yang kau katakan pada Jessica...” Aku tidak sanggup membuat suaraku tetap
santai. “
Well
, itu menggangguku.”
Dia langsung mengambil sikap defensif. “Aku tidak terkejut kau mendengar sesuatu
yang tidak kau sukai. Kau tahu kan apa kata pepatah tentang tukang nguping.”
Tukang nguping tidak akan pernah mendengar sesuatu yang baik buat diri mereka,
begitu pepatahnya.
“Aku sudah mengingatkan bahwa aku akan mendengarkan.”
“Dan aku sudah mengingatkan tidak semua yang kupikirkan baik untuk kau ketahui.”
Ah, yang dia maksud saat aku membuatnya menangis. Penyesalan membuat suaraku
makin parau. “Memang. Meski begitu, kau tidak sepenuhnya benar. Aku ingin tahu apa yang
kau pikirkan—semuanya. Aku hanya berharap... kau tidak memikirkan beberapa hal.”
Lagi-lagi separuh bohong. Aku tahu,
tidak
seharusnya aku berharap dia peduli padaku.
Tapi toh aku mengharapkannya. Tentu saja aku mengharapkannya.
“Itu sama saja,” gerutunya dengan bersungut-sungut.
“Tapi bukan itu masalahnya sekarang.”
“Lalu apa?”
Dia mencondongkan tubuh ke depan. Tangan kanannya memegangi leher. Dan itu
menarik perhatianku. Pasti kulitnya halus sekali...
Fokus,
perintahku pada diriku.
“Apakah kau benar-benar yakin kau lebih peduli padaku daripada aku padamu?”
Buatku pertanyaan itu terdengar menggelikan, seakan kata- katanya campur aduk.
Matanya melebar, napasnya terhenti. Kemudian dia berpaling, berkedip cepat. Dia
menghela napas pelan.
“Kau melakukannya lagi,” gumamnya.
“Apa?”
“Membuatku terpesona,” akunya, sambil menatap mataku hati-hati.
“Oh.” Hmm. Aku tidak tahu bagaimana cara mengatasi itu. Aku juga tidak yakin aku
tidak
mau
membuatnya begitu. Aku masih tidak percaya bisa
melakukannya.
Tapi itu tidak
akan membantu pembicaraan ini.
“Bukan salahmu.” Dia menghela napas lagi. “Kau tak bisa mencegahnya.”
242
“Apakah kau akan menjawab pertanyaanku?” desakku.
Dia memandangi meja. “Ya.”
Cuma itu yang dia katakan.
“Ya, kau akan menjawab, atau ya, kau benar-benar berpendapat begitu?” tanyaku tidak
sabar.
“Ya, aku benar-benar berpendapat begitu,” jawabnya pelan, masih menghindari
tatapanku. Ada nada sendu pada suaranya. Dan dia tersipu lagi. Giginya mulai menggigit
bibirnya.
Aku jadi sadar, pasti sangat sulit buat dia untuk mengakui itu, karena dia benar-benar
mempercayainya. Dan aku tidak jauh beda dengan si pengecut Mike Newton, yang
menanyakan perasaan Bella duluan sebelum menyatakan perasaannya. Tidak penting bahwa
rasanya aku telah mengungkapkan perasaanku dengan jelas, yang pasti, dia tidak pernah
menangkapnya. Jadi tidak ada alasan bagiku untuk mengelak.
“Kau salah.” Aku meyakinkan dia. Pasti dia mendengar kelembutan dalam suaraku.
Bella menatapku. Tatapannya misterius, tidak memberitahu apa-apa. “Kau tak bisa
mengetahuinya,” bisiknya pelan.
Menurutnya aku meremehkan perasaannya karena aku tidak bisa mendengar
pikirannya. Tapi yang sebenarnya terjadi, dia lah yang meremehkan perasaan
ku
.
“Apa yang membuatmu berpikir begitu?” Aku bertanya-tanya.
Dia menatapku balik, dengan kerut diantara alisnya, dan sambil menggigit bibir. Untuk
kesekian kali, dengan sia-sia aku berharap bisa
mendengar
pikirannya.
Aku hampir memohon padanya untuk memberitahu apa yang sedang berkecamuk
dalam pikirannya, tapi dia mengangkat jarinya untuk mencegahku bicara.
“Biarkan aku berpikir,” pintanya.
Selama dia cuma mengatur pikiran, aku bisa sabar.
Atau, aku bisa pura-pura sabar.
Dia mengatupkan tangan, mengait dan menguraikan jemarinya yang mungil. Dia
mengamati tangannya seakan itu milik orang lain saat dia mulai bicara.
“
Well
, terlepas dari kenyataannya,” gumamnya ragu-ragu. “Kadang-kadang... aku tidak
yakin—
aku
tidak tahu car anya membaca pikiran—tapi terkadang rasanya seolah kau
243
berusaha mengucapkan selamat tinggal ketika kau mengatakan sesuatu yang lain.” Dia tidak
mendongak.
Dia menangkapnya, ya kan? Sadarkah dia bahwa hanya karena diriku lemah dan egois
maka aku tetap ada disini? Apa dia memandang remeh perasaanku hanya karena itu?
“Peka,” bisikku, dan menghela napas. Kemudian aku melihat dengan ngeri saat
ekspresinya berubah terluka. Aku buru-buru menyangkal asumsinya. “Tapi justru itulah
kenapa kau salah.” Aku berhenti sebentar, mengingat-ingat kata pertama dari penjelasannya.
Kata itu menggangguku, meski tidak terlalu mengerti maknanya. “Apa maksudmu dengan
'kenyataannya'?”
“
Well
, lihat aku,” ujarnya.
Aku
sedang
melihatnya. Yang dari tadi kulakukan adalah melihatnya. Apa maksudnya?
“Aku sangat biasa-biasa saja.” Dia menjelaskan. “
Well
, kecuali untuk hal-hal buruk
seperti pengalaman yang sangat dekat dengan kematian, dan aku begitu canggung sehingga
bisa dibilang nyaris tak berdaya. Sedang kan kau?” dia melambaikan tangan ke arahku,
seakan sedang menegaskan sesuatu yang sudah sangat jelas.
