Alunan nadanya kemudian melayang menuju kenyataan itu, melambat dan semakin
lambat. Suara Alice pun ikut turun, berubah khidmat, seperti alunan nada yang
dikumandangkan di bawah gema lengkung katedral.
Kumainkan nada terakhir, dan kemudian aku menundukkan kepala ke atas tuts piano.
Esme mengelus rambutku.
Semua akan baik-baik saja, Edward. Akan ada jalan keluar
yang terbaik. Kau pantas mendapatkan kebahagiaan, anakku. Takdir berhutang padamu.
“Terima kasih,” bisikku, berharap bisa mempercayainya.
Cinta tidak selalu datang dalam kemasan yang umum.
Aku tertawa ironis.
Kau, diantara siapapun di dunia ini, barangkali adalah yang paling siap menghadapi
kesulitan ini. Kau adalah yang terbaik dan paling cemerlang diantara kami semuanya.
Aku mendesah. Setiap ibu punya pikiran yang sama tentang anak mereka.
Esme masih sangat gembira karena setelah sekian lama akhirnya ada yang bisa
menyentuh hatiku, tak perduli betapa besar kemungkinannya akan berakhir tragis. Sebelum
ini dia mengira aku akan selamanya sendirian...
Dia pasti mencintaimu,
pikirnya tiba- tiba, mengejutkan aku dengan arah pikirannya.
Jika dia gadis yang cemerlang.
Dia tersenyum.
Tapi tidak bisa kubayangkan ada orang yang
begitu lambannya hingga tidak menyadari betapa menariknya dirimu.
“Hentikan,
Mom
, kau membuatku tersipu,” godaku dengan canda. Perkataannya, meski
terdengar mustahil, ternyata menghiburku.
Alice tertawa dan memainkan sepenggal lagu “Heart and Soul.” aku tersenyum dan
menyelesaikan melodinya yang sederhana bersamanya. Kemudian aku menyenangkan
hatinya dengan memainkan “Chopsticks.”
Dia tertawa geli, kemudian mengehela napas. “Kuharap kau mau memberitahu apa
yang tadi kau tertawakan pada Rose,” ujarnya. “Tapi aku bisa melihat kau tidak bakalan
cerita.”
“Tidak.”
Dia menggelitik telingaku dengan jarinya.
“Jaga sikapmu, Alice,” Esme mengingatkan. “Edward hanya bersikap sopan.”
“Tapi aku ingin
tahu.
”
146
Aku tertawa mendengar rengekannya. Kemudian aku berkata, “Ini, Esme,” dan mulai
memainkan lagu kesukaannya, sebuah lagu yang kudedikasikan untuk rasa cinta yang
kutangkap diantara Esme dan Carlisle selama ini.
“Terima kasih, sayang.” Dia meremas pundakku lagi.
Aku tidak perlu berkonsentrasi untuk memainkan lagu yang sudah sering kumainkan
ini. Sebagai gantinya, aku memikirkan Rosalie, yang masih menderita memikirkan aibnya di
garasi, dan aku menyeringai sendiri.
Karena aku baru saja bisa merasakan cemburu itu seperti apa, aku jadi sedikit merasa
kasihan padanya. Rasanya sangat tidak mengenakan. Tentu saja, kecemburuannya beribu-ribu
kali lebih dangkal dibanding kecemburuanku. Kecemburuan dia lebih mirip dengan kisah
serigala dan tiga babi.
Aku membayangkan, mungkinkah kehidupan dan kepribadian Rosalie akan berbeda
seandainya dia tidak selalu menjadi yang paling cantik. Apa dia akan lebih bahagia jika
kecantikan tidak selalu menjadi andalannya? Tidak terlalu egosentris? Lebih mur ah hati?
Well
, sepertinya sia-sia. Yang terjadi, sudah terjadi, dan dia selalu
menjadi
yang paling
cantik. Bahkan ketika masih manusia, dia selalu jadi pusat perhatian. Bukannya dia
keberatan, sebaliknya, dia justru menyukai perhatian itu lebih dari segalanya. Dan itu tidak
berubah seiring transformasinya jadi seperti sekarang.
Maka tidak terlalu mengejutkan—mengingat kebutuhannya itu bisa dianggap sebagai
sifat bawaan—dia merasa tersinggung ketika aku, sejak pertama kali bertemu, tidak memuja
kecantikannya seperti yang ia harap semua pria memujanya. Tapi itu bukan berar ti dia
mendambakan
aku
dalam konteks romansa—jauh dari itu. Walau bagaimanapun, baginya itu
tetap menjengkelkan bahwa aku tidak menginginkan dirinya. Dia terbiasa diinginkan.
Kasusnya berbeda dengan Jasper dan Carlisle—mereka berdua sudah lebih dulu jatuh
cinta. Sedang aku, tidak berhubungan dengan siapapun, dan tetap saja bergeming.
Kupikir kebencian lama itu telah terkubur, bahwa dia telah lama melewatinya.
Dan, dia memang sudah lupa...sampai hari ketika akhirnya aku menemukan seseorang
yang kecantikannya menyentuhku dengan cara yang tidak ia dapatkan.
Rosalie beranggapan bahwa jika aku tidak menganggap kecantikan
nya
pantas dipuja,
maka jelas tidak ada kecantikan di bumi ini yang akan sanggup menjangkauku. Dia sudah
147
mulai uring-uringan sejak saat aku menyelamatkan Bella. Dia sudah menebak, dengan
ketajaman intuisi perempuannya, pada ketertarikanku yang tidak kusadari.
Rosalie sangat-sangat tersinggung bahwa aku bisa menemukan seorang manusia biasa
yang kuanggap lebih menarik dibanding dirinya.
Aku menahan dorongan untuk tertawa lagi.
Meskipun sebetulnya sedikit mengesalkan juga, melihat bagaimana penilaiannya
tentang Bella. Rosalie sungguh-sungguh berpikir gadis itu
biasa-biasa saja
. Bagaimana
mungkin dia bisa mempercayai itu? Itu sangat tidak masuk akal buatku. Buah dari cemburu,
pasti itu.
“Oh!” Alice tiba-tiba berkata. “Jasper, coba tebak?”
Aku melihat apa yang barusan ia lihat, dan tanganku langsung membeku di satu nada.
