menurutmu
yang terjadi?” aku hampir menggeram.
Kata-katanya kemudian berhamburan cepat. “Yang kutau adalah kau sama sekali tidak
ada didekatku—Tyler  juga tidak melihatmu, jadi jangan katakan kepalaku terbentur terlalu
keras. Mobil
van
itu semestinya telah menghancurkan kita berdua—tapi nyatanya tidak, dan
tanganmu meninggalkan bekas  lekukan di mobil itu—kau juga meninggalkan bekas  yang
sama   di  mobil   satunya,  dan   kau   tidak  terluka   sama   sekali—juga   mobil   itu   seharusnya
menghancurkan  kakiku, tapi  kau mengangkatnya...”  Ia  mengatupkan  rahang  dan matanya
berkaca-kaca.
Aku menatapnya, ekspresiku mengejek, meskipun yang sebenarnya kurasakan adalah
kagum; dia melihat semuanya.
“Kau pikir  aku mengangkat
van
itu dari atas  tubuhmu?” aku bertanya dengan nada
menyindir.
Dia mengangguk tegas.
Suaraku makin mengejek. “Tidak akan ada yang akan percaya itu, kau tahu.”
Dia  berusaha menahan marah. Kemudian ia bicara lambat penuh pertimbangan pada
tiap katanya. “Aku tidak akan memberitahu siapa-siapa.”
Dia   bersungguh-sungguh—aku   bisa   melihat   dalam   matanya.   Meski   marah   dan
terkhianati, dia akan menepati janjinya.
Kenapa?!
72
   

Perasaan syok itu menghancurkan ekspresiku selama setengah detik, lalu aku kembali
menguasai diri lagi.
“Lalu   kenapa   kau   mempermasalahkannya?”   aku   bertanya   pada   dia   sambil
mempertahankan suaraku tetap tajam.
“Ini penting buatku,” dia menjawab penuh tekanan. “Aku tidak suka berbohong—jadi
sebaiknya ada alasan yang baik kenapa aku melakukannya.”
Dia  memintaku untuk mempercayai dia. Sama seperti aku menginginkan dia percaya
padaku. Tapi ini adalah batasan yang tidak bisa kulewati.
Suaraku tetap dingin. “Tidak bisakah kau berterima kasih saja dan melupakannya?”
“Terima kasih.” ucapnya. Kemudian ia diam, menunggu.
“Kau tak akan menyerah, kan?”
“Tidak.”
“Kalau begitu...” aku tidak bisa memberitahu dia bahkan jika aku mau...dan aku
tidak
mau. Lebih baik dia mengarang-ngarang daripada mengetahui siapa diriku, karena tidak ada
yang lebih buruk dari yang sebenarnya—aku adalah mimpi buruk, langsung dari dunia horor.
“Kuharap kau menikmati kekecewaanmu.”
Kami saling menatap marah. Namun amarahnya justru terlihat menggemaskan. Seperti
geraman anak kucing, lembut dan tidak berbahaya, tidak sadar pada kerapuhannya sendiri.
Wajahnya memerah. Ia menggertakan gigi lagi. “Dan kenapa kau bahkan perduli?”
Lagi-lagi pertanyaannya tidak terduga. Aku tidak menyiapkan jawaban untuk ini. Aku
kehilangan pegangan pada peranku. Topeng diwajahku terlepas, dan kukatakan padanya—
untuk kali ini—yang sebenarnya.
“Aku tidak tahu.”
Aku mengingat wajahnya untuk terakhir kali—masih dengan raut marah, darah belum
memudar dari pipinya—dan kemudian aku berbalik meninggalkan dia.
73
   

