menatapnya, jadi aku tidak bisa melihat wajahnya di pikiran dia.
“Kupikir perempuanlah yang mengajak,” dia terdengar agak bingung.
“Iya, sih,” dia mengakui malu-malu.
Bocah memelas ini tidak semenjengkelkan Mike Newton, tapi aku baru bisa bersimpati
padanya setelah Bella menjawab dia dengan lembut. “terima kasih untuk ajakannya, tapi aku
akan pergi ke Seattle hari itu.”
Dia telah mendengar hal itu, tapi tetap saja ia merasa kecewa.
“Oh ya sudah,” gumamnya. Dia hampir tidak berani mengangkat matanya. “Mungkin
lain kali.”
“Tentu,” dia menjawab sopan. Kemudian ia menggigit bibirnya, seakan menyesal telah
memberi harapan. Aku suka itu.
Eric melangkah lemas, menuju ke arah berlawanan dari mobilnya. Yang ia pikirkan
cuma pergi.
Aku melewati Bella tepat pada saat itu, dan mendengar desah leganya. Aku tertawa.
Dia menoleh mendengar suaraku, tapi aku memandang lurus kedepan, berusaha
menahan bibirku agar tidak tersenyum girang.
Tyler ter lihat masih jauh, tergesa-gesa mengejar Bella. Dia lebih berani dan lebih yakin
dibanding dua pesaingnya. Selama ini ia belum mendekati Bella hanya karena menghormati
Mike, yang telah lebih dulu melakukan pendekatan.
Aku ingin dia berhasil mengejar Bella karena dua alasan. Jika—seper ti yang sudah
kusangka—semua perhatian ini sangat mengganggu Bella, aku ingin menonton reaksinya.
Tapi, jika ternyata tidak menggangu—jika memang ajakan Tyler yang ia tunggu—maka aku
ingin mengetahui hal itu.
Aku benar-benar menilai Tyler sebagai pesaingku, meskipun tahu itu keliru. Bagiku dia
biasa-biasa saja, membosankan, dan tidak ada istimewanya sama sekali. Tapi memangnya
aku tahu selera Bella? Barangkali dia suka dengan cowok yang biasa-biasa saja...
Aku mengernyit pada pikiran itu. Aku tidak mungkin bisa biasa-biasa saja. Bodohnya
aku ikut-ikutan bersaing mengejar perhatian Bella. Bagaimana mungkin dia perduli pada
monster?
Dia terlalu baik bagi seorang monster.
102
Aku sebaiknya membiarkan dia pulang, tapi rasa penasaranku yang absurd menahanku
melakukan sesuatu yang benar. Lagi. lagipula, bagaimana jika Tyler kehilangan kesempatan,
dan justru menghubungi nanti saat aku tidak bisa mendengar hasilnya? Aku cepat-cepat
memundurkan Volvoku, mendului dia dan menghalangi truknya.
Emmet dan yang lain dalam perjalanan. Emmet sedang menggambarkan tingkah
anehku. Mereka berjalan pelan-pelan, memperhatikan aku, mencari tahu apa yang sedang
kulakukan.
Aku memperhatikan gadis itu dari kaca spion. Dia mendelik ke belakang mobilku.
Kelihatannya ia seperti berharap sedang mengendarai tank dan bukannya truk Chevy karatan.
Tyler buru-buru mengambil mobil dan berhasil mengantri di belakangnya, bersyukur
pada tindakanku yang tidak biasa. Dia melambai ke gadis itu, berusaha menarik
perhatiannya, tapi gadis itu tidak melihat. Dia menunggu sebentar, kemudian keluar dari
mobil, menghampiri sisi penumpang truk gadis itu. Dia mengetuk kacanya.
Gadis itu terlonjak, kemudian menatap Tyler bingung. Setelah beberapa saat, ia
menurunkan jendelanya secara manual, kelihatannya sedikit macet.
“Sori, Tyler,” katanya dengan suara kesal. “Mobil Cullen menghalangiku.”
Dia mengucapkan nama keluargaku dengan suara tajam—dia masih marah padaku.
“Iya, aku tahu,” ujarnya, tidak terpengaruh oleh moodnya. “Aku hanya ingin
menanyakan sesuatu selagi kita terjebak disini.”
Seringainya agak sombong.
Aku senang melihat wajahnya berubah pucat setelah menyadari niat Tyler.
“Maukah kau mengajakku ke pesta dansa musim semi?” dia bertanya penuh keyakinan.
“Aku akan pergi ke luar kota, Tyler,” dia menjawab agak ketus.
“Iya, Mike sudah cerita.”
“Lantas, kenapa—” dia menatap Tyler tajam.
Dia mengangkat bahu. “Aku pikir kau hanya ingin menolaknya secara halus.”
Matanya berkilat kesal, tapi kemudian meredup. “Sori, Tyler.” Dia tidak terdengar
menyesal sama sekali. “Aku benar-benar akan pergi ke luar kota.”
Dia menerima alasan itu, dan keyakinannya masih tidak tergoyahkan. “Oke, tidak apa-
apa. Masih ada
prom.”
103
Dia kembali ke mobilnya.
Keputusanku tepat untuk tidak melewatkan hal ini.
Ekspresi kesal di wajahnya benar-benar layak untuk dilihat. Itu memberitahu apa yang
seharusnya tidak kucari tahu—bahwa ia tidak tertarik pada bocah- bocah itu.
Juga, ekspresinya adalah hal terlucu yang pernah aku lihat.
Saat keluargaku sampai ke mobil, mereka bingung melihat perubahanku, yang sedang
tertawa sendirian dan bukannya bersungut jengkel seperti biasanya.
Apa yang lucu?
Emmet ingin tahu.