Dia pikir dia biasa-biasa saja? Dia pikir, entah bagaimana, aku jauh lebih baik
dibanding dirinya? Berdasar perkiraan siapa? Orang konyol yang berpikiran picik seperti
Jessica atau Ms. Cope? Bagaimana mungkin dia tidak menyadari bahwa dia adalah
perempuan paling cantik...paling indah... bahkan kata-kata itu tidak cukup untuk melukisan
dirinya.
Dan dia tidak menyadari hal itu.
“Kau sendiri tidak melihat dirimu dengan jelas,” kataku padanya. “Kuakui kau benar
tentang hal-hal buruk itu...” Aku tertawa kecut. Aku tidak menganggap takdir gelap yang
memburunya menggelikan. Namun begitu, kecanggungannya cukup lucu juga.
Menggemaskan. Apa mungkin dia mau percaya jika kukatakan dia itu cantik luar-dalam?
Mungkin dia lebih percaya dengan bukti. “Tapi kau tidak mendengar apa yang dipikirkan
setiap laki-laki di sekolah ini tentangmu pada hari pertamamu di sini.”
Ah, aku ingat harapan dan getaran hati, yang jadi pikiran mereka waktu itu. Yang
kemudian berubah menjadi fantasi-fantasi yang mustahil. Mustahil karena Bella tidak
menginginkan satupun dari mereka.
244
Padaku lah Bella mengatakan ya.
Senyumku pasti sombong.
Sementara wajahnya kosong karena terkejut. “Aku tak percaya...” gumamnya.
“Percayalah sekali ini saja—kau bukan manusia biasa.”
Keberadaannya sendiri saja cukup jadi alasan untuk menghargai seisi dunia lainnya.
Dia tidak terbiasa dengan pujian, bisa kulihat itu. Satu lagi yang
mesti
dia biasakan. Dia
merona, dan buru-buru mengubah topik pembicaraan. “Tapi aku tidak mengucapkan selamat
tinggal.”
“Tidakkah kau mengerti? Itu yang membuktikan bahwa aku benar. Akulah yang paling
peduli, karena seandainya aku bisa melakukannya...” Apakah aku akan bisa jadi cukup tidak-
egois untuk melakukan apa yang seharusnya? Aku menggeleng putus asa. Aku harus bisa
mendapatkan kekuatan itu. Dia pantas memperoleh kehidupan, bukan seperti yang Alice lihat
di masa depan. “Seandainya meninggalkanmu adalah sesuatu yang harus kulakukan...” dan
memang itu yang seharusnya, ya kan? Tidak ada itu malaikat yang sembrono. Bella bukan
untukku. “Akan kusakiti diriku sendiri demi menjagamu agar tidak terluka, supaya kau tetap
aman.”
Karena sudah mengatakannya, aku bersikeras bahwa itulah yang seharusnya terjadi.
Dia mendelik padaku. Entah bagaimana, ucapanku telah membuatnya marah. “Dan
pikirmu aku takkan melakukan hal yang sama?”
Dia sangat marah—begitu lembut dan rapuh. Bagaimana mungkin dia bisa menyakiti
orang lain? “Kau takkan pernah perlu membuat keputusan itu,” sanggahku dengan suara
tertekan, menyadari besarnya perbedaan diantara kami.
Dia menatapku. Kini sorot prihatin menggantikan amarah di matanya, memunculkan
kerut diantara dua mata itu.
Pasti ada yang salah dengan dunia ini jika seseorang, yang begitu baik dan rapuh
seperti dia, tidak memiliki malaikat pelindung untuk menjaganya tetap aman.
Well,
batinku dengan humor gelap,
paling tidak dia memiliki vampir pelindung.
Aku tersenyum. Aku senang dengan alasan itu. “Tentu saja menjagamu tetap aman
mulai terasa seperti pekerjaan purnawaktu yang senantiasa memerlukan kehadiranku.”
Dia tersenyum juga. “Tak seorangpun mencoba membunuhku hari ini,” ucapnya santai.
245
:
Kemudian selama setengah detik wajahnya berubah spekulatif sebelum kemudian tatapannya
jadi misterius lagi.
“Belum,” tambahku datar.
“Belum.” Secara mengejutkan dia sependapat. Kukira dia akan menyangkal setiap
usaha untuk melindunginya.
Tega-teganya dia. DASAR EGOIS! Tega-teganya dia melakukan hal itu pada kita!
Teriakan murka pikiran Rosalie memecah konsentrasiku.
“Tenanglah, Rose,” kudengar bisikan Emmet dari seberang kafetaria. Tangannya
merangkul erat pundak Rosalie—menahannya.
Sori, Edward,
sesal Alice dalam hati.
Dia bisa menebak Bella tahu terlalu banyak dari
isi pembicaraanmu...dan, well, akan lebih parah lagi andai aku tidak langsung memberitahu
yang sebenarnya. Percayalah.
Aku mengernyit pada gambaran yang mengikutinya, akan apa yang bakal terjadi
seandainya Rosalie baru tahu ketika di rumah, dimana dia tidak perlu menahan diri untuk
melindungi identitasnya. Aku mesti menyembunyikan Aston Martinku jika dia masih belum
juga tenang saat sekolah usai. Gambaran mobil favoritku hancur berkeping-keping
membuatku kesal—meski tahu aku pantas menerimanya.
Jasper juga tidak terlalu senang dengan keputusanku.
Biar kutangani mereka nanti. Siang ini waktuku bersama Bella tidak terlalu banyak, dan
aku tidak mau menyia-nyiakannya. Dan aku jadi teringat dengan peringatan Alice tadi.
Kugeser jauh-jauh histeria pikiran Rosalie yang masih belum berhenti. “Aku punya
pertanyaan lain untukmu.”
“Tanyakan saja,” ujarnya sambil tersenyum.
“Apakah kau benar-benar harus ke Seattle sabtu ini, atau kah itu hanya alasan untuk
menolak semua penggemarmu?”
Dia cemberut. “Kau tahu, aku belum memaafkanmu untuk masalah Tyler. Itu semua
salahmu, sehingga dia mengira aku akan pergi ke prom bersamanya.”
“Oh, dia akan mengajakmu sendiri tanpa bantuanku—aku cuma ingin melihat
reaksimu.”
Aku tergelak mengingat ekspresi syoknya. Tidak satupun cerita horor tentang diriku
bisa membuatnya sesyok itu. Kebenar an tidak membuatnya takut. Dia ingin bersama
denganku. Jalan pikirannya benar-benar ruwet.