“Apa, Alice?” tanya Jasper.
“Minggu depan Peter dan Charlotte akan datang mengunjungi kita! Mereka akan lewat
di sekitaran sini, bukankah itu menyenangkan?”
“Ada apa, Edward?” tanya Esme saat merasakan ketegangan di bahuku.
“Peter dan Charlotte akan datang ke
Forks
?” Aku mendesis pada Alice.
Dia memutar bola matanya ke aku. “Tenanglah, Edward. Ini bukan kunjungan
pertamanya.”
Gigiku langsung menggertak.
Ini
kunjungan pertamanya sejak Bella datang, dan
darahnya yang manis bukan cuma mengundang seleraku.
Alice mengerutkan dahi melihat ekspresiku. “Mereka tidak pernah berburu disini. Kau
tahu itu.”
Tapi vampir yang bisa dibilang saudara Jasper dan vampir kecil pasangannya berbeda
dengan kami; mereka berburu seperti vampir kebanyakan. Mereka tidak bisa dipercaya
dengan adanya Bella.
“Kapan?” tanyaku.
Alice cemberut tidak suka, tapi memberitahu apa yang kubutuhkan.
Senin pagi. Tidak
akan ada yang akan menyakiti Bella.
“Itu betul,” aku sependapat, dan kemudian bangkit berdiri. “Kau siap, Emmet?”
“Kupikir kita akan pergi besok pagi?”
148
“Kita akan kembali minggu malam. Terserah padamu kapan perginya.”
“Oke. Aku pamit dulu dengan Rosalie.”
“Tentu.” Dengan suasana hati Rosalie sekarang, itu akan singkat.
Otakmu benar-benar terganggu, Edward,
batinnya ketika berjalan menuju pintu
belakang.
“Sepertinya aku memang begitu.”
“Mainkan lagu baru itu untuk ku, sekali lagi,” pinta Esme.
“Kalau kau memang suka,” aku setuju, meski sedikit bimbang mengikuti alunannya
menuju akhir yang tak terelakan—akhir yang membuatku sakit dengan cara yang tidak lazim.
Aku merenung sejenak, kemudian mengeluarkan tutup botol dari kantongku dan
meletakannya diatas piano. Itu agak menolong—sedikit kenang-kenangan dari jawaban '
ya
'
darinya.
Aku mengangguk pada diriku dan memulai lagunya.
Esme dan Alice bertukar pandang, tapi tidak satupun bertanya.
“Bukankah pernah ada yang bilang, jangan bermain-main dengan makananmu?” Aku
meneriaki Emmet.
“Oh, hei Edward!” Dia berteriak balik, menyeringai dan melambai. Beruang itu
memanfaatkan kelengahannya dengan menyapukan cakar besarnya ke dada Emmet. Cakar
tajamnya merobek baju Emmet, dan mendecit menggaruk kulit Emmet.
Beruang itu melenguh keras.
Oh sial, Rose yang memberikan baju ini!
Emmet mengaum balik pada beruang marah itu.
Aku menghela napas dan duduk dengan nyaman diatas sebuah batu besar. Ini tidak
akan makan waktu lama.
Emmet sudah hampir selesai. Dia memberi kesempatan pada beruang itu untuk
menyambar kepalanya dengan ayunan cakarnya lagi, tertawa saat sambaran itu terpental dan
membuat beruang itu mundur kaget. Beruang itu meraung dan juga Emmet meraung dari
balik tawanya. Kemudian ia melontarkan dirinya ke arah beruang itu, yang menjulang jauh
149
lebih tinggi dari Emmet saat beruang itu berdiri, dan mereka berdua jatuh ke tanah saling
bergumul, membuat pohon cemara besar tumbang bersama mereka. Geraman beruang itu
terhenti seiring bunyi tegukan.
Beberapa menit kemudian, Emmet sudah berjalan ke arahku. Bajunya rusak, robek-
robek dan belepotan darah, lengket oleh getah, dan tertutup bulu-bulu. Rambut ikal gelapnya
tidak lebih baik. Ada seringai lebar di wajahnya.
“Yang satu ini lumayan kuat. Saat dia mencakar, aku hampir bisa merasakannya.”
“Kau seperti anak kecil, Emmet.”
Dia memperhatikan kemejaku yang rapih dan bersih. “Bukannya tadi kau sedang
mengikuti seekor singa gunung?”
“Memang iya. Hanya saja aku tidak makan seperti orang barbar.”
Emmet tertawa dengan tawanya yang menggelegar. “Kuharap mereka lebih kuat. Akan
lebih menyenangkan.”
“Tidak ada yang pernah bilang kau harus berkelahi dengan makananmu.”
“Ya, tapi dengan siapa lagi aku harus berkelahi? Kau dan Alice curang, Rose tidak akan
pernah mau rambutnya berantakan, dan Esme selalu marah jika Jasper dan aku mulai
serius
.”
“Hidup itu memang sulit, iya kan?”
Emmet menyeringai padaku, agak merubah tumpuan badannya hingga mendadak ia
sudah dalam posisi siap menyerang.
“Ayolah Edward. Matikan itu sebentar dan bertarunglah secar a adil.”
“Ini tidak bisa dimatikan,” aku mengingatkan dia.
“Kira-kira apa yang telah dilakukan gadis itu untuk menangkalmu?” renung Emmet.
“Barangkali dia bisa memberiku sedikit petunjuk.”
Humorku langsung lenyap. “Jangan dekati dia.” Aku menggeram lewat sela gigiku.
“Huu...sensitif...”
Aku mendesah. Emmet datang duduk disampingku.
“Sori. Aku tahu kau sedang melalaui masa sulit. Aku benar-benar berusaha untuk tidak
terlalu
kurang ajar, tapi itu pembawaan alamiku sama seperti bakatmu...”
Dia menunggu aku menertawakan leluconnya, dan kemudian mengerutkan muka.
Selalu saja serius. Apa yang mengganggumu sekarang?
150
“Memikirkan tentang dia.
Well,
mencemaskan lebih tepatnya.”
“Apa yang perlu dicemaskan? Kau ada
disini
.” Dia tertawa keras-keras.
Aku mengacuhkan leluconnya lagi, tapi menjawab pertanyaannya. “Apa kau pernah
memikirkan bagaimana rapuhnya mereka itu? Betapa banyaknya hal buruk yang mungkin
terjadi pada manusia?”