Aku cuma menggeleng sambil tertawa lagi karena melihat Bella menderumkan mesin
mobilnya dengan marah. Dia kelihatannya berharap sedang mengendarai tank lagi.
“Ayo pergi!” Rosalie mendesis tidak sabaran. “Berhenti bertingkah seperti orang idiot.
Itu kalau kau
bisa.
”
Ucapannya tidak menggangguku—aku terlalu terhibur. Tapi aku menuruti yang dia
minta.
Tidak ada yang bicara padaku selama perjalanan. Sementara aku terus tertawa-tawa
kecil sendirian gara-gara teringat wajahnya.
Saat tiba di jalan sepi—menginjak gas dalam-dalam mumpung tidak ada saksi—Alice
merusak moodku.
“Jadi boleh sekarang aku bicara pada Bella?” dia langsung bertanya begitu saja, tanpa
basa-basi.
“Tidak.” Aku langsung marah.
“Tidak adil! Apa yang kutunggu?”
“Aku belum memutuskan apa-apa, Alice.”
“Terserah.”
Di dalam kepalanya, dua takdir Bella menjadi jelas lagi.
“Apa gunanya berkenalan dengan dia?” Aku mendadak murung. “Jika aku hanya akan
membunuhnya?”
Alice sekejap ragu. “Kau ada benarnya,” dia mengakui.
Aku membelok tajam pada kecepatan sembilan puluh mil perjam, dan kemudian
mendecit berhenti, tepat beberapa inchi sebelum tembok garasi.
104
“Selamat menikmati jogingmu,” sindir Rosalie culas saat aku keluar dari mobil.
Tapi hari ini aku tidak lari. Aku berburu.
Yang lain baru akan berburu besok, tapi aku tidak sanggup untuk haus sekarang.
Pada akhirnya aku minum terlalu banyak—beberapa rusa besar dan satu beruang hitam.
Aku cukup beruntung bisa menemukan mereka di awal musim seper ti ini. Aku kekenyangan
hingga tidak nyaman. Tapi kenapa masih belum juga cukup? Kenapa aroma dia harus lebih
kuat dari yang lain?
Ini aku berburu untuk persiapan besok. Tapi saat selesai berburu, dan masih berjam-jam
lagi sebelum matahari terbit, aku tahu besok terlalu lama.
Rasa gugup kembali melandaku saat menyadari aku akan mencari gadis itu sekarang
juga.
Aku berdebat dengan diriku sendiri selama perjalanan, tapi sisi culasku yang menang.
Aku melanjutkan rencanaku. Monster dalam diriku gelisah namun sudah terikat kencang.
Aku akan menjaga jarak. Aku cuma ingin tahu dimana dia. Aku hanya ingin melihat
wajahnya.
Ini sudah lewat tengah malam. Rumah Bella gelap dan sepi. Truknya diparkir di pinggir
jalan, mobil polisi ayahnya di depan rumah. Tidak ada pikiran yang terbangun di sekeliling
rumahnya. Aku mengawasi rumahnya dari balik kepekatan hutan yang menghampar di
seberang jalan. Pintu depan pasti terkunci—bukan masalah, tapi aku tidak mau meninggalkan
bukti dengan merusak pintunya. Jadi aku akan mencoba jendela atas dulu. Jarang ada orang
yang repot-repot menguncinya.
Aku berlari menyebrang jalan, lalu meloncat keatas rumahnya tidak sampai setengah
detik. Aku bergelantungan pada kusen jendela. Aku mengintip lewat kaca, dan napasku
terhenti.
Ini kamarnya. Aku bisa melihat dia di tempat tidurnya yang kecil. Selimutnya di lantai,
dan spreinya berantakan disekitar kakinya. Kemudian tiba-tiba ia bergerak gelisah dan
melempar satu tangannya keatas kepala. Tidurnya tidak bersuara, paling tidak hari ini. Apa ia
merasakan ada bahaya?
Batinku menyuruhku untuk pergi saat dia bergerak gelisah lagi. Apa bedanya aku
dengan tukang ngintip?
Tidak ada
bedanya. Bahkan aku jauh, jauh lebih buruk.
105
Aku mengendurkan pegangan jariku, sudah akan turun, tapi sebelum itu aku ingin
mengamati dulu lagi wajahnya sebentar.
Wajahnya tidak tenang. Sedikit kerutan terlihat diantara alisnya. Ujung bibirnya turun.
Bibirnya bergerak-gerak, kemudian terbuka.
“Oke, mom,” dia menggumam pelan.
Bella bicara di tidurnya.
Rasa penasaran langsung membakarku, mengalahkan kejijikan pada apa yang sedang
kulakukan. Daya pikat ungkapan pikirannya yang terucap tanpa-sadar mustahil untuk
dilawan.
Aku coba membuka jendelanya, ternyata tidak terkunci, hanya saja agak macet karena
jarang dibuka. Kudorong pelan-pelan, berjengit tiap kali menimbulkan suara. Aku mesti
mencari oli untuk lain kali...
Lain kali? Aku menggelengkan kepala, lagi-lagi merasa jijik dengan diriku.
Aku menyelinap tanpa suara melalui jendela yang terbuka separuh.
Kamarnya kecil—berantakan tapi tidak kotor. Buku-buku berserakan di lantai
disamping tempat tidur, keping-keping CD bertebaran di dekat tapenya yang murahan, dan
diatas tapenya terdapat kotak tempat asesoris. Tumpukan-tumpukan kertas berhamburan
disekitar komputer yang seharusnya sudah dimuseumkan. Sepatu-sepatunya ditaruh begitu
saja di lantai kayu.
Aku sangat ingin membaca judul-judul bukunya dan CD-CD musiknya, tapi aku sudah
berjanji untuk menjaga jarak. Jadi aku cuma duduk di kursi goyang di pojok kamar.