4. Penglihatan
Aku kembali ke sekolah. Ini pilihan tepat yang seharusnya dilakukan, bertindak wajar
dan tidak menarik perhatian.
Hampir  semua murid telah kembali ke kelas juga. Tinggal Tyler, Bella dan beberapa
orang—yang sepertinya menggunakan kesempatan untuk bolos—tetap absen.
Harusnya tidak sulit melakukan sesuatu yang benar. Tapi sesiangan ini aku justru harus
berjuang keras agar  tidak ikutan bolos—hanya karena ingin menemui gadis itu lagi.
Seperti penguntit. Penguntit yang terobsesi. Vampir penguntit yang terobsesi.
Sekolah  jadi  mustahil   dijalani,  jauh  lebih  membosankan  dari  minggu  lalu.  Seperti
koma.   Seakan   warna-warni   pada  bata,   pepohonan,   langit,   wajah-wajah   disekitarku   jadi
luntur... Aku cuma memandangi rekahan di tembok.
Sebetulnya  ada  sesuatu  yang  lain yang  juga  harus   dilakukan...tapi tidak  kulakukan.
Tentu saja sesuatu itu juga bisa dibilang keliru. Tapi tergantung dari sisi mana melihatnya.
Jika  dari  perspektif  anggota  keluarga  Cullen—bukan  sekedar  vampire, tapi  seorang
Cullen,
seseorang yang memiliki keluarga, sesuatu yang langka bagi kaum kami—tindakan
yang paling tepat seharusnya seperti ini:
“Aku   terkejut   melihatmu   masuk,   Edward.   Kudengar   kau   terlibat   dalam   insiden
mengerikan tadi pagi.”
“Iya, Mr. Banner, tapi saya cukup beruntung.” Tersenyum ramah. “Saya tidak terluka
sama sekali... saya harap Bella dan Tyler juga begitu.”
“Bagaimana keadaan mereka?”
“Tyler   baik-baik   saja...hanya   lecet-lecet   terkena   pecahan   kaca.   Tapi   saya   agak
khawatir pada Bella.” mengerutkan dahi prihatin. “Dia mengalami gegar otak. Saya dengar
pikirannya jadi agak kacau—bahkan sempat berhalusinasi. Para dokter sangat cemas...”
Itu yang seharusnya kulakukan demi keluargaku. Tapi...
“Aku   terkejut   melihatmu   masuk,   Edward.   Kudengar   kau   terlibat   dalam   insiden
mengerikan tadi pagi.”
“Saya tidak terluka.” Tanpa senyum.
74
   

Mr.  Banner  mengganti   tumpuan  kakinya   tidak  nyaman.  “Apa  kau  tahu  bagaimana
keadaan Tyler Crowley dan Bella Swan? Katanya mereka terluka...”
Aku mengangkat bahu. “Saya tidak tahu.”
Mr.   Banner   mendehem,   “Mmm,Ya   sudah...”   Tatapan   dinginku   membuat   suaranya
tegang.
Dia cepat-cepat kembali ke depan kelas dan memulai pelajarannya.
Itu perbuatan yang sangat keliru.
Hanya   saja  sangat...sangat   tidak
ksatria
mendiskreditkan  gadis  itu  di  belakangnya,
terutama ketika ia membuktikan lebih dapat dipercaya daripada yang kubayangkan. Dia tidak
mengkhianatiku dengan melanggar  janjinya, meskipun punya cukup alasan untuk itu. Apa
aku akan mengkhianati dia ketika ia tidak melakukan apa-apa selain menjaga rahasiaku?
Aku  mengalami   pembicaraan  serupa   dengan  Mrs.  Goff—hanya  saja   dalam  bahasa
Spanyol—dan Emmet memperhatikanku.
Aku harap kau punya penjalasan yang baik untuk kejadian hari ini. Rose sudah siap
perang.
Aku memutar bola mataku tanpa melihat dia.
Sebetulnya   aku   menemukan   penjelasan   yang   sempurna.   Misalkan   saja   aku
tidak
mencegah
van
itu meremukan dia...aku merasa kecut memikirkannya. Tapi  seandainya  dia
dibiarkan,   jika   dia   terluka   dan   mengeluarkan   darah,   cairan   merah   kental   berceceran,
menggenang di aspal, bau darah segar menguar pekat di udara...
Aku gemetar, tapi bukan cuma karena ngeri. Sebagian diriku meremang penuh hasrat.
Tidak, aku tidak akan sanggup melihat darahnya tanpa mengekspos keluargaku dengan lebih
mengerikan.
Alasan itu terdengar sempurna...tapi tidak akan kugunakan. Terlalu memalukan.
Dan aku tidak berpikir kesitu sampai jauh setelah kejadian.
Hati-hati pada Jasper,
Emmet melanjutkan, tidak mengindahkan lamunanku.
Dia tidak
semarah itu...tapi ia sudah menetapkan niatnya.
Aku tahu apa yang ia maksud, dan dalam sekejap ruangan di sekelilingku tenggelam.
Amarahku  memuncak sedemikian hebat  hingga  kabut  merah  mengaburkan  pandanganku.
Aku hampir tersedak kedalamnya.
75
   