“Tidak terlalu. Tapi aku bisa menangkap maksudmu. Dulu aku sama sekali bukan
tandingan beruang itu, ya kan?”
“Beruang,” aku memberungut, menambahkan lagi satu ketakutan di daftarku. “Benar-
benar kebetulan, bukan, seandainya ada beruang kesasar ke kota. Dan tentu saja akan
langsung menuju Bella.”
Emmet terkekeh. “Kau kedengaran seperti orang gila.”
“Coba bayangkan sebentar bahwa Rosalie adalah manusia, Emmet. Dan mungkin saja
ia bertemu beruang...atau tersambar petir...atau jatuh dari tangga...atau jatuh sakit—kena
wabah
!” kata-kata itu berhamburan tidak karuan. Rasanya lega sudah mengeluarkannya—hal
itu membusuk dalam diriku sepanjang akhir pekan ini. “Banjir, gempa, dan badai! Ugh!
Kapan terakhir kau menonton berita? Apa kau pernah
melihat
hal-hal seperti itu menimpa
mereka? Perampokan dan pembunuhan...” Gigi-gigiku langsung menggertak, mendadak
sangat murka hingga tidak bisa bernapas, memikirkan bagaimana ada
manusia
lain yang akan
melukainya.
“Woo...woo...! Tahan disitu,
boy
. Dia hidup di Forks, ingat? Paling banter dia akan
kehujanan.” Dia mengangkat bahu.
“Aku rasa dia punya masalah serius dengan kesialan, Emmet. Sungguh. Coba lihat
bukti-buktinya. Dari segala tempat yang bisa ia datangi, dia berakhir di kota dimana populasi
vampir
nya cukup besar.”
“Ya, tapi kita vegetarian. Jadi bukannya itu beruntung?”
“Dengan aroma seperti dia? Jelas itu sial. Dan kemudian, lebih sial lagi, bagaimana
baunya bagi
ku
.” Aku mendelik pada tanganku, membencinya lagi.
“Kecuali bahwa kau memiliki kontrol diri melebihi siapapun kecuali Carlisle. Lagi-lagi
beruntung.”
“Mobil van waktu itu?”
151
“Itu tidak sengaja.”
“Kau harusnya melihat bagaimana van itu mengejarnya, Em, lagi dan lagi. Berani
sumpah, seakan dia punya daya tarik seperti magnet.”
“Tapi kau ada disana. Itu beruntung.”
“Betul begitu? Bukankah itu hal paling sial yang mungkin manusia terima—mendapati
seorang
vampir
jatuh
cinta
padanya?”
Emmet mempertimbangkan hal itu sejenak. Dia membayangkan gadis itu di kepalanya,
dan menemukan sosoknya tidak menarik.
Jujur saja, aku tidak mengerti bagaimana kau bisa
tertarik padanya.
“
Well
, aku juga tidak bisa meliat ada yang menarik dari Rosalie,” kataku kasar. “
Jujur
saja,
dia terlalu menganggap dirinya yang paling cantik dan tidak bisa melihat ada
perempuan cantik lain.”
Emmet terkekeh. “Apa kau akan bilang bahwa dia itu...”
“Aku tidak tahu apa masalah dia, Emmet.” Aku berbohong dengan seringai lebar.
Kemudian aku melihat niatnya tepat pada waktunya untuk bereaksi. Dia coba
menjatuhkan aku dari atas batu, dan terdengar suara pecahan keras saat batu besar itu retak.
“Curang.” Emmet menggerundel.
Aku menunggu dia mencoba lagi, tapi pikirannya beralih ke hal lain. Dia sedang
membayangkan wajah Bella lagi, tapi kini wajahnya jauh lebih putih dan matanya merah
terang...
“Tidak,” kataku dengan suara tercekik.
“Itu menyelesaikan segala kecemasanmu, kan? Kau juga tidak akan tergoda untuk
membunuhnya lagi. Bukankah itu solusi yang paling baik?”
“Untukku? Atau untuknya?”
“Untukmu,” jawabnya mudah. Nada suaranya menambahkan
tentu saja.
Aku tertawa datar. “Jawaban yang salah.”
“Aku sama sekali tidak keberatan.”
“Rosalie iya.”
Dia mendesah. Kami berdua tahu Rosalie akan melakukan apa saja, menyerahkan apa
saja, jika itu bisa membuatnya menjadi manusia lagi. Bahkan menyer ahkan Emmet.
152
“Ya, Rosalie pasti keberatan.”
“Aku tidak bisa... Aku tidak boleh... Aku
tidak
ingin menghancurkan hidup Bella.
Bukankah kau juga akan merasa begitu, jika itu adalah Rosalie?”
Emmet merenungkan itu sebentar.
Kau betul-betul...mencintai dia?
“Aku bahkan tidak bisa menggambarkannya, Emmet. Tiba-tiba saja, Gadis ini segala-
galanya bagiku. Bagiku tidak ada
artinya
lagi seisi dunia ini jika tanpa dia.”
Tapi kau tidak mau merubahnya? Dia tidak akan hidup selamanya, Edward.
“Aku tahu itu,” erangku.
Dan, seperti yang kau bilang, dia kedengarannya terlalu rapuh.
“Percayalah—itu juga aku tahu.”
Emmet bukan orang yang bijaksana, dan pembicaraan serius bukan keahliannya. Dia
berjuang keras sekarang, sangat ingin untuk tidak kurang ajar.
Apa kau bahkan bisa menyentuhnya? Maksudku, jika kau mencintainya...bukankah kau
ingin, well
menyentuh
nya...”
Emmet dan Rosalie mengungkapkan cinta mereka lewat kedekatan fisik yang intens.
Dia tidak bisa mengerti bagaimana seseorang
bisa
mencintai tanpa aspek itu.
Aku menghela napas. “Aku bahkan tidak berani memikirkan hal itu, Emmet.”
Wow, lantas apa pilihanmu, dong?
“Aku tidak tahu,” bisikku. “Aku sedang mencari cara untuk...untuk meninggalkan dia.
Hanya saja aku tidak mengerti bagaimana caranya untuk menjauh...”
