Ketika usaha penyelamatan mulai dilakukan—para orang dewasa datang, pihak
berwajib ditelepon, suara sirene di kejauhan—aku berusaha mengabaikan gadis itu dan
meletakan hal yang terpenting pada tempatnya. Aku mencari ke setiap benak di parkiran, para
saksi dan orang-orang yang baru datang, dan tidak menemukan hal yang berbahaya.
Beberapa ada yang terkejut melihat aku disamping Bella, tapi semuanya terpecahkan—
karena tidak ada lagi kemungkinan pemecahan yang lain—bahwa mereka hanya tidak
menyadari aku berdiri di samping gadis itu sebelumnya.
Hanya dia yang tidak mau menerima penjelasan yang mudah, tapi dia bukan saksi yang
akan dianggap layak. Dia ketakutan, trauma, belum ditambah benturan di kepalanya.
Kemungkinan agak syok. Akan lebih mudah untuk membalikan ceritanya, bukan kah begitu?
Tidak akan ada yang percaya pada cerita seperti itu ketika banyak penonton justru bersaksi
sebaliknya...
Aku mengernyit ketika menangkap pikiran Rosalie, Jasper, dan Emmet, yang baru saja
datang. Aku mesti membayar mahal nanti malam.
Aku ingin meratakan bekas penyok pada mobil coklat yang terhantam pundakku, tapi
dia terlalu dekat. Aku mesti menunggu sampai gadis itu teralihkan.
Sangat menjengkelkan harus menunggu—banyak mata menatapku—saat orang-orang
berusaha menggeser
van
nya. Aku mungkin saja membantu mereka, agar lebih cepat, tapi aku
sudah cukup terlibat masalah. Lagipula gadis ini matanya tajam. Akhirnya, mereka berhasil
menggeser
van
nya cukup jauh hingga tim medis bisa mendatangi kami dengan tandu.
Sesosok pria beruban yang tidak asing mendekatiku.
“Hey, Edward,” Brett Warner menyapa. Dia seorang perawat. Aku mengenalnya cukup
baik dari rumah sakit. Ini suatu keberuntungan—satu-satunya keberuntungan hari ini—dia
yang pertama kali tiba. Dalam pikirannya ia tidak curiga. “Apa kau baik-baik saja,
kid
?”
“
Perfect,
Brett. Aku tidak kena apa-apa. Tapi sepertinya Bella mengalami gegar otak.
Kepalanya terbentur cukup keras ketika aku mendorongnya...”
Brett ganti mengarahkan perhatiannya pada si gadis, yang menatapku sengit merasa
dikhianati. Oh, iya betul. Dia seorang martir pendiam—dia lebih memilih menderita diam-
diam.
Dia tidak langsung membantah ceritaku. Itu membuatku lebih rileks.
61
Petugas medis berikutnya memaksa agar aku juga dirawat, tapi tidak sulit menolak
mereka. Aku berjanji akan membiarkan ayahku sendiri yang memeriksa, dan dia setuju.
Dengan kebanyakan manusia, bicara dengan nada meyakinkan sudah lebih dari cukup. Buat
kebanyakan manusia, bukan untuk gadis ini. Apa dia cocok dengan
satupun
ciri-ciri normal?
Saat mereka mengenakan penyangga leher ke dia—dan mukanya langsung merah
padam karena malu—aku menggunakan momen itu untuk diam-diam membetulkan lekukan
di mobil coklat dengan belakang kaki. Hanya saudara-saudaraku yang melihat, dan aku bisa
mendengar pikiran Emmet berjanji akan membereskan sisanya kalau ada yang terlewat.
Aku bersyukur atas bantuannya—dan lebih bersyukur lagi bahwa Emmet, paling tidak,
telah memaafkan pilihan berbahayaku—aku merasa lebih tenang saat naik kedepan
ambulance, disamping Brett.
Kepala polisi datang sebelum Bella dinaikan ke ambulance.
Meskipun tidak terucap, kepanikan pikirannya mengalahkan semua pikiran lain
disekitarnya. Sangat cemas dan mer asa bersalah, gelombang besar perasaan itu membuatnya
pilu saat melihat anak perempuan satu-satunya diatas tandu.
Rintihan dia sampai padaku, menggema makin dalam. Saat Alice memberi peringatan
bahwa membunuh putri
Chief
Swan juga akan membunuhnya, dia tidak melebih-lebihkan.
Kepalaku tertunduk merasa bersalah.
“Bella!” Dia berteriak panik.
“Aku baik-baik saja Char—Dad.” keluhnya. “Aku tidak terluka.”
Kata-kata Bella tidak terlalu menenangkan ayahnya. Dia bertanya ke petugas medis
terdekat menuntut informasi lebih banyak.
Baru setelah mendengarnya bicara, mengucapkan satu kalimat utuh selain panik, aku
menyadari bahwa kecemasan dia
bukannya
tidak terucap. Aku hanya... tidak bisa mendengar
ada kata-katanya yang jelas.
Hmm. Charlie Swan tidak sependiam putrinya, tapi aku bisa melihat darimana Bella
mendapatkannya. Menarik.
Aku belum pernah menghabiskan terlalu banyak waktu disekitar
chief
Swan. Aku selalu
menganggapnya berpikiran lamban—baru sekarang aku sadar bahwa cuma
aku
yang
menganggap dia lamban. Pikirannya sebagian tersembunyi, bukannya kosong. Aku cuma bisa
62
menangkap satu nada, sedang sisa harmoni lainnya...
Aku ingin mendengar lebih banyak, siapa tahu misteri kecil baru ini bisa membawaku
menemukan kunci rahasia gadis itu. Tapi sebentar lagi Bella akan dimasukan ke ambulance.
Cukup sulit menjauhkan diri dari misteri yang telah membuatku terobsesi. Tapi
sekarang ada yang lebih penting—untuk menilai kejadian tadi dari berbagai sudut. Aku mesti
mendengarkan, untuk memastikan kami tidak dalam bahaya hingga harus cepat-cepat pergi.
Aku harus konsentrasi.
Tidak ada yang perlu dikhawatirkan dari pikiran-pikiran yang ada di ambulance. Sejauh
yang bisa mereka katakan, tidak ada luka serius pada gadis ini. Dan Bella masih bertahan
pada cerita yang kuajukan, sejauh ini.
