dibanding yang lainnya!”
“Kita pernah meninggalkan rumor dibelakang kita sebelum ini,” aku mengingatkan dia.
“Hanya rumor dan kecurigaan, Edward. Bukan saksi mata dan bukti!”
“Itu bukti!” aku mencibir.
Tapi Jasper mengangguk, matanya keras.
“Rose—“ Carlisle mulai.
“Biar kuselesaikan, Carlisle. Kita tidak perlu repot-repot. Gadis itu terbentur kepalanya
hari ini. Jadi mungkin lukanya jauh lebih serius dari kelihatannya.” Rosalie mengangkat
bahu. “Setiap manusia pergi tidur dengan kemungkinan tidak akan pernah bangun lagi.
Kelompok lain berharap kita membereskan sendiri masalah kita. Secara teknis, itu jadi tugas
Edward, tapi dia tidak akan sanggup. Kau tahu aku cukup bisa mengontrol diri. Aku tidak
akan meninggalkan bukti.”
“Ya, Rosalie, kita semua tahu bagaimana mahirnya kau sebagai pembunuh,” aku
menggeram.
Dia balas mendesis marah.
“Edward, tolong,” Carlisle berusaha melerai. Kemudian ia menoleh ke Rosalie.
“Rosalie, aku mengabaikan tindakanmu di Rochester karena aku merasa kau berhak dengan
keadilanmu. Orang-orang yang kau bunuh telah berbuat keji padamu. Tapi ini lain. Bella
Swan tidak bersalah.”
“Ini bukan masalah pribadi, Carlisle,” Rosalie berkata lewat sela giginya. “Ini untuk
melindungi kita semua.”
Ada keheningan singkat saat Carlisle menimbang keputusannya. Saat ia mengangguk,
mata Rosalie menyala nyalang. Rosalie seharusnya sudah bisa mengira. Bahkan jika aku
tidak mampu membaca pikiran Carlisle, aku tetap bisa menebak sikapnya. Carlisle tidak
pernah kompromi.
“Aku tahu maksudmu baik, Rosalie, tapi...aku sangat ingin keluargaku tetap
layak
untuk dilindungi. Dalam kejadian tertentu...saat tidak sengaja atau karena lepas kontrol,
adalah bagian yang dapat dimaklumi dari diri kita.” Itulah kebiasaannya untuk memasukan
dirinya dalam konteks jamak, meskipun dia sendiri tidak pernah lepas kontrol. “Untuk
membunuh anak tak berdosa dengan darah dingin adalah sesuatu yang lain. Aku percaya
81
pada resiko yang ia akibatkan, terlepas ia akan bicara atau tidak, tetapi hal itu tidak sebanding
dengan resiko yang lebih besar. Jika kita membuat pengecualian untuk melindungi diri, kita
membahayakan sesuatu yang jauh lebih penting. Kita beresiko kehilangan jati diri kita.”
Aku mengontrol ekspresiku hati-hati. Tidak ada gunanya menyeringai. Atau bertepuk
tangan, seperti yang sebetulnya aku inginkan.
Rosalie memberengut. “Itu cuma bertanggung jawab.”
“Itu namanya tidak berperasaan,” Carlisle membenarkan dengan lembut. “Setiap
kehidupan itu berharga.”
Rosalie mendesah panjang dan cemberut. Emmet membelai punggungnya. “Semua
akan baik-baik saja, Rose,” Dia menyemangati dengan suara pelan.
“Pertanyaannya,” Carlisle melanjutkan, “Apakah kita akan pindah?”
“Jangan,” Rosalie mengerang. “Kita baru saja menetap. Aku tidak mau mengulang
sekolah lagi!”
“Kau masih bisa memakai usiamu yang sekarang,” Carlisle memberi saran.
“Dan harus pindah lagi secepat itu?” Dia menimpali.
Carlisle mengangkat bahu.
“Aku
suka
disini! Sangat jarang ada matahari, kita hampir bisa hidup
normal
.”
“
Well
, kita tidak harus memutuskan itu sekarang. Kita bisa menunggu sambil melihat
jika itu diperlukan. Edward kelihatannya cukup yakin gadis itu tidak akan bicara.”
Rosalie mendengus.
Tapi aku tidak lagi khawatir pada Rose. Tidak perduli bagaimana marahnya ia padaku,
ia bisa menerima keputusan Carlisle. Pembicaraan mereka telah beranjak ke hal sepele.
Namun Jasper tetap tidak bergerak.
Aku mengerti alasannya. Sebelum dia bertemu Alice, dia hidup di medan perang,
panggung tanpa belas kasihan. Dia tahu konsekuensi dari melanggar aturan kaum kami—dia
pernah melihat sendiri hasil akhirnya yang mengerikan.
Sejak tadi ia tidak mencoba menenangkan Rosalie dengan kelebihannya, tapi juga tidak
membuat Rosalie tambah gusar. Sejak awal ia menyisihkan dirinya dari diskusi ini—sama
sekali mengabaikan.
“Jasper,” kataku.
82
Kami bertemu pandang, ekspresinya datar.
“Dia tidak akan membayar atas kesalahanku. Aku tidak akan membiarkan itu.”
“Berarti dia mengambil keuntungan dari situ? Seharusnya dia tadi mati, Edward. Aku
hanya meluruskannya.”
Aku mengulangi kata-kataku, memberi tekanan pada tiap katanya. “Aku tidak akan
membiarkan hal itu.”
Dia agak terkejut. Dia tidak mengharapkan ini—dia tidak membayangkan aku akan
bertindak menghentikan dia.
Dia menggeleng satu kali. “Aku tidak akan membiarkan Alice dalam bahaya, bahkan
bahaya kecil. Kau tidak merasakan ke siapapun seperti yang kurasakan pada dia, Edward.
Dan kau tidak pernah melalui hidup seperti yang pernah kulalui, tak perduli kau bisa melihat
ingatanku atau tidak. Kau tidak mengerti.”
“Aku tidak memperdebatkan hal itu, Jasper. Tapi biar kuberitahu sekali lagi, aku tidak
akan membiarkan kau menyakiti Bella Swan.”
Kami saling menatap—tidak mendelik, tapi saling menilai. Aku merasakan dia
menyerap mood disekelilingku, mengecek kesungguhanku.
“Jazz,” Alice memotong.
Dia mempertahankan tatapannya sebentar, kemudian beralih ke Alice. “Tidak usah
repot-repot mengatakan kau bisa menjaga diri, Alice. Aku sudah tahu itu. Tapi aku tetap perlu
—”
“Bukan itu yang ingin aku katakan,” Alice menyela. “Aku ingin minta tolong padamu.”