Dengan kepuasan mendalam, mendadak aku sadar, keputusanku untuk tinggal adalah
tepat
—paling tidak untuk sekarang, dengan berkunjungnya Peter dan Charlotte. Bella lebih
aman dengan adanya aku di dekat dia, dari pada jika aku pergi. Untuk sementara, aku bisa
jadi pelindungnya, dengan tanda kutip.
Pikiran itu membuatku gelisah; aku tidak sabar ingin segera kembali agar bisa cepat-
cepat memainkan peran itu selama mungkin.
Emmet menyadari perubahan ekspresiku.
Kau sedang memikirkan apa?
“Sekarang ini,” aku mengakuinya agak malu-malu, “Aku ingin cepat-cepat kembali ke
Forks dan melihat keadaannya. Aku tidak tahu apa sanggup bertahan sampai minggu
malam.”
153
“Waduh-waduh! Kau
tidak
boleh pulang lebih cepat. Biarkan Rosalie tenang dulu.
Tolonglah! Demi aku.”
“Iya, akan kucoba,” kataku ragu.
Emmet menepuk handphone di sakuku. “Alice akan menelepon jika ada tanda-tanda
yang akan membuatmu kena serangan jantung. Dia sama tergila- gilanya pada gadis ini
seperti kau.”
Aku meringis pada hal itu. “Baiklah. Tapi aku tidak akan tinggal sampai lewat hari
minggu.”
“Lagi pula, tidak ada gunanya cepat-cepat pulang—matahari akan cerah. Alice bilang
kita akan libur sampai hari rabu.”
Aku menggeleng tegas.
“Peter dan Charlotte bisa menjaga sikap mereka.”
“Aku tidak perduli, Emmet. Dengan keberuntungan seperti Bella, dia akan berkeliaran
di hutan di waktu yang salah dan—” aku langsung membuang jauh-jauh pikiran itu. “Peter
tidak terlalu baik dengan pengendalian dirinya. Aku akan pulang hari minggu.”
Emmet mendesah.
Betul-betul mirip orang gila.
Bella sedang tidur pulas saat aku memanjat jendela kamarnya pada senin dini hari. Kali
ini aku ingat untuk membawa pelumas, dan jendelanya bisa terbuka lancar tanpa suara.
Bisa kulihat dari rambutnya yang tergerai halus di atas bantalnya, tidurnya lebih tenang
dari terakhir aku kesini. Tangannya terlipat disamping pipi seperti anak kecil, dan mulutnya
sedikit terbuka. Aku bisa mendengar napasnya bergerak pelan keluar dan masuk diantara
bibirnya.
Sungguh sangat lega bisa berada disini lagi, bisa melihatnya lagi. Aku sadar bahwa aku
tidak akan benar-benar tenang kecuali kalau itu masalahnya. Tidak ada yang terasa betul saat
jauh darinya. Meski begitu, juga bukan berarti segalanya benar saat aku bersamanya.
Aku menghela napas, membiarkan rasa haus membakar tenggorokanku. Aku sudah
lama tidak merasakannya. Waktu yang terbuang tanpa merasakan itu, termasuk godaannya,
membuat sensainya jadi lebih kuat lagi sekarang. Sangat lebih buruk, sampai-sampai aku
154
takut untuk jongkok di samping tempat tidurnya agar bisa membaca judul buku-bukunya.
Aku ingin tahu cerita-cerita di kepalanya. Tapi aku lebih takut untuk melakukan itu
ketimbang takut dengan hausku. Aku takut jika sedekat itu, aku akan tergoda untuk lebih
mendekat lagi...
Bibirnya terlihat sangat lembut dan hangat. Aku bisa membayangkan menyentuhnya
dengan ujung jariku. Menyentuhnya lembut...
Jelas itu kesalahan yang harus dihindari.
Mataku terus memandangi wajahnya, memperhatikan jika ada yang berubah. Manusia
selalu berubah tiap waktu—aku sedih memikirkan telah melewatkan sesuatu...
Dia kelihatan...lelah. Seakan tidak cukup tidur selama akhir pekan ini. Apa tadi malam
dia punya janji dengan seseorang?
Aku tersenyum kecut, merasakan bagaimana hal itu membuatku kesal. Memang kenapa
kalau dia punya janji? Aku tidak memiliki dia. Dia bukan milikku.
Tidak, dia bukan milikku—dan aku murung lagi.
Salah satu tangannya bergerak, dan aku menyadar i ada bekas lecet di telapak
tangannya. Dia terluka? Walau sadar lukanya cuma lecet kecil, itu tetap menggangguku.
Kuperhatikan lokasinya, dia pasti jatuh. Itu alasan yang paling masuk akal.
Aku merasa jauh lebih tenang karena tidak mesti selamanya bertanya-tanya tentang
misteri kecil ini. Kami
teman
sekarang—atau, paling tidak, berusaha menjadi teman. Aku
bisa menanyakan akhir pekannya—tentang perjalanannya ke pantai, dan apapun yang ia
kerjakan malamnya hingga membuatnya kelihatan letih. Aku bisa bertanya apa yang terjadi
pada tangannya. Dan aku bisa sedikit tertawa saat tebakanku betul.
Aku tersenyum saat bertanya-tanya apakah
kemarin
ia terjatuh ke laut atau tidak. Kira-
kira apa dia menikmati tamasyanya. Apakah dia sempat memikirkan aku. Apakah dia
merindukan aku, bahkan jika itu cuma sepersekian persen dari kerinduanku padanya.
Aku berusaha membayangkan dia dibawah sinar matahari di pantai. Gambaran itu tidak
lengkap karena aku sendiri belum pernah ke pantai La Push. Aku cuma tahu dari foto...
Aku merasa agak gelisah saat mengingat alasanku tidak pernah ke pantai indah itu,
yang lokasinya cuma beberapa menit jika berlari dari rumahku. Bella menghabiskan waktu di
La Push—tempat terlarang bagiku, sesuai dengan perjanjian. Sebuah tempat dimana
155
beberapa tetua masih ingat dengan cerita tentang keluarga Cullen. Ingat dan
mempercayainya. Sebuah tempat dimana rahasia kami diketahui...