“Kalau aku mengajakmu, apakah kau akan menolak?”
“Mungkin tidak. Tapi aku kemudian akan membatalkannya—berpura-pura sakit atau
mengalami cedera pergelangan kaki.”
Benar-benar aneh. “Kenapa kau melakukan itu?”
Dia menggeleng, seakan kecewa aku tidak langsung mengerti. “Kau tak pernah
melihatku di kelas olahraga, tapi kupikir kau bakal mengerti.”
Ah. “Apakah kau sedang bicara tentang fakta bahwa kau tak bisa berjalan di permukaan
rata tanpa tersandung?”
“Tentu saja.”
“Itu bukan masalah. Tergantung siapa yang memimpin dansanya.”
Selama sepersekian detik, perasaanku meluap gembira pada bayangan merangkulnya
pada saat berdansa—dan pasti dia memakai sesuatu yang cantik dan indah ketimbang sweter
jelek ini.
Dengan sangat jelas aku ingat bagaimana tubuhnya terasa dibawah pelukanku setelah
menyelematkan dia dari terjangan
van
. Aku lebih bisa mengingat sensasinya ketimbang
kepanikanku waktu itu. Dia terasa begitu hangat dan lembut, sangat pas dalam rengkuhan
tubuhku...
Aku kembali dari ingatan itu.
“Tapi kau belum bilang—” kataku buru-buru, mencegah dia mendebat soal
kecanggungannya, seperti yang jelas-jelas ingin dia lakukan. “Apakah kau sudah mantap
ingin ke Seattle, atau kau tidak keberatan kita melakukan sesuatu yang berbeda?”
Sedikit rumit—memberinya kesempatan untuk memilih, tapi tanpa memberinya pilihan
untuk tidak bersamaku. Kurasa itu tetap adil. Lagipula tadi malam aku sudah janji
padanya...dan aku senang pada ide untuk memenuhinya—hampir sebesar kecemasanku pada
ide itu sendiri.
Sabtu nanti matahari akan bersinar. Aku bisa memperlihatkan diriku yang sebenarnya,
jika aku cukup berani untuk menghadapi kengerian dan kejijikan dia. Aku tahu tempat yang
tepat untuk mengambil resiko itu...
247
“Aku terbuka untuk tawaran lain. Tapi aku punya satu permintaan.”
Setuju, tapi dengan syarat. Apa yang dia inginkan?
“Apa?”
“Boleh aku yang mengemudi?”
Apa ini idenya untuk melucu? “Kenapa?”
“
Well
, terutama karena waktu kubilang kepada Charlie akan pergi ke Seattle, dia secara
spesifik bertanya apakah aku pergi sendirian, dan waktu itu, memang ya. Kalau dia bertanya
lagi, barangkali aku tidak akan berbohong, tapi rasanya dia tidak
akan
bertanya lagi, dan
meninggalkan truk di rumah akan membuatnya bertanya-tanya. Juga karena cara menyetir mu
membuatku takut.”
Aku memutar bola mataku. “Dari semua hal dalam diriku yang bisa membuatmu takut,
kau malah takut dengan caraku mengemudi.” Aku menggeleng tak percaya. Jujur saja, jalan
pikirannya betul-betul terbalik.
Edward,
panggil Alice mendesak.
Mendadak, aku menatap ke sinar cerah matahari; salah satu dari penglihatan Alice.
Itu tempat yang sangat kukenal, tempat dimana aku akan mengajak Bella—sebuah
padang rumput kecil, yang belum pernah dikunjungi siapapun selain diriku. Tempat sunyi
yang indah, tempat aku biasa menyendiri—cukup jauh dari jalan setapak atau pemukiman
penduduk hingga bahkan pikiranku bisa tenang, tidak mendengar apa-apa.
Alice mengenalinya juga, karena dia telah melihatku disana, pada salah satu
penglihatannya yang tidak terlalu lama—salah satu dari penglihatan kabur dan bekedip- kedip
yang Alice tunjukan padaku di pagi ketika Bella kuselamatkan dari terjangan
van.
Dalam penglihatan yang berkedip-kedip itu, aku tidak sendirian. Dan sekarang
semuanya jelas—Bella bersamaku disana. Berarti aku berani mengambil resiko itu. Bella
memandangiku, pelangi menari di depan wajahnya, matanya tidak bisa dijajaki.
Itu tempat yang sama,
batin Alice. Pikirannya diliputi kengerian yang tidak cocok
dengan penglihatan itu. Tegang, itu mungkin, tapi kenapa ngeri? Apa maksudnya dengan
tempat yang
sama?
Kemudian aku melihatnya.
Edward!
teriak Alice nyaring.
Aku mencintainya, Edward!
248
Aku langsung mengusirnya.
Dia tidak mencintai Bella seperti aku mencintainya. Penglihatannya mustahil. Keliru.
Dia pasti salah, melihat sesuatu yang tidak mungkin.
Tidak sampai setengah detik telah berlalu. Bella menatap wajahku penasaran,
menunggu persetujuanku atas permintaannya. Apa dia sempat melihat kekalutanku, atau itu
terlalu cepat untuk dia?
Aku fokus pada dirinya, pada pembicaraan yang belum selesai ini. Kuusir jauh-jauh
Alice, juga penglihatannya yang keliru, dari pikiranku. Hal itu tidak layak mendapat
perhatianku.
Meski begitu, aku terlanjur tidak bisa mengimbangi suasana hati Bella. Aku bertanya
dengan nada serius dan agak muram, “tidakkah kau ingin memberitahu ayahmu, kau akan
melewatkan hari itu bersamaku?”
Kuusir lebih jauh lebih penglihatan itu, menjaganya agar tidak terlintas di pikiranku.
“Dengan Charlie, berbohong selalu lebih baik,” ucapnya yakin akan hal itu. “Lagi pula,
memangnya kita mau kemana?”
Alice pasti salah. Sangat salah. Sama sekali tidak mungkin itu bisa terjadi. Dan itu
penglihatan yang sudah sangat lama, sudah tidak relevan lagi. Banyak hal telah berubah.