Ketika tiba di rumah sakit, prioritas pertama adalah mencari Carlisle. Aku cepat-cepat
menghambur dari pintu depan, tapi aku juga tidak bisa melepas Bella dari pengawasan; aku
mengawasi dia lewat pikiran tim medis.
Cukup mudah menemukan pikiran ayahku. Dia ada di dalam kantornya yang kecil,
seorang diri—keberuntungan kedua di hari sial ini.
“Carlisle.”
Dia mendengarku mendekat tak sabar, dan segera waspada begitu melihat wajahku. Dia
langsung terlonjak berdiri. Wajahnya pucat. Dia bertumpu keatas meja kayu
walnut
nya yang
rapih sambil menatapku nanar.
Edward—kau tidak—
“Tidak, tidak, bukan itu.”
Dia langsung menghela napas lega.
Tentu saja. Maaf aku berpikiran yang tidak-tidak.
Matamu, tentu saja, aku seharusnya tahu...
dia menyadari mataku yang masih keemasan.
“Dia terluka Carlisle, mungkin tidak serius, tapi—“
“Apa yang terjadi?”
“Gara-gara mobil bodoh itu. Dia ada di tempat yang salah pada waktu yang salah. Tapi
aku tidak bisa membiarkannya—membiarkan mobil itu meremukan dia—“
Coba ulangi, aku tidak mengerti. Bagaimana kau terlibat?
“Sebuah mobil
van
tergelincir diatas es,” aku berbisik ngeri. Aku menatap dinding di
belakangnya saat bicara. Bukannya menjejali dengan bingkai ijasah, dia menggantung satu
63
lukisan cat minyak sederhana—salah satu lukisan favoritnya, karya seorang pelukis bernama
Hassam. “Dia tidak jauh di depannya. Alice sempat melihat itu. Tapi tidak cukup waktu
untuk melakukan apapun kecuali
lari
melintasi parkiran dan menyelamatkan dia. Tidak ada
yang memperhatikan... kecuali dia. Aku juga mesti menghentikan
Van
itu, tapi lagi, tidak ada
yang melihat...kecuali dia. Aku...aku minta maaf Carlisle. Aku tidak ber maksud
membahayakan kita.”
Dia mengitari meja dan memegang pundakku.
Kau melakukan hal yang benar. Dan itu tidak mudah bagimu. Aku bangga padamu
Edward.
Aku kembali sanggup menatap matanya. “Dia tahu ada sesuatu...yang salah denganku.”
“Itu tidak penting. Jika kita harus pergi, kita pergi. Apa yang sudah ia katakan ke orang-
orang?”
Aku menggeleng, sedikit frustasi. “Belum ada.”
Belum?
“Dia menyetujui versi ceritaku—tapi dia mengharapkan penjelasan.”
Alisnya mengerut, mempertimbangkan kejadian ini.
“Kepalanya terbentur—
well
, aku yang melakukannya,” aku buru-buru melanjutkan.
“Aku menjatuhkan dia ke aspal agak keras. Kelihatannya tidak apa-apa, tapi... jadi tidak
cukup untuk mendeskreditkan dia.”
Aku merasa seperti orang rendahan hanya dengan mengatakannya.
Carlisle mendengar kesan itu pada suaraku.
Barangkali tidak perlu. Kita tunggu saja
apa yang terjadi, mari? Sepertinya aku punya pasien yang harus diperiksa.
“Kumohon,” Ujarku. “Aku sangat khawatir telah menciderainya.”
Ekspresi Carlisle terlihat lebih cerah. Dia merapihkan rambut putihnya—sedikit lebih
terang dari mata emasnya—dan tertawa.
Ini merupakan hari yang menarik bagimu bukan?
Dia membatin. Aku bisa melihat
ironinya, dan itu menggelitik, paling tidak bagi dia. Tadi aku berlaku sebaliknya dari peranku
semestinya. Entah kapan, pada sekejapan sembrono tadi, ketika bergerak kilat melintasi
parkiran, aku bertransformasi dari seorang pembunuh menjadi penolong.
Aku tertawa bersama Carlisle, mengingat aku pernah yakin bahwa Bella tidak akan
64
pernah membutuhkan perlindungan dari bahaya apapun lebih dari aku. Ada kegetiran pada
tawaku karena hal itu masih sepenuhnya betul.
Aku menunggu sendirian di kantor Carlisle—masa penantian yang paling lama yang
pernah kurasakan—mendengarkan semua pikiran di rumah sakit.
Tyler Crowley, si pengemudi
van
, kelihatannya terluka lebih serius. Perhatian perawat
beralih ke dia, sementara Bella menunggu giliran dirontgen. Carlisle tidak turun tangan, dia
mempercayai diagnosa asistennya bahwa si gadis hanya luka ringan. Itu tidak terlalu
membuatku lega, tapi aku tahu Carlisle benar. Sekali melihat wajahnya, Bella akan langsung
ingat padaku, pada fakta bahwa ada sesuatu yang tidak beres dengan keluargaku. Itu akan
membuatnya cerita kemana-mana.
Kini ia punya lawan bicara yang cukup bersemangat. Tyler merasa sangat bersalah, dan
tidak bisa berhenti mengungkapkan penyesalannya. Aku bisa melihat ekspresi Bella melalui
mata Tyler. Sangat jelas gadis itu berharap dia berhenti. Bisa-bisanya Tyler tidak melihat hal
itu?
Kemudian tiba saat yang membuatku tegang. Tyler bertanya bagaimana ia bisa
menyingkir dari jalan.
Aku menunggu, tidak bernapas. Ia ragu-ragu.
“
Mmm...
” aku mendengar dia menggumam. Kemudian diam cukup lama hingga Tyler
menduga pertanyaannya telah membuat bingung. Akhirnya ia melanjutkan. “
Edward
menarikku dari jalan.
”
Aku menghela napas. Tapi kemudian napasku memburu. Aku belum pernah mendengar
dia mengucapkan namaku. Aku suka pada cara dia mengucapkannya—bahkan hanya dengan
mendengarnya melalui pikiran Tyler. Aku ingin mendengarnya sendiri...