Aku melihat pikiran Alice, dan mulutku terlongo. Aku menatap dia, syok. Samar-samar
aku menyadari, semua mata—selain Alice dan Jasper—kini beralih menatapku cemas.
“Aku tahu kau mencintaiku. terima kasih. Tapi aku akan sangat menghargai jika kau
tidak membunuh Bella. Pertama, Edward sangat serius dan aku tidak ingin kalian bertarung.
Kedua, Bella temanku. Paling tidak dia akan
menjadi
temanku.”
Gambaran itu sejernih kaca di kepalanya: Alice, tersenyum, dengan tangan putih-
dinginnya merangkul pundak rapuh-hangat gadis itu. Dan Bella juga tersenyum, tangannya
merangkul pinggang Alice.
Penglihatannya sangat jelas; hanya waktunya yang tidak pasti.
83
“Tapi...Alice...” Jasper tergagap. Aku tidak sanggup menoleh untuk melihat
ekspresinya. Aku tidak sanggup memalingkan perhatianku dari gambaran dalam kepala
Alice.
“Suatu saat aku akan menyayangi dia, Jazz. Aku akan kesal padamu jika kau tidak
membiarkan dia.”
Aku masih terpatri pada pikiran Alice. Aku melihat penglihatan itu berkelip-kelip saat
keputusan Jasper bimbang dihadapan permintaannya yang tidak terduga.
“Ah,” dia mendesah—kebimbangan Jasper membuat pandangan baru muncul lebih
jelas. “Kau lihat? Bella tidak akan bicara. Tidak ada yang perlu dicemaskan.”
Dari caranya menyebut nama gadis itu...seakan mereka berdua telah menjadi sahabat
dekat...
“Alice,” aku tersedeak. “Apa...ini...?”
“Aku kan sudah bilang sesuatu ada yang berubah. Aku tidak tahu Edward.” tapi
kemudian tiba-tiba rahangnya terkunci, dan aku bisa melihat ada sesuatu yang lain. Dia
berusaha tidak memikiran hal itu; dia tiba- tiba fokus sangat keras pada Jasper, meskipun
Jasper sedang terlalu kaget untuk membuat keputusan lain.
Alice biasanya melakukan ini jika ingin menyembunyikan sesuatu dariku.
“Apa, Alice? Apa yang kau sembunyikan?”
Aku mendengar Emmet menggerutu. Dia selalu frustasi saat Alice dan aku bicara
seperti ini.
Dia menggelengkan kepalanya, berusaha tidak membiarkan aku masuk.
“Apa tentang gadis itu?” aku menuntut. “Apa tentang Bella?”
Dia menggertakan giginya berkonsentrasi, tapi saat aku menyebut nama Bella,
pegangannya terlepas sebentar. Hanya sepersekian detik, tapi itu lebih dari cukup.
“TIDAK!” Aku berteriak. Kursiku terbanting ke lantai, dan aku terlonjak berdiri.
“Edward!” Carlisle ikut berdiri, tangannya di pundakku. Aku hampir tidak menyadari
keberadaannya.
“Itu makin nyata,” Alice membisik. “Tiap menit kau makin yakin. Tinggal ada dua
jalan bagi dia. Yang satu atau yang lainnya, Edward.”
Aku bisa melihat apa yang dia lihat... tapi aku tidak bisa menerima hal itu.
84
“Tidak,” kataku lagi; tidak ada keyakinan pada penyangkalanku. Kakiku lemas. Aku
berpegangan pada meja.
“Akankah seseorang
memberitahu
apa yang sedang terjadi?” Protes Emmet.
“Aku harus pergi,” Aku berbisik pada Alice, mengabaikan Emmet.
“Edward, kita sudah membahas itu,” Emmet berkata keras-keras. “Itu justru akan
membuat gadis itu bicara. Lagipula, jika kau pergi, kita tidak akan tahu secara pasti apa dia
bicara atau tidak. Kau harus tinggal dan mengatasi hal ini.”
“Aku tidak melihat kau pergi, Edward,” Alice memberitahu. “Aku tidak tahu apa kau
akan pernah
sanggup
pergi.”
coba pikirkan,
dia menambahkan dalam hati.
Bayangkan kau
pergi.
Aku bisa melihat apa yang dia maksud. Ya, bayangan tidak akan pernah melihat gadis
itu lagi akan...menyakitkan. Tapi itu juga penting. Aku tidak bisa menyetujui pilihan lainnya.
Aku tidak sepenuhnya yakin dengan Jasper, Edward,
Alice melanjutkan.
Jika kau pergi,
jika Jasper pikir dia membahayakan kita...
“Aku tidak mendengar itu,” aku menyanggah, masih setengah sadar dengan kehadiran
yang lain. Jasper ragu-ragu. Dia tidak akan melakukan sesuatu yang akan menyakiti Alice.
Tidak saat ini. Apa kau akan mempertaruhkan hidupnya, meninggalkan dia sendirian?
“Kenapa kau melakukan ini padaku?” Aku mengerang. Kepalaku jatuh ke tangan.
Aku bukan pelindung Bella. Tidak mungkin begitu. Apa penglihatan Alice bisa
menjamin itu?
Aku juga mencintai dia. Akan. Itu mungkin tidak sama, tapi aku juga ingin dia
bersamaku.
“Mencintai dia,
juga
?” bisikku tidak percaya.
Dia mendesah.
Kau benar-benar buta, Edward. Apa kau tidak bisa melihat kemana
tujuanmu? Apa kau tidak bisa melihat dimana kau sekarang? Hal itu lebih tidak terelakan
daripada matahari terbit dari timur. Lihat apa yang kulihat...
Aku menggeleng-geleng ngeri. “Tidak.” aku berusaha mengusir penglihatan yang ia
coba perlihatkan. “Aku tidak harus mengikuti jalan itu. Aku akan pergi. Aku
akan
merubah
nya.”
“Kau bisa mencobanya,” ujar dia dengan nada skeptis.
85
“Oh, ayo lah!
”
Emmet mengeluh.
“Perhatikan,” Rose berbisik padanya. “Alice melihat dia jatuh cinta pada
manusia
! Itu
sangat Edward!” dia membuat suara tersumbat.
Aku jarang mendengar dia begitu.
“Apa?” Emmet terkejut. Kemudian tawanya pecah. “Apa itu yang sedang terjadi?” dia
tertawa lagi. “Keputusan hebat, Edward.”
Aku merasakan tangannya di pundakku, dan aku menepisnya masih dengan kepala
kosong. Aku sama sekali tidak memperhatikan dia.