“Prakiraan cuacanya bagus,” kataku pelan sambil berusaha mengatasi kepanikan dan
kebimbanganku. Alice pasti salah. Aku akan melanjutkan seakan aku tidak mendengar atau
melihat apa-apa. “Jadi aku akan menghilang untuk sementara... dan kau bisa ikut bersamaku
kalau mau.”
Bella langsung mengerti yang kumaksud; matanya jadi cerah dan bersemangat. “Dan
kau akan memperlihatkan padaku yang kau maksud mengenai matahari?”
Mungkin, seperti yang sudah-sudah, reaksi dia besok akan berbeda dari yang kukira.
Aku tersenyum pada kemungkinan itu. Dan aku berjuang untuk bisa kembali menikmati
momen santai ini. “Ya. Tapi...” Dia belum bilang ya. “Kalau kau tidak ingin... berduaan
denganku, aku tetap tidak ingin kau pergi ke Seattle sendirian. Aku khawatir memikirkan
masalah yang mungkin menimpamu di kota sebesar itu.”
Bibirnya mengatup rapat; dia tersinggung.
“Phoenix tiga kali lebih besar daripada Seattle—itu baru jumlah populasinya. Untuk
249
ukuran—”
“Tapi nyatanya, insiden yang kau alami tidak bermula di Phoenix,” sanggahku,
menyela pembenarannya. “Jadi, lebih baik kau berada di dekatku.”
Dia bisa bersamaku selamanya dan itu tetap masih belum cukup.
Aku tidak boleh berpikiran seperti itu. Kami tidak punya waktu selamanya. Tiap detik
berjalan lebih cepat dari sebelumnya; tiap detik mengubah dirinya sementara aku tidak akan
pernah berubah.
“Karena itu sudah terjadi, aku tak keberatan berduaan saja denganmu,” ujarnya
sependapat.
Bukan, itu lebih karena instingnya yang terbalik.
“Aku tahu.” Aku menghela napas. “Meski begitu, kau harus memberitahu Charlie.”
“Kenapa aku harus repot-repot melakukannya?” tanyanya ngeri.
Aku mendelik ke dia, penglihatan yang tidak lagi mampu kutahan akhirnya berkeliaran
di kepalaku.
“Sebagai satu alasan kecil bagiku untuk memulangkanmu,” desisku. Dia mesti
memberiku kesempatan—satu orang saksi untuk membuatku tetap waspada.
Kenapa Alice mesti menunjukan penglihatan itu sekarang?
Bella menelan ludah, kemudian menatapku lama. Apa yang dia lihat?
“Kurasa aku akan mengambil resiko itu.”
Ugh! Apa dia tipe orang yang jadi bersemangat ketika nyawanya sedang terancam? Apa
dia mencari sesuatu yang bisa memacu adrenalinnya?
Aku mendelik marah ke Alice, yang sedang melirikku dengan tatapan memperingatkan.
Di sampingnya, Rosalie menatapku murka. Tapi aku tidak terlalu peduli. Biar saja dia
menghancurkan mobilku. Itu cuma mainan.
“Kita bicara yang lain saja,” saran Bella tiba-tiba.
Aku kembali melihat ke arahnya, bertanya-tanya kenapa dia begitu tidak peduli dengan
apa yang sudah jelas-jelas di depan mata. Kenapa dia tidak menganggapku sebagai monster,
seperti yang semestinya?
“Apa yang ingin kau bicarakan?”
Matanya bergerak ke kiri dan ke kanan, seakan sedang memastikan tidak ada yang
250
menguping. Dia pasti berencana untuk mengungkit topik yang berhubungan dengan mitos-
mitos itu lagi. Matanya berhenti sejenak, badannya membeku, lalu dia kembali melihat ke
arahku.
“Kenapa kau pergi ke Goat Rocks akhir pekan lalu... untuk berburu? Charlie bilang, itu
bukan tempat yang baik untuk
hiking
, banyak beruang.”
Benar-benar tidak peduli.
Aku menatapnya, mengangkat satu alis.
“Beruang?” Dia menahan napas.
Aku tersenyum kecut saat mengamati hal itu meresap dalam pikirannya. Apa ini akan
membuat dia menanggapiku dengan serius?
Dia mengendalikan ekspresinya. “Kau tahu, sekarang bukan musim berburu beruang,”
ucapnya sungguh-sungguh dengan mata menyipit.
“Kalau kau membaca dengan teliti, peraturannya hanya mencakup berburu dengan
senjata.”
Sejenak dia tidak bisa mengendalikan ekspresinya lagi. Mulutnya ternganga.
“Beruang?” Kali ini dengan nada sangsi, bukan lagi syok.
“Beruang Grizzly adalah kesukaan Emmet.”
Aku mengamati matanya, melihat dia mengolah ucapanku.
“Hmm,” gumamnya. Dia menunduk dan menggigit pizanya. Dia mengunyah sambil
berpikir, lalu meneguk minumannya.
“Jadi,” akhirnya dia mendongak. “Kesukaanmu apa?”
Mestinya aku bisa menduga pertanyaan dia, tapi aku tidak. Bella selalu saja menarik,
sekecil apapun itu.
“Singa gunung,” jawabku cepat.
“Ah.” Nadanya santai, detak jantungnya tetap tenang, seakan kita sedang
membicarakan tempat makan yang paling enak.
Baiklah kalau begitu. Jika dia memang menganggapnya ini bukan sesuatu yang tidak
umum...
“Tentu saja, kami harus berhati-hati agar tidak membahayakan lingkungan dengan
kegiatan berburu kami.” Aku berusaha mengimbangi nada suaranya. “Kami berusaha fokus
251
pada area yang jumlah populasi binatang predatornya tinggi—menciptakan daerah jangkauan
sejauh mungkin. Di sekitar sini banyak rusa dan kijang, dan itu sebenarnya cukup, tapi
dimana kesenangannya?”
Dia mendengarkan dengan ekspresi tertarik yang sopan, seakan aku seorang guru yang
sedang mengajar. Mau tidak mau aku tersenyum.
“Ya, benar,” gumamnya santai. Dia menggigit pizzanya lagi.
“Awal musim semi adalah musim berburu beruang kesukaan Emmet.” Aku meneruskan
dengan kuliahku. “Mereka baru saja selesai hibernasi, jadi lebih pemarah.”
Tujuh puluh tahun kemudian, dia masih belum bisa melupakan kekalahan pertamanya
dulu.