“
Edward Cullen,
” dia berkata, ketika Tyler tidak menyadari siapa yang dia maksud.
Tiba-tiba aku sudah di depan pintu, tanganku pada gagang pintu. Hasrat untuk bertemu
dengan dia berkembang makin kuat. Aku harus mengingatkan diriku sendiri untuk berhati-
hati.
“Dia berdiri disebelahku.
”
“Cullen?” Huh, itu aneh. “Aku tidak melihat dia.” aku bersumpah... “Wow, kurasa
65
kejadiannya berlangsung cepat sekali. Apa dia baik-baik saja?”
“Sepertinya begitu. Dia ada disini entah dimana, tapi mereka tidak membawa dia
dengan tandu.”
Aku melihat tatapan menimbang pada wajahnya, kecurigaan menggantung di matanya,
tapi perubahan kecil pada ekspresinya tidak dilihat Tyler.
Dia cantik,
dia sedang berpikir, baru menyadar i pikirannya.
Bahkan ketika acak-
acakan begini. Bukan tipeku, tapi tetap saja... aku harus mengajaknya kencan. Untuk
membayar hari ini...
Dalam sekejap aku sudah berada di koridor, setengah jalan menuju UGD, tanpa berpikir
apa yang sedang kulakukan. Untungnya, seorang perawat masuk duluan—Giliran Bella
untuk dirontgen
.
Aku bersembunyi di pojokan, berusaha menguasai diri saat ia didorong
dengan kursi roda.
Aku tidak perduli jika menurut Tyler dia cantik. Semua bisa melihat hal itu. Tidak ada
alasan bagiku untuk merasa...bagaiman
yang
kurasakan? Terganggu? Atau,
marah
kah yang
lebih tepat? Tidak masuk akal.
Aku diam selama mungkin, tapi ketidaksabaran-ku yang akhirnya menang. Aku
mengambil jalan memutar ke ruang rontgen. Tapi dia sudah dibawa balik lagi ke UGD.
Namun aku sempat mencuri lihat hasil rontgennya saat si perawat pergi.
Aku jauh lebih tenang. Kepalanya baik-baik saja. Aku tidak melukainya, tidak terlalu.
Carlisle memergokiku.
Kau kelihatan jauh lebih baik
, dia berkomentar.
Aku hanya melihat lurus kedepan. Kami tidak sendirian, koridor penuh dengan perawat
dan pengunjung.
Ah, iya.
Carlisle memasang hasil rontgennya ke
lightboard
, tapi aku tidak perlu melihat
dua kali.
Kurasa begitu. Dia baik-baik saja. Kerja bagus, Edward.
Nada persetujuan dari ayahku membuat reaksiku campur aduk. Aku seharusnya senang,
namun aku tahu ia tidak akan setuju dengan apa yang akan kulakukan, paling tidak jika tahu
motivasiku sebenarnya...
“Kurasa aku akan bicar a dengannya—sebelum dia bertemu dengan mu,” aku
menggumam dibalik napas. “Bersikap normal, seperti tidak terjadi apa-apa. Agar dia tidak
66
makin curiga.” semuanya alasan yang bisa diterima.
Carlisle mengangguk-angguk sendirian, masih memandangi hasil rontgennya. “Ide
bagus. Hmm...”
Aku melirik untuk melihat apa yang menarik perhatiannya.
Coba lihat bekas-bekas memar ini! Berapa kali dulu ibunya menjatuhkan dia?
Carlisle tertawa sendiri pada leluconnya.
“Aku mulai berpikir gadis itu betul-betul punya nasib sial. Selalu berada di tempat yang
salah dan waktu yang salah.”
Forks tentunya tempat yang salah bagi dia, dengan kau disini.
Aku terdiam
Sudah sana. Jangan buat dia curiga. Aku akan menyusul sebentar lagi.
Aku cepat-cepat pergi, merasa bersalah. Mungkin aku memang pembohong besar
hingga bisa mengelabui Carlisle.
Ketika sampai di UGD, Tyler terlihat masih terus menggumakan peyesalan. Gadis itu
berusaha mengabaikannya dengan pura-pura tidur. Matanya tertutup, tapi napasnya tidak
teratur, dan sesekali jarinya bergerak tidak sabar.
Aku menatap wajahnya lama-lama. Ini terakhir kalinya aku akan melihat dia.
Kenyataan itu memicu rasa nyer i di dadaku. Apa alasannya karena aku tidak suka
meninggalkan misteri yang tidak terpecahkan? Tapi sepertinya itu tidak cukup menjelaskan.
Akhirnya aku menarik napas dalam-dalam dan mendekat.
Ketika Tyler melihatku, ia sudah akan bicara, tapi aku memberi isyrat agar dia tetap
tenang.
“Apa dia tidur?” aku bergumam pelan.
Mata Bella tiba-tiba terbuka dan melihat ke arahku. Matanya sesaat melebar, kemudian
menyipit dengan tatapan marah dan curiga. Aku ingat punya peran yang harus kumainkan,
jadi aku tersenyum seakan tidak ada kejadian apa-apa pagi ini—selain luka di kepalanya dan
imajinasinya yang berlebihan.
“Hai, Edward,” sapa Tyler. “Aku sangat menyesal—“
Aku mengangkat tanganku. “Tidak ada darah, tidak seru.” aku berkata masam. Tanpa
berpikir, aku tersenyum terlalu lebar pada leluconku.
67
Ternyata mudah mengabaikan Tyler, yang terbaring tidak jauh dariku dengan darah
segar pada lukanya. Aku tidak pernah memahami bagaimana Carlisle melakukannya—tidak
mengindahkan darah pasiennya selama merawat mereka. Bukan kah godaan yang terus
menerus akan membuat pikiran kacau, sangat bahaya...? Tapi sekarang... Aku bisa mengerti.
Jika kau
sangat-sangat
fokus pada hal lain
,
godaan itu jadi tidak ada artinya.
Bahkan darah segar Tyler pada kepalanya yang terbalut perban jadi tidak berarti apa-
apa dihadapan Bella.
Aku menjaga jarak darinya, duduk di ujung tempat tidur Tyler.
“Jadi, apa kata mereka?” aku bertanya padanya.