Aku menggeleng. Tidak ada yang perlu dicemaskan tentang itu. Suku Quileutes juga
sama terikatnya dengan perjanjian itu. Bahkan jika Bella secara tidak sengaja berjumpa
dengan para tetua itu, mereka tidak akan bilang apa-apa. Dan kenapa juga topik itu
disinggung? Kenapa juga Bella mau mengutarakan rasa penasarannya disana? Tidak—suku
Quileutes mungkin
satu-satunya
hal yang tidak perlu dikhawatirkan.
Aku marah pada matahari saat sudah mulai terbit. Itu mengingatkan bahwa aku tidak
bisa memuaskan rasa penasaranku sampai beberapa hari kedepan. Kenapa matahari harus
bersinar sekarang?
Dengan menghela napas aku keluar lewat jendela sebelum terlalu terang. Aku berniat
untuk menunggu di kerimbunan hutan dekat rumahnya untuk melihatnya berangkat sekolah.
Tapi, sesampainya di pepohonan, aku terkejut menemukan jejak aromanya di jalan setapak di
dalam hutan.
Aku cepat-cepat mengikutinya, penasaran, dan berubah jadi cemas saat jejaknya masuk
lebih dalam ke tengah hutan. Apa yang Bella lakukan diluar
sini
?
Jejaknya tiba-tiba berhenti begitu saja. Sepertinya dia berjalan keluar dari jalan setapak,
menuju ke semak pakis-pakisan, dimana dia menyentuh sebatang pohon tumbang. Barangkali
duduk disitu...
Aku duduk di tempat ia duduk, dan memandang ke sekeliling. Yang bisa ia lihat hanya
rerimbunan pakis dan pohon-pohon besar. Saat itu mungkin hujan—aromanya agak tersapu,
tidak terlalu menempel di pohon.
Kenapa Bella datang kesini dan duduk sendirian—dan dia sendirian, tidak salah lagi—
di tengah-tengah hutan kelam yang basah?
Itu tidak masuk akal, dan, berbeda dengan penasaranku yang tadi, aku tidak mungkin
menyinggungnya saat bertemu dengan dia.
Jadi, Bella, tadi aku mengikuti baumu kedalam hutan setelah sebelumnya keluar dari
kamarmu dimana aku memperhatikanmu tidur...
Ya, hal itu bisa memecahkan suasana.
Selamanya aku tidak akan pernah tahu apa yang dia pikir dan lakukan disini.
Selamanya. Dan itu membuat gigiku gemertak frustasi. Lebih parahnya, ini jauh lebih mirip
156
dengan skenario yang kubahas dengan Emmet—Bella berkeliaran sendirian di tengah hutan,
dimana baunya akan mengundang siapapun yang punya kemampuan melacak seperti...
Aku mengerang. Bukan cuma nasibnya yang sial, dia juga mengundang kesialan
menghampiri dirinyanya.
Well
, untuk sementara waktu dia punya pelindung. Aku akan menjaganya, selama yang
bisa benarkan.
Tiba-tiba aku berharap Peter dan Charlotte bisa tinggal lebih lama lagi.
157
8. Hantu
Aku tidak terlalu sering menemui tamu Jasper di dua hari kedatangannya ke Forks. Aku
hanya pulang semata-mata agar Esme tidak khawatir.
Sudah begitu, keberadaanku sekarang lebih mirip seperti hantu daripada vampir. Aku
menunggu, tersembunyi dibalik bayangan, dan membuntuti obyek obsesiku. Aku mengawasi
dan mendengarkan dia dari pikiran orang-orang yang begitu beruntung karena bisa berjalan
bersamanya dibawah sinar matahari, yang sesekali secara tidak sengaja menyentuh tangannya
saat berjalan. Dia tidak pernah bereaksi dengan sentuhan seperti itu; tangan mereka sama
hangatnya dengan tangan dia.
Keterpaksaan membolos begini tidak pernah semenyiksa ini sebelumnya. Tapi matahari
kelihatannya membuat dia bahagia, jadi aku tidak terlalu kesal. Apapun yang membuatnya
senang aku ikut senang.
Senin pagi, aku menguping pembicaraan yang berpotensi merusak kepercayaan diriku
dan membuat hariku jadi lebih parah. Namun, yang terjadi justru sebaliknya, berita baik lah
yang kudapat.
Aku sedikit menaruh hormat pada Mike Newton; dia tidak menyerah begitu saja dan
terpuruk. Dia jauh lebih berani dari yang kukira. Dia akan mencobanya lagi.
Bella tiba di sekolah lebih awal. Dia terlihat sangat menikmati pancaran matahari,
duduk di salah satu kursi piknik yang jarang dipakai sembari menunggu bel pertama
berbunyi. Sinar matahari membuat rambutnya kelihatan berbeda, memancarkan semburat
merah yang tidak kulihat sebelumnya.
Mike menemukan dia disana, dan merasa senang pada keberuntungannya.
Rasanya menyakitkan hanya bisa menonton, tak berdaya, terpenjara dibalik bayang-
bayang hutan.
Bella menyapanya dengan semangat yang cukup membuat Mike girang, dan yang
sebaliknya terjadi padaku.
Betul kan, dia menyukaiku. Dia tidak akan tersenyum seperti itu jika dia tidak suka.
Berani taruhan, Sebetulnya dia ingin pergi ke pesta dansa bersamaku. Kira-kira apa yang
158
begitu penting di Seattle...
Mike menyadari perubahan di rambut Bella. “Aku tidak pernah menyadari sebelumnya
—rambutmu ada semburat merahnya.”
Aku secara tidak sengaja mencabut batang pohon palem muda disampingku saat
melihat Mike meraih sejumput rambut Bella dengan tangannya.
“Hanya dibawah sinar matahari,” katanya.
Dengan puas aku melihat bagaimana Bella agak menarik diri menjauh ketika Mike
mengembalikan rambutnya ke belakang telinga.
Butuh beberapa saat bagi Mike untuk mengembalikan keberaniannya lagi,
menghabiskan beberapa saat dengan obrolan ringan.
Bella mengingatkan tentang esay yang mesti dikumpulkan pada hari rabu. Dari ekspresi
puas samar di wajahnya, sepertinya tugasnya sudah selesai. Sedang Mike sama sekali lupa.
Dasar esai sialan!
Akhirnya ia sampai ke pokok pembicaraan—gigiku terkatup sangat rapat hingga bisa
mengikis batu granit. Tapi kemudian dia tidak sanggup menanyakannya begitu saja.