Apa betul aku pernah berpikir penampilannya biasa-biasa saja? Aku mengingat lagi
saat hari pertama, dan kemuakanku pada bocah-bocah yang langsung tertarik padanya. Tapi
sekarang, jika kuingat lagi wajahnya di pikiran mereka, aku tidak mengerti kenapa aku tidak
lansung menilai dia cantik. Padahal jelas-jelas wajahnya cantik.
Saat ini—dengan rambut gelap berantakan diseputar wajah pucatnya, memakai kaos
oblong usang dengan celana panjang katun lusuh, roman rileks pulas, dan bibirnya yang
penuh sedikit merekah—dia membuatku terpesona.
Dia tidak bicara. Barangkali mimpinya sudah selesai.
Aku menatap wajahnya sambil berusaha mencari jalan lain selain dua pilihan masa
106
depan yang ada. Apa pilihanku cuma tinggal mencoba pergi lagi?
Yang lain sudah tidak bisa membantah lagi sekarang. Kepergianku tidak akan
membahayakan siapa-siapa. Tidak akan ada yang curiga. Tidak akan ada yang mengkait-
kaitkan dengan insiden kemarin.
Aku sebimbang tadi siang, dan semua kelihatannya mustahil.
Aku tidak mungkin menyaingi bocah-bocah manusia itu, entah ada yang membuat dia
tertarik atau tidak. Aku seorang monster. Bagaimana mungkin ia akan melihatku sebagai
sosok yang lain? Jika dia tahu siapa diriku sebenarnya, itu akan membuatnya ngeri ketakutan.
Sama seperti para korban dalam film horor, ia akan lari gemetar penuh teror.
Aku ingat hari pertamanya di kelas biologi...itu adalah reaksi yang paling tepat dari dia.
Sungguh konyol membayangkan bahwa jika saja aku yang mengajak dia ke pesta
dansa, mungkin ia akan membatalkan rencananya ke Seattle dan setuju pergi denganku.
Bukan aku yang dia takdirkan untuk dijawab ya. Melainkan orang lain, seseorang yang
hangat dan manusia. Dan bahkan—suatu saat nanti, ketika kata ya terucap—aku tidak boleh
memburu pria itu dan membunuhnya. Bella pantas mendapatkannya, siapapun itu. Dia layak
mendapatkan kebahagiaan dan rasa sayang dari siapapun pilihannya.
Aku berhutang itu padanya; aku tidak bisa lagi pura-pura
hampir
mencintai gadis ini.
Bagamanapun, tidak ada pengaruhnya kalau aku pergi, karena Bella tidak akan pernah
melihatku dengan cara yang seperti kuharapkan. Dia tidak akan pernah melihatku sebagai
sosok yang pantas dicintai.
Tidak akan pernah.
Bisakah jantung beku yang telah mati patah? Rasanya jantungku bisa.
“Edward,” ucap Bella.
Aku membeku, memperhatikan matanya yang tertutup.
Apa dia terbangun, melihatku disini? Dia
kelihatanya
pulas, namun suaranya sangat
jernih...
Dia mendesah pelan, kemudian bergerak gelisah lagi, berguling kesamping—masih
pulas dan bermimpi.
“Edward,” dia bergumam lembut.
Dia memimpikan aku.
107
Bisakah jantung beku yang sudah mati kembali berdetak? Sepertinya punyaku bisa.
“Tinggal lah,” dia mendesah. “Jangan pergi. Tolong
...
jangan pergi.”
Dia memimpikan aku, dan itu bukan mimpi buruk. Dia menginginkan aku tinggal
bersamanya, disana di mimpinya.
Aku berjuang mencari istilah dari perasaan yang membanjiri diriku, tapi aku tidak
punya istilah yang cukup kuat untuk mengartikannya. Selama beberapa lama, aku tenggelam,
berenang-renang di dalamnya.
Ketika muncul ke permukaan, aku bukan lagi orang yang sama.
Hari-hariku tidak berujung, malam gelap tanpa akhir. Selalu tengah malam bagiku. Jadi
bagaimana mungkin matahari bisa terbit sekarang, di tengah tengah-malamku?
Pada hari dimana aku menjadi vampir, menukar jiwa dan kefanaanku dengan
keabadian, dalam proses transformasi yang menyiksa, aku benar-benar telah membeku.
Badanku menjadi sesuatu yang menyerupai batu daripada daging, kekal dan tidak berubah.
Kepribadianku juga ikut membeku—yang aku suka dan tidak suka, mood dan hasaratku;
semua membeku.
Hal yang sama juga terjadi pada yang lainnya. Kami semua membeku. Batu hidup.
Ketika kemudian terjadi perubahan pada kita, itu langka dan merupakan sesuatu yang
permanen. Aku melihatnya terjadi pada Carlisle, dan sepuluh tahun kemudian pada Rosalie.
Perasaan cinta merubah mereka dalam cara yang kekal, cara yang tidak akan pernah pudar.
Sudah lebih dari 80 tahun Carlisle menemukan Esme, dan tetap saja dia masih menatap Esme
dengan tatapan yang sama seperti saat menemukan cinta pertamanya. Dan akan selamanya
begitu bagi mereka.
Akan selalu seperti itu juga bagiku. Aku akan selalu mencintai gadis rapuh ini, untuk
selama eksistensiku yang tak terbatas.
Aku memandangi wajahnya yang terlelap, merasakan perasaan cintaku menetap pada
tiap sel di tubuh beku-ku.
Dia tidur lebih nyaman sekarang. Sebaris senyum pada bibirnya.
Aku akan selalu mengawasi dia seperti ini.
Aku mencintai dia, jadi aku akan berusaha menjadi kuat untuk bisa meninggalkan dia.