Bibir bawahnya sedikit mencebik. “Aku baik- baik saja. Tapi mereka tidak
mengijinkanku pergi. Bagaimana bisa kau tidak ditandu seperti kami?”
Ketidaksabarannya membuatku tersenyum lagi.
Aku bisa mendengar suara Carlisle di koridor.
“Itu cuma soal siapa yang kau kenal,” aku berkata santai. “Tapi jangan khawatir, aku
datang untuk menyelamatkanmu.”
Aku menatap reaksinya baik-baik saat ayahku masuk. Matanya membesar dan
mulutnya benar-benar ternganga. Aku mengerang dalam hati. Tentu saja dia melihat
kemiripan kami.
“Jadi, Miss Swan, bagaimana perasanmu?“ Carlisle bertanya. Dia punya sikap yang
menyejukan disamping kebaikan hatinya. Para pasiennya biasanya langsung merasa tenang.
Tapi aku tidak bisa mengatakan bagaimana pengaruhnya pada gadis ini.
“Aku baik-baik saja,” dia berkata pelan.
Carlisle menyematkan hasil rontgennya ke
lightboard
disamping tempat tidur. “Hasil
rontgenmu baik. Apa kepalamu sakit? Kata Edward kau terbentur cukup keras.”
Dia mengeluh, dan berkata, “Aku tidak apa-apa,” jawabnya lagi, kali ini agak tidak
sabaran. Kemudian ia mengerling kesal padaku.
Carlisle mendekat dan tangannya meraba ringan kepalanya sampai menemukan
benjolan dibawah rambutnya.
Aku terkejut dengan gelombang emosi yang tiba-tiba melandaku.
Aku telah melihat Carlisle merawat manusia ribuan kali. Bertahun-tahun lalu, aku
68
bahkan membantunya—meski dalam situasi yang tidak melibatkan darah. Jadi bukan hal
baru melihat bagaimana dia berinteraksi dengan gadis itu seakan dia sendiri juga manusia.
Aku kadang iri pada penguasaan dirinya, tapi itu berbeda dengan emosi yang kurasakan
sekarang. Yang kuiri lebih dari sekedar penguasaan dirinya. Aku iri pada pada perbedaan
Carlisle dan aku—bahwa ia dapat menyentuh gadis itu dengan lembut, tanpa takut,
mengetahui ia tidak akan menyakitinya...
Bella mengernyit, dan aku mengejang di tempat. Untuk sesaat aku mesti berkonsentrasi
untuk membuat postur tubuhku rileks.
“Sakit?” tanya Carlisle.
Sesaat dagunya tersentak. “Tidak juga,”
Satu lagi kepingan karakter gadis itu terungkap; dia berani. Dia tidak suka menunjukan
kelemahannya.
Kemungkinan ia adalah mahluk paling rapuh yang pernah kutemui, dan ia tidak ingin
terlihat lemah. Aku sedikit terkekeh.
Kembali dia mengerling kesal.
“
Well,”
ujar Carlisle. “Ayahmu ada di ruang tunggu—kau bisa pulang dengannya
sekarang. Tapi kembali lah jika kau mer asa pusing atau penglihatanmu tergganggu.”
Ayahnya disini? Aku menyapu pikiran-pikiran yang ada di ruang tunggu. Tapi aku tidak
bisa menemukan suara mentalnya sebelum Bella kembali bicara, wajahnya gelisah.
“Bolehkah aku kembali ke sekolah?”
“Mungkin kau bisa istirahat dulu hari ini,” Carlisle menyarankan.
Matanya kembali menuduhku, “Apa
dia
boleh pergi ke sekolah?”
Bersikap normal, jangan mencurigakan...abaikan rasanya saat ia menatap kedalam
mataku...
“Harus ada orang yang menyebarkan kabar baik bahwa kita selamat,” kataku.
“Sebetulnya,” Carlisle mengoreksi, “Hampir sebagian besar murid ada di ruang
tunggu.”
Kali ini aku sudah mengantisipasi reaksinya—enggan mendapat perhatian. Dan dia
tidak mengecewakan.
“Oh tidak,” dia mengerang dan menutup wajahnya dengan tangan.
69
Aku senang akhirnya bisa menebaknya dengan betul. Aku mulai bisa memahami dia...
“Apa kau ingin tetap tinggal disini?” Tanya Carlisle.
“Tidak, tidak!” dia buru-buru menolak, mengayunkan kakinya ke samping dan merosot
turun ingin berdiri. Dia tersandung kedepan, hilang keseimbangan, lalu jatuh ke pelukan
Carlisle. Carlisle menangkapnya kemudian menyeimbangkan dia.
Lagi, rasa iri itu melanda diriku.
“Aku baik-baik saja,” ujarnya cepat. Rona merah muda terlihat di pipinya.
Tentu saja itu tidak mengganggu Carlisle. Dia memastikan Bella berdiri seimbang,
kemudian melepaskan peganggannya.
“Minum Tylenol untuk mengurangi rasa sakitnya,” Dia memberitahu.
“Sakitnya tidak separah itu kok.”
Carlisle tersenyum saat menandatangani surat keterangannya. “Kedengarannya kau
sangat beruntung.”
Dia memutar wajahnya pelan untuk menatapku tajam. “Beruntung karena Edward
kebetulan berdiri disebelahku.”
“Oh, baik kalau begitu,” Carlisle cepat- cepat mengiyakan, sama mendengar seperti
yang kudengar pada suaranya. Dia tidak menganggap kecurigaannya sebagai imajinasi
belaka. Belum.
Kupasrahkan padamu
, Carlisle berkata dalam hati.
Atasi dengan cara yang menurutmu
paling baik.
“terima kasih banyak,” aku berbisik, pelan dan cepat. Tidak ada manusia yang bisa
mendengarku. Bibir Carlisle bergerak sedikit mendengar gerundelanku. “Aku kahwatir
kau
harus
tinggal bersama kami lebih lama,” katanya pada Tyler begitu mulai memeriksa luka-
lukanya yang diakibatkan goresan pecahan kaca.
Well
, aku yang cari gara-gara, jadi cukup adil jika aku sendiri yang harus
menghadapinya.