“Tak ada yang lebih menyenangkan daripada beruang Grizzly yang sedang marah.”
Bella mengangguk-angguk serius.
Aku tertawa terbahak-bahak, menggeleng-geleng pada ketenangannya yang tidak logis.
Itu pasti dibuat-buat. “Tolong katakan apa yang benar-benar kau pikirkan.”
“Aku mencoba membayangkannya—tapi tidak bisa.” Kerutan muncul diantara
matanya. “Bagaimana kalian berburu beruang tanpa senjata?”
“Oh, kami punya senjata.” Kupamerkan gigiku dengan seringai lebar. Kukira dia akan
terlonjak, tapi ternyata tetap tenang. “Pokoknya bukan jenis senjata yang terpikir oleh mereka
ketika membuat peraturan berburu. Kalau kau pernah melihat beruang menyerang di acara
televisi, kau seharusnya bisa membayangkan cara Emmet berburu.”
Dia melirik ke meja tempat keluargaku duduk, dan gemetar.
Akhirnya. Kemudian aku tertawa sendiri karena aku tahu sebagian dari diriku berharap
dia tetap tidak peduli.
Matanya yang gelap terlihat lebar dan dalam saat menatapku. “Apa kau juga seperti
beruang?” suaranya hampir seperti bisikan.
“Lebih seperti singa, atau begitulah kata mereka.” Aku berusaha bicara senormal
mungkin. “Barangkali pilihan kami mencerminkan kepribadian kami.”
Sudut bibirnya sedikit tertarik ke atas. Kelihatannya dia berusaha tersenyum.
“Barangkali.” Kemudian dia menelengkan kepalanya, rasa penasaran terlihat jelas di
matanya. “ Apakah aku akan pernah melihatnya?”
252
Aku tidak perlu gambaran dari Alice untuk mengilustrasikan kengerian ini—
imajinasiku sendiri sudah cukup.
“Tentu saja tidak!” Aku menggeram padanya.
Dia menjauh ke belakang. Matanya tertegun sekaligus takut.
Aku bersandar ke kursi, menjauh juga. Dia tidak akan pernah melihatnya. Dia tidak
boleh melakukan itu agar aku bisa menjaganya tetap hidup.
“Terlalu menakutkan buatku?” suaranya tetap datar. Sedang jantungnya, biar
bagaimanapun, berdetak dua kali lebih cepat.
“Kalau cuma karena itu, aku sudah akan mengajakmu nantai malam,” jawabku ketus.
“Kau
perlu
merasakan ketakutan yang sebenarnya. Tak ada cara yang lebih baik buatmu.”
“Lalu kenapa?” desaknya tidak peduli.
Aku mendelik sengit, menunggu dia untuk takut.
Aku
sendiri takut. Bisa kubayangkan
bagaimana jadinya jika Bella ada di dekatku saat aku sedang berburu...
Matanya masih tetap penasaran dan tidak sabar. Hanya itu. Tidak ada takut. Dia masih
menunggu jawabanku.
Tapi satu jamku dengan dia sudah habis.
“Nanti saja jawabnya,” kataku masih kesal, dan aku berdiri. “Kita bakal terlambat.”
Dia memandang ke sekelilingnya, bingung, seakan lupa sedang makan siang. Bahkan
seperti lupa sedang berada di sekolah—terkejut bahwa aku dan dia tidak sedang sendirian di
tempat yang terpencil. Aku sangat mengerti perasaan itu. Sulit mengingat sekelilingku jika
sedang bersamanya.
Dia cepat-cepat bangkit, sedikit terhuyung-huyung, dan menyampirkan tasnya ke
pundak.
“Kalau begitu sampai nanti,” jawabnya.
Aku bisa melihat dia belum menyerah; dia benar-benar akan menagih jawabanku.
253
12. Kesulitan
Kami berdua berjalan bersama-sama menuju kelas Biologi. Aku berusaha fokus pada
momen ini, pada gadis di sampingku, pada apa yang nyata dan solid, pada apapun yang bisa
menjauhkan dari penglihatan palsunya Alice.
Kami meleweati Angela Weber, yang sedang berlama-lama di lorong. Dia sedang
mendiskusikan sebuah tugas bersama dengan seorang cowok dari kelas trigono. Aku cuma
mengamati pikirannya sekilas, mengira akan kecewa lagi, namun aku justru kaget karena
mendapati nuansanya yang sayu.
Ah, ternyata ada juga
yang
Angela inginkan. Sayangnya, itu bukan sesuatu yang bisa
dibungkus dan dikirim dengan mudah.
Aku jadi merasa lebih tenang setelah mendengar kerinduan terpendam Angela. Aku
bisa mengerti keputus-asaan dia. Dan saat itu juga aku merasa senasib dengannya.
Walau aneh, aku merasa terhibur karena tahu aku bukan satu-satunya yang mengalami
kisah cinta yang tragis. Patah hati ada dimana-mana.
Detik berikutnya aku jadi marah. Tidak
seharusnya
kisah Angela
berakhir tragis. Dia
manusia, pujaannya juga manusia. Dan perbedaan mereka yang menurut dia tidak bisa
ditanggulangi adalah konyol. Benar-benar konyol jika dibandingkan dengan situasiku. Patah
hatinya tidak
beralasan
. Kesedihan yang sia-sia, tidak ada alasan bagi dia untuk tidak bisa
bersama orang yang ia inginkan. Kenapa dia tidak bisa mendapatkan yang ia inginkan?
Kenapa kisah cintanya tidak bisa berakhir bahagia?
Aku sudah berniat memberinya hadiah...
Well
, aku akan memberi dia apa yang dia
inginkan. Dengan kemampuan alamiku, mungkin itu tidak akan terlalu sulit.
Aku ganti mengamati pikiran cowok disampingnya, pemuda dambaannya. Dan
sepertinya anak itu bukannya tidak tertarik, hanya saja dia juga terkendala oleh kesulitan
yang sama dengan Angela. Tidak punya harapan dan sudah menyerah duluan.
Yang perlu kulakukan cuma merencanakan sesuatu untuk mendorong mereka...
Rencana itu pun langsung terbentuk dengan mudah, naskahnya tersusun begitu saja.
Aku butuh bantuan Emmet—membujuknya untuk mau terlibat adalah satu-satunya kesulitan.