SSSTT, EDWARD!  KUASAI  DIRIMU!
Emmet  meneriakiku di kepalanya. Tangannya
memegang  pundakku,  menahanku  tetap  duduk  sebelum  aku terloncat  berdiri.  Dia  jarang
menggunakan seluruh kekuatannya—sangat jarang dibutuhkan, mengingat ia jauh lebih kuat
dari   vampir   manapun   yang   pernah   kami   temui—tapi   ia   menggunakan   kekuatan   penuh
sekarang.   Dia   mencengkram   bahuku,   bukannya   menekan   kebawah.   Jika   dia   menekan
kebawah, kursiku akan hancur berantakan.
TENANG!
Perintahnya galak.
Aku berusaha menenangkan diri, tapi sulit. Amarah terlanjur membara di kepalaku.
Jasper tidak akan bertindak sebelum kita bicara. Kau dalam kesulitan besar.
Aku menarik napas panjang. Baru kemudian Emmet melepaskan cengkramannya.
Aku mengecek ke sekeliling ruangan. Tapi konforontasi tadi berlangsung sangat singkat
dan tanpa  suara  sehingga hanya  beberapa  orang di  belakang  Emmet  yang menyadarinya.
Mereka tidak  tahu apa alasannya,  dan cuma mengangkat bahu.  Keluarga Cullen  memang
aneh—semua orang sudah tahu itu.
Sialan,   Edward,   kau   berantakan,
Emmet   menambahkan.  Ada   nada   simpati   pada
suaranya.
“Gigit saja aku,” aku menggerutu dibalik napas. Kudengar dia terkekeh pelan.
Emmet bukan pendendam, dan aku seharusnya lebih bersyukur  pada sikap santainya.
Tapi   aku   melihat   niat   Jasper   dianggap   Emmet   cukup   masuk   akal.   Ia   sempat
mempertimbangkan kalau mungkin saja itu jalan yang terbaik.
Amarahku pelan-pelan kembali mendidih, hampir  tidak terkontrol.  Ya, Emmet lebih
kuat dariku, tapi ia belum pernah menang melawanku dalam adu tanding. Dia menuduh aku
curang.  Tapi  mendengar  pikiran  adalah  bagian dariku, sama  seperti  kekuatan  besar  yang
menjadi bagian dari dia. Dalam pertarungan kami seimbang.
Pertarungan?  Apa   akan   kesana   pada   akhirnya?  Apa   aku   akan   bertarung   melawan
keluargaku
hanya karena seorang manusia yang tidak terlalu kukenal?
Aku mempertimbangkannya  sebentar, memikirkan bagaimana  tubuh gadis  itu terasa
begitu rapuh dalam pelukanku jika dibandingkan dengan kekuatan Jasper, Rose, dan Emmet
—yang diluar akal sehat sangat kuat dan cepat, mesin pembunuh alami...
Ya, aku akan ber tarung demi dia. Melawan keluargaku. Aku gemetar.
76
   

Tapi   tidak   adil   meninggalkan   dia   tanpa   perlindungan,   padahal   aku   yang
menyebabkannya berada dalam bahaya.
Aku tidak bisa menang sendirian. Tidak jika melawan mereka bertiga. Kira-kira siapa
yang berada di pihakku nanti.
Carlisle, pastinya. Ia tidak akan melawan siapa-siapa, tapi ia akan menentang rencana
Rose dan Jasper. Mungkin itu cukup. Kita lihat nanti...
Esme,  aku  ragu.  Dia   tidak  akan
menentang
aku  juga,  dan  dia  tidak  suka  berbeda
pendapat  dengan   Carlisle,  tapi   ia   akan  lebih   menjaga   keluarganya   tetap   utuh.  Prioritas
pertamanya mungkin bukan keadilan, melainkan aku. Jika Carlisle adalah roh keluarga kami,
maka Esme adalah hatinya. Dia memberi kami seorang pemimpin yang pantasi diikuti; dia
membuat kesetiaan itu menjadi perwujudan dari rasa sayang. Kami semua saling menyayangi
—bahkan dibalik kemarahanku pada Jasper dan Rose, dan rencanaku untuk melawan mereka
demi menyelamatkan gadis itu, aku tahu aku menyayangi mereka.
Alice...aku  tidak   tahu.  Mungkin   tergantung   apa   yang   ia   lihat.  Mungkin   dia   akan
memihak yang menang.
Jadi, aku akan melakukan ini tanpa bantuan. Aku bukan tandingan mereka, tapi tidak
akan kubiarkan gadis itu terluka gara-gara aku. Mungkin solusinya dia harus dilarikan...
Amarahku   sedikit   mereda   karena   humor  gelap   yang   tahu- tahu   terlintas.  Aku  bisa
membayangkan bagaimana  reaksi  kikuk  gadis  itu  saat  aku  menculiknya.  Tentu  saja  aku
jarang menebak reaksi dia dengan tepat—tapi apa lagi reaksinya selain ngeri?
Aku belum terlalu yakin bagaimana mengatasi itu—menculik dia. Aku tidak akan tahan
berdekatan terlalu lama. Barangkali cukup mengantar  ke  ibunya. Tapi itupun belum tentu
aman baginya.
Dan juga bagiku, aku menyadari tiba-tiba. Jika aku tidak sengaja membunuhnya... aku
tidak yakin seberapa besar akan menyakitiku, tapi pasti tidak karuan dan sangat.
Waktu   cepat   berlalu   selama   aku   memper timbangkan   berbagai   kemungkinan:
perrtengkaran yang menunggu di rumah, perseteruan dengan keluargaku, lamanya aku harus
pergi setelah itu...
Well
, aku tidak bisa lagi mengeluh hari- hariku sangat monoton. Gadis itu telah merubah
segalanya.
77
   