Mendadak Bella menghampiriku, tidak berhenti hingga cukup dekat. Membuatku tidak
nyaman. Aku ingat tadi sempat berharap ia akan menghampiriku... Ini seperti memperolok
harapanku.
“Bisa aku bicara denganmu sebentar?” dia berbisik padaku.
70
Kehangatan napasnya menyapu wajahku dan aku agak terhuyung selangkah. Daya
mengundang-selera-nya tidak berkurang sedikitpun. Setiap kali berada di dekatku, dia
memicu setiap jengkal instingku yang paling kuno. Liur mengalir di mulutku, dan tubuhku
berhasrat untuk menerjang—untuk merenggut dia dengan tanganku sebelum mematahkan
lehernya dengan satu gigitan.
Pikiranku lebih kuat dari tubuhku, tapi hampir saja.
“Ayahmu menunggumu,” aku mengingatkan dia, rahangku terkatup rapat.
Dia memandang sekilas ke Carlisle dan Tyler. Tyler sama sekali tidak memperhatikan,
tapi Carlisle mengawasi tiap tarikan napasku.
Hati-hati, Edward.
“Aku ingin bicara denganmu berdua, jika kau tidak keberatan,” dia memaksa setengah
berbisik.
Aku ingin mengatakan sangat keberatan, tapi aku tahu aku harus melakukan ini pada
akhirnya. Maka sebaiknya kulakukan saat ini juga.
Emosiku campur aduk saat menurutinya keluar ruangan, mendengarkan langkahnya
terhuyung-huyung di belakangku, berusaha mengejar.
Aku punya pertunjukan yang mesti kupentaskan. Aku tahu peran yang akan kumainkan
—karakterku sebagai tokoh antagonis. Aku akan berbohong, mengejek, dan kejam.
Hal itu bertolak belakang dengan setiap dorongan hatiku—dorongan hati manusia yang
selama puluhan tahun ini kupegang. Aku belum pernah menginginkan untuk layak dipercaya
lebih daripada saat ini, ketika aku harus menghancurkan setiap kemungkinan itu.
Lebih buruk lagi, ini akan menjadi ingatan terakhir dia tentang aku. Ini adalah adegan
perpisahan dariku.
Aku berbalik ke dia.
“Kau mau apa sih?” aku bertanya dengan suara dingin.
Dia terkesiap karena sikap permusuhanku. Matanya berubah penuh tanya, ekspresi
yang selama ini menghantuiku...
“Kau berhutang penjelasan padaku,” dia berkata dengan suara pelan; wajah gadingnya
memucat.
Sangat sulit mempertahankan suaraku agar tetap kasar. “Aku menyelamatkan hidupmu
71
—aku tidak berhutang apa-apa padamu.”
Dia tersentak. Seperti terbakar oleh asam mengetahui perkataanku telah menyakiti dia.
“Kau sudah janji,” dia berbisik.
“Bella, kepalamu terbentur, kau tidak tahu apa yang kau bicarakan.”
Dagunya terangkat. “Tak ada yang salah dengan kepalaku.”
Dia marah sekarang, dan itu jadi lebih mudah. Mataku bertemu dengan tatapan
tajamnya, membuat wajahku makin garang.
“Apa yang kau inginkan dariku, Bella?”
“Aku ingin tahu yang sebenarnya. Aku ingin tahu alasan kenapa aku harus berbohong
untukmu.”
Apa yang dia inginkan cukup adil—membuatku frustasi harus menyangkalnya.
“Apa
menurutmu
yang terjadi?” aku hampir menggeram.
Kata-katanya kemudian berhamburan cepat. “Yang kutau adalah kau sama sekali tidak
ada didekatku—Tyler juga tidak melihatmu, jadi jangan katakan kepalaku terbentur terlalu
keras. Mobil
van
itu semestinya telah menghancurkan kita berdua—tapi nyatanya tidak, dan
tanganmu meninggalkan bekas lekukan di mobil itu—kau juga meninggalkan bekas yang
sama di mobil satunya, dan kau tidak terluka sama sekali—juga mobil itu seharusnya
menghancurkan kakiku, tapi kau mengangkatnya...” Ia mengatupkan rahang dan matanya
berkaca-kaca.
Aku menatapnya, ekspresiku mengejek, meskipun yang sebenarnya kurasakan adalah
kagum; dia melihat semuanya.
“Kau pikir aku mengangkat
van
itu dari atas tubuhmu?” aku bertanya dengan nada
menyindir.
Dia mengangguk tegas.
Suaraku makin mengejek. “Tidak akan ada yang akan percaya itu, kau tahu.”
Dia berusaha menahan marah. Kemudian ia bicara lambat penuh pertimbangan pada
tiap katanya. “Aku tidak akan memberitahu siapa-siapa.”
Dia bersungguh-sungguh—aku bisa melihat dalam matanya. Meski marah dan
terkhianati, dia akan menepati janjinya.
Kenapa?!
72
Perasaan syok itu menghancurkan ekspresiku selama setengah detik, lalu aku kembali
menguasai diri lagi.
“Lalu kenapa kau mempermasalahkannya?” aku bertanya pada dia sambil
mempertahankan suaraku tetap tajam.
“Ini penting buatku,” dia menjawab penuh tekanan. “Aku tidak suka berbohong—jadi
sebaiknya ada alasan yang baik kenapa aku melakukannya.”
Dia memintaku untuk mempercayai dia. Sama seperti aku menginginkan dia percaya
padaku. Tapi ini adalah batasan yang tidak bisa kulewati.
Suaraku tetap dingin. “Tidak bisakah kau berterima kasih saja dan melupakannya?”
“Terima kasih.” ucapnya. Kemudian ia diam, menunggu.
“Kau tak akan menyerah, kan?”
“Tidak.”
“Kalau begitu...” aku tidak bisa memberitahu dia bahkan jika aku mau...dan aku
tidak
mau. Lebih baik dia mengarang-ngarang daripada mengetahui siapa diriku, karena tidak ada
yang lebih buruk dari yang sebenarnya—aku adalah mimpi buruk, langsung dari dunia horor.
“Kuharap kau menikmati kekecewaanmu.”
Kami saling menatap marah. Namun amarahnya justru terlihat menggemaskan. Seperti
geraman anak kucing, lembut dan tidak berbahaya, tidak sadar pada kerapuhannya sendiri.