Aku tahu aku tidak sekuat itu sekarang. Akan kuupayakan. Tapi barangkali akhirnya aku akan
108
cukup kuat untuk mengelakan masa depannya dengan cara lain.
Alice hanya melihat dua takdir bagi Bella. Kini aku memahami keduanya.
Mencintai dia bukan berarti membuatku tidak akan membunuhnya, jika aku sampai
membuat kesalahan.
Namun begitu aku tidak bisa merasakan monster itu sekarang, tidak bisa menemukan
dimanapun dalam diriku. Barangkali cinta telah membungkam dia selamanya. Jika aku
membunuh Bella sekarang, itu bukan disengaja, hanya ketidak sengajaan yang mengerikan.
Aku akan sangat hati-hati. Aku tidak akan pernah mengendurkan kewaspadaannku. Aku
akan selalu mengontrol tiap tarikan napasku. Aku akan selalu menjaga jarak.
Aku tidak akan pernah membuat kesalahan.
Aku akhirnya memahami takdir yang kedua. Selama ini aku tidak habis pikir dengan
penglihatan itu—apa yang terjadi hingga dia akhirnya menjadi tahanan keabadian seperti
diriku ini? Sekarang—dibutakan kerinduan pada gadis ini—aku bisa mengerti, bagaimana
aku, dengan keegoisan yang tidak termaafkan, meminta tolong ayahku untuk melakukannya.
Meminta padanya untuk mengenyahkan jiwa gadis ini agar aku bisa mendapatkan dia
selamanya.
Dia berhak mendapatkan yang lebih baik.
Tapi aku melihat masa depan yang lain, satu benang tipis yang mungkin bisa kulewati,
jika dapat menjaga keseimbangan.
Apa aku sanggup? Bersamanya dan membiarkan dia menjadi manusia?
Secara sengaja aku mengambil napas dalam-dalam, membiarkan aromanya membakar
diriku. Kamarnya pekat dengan wangi tubuhnya; bau tubuhnya menempel di setiap
permukaan. Kepalaku seperti tenggelam, tapi kulawan pusing itu. Jika berniat menjalin
hubungan dengan dia, aku harus membiasakan diri dengan ini. Aku mengambil napas lagi,
napas yang membakar.
Aku memperhatikan dia tidur hingga matahari terbit dibalik awan timur, menyusun
rencana dan terus bernapas dalam-dalam.
Aku baru tiba di rumah setelah yang lain sudah berangkat sekolah. Aku cepat-cepat
ganti baju, menghindari tatapan penuh tanya Esme. Dia melihat binar samar di wajahku. Dia
109
merasa cemas sekaligus lega. Kesenduan panjangku membuatnya sedih, dan ia lega karena
sepertinya telah berakhir.
Aku berlari ke sekolah, sampai beberapa detik sebelum saudaraku. Mereka tidak
menoleh, meskipun Alice pasti telah memberitahu aku akan disini, di kerimbunan hutan
dekat parkiran. Aku menunggu sampai tidak ada yang melihat, kemudian berjalan santai dari
balik pepohonan ke parkiran.
Aku mendengar truk Bella menderu keras di belokan. Aku berhenti di belakang sebuah
suburban, di posisi aku bisa mengamati tanpa kelihatan.
Dia masuk ke parkiran, mendelik ke Volvoku selama beberapa saat sebelum mengambil
tempat parkir di ujung yang paling jauh. Dahinya mengerut.
Rasaya aneh mengingat dia sepertinya masih marah padaku, dan dengan alasan yang
baik pula.
Aku ingin menertawakan diriku sendiri—atau menendang sekalian. Semua gagasanku
jadi tidak ada artinya jika ternyata dia tidak tertarik padaku. Mimpinya tadi malam bisa
tentang sesuatu yang lain. Aku benar-benar bodoh dan tidak tahu diri.
Well
, jauh lebih baik buat dia jika dia tidak tertarik padaku. Itu tidak akan
menghentikanku mengejar dia, tapi aku akan memberinya peringatan bahaya. Aku berhutang
itu padanya.
Aku berjalan tanpa suara, memikirkan cara yang paling baik buat mendekatinya.
Dia membuatnya jadi mudah. Kunci truknya ter lepas dari genggaman saat ia keluar,
dan terjatuh ke dalam kubangan.
Dia membungkuk, tapi aku duluan, mengambilnya sebelum tangannya harus
menyentuh air dingin.
Aku bersandar ke truknya sementara dia terkejut dan berdiri.
“Bagaimana kau
melakukan
itu?” tanyanya sebal.
I ya, dia masih marah.
Aku menyerahkan kuncinya. “Melakukan apa?”
Dia mengulurkan tangan, dan aku menaruh kuncinya di telapak tangannya. Aku
mengambil napas panjang, menghirup aromanya.
“Muncul tiba-tiba.”
110
“Bella, bukan salahku jika kau tidak pernah memperhatikan sekelilingmu.” aku sedikit
bergurau. Apa ada yang dia tidak lihat?
Apa dia mendengar bagaimana aku mengucapkan namanya dengan penuh perasaan?
Dia mendelik padaku, tidak menghargai gurauanku. Jantungnya berdetak lebih cepat—
karena marah? Takut?
Setelah beberapa saat ia menunduk.
“Kenapa kemarin kau membuat kemacetan?” dia bertanya tanpa melihat mataku.
“Kupikir kau seharusnya berpura-pura aku tidak ada, bukannya membuatku kesal setengah
mati.”
Masih sangat marah. Butuh sedikit kerja keras agar bisa berbaikan dengannya. Aku
ingat dengan niatku untuk jujur...
“Itu demi Tyler, bukan aku. Aku harus memberi dia kesempatan.” Kemudian aku
tertawa. Aku tidak bisa menahannya, memikirkan ekspresi Bella kemarin.
“Kau—” dia terengah, terlalu marah untuk meneruskan kata-katanya. Itu dia—ekspresi
yang sama. Aku menahan tawaku. Dia sudah cukup marah.
“Dan aku tidak pura-pura kau tidak ada,” aku melanjutkan perkataanku tadi. Lebih baik
menggodanya dengan santai seperti ini. Dia tidak akan mengerti jika kutunjukan perasaanku
yang sebenarnya. Aku akan menakuti dia. Aku harus meredam perasaanku, menjaga agar
tetap kelihatan cuek...
“Jadi kau
memang
berusaha membuatku kesal setengah mati? Mengingat
van
Tyer
tidak melakukan tugasnya?”
Luapan marah langsung melandaku seketika itu juga. Apa dia sungguh-sungguh
mempercayai itu?
Tidak rasional bagiku untuk merasa terhina—dia tidak tahu transformasi yang terjadi
tadi malam. Tapi tetap saja aku marah.
“Bella, kau benar-benar sinting,” Tukasku marah.
Mukanya merah. Kemudian ia berbalik dan pergi.
Aku langsung menyesal. Aku tidak berhak marah.
“Tunggu,” aku memohon.
Dia tidak berhenti, jadi aku mengejarnya.
111
“Maafkan aku, sikapku tadi itu kasar. Aku tidak bilang itu tidak benar,” —tidak masuk
akal membayangkan akan menyakiti dia—“tapi tetap saja itu kasar.”
“Kenapa kau tidak meninggalkanku sendirian?”
Percayalah,
aku ingin mengatakannya.
Aku sudah mencobanya.
Oiya, dan juga, aku benar-benar jatuh cinta padamu.
Santai.
“Aku ingin menanyakan sesuatu, tapi kau mengahalangiku.” sebuah kejadian terlintas
di benakku dan aku tertawa.
“Apa kau berpkepribadian ganda?” Dia bertanya.
Pasti kelihatannya seperti itu. Moodku tidak jelas, begitu banyak emosi melandaku.
“Kau melakukannya lagi,”
Dia mendesah. “Baik lah. Apa yang ingin kau tanyakan?”
“Aku bertanya-tanya, jika seminggu setelah sabtu depan...” aku mendapati ekspresi
syok di wajahnya, dan harus menahan tawa lagi. “Kau tahu, hari pesta dansa musim semi—”
Dia memotongku, akhirnya kembali menatapku. “Apa kau mencoba
melucu
?”
Ya. “Biarkan aku menyelesaikannya.”
Dia menunggu diam. Giginya menggigit bibir bawahnya yang lembut.
Pemandangan itu mengalihkan aku selama sedetik. Aneh, reaksi yang ganjil menggeliat
dari inti kemanusiaanku yang terlupakan. Aku mengusirnya agar dapat terus memainkan
peranku.
“Kudengar kau akan pergi ke Seattle hari itu, dan aku bertanya-tanya kalau-kalau kau
butuh tumpangan?” Aku menawarkan. Aku menyadari, daripada hanya menanyakan
rencananya, lebih baik ikut sekalian.
Dia menatapku kosong. “Apa?”
“Apa kau butuh tumpangan ke Seattle?” berdua dalam mobil bersamanya—
tenggorokanku terbakar hanya dengan memikirkannya. Aku mengambil napas dalam-dalam.
Biasakan.
“Dengan siapa?” matanya melebar dan penuh tanya lagi.
“Denganku tentu saja,” aku menjawab pelan.
“Kenapa?”
112
Apa sebegitu mengejutkannya bahwa aku ingin menemani dia? Pasti dia mengartikan
yang terburuk dari tindakanku yang lalu.
“
Well
,” aku menjawab sesantai mungkin, “Aku berencana pergi ke Seattle dalam
beberapa minggu kedepan, dan jujur saja, aku tidak yakin apa trukmu sanggup kesana.”
kelihatannya lebih aman menggodanya daripada menjawab serius.
“Trukku baik-baik saja, terima kasih banyak atas perhatianmu,” dia menyahut dengan
keterkejutan yang sama. Dia mulai jalan lagi. Aku menyamakan langkahku.
Dia tidak menjawab tidak, jadi kumanfaatkan celah itu.
Apa dia akan berkata tidak? Apa yang akan kulakukan jika begitu?
“Tapi apa trukmu bisa sampai dengan satu kali isi bensin?”
“Kupikir itu bukan urusanmu,” Dia menggerutu.
Itu masih bukan tidak. Dan jantungnya berdetak lebih cepat lagi, napasnya bahkan lebih
cepat.
“Penyia-nyian sumber daya yang tidak dapat diperbaharui adalah urusan semua orang.”
“Jujur saja, Edward, aku tidak mengerti denganmu. Kupikir kau tidak mau berteman
denganku.”
Hatiku bergetar ketika ia mengucapkan namaku.
Bagaimana bisa bersikap cuek dan jujur sekaligus?
Well
, jauh lebih penting untuk jujur.
Terutama pada saat ini.
“Aku bilang akan lebih baik jika kita tidak berteman, bukannya aku tidak mau jadi
temanmu.”
“Oh, terima kasih, itu menjelaskan
segalanya
,” dia berkata sinis.
Dia berhenti, dibawah atap kafetaria, dan bertemu pandang denganku lagi. Detak
jantungnya tidak beraturan. Apa dia takut?
Aku memilih kalimatku hati-hati. Tidak, aku tidak bisa meninggalkan dia, tapi mungkin
dia cukup cerdas untuk meninggalkan aku, sebelum terlambat.
“Akan lebih...
bijaksana
jika kau tidak berteman denganku.” melihat kedalam mata
coklat-mudanya yang dalam, aku tidak mampu mempertahankan sikap
cuek-ku.