254
Sifat manusia jauh lebih mudah untuk dimanipulasi ketimbang vampir.
Aku puas dengan rencanaku, dengan hadiahku untuk Angela. Itu pengalihan yang
menyenangkan dari masalahku sendiri. Seandainya saja masalahku bisa diatasi semudah itu.
Moodku sedikit lebih baik saat aku dan Bella duduk di tempat kami. Mungkin
sebaiknya aku lebih optimis. Mungkin di luar sana ada solusi yang terlewatkan olehku, sama
seperti solusi sederhana Angela yang tidak terlihat olehnya. Mungkin tidak terlalu mirip...tapi
kenapa mesti membuang-buang waktu dengan berputus asa? Aku tidak punya banyak waktu
untuk disia-siakan jika menyangkut tentang Bella. Setiap detik berharga.
Mr. Banner masuk sambil menarik meja beroda yang diatasnya terdapat TV dan VCR
kuno. Dia melompati satu bab pelajaran yang menurut dia tidak menarik—kelainan genetis—
dengan memutar film selama tiga hari kedepan.
Lorenzo's Oil
bukan film yang terlalu riang,
tapi itu tidak mengendurkan semangat seisi kelas. Tidak ada catatan, tidak ada bahan tes. Tiga
hari bebas. Kesukaan manusia.
Bagiku sendiri tidak terlalu penting. Aku tidak berencana memperhatikan apapun selain
Bella.
Hari ini aku tidak menarik kursiku menjauh. Biasanya aku melakukannya untuk
memberi ruang buat bernapas. Sebagai gantinya, aku duduk di dekatnya seperti yang
dilakukan manusia normal. Lebih dekat dari saat duduk di mobil, cukup dekat hingga sisi kiri
tubuhku terbenam ke dalam kehangatan dari kulitnya.
Itu pengalaman yang ganjil, menyenangkan sekaligus mendebarkan, tapi aku lebih
menyukai ini ketimbang duduk di sebrang meja seperti di kafetaria. Ini melebihi dari yang
biasa kudapat, namun tetap saja aku langsung menyadari bahwa ini masih belum cukup. Aku
belum puas. Berada sedekat ini dengannya hanya membuatku ingin berada lebih dekat lagi.
Aku telah menuduhnya sebagai magnet bagi mara bahaya. Saat ini terasa seper ti itulah
arti harfiahnya. Aku
adalah
bahaya, dan, dengan setiap inchi lebih dekat dengannya, daya
tariknya jadi semakin kuat.
Kemudian Mr. Varner mematikan lampu.
Rasanya aneh bagaimana itu membuat situasinya jadi lain, padahal kegelapan tidak
terlalu berdampak buat mataku. Aku masih bisa melihat seterang dan sejelas seperti
sebelumnya. Setiap detail dalam ruangan ini terlihat sangat jelas.
255
Jadi, kenapa mendadak muncul aliran listrik yang menyengat tubuhku? Apakah karena
aku tahu cuma aku satu-satunya yang masih bisa melihat dengan jelas? Bahwa Bella dan aku
tidak terlihat oleh orang lain? Seperti kami sedang sendirian, hanya berdua saja, tersembunyi
di kegelapan, duduk bersebelahan begitu dekat...
Tau-tau tanganku sudah bergerak ke arahnya tanpa bisa kukontrol. Hanya untuk
menyentuh tangannya, untuk menggenggamnya di tengah kegelapan. Apa itu bisa jadi
kesalahan yang mengerikan? Jika kulit dinginku mengganggu, dia cuma tinggal menarik
tangannya...
Kutarik tanganku lagi, kudekap lenganku rapat-rapat di dada, dan mengepalkan tangan.
Tidak boleh ada kesalahan. Aku sudah berjanji dengan diriku untuk tidak membuat
kesalahan, tidak peduli seberapa kecil kelihatannya. Jika aku memegang tangannya, aku
hanya akan meminta lebih lagi—sentuhan lain yang tidak berdasar, gerakan lain yang lebih
dekat. Aku bisa merasakan itu. Jenis hasrat yang baru, berkembang di dalam diriku, berusaha
menembus pengendalianku.
Tidak boleh ada kesalahan.
Bella juga mendekap lengannya di dada. Tangannya juga terkepal.
Apa yang kau pikirkan?
Aku sangat ingin membisikkan kata-kata itu, tapi ruangannya
terlalu sunyi untuk menyamarkan bisikan sekalipun.
Filmnya dimulai, memberi tambahan penerangan sedikit. Bella melirik. Dia menyadari
kekakuan posisi badanku—seperti badannya—dan tersenyum. Bibirnya sedikit merekah, dan
matanya terlihat hangat mengundang.
Atau, barangkali aku melihat apa yang ingin kulihat.
Aku tersenyum balik; dia seperti kehabisan napas dan buru-buru berpaling.
Itu membuatnya lebih buruk. Aku tidak tahu pikirannya, tapi aku jadi yakin dugaanku
tepat, bahwa dia
ingin
aku menyentuhnya. Dia merasakan hasrat berbahaya ini sama seperti
diriku.
Aliran listrik mengalir diantara badanku dan dia.
Selama sisa pelajaran dia tidak bergerak sama sekali, terus mendekap lengannya rapat-
rapat, sama seperti aku juga terus mendekap lenganku. Sesekali dia melirik, dan segera saja
aliran listrik yang lebih kuat menyambarku.
256
Satu jam berlalu lambat. Ini pengalaman baru. Aku tidak keberatan duduk begini terus
selama berhari-hari hanya untuk menikmati sensasi ini sepenuhnya.
Bermacam pikiran berkecamuk dalam kepalaku selama menit demi menit berlalu.
Rasionalitasku bergumul dengan hasratku sementara aku berusaha mencari pembenaran
untuk bisa menyentuhnya.
Akhirnya Mr Varner menyalakan lampu lagi.
Dalam terang, atmosfer ruangan kembali normal. Bella menghela napas dan
melepaskan dekapannya, kemudian melemaskan jemarinya. Pasti tidak nyaman buat dia
bertahan di posisi itu selama tadi. Sebaliknya buatku sangat mudah—diam mematung sudah
jadi sifat alamiku.
Aku tertawa geli melihat ekspresi lega di wajahnya. “
Well
, tadi itu menarik.”