Wajahnya memerah. Ia menggertakan gigi lagi. “Dan kenapa kau bahkan perduli?”
Lagi-lagi pertanyaannya tidak terduga. Aku tidak menyiapkan jawaban untuk ini. Aku
kehilangan pegangan pada peranku. Topeng diwajahku terlepas, dan kukatakan padanya—
untuk kali ini—yang sebenarnya.
“Aku tidak tahu.”
Aku mengingat wajahnya untuk terakhir kali—masih dengan raut marah, darah belum
memudar dari pipinya—dan kemudian aku berbalik meninggalkan dia.
73
4. Penglihatan
Aku kembali ke sekolah. Ini pilihan tepat yang seharusnya dilakukan, bertindak wajar
dan tidak menarik perhatian.
Hampir semua murid telah kembali ke kelas juga. Tinggal Tyler, Bella dan beberapa
orang—yang sepertinya menggunakan kesempatan untuk bolos—tetap absen.
Harusnya tidak sulit melakukan sesuatu yang benar. Tapi sesiangan ini aku justru harus
berjuang keras agar tidak ikutan bolos—hanya karena ingin menemui gadis itu lagi.
Seperti penguntit. Penguntit yang terobsesi. Vampir penguntit yang terobsesi.
Sekolah jadi mustahil dijalani, jauh lebih membosankan dari minggu lalu. Seperti
koma. Seakan warna-warni pada bata, pepohonan, langit, wajah-wajah disekitarku jadi
luntur... Aku cuma memandangi rekahan di tembok.
Sebetulnya ada sesuatu yang lain yang juga harus dilakukan...tapi tidak kulakukan.
Tentu saja sesuatu itu juga bisa dibilang keliru. Tapi tergantung dari sisi mana melihatnya.
Jika dari perspektif anggota keluarga Cullen—bukan sekedar vampire, tapi seorang
Cullen,
seseorang yang memiliki keluarga, sesuatu yang langka bagi kaum kami—tindakan
yang paling tepat seharusnya seperti ini:
“Aku terkejut melihatmu masuk, Edward. Kudengar kau terlibat dalam insiden
mengerikan tadi pagi.”
“Iya, Mr. Banner, tapi saya cukup beruntung.” Tersenyum ramah. “Saya tidak terluka
sama sekali... saya harap Bella dan Tyler juga begitu.”
“Bagaimana keadaan mereka?”
“Tyler baik-baik saja...hanya lecet-lecet terkena pecahan kaca. Tapi saya agak
khawatir pada Bella.” mengerutkan dahi prihatin. “Dia mengalami gegar otak. Saya dengar
pikirannya jadi agak kacau—bahkan sempat berhalusinasi. Para dokter sangat cemas...”
Itu yang seharusnya kulakukan demi keluargaku. Tapi...
“Aku terkejut melihatmu masuk, Edward. Kudengar kau terlibat dalam insiden
mengerikan tadi pagi.”
“Saya tidak terluka.” Tanpa senyum.
74
Mr. Banner mengganti tumpuan kakinya tidak nyaman. “Apa kau tahu bagaimana
keadaan Tyler Crowley dan Bella Swan? Katanya mereka terluka...”
Aku mengangkat bahu. “Saya tidak tahu.”
Mr. Banner mendehem, “Mmm,Ya sudah...” Tatapan dinginku membuat suaranya
tegang.
Dia cepat-cepat kembali ke depan kelas dan memulai pelajarannya.
Itu perbuatan yang sangat keliru.
Hanya saja sangat...sangat tidak
ksatria
mendiskreditkan gadis itu di belakangnya,
terutama ketika ia membuktikan lebih dapat dipercaya daripada yang kubayangkan. Dia tidak
mengkhianatiku dengan melanggar janjinya, meskipun punya cukup alasan untuk itu. Apa
aku akan mengkhianati dia ketika ia tidak melakukan apa-apa selain menjaga rahasiaku?
Aku mengalami pembicaraan serupa dengan Mrs. Goff—hanya saja dalam bahasa
Spanyol—dan Emmet memperhatikanku.
Aku harap kau punya penjalasan yang baik untuk kejadian hari ini. Rose sudah siap
perang.
Aku memutar bola mataku tanpa melihat dia.
Sebetulnya aku menemukan penjelasan yang sempurna. Misalkan saja aku
tidak
mencegah
van
itu meremukan dia...aku merasa kecut memikirkannya. Tapi seandainya dia
dibiarkan, jika dia terluka dan mengeluarkan darah, cairan merah kental berceceran,
menggenang di aspal, bau darah segar menguar pekat di udara...
Aku gemetar, tapi bukan cuma karena ngeri. Sebagian diriku meremang penuh hasrat.
Tidak, aku tidak akan sanggup melihat darahnya tanpa mengekspos keluargaku dengan lebih
mengerikan.
Alasan itu terdengar sempurna...tapi tidak akan kugunakan. Terlalu memalukan.
Dan aku tidak berpikir kesitu sampai jauh setelah kejadian.
Hati-hati pada Jasper,
Emmet melanjutkan, tidak mengindahkan lamunanku.
Dia tidak
semarah itu...tapi ia sudah menetapkan niatnya.
Aku tahu apa yang ia maksud, dan dalam sekejap ruangan di sekelilingku tenggelam.
Amarahku memuncak sedemikian hebat hingga kabut merah mengaburkan pandanganku.
Aku hampir tersedak kedalamnya.
75
SSSTT, EDWARD! KUASAI DIRIMU!
Emmet meneriakiku di kepalanya. Tangannya
memegang pundakku, menahanku tetap duduk sebelum aku terloncat berdiri. Dia jarang
menggunakan seluruh kekuatannya—sangat jarang dibutuhkan, mengingat ia jauh lebih kuat
dari vampir manapun yang pernah kami temui—tapi ia menggunakan kekuatan penuh
sekarang. Dia mencengkram bahuku, bukannya menekan kebawah. Jika dia menekan
kebawah, kursiku akan hancur berantakan.
TENANG!
Perintahnya galak.
Aku berusaha menenangkan diri, tapi sulit. Amarah terlanjur membara di kepalaku.