“Tapi aku
lelah berusaha menjauh darimu, Bella.” kalimat itu terucap dengan terlalu banyak perasaan.
Napasnya terhenti, dan sedetik kemudian kembali. Itu membuatku cemas. Seberapa
113
besar aku menakuti dia?
Well
, aku akan segera tahu.
“Maukah kau pergi ke Seattle denganku?” aku bertanya apa adanya.
Dia mengangguk. Jantungnya berdebar-debar sangat keras.
Ya.
Dia berkata ya pada
ku.
Kemudian kesadaran menghantamku. Seberapa besar dia harus membayar ini?
“Kau benar-benar
harus
menjauhi aku,” aku memperingatkan dia. Apa dia
mendengarku? Apa dia akan berhasil melarikan diri dari ancamanku? Apa aku bisa
melakukan sesuatu untuk menyelamatkannya dari
ku
?
Santai...
aku meneriaki diriku sendiri. “Sampai ketemu di kelas.”
Aku harus berkonsentrasi menahan diri agar jangan sampai lari dan terbang.
114
6. Golongan Darah
Aku mengikuti Bella seharian melalui pikiran orang-orang disekitarnya, aku hampir
tidak sadar dengan sekelilingku sendiri.
Tapi aku menghindar i Mike Newton, aku sudah tidak tahan lagi dengan khayalannya.
Dan juga tidak lewat Jessica Stanley, kesinisannya pada Bella membuatku marah, dan itu
berbahaya bagi gadis picik itu. Angela Weber pilihan yang bagus ketika matanya tersedia; dia
bersahabat—kepalanya tempat yang nyaman. Tapi seringnya, para guru. Mereka
menyediakan pandangan yang paling baik.
Aku terkejut, melihat betapa seringnya dia tersandung—tersandung pada rekahan di
trotoar,
stray books
, dan, paling sering, kakinya sendiri. Teman-temannya menilai Bella orang
yang
kikuk
.
Aku mempertimbangkan hal itu. Memang benar, dia sering kesulitan berdiri dengan
baik. Aku ingat ia tersandung meja pada hari pertama dulu, terpleset-pleset diatas es,
tersandung ujung pintu kemarin... aneh sekali, mereka betul. Dia orang
yang
kikuk.
Entah kenapa ini begitu lucu untukku, tapi aku tergelak selama perjalanan dari kelas
sejarah ke kelas Inggris. Orang-orang melihatku khawatir. Bagaimana bisa aku tidak
menyadari ini sebelumnya? Mungkin karena ada sesuatu yang anggun ketika ia sedang diam,
caranya memegang kepala, bentuk lengkung lehernya...
Tapi, tidak ada yang anggun darinya sekarang. Mr. Varner melihat bagaimana ujung
sepatunya tersandung karpet hingga dia jatuh ke kursinya.
Aku tergelak lagi.
Waktu berjalan lamban selama menunggu untuk bisa melihat dia langsung. Dan
akhirnya, bel berbunyi. Aku cepat-cepat menuju kafetaria untuk menempati tempatku. Aku
yang pertama kali sampai. Aku memilih meja yang biasanya kosong, dan akan tetap begitu
dengan aku disini.
Saat keluargaku melihat aku duduk sendirian di tempat yang baru, mereka tidak kaget.
Alice pasti telah memberitahu mereka.
Rosalie lewat tanpa menoleh.
115
Idiot.
Hubunganku dengan Rosalie tidak pernah baik—aku sudah membuatnya kesal dari
pertama dulu dia mendengarku bicara, dan selanjutnya makin parah—tapi beberapa hari ini
kelihatannya dia jadi jauh lebih sensitif. Aku menghela napas. Rosalie selalu menganggap
segalanya tentang dia.
Jasper setengah senyum padaku saat lewat.
Semoga sukses
, pikirnya setengah hati.
Emmet memutar bola matanya dan menggeleng-geleng.
Dia sudah gila, kasihan kau nak.
Alice berseri-seri, giginya berkilauan terlalu terang.
Boleh aku bicara dengan Bella sekarang??
“Jangan ikut campur,” dengusku dari balik napas.
Wajahnya meredup, tapi kemudian berseri lagi.
Baik. Semaumu saja. Toh, saatnya akan tiba juga.
Aku menghela napas lagi.
Jangan lupa tentang eksperimen biologi hari ini,
dia mengingatkan.
Aku mengangguk. Tidak, aku tidak lupa itu.
Sambil menunggu Bella datang, aku mengikuti dia lewat mata seorang murid yang ada
di belakang dia dan Jessica. Jessica sedang sibuk berceloteh tentang pesta dansa yang akan
datang, tapi Bella sama sekali tidak menanggapi. Bukan berarti Jessica memberinya
kesempatan.
Tepat saat Bella masuk, matanya langsung ter tuju ke meja tempat keluargaku duduk.
Dia memperhatikan sebentar, kemudian keningnya berkerut dan matanya jatuh memandang
ke lantai. Dia tidak menyadari aku ada disini.
Dia terlihat sangat...
sedih.
Seketika muncul dorongan kuat untuk bangun dan pergi ke
sisinya, untuk menenangkan dia. Hanya saja, aku tidak tahu apa yang bisa membuatnya
nyaman. Karena, aku sama sekali tidak tidak tahu apa yang membuatnya sedih begitu. Jessica
terus mengoceh tentang pesta dansa. Apa dia sedih karena tidak bisa ikut? Kelihatannya
bukan karena itu...
Tapi, itu bisa diatasi, jika memang itu maunya.
116
Dia membeli sebotol limun untuk makan siang, tidak lebih. Apa itu baik? Bukannya dia
butuh lebih banyak nutrisi dari sekedar itu? Aku tidak terlalu paham pola diet manusia.