“Kurasa aku harus mengerjakan esaiku malam ini. Padahal aku ingin mengajakmu
kencan.”
“Oh,” ujar Bella.
Sejenak hening.
Oh? Apa itu artinya? Apa dia akan berkata ya? Tunggu—sepertinya aku belum benar-
benar bertanya.
Mike menelan ludah.
“
Well
, kita bisa pergi makan malam atau apa...dan aku bisa mengerjakan esaiku nanti.”
Geblek—itu juga bukan pertanyaan.
“Mike...”
Pedih dan marah akibat cemburu, terasa berkali-kali lipat lebih besar dari minggu lalu.
Aku mematahkan satu batang pohon lagi. Aku sangat ingin terbang kesana, secepat kilat
hingga tak ada yang bisa melihat, dan merenggutnya—untuk menculik Bella dari bocah yang
saat ini begitu kubenci hingga bisa saja aku membunuhnya detik ini juga dan menikmatinya.
Apa dia akan menjawab ya padanya?
159
“Aku pikir itu bukan ide yang bagus.”
Aku bernapas lagi. tubuhku bisa kembali rileks.
Sepertinya Seattle memang cuma alasan. Aku seharusnya tidak bertanya. Apa yang
kupikirkan? Berani taruhan pasti gara-gara si aneh Cullen itu...
“Kenapa?” tanya Mike dengan marah terpendam.
“Kurasa...” Bella bimbang. “Kalau kau sampai cerita-cerita apa yang akan kuberitahu
ini ke orang lain, dengan senang hati aku akan memukulimu sampai mati—”
Aku tergelak mendengar ancaman kematian keluar dari mulutnya. Seekor burung
cericit terhenyak kaget dan langsung terbang kabur.
“Tapi kurasa itu akan membuat Jessica patah hati.”
“Jessica?”
Apa? Tapi... Oh. Oke. Sepertinya... Jadi... Hmm.
Pikirannya kini saling tumpan tindih.
“Yang benar saja, Mike, kau ini
buta
ya?”
Tidak seharusnya Bella berharap orang lain sepeka dia. Tapi, memang, hal itu
sebetulnya sangat kentara. Dengan segala kerepotan yang Mike persiapkan untuk mengajak
Bella kencan, apa dia pernah membayangkan bahwa tidak akan sesulit itu jika menghadapi
Jessica? Pasti karena egois, yang membuat dia buta dengan sekelilingnya. Sedang Bella
begitu tidak egois, dia melihat segalanya.
Jessica. Hmm. Wow. Hmm.
“Oh,” Dia tidak bisa berkata-kata.
Bella memanfaatkan kebingungan itu untuk menghindar.
“Waktunya masuk kelas, dan aku tidak boleh terlambat lagi.”
Sejak itu pikiran Mike sudah tidak bisa kuandalkan lagi. Saat berulang kali
membayangkan Jessica di kepalanya, dia merasa lebih suka pada ide bahwa Jessica tertarik
pada dirinya. Buatnya itu pilihan kedua, tidak sebaik jika itu adalah Bella.
Kurasa dia cukup manis. Badannya lumayan. Burung yang sudah di tangan...
Kemudian dia lenyap, sibuk dengan fantasinya, sevulgar fantasinya tentang Bella, tapi
kini lebih membuatku jijik dari pada marah. Dia tidak layak mendapatkan gadis manapun;
baginya mereka hampir bisa ditukar-tukar. Sebisa mungkin aku menjauhi pikirannya.
Ketika Bella sudah hilang dari pandangan, aku duduk bersandar pada batang pohon
Madone besar, berloncatan dari pikiran ke pikiran, mengikuti Bella terus, dan senang jika ada
160
Angela Weber di dekatnya. Kuharap ada satu cara untuk bisa berterima kasih pada gadis itu
karena sudah menjadi teman yang baik buat Bella. Aku merasa lebih baik tahu Bella punya
satu orang yang layak disebut teman.
Aku mengamati wajah Bella dari sisi manapun yang tersedia, dan dia terlihat sedih lagi.
Ini mengejutkanku—kupikir cuaca cerah cukup membuatnya tersenyum. Pada saat jam
makan siang, dia berkali-kali melirik ke meja keluargaku yang kosong. Dan itu membuatku
berdebar-debar, memberiku harapan. Barangkali dia merindukanku juga.
Dia berencana untuk jalan-jalan bersama teman-teman perempuannya—otomatis aku
juga merencanakan pengintainku sendiri—tapi kemudian rencana mereka tertunda karena
Mike mengajak Jessica kencan.
Jadi, aku langsung saja pergi ke rumah Bella, menyisiri hutan di sekelilingnya untuk
memastikan tidak ada bahaya. Aku tahu Jasper sudah mewanti-wanti 'saudaranya' agar
menghindari pemukiman, tapi aku tidak mau ambil resiko. Peter dan Charlotte memang tidak
berniat cari gara-gara dengan keluarga kami, tapi niat selalu berubah-ubah tiap waktu...
Oke, aku memang berlebihan. Aku tahu itu.
Seakan dia tahu aku sedang mengawasi, seakan dia merasa kasihan dengan
penderitaanku karena tidak bisa melihatnya, Bella keluar ke halaman setelah berjam-jam di
dalam. Dia membawa sebuah buku tebal dan selimut.
Diam-diam aku memanjat ke dahan pohon paling tinggi agar lebih bisa leluasa
melihatnya.
Dia menggelar selimutnya ke atas rerumputan yang lembab dan berbaring
menelungkup. Kemudian ia mulai membalik-balik bukunya, yang kelihatannya sudah sering
dibaca, seakan sedang mencari halaman terakhir yang dibaca. Aku membaca lewat
pundaknya.
Ah—lagi-lagi klasik. Dia penggemar Austen.
Dia membaca dengan cepat sambil menyilangkan pergelangan kakinya di udara. Aku
sedang mengawasi bagaimana sinar matahari dan tiupan angin memainkan rambutnya saat
tiba-tiba badannya kaku, tangannya membeku di satu halaman. Yang bisa kulihat dia sudah
sampai ke bab ketiga saat tiba- tiba jarinya mengambil setumpuk halaman berikutnya, dan
membukanya dengan kasar.