Setelah bel, Emmet dan aku berjalan dalam diam menuju mobil. Dia mengkawatirkan
aku sekaligus Rosalie. Dia tahu di pihak mana ia akan memilih jika terjadi perselisihan, dan
itu mengganggunya.
Yang   lain   sudah   menunggu   di   mobil,   juga   diam.   Kami   berlima   duduk   ditengah
kesunyian. Cuma aku yang bisa mendegar teriakan-teriakan.
Idiot! Tolol! Dasar orang gila! Brengsek! Egois, orang bodoh yang tidak bertanggung
jawab!
Rosalie   terus   menumpahkan   makiannya   keras-keras.   Suara   yang   lainnya   jadi
terbenam, tapi kuabaikan sebisanya.
Emmet betul tentang Jasper. Dia sangat yakin dengan niatnya.
Alice  risau,  mengkhawatirkan  Jasper,  membolak  balik  kilasan gambar  masa  depan.
Tidak   perduli   dari   arah   mana   Jasper   mendatangi   gadis   itu,   Alice   selalu   melihatku
menghalangi Jasper. Menarik... tidak ada Rosalie atau Emmet di penglihatannya. Jadi Jasper
berencana kerja sendirian. Itu membuatnya jadi lebih imbang.
Jasper   adalah   yang   terbaik,   petarung   yang   paling   berpengalaman   diantara   kami.
Keuntunganku   terletak   pada   kemampuanku   mendengar   gerakannya   sebelum   dia
melakukannya.
Aku belum pernah bertarung sungguhan melawan Emmet atau Jasper—biasanya hanya
bercanda  dan   bermain-main. Aku  merasa  mual  pada  pikiran  akan  mencoba   benar-benar
menyakiti Jasper...
Tidak, tidak begitu. Hanya menghalangi dia. Cuma itu.
Aku berkonsentrasi pada Alice, mengingat-ingat beragam variasai serangan Jasper.
Kemudian penglihatannya bergeser, bergerak menjauh dari rumah Bella. Aku mencegat
Jasper duluan.
Hentikan, Edward! Tidak boleh terjadi seperti itu. Aku tidak akan membiarkan.
Aku mengacuhkannya. Aku tetap memperhatikan penglihatannya.
Dia  mulai  mencari lebih  jauh  kedepan, pada  kemungkinan-kemungkinan  yang tidak
pasti dan masih kabur. Semuanya samar dan berbayang gelap.
Selama perjalanan sampai ke rumah, kesunyian itu tidak berubah. Aku parkir  di garasi
disamping rumah;  Mercedes  Carlisle sudah disitu, disebelah jeep besar  Emmet, M3 milik
Rose,   dan   Vanquishku.  Aku   lega   Carlisle   sudah   pulang—keheningan   ini   akan   segera
78
   

meledak, dan aku ingin Carlisle ada ketika itu terjadi.
Kami langsung menuju ke ruang makan.
Tentu  saja   ruangan   ini   tidak   pernah   digunakan   sebagaimana   mestinya.  Tapi   tetap
dilengkapi  dengan  meja   mahoni   oval  panjang   beserta   kursi- kursinya—kami  sangat   teliti
untuk  meletakan  setiap  detail  properi   pada   tempatnya.  Carlisle   sering  menggunakannya
sebagai  ruang  pertemuan.   Dalam  sebuah  kelompok   yang   memiliki   kekuatan   super   dan
kepribadian berbeda, kadang perlu mendiskusikan sesuatu hal secara tenang dan beradab.
Aku merasa hal itu tidak akan banyak berguna hari ini.
Carlisle duduk di tempat biasanya, di ujung meja sebelah timur. Esme di sebelahnya—
tangan mereka saling berpegangan diatas meja.
Mata Esme menatapku, keemasannya yang dalam menatapku prihatin.
Tinggallah.
Hanya itu yang dia pikirkan.
Aku harap aku bisa bisa tersenyum pada perempuan yang telah menjadi ibuku ini, tapi
aku sedang tidak cukup tenang sekarang.
Aku duduk disamping Carlisle. Esme mengulurkan tangan satunya untuk menyentuh
pundakku. Dia belum terlalu mengerti apa yang terjadi; dia hanya risau padaku.
Carlisle lebih peka untuk bisa meraba apa yang sedang terjadi. Mulutnya terkatup rapat
dan keningnya berkerut. Ekspresinya terlihat terlalu tua untuk wajah mudanya.
Saat semua duduk, garis demarkasi telah dibuat.
Rosalie duduk tepat  di seberang Carlisle, di ujung meja  satunya. Dia memelototiku,
sama sekali tidak melihat ke arah lain.
Emmet duduk disampingnya, wajah dan pikirannya masam.
Jasper  ragu-ragu, dan kemudian berdiri bersandar  pada  tembok di belakang Rosalie.
Dia  telah  mengambil  keputusan,  tidak  perduli  apapun  hasil  diskusi  ini. Gigiku langsung
terkunci.
Alice yang terakhir datang, dan matanya fokus pada hal yang sangat jauh—masa depan,
yang masih terlalu kabur untuk digunakan. Tanpa terlalu perduli dia duduk disamping Esme.
Dia   meremas-remas   kepalanya   seakan   kepalanya   sakit.   Jasper   mengejang   gugup   dan
mempertimbangkan untuk mendekat, tapi dia tetap diam ditempat.
Aku mengambil napas panjang. Aku yang harus memulai ini—aku harus bicara duluan.
79
   

“Maafkan aku,” aku berkata sambil melihat pertama-tama ke  Rosalie, lalu ke Jasper,
dan ke Emmet. “Aku tidak bermaksud membahayakan kalian semua. Itu sangat ceroboh. Aku
akan bertanggung jawab penuh atas tindakan gegabahku.”
Rosalie menatap curiga. “Apa yang kau maksud dengan 'bertanggung jawab penuh'?
Apa kau akan membereskannya?”
“Tidak dengan cara yang kau maksud,” aku berusaha menata suaraku tetap tenang dan
terkendali. “Aku bersedia untuk pergi saat ini juga, jika itu bisa mempebaiki keadaan.”
Jika
aku   percaya   gadis   itu   akan   aman,   jika   aku   percaya   tidak   satupun   dari   kalian   akan
menyentuhnya,
aku mengultimatum dalam kepalaku.
“Tidak,” Esme berbisik. “Tidak, Edward.”
Aku menepuk tangannya. “Hanya beberapa tahun.”
“Esme ada benarnya,” ujar Emmet. “Kau tidak bisa kemana-mana sekarang. Itu adalah
kebalikannya
dari membantu. Kita harus  tahu apa  yang dipikirkan orang-orang. Kita lebih
membutuhkan hal itu sekarang daripada sebelumnya.”
“Alice akan mengetahui apapun yang penting.” aku tidak sependapat.
Carlisle  menggeleng. “Aku rasa Emmet  benar, Edward. Gadis  itu akan lebih berniat
bicara jika kau menghilang. Kita semuanya pergi, atau tidak satupun.”
“Dia tidak akan bicara.” aku buru-buru menyanggah. Rose sedang siap-siap meledak,
dan aku ingin fakta ini terucap duluan.
“Kau tidak tahu isi pikirannya,” Carlisle mengingatkan aku.
“Yang sebatas ini aku tahu. Alice, dukung aku.”
Alice   menatap   letih.   “Aku   tidak   bisa   melihat   apa   yang   akan   terjadi   jika   kita
mengabaikan ini.” Dia melirik ke Rose dan Jasper.
Tidak, dia  tidak bisa melihat masa  depan itu—tidak ketika Rosalie dan Jasper  telah
menetapkan pilihannya untuk bertindak.
Brak!  Rosalie menggebrak meja  keras-keras. “Kita tidak boleh memberi kesempatan
pada  manusia  untuk buka  mulut. Carlisle,  kau
harus
melihatnya  seperti  itu.  Bahkan jika
diputuskan  semuanya   pergi,  tidak  aman  meninggalkan cerita  dibelakang  kita. Kita  hidup
dengan  cara  yang sangat berbeda dari kaum kita yang lainnya—kau tahu ada  kelompok-
kelompok yang dengan  senang  hati  akan  menghukum  kita.  Kita  harus   lebih berhati-hati
80

Baca selanjutnya ..