Jasper tidak akan bertindak sebelum kita bicara. Kau dalam kesulitan besar.
Aku menarik napas panjang. Baru kemudian Emmet melepaskan cengkramannya.
Aku mengecek ke sekeliling ruangan. Tapi konforontasi tadi berlangsung sangat singkat
dan tanpa suara sehingga hanya beberapa orang di belakang Emmet yang menyadarinya.
Mereka tidak tahu apa alasannya, dan cuma mengangkat bahu. Keluarga Cullen memang
aneh—semua orang sudah tahu itu.
Sialan, Edward, kau berantakan,
Emmet menambahkan. Ada nada simpati pada
suaranya.
“Gigit saja aku,” aku menggerutu dibalik napas. Kudengar dia terkekeh pelan.
Emmet bukan pendendam, dan aku seharusnya lebih bersyukur pada sikap santainya.
Tapi aku melihat niat Jasper dianggap Emmet cukup masuk akal. Ia sempat
mempertimbangkan kalau mungkin saja itu jalan yang terbaik.
Amarahku pelan-pelan kembali mendidih, hampir tidak terkontrol. Ya, Emmet lebih
kuat dariku, tapi ia belum pernah menang melawanku dalam adu tanding. Dia menuduh aku
curang. Tapi mendengar pikiran adalah bagian dariku, sama seperti kekuatan besar yang
menjadi bagian dari dia. Dalam pertarungan kami seimbang.
Pertarungan? Apa akan kesana pada akhirnya? Apa aku akan bertarung melawan
keluargaku
hanya karena seorang manusia yang tidak terlalu kukenal?
Aku mempertimbangkannya sebentar, memikirkan bagaimana tubuh gadis itu terasa
begitu rapuh dalam pelukanku jika dibandingkan dengan kekuatan Jasper, Rose, dan Emmet
—yang diluar akal sehat sangat kuat dan cepat, mesin pembunuh alami...
Ya, aku akan ber tarung demi dia. Melawan keluargaku. Aku gemetar.
76
Tapi tidak adil meninggalkan dia tanpa perlindungan, padahal aku yang
menyebabkannya berada dalam bahaya.
Aku tidak bisa menang sendirian. Tidak jika melawan mereka bertiga. Kira-kira siapa
yang berada di pihakku nanti.
Carlisle, pastinya. Ia tidak akan melawan siapa-siapa, tapi ia akan menentang rencana
Rose dan Jasper. Mungkin itu cukup. Kita lihat nanti...
Esme, aku ragu. Dia tidak akan
menentang
aku juga, dan dia tidak suka berbeda
pendapat dengan Carlisle, tapi ia akan lebih menjaga keluarganya tetap utuh. Prioritas
pertamanya mungkin bukan keadilan, melainkan aku. Jika Carlisle adalah roh keluarga kami,
maka Esme adalah hatinya. Dia memberi kami seorang pemimpin yang pantasi diikuti; dia
membuat kesetiaan itu menjadi perwujudan dari rasa sayang. Kami semua saling menyayangi
—bahkan dibalik kemarahanku pada Jasper dan Rose, dan rencanaku untuk melawan mereka
demi menyelamatkan gadis itu, aku tahu aku menyayangi mereka.
Alice...aku tidak tahu. Mungkin tergantung apa yang ia lihat. Mungkin dia akan
memihak yang menang.
Jadi, aku akan melakukan ini tanpa bantuan. Aku bukan tandingan mereka, tapi tidak
akan kubiarkan gadis itu terluka gara-gara aku. Mungkin solusinya dia harus dilarikan...
Amarahku sedikit mereda karena humor gelap yang tahu- tahu terlintas. Aku bisa
membayangkan bagaimana reaksi kikuk gadis itu saat aku menculiknya. Tentu saja aku
jarang menebak reaksi dia dengan tepat—tapi apa lagi reaksinya selain ngeri?
Aku belum terlalu yakin bagaimana mengatasi itu—menculik dia. Aku tidak akan tahan
berdekatan terlalu lama. Barangkali cukup mengantar ke ibunya. Tapi itupun belum tentu
aman baginya.
Dan juga bagiku, aku menyadari tiba-tiba. Jika aku tidak sengaja membunuhnya... aku
tidak yakin seberapa besar akan menyakitiku, tapi pasti tidak karuan dan sangat.
Waktu cepat berlalu selama aku memper timbangkan berbagai kemungkinan:
perrtengkaran yang menunggu di rumah, perseteruan dengan keluargaku, lamanya aku harus
pergi setelah itu...
Well
, aku tidak bisa lagi mengeluh hari- hariku sangat monoton. Gadis itu telah merubah
segalanya.
77
Setelah bel, Emmet dan aku berjalan dalam diam menuju mobil. Dia mengkawatirkan
aku sekaligus Rosalie. Dia tahu di pihak mana ia akan memilih jika terjadi perselisihan, dan
itu mengganggunya.
Yang lain sudah menunggu di mobil, juga diam. Kami berlima duduk ditengah
kesunyian. Cuma aku yang bisa mendegar teriakan-teriakan.
Idiot! Tolol! Dasar orang gila! Brengsek! Egois, orang bodoh yang tidak bertanggung
jawab!
Rosalie terus menumpahkan makiannya keras-keras. Suara yang lainnya jadi
terbenam, tapi kuabaikan sebisanya.
Emmet betul tentang Jasper. Dia sangat yakin dengan niatnya.
Alice risau, mengkhawatirkan Jasper, membolak balik kilasan gambar masa depan.
Tidak perduli dari arah mana Jasper mendatangi gadis itu, Alice selalu melihatku
menghalangi Jasper. Menarik... tidak ada Rosalie atau Emmet di penglihatannya. Jadi Jasper
berencana kerja sendirian. Itu membuatnya jadi lebih imbang.
Jasper adalah yang terbaik, petarung yang paling berpengalaman diantara kami.
Keuntunganku terletak pada kemampuanku mendengar gerakannya sebelum dia
melakukannya.
Aku belum pernah bertarung sungguhan melawan Emmet atau Jasper—biasanya hanya
bercanda dan bermain-main. Aku merasa mual pada pikiran akan mencoba benar-benar
menyakiti Jasper...