161
Aku sempat melihat judul halamannya,
Mansfield Park.
Dia memulai cerita yang baru
—bukunya kumpulan karya Jane Austen. Aku bertanya- tanya kenapa mendadak ceritanya
diganti.
Tidak beberapa lama, dia menutup bukunya dengan kesal. Dengan wajah sengit ia
singkirkan bukunya dan berguling menelentang. Dia menghela napas panjang, seakan sedang
menenangkan diri, menarik lengan bajunya keatas, dan memejamkan mata. Aku mengingat-
ngingat novel itu, tapi tidak bisa menemukan sesuatu yang dapat membuatnya kesal. Satu
misteri lagi. Aku mendesah.
Dia berbaring diam, hanya sekali membuat gerakan saat menyingkap rambutnya,
membuangnya keatas kepala—aliran sungai coklat kemerahan. Setelah itu dia tidak bergerak
lagi.
Napasnya lambat. Aku coba mendengarkan suara-suara dari rumah terdekat sampai
sejauh mungkin.
Dua sendok makan tepung...secangkir susu...
Ayolah! Pakai saja yang ada!
Yang merah, atau biru...atau mungkin aku sebaiknya memakai sesuatu yang lebih
kasual...
Tidak ada siapa-siapa di dekat sini. Aku meloncat turun, mendarat tanpa suara pada
ujung kakiku.
Ini sangat-sangat salah, sangat beresiko. Aku ingat bagaimana aku sering menghakimi
tindakan-tindakan Emmet yang tanpa dipikir panjang dulu dan bagaimana Jasper yang
kurang disiplin—dan sekarang secara sadar aku mengabaikan segala aturan itu sedemikian
parahnya hingga membuat penyelewengan mereka jadi tidak ada artinya. Biasanya aku selalu
jadi yang paling bertanggung jawab.
Aku menghela napas dalam-dalam, kemudian menyelinap maju kebawah sinar
matahari.
Aku berusaha tidak melihat tubuhku yang terpapar cahaya matahari. Sudah cukup
buruk bagaimana kulitku seperti batu dan tidak wajar saat di balik keremangan; aku tidak
mau melihatnya saat aku dan Bella bersebelahan dibawah sinar matahari. Jurang perbedaan
diantara kami sudah cukup besar, sudah cukup menyakitan tanpa harus ditambah gambaran
162
ini di kepalaku.
Tapi aku tidak bisa mengabaikan kilauan pelangi yang memantul di kulitnya saat aku
mendekat. Rahangku terkunci ketika melihat pemandangan itu. Bisakah aku lebih aneh lagi?
Aku membayangkan betapa ngerinya dia seandainya tiba-tiba matanya terbuka...
Aku sudah mau mundur lagi, tapi kemudian ia menggumam, menahanku di tempat.
“Mmm... Mmm...”
Tidak terlalu ada artinya.
Well
, aku akan menunggu sebentar.
Dengan hati-hati aku mengambil bukunya, mengulurkan tangan sambil menahan napas
saat mendekat, sekedar jaga-jaga. Aku bernapas lagi ketika sudah kembali menjauh beberapa
meter. Bisa kurasakan bagaimana sinar matahari dan udara terbuka berpengaruh pada
aromanya. Panas membuat aroma tubuhnya jadi lebih manis. Tenggorokanku pun terbakar
oleh hasrat yang besar, apinya membara dahsyat karena aku sudah terlalu lama tidak bertemu
dengannya.
Aku diam sebentar untuk menguasai diri, dan kemudian—memaksakan diri untuk
bernapas lewat hidung—kubuka bukunya. Dia mulai dengan cerita pertama... Aku membalik-
balik halamannya sampai ke judul bab tiga,
Sense and Sensibility,
mencari sesuatu yang
berpotensi membuatnya marah dalam karya Jane Austen yang sopan ini.
Saat secara otomatis mataku tertuju pada namaku—pada halaman inilah untuk pertama
kalinya tokoh Edward Ferrars diperkenalkan—Bella bicara lagi.
“Mmm. Edward,” desahnya.
Kali ini aku tidak khawatir dia terbangun. Suaranya hanya bisikan pelan yang muram,
bukan teriak ketakutan sebagaimana mestinya jika dia memang melihatku.
Perasaan gembira bergumul dengan kebencian dalam diriku. Paling tidak dia masih
memimpikan aku.
“Edmund. Ahh. Terlalu...dekat...”
Edmund?
Ha! Dia sama sekali tidak memimpikan aku, akhirnya aku sadar. Rasa benci pada diriku
menguat. Dia memimpikan tokoh-tokoh fiksi. Sia-sia sudah kesombonganku.
Aku mengembalikan bukunya, dan kembali menyelinap kebalik bayangan hutan—ke
tempatku semestinya.
163
Siang pun berlalu. Aku mengawasi dengan perasaan tak berdaya ketika matahari pelan-
pelan terbenam di ufuk dan bayangan sore merayap menuju arahnya. Aku ingin
menghalaunya, tapi kegelapan tidak mungkin dielakan; bayang sore pun mengambilnya.
Ketika cahaya menghilang, kulitnya terlihat terlalu pucat—seperti hantu. Rambutnya kembali
gelap, hampir hitam dihadapan wajahnya.
Itu hal yang mengerikan untuk dilihat—seperti menyaksikan penglihatan Alice menjadi
nyata. Suara detak jantung Bella adalah satu-satunya yang menentramkan, suara yang
menjadikan momen ini tidak seperti mimpi buruk.
Aku lega ketika ayahnya pulang.
Bisa kudengar sedikit suara pikirannya saat dia melaju hampir sampai di rumah.
Beberapa gerutuan samar...sesuatu tentang pekerjaannya tadi. Harapan bercampur dengan
lapar—sepertinya dia tidak sabar untuk makan malam. Tapi pikirannya tidak terlalu banyak
bicara, aku tidak terlalu yakin tebakanku betul; aku cuma menangkap intinya.
Kira-kira seperti apa pikiran ibunya—kombinasi genetik seperti apa yang membuat
Bella sangat unik.
Dia terbangun, bangkit duduk saat mendengar mobil ayahnya menepi. Dia memandang
ke sekeliling, terlihat bingung dengan kegelapan yang tidak disangkanya. Untuk sesaat,
matanya melihat kearah kegelapan tempatku bersembunyi, tapi dia langsung mengerjap
melihat kearah lain.
“Charlie?” tanyanya pelan, masih sambil mengamati pepohonan di disekeliling
halamannya.
Pintu mobil ayahnya dibanting tertutup, dan ia melihat ke arah suaranya. Dia cepat-
cepat berdiri dan membereskan barang-barangnya, menoleh sekali lagi ke arah kegelapan
hutan.
Aku pindah ke pepohonan yang lebih dekat dengan jendela dapur untuk mendengarkan
malam mereka. Ternyata menarik membandingkan perkataan Charlie dengan isi pikirannya.
Kecintaan dan kepedulian dia pada putri satu-satunya sangat besar, namun ucapan-ucapannya
selalu pendek dan santai. Lebih seringnya mereka cuma duduk diam dengan nyaman.
Kudengar ia mengungkapkan rencananya untuk pergi ke Port Angeles besok, dan aku
merancang rencanaku sendiri saat mendengarkannya. Jasper tidak memperingatkan teman-
164
temannya untuk menjauhi Port Angeles. Meski aku tahu mereka baru saja berburu belum
lama ini dan tidak berniat untuk berburu disekitar rumah kami, aku akan tetap mengawasi
Bella. Hanya untuk jaga-jaga. Lagipula, selalu ada mahluk seperti kami di luar sana. Dan,
juga ada semua bahaya yang mungkin saja menimpa manusia, yang sebelumnya tidak pernah
kupertimbangkan.
Kudengar ia cemas besok mesti meninggalkan ayahnya untuk menyiapkan makan
malam sendiri. Aku tersenyum pada hal ini karena membuktikan teoriku—ya, dia seorang
pengasuh.
Setelah itu aku pergi. Aku akan kembali lagi setelah dia tidur.
Aku tidak akan melanggar privasinya seperti seorang pengintip. Aku disini untuk
melindunginya, bukan untuk mengambil kesempatan sebagaimana Mike mungkin akan
melakukannya jika ia setangkas aku. Aku tidak akan memperlakukannya dengan tidak sopan.
Rumahku kosong saat aku kembali, yang mana baik-baik saja untukku. Aku tidak rindu
dengan segala pikiran mereka yang mempertanyakan kewarasanku. Emmet meninggalkan
catatan yang ditempel di tiang dekat tangga.
Pertandingan bola di lapangan Rainier—ayo ikut! Please?
Aku menemukan pena dan menuliskan kata
Sori
dibawah permohonannya. Biar
bagaimanapun, teamnya telah lengkap tanpa kehadiranku.
Aku pergi ke lahan berburu terdekat, menyantap mahluk kecil lemah yang baunya tidak
sebaik manusia yang biasa memburunya, dan kemudian berganti baju sebelum lari kembali
ke Forks.
Tidur Bella tidak nyenyak malam ini. Selimutnya berantakan. Wajahnya kadang
gelisah, kadang sedih. Aku bertanya-tanya, mimpi buruk apa yang menghantuinya...tapi
kemudian sadar, mungkin sebaiknya aku tidak usah tahu.
Ketika bicara, seringkali ia berkomat-kamit mengeluhkan tentang Forks dengan suara
murung. Hanya sekali, ketika ia mendesahkan kata, “Kembali,” tangannya membalik terbuka
—sebuah sikap memohon. Bisakah aku berharap bahwa mungkin saja ia sedang
memimpikan aku.
Hari sekolah berikutnya, hari
terakhir
matahari memenjarakanku, kurang lebih sama
dengan sebelumnya. Bahkan Bella kelihatan lebih murung dari kemarin. Aku jadi bertanya-
165
tanya, apa dia akan membatalkan janjinya—kelihatannya dia sedang tidak mood.
Tapi, sebagai Bella, pasti ia akan memilih kesenangan temannya diatas kepentingan
sendiri.
Ia mengenakan blus biru tua hari ini. Warna itu sangat sempurna dengan kulitnya,
membuatnya terlihat seperti krim susu segar.
Sekolah usai, dan Jessica setuju untuk menjemput yang lainnya—Angela juga ikut,
membuatku bersyukur.
Maka aku pulang ke rumah untuk mengambil mobil. Peter dan Charlotte masih ada.
Dan kuputuskan untuk memberi kesempatan bagi Bella dan teman-temannya untuk berangkat
satu jam lebih dulu. Aku tidak akan tahan mengikuti di belakang mereka, menyetir di batas
kecepatan normal—memikirkannya saja sudah ngeri.
Aku masuk lewat dapur, mengangguk samar pada sapaan Emmet dan Esme saat
melewati semuanya di ruang tamu, dan langsung menuju ke piano.
Ugh, dia kembali.
Tentu saja itu Rosalie.
Ah, Edward. Aku tidak suka melihatnya begitu menderita.
Kegirangan Esme tergantikan
oleh cemas. Dia sudah
semestinya
cemas. Kisah cinta yang ia idam-idamkan untukku
semakin nyata akan berbalik jadi tragedi.
Selamat bersenang-senang di Port Angeles nanti malam
, pikir Alice dengan riang.
beritahu aku kalau sudah boleh bicara dengan Bella.
Kau benar-benar payah. Aku tidak percaya kau melewati pertandingan tadi malam
hanya untuk mengawasi seseorang tidur,
gerutu Emmet.
Jasper mengacuhkanku bahkan saat lagu yang kumainkan terdengar lebih ribut dari
yang kumau. Itu lagu lama, dengan tema yang umum: ketidak sabaran. Jasper sedang
berpamitan dengan teman-temannya, yang memandangiku dengan penasaran.
Mahluk yang aneh,
pikir Charlotte, si gadis yang semungil Alice dengan rambut pirang
keperakan.
Padahal dia sangat normal dan sopan saat terakhir kali kami bertemu.
Pikiran Peter kurang lebih serupa dengannya, seperti biasanya.
Pasti gara-gara binatang-binatang itu. Tidak minum darah manusia akhirnya membuat
mereka gila juga,
begitu kesimpulan dia. Rambutnya sepirang Charlotte, dan hampir sama
panjangnya. Mereka berdua sangat mirip—kecuali tingginya, karena dia hampir setinggi
166
8.
Langganan:
Postingan (Atom)