“
Jatuh cinta
pada manusia?” Esme mengulangi dengan suara terkesima. “Pada gadis
yang ia selamatkan hari ini? Jatuh
cinta
padanya?”
“Apa yang kau lihat, Alice? Tepatnya,” Jasper menuntut.
Alice menoleh ke dia; aku tetap menatap kosong ke sisi wajahnya.
“Semuanya tergantung apa dia cukup kuat atau tidak. Apakah ia akan membunuhnya
sendiri,” —Alice ganti mendelik padaku—“yang akan membuatku
benar-benar
marah,
Edward, belum lagi bagaimana dampaknya bagimu—” dia menghadap ke Jasper lagi, “atau,
dia akan menjadi salah satu dari kita suatu saat nanti.”
Seseorang menarik napas syok; aku tidak mencari siapa orangnya.
“Itu tidak akan terjadi!” aku berteriak lagi. “Tidak keduanya! ”
Alice kelihatannya tidak mendengar. Tidak satupun yang kelihatannya mendengar. Seisi
ruangan sunyi.
Aku menatap Alice, dan semua menatap ke arahku. Aku bisa melihat ekspresi ngeri
pada wajahku dari lima sudut berbeda.
Setelah beberapa lama, Carlisle mendesah.
“
Well
, ini...jadi rumit.”
“Betul itu,” Emmet sependapat. Suaranya masih hampir tertawa. Aku percaya Emmet
telah menemukan lelucon dari kehancuran hidupku.
“Aku rasa rencananya akan tetap sama,” Carlisle berkata penuh pertimbangan. “Kita
akan tinggal, dan menunggu. Tampaknya sudah jelas, tidak akan ada yang...menyakiti gadis
itu.”
Aku membeku.
86
“Tidak ada,” Jasper berkata pelan. “Aku setuju dengan hal itu. Jika Alice melihat hanya
ada dua jalan—”
“Tidak!” suaraku bukan berupa teriakan, atau geraman, atau raung putus-asa, tapi
gabungan ketiganya. “Tidak!”
Aku harus pergi, lari dari keributan pikiran mereka—kemuakan Rosalie, lelucon
Emmet, kesabaran tanpa batas Carlisle...
Yang lebih parah: keyakinan Alice. Keyakinan Jasper terhadap keyakinan itu.
Dan yang paling parah: Esme...
bahagia.
Aku menghambur keluar ruangan. Esme menyentuh lenganku saat aku lewat, tapi aku
tidak menyadari hal itu.
Aku sudah lebih dulu berlari sebelum keluar dari rumah. Aku mencapai sungai dengan
satu loncatan, dan langsung berpacu menembus hutan. Hujan mulai turun lagi, turun sangat
deras hingga aku basah kuyup dalam sekejap. Aku menyukai kepekatan lapisan air ini—
membentuk tembok pembatas antara diriku dengan dunia luar. Menyembunyikan diriku,
membiarkan aku seorang diri.
Aku terus berlari kearah timur, melintasi pegunungan tanpa mengurangi kecepatan,
sampai aku melihat cahaya lampu kota Seattle di kejauhan. Aku berhenti sebelum sampai ke
batas peradaban manusia.
Tersembunyi di balik hujan, seorang diri, akhirnya aku bisa memaksa diriku untuk
melihat apa yang telah kuperbuat—bagaimana aku telah memutilasi masa depannya.
Pertama, penglihatan Alice dan gadis itu saling merangkul—kepercayaan dan
persahabatan tergambar dengan jelas pada gambar itu. Mata coklat-lebar Bella tidak lagi
bertanya-tanya dalam dalam penglihatan ini, tapi tetap penuh rahasia—pada saat ini, mereka
kelihatan bahagia. Dia tidak menjauhkan diri dari tangan dingin Alice.
Apa itu artinya? Seberapa banyak yang ia tahu? Dalam momen di masa depan itu, apa
yang ia pikir tentang
aku
?
Kemudian gambaran lagi, kurang lebih sama, namun kini dalam corak horor. Alice dan
Bella, tangan mereka masih saling merangkul bersahabat. Tapi kini tidak ada perbedaan
diantara tangan mereka—keduanya putih, sehalus pualam, sekeras baja. Mata lebar Bella
tidak lagi coklat. Iris matanya secara mengejutkan merah terang. Kerahasiaan dalam matanya
87
sangat sulit diurai—menerima atau sedih? Mustahil untuk ditebak. Wajahnya dingin dan
abadi.
Aku gemetar. Aku tidak dapat menahan pertanyaan yang mirip tapi berbeda ini: apa itu
artinya? Dan apa yang dia pikir tentang aku saat ini?
Aku bisa menjawab pertanyaan yang terakhir. Jika aku memaksa dia menjalani
setengah-hidup hampa ini karena kelemahan dan keegoisanku, sudah pasti ia akan
membenciku.
Tapi ada satu lagi gambar yang jauh lebih mengerikan—lebih buruk dari apapun yang
pernah ada di kepalaku.
Kedua mataku, berwarna merah terang karena darah manusia, mata seorang monster.
Tubuh rusak Bella dalam pelukanku, sepucat kapas, kering, tak bernyawa. Itu sangat
kongkrit, sangat jelas.
Aku tidak tahan melihatnya. Tidak mampu menanggungnya. Aku coba mengusirnya
dari benakku, mencoba melihat ke hal lain, apa saja. Mencoba melihat lagi ekspresi pada
wajah hidupnya yang sebelum ini telah menghalangi pandanganku. Semua tetap tidak ada
gunanya.
Penglihatan kelam Alice memenuhi kepalaku, dan perasaanku menggeliat menderita.
Sementara itu, monster dalam diriku meluap gembira, bersorak girang pada kemungkinan
kesuksesannya. Hal itu membuatku muak.
Ini tidak boleh dibiarkan. Pasti ada jalan untuk mengelakan masa depan itu. Aku tidak
akan membiarkan penglihatan Alice mengarahkan aku. Aku bisa memilih jalan yang berbeda.
Selalu ada pilihan.
Harus ada.
88
5. Undangan
Sekolah. Bukan lagi penyiksaan, sekarang murni neraka. Penyiksaan dan api...ya, aku
memperoleh keduanya.
Sekarang aku melakukan segalanya dengan benar. Semuanya sempurna. Tidak ada yang
bisa mengeluh aku melalaikan tanggung jawabku.