“Hmmm,” gumamnya. Jelas dia mengerti apa yang kumaksud, tapi tidak berkomentar.
Itu jadi membuatku tidak bisa mendengar apa yang sedang dipikirkan dia
saat ini
.
Aku menghela napas. Berharap seperti apapun tetap tidak akan membantu.
“Yuk?” ajakku sambil berdiri.
Dia mengerutkan muka dan bangkit dengan agak terhuyung, tangannya mencari-cari
pegangan supaya tidak jatuh.
Aku bisa menawarkan tanganku. Atau aku bisa memegangi sikunya hingga dia bisa
berdiri seimbang. Tentu itu bukan pelanggaran yang terlalu berat...
Tidak boleh ada kesalahan.
Dia sangat pendiam saat kami berjalan ke ruang gimnasium. Kerut diantara matanya
jadi bukti bahwa dia sedang berpikir keras. Aku sendiri juga sedang bepikir keras.
Satu sentuhan saja tidak akan menyakiti dia. Sisi egoisku masih saja bersiker as.
Aku bisa dengan mudah mengatur tekanan sentuhanku. Itu sama sekali tidak sulit,
selama aku bisa mengontrol diriku sepenuhnya. Indera perabaku jauh lebih sensitif dibanding
manusia; aku bisa ber
juggling
dengan selusin gelas kristal tanpa memecahkan gelas-gelas itu;
aku bisa memegang gelembung sabun tanpa memecahkannya. Selama aku bisa mengontrol
diriku...
Bella seperti gelembung sabun—rapuh dan tidak abadi.
Sampai berapa lama lagi aku bisa membenarkan kehadiranku dalam hidupnya? Berapa
257
banyak waktu yang kupunya? Akankah ada kesempatan lain seperti kesempatan ini, seperti
saat ini, seperti detik ini?
Bella tidak selalu bisa berada dalam jangkauan tanganku seperti ini...
Sesampainya di depan ruang gimnasium, dia berbalik menghadapku. Matanya melebar
saat melihat ekspresi wajahku. Dia tidak bicara. Kuamati bayangan diriku yang terpantul di
matanya, dan melihat pergumulan dalam diriku. Aku menyaksikan bagaimana wajahku
berubah saat sisi baikku kalah dalam peperangan itu.
Dan tanganku sudah terangkat begitu saja. Selembut seakan dia terbuat dari kaca yang
paling tipis, seakan dia serapuh gelembung sabun, jari-jariku membelai kulit pipinya yang
hangat. Dibawah sentuhanku, pipinya jadi memanas, dan bisa kurasakan denyut darahnya
semakin cepat dibalik kulitnya yang bening.
Cukup,
perintahku, meski tanganku masih ingin meneruskan belaiannya ke sisi
wajahnya yang lain.
Cukup.
Rasanya sulit untuk menarik tanganku, untuk menghentikan diriku agar tidak lebih
mendekat lagi ke dia. Tapi aku berhasil melakukannya.
Dan dalam sekejapan itu beribu pilihan yang berbeda berkecamuk dalam pikiranku—
beribu pilihan cara untuk menyentuhnya. Ujung jariku menelusuri bentuk bibirnya. Telapak
tanganku mengusap dagunya. Mengambil sejumput rambutnya dengan tanganku. Lenganku
melingkari pinggangnya, merangkulnya dalam dekapanku.
Cukup.
Aku memaksa diriku untuk berbalik, untuk menjauh darinya. Badanku bergerak kaku—
ingin menolak.
Kubiarkan pikiranku tertinggal di belakang untuk mengawasi Bella saat aku berlalu
menjauh, hampir lari untuk menghindari godaannya. Aku menangkap pikiran Mike Newton
—itu yang paling berisik—sementara dia menyaksikan Bella berjalan linglung melewatinya.
Mata Bella tidak fokus dan pipinya merah. Mike mendelik, dan tiba-tiba namaku bercampur
dengan sumpah serapah di kepalanya; aku tidak tahan untuk tidak menyeringai menanggapi
itu.
Tanganku masih seperti tersengat listrik. Aku melemaskan dan mengepalkan, tapi tetap
saja sengatan itu tetap ada.
258
Tidak, aku tidak menyakiti dia—tapi menyentuhnya tetap sebuah kesalahan.
Rasanya seperti api—seper ti haus yang biasanya membakar tenggorokanku telah
menyebar ke sekujur tubuh.
Lain kali, saat berada di dekatnya, mampukah aku mengendalikan diri untuk tidak
menyentuhnya lagi? Dan jika sudah menyentuhnya satu kali, sanggupkah aku berhenti
sampai disitu saja?
Tidak boleh ada kesalahan lagi. Titik.
Nikmati saja kenangannya, Edward,
aku
memberitahu diriku dengan muram,
dan jaga tanganmu untuk dirimu sendiri.
Pilihannya itu,
atau aku harus memaksa diriku untuk pergi...entah bagaimana caranya. Karena aku tidak
boleh berada di dekatnya jika terus-terusan membuat kesalahan.
Aku mengambil napas panjang dan menenangkan pikiran.
Aku bertemu Emmet di depan kelas bahasa Spanyol.
“Hai, Edward.”
Dia terlihat lebih baik. Aneh, tapi lebih baik. Bahagia.
“Hai, Em.” Apa aku terlihat bahagia? Sepertinya begitu, terlepas dari kekacauan di
dalam kepalaku, aku merasa begitu.
Sebainya kau hati-hati, kid. Rosalie ingin merobek mulutmu.
Aku mendesah. “Sori aku membuatmu harus menghadapi kemarahannya. Apa kau
marah denganku?”
“Tidak. Lama-lama Rose juga akan lupa. Biar bagaimanapun memang sudah
seharusnya itu terjadi.”
Dengan apa yang dilihat Alice bakal terjadi...
Mengingat penglihatan Alice bukan sesuatu yang kubutuhkan saat ini. Aku memandang
lurus kedepan, gigiku terkunci rapat.
Saat sedang mencari pengalih perhatian, Ben Cheney masuk ke kelas mendului kami.
Ah—ini kesempatanku untuk memberi hadiah ke Angela Weber.
Aku berhenti dan menangkap lengan Emmet. “Tunggu sebentar.”
Ada apa?