Manusia betul-betul sangat rapuh! Ada jutaan macam hal yang mesti dikhawatirkan...
“Edward Cullen sedang menatapmu lagi,” aku mendengar Jessica bicara. “Kira-kira
kenapa dia duduk sendirian hari ini?”
Aku berterima kasih pada Jessica—meskipun dia jauh lebih sewot sekarang—karena
Bella langsung mendongak dan padangannya mencari-cari hingga akhirnya bertemu
denganku.
Sekarang tidak ada lagi jejak kesedihan di wajahnya. Aku membiarkan diriku berharap
bahwa dia sedih karena dipikirnya aku sudah pulang, dan harapan itu membuatku tersenyum.
Aku memberi isyarat dengan jariku untuk mengajaknya bergabung denganku. Dia
terlihat kaget sekali, dan itu membuatku tambah ingin menggodanya.
Jadi, aku mengedip. Dan dia terlongo.
“Apa yang dia maksud
kau
?” tanya Jessica kasar.
“Mungkin dia butuh bantuan dengan PR biologinya,” jawabnya pelan dan ragu-ragu.
“Mmm, aku sebaiknya kesana untuk mencari tahu apa maunya.”
Itu satu lagi jawaban ya.
Meski lantainya rata, dia tersandung dua kali sebelum sampai ke mejaku. Sungguh,
bagaimana
bisa
aku melewati hal ini sebelumnya? Sepertinya aku terlalu memperhatikan
pikirannya yang tak bersuara... Apa lagi yang kulewatkan?
Tetap jujur, tetap santai,
aku mengulang-ulang dalam hati.
Dia berhenti di belakang kursi di seberangku, ragu-ragu. Aku mengambil napas dalam-
dalam, kali ini melalui hidung, bukan lewat mulut.
Rasakan apinya,
pikirku kering.
“Kenapa kau tidak duduk denganku hari ini?” pintaku padanya.
Dia menarik kursi dan duduk, menatapku beberapa saat. Dia terlihat gugup, tapi dari
sikapnya, lagi-lagi itu jawaban ya.
Aku menunggu dia bicara.
Butuh beberapa saat, tapi akhirnya dia berkata, “Ini tidak seperti biasanya.”
“
Well
...” Aku bimbang. “Mengingat aku toh bakal ke neraka juga, jadi kenapa tidak
117
sekalian saja.”
Ugh, kenapa aku mesti mengatakan itu? Tapi sudahlah, paling tidak aku jujur. Dan
siapa tahu dia mendengar peringatan tersembunyiku. Mungkin ia akan sadar harus bangun
dan pergi secepatnya...
Dia tidak berdiri. Dia menatapku, menunggu, seakan kalimatku belum selesai.
“Kau tahu, aku sama sekali tidak mengerti apa maksudmu,” ujarnya akhirnya..
Itu sangat melegakan. Aku tersenyum.
“Aku tahu.”
Sangat sulit mengabaikan pikiran-pikiran yang meneriakiku dari balik punggungnya—
dan lagipula aku juga ingin mengganti topik.
“Kurasa teman-temanmu marah padaku karena telah menculikmu.”
Nampaknya itu tidak membuatnya risau. “Mereka akan baik-baik saja.”
“Aku mungkin saja tidak akan mengembalikanmu.” Aku sama sekali tidak tahu apa
sedang berusaha jujur, atau sedang menggodanya. Berada di dekatnya membuatku sulit
menggunakan akal sehat.
Bella menelan ludah.
Aku tertawa melihat ekspresinya. “Kau tampak cemas.”
harusnya
ini tidak lucu...
Harusnya dia khawatir.
“Tidak.” dia tidak pandai berbohong; sama sekali tidak menolong saat suaranya
bergetar. “Terkejut, sebetulnya... apa yang menyebabkan ini semua?”
“Sudah kubilang,” aku mengingatkan dia. “Aku lelah berusaha menjauh darimu. Jadi
aku menyerah.” aku menjaga senyumku dengan susah payah. Tidak mungkin bisa berjalan
seperti ini—bersikap jujur sekaligus santai di waktu bersamaan.
“Menyerah?” dia mengulangi, heran.
“Iya—menyerah berusaha bersikap baik.” Dan, tampaknya, menyerah untuk bersikap
santai. “Sekarang aku akan melakukan apa yang kumau, dan membiarkan semuanya terjadi
sebagaimana mestinya.” Itu cukup jujur. Biarkan dia melihat keegoisanku. Biarkan itu
memperingatkan dia juga.
“Lagi-lagi kau membuatku bingung.”
Aku cukup egois untuk merasa lega atas hal itu.
118
“Aku selalu berkata ter lalu banyak kalau sedang bicara denganmu—itu salah satu
masalahnya.” Masalah yang jauh lebih sederhana dibanding masalah lainnya.
“Jangan khawatir,” dia meyakinkan aku. “Aku tak mengerti satupun ucapanmu.”
Bagus. Maka dia akan tinggal. “Aku mengandalkan itu.”
“Jadi, terus terang, apakah sekarang kita berteman?”
Aku mempertimbangkan itu sebentar. “Teman...” aku mengulangi. Aku tidak terlalu
menyukai kedengarannya. Itu belum cukup.
“Atau tidak,” gumamnya malu.
Apa dia pikir aku tidak menyukai dia sebesar itu?
Aku tersenyum. “
Well
, kurasa kita bisa mencobanya. Tapi kuperingatkan kau, aku
bukan teman yang baik untukmu.”
Aku menunggu responnya—berharap akhirnya dia mendengar peringatanku dan
mengerti, tapi membayangkan kalau mungkin saja aku mati jika dia pergi. Betapa
dramatisnya. Aku jadi berubah seperti kebanyakan manusia lainnya.