Untuk menyenangkan Esme dan melindungi lainnya, aku tetap tinggal di Forks. Aku
kembali pada kesehar ianku. Aku berburu tidak lebih sering dari yang lain. Setiap hari masuk
sekolah dan pura-pura menjadi manusia. Setiap hari mendengarkan jika muncul gosip baru
tentang keluarga Cullen—tidak pernah ada yang baru. Gadis itu tidak pernah membicarakan
kecurigaannya. Dia hanya mengulang-ulang cerita yang sama—aku berdiri disampingnya
dan kemudian menarik dia—sampai para penanyanya bosan dan berhenti bertanya-tanya.
Tidak ada bahaya. Tindakan gegabahku tidak menyakiti siapapun.
Kecuali aku sendiri.
Aku bertekad untuk mengubah masa depan. Bukan tugas mudah, tapi pilihan lainnya
tidak bisa kuterima.
Menurut Alice aku tidak akan sanggup menjauh dari gadis itu. Akan kubuktikan dia
salah.
Kupikir hari pertama akan menjadi yang paling sulit. Pada penghujung hari aku
menyadari itu salah.
Miris rasanya akan melukai perasaan gadis itu. Aku menghibur diri dengan memikirkan
rasa sakit dia tidak lebih dari sekedar cubitan—cuma penolakan kecil—dibanding rasa
sakitku. Bella adalah manusia. Ia tahu aku sesuatu yang lain Sesuatu yang salah. Sesuatu
yang mengerikan. Ia akan merasa lega daripada terluka kalau aku mengabaikan dia dan
menganggapnya tidak ada.
“Halo, Edward,” dia menyapaku pada hari pertama pelajaran biologi. Suaranya ramah,
berbeda seratus delapan puluh derajat dari terakhir kali kami bicara.
Mengapa? Apa arti dari perubahan ini? Apa dia melupakannya? Memutuskan itu semua
cuma imajinasinya? Mungkinkah ia memaafkan aku karena tidak menepati janjiku?
89
Pertanyaan-pertanyaan itu membakar tenggorokanku seperti dahaga.
Mungkin satu kali saja melihat kedalam matanya. Cuma untuk melihat siapa tahu bisa
menemukan jawabannya disana...
Tidak. Bahkan itu tidak boleh. Tidak jika aku ingin mengubah masa depan.
Aku menggeser daguku seinci ke arahnya tanpa berpaling dari depan kelas. Aku
mengangguk sekali, kemudian kembali memandang lurus kedepan.
Dia tidak bicara lagi padaku.
Sorenya, usai sekolah, aku langsung berlari ke Seattle seperti yang kulakukan kemarin.
Keperihanku sedikit lebih baik saat sedang terbang diatas tanah, mengubah sekelilingku
menjadi bayangan hijau kabur.
Berlari seperti ini sekarang menjadi kebiasaan harian.
Apa aku mencintai dia? Aku rasa tidak. Belum. Bagaimanapun juga penglihatan Alice
terus mengangguku. Aku bisa melihat betapa mudahnya untuk jatuh cinta pada Bella. Itu
sama persis seperti jatuh: tanpa daya. Berjuang untuk tidak mencintai dia justru kebalikannya
dari jatuh—seperti mengangkat tubuhku naik ke puncak terjal, sejengkal demi sejengkal,
begitu meletihkan seakan cuma kekuatan manusia yang kupunya.
Lebih dari satu bulan telah lewat. Dan setiap hari justru makin sulit. Ini tidak masuk
akal. Aku selalu menunggu kapan bisa melaluinya, untuk bisa berjalan lebih mudah. Tapi itu
tidak kunjung terjadi. Mungkin ini yang dimaksud Alice ketika mengatakan aku tidak akan
sanggup menjauh dari gadis itu. Dia sudah melihat akumulasi sakitku, dan bukannya
berkurang. Tapi aku bisa menahan sakit.
Aku tidak akan menghancurkan masa depan Bella. Jika ditakdirkan mencintai dia,
bukankah menghindari dia adalah hal minimal yang bisa kulakukan?
Tapi menghindari dia adalah batasan yang mampu kutanggung. Aku bisa berlagak
mengabaikan dia, tidak pernah melihat ke arahnya. Aku bisa berlagak dia tidak menarik
perhatianku. Tapi hanya sebatas itu, hanya berlagak, bukan yang sebenarnya.
Aku selalu memperhatikan setiap tarikan napasnya, setiap kata yang ia ucap.
Aku membagi penyiksaanku menjadi empat kategori.
Dua yang pertama sudah tidak asing. Aroma dan kesunyian- mental dia. Atau, bisa
dibilang—untuk meletakan tanggung jawab pada diriku, seperti yang semestinya—rasa haus
90
dan penasaranku.
Yang pertama adalah yang paling pokok. Aku tidak pernah bernapas selama pelajaran
biologi. Tentu saja ada pengecualian—saat harus menjawab pertanyaan, atau sesuatu yang
seperti itu, aku butuh mengambil napas untuk bicara. Setiap kali, efeknya sama seperti hari
pertama—terbakar, haus, dan kebengisan yang ingin meloncat keluar. Pada saat seperti itu
sangat sulit untuk berpikiran waras. Dan, sama seperti di hari pertama, monster dalam diriku
sudah siap dengan giginya, begitu dekat dengan permukaan...
Sedang penasaran adalah yang paling konstan dari penyiksaanku. Pertanyaan ini terus
mengahantui:
Apa yang sedang ia pikirkan
sekarang? Saat kudengar dia mendesah pelan.
Saat tanpa sadar memilin rambutnya. Saat menjatuhkan bukunya lebih keras dari biasanya.
Saat terburu-buru masuk kelas terlambat. Saat mengetuk-ngetukan kakinya tidak sabaran ke
lantai.
Tiap gerakan yang tertangkap ujung mataku adalah misteri yang menjengkelkan. Ketika
ia bicara ke murid lain, aku menganalisa tiap kata dan intonasinya. Apa dia mengutarakan
pikirannya, atau sekedar mengatakan yang sebaiknya dikatakan? Kedengarannya ia lebih
sering mengutarakan apa yang diharapkan lawan bicaranya. Ini mengingatkan aku pada
keluargaku dan keseharaian palsu kami—kami melakukannya jauh lebih baik dari dia.
Kecuali kalau penangkapanku itu salah, dan hanya bayanganku saja. Kenapa juga dia harus
pura-pura? Dia bagian dari mereka—manusia remaja.
Mike Newton secara mengejutkan masuk dalam bagian penyiksaanku. Siapa sangka
manusia-kebanyakan yang membosankan seperti dia bisa jadi sangat mengesalkan? Kalau
mau adil, aku seharusnya berter ima kasih pada bocah itu. Dia membuat gadis itu terus bicara.
Aku banyak belajar tentang dia dari situ—aku masih terus melengkapi daftarku. Tapi
sebaliknya, bantuan Mike justru membuatku makin jengkel. Aku tidak ingin Mike menjadi
orang yang memecahkan rahasia gadis itu. Aku yang ingin melakukannya.
Untung Mike tidak pernah menyadari pertanda kecil yang kadang muncul pada bahasa
tubuhnya. Dia membentuk sosok Bella yang tidak nyata—seorang perempuan seumum
dirinya. Dia tidak memperhatikan ketidak-egoisan dan keberanian yang membedakan Bella
dari manusia lain. Dia tidak mendengar kedewasaan-abnormal pikirannya saat ia bicara. Dia
tidak menyadari ketika Bella membicarakan ibunya, dia kedengaran lebih seperti orang tua
91
membicarakan anaknya daripada sebaliknya—penuh sayang, murah hati, kagum, dan
cenderung protektif. Bocah itu tidak mendengar kesabaran pada suaranya ketika ia pura-pura
tertarik pada segala macam ceritanya, dan tidak menilai kebaikan hati dibalik kesabarannya
itu.
Dari percakapan gadis itu dengan Mike, aku berhasil menambahkan satu sifat yang
paling penting kedalam daftarku, yang paling menonjol, sangat sederhana namun jarang
kujumpai: Bella orang
baik.
Sifat yang lainnya cuma penjabaran dari itu—baik hati, tidak
cari perhatian, tidak egois, penyayang, dan berani—dia benar-benar orang baik.
Bagaimanapun juga penemuan bermanfaat ini tidak melunakan sikapku pada si bocah.
Sikap posesifnya terhadap Bella—seolah Bella akan jadi miliknya—memancing
kemarahanku, hampir sebesar yang diakibatkan segala fantasinya tentang Bella. Seiring
berjalannya waktu ia juga lebih percaya diri. Karena tampaknya Bella lebih memilih dia
ketimbang cowok lain yang ia anggap saingan—Tyler Crowley, Eric Yorkie, dan bahkan,
kadang-kadang, diriku.
Secara rutin ia selalu duduk di sisi mejanya sebelum kelas dimulai, mengajaknya
ngobrol, tersemengati melihat senyumannya. Hanya senyum sopan, aku mengatakan pada
diriku sendiri. Tiap kali aku selalu menghibur diri dengan membayangkan menapuk
wajahnya hingga terlempar ke tembok... itu tidak akan terlalu fatal...
Mike jarang menganggapku sebagai saingan. Setelah insiden waktu itu, dia sempat
khawatir Bella dan aku jadi lebih dekat, tapi yang terjadi justru sebaliknya. Sebelumnya dia
selalu terganggu dengan tatapanku yang selalu tertuju pada Bella
.
Tapi kini aku sama
mengabaikannya seperti yang lain, dan itu membuat Mike puas.
Apa yang sedang ia pikirkan? Apa dia menyukai perhatian Mike?
Dan, akhirnya, hal terakhir dari siksaanku, yang paling menyakitkan: sikap acuh Bella.
Sama seperti aku mengacuhkan dia, dia mengacuhkan aku. Dia tidak pernah mengajakku
bicara lagi. Yang bisa kuketahui, dia tidak pernah memikirkan aku sama sekali.
Ini bisa membuatku gila—atau bahkan mematahkan tekadku untuk merubah masa
depan. Kecuali kadang ia menatapku dengan tatapan yang sama seperti dulu. Aku tidak
melihatnya sendiri. Aku melarang diriku untuk melihat ke dia. Tapi Alice selalu memberi
peringatan ketika ia akan menoleh ke arah kami; yang lain masih khawatir pada gadis itu.
92
Itu sedikit mengurangi rasa sakit, mengetahui kadang ia memandangiku dari jauh.
Tentu saja, bisa jadi dia cuma sedang mengira-ngira mahluk mengerikan apa aku ini.
“Bella sebentar lagi akan melihat ke Edward. Bersikap wajar,” kata Alice pada suatu
selasa di bulan Maret. Semua segera membuat gerak-gerik kecil dan mengganti tumpuan
layaknya manusia; tidak bergerak sama sekali—beku—adalah ciri kaum kami.
Aku menghitung seberapa sering dia melihat ke arahku. Itu membuatku senang,
meskipun seharusnya tidak, bahwa frekuensinya tidak berkurang sama sekali. Aku tidak tahu
apa artinya, tapi membuatku merasa jauh lebih baik.
Alice mendesah.
Aku harap...
“Jangan ikut campur, Alice,” tukasku dari balik napas. “Itu tidak akan terjadi.”
Dia cemberut. Alice sangat penasaran ingin mewujudkan mimpi-persahabatannya
dengan Bella. Dalam cara yang aneh, dia merindukan perempuan yang tidak ia kenal.
Aku akui, kau lebih baik dari yang kukira. Kau membuat masa depan itu menjadi kabur
dan kacau lagi. Semoga kau senang.
“Itu sangat masuk akal buatku.”
Dia mendengus.
Aku berusaha membuatnya diam. Aku sedang tidak ingin ngobrol. Moodku sedang
jelek—lebih tegang dari yang mereka lihat. Hanya Jasper yang menyadari. Dia membaca
luapan pancaran stres dariku dengan kemampuan uniknya, yang bisa merasa dan
mempengaruhi mood orang lain. Namun dia tidak mengerti alasan dibalik mood itu, dan—
karena setiap hari moodku memang selalu buruk—dia mengabaikannya.
Hari ini akan sulit. Lebih sulit dari kemarin. Selalu begitu polanya.
Mike Newton, bocah menjengkelkan yang tidak boleh kuanggap sebagai saingan,
berencana mengajak Bella kencan.
Sebentar lagi akan ada pesta dansa musim semi. Kali ini pihak perempuan yang
memilih pasangannya. Dan Mike sangat berharap Bella akan mengajak dia. Tapi Bella masih
belum mengajaknya, dan ini menggoyahkan kepercayaan dirinya. Posisinya terjepit—aku
menikmati kegusaran dia lebih dari semestinya—karena Jessica Stanley sudah mengajak dia
duluan. Dia tidak mau menjawab “ya,” karena masih berharap Bella memilih dia (menjadi
bukti kemenangan atas para pesaingnya), tapi ia juga segan menjawab “tidak,” takut berakhir
93
tidak mendapatkan keduanya.
Jessica sendiri tersinggung dengan keraguan Mike. Ia bisa menebak alasan dibaliknya,
dan ia jadi menjelek-jelekkan Bella di pikirannya. Lagi, instingku membuatku ingin
meletakan diri diantara pikiran marah Jessica dan Bella. Aku memahami insting itu lebih baik
sekarang, tapi justru jadi lebih menjengkelkan karena tidak bisa melakukan apa- apa.
Tidak kusangka bisa sampai sejauh ini! Bisa-bisanya aku sampai ingin terlibat dalam
drama picisan yang sebelumnya sempat kuhina-hina ini.
Mike sedang memberanikan diri saat berjalan bersama Bella ke kelas biologi. Aku
mendengarkan pergolakan batinya saat menunggu mereka masuk. Bocah itu lembek. Dia
sengaja cuma menunggu, takut ketertarikannya diketahui Bella sebelum ia menunjukan
tanda-tanda akan mengajaknya. Dia tidak ingin terlihat lemah hingga ditolak. Dia lebih
memilih Bella duluan yang mulai.
Pengecut.
Dia duduk di ujung meja lagi, merasa nyaman dengan kebiasaan itu. Aku
membayangkan bagaimana suaranya jika badannya membentur tembok hingga tulang-
tulangnya remuk.
“Jadi,” kata Mike ke gadis itu. Matanya menatap lantai. “Jessica memintaku pergi
dengannya ke pesta dansa musim semi.”
“Bagus, dong,” Bella langsung menjawab dengan penuh semangat. Sulit untuk tidak
tersenyum saat Mike akhirnya menyerap nada itu. Dia mengharapkan tanggapan yang
negatif. “Kau akan bersenang- senang dengan Jessica.”
Dia berjuang mencari lanjutan yang tepat. “
Well
...” dia ragu-ragu, dan hampir secara
kecut mundur. Kemudian ia memberanikan diri lagi. “Aku bilang padanya akan kupikirkan.”
“Kenapa kau bilang begitu?” Nadanya tidak setuju, tapi ada secuil kelegaan juga.
Apa
itu
artinya? Kemarahan yang muncul tiba-tiba membuat tanganku mengepal.
Mike tidak mendengar kelegaan itu. Wajahnya merah padam—panasnya langsung
terasa, ini seperti undangan—dan ia melihat ke lantai lagi.
“Aku bertanya-tanya jika...
well
, jika kau mungkin punya rencana untuk mengajakku.”
Bella ragu-ragu.
Dalam sedetik keraguan itu, aku melihat masa depannya dengan lebih jelas.
94
Gadis itu mungkin akan menjawab 'ya' pada Mike, atau mungkin 'tidak'. Tapi, apapun
itu, suatu saat nanti, ia akan berkata ya pada seseorang. Dia menyenangkan dan menawan.
Para pria-manusia sangat menyadari hal itu. Entah ia akan memilih diantara orang-orang
menyedihkan ini, atau menunggu sampai pergi dari Forks, akan datang hari dimana ia
akan
berkata ya.
Aku melihat hidupnya dengan sangat jelas—kuliah, karir...percintaan, pernikahan. Aku
melihat dia dalam gandengan ayahnya lagi, bergaun putih gading, wajahnya bersemu bahagia
saat berjalan dengan iringan simfoni Wagner.
Luka yang kurasakan melebihi segalanya. Manusia biasa pasti akan mati menanggung
sakit seperti ini—mereka tidak akan bisa hidup.
Dan bukan cuma sakit, tapi sekaligus amarah yang sangat.
Amarah ini menuntut pelampiasan sekarang juga. Meskipun bocah ini bukan yang akan
dijawab ya oleh Bella, tanganku gatal ingin meremukan tengkoraknya, menjadikan dia
sebagai contoh bagi siapapun yang ingin mendekati Bella.
Aku tidak memahami perasaan ini—campuran dari rasa sakit, amarah, hasrat, dan putus
asa. Aku belum pernah merasakan sebelumnya; aku tidak bisa menamakannya.
“Mike, menurutku kau harus bilang ya padanya,” Bella menjawab dengan suara lembut.
Harapan Mike runtuh. Dalam kesempatan berbeda aku akan menikmatinya, tapi aku
sedang bingung dengan perasaan menyakitkan ini—dan menyesali dampaknya padaku.
Alice benar. Aku
tidak
cukup kuat.
Saat ini, Alice akan mengamati bagaimana masa depan akan berputar dan berubah-
ubah. Apa ini akan membuatnya senang?
“Apa kau sudah mengajak seseorang?” Mike bertanya dengan kesal terpendam. Dia
mendelik padaku, curiga untuk pertama kalinya selama berminggu-minggu ini. Aku sadar
telah mengkhianati tekadku sendiri; kepalaku sedikit miring kearah Bella.
Rasa iri liar dalam pikiran Mike—iri pada siapapun yang dipilih gadis ini—mendadak
memberi nama pada emosi-tak-bernamaku.
Aku cemburu.
“Tidak,” gadis itu berkata dengan sedikit jejak humor di suaranya. “Aku tidak akan
datang ke pesta dansa.”
95
Melebihi segala penyesalan dan marah, aku merasa lega pada jawabannya. Saat itu juga
aku mulai mempertimbangakan saingan-saingan
ku yang
lain.
“Kenapa tidak?” Mike bertanya dengan agak kasar. Aku tersinggung mendengar Mike
menggunakan nada seperti itu ke dia. Aku menahan geramanku.
“Aku akan pergi ke Seattle sabtu itu,” jawabnya.
Penasaranku tidak sehebat sebelumnya—kini saat aku telah berniat untuk mencari
jawaban pertanyaan itu. Aku akan segera tahu alasannya sebentar lagi.
Suara Mike berubah membujuk. “Tidak bisa kah kau pergi lain kali?”
“Maaf, tidak bisa.” Bella kini agak ketus. “Jadi sebaiknya kau tidak membuat Jess
menunggu lebih lama—itu tidak baik.”
Kepeduliannya pada Jessica mengipasi api cemburuku. Perjalanan ke Seattle jelas-jelas
cuma alasan untuk mengelak—apa penolakannya murni karena loyalitas dia pada temannya?
Dia jauh lebih dari tidak-egois jika begitu. Apa sebetulnya dia berharap bisa berkata ya?
Atau, apa keduanya bukan? Jangan-jangan dia tertarik dengan orang lain?
“Ya, kau benar,” gumam Mike, sangat terpukul hingga aku hampir merasa kasihan.
Hampir.
Di menjatuhkan pandangannya dari si gadis, menghentikan pandanganku ke wajah
Bella dalam pikirannya.
Hal itu tidak boleh terjadi.
Maka untuk pertama kalinya dalam sebulan, aku menoleh untuk membaca sendiri
wajahnya. Rasanya sangat lega membiarkan diriku melakukan ini, seperti tarikan napas di
permukaan pada penyelam yang kehabisan oksigen.
Matanya tertutup, dua tangannya menekan kedua sisi wajahnya. Bahunya terkulai
galau. Dia menggeleng sangat pelan, seolah ingin mengusir sesuatu dari pikirannya.
Frustasi. Menarik.
Suara Mr. Banner membangunkan dia dari lamunan. Matanya pelan-pelan membuka.
Dan ia langsung melihat kearahku, mungkin merasakan tatapanku. Dia menatap kedalam
mataku dengan ekspresi penuh tanya yang sama dengan yang menghantuiku selama ini.
Aku tidak merasa menyesal, bersalah, atau marah dalam detik ini. Aku tahu segala
perasaan itu akan datang lagi, tapi untuk saat ini aku dimabukan oleh kegugupan yang aneh.
96
Seakan aku telah menang, dan bukannya kalah.
Dia tidak membuang muka, meskipun aku menatapnya dengan keingintauan yang tidak
pantas, sia- sia mencoba membaca pikirannya melalui mata coklat mudanya. Matanya penuh
pertanyaan daripada jawaban.
Aku bisa melihat pantulan mataku sendiri. Dua mataku hitam karena haus. Hampir dua
minggu sejak terakhir kali berburu; ini bukan hari yang aman bagi keruntuhan niatku. Tapi
sepertinya kegelapan mataku tidak menakuti dia. Ia masih tidak membuang muka, hingga
kemudian semburat halus merah muda meronai pipinya.
Apa yang sedang ia pikirkan?
Aku hampir menanyakan itu keras-keras, tapi kemudian Mr. Banner memanggil
namaku. Aku memilih jawaban yang benar dari pikirannya sambil menoleh sekilas.
Aku menarik napas cepat. “Siklus Krebs.”
Rasa haus menghanguskan tenggorokanku—mengencangkan otot-ototku dan
memenuhi mulutku dengan liur. Aku memejam, berusaha berkonsentrasi menghalau hasrat
akan darahnya yang mengamuk dalam diriku.
Monster itu jauh lebih kuat dari sebelumnya. Monster itu sedang berlonjak gembira.
Dia merengkuh dua pilihan masa depan yang membuat posisinya imbang, kesempatan sama
besar yang selama ini ia idam-idamkan dengan licik. Pilihan ketiga yang coba kubangun
dengan kekuatan niat semata telah runtuh—dihancurkan oleh kecemburuan sepele—dan
monster itu hampir mencapai tujuannya.
Penyesalan dan rasa bersalah terbakar bersama dahaga. Jika aku punya kemampuan
memproduksi air mata, mataku pasti sudah berlinangan sekarang.
Apa yang telah kulakukan?
Mengetahui telah kalah, sudah tidak ada lagi alasan untuk menahan apa yang
kuinginkan; aku kembali memandangi gadis itu lagi.
Dia bersembunyi dibalik rambutnya, tapi aku bisa melihat melalui celah rambutnya
bagaimana pipinya kini berwarna merah terang.
Sang monster menyukai itu.
Dia tidak membalas tatapanku lagi, tapi jarinya memilin rambut gelapnya dengan
gugup. Jari tangannya yang lembut, pergelangan tangannya yang rapuh—keduanya sangat
97
ringkih, bahkan hanya dengan hembusan napas bisa kupatahkan.
Tidak, tidak, tidak. Aku tidak bisa melakukan ini. Dia terlalu rapuh, terlalu baik, terlalu
berharga untuk menerima takdir ini. Aku tidak mengijinkan kehidupanku menghancurkan
hidupannya.
Tapi aku juga tidak bisa menjauh dar i dia. Alice betul tentang itu.
Monster dalam diriku mendesesis frustasi saat aku bimbang.
Selama terombang-ambing, satu jam singkatku bersama dia berlalu cepat. Bel berbunyi,
dan ia mengumpulkan barang-barangnya tanpa menengok. Ini membuatku kecewa, tapi tidak
mungkin berharap sebaliknya. Caraku memperlakukan dia sejak insiden itu tidak termaafkan.
“Bella?” kataku tanpa bisa kucegah. Tekadku sudah tercabik- cabik.
Dia bimbang sebelum melihat ke arahku; saat menoleh ekspresinya hati-hati, curiga.
Aku mengingatkan diriku sendiri bahwa ia sangat berhak untuk tidak percaya padaku.
Bahwa seharusnya begitu.
Dia menunggu, tapi aku hanya memandanginya, membaca wajahnya. Aku menarik
napas pendek, melawan rasa hausku.
“Apa?” dia akhirnya bertanya. “Apa kau bicara denganku lagi?” ada bagian pada
kekesalannya, yang seperti ketika marah, justru terlihat menggemaskan. Itu membuatku ingin
tersenyum.
Aku tidak begitu yakin bagaimana menjawabnya.
Apa
aku bicara dengan dia lagi,
dalam pengertian yang ia maksud?
Tidak. Tidak jika aku bisa menghindarinya. Aku akan berusaha menghindarinya.
“Tidak, tidak juga,” aku memberitahu dia.
Dia menutup mata, yang membuatku frustasi. Ini memotong jalurku membaca
perasaannya. Dia mengambil napas panjang tanpa membuka mata. Rahangnya terkunci.
Matanya masih tertutup saat bicara. Tentu ini bukan kebiasaan manusia normal. Kenapa
dia melakukannya?
“Lalu apa maumu, Edward?”
Mendengar namaku diucapkan oleh bibirnya, berdampak aneh pada tubuhku. Jika aku
punya detak jantung, pastilah berdetak lebih cepat.
Tapi bagaimana menjawabnya?
98
Apa adanya, aku memutuskan. Aku akan berkata apa adanya mulai sekarang. Aku tidak
mau tidak-dipercaya oleh dia, bahkan jika untuk mendapat keper cayaannya adalah mustahil.
“Aku minta maaf.” itu adalah hal yang paling jujur. Sayangnya aku cuma bisa minta
maaf dengan aman atas hal yang sepele. “Aku tahu sikapku sangat kasar. Tapi lebih baik
seperti itu, sungguh.”
Akan lebih baik bagi dia jika aku terus bersikap kasar. Apa aku bisa?
Matanya membuka, ekspresinya masih hati-hati.
“Aku tidak tahu apa maksudmu.”
Aku coba memberi peringatan sebatas yang kubisa. “Lebih baik kita tidak berteman.”
tentu dia menyadari peringatan itu. Dia perempuan cerdas. “Percayalah.”
Matanya menyipit. Aku ingat pernah mengatakan itu sebelumnya—tepat sebelum
melanggarnya. Aku mengernyit saat dia menggertakan gigi—jelas dia juga masih ingat.
“Sayang sekali kau tidak menyadarinya sejak awal,” ujarnya marah. “Jadi kau tidak
perlu repot-repot menyesal begini.”
Aku memandangnya syok. Apa yang ia ketahui tentang penyesalanku?
“Menyesal? Menyesal kenapa?” tanyaku menuntut.
“Karena tidak membiarkan
van
bodoh itu menimpaku!” dia meledak marah.
Aku membeku, bingung.
Bagaimana bisa dia berpikir seperti
itu?
Menyelematkan nyawanya adalah satu-satunya
pilihan tepat yang kulakukan sejak bertemu dia. Satu-satunya yang tidak membuatku malu.
Satu dan hanya satu-satunya yang membuatku lega telah 'hidup'. Aku terus berjuang agar dia
tetap hidup sejak pertama mencium aromanya. Bisa-bisanya dia berpikir seperti itu padaku.
Berani-beraninya dia mempertanyakan satu- satunya perbuatan baikku diantara semua
kekacauan ini.
“Kau pikir aku menyesal telah menyelamatkanmu?”
“Aku
tahu
kau merasa begitu,” dia menjawab dengan ketus.
Kesinisannya atas maksud baikku membuatku menggelegak marah. “Kau tidak tahu
apa-apa.”
Betapa ruwetnya cara kerja pikirannya! Dia pasti tidak berpikir dengan cara yang sama
seperti manusia manapun. Pasti itu penjelasan dibalik kesunyian-mentalnya. Dia sama sekali
99
berbeda.
Dia membuang muka dan menggertakan gigi lagi. Pipinya merona, kali ini karena
marah. Dia menumpuk buku-bukunya dengan kasar, menyambarnya, lalu berjalan ke pintu
tanpa menoleh ke arahku.
Bahkan saat kesal seperti ini, mustahil tidak menganggap ekspresi marahnya sedikit
menghibur.
Langkahnya kaku, tanpa terlalu memperhatikan jalan, dan kakinya tersangkut ujung
pintu. Dia tersandung dan semua bukunya jatuh berantakan. Bukannya memunguti barang-
barangnya, dia hanya berdiri mematung, bahkan tidak melihat kebawah, seakan tidak yakin
buku-buku itu pantas diambil.
Aku berusaha tidak tertawa.
Tidak ada yang memperhatikan aku; aku segera ke sisinya, mengumpulkan semua
buku-bukunya sebelum ia melihat kebawah.
Dia membungkuk, melihatku, dan kemudian membeku. Kuserahkan buku-bukunya,
sambil kupastikan kulit dinginku tidak menyentuhnya.
“terima kasih,” jawabnya dingin.
Nada bicaranya mengembalikan kemarahanku.
“Sama-sama,” kataku sama dinginnya.
Dia bangkit berdiri lalu langsung pergi ke kelas berikutnya tanpa menoleh.
Aku memperhatikan sampai sosoknya hilang.
Pelajaran bahasa Spanyol berjalan kabur. Mrs. Goff tidak menggubris kelinglungan-ku
—dia tahu bahasa Spanyolku jauh lebih fasih dibanding dia, karena itu ia memberi banyak
kelonggaran—membuatku bebas untuk berpikir.
Jadi, aku tidak bisa mengabaikan gadis itu. Hal itu sudah pasti. Tapi apa artinya aku
tidak punya pilihan selain menghancurkan dia? Itu
tidak
mungkin satu-satunya masa depan
yang tersisa. Pasti ada pilihan lain, yang lebih manusiawi.
Aku berusaha memikirkan suatu cara...
Aku tidak terlalu memperhatikan Emmet sampai jam pelajaran hampir selesai. Dia
penasaran—Emmet tidak terlalu pandai membaca mood orang lain, tapi ia bisa melihat
perubahan nyata pada diriku. Dia bertanya-tanya apa yang terjadi. Dia berupaya keras
100
mendefinisikan perubahannya. Dan akhirnya memutuskan bahwa aku ter lihat
penuh harapan
.
Penuh harapan? Apa seperti itu kelihatannya dari luar?
Aku mempertimbangkan ide akan harapan selama berjalan ke mobil. Kira-kira
seharusnya aku berharap
apa
?
Tapi aku tidak punya banyak waktu untuk mempertimbangan hal itu. Sesensitif seperti
biasanya, suara nama Bella di kepala...sainganku—harus kuakui—menarik perhatianku. Eric
dan Tyler, telah mendengar—dengan puas sekali—atas kegagalan Mike. Mereka berdua
sedang mempersiapkan langkah mereka sendiri.
Eric telah mengambil posisi duluan. Dia menyandar ke truk Bella agar dia tidak bisa
menghindar. Kelas Tyler keluar agak telat, dan ia mesti buru-buru sebelum terlambat
mengejar Bella.
Yang ini aku harus lihat.
“Tunggu yang lain disini, oke?” aku menggumam pada Emmet.
Matanya curiga, tapi ia cuma mengangkat bahu dan mengangguk.
Anak ini mulai gila.
Dia membatin, geli dengan permintaan anehku.
Aku melihat Bella keluar dari gimnasium. Aku menunggu di tempat yang tidak
kelihatan. Saat ia mulai mendekati sergapan Eric, baru aku jalan, mengatur langkahku agar
nanti bisa lewat di waktu yang pas.
Aku memperhatikan bagaimana ia terkejut melihat bocah itu disamping truknya. Dia
terhenti sebentar, kemudian rileks lagi dan meneruskan langkahnya.
“Hai, Eric,” ia menyapa dengan suara ramah.
Tiba-tiba aku jadi gelisah. Bagaimana jika bocah ceking dengan kulit bermasalah ini,
entah bagaimana, menyenangkan hatinya?
Eric menyaut dengan terlalu keras, “Hai, Bella.”
Gadis itu sepertinya tidak menyadari kegugupan Eric.
“Ada apa?” Dengan santai ia membuka pintu truknya tanpa melihat ke wajah cemas
bocah itu.
“Mmm, aku cuma bertanya- tanya...maukah kau pergi ke pesta dansa musim semi
bersamaku?” suaranya bergetar.
Dia akhirnya menoleh. Apa dia terkejut, bingung, atau senang? Eric tidak sanggup
101
5.
Langganan:
Postingan (Atom)