“Aku tahu aku tidak pantas mendapatkannya, tapi maukah kau menolongku?”
“Menolong bagaimana?” tanyanya penasaran.
Di bawah napasku—dan dengan kecepatan yanag tidak mungkin diikuti pendengaran
manusia, tidak peduli seberapa keras kata-kata itu diucapkan—kujelaskan padanya apa yang
259
kumau.
Dia terlongo. Pikirannya sama kosongnya dengan wajahnya.
“Jadi?” bisikku. “Kamu mau membantuku?”
Butuh semenit buatnya untuk merespon. “Tapi,
kenapa
?”
“Ayolah, Emmet. Kenapa
tidak
?”
Siapa kau dan apa yang kau lakukan terhadap saudaraku?
“Bukankah kau selalu mengeluh bahwa sekolah selalu saja membosankan? Ini sesuatu
yang berbeda, kan? Anggap saja ini sebagai eksperimen—eksperimen terhadap sifat dasar
manusia.”
Dia memandangku sebentar sebelum menyerah. “
Well
, ini
memang
berbeda, kuakui
itu... Baiklah kalau begitu.” Emmet mendengus lalu mengangkat bahu. “Aku akan
membantumu.”
Aku tersenyum padanya. Kini aku jadi lebih bersemangat dengan rencanaku setelah
Emmet setuju untuk terlibat. Rosalie memang selalu menjengkelkan, tapi aku akan selalu
berhutang padanya karena telah memilih Emmetl; tidak ada yang memiliki saudara lebih baik
ketimbang diriku.
Emmet tidak butuh latihan. Aku membisikkan sekali lagi baris-baris skenario miliknya
pada saat kami masuk ke dalam kelas.
Ben sudah duduk di belakangku. Dia sedang mencari-cari tugasnya untuk dikumpulkan.
Emmet dan aku duduk dan melakukan hal yang sama. Kelas masih belum sepenuhnnya
tenang; gumaman orang-orang yang saling ngobrol tidak akan berhenti sampai Mrs. Goff
menyuruh mereka diam. Dia sendiri tidak buru-buru, dia sedang memberi nilai tes kelas
sebelumnya.
“Jadi,” ujar Emmet dengan suara lebih keras dari yang dibutuhkan—jika dia memang
berniat bicara hanya padaku. “Apa kau sudah mengajak Angela Weber kencan?”
Suara kesibukan di belakangku tiba-tiba terhenti, perhatian Ben terpaku pada
pembicaraanku dan Emmet.
Angela? Mereka sedang membicarakan Angela?
Bagus. Aku berhasil menarik perhatiannya.
“Belum,” jawabku sambil menggeleng agar terlihat menyesal.
260
“Kenapa belum?” Emmet berimprovisasi, “Apa kau takut?”
Aku meringis padanya. “Bukan karena itu. Kudengar dia tertarik dengan orang lain.”
Edward Cullen ingin mengajak Angela kencan? Tapi... Tidak. Aku tidak suka itu. Aku
tidak mau dia dekat-dekat Angela. Dia...tidak pantas untuk Angela. Tidak...aman.
Aku tidak menduga yang muncul adalah insting untuk melindungi. Yang kurencanakan
adalah cemburu. Tapi apapun itu sama saja.
“Kau membiarkan itu menghentikanmu?” tanya Emmet mengejek, berimprovisasi lagi.
“Kau tidak mau bersaing?”
Aku mendelik padanya, “Bukan begitu. Kurasa dia sudah terlanjur suka dengan seorang
bocah bernama Ben, salah satu dari teman-temannya. Aku tidak mau berusaha meyakinkan
dia yang sebaliknya. Masih ada gadis-gadis lain.”
Reaksi di belakangku menggemparkan.
“Ben siapa?” tanya Emmet, kembali ke naskahnya.
“Kalau tidak salah pasangan labku bilang namanya Ben Cheney. Aku tidak tahu pasti
yang mana orangnya.”
Aku menahan senyumku. Hanya keluarga Cullen yang sombong yang bisa lolos saat
pura-pura tidak kenal setiap murid di sekolahan yang kecil ini.
Pikiran Ben berkecamuk tidak karuan.
Aku? Daripada Edward Cullen? Tapi kenapa
dia bisa suka denganku?
“Edward,” Emmet berbisik dengan suara rendah, melirik ke bocah di belakangku. “Dia
tepat di belakangmu,” mimiknya dibuat sedemikian rupa hingga si Ben bisa dengan mudah
membaca kata-katanya.
“Oh.”
Aku berbalik ke belakang dan mendelik ke bocah itu. Untuk sesaat, tatapan di balik
kacamata itu ketakutan, tapi kemudian dia menegakkan pundaknya, merasa tersinggung
karena diremehkan. Mukanya memerah karena marah.
“Huh,” dengusku arogan kemudian kembali menoleh ke Emmet.
Dia pikir dia lebih baik dariku. Tapi Angela tidak berpikir begitu. Akan kubuktikan ke
orang sombong ini...
Sempurna.
261
“Tapi, bukannya katamu Angela mengajak si Yorkie ke pesta dansa nanti?” tanya
Emmet sambil mendengus ketika menyebut nama bocah yang sering ia cemooh karena
kecanggungannya.
“Nampaknya itu keputusan dia bersama teman-teman perempuannya.” Aku ingin
meyakinkan bahwa Ben betul-betul mengerti tentang hal ini. “Angela itu pemalu. Jika B—
well
, jika seorang laki-laki tidak punya nyali untuk mengajaknya kencan, Angela tidak akan
pernah mengajaknya.”
“Kau sendiri suka dengan gadis yang pemalu.” Emmet kembali berimprovisasi.
Gadis
yang pemalu. Gadis seperti...hmm, aku tidak tahu. Mungkin Bella Swan?
Aku menyeringai padanya. “Tepat.” kemudian aku kembali ke pertunjukan ini.
“Mungkin Angela akan capek menunggu. Mungkin aku akan mengajaknya ke pesta prom.”
Tidak, kau tidak akan.
Batin Ben sambil menegakkan duduknya.
Memang kenapa
kalau dia lebih tinggi dariku? Jika dia sendiri tidak peduli, begitu pula aku. Angela adalah
orang yang paling baik, paling cerdas, dan paling cantik di sekolahan ini...dan dia
menginginