Cari Blog Ini

movie mania

5.


dibanding yang lainnya!”
“Kita pernah meninggalkan rumor dibelakang kita sebelum ini,” aku mengingatkan dia.
“Hanya rumor dan kecurigaan, Edward. Bukan saksi mata dan bukti!”
“Itu bukti!” aku mencibir.
Tapi Jasper mengangguk, matanya keras.
“Rose—“ Carlisle mulai.
“Biar  kuselesaikan, Carlisle. Kita tidak perlu repot-repot. Gadis itu terbentur kepalanya
hari  ini.  Jadi  mungkin  lukanya jauh  lebih serius   dari  kelihatannya.”  Rosalie mengangkat
bahu.  “Setiap  manusia  pergi   tidur  dengan  kemungkinan  tidak  akan  pernah  bangun  lagi.
Kelompok lain berharap kita membereskan sendiri masalah kita. Secara teknis, itu jadi tugas
Edward, tapi dia tidak akan sanggup. Kau tahu aku cukup bisa  mengontrol diri. Aku tidak
akan meninggalkan bukti.”
“Ya,  Rosalie,   kita  semua   tahu   bagaimana  mahirnya  kau  sebagai   pembunuh,”  aku
menggeram.
Dia balas mendesis marah.
“Edward,   tolong,”   Carlisle   berusaha   melerai.   Kemudian   ia   menoleh   ke   Rosalie.
“Rosalie, aku mengabaikan tindakanmu di Rochester karena aku merasa kau berhak dengan
keadilanmu. Orang-orang yang  kau bunuh telah  berbuat  keji  padamu. Tapi  ini  lain. Bella
Swan tidak bersalah.”
“Ini bukan masalah pribadi, Carlisle,” Rosalie  berkata  lewat sela giginya. “Ini untuk
melindungi kita semua.”
Ada keheningan singkat saat Carlisle menimbang keputusannya. Saat ia mengangguk,
mata Rosalie  menyala  nyalang.  Rosalie  seharusnya  sudah bisa  mengira. Bahkan jika aku
tidak mampu  membaca  pikiran Carlisle, aku  tetap  bisa  menebak sikapnya. Carlisle  tidak
pernah kompromi.
“Aku  tahu  maksudmu  baik, Rosalie,  tapi...aku  sangat  ingin  keluargaku  tetap
layak
untuk  dilindungi.  Dalam  kejadian  tertentu...saat  tidak  sengaja  atau  karena   lepas  kontrol,
adalah bagian yang dapat dimaklumi dari diri kita.” Itulah kebiasaannya untuk memasukan
dirinya   dalam  konteks   jamak,  meskipun   dia   sendiri   tidak  pernah  lepas   kontrol.  “Untuk
membunuh anak tak berdosa  dengan darah dingin adalah sesuatu yang lain. Aku percaya
81
   

pada resiko yang ia akibatkan, terlepas ia akan bicara atau tidak, tetapi hal itu tidak sebanding
dengan resiko yang lebih besar. Jika kita membuat pengecualian untuk melindungi diri, kita
membahayakan sesuatu yang jauh lebih penting. Kita beresiko kehilangan jati diri kita.”
Aku mengontrol ekspresiku hati-hati. Tidak ada gunanya menyeringai. Atau bertepuk
tangan, seperti yang sebetulnya aku inginkan.
Rosalie memberengut. “Itu cuma bertanggung jawab.”
“Itu   namanya   tidak   berperasaan,”   Carlisle   membenarkan   dengan   lembut.   “Setiap
kehidupan itu berharga.”
Rosalie  mendesah  panjang  dan  cemberut.  Emmet  membelai   punggungnya.  “Semua
akan baik-baik saja, Rose,” Dia menyemangati dengan suara pelan.
“Pertanyaannya,” Carlisle melanjutkan, “Apakah kita akan pindah?”
“Jangan,”  Rosalie mengerang. “Kita  baru  saja  menetap. Aku  tidak mau mengulang
sekolah lagi!”
“Kau masih bisa memakai usiamu yang sekarang,” Carlisle memberi saran.
“Dan harus pindah lagi secepat itu?” Dia menimpali.
Carlisle mengangkat bahu.
“Aku
suka
disini! Sangat jarang ada matahari, kita hampir bisa hidup
normal
.”

Well
, kita tidak harus memutuskan itu sekarang. Kita bisa menunggu sambil melihat
jika itu diperlukan. Edward kelihatannya cukup yakin gadis itu tidak akan bicara.”
Rosalie mendengus.
Tapi aku tidak lagi khawatir  pada Rose. Tidak perduli bagaimana marahnya ia padaku,
ia bisa menerima keputusan Carlisle. Pembicaraan mereka telah beranjak ke hal sepele.
Namun Jasper tetap tidak bergerak.
Aku  mengerti   alasannya.  Sebelum  dia  bertemu Alice,  dia   hidup  di  medan  perang,
panggung tanpa belas kasihan. Dia tahu konsekuensi dari melanggar aturan kaum kami—dia
pernah melihat sendiri hasil akhirnya yang mengerikan.
Sejak tadi ia tidak mencoba menenangkan Rosalie dengan kelebihannya, tapi juga tidak
membuat Rosalie tambah gusar. Sejak awal ia menyisihkan dirinya dari diskusi  ini—sama
sekali mengabaikan.
“Jasper,” kataku.
82
   

Kami bertemu pandang, ekspresinya datar.
“Dia tidak akan membayar atas kesalahanku. Aku tidak akan membiarkan itu.”
“Berarti dia mengambil keuntungan dari situ? Seharusnya dia tadi mati, Edward. Aku
hanya meluruskannya.”
Aku mengulangi kata-kataku, memberi tekanan pada  tiap katanya.  “Aku tidak akan
membiarkan hal itu.”
Dia  agak terkejut. Dia  tidak mengharapkan ini—dia tidak  membayangkan  aku akan
bertindak menghentikan dia.
Dia menggeleng satu kali. “Aku tidak akan membiarkan Alice dalam bahaya, bahkan
bahaya kecil. Kau tidak merasakan ke siapapun seperti  yang kurasakan pada dia, Edward.
Dan kau tidak pernah melalui hidup seperti yang pernah kulalui, tak perduli kau bisa melihat
ingatanku atau tidak. Kau tidak mengerti.”
“Aku tidak memperdebatkan hal itu, Jasper. Tapi biar  kuberitahu sekali lagi, aku tidak
akan membiarkan kau menyakiti Bella Swan.”
Kami   saling   menatap—tidak   mendelik,   tapi   saling   menilai.   Aku   merasakan   dia
menyerap mood disekelilingku, mengecek kesungguhanku.
“Jazz,” Alice memotong.
Dia   mempertahankan  tatapannya  sebentar,  kemudian  beralih  ke  Alice.  “Tidak  usah
repot-repot mengatakan kau bisa menjaga diri, Alice. Aku sudah tahu itu. Tapi aku tetap perlu
—”
“Bukan itu yang ingin aku katakan,” Alice menyela. “Aku ingin minta tolong padamu.”
Aku melihat pikiran Alice, dan mulutku terlongo. Aku menatap dia, syok. Samar-samar
aku menyadari, semua mata—selain Alice dan Jasper—kini beralih menatapku cemas.
“Aku tahu kau mencintaiku. terima kasih. Tapi aku akan sangat menghargai jika kau
tidak membunuh Bella. Pertama, Edward sangat serius dan aku tidak ingin kalian bertarung.
Kedua, Bella temanku. Paling tidak dia akan
menjadi
temanku.”
Gambaran   itu  sejernih   kaca   di  kepalanya:  Alice,  tersenyum,  dengan  tangan  putih-
dinginnya merangkul pundak rapuh-hangat gadis  itu. Dan Bella juga tersenyum, tangannya
merangkul pinggang Alice.
Penglihatannya sangat jelas; hanya waktunya yang tidak pasti.
83
   

“Tapi...Alice...”   Jasper   tergagap.   Aku   tidak   sanggup   menoleh   untuk   melihat
ekspresinya.  Aku  tidak   sanggup  memalingkan   perhatianku   dari   gambaran   dalam  kepala
Alice.
“Suatu saat  aku akan menyayangi  dia,  Jazz. Aku akan kesal  padamu jika kau  tidak
membiarkan dia.”
Aku masih terpatri pada pikiran Alice. Aku melihat penglihatan itu berkelip-kelip saat
keputusan Jasper bimbang dihadapan permintaannya yang tidak terduga.
“Ah,”   dia  mendesah—kebimbangan  Jasper   membuat  pandangan  baru  muncul  lebih
jelas. “Kau lihat? Bella tidak akan bicara. Tidak ada yang perlu dicemaskan.”
Dari  caranya menyebut nama gadis itu...seakan mereka berdua telah menjadi sahabat
dekat...
“Alice,” aku tersedeak. “Apa...ini...?”
“Aku   kan  sudah   bilang  sesuatu   ada   yang  berubah.  Aku   tidak  tahu  Edward.”   tapi
kemudian  tiba-tiba  rahangnya  terkunci,  dan  aku  bisa  melihat  ada  sesuatu  yang  lain.  Dia
berusaha tidak  memikiran hal itu;  dia  tiba- tiba  fokus sangat keras  pada  Jasper, meskipun
Jasper sedang terlalu kaget untuk membuat keputusan lain.
Alice biasanya melakukan ini jika ingin menyembunyikan sesuatu dariku.
“Apa, Alice? Apa yang kau sembunyikan?”
Aku  mendengar  Emmet   menggerutu.  Dia  selalu  frustasi  saat Alice  dan  aku  bicara
seperti ini.
Dia menggelengkan kepalanya, berusaha tidak membiarkan aku masuk.
“Apa tentang gadis itu?” aku menuntut. “Apa tentang Bella?”
Dia   menggertakan   giginya   berkonsentrasi,   tapi   saat   aku   menyebut   nama   Bella,
pegangannya terlepas sebentar. Hanya sepersekian detik, tapi itu lebih dari cukup.
“TIDAK!” Aku berteriak. Kursiku terbanting ke lantai, dan aku terlonjak berdiri.
“Edward!” Carlisle ikut berdiri, tangannya di pundakku. Aku hampir tidak menyadari
keberadaannya.
“Itu makin nyata,”  Alice membisik. “Tiap menit kau makin yakin. Tinggal  ada dua
jalan bagi dia. Yang satu atau yang lainnya, Edward.”
Aku bisa melihat apa yang dia lihat... tapi aku tidak bisa menerima hal itu.
84
   

“Tidak,” kataku lagi; tidak ada keyakinan pada penyangkalanku. Kakiku lemas. Aku
berpegangan pada meja.
“Akankah seseorang
memberitahu
apa yang sedang terjadi?” Protes Emmet.
“Aku harus pergi,” Aku berbisik pada Alice, mengabaikan Emmet.
“Edward,  kita  sudah   membahas  itu,”   Emmet   berkata   keras-keras.  “Itu  justru  akan
membuat gadis itu bicara. Lagipula, jika kau pergi, kita tidak akan tahu secara pasti apa dia
bicara atau tidak. Kau harus tinggal dan mengatasi hal ini.”
“Aku tidak melihat kau pergi, Edward,” Alice memberitahu. “Aku tidak tahu apa kau
akan pernah
sanggup
pergi.”
coba pikirkan,
dia menambahkan dalam hati.
Bayangkan kau
pergi.
Aku bisa melihat apa yang dia maksud. Ya, bayangan tidak akan pernah melihat gadis
itu lagi akan...menyakitkan. Tapi itu juga penting. Aku tidak bisa menyetujui pilihan lainnya.
Aku tidak sepenuhnya yakin dengan Jasper, Edward,
Alice melanjutkan.
Jika kau pergi,
jika Jasper pikir dia membahayakan kita...
“Aku tidak mendengar  itu,” aku menyanggah, masih setengah sadar dengan kehadiran
yang lain. Jasper ragu-ragu. Dia tidak akan melakukan sesuatu yang akan menyakiti Alice.
Tidak saat ini. Apa kau akan mempertaruhkan hidupnya, meninggalkan dia sendirian?
“Kenapa kau melakukan ini padaku?” Aku mengerang. Kepalaku jatuh ke tangan.
Aku   bukan   pelindung   Bella.   Tidak   mungkin   begitu.  Apa   penglihatan  Alice   bisa
menjamin itu?
Aku   juga  mencintai   dia.   Akan.   Itu   mungkin  tidak   sama,   tapi   aku  juga  ingin  dia
bersamaku.
“Mencintai dia,
juga
?” bisikku tidak percaya.
Dia  mendesah.
Kau benar-benar buta, Edward. Apa kau tidak bisa melihat kemana
tujuanmu? Apa kau tidak bisa melihat dimana kau sekarang? Hal itu lebih tidak terelakan
daripada matahari terbit dari timur. Lihat apa yang kulihat...
Aku menggeleng-geleng ngeri. “Tidak.” aku berusaha mengusir  penglihatan yang ia
coba perlihatkan. “Aku tidak harus  mengikuti jalan itu. Aku akan pergi. Aku
akan
merubah
nya.”
“Kau bisa mencobanya,” ujar dia dengan nada skeptis.
85
   

“Oh, ayo lah!

Emmet mengeluh.
“Perhatikan,” Rose berbisik padanya. “Alice melihat dia jatuh cinta pada
manusia
! Itu
sangat Edward!” dia membuat suara tersumbat.
Aku jarang mendengar dia begitu.
“Apa?” Emmet terkejut. Kemudian tawanya pecah. “Apa itu yang sedang terjadi?” dia
tertawa lagi. “Keputusan hebat, Edward.”
Aku  merasakan tangannya  di  pundakku,  dan  aku  menepisnya  masih dengan  kepala
kosong. Aku sama sekali tidak memperhatikan dia.

Jatuh cinta
pada manusia?” Esme mengulangi dengan suara terkesima. “Pada gadis
yang ia selamatkan hari ini? Jatuh
cinta
padanya?”
“Apa yang kau lihat, Alice? Tepatnya,” Jasper menuntut.
Alice menoleh ke dia; aku tetap menatap kosong ke sisi wajahnya.
“Semuanya tergantung apa dia cukup kuat atau tidak. Apakah ia akan membunuhnya
sendiri,”   —Alice   ganti   mendelik   padaku—“yang   akan   membuatku
benar-benar
marah,
Edward, belum lagi bagaimana dampaknya bagimu—” dia menghadap ke Jasper  lagi, “atau,
dia akan menjadi salah satu dari kita suatu saat nanti.”
Seseorang menarik napas syok; aku tidak mencari siapa orangnya.
“Itu tidak akan terjadi!” aku berteriak lagi. “Tidak keduanya! ”
Alice kelihatannya tidak mendengar. Tidak satupun yang kelihatannya mendengar. Seisi
ruangan sunyi.
Aku menatap Alice, dan semua menatap ke arahku. Aku bisa melihat ekspresi ngeri
pada wajahku dari lima sudut berbeda.
Setelah beberapa lama, Carlisle mendesah.

Well
, ini...jadi rumit.”
“Betul itu,” Emmet sependapat. Suaranya masih hampir tertawa. Aku percaya Emmet
telah menemukan lelucon dari kehancuran hidupku.
“Aku rasa rencananya akan tetap sama,” Carlisle berkata penuh pertimbangan. “Kita
akan tinggal, dan menunggu. Tampaknya sudah jelas, tidak akan ada yang...menyakiti gadis
itu.”
Aku membeku.
86
   

“Tidak ada,” Jasper berkata pelan. “Aku setuju dengan hal itu. Jika Alice melihat hanya
ada dua jalan—”
“Tidak!”   suaraku  bukan  berupa   teriakan,  atau  geraman,  atau  raung   putus-asa,  tapi
gabungan ketiganya. “Tidak!”
Aku   harus   pergi,   lari   dari   keributan   pikiran   mereka—kemuakan   Rosalie,   lelucon
Emmet, kesabaran tanpa batas Carlisle...
Yang lebih parah: keyakinan Alice. Keyakinan Jasper terhadap keyakinan itu.
Dan yang paling parah: Esme...
bahagia.
Aku menghambur  keluar  ruangan. Esme menyentuh lenganku saat aku lewat, tapi aku
tidak menyadari hal itu.
Aku sudah lebih dulu berlari sebelum keluar  dari rumah. Aku mencapai sungai dengan
satu loncatan, dan langsung berpacu menembus hutan. Hujan mulai turun lagi, turun sangat
deras  hingga  aku basah kuyup dalam  sekejap.  Aku menyukai kepekatan lapisan air  ini—
membentuk  tembok  pembatas  antara  diriku  dengan  dunia  luar.  Menyembunyikan  diriku,
membiarkan aku seorang diri.
Aku  terus   berlari  kearah  timur,  melintasi  pegunungan  tanpa  mengurangi  kecepatan,
sampai aku melihat cahaya lampu kota Seattle di kejauhan. Aku berhenti sebelum sampai ke
batas peradaban manusia.
Tersembunyi  di  balik hujan,  seorang diri, akhirnya  aku  bisa  memaksa  diriku untuk
melihat apa yang telah kuperbuat—bagaimana aku telah memutilasi masa depannya.
Pertama,   penglihatan   Alice   dan   gadis   itu   saling   merangkul—kepercayaan   dan
persahabatan  tergambar  dengan jelas  pada  gambar  itu. Mata  coklat-lebar   Bella tidak  lagi
bertanya-tanya dalam dalam penglihatan ini, tapi tetap penuh rahasia—pada saat ini, mereka
kelihatan bahagia. Dia tidak menjauhkan diri dari tangan dingin Alice.
Apa itu artinya? Seberapa banyak yang ia tahu? Dalam momen di masa depan itu, apa
yang ia pikir tentang
aku
?
Kemudian gambaran lagi, kurang lebih sama, namun kini dalam corak horor. Alice dan
Bella,  tangan mereka  masih  saling  merangkul  bersahabat.  Tapi  kini  tidak ada  perbedaan
diantara  tangan mereka—keduanya putih, sehalus  pualam,  sekeras  baja.  Mata  lebar  Bella
tidak lagi coklat. Iris matanya secara mengejutkan merah terang. Kerahasiaan dalam matanya
87
   

sangat  sulit  diurai—menerima  atau sedih?  Mustahil  untuk  ditebak.  Wajahnya  dingin dan
abadi.
Aku gemetar. Aku tidak dapat menahan pertanyaan yang mirip tapi berbeda ini: apa itu
artinya? Dan apa yang dia pikir tentang aku saat ini?
Aku   bisa   menjawab   pertanyaan   yang   terakhir.   Jika   aku   memaksa   dia   menjalani
setengah-hidup   hampa   ini   karena   kelemahan   dan   keegoisanku,   sudah   pasti   ia   akan
membenciku.
Tapi ada satu lagi gambar yang jauh lebih mengerikan—lebih buruk dari apapun yang
pernah ada di kepalaku.
Kedua mataku, berwarna merah terang karena darah manusia, mata seorang monster.
Tubuh   rusak   Bella   dalam   pelukanku,   sepucat   kapas,   kering,   tak   bernyawa.   Itu   sangat
kongkrit, sangat jelas.
Aku tidak tahan melihatnya.  Tidak mampu menanggungnya. Aku coba mengusirnya
dari benakku, mencoba melihat  ke hal lain, apa saja. Mencoba  melihat lagi ekspresi pada
wajah hidupnya  yang sebelum ini telah menghalangi  pandanganku. Semua  tetap tidak ada
gunanya.
Penglihatan kelam Alice memenuhi kepalaku, dan perasaanku menggeliat menderita.
Sementara itu, monster  dalam diriku meluap gembira, bersorak girang pada kemungkinan
kesuksesannya. Hal itu membuatku muak.
Ini tidak boleh dibiarkan. Pasti ada jalan untuk mengelakan masa depan itu. Aku tidak
akan membiarkan penglihatan Alice mengarahkan aku. Aku bisa memilih jalan yang berbeda.
Selalu ada pilihan.
Harus ada.
88
   

5. Undangan
Sekolah. Bukan lagi penyiksaan, sekarang murni neraka. Penyiksaan dan api...ya, aku
memperoleh keduanya.
Sekarang aku melakukan segalanya dengan benar. Semuanya sempurna. Tidak ada yang
bisa mengeluh aku melalaikan tanggung jawabku.
Untuk menyenangkan Esme dan melindungi lainnya, aku tetap tinggal di  Forks. Aku
kembali pada kesehar ianku. Aku berburu tidak lebih sering dari yang lain. Setiap hari masuk
sekolah dan pura-pura menjadi manusia. Setiap hari mendengarkan jika muncul gosip baru
tentang keluarga Cullen—tidak pernah ada yang baru. Gadis itu tidak pernah membicarakan
kecurigaannya. Dia  hanya  mengulang-ulang  cerita  yang  sama—aku  berdiri  disampingnya
dan kemudian menarik  dia—sampai  para  penanyanya  bosan  dan  berhenti bertanya-tanya.
Tidak ada bahaya. Tindakan gegabahku tidak menyakiti siapapun.
Kecuali aku sendiri.
Aku bertekad untuk mengubah masa depan. Bukan tugas  mudah, tapi pilihan lainnya
tidak bisa kuterima.
Menurut  Alice  aku tidak akan sanggup menjauh dari gadis itu. Akan kubuktikan dia
salah.
Kupikir  hari   pertama   akan   menjadi   yang   paling  sulit.   Pada   penghujung  hari   aku
menyadari itu salah.
Miris rasanya akan melukai perasaan gadis itu. Aku menghibur diri dengan memikirkan
rasa  sakit   dia   tidak  lebih   dari   sekedar   cubitan—cuma   penolakan   kecil—dibanding  rasa
sakitku. Bella adalah manusia. Ia tahu aku sesuatu yang lain Sesuatu yang salah. Sesuatu
yang  mengerikan.  Ia  akan  merasa  lega  daripada  terluka  kalau  aku  mengabaikan  dia  dan
menganggapnya tidak ada.
“Halo, Edward,” dia menyapaku pada hari pertama pelajaran biologi. Suaranya ramah,
berbeda seratus delapan puluh derajat dari terakhir kali kami bicara.
Mengapa? Apa arti dari perubahan ini? Apa dia melupakannya? Memutuskan itu semua
cuma imajinasinya? Mungkinkah ia memaafkan aku karena tidak menepati janjiku?
89
   

Pertanyaan-pertanyaan itu membakar tenggorokanku seperti dahaga.
Mungkin satu kali saja melihat kedalam matanya. Cuma untuk melihat siapa tahu bisa
menemukan jawabannya disana...
Tidak. Bahkan itu tidak boleh. Tidak jika aku ingin mengubah masa depan.
Aku   menggeser   daguku   seinci   ke   arahnya  tanpa   berpaling   dari   depan   kelas.  Aku
mengangguk sekali, kemudian kembali memandang lurus kedepan.
Dia tidak bicara lagi padaku.
Sorenya, usai sekolah, aku langsung berlari ke Seattle seperti yang kulakukan kemarin.
Keperihanku sedikit  lebih  baik saat  sedang  terbang  diatas   tanah, mengubah  sekelilingku
menjadi bayangan hijau kabur.
Berlari seperti ini sekarang menjadi kebiasaan harian.
Apa aku mencintai dia? Aku rasa tidak. Belum. Bagaimanapun juga penglihatan Alice
terus  mengangguku. Aku bisa  melihat  betapa mudahnya  untuk jatuh cinta  pada Bella. Itu
sama persis seperti jatuh: tanpa daya. Berjuang untuk tidak mencintai dia justru kebalikannya
dari  jatuh—seperti  mengangkat  tubuhku  naik  ke  puncak  terjal,  sejengkal demi  sejengkal,
begitu meletihkan seakan cuma kekuatan manusia yang kupunya.
Lebih dari satu bulan telah lewat. Dan setiap hari justru makin sulit. Ini tidak masuk
akal. Aku selalu menunggu kapan bisa melaluinya, untuk bisa berjalan lebih mudah. Tapi itu
tidak kunjung terjadi. Mungkin ini yang dimaksud Alice ketika mengatakan aku tidak akan
sanggup   menjauh   dari   gadis   itu.   Dia   sudah   melihat   akumulasi   sakitku,   dan   bukannya
berkurang. Tapi aku bisa menahan sakit.
Aku  tidak  akan  menghancurkan  masa  depan Bella. Jika   ditakdirkan  mencintai  dia,
bukankah menghindari dia adalah hal minimal yang bisa kulakukan?
Tapi  menghindari  dia   adalah  batasan  yang  mampu  kutanggung.  Aku  bisa  berlagak
mengabaikan dia, tidak pernah melihat  ke  arahnya. Aku bisa  berlagak  dia  tidak menarik
perhatianku. Tapi hanya sebatas itu, hanya berlagak, bukan yang sebenarnya.
Aku selalu memperhatikan setiap tarikan napasnya, setiap kata yang ia ucap.
Aku membagi penyiksaanku menjadi empat kategori.
Dua  yang  pertama  sudah  tidak  asing. Aroma  dan  kesunyian- mental  dia.  Atau, bisa
dibilang—untuk meletakan tanggung jawab pada diriku, seperti yang semestinya—rasa haus
90
   

dan penasaranku.
Yang pertama adalah yang paling pokok. Aku tidak pernah bernapas selama pelajaran
biologi. Tentu saja  ada pengecualian—saat harus menjawab pertanyaan, atau sesuatu yang
seperti itu, aku butuh mengambil napas untuk bicara. Setiap kali, efeknya sama seperti hari
pertama—terbakar, haus, dan kebengisan yang ingin meloncat keluar. Pada  saat seperti itu
sangat sulit untuk berpikiran waras. Dan, sama seperti di hari pertama, monster dalam diriku
sudah siap dengan giginya, begitu dekat dengan permukaan...
Sedang penasaran adalah yang paling konstan dari penyiksaanku. Pertanyaan ini terus
mengahantui:
Apa yang sedang ia pikirkan
sekarang? Saat kudengar  dia mendesah pelan.
Saat tanpa sadar  memilin rambutnya. Saat menjatuhkan bukunya lebih keras  dari biasanya.
Saat terburu-buru masuk kelas terlambat. Saat mengetuk-ngetukan kakinya tidak sabaran ke
lantai.
Tiap gerakan yang tertangkap ujung mataku adalah misteri yang menjengkelkan. Ketika
ia bicara ke murid lain, aku menganalisa tiap kata dan intonasinya. Apa dia mengutarakan
pikirannya,  atau sekedar  mengatakan  yang  sebaiknya  dikatakan?  Kedengarannya  ia  lebih
sering  mengutarakan  apa   yang  diharapkan  lawan  bicaranya.  Ini   mengingatkan  aku  pada
keluargaku  dan  keseharaian   palsu   kami—kami   melakukannya   jauh   lebih   baik   dari  dia.
Kecuali kalau penangkapanku itu salah, dan hanya bayanganku saja. Kenapa juga dia harus
pura-pura? Dia bagian dari mereka—manusia remaja.
Mike  Newton secara mengejutkan masuk  dalam bagian penyiksaanku. Siapa  sangka
manusia-kebanyakan yang membosankan seperti  dia bisa  jadi  sangat mengesalkan? Kalau
mau adil, aku seharusnya berter ima kasih pada bocah itu. Dia membuat gadis itu terus bicara.
Aku   banyak   belajar   tentang   dia   dari   situ—aku   masih   terus   melengkapi   daftarku.   Tapi
sebaliknya, bantuan Mike justru membuatku makin jengkel. Aku tidak ingin Mike menjadi
orang yang memecahkan rahasia gadis itu. Aku yang ingin melakukannya.
Untung Mike tidak pernah menyadari pertanda kecil yang kadang muncul pada bahasa
tubuhnya.   Dia   membentuk   sosok   Bella   yang   tidak  nyata—seorang  perempuan  seumum
dirinya. Dia tidak memperhatikan ketidak-egoisan dan keberanian yang membedakan Bella
dari manusia lain. Dia tidak mendengar  kedewasaan-abnormal pikirannya saat ia bicara. Dia
tidak menyadari ketika Bella membicarakan ibunya, dia kedengaran lebih seperti orang tua
91
   

membicarakan   anaknya   daripada   sebaliknya—penuh   sayang,   murah   hati,   kagum,   dan
cenderung protektif. Bocah itu tidak mendengar kesabaran pada suaranya ketika ia pura-pura
tertarik pada segala macam ceritanya, dan tidak menilai kebaikan hati dibalik kesabarannya
itu.
Dari  percakapan gadis  itu dengan Mike,  aku berhasil menambahkan satu sifat  yang
paling penting  kedalam  daftarku, yang  paling menonjol, sangat  sederhana  namun  jarang
kujumpai: Bella orang
baik.
Sifat yang lainnya cuma penjabaran dari itu—baik hati, tidak
cari perhatian, tidak egois, penyayang, dan berani—dia benar-benar orang baik.
Bagaimanapun juga penemuan bermanfaat ini tidak melunakan sikapku pada si bocah.
Sikap   posesifnya   terhadap   Bella—seolah   Bella   akan   jadi   miliknya—memancing
kemarahanku,   hampir   sebesar  yang  diakibatkan  segala   fantasinya  tentang  Bella.   Seiring
berjalannya  waktu ia juga lebih  percaya diri. Karena tampaknya Bella  lebih memilih dia
ketimbang cowok  lain  yang ia  anggap  saingan—Tyler  Crowley, Eric Yorkie, dan bahkan,
kadang-kadang, diriku.
Secara   rutin  ia  selalu  duduk  di   sisi   mejanya  sebelum   kelas  dimulai,  mengajaknya
ngobrol, tersemengati  melihat  senyumannya. Hanya senyum  sopan, aku mengatakan  pada
diriku   sendiri.   Tiap   kali   aku   selalu   menghibur   diri   dengan   membayangkan   menapuk
wajahnya hingga terlempar ke tembok... itu tidak akan terlalu fatal...
Mike  jarang  menganggapku sebagai  saingan.  Setelah  insiden  waktu  itu,  dia  sempat
khawatir  Bella dan aku jadi lebih dekat, tapi yang terjadi justru sebaliknya. Sebelumnya dia
selalu  terganggu  dengan   tatapanku   yang   selalu   tertuju   pada   Bella
.
Tapi  kini  aku  sama
mengabaikannya seperti yang lain, dan itu membuat Mike puas.
Apa yang sedang ia pikirkan? Apa dia menyukai perhatian Mike?
Dan, akhirnya, hal terakhir dari siksaanku, yang paling menyakitkan: sikap acuh Bella.
Sama seperti aku mengacuhkan dia, dia  mengacuhkan  aku. Dia tidak pernah mengajakku
bicara lagi. Yang bisa kuketahui, dia tidak pernah memikirkan aku sama sekali.
Ini   bisa  membuatku  gila—atau  bahkan  mematahkan   tekadku   untuk  merubah  masa
depan.  Kecuali  kadang ia  menatapku  dengan  tatapan yang sama  seperti  dulu. Aku  tidak
melihatnya sendiri. Aku melarang diriku untuk melihat  ke  dia. Tapi Alice selalu memberi
peringatan ketika ia akan menoleh ke arah kami; yang lain masih khawatir  pada gadis itu.
92
   

Itu  sedikit   mengurangi  rasa  sakit,  mengetahui   kadang  ia  memandangiku  dari  jauh.
Tentu saja, bisa jadi dia cuma sedang mengira-ngira mahluk mengerikan apa aku ini.
“Bella sebentar  lagi akan melihat ke Edward. Bersikap wajar,” kata Alice pada suatu
selasa di bulan Maret. Semua  segera membuat gerak-gerik kecil dan mengganti  tumpuan
layaknya manusia; tidak bergerak sama sekali—beku—adalah ciri kaum kami.
Aku   menghitung   seberapa   sering   dia   melihat   ke   arahku.   Itu   membuatku   senang,
meskipun seharusnya tidak, bahwa frekuensinya tidak berkurang sama sekali. Aku tidak tahu
apa artinya, tapi membuatku merasa jauh lebih baik.
Alice mendesah.
Aku harap...
“Jangan ikut campur, Alice,” tukasku dari balik napas. “Itu tidak akan terjadi.”
Dia   cemberut.   Alice   sangat   penasaran   ingin   mewujudkan   mimpi-persahabatannya
dengan Bella. Dalam cara yang aneh, dia merindukan perempuan yang tidak ia kenal.
Aku akui, kau lebih baik dari yang kukira. Kau membuat masa depan itu menjadi kabur
dan kacau lagi. Semoga kau senang.
“Itu sangat masuk akal buatku.”
Dia mendengus.
Aku berusaha membuatnya  diam. Aku  sedang tidak  ingin  ngobrol.  Moodku  sedang
jelek—lebih tegang dari  yang mereka  lihat. Hanya Jasper  yang menyadari. Dia  membaca
luapan   pancaran   stres   dariku   dengan   kemampuan   uniknya,   yang   bisa   merasa   dan
mempengaruhi mood orang lain. Namun dia tidak mengerti alasan dibalik mood itu, dan—
karena setiap hari moodku memang selalu buruk—dia mengabaikannya.
Hari ini akan sulit. Lebih sulit dari kemarin. Selalu begitu polanya.
Mike   Newton,   bocah   menjengkelkan  yang  tidak   boleh   kuanggap   sebagai  saingan,
berencana mengajak Bella kencan.
Sebentar   lagi   akan  ada   pesta   dansa   musim   semi.   Kali   ini   pihak   perempuan  yang
memilih pasangannya. Dan Mike sangat berharap Bella akan mengajak dia. Tapi Bella masih
belum  mengajaknya,  dan ini  menggoyahkan kepercayaan  dirinya. Posisinya  terjepit—aku
menikmati kegusaran dia lebih dari semestinya—karena Jessica Stanley sudah mengajak dia
duluan. Dia tidak mau menjawab “ya,” karena masih berharap Bella memilih dia (menjadi
bukti kemenangan atas para pesaingnya), tapi ia juga segan menjawab “tidak,” takut berakhir
93
   

tidak mendapatkan keduanya.
Jessica sendiri tersinggung dengan keraguan Mike. Ia bisa menebak alasan dibaliknya,
dan   ia   jadi   menjelek-jelekkan   Bella   di   pikirannya.   Lagi,   instingku   membuatku   ingin
meletakan diri diantara pikiran marah Jessica dan Bella. Aku memahami insting itu lebih baik
sekarang, tapi justru jadi lebih menjengkelkan karena tidak bisa melakukan apa- apa.
Tidak kusangka bisa sampai sejauh ini! Bisa-bisanya aku sampai ingin terlibat dalam
drama picisan yang sebelumnya sempat kuhina-hina ini.
Mike  sedang memberanikan  diri  saat  berjalan bersama  Bella  ke kelas   biologi. Aku
mendengarkan  pergolakan batinya  saat  menunggu  mereka masuk. Bocah itu lembek.  Dia
sengaja   cuma   menunggu,   takut   ketertarikannya   diketahui   Bella   sebelum  ia  menunjukan
tanda-tanda   akan  mengajaknya.  Dia  tidak  ingin  terlihat   lemah  hingga  ditolak.  Dia   lebih
memilih Bella duluan yang mulai.
Pengecut.
Dia   duduk   di   ujung   meja   lagi,   merasa   nyaman   dengan   kebiasaan   itu.   Aku
membayangkan   bagaimana   suaranya   jika   badannya   membentur   tembok   hingga   tulang-
tulangnya remuk.
“Jadi,”  kata  Mike  ke  gadis  itu.  Matanya  menatap  lantai.  “Jessica  memintaku  pergi
dengannya ke pesta dansa musim semi.”
“Bagus, dong,”  Bella langsung menjawab dengan penuh semangat. Sulit untuk tidak
tersenyum   saat   Mike   akhirnya   menyerap   nada   itu.   Dia   mengharapkan  tanggapan  yang
negatif. “Kau akan bersenang- senang dengan Jessica.”
Dia  berjuang mencari lanjutan yang tepat. “
Well
...” dia ragu-ragu, dan hampir  secara
kecut mundur. Kemudian ia memberanikan diri lagi. “Aku bilang padanya akan kupikirkan.”
“Kenapa kau bilang begitu?” Nadanya tidak setuju, tapi ada secuil kelegaan juga.
Apa
itu
artinya? Kemarahan yang muncul tiba-tiba membuat tanganku mengepal.
Mike  tidak   mendengar   kelegaan   itu.  Wajahnya   merah   padam—panasnya   langsung
terasa, ini seperti undangan—dan ia melihat ke lantai lagi.
“Aku bertanya-tanya jika...
well
, jika kau mungkin punya rencana untuk mengajakku.”
Bella ragu-ragu.
Dalam sedetik keraguan itu, aku melihat masa depannya dengan lebih jelas.
94
   

Gadis itu mungkin akan menjawab 'ya' pada Mike, atau mungkin 'tidak'. Tapi, apapun
itu, suatu saat nanti, ia akan berkata ya pada seseorang. Dia menyenangkan dan menawan.
Para pria-manusia sangat menyadari  hal  itu. Entah ia akan memilih  diantara orang-orang
menyedihkan ini, atau menunggu sampai pergi dari Forks, akan datang hari dimana ia
akan
berkata ya.
Aku melihat hidupnya dengan sangat jelas—kuliah, karir...percintaan, pernikahan. Aku
melihat dia dalam gandengan ayahnya lagi, bergaun putih gading, wajahnya bersemu bahagia
saat berjalan dengan iringan simfoni Wagner.
Luka yang kurasakan melebihi segalanya. Manusia biasa pasti akan mati menanggung
sakit seperti ini—mereka tidak akan bisa hidup.
Dan bukan cuma sakit, tapi sekaligus amarah yang sangat.
Amarah ini menuntut pelampiasan sekarang juga. Meskipun bocah ini bukan yang akan
dijawab  ya   oleh   Bella,   tanganku  gatal   ingin  meremukan  tengkoraknya,   menjadikan  dia
sebagai contoh bagi siapapun yang ingin mendekati Bella.
Aku tidak memahami perasaan ini—campuran dari rasa sakit, amarah, hasrat, dan putus
asa. Aku belum pernah merasakan sebelumnya; aku tidak bisa menamakannya.
“Mike, menurutku kau harus bilang ya padanya,” Bella menjawab dengan suara lembut.
Harapan Mike runtuh. Dalam kesempatan berbeda aku akan menikmatinya, tapi aku
sedang bingung dengan perasaan menyakitkan ini—dan menyesali dampaknya padaku.
Alice benar. Aku
tidak
cukup kuat.
Saat ini, Alice  akan  mengamati  bagaimana masa depan akan berputar  dan berubah-
ubah. Apa ini akan membuatnya senang?
“Apa  kau sudah mengajak seseorang?”  Mike bertanya  dengan kesal terpendam. Dia
mendelik padaku, curiga  untuk pertama  kalinya  selama berminggu-minggu ini. Aku sadar
telah mengkhianati tekadku sendiri; kepalaku sedikit miring kearah Bella.
Rasa iri liar dalam pikiran Mike—iri pada siapapun yang dipilih gadis ini—mendadak
memberi nama pada emosi-tak-bernamaku.
Aku cemburu.
“Tidak,”  gadis  itu berkata  dengan sedikit jejak humor di  suaranya. “Aku tidak akan
datang ke pesta dansa.”
95
   

Melebihi segala penyesalan dan marah, aku merasa lega pada jawabannya. Saat itu juga
aku mulai mempertimbangakan saingan-saingan
ku yang
lain.
“Kenapa tidak?” Mike bertanya dengan agak kasar. Aku tersinggung mendengar Mike
menggunakan nada seperti itu ke dia. Aku menahan geramanku.
“Aku akan pergi ke Seattle sabtu itu,” jawabnya.
Penasaranku  tidak  sehebat  sebelumnya—kini   saat  aku  telah  berniat   untuk  mencari
jawaban pertanyaan itu. Aku akan segera tahu alasannya sebentar lagi.
Suara Mike berubah membujuk. “Tidak bisa kah kau pergi lain kali?”
“Maaf, tidak  bisa.”  Bella kini agak ketus. “Jadi  sebaiknya kau tidak membuat Jess
menunggu lebih lama—itu tidak baik.”
Kepeduliannya pada Jessica mengipasi api cemburuku. Perjalanan ke Seattle jelas-jelas
cuma alasan untuk mengelak—apa penolakannya murni karena loyalitas dia pada temannya?
Dia jauh lebih dari  tidak-egois jika  begitu.  Apa sebetulnya  dia berharap  bisa  berkata ya?
Atau, apa keduanya bukan? Jangan-jangan dia tertarik dengan orang lain?
“Ya, kau benar,”  gumam Mike,  sangat  terpukul  hingga  aku hampir  merasa kasihan.
Hampir.
Di  menjatuhkan  pandangannya  dari  si  gadis, menghentikan  pandanganku  ke  wajah
Bella dalam pikirannya.
Hal itu tidak boleh terjadi.
Maka   untuk  pertama   kalinya  dalam   sebulan,  aku  menoleh  untuk  membaca  sendiri
wajahnya. Rasanya sangat lega membiarkan diriku melakukan ini, seperti tarikan napas  di
permukaan pada penyelam yang kehabisan oksigen.
Matanya   tertutup,  dua   tangannya   menekan   kedua   sisi   wajahnya.  Bahunya  terkulai
galau. Dia menggeleng sangat pelan, seolah ingin mengusir sesuatu dari pikirannya.
Frustasi. Menarik.
Suara  Mr. Banner  membangunkan dia dari lamunan. Matanya pelan-pelan membuka.
Dan ia  langsung melihat  kearahku, mungkin merasakan  tatapanku.  Dia menatap kedalam
mataku dengan ekspresi penuh tanya yang sama dengan yang menghantuiku selama ini.
Aku tidak merasa  menyesal, bersalah,  atau marah dalam  detik ini.  Aku tahu segala
perasaan itu akan datang lagi, tapi untuk saat ini aku dimabukan oleh kegugupan yang aneh.
96
   

Seakan aku telah menang, dan bukannya kalah.
Dia tidak membuang muka, meskipun aku menatapnya dengan keingintauan yang tidak
pantas, sia- sia mencoba membaca pikirannya melalui mata coklat mudanya. Matanya penuh
pertanyaan daripada jawaban.
Aku bisa melihat pantulan mataku sendiri. Dua mataku hitam karena haus. Hampir dua
minggu sejak terakhir kali berburu; ini bukan hari yang aman bagi keruntuhan niatku. Tapi
sepertinya kegelapan mataku tidak menakuti dia. Ia  masih tidak membuang muka, hingga
kemudian semburat halus merah muda meronai pipinya.
Apa yang sedang ia pikirkan?
Aku   hampir   menanyakan   itu   keras-keras,   tapi   kemudian   Mr.   Banner   memanggil
namaku. Aku memilih jawaban yang benar dari pikirannya sambil menoleh sekilas.
Aku menarik napas cepat. “Siklus Krebs.”
Rasa   haus   menghanguskan   tenggorokanku—mengencangkan   otot-ototku   dan
memenuhi mulutku dengan liur. Aku memejam, berusaha  berkonsentrasi menghalau hasrat
akan darahnya yang mengamuk dalam diriku.
Monster  itu jauh lebih kuat dari sebelumnya. Monster  itu sedang berlonjak gembira.
Dia merengkuh dua pilihan masa depan yang membuat posisinya imbang, kesempatan sama
besar  yang  selama ini  ia  idam-idamkan dengan licik. Pilihan  ketiga yang  coba kubangun
dengan   kekuatan  niat  semata   telah   runtuh—dihancurkan   oleh   kecemburuan   sepele—dan
monster itu hampir mencapai tujuannya.
Penyesalan  dan rasa bersalah terbakar  bersama  dahaga. Jika aku punya kemampuan
memproduksi air mata, mataku pasti sudah berlinangan sekarang.
Apa yang telah kulakukan?
Mengetahui   telah   kalah,   sudah   tidak   ada   lagi   alasan   untuk   menahan   apa   yang
kuinginkan; aku kembali memandangi gadis itu lagi.
Dia  bersembunyi dibalik rambutnya, tapi  aku bisa  melihat  melalui celah  rambutnya
bagaimana pipinya kini berwarna merah terang.
Sang monster menyukai itu.
Dia   tidak  membalas   tatapanku   lagi,  tapi   jarinya  memilin   rambut   gelapnya  dengan
gugup. Jari  tangannya yang lembut, pergelangan tangannya yang rapuh—keduanya sangat
97
   

ringkih, bahkan hanya dengan hembusan napas bisa kupatahkan.
Tidak, tidak, tidak. Aku tidak bisa melakukan ini. Dia terlalu rapuh, terlalu baik, terlalu
berharga  untuk menerima takdir  ini. Aku  tidak mengijinkan kehidupanku menghancurkan
hidupannya.
Tapi aku juga tidak bisa menjauh dar i dia. Alice betul tentang itu.
Monster dalam diriku mendesesis frustasi saat aku bimbang.
Selama terombang-ambing, satu jam singkatku bersama dia berlalu cepat. Bel berbunyi,
dan ia mengumpulkan barang-barangnya tanpa menengok. Ini membuatku kecewa, tapi tidak
mungkin berharap sebaliknya. Caraku memperlakukan dia sejak insiden itu tidak termaafkan.
“Bella?” kataku tanpa bisa kucegah. Tekadku sudah tercabik- cabik.
Dia bimbang sebelum melihat ke arahku; saat menoleh ekspresinya hati-hati, curiga.
Aku mengingatkan diriku sendiri bahwa ia sangat berhak untuk tidak percaya padaku.
Bahwa seharusnya begitu.
Dia  menunggu,  tapi  aku hanya  memandanginya,  membaca  wajahnya. Aku menarik
napas pendek, melawan rasa hausku.
“Apa?”  dia  akhirnya  bertanya.  “Apa  kau   bicara  denganku  lagi?”  ada  bagian  pada
kekesalannya, yang seperti ketika marah, justru terlihat menggemaskan. Itu membuatku ingin
tersenyum.
Aku  tidak  begitu yakin  bagaimana  menjawabnya.
Apa
aku  bicara  dengan dia  lagi,
dalam pengertian yang ia maksud?
Tidak. Tidak jika aku bisa menghindarinya. Aku akan berusaha menghindarinya.
“Tidak, tidak juga,” aku memberitahu dia.
Dia   menutup   mata,   yang   membuatku   frustasi.   Ini   memotong   jalurku   membaca
perasaannya. Dia mengambil napas panjang tanpa membuka mata. Rahangnya terkunci.
Matanya masih tertutup saat bicara. Tentu ini bukan kebiasaan manusia normal. Kenapa
dia melakukannya?
“Lalu apa maumu, Edward?”
Mendengar  namaku diucapkan oleh bibirnya, berdampak aneh pada tubuhku. Jika aku
punya detak jantung, pastilah berdetak lebih cepat.
Tapi bagaimana menjawabnya?
98
   

Apa adanya, aku memutuskan. Aku akan berkata apa adanya mulai sekarang. Aku tidak
mau tidak-dipercaya oleh dia, bahkan jika untuk mendapat keper cayaannya adalah mustahil.
“Aku minta maaf.” itu adalah hal yang paling jujur. Sayangnya aku cuma bisa minta
maaf  dengan aman atas hal yang sepele. “Aku tahu sikapku sangat kasar. Tapi lebih baik
seperti itu, sungguh.”
Akan lebih baik bagi dia jika aku terus bersikap kasar. Apa aku bisa?
Matanya membuka, ekspresinya masih hati-hati.
“Aku tidak tahu apa maksudmu.”
Aku coba memberi peringatan sebatas yang kubisa. “Lebih baik kita tidak berteman.”
tentu dia menyadari peringatan itu. Dia perempuan cerdas. “Percayalah.”
Matanya   menyipit.  Aku   ingat   pernah   mengatakan   itu   sebelumnya—tepat   sebelum
melanggarnya. Aku mengernyit saat dia menggertakan gigi—jelas dia juga masih ingat.
“Sayang sekali kau tidak menyadarinya sejak awal,” ujarnya marah. “Jadi  kau tidak
perlu repot-repot menyesal begini.”
Aku memandangnya syok. Apa yang ia ketahui tentang penyesalanku?
“Menyesal? Menyesal kenapa?” tanyaku menuntut.
“Karena tidak membiarkan
van
bodoh itu menimpaku!” dia meledak marah.
Aku membeku, bingung.
Bagaimana bisa dia berpikir seperti
itu?
Menyelematkan nyawanya adalah satu-satunya
pilihan tepat yang kulakukan sejak bertemu dia. Satu-satunya yang tidak membuatku malu.
Satu dan hanya satu-satunya yang membuatku lega telah 'hidup'. Aku terus berjuang agar dia
tetap hidup sejak pertama mencium aromanya. Bisa-bisanya dia berpikir seperti itu padaku.
Berani-beraninya   dia   mempertanyakan   satu- satunya   perbuatan   baikku   diantara   semua
kekacauan ini.
“Kau pikir aku menyesal telah menyelamatkanmu?”
“Aku
tahu
kau merasa begitu,” dia menjawab dengan ketus.
Kesinisannya atas  maksud baikku membuatku menggelegak marah. “Kau tidak  tahu
apa-apa.”
Betapa ruwetnya cara kerja pikirannya! Dia pasti tidak berpikir dengan cara yang sama
seperti manusia manapun. Pasti itu penjelasan dibalik kesunyian-mentalnya. Dia sama sekali
99
   

berbeda.
Dia  membuang muka  dan  menggertakan gigi  lagi. Pipinya   merona,  kali  ini  karena
marah. Dia menumpuk buku-bukunya dengan kasar, menyambarnya, lalu berjalan ke pintu
tanpa menoleh ke arahku.
Bahkan saat  kesal seperti ini, mustahil tidak menganggap ekspresi  marahnya  sedikit
menghibur.
Langkahnya  kaku, tanpa  terlalu memperhatikan jalan, dan kakinya  tersangkut  ujung
pintu. Dia tersandung dan semua bukunya jatuh berantakan. Bukannya memunguti barang-
barangnya, dia hanya berdiri mematung, bahkan tidak melihat kebawah, seakan tidak yakin
buku-buku itu pantas diambil.
Aku berusaha tidak tertawa.
Tidak  ada  yang  memperhatikan  aku;  aku  segera   ke  sisinya,  mengumpulkan  semua
buku-bukunya sebelum ia melihat kebawah.
Dia   membungkuk, melihatku,  dan  kemudian membeku. Kuserahkan buku-bukunya,
sambil kupastikan kulit dinginku tidak menyentuhnya.
“terima kasih,” jawabnya dingin.
Nada bicaranya mengembalikan kemarahanku.
“Sama-sama,” kataku sama dinginnya.
Dia bangkit berdiri lalu langsung pergi ke kelas berikutnya tanpa menoleh.
Aku memperhatikan sampai sosoknya hilang.
Pelajaran bahasa Spanyol berjalan kabur. Mrs. Goff tidak menggubris kelinglungan-ku
—dia tahu bahasa Spanyolku jauh lebih fasih dibanding dia, karena itu ia memberi banyak
kelonggaran—membuatku bebas untuk berpikir.
Jadi, aku tidak bisa mengabaikan gadis  itu. Hal  itu sudah pasti. Tapi apa artinya aku
tidak punya pilihan selain menghancurkan dia? Itu
tidak
mungkin satu-satunya masa depan
yang tersisa. Pasti ada pilihan lain, yang lebih manusiawi.
Aku berusaha memikirkan suatu cara...
Aku  tidak terlalu memperhatikan  Emmet  sampai  jam  pelajaran hampir  selesai. Dia
penasaran—Emmet  tidak  terlalu  pandai   membaca   mood  orang  lain,  tapi  ia   bisa  melihat
perubahan  nyata   pada   diriku.   Dia   bertanya-tanya  apa  yang  terjadi.  Dia   berupaya  keras
100
   

mendefinisikan perubahannya. Dan akhirnya memutuskan bahwa aku ter lihat
penuh harapan
.
Penuh harapan? Apa seperti itu kelihatannya dari luar?
Aku   mempertimbangkan   ide   akan   harapan   selama   berjalan   ke   mobil.   Kira-kira
seharusnya aku berharap
apa
?
Tapi aku tidak punya banyak waktu untuk mempertimbangan hal itu. Sesensitif  seperti
biasanya, suara nama Bella di kepala...sainganku—harus kuakui—menarik perhatianku. Eric
dan  Tyler,  telah  mendengar—dengan  puas  sekali—atas  kegagalan  Mike.   Mereka  berdua
sedang mempersiapkan langkah mereka sendiri.
Eric telah mengambil posisi duluan. Dia menyandar  ke truk Bella agar  dia tidak bisa
menghindar.   Kelas  Tyler   keluar   agak   telat,   dan   ia   mesti   buru-buru   sebelum   terlambat
mengejar Bella.
Yang ini aku harus lihat.
“Tunggu yang lain disini, oke?” aku menggumam pada Emmet.
Matanya curiga, tapi ia cuma mengangkat bahu dan mengangguk.
Anak ini mulai gila.
Dia membatin, geli dengan permintaan anehku.
Aku   melihat   Bella   keluar   dari   gimnasium.  Aku   menunggu   di   tempat   yang   tidak
kelihatan. Saat ia mulai mendekati sergapan Eric, baru aku jalan, mengatur  langkahku agar
nanti bisa lewat di waktu yang pas.
Aku memperhatikan bagaimana  ia terkejut melihat bocah itu disamping truknya. Dia
terhenti sebentar, kemudian rileks lagi dan meneruskan langkahnya.
“Hai, Eric,” ia menyapa dengan suara ramah.
Tiba-tiba aku jadi gelisah. Bagaimana jika bocah ceking dengan kulit bermasalah ini,
entah bagaimana, menyenangkan hatinya?
Eric menyaut dengan terlalu keras, “Hai, Bella.”
Gadis itu sepertinya tidak menyadari kegugupan Eric.
“Ada  apa?” Dengan santai ia membuka pintu truknya  tanpa melihat ke wajah cemas
bocah itu.
“Mmm,  aku  cuma  bertanya- tanya...maukah  kau  pergi  ke   pesta   dansa  musim  semi
bersamaku?” suaranya bergetar.
Dia  akhirnya  menoleh. Apa  dia  terkejut,  bingung,  atau  senang?  Eric  tidak sanggup
101

Baca selanjutnya ..