Jantungnya berdebar lebih cepat. “Kau sering bilang begitu.”
“Ya, karena kau tidak mendengarkan.” Aku mengatakannya dengan bersungguh-
sungguh. “Aku masih menunggu kau mempercayainya. Kalau pintar, kau akan
menghindariku.”
Ah, tapi apa aku akan tetap tinggal diam, jika dia mencobanya?
Matanya menyipit. “Kurasa penilaianmu atas intelektualitasku cukup jelas.”
Aku kurang yakin apa maksudnya, tapi aku tersenyum minta maaf, menebak mungkin
aku telah menyinggungnya secara tidak sengaja.
“Jadi,” katanya pelan. “Selama aku adalah...orang yang tidak pintar, kita akan
berteman?”
“Kedengarannya masuk akal.”
Dia menunduk, menatap lekat-lekat botol limun di tangannya.
Rasa penasaran itu kembali menyiksaku.
“Apa yang sedang kau pikirkan?” Rasanya lega akhirnya bisa mengucapkan pertanyaan
itu keras-keras.
Kami bertemu pandang, dan napasnya bertambah cepat sementara pipinya merona
119
merah muda. Aku menarik napas, merasakannya di udara.
“Aku sedang mencoba menebak siapa sebenarnya kau ini.”
Aku menahan senyum di wajahku, mengunci mimikku seperti itu, sementara panik
merayapi tubuhku.
Tentu saja ia sedang memikirkan hal itu. Dia tidak bodoh. Tidak mungkin berharap dia
tidak menyadari sesuatu yang ada di depan matanya.
“Sudah menemukan sesuatu?” Aku bertanya sesantai mungkin.
“Tidak terlalu.” akunya.
Aku terkekeh lega, “Apa teorimu?”
Tidak mungkin lebih buruk dari yang sebenarnya, tidak perduli apapun dugaannya.
Pipinya jadi merah terang, dan ia tidak mengatakan apa-apa. Aku bisa merasakan
kehangatan dari rona pipinya di udara.
Aku coba menggunakan nada membujuk. Itu selalu berhasil dengan manusia normal.
“Maukah kau memberitahuku?” Aku tersenyum menyemangati.
Dia menggeleng. “Terlalu memalukan.”
Ugh... Tidak tahu adalah yang paling buruk dari apapun. Kenapa tebakannya membuat
dia malu? Aku tidak tahan tidak tahu begini.
“Itu
sangat
memusingkan, kau tahu.”
Keluhanku sepertinya berefek sesuatu padanya. Matanya berkilat dan kata-katanya
mengalir lebih cepat dari biasanya.
“Tidak, aku tidak bisa
membayangkan
kenapa itu harus memusingkan—hanya karena
seseorang menolak menceritakan apa yang mereka pikirkan, meskipun mereka terus menerus
melontarkan komentar misterius untuk membuatmu terjaga semalaman dan memikirkan apa
sebenarnya maksudnya...nah, kenapa itu memusingkan?”
Aku mengerutkan dahi, kesal karena menyadari dia betul. Aku tidak adil.
Dia melanjutkan. “Terlebih lagi, katakan saja orang itu juga melakukan hal-hal aneh—
mulai dari menyelamatkan nyawamu dari keadaan mustahil pada suatu hari, sampai
memperlakukanmu seperti orang asing keesokan harinya, dan dia tak pernah menjelaskan
apa-apa, bahkan setelah berjanji akan melakukannya. Itu, juga, akan
sangat
tidak
memusingkan.”
120
Itu ucapan dia yang paling panjang yang pernah kudengar. Dan itu menambah daftar
kepribadiannya yang kubuat.
“Kau ini pemarah, ya?”
“Aku tidak suka standar ganda.”
Tentu saja ia punya cukup alasan untuk marah.
Aku menatap Bella, bertanya-tanya bagaimana mungkin aku bisa melakukan sesuatu
yang benar buat dia, sampai kemudian teriakan pikiran Mike mengalihkan perhatianku.
Dia sangat marah hingga membuatku tertawa geli.
“Apa?” Tanyanya.
“Pacarmu sepertinya mengira aku bersikap tidak sopan padamu—dia sedang
mempertimbangkan untuk melerai pertengkaran kita atau tidak.” Aku sangat ingin
melihatnya melakukan itu. Aku tertawa lagi.
“Aku tidak tahu siapa yang kau maksud,” tukasnya dengan suara dingin. “Lagi pula,
aku yakin kau salah.”
Aku sangat menikmati mendengar dia menyangkal Mike.
“Tidak. Aku pernah bilang, kebanyakan orang mudah ditebak.”
“Kecuali aku, tentu saja.”
“Ya. Kecuali kau.” Apa dia harus menjadi pengecualian atas segalanya? Bukannya
lebih adil—mengingat segala yang mesti kuahadapi saat ini—jika paling tidak aku bisa
mendengar
isi
pikirannya? Apa permintaan itu terlalu banyak? “Aku bertanya-tanya, kenapa
bisa begitu?”
Aku menatap kedalam matanya, mencoba lagi...
Dia membuang muka. Dia membuka botol limunnya dan meminumnya. Pandangannya
ke meja.
“Apa kau tidak lapar?” Tanyaku.
“Tidak.” Dia melihat ke meja kosong diantara kami. “Kau?”
“Tidak, aku tidak lapar,” aku jelas tidak lapar.
Dia menatap ke meja. Bibirnya merengut. Aku menunggu.
“Boleh minta tolong?” Matanya menatapku lagi.
Apa yang ia inginkan dar iku? Apa ia akan menuntut kebenaran yang tidak bisa
121
6.
Langganan:
Postingan (Atom)