Tidak, tidak begitu. Hanya menghalangi dia. Cuma itu.
Aku berkonsentrasi pada Alice, mengingat-ingat beragam variasai serangan Jasper.
Kemudian penglihatannya bergeser, bergerak menjauh dari rumah Bella. Aku mencegat
Jasper duluan.
Hentikan, Edward! Tidak boleh terjadi seperti itu. Aku tidak akan membiarkan.
Aku mengacuhkannya. Aku tetap memperhatikan penglihatannya.
Dia mulai mencari lebih jauh kedepan, pada kemungkinan-kemungkinan yang tidak
pasti dan masih kabur. Semuanya samar dan berbayang gelap.
Selama perjalanan sampai ke rumah, kesunyian itu tidak berubah. Aku parkir di garasi
disamping rumah; Mercedes Carlisle sudah disitu, disebelah jeep besar Emmet, M3 milik
Rose, dan Vanquishku. Aku lega Carlisle sudah pulang—keheningan ini akan segera
78
meledak, dan aku ingin Carlisle ada ketika itu terjadi.
Kami langsung menuju ke ruang makan.
Tentu saja ruangan ini tidak pernah digunakan sebagaimana mestinya. Tapi tetap
dilengkapi dengan meja mahoni oval panjang beserta kursi- kursinya—kami sangat teliti
untuk meletakan setiap detail properi pada tempatnya. Carlisle sering menggunakannya
sebagai ruang pertemuan. Dalam sebuah kelompok yang memiliki kekuatan super dan
kepribadian berbeda, kadang perlu mendiskusikan sesuatu hal secara tenang dan beradab.
Aku merasa hal itu tidak akan banyak berguna hari ini.
Carlisle duduk di tempat biasanya, di ujung meja sebelah timur. Esme di sebelahnya—
tangan mereka saling berpegangan diatas meja.
Mata Esme menatapku, keemasannya yang dalam menatapku prihatin.
Tinggallah.
Hanya itu yang dia pikirkan.
Aku harap aku bisa bisa tersenyum pada perempuan yang telah menjadi ibuku ini, tapi
aku sedang tidak cukup tenang sekarang.
Aku duduk disamping Carlisle. Esme mengulurkan tangan satunya untuk menyentuh
pundakku. Dia belum terlalu mengerti apa yang terjadi; dia hanya risau padaku.
Carlisle lebih peka untuk bisa meraba apa yang sedang terjadi. Mulutnya terkatup rapat
dan keningnya berkerut. Ekspresinya terlihat terlalu tua untuk wajah mudanya.
Saat semua duduk, garis demarkasi telah dibuat.
Rosalie duduk tepat di seberang Carlisle, di ujung meja satunya. Dia memelototiku,
sama sekali tidak melihat ke arah lain.
Emmet duduk disampingnya, wajah dan pikirannya masam.
Jasper ragu-ragu, dan kemudian berdiri bersandar pada tembok di belakang Rosalie.
Dia telah mengambil keputusan, tidak perduli apapun hasil diskusi ini. Gigiku langsung
terkunci.
Alice yang terakhir datang, dan matanya fokus pada hal yang sangat jauh—masa depan,
yang masih terlalu kabur untuk digunakan. Tanpa terlalu perduli dia duduk disamping Esme.
Dia meremas-remas kepalanya seakan kepalanya sakit. Jasper mengejang gugup dan
mempertimbangkan untuk mendekat, tapi dia tetap diam ditempat.
Aku mengambil napas panjang. Aku yang harus memulai ini—aku harus bicara duluan.
79
“Maafkan aku,” aku berkata sambil melihat pertama-tama ke Rosalie, lalu ke Jasper,
dan ke Emmet. “Aku tidak bermaksud membahayakan kalian semua. Itu sangat ceroboh. Aku
akan bertanggung jawab penuh atas tindakan gegabahku.”
Rosalie menatap curiga. “Apa yang kau maksud dengan 'bertanggung jawab penuh'?
Apa kau akan membereskannya?”
“Tidak dengan cara yang kau maksud,” aku berusaha menata suaraku tetap tenang dan
terkendali. “Aku bersedia untuk pergi saat ini juga, jika itu bisa mempebaiki keadaan.”
Jika
aku percaya gadis itu akan aman, jika aku percaya tidak satupun dari kalian akan
menyentuhnya,
aku mengultimatum dalam kepalaku.
“Tidak,” Esme berbisik. “Tidak, Edward.”
Aku menepuk tangannya. “Hanya beberapa tahun.”
“Esme ada benarnya,” ujar Emmet. “Kau tidak bisa kemana-mana sekarang. Itu adalah
kebalikannya
dari membantu. Kita harus tahu apa yang dipikirkan orang-orang. Kita lebih
membutuhkan hal itu sekarang daripada sebelumnya.”
“Alice akan mengetahui apapun yang penting.” aku tidak sependapat.
Carlisle menggeleng. “Aku rasa Emmet benar, Edward. Gadis itu akan lebih berniat
bicara jika kau menghilang. Kita semuanya pergi, atau tidak satupun.”
“Dia tidak akan bicara.” aku buru-buru menyanggah. Rose sedang siap-siap meledak,
dan aku ingin fakta ini terucap duluan.
“Kau tidak tahu isi pikirannya,” Carlisle mengingatkan aku.
“Yang sebatas ini aku tahu. Alice, dukung aku.”
Alice menatap letih. “Aku tidak bisa melihat apa yang akan terjadi jika kita
mengabaikan ini.” Dia melirik ke Rose dan Jasper.
Tidak, dia tidak bisa melihat masa depan itu—tidak ketika Rosalie dan Jasper telah
menetapkan pilihannya untuk bertindak.
Brak! Rosalie menggebrak meja keras-keras. “Kita tidak boleh memberi kesempatan
pada manusia untuk buka mulut. Carlisle, kau
harus
melihatnya seperti itu. Bahkan jika
diputuskan semuanya pergi, tidak aman meninggalkan cerita dibelakang kita. Kita hidup
dengan cara yang sangat berbeda dari kaum kita yang lainnya—kau tahu ada kelompok-
kelompok yang dengan senang hati akan menghukum kita. Kita harus lebih berhati-hati
80
4.
Langganan:
Postingan (Atom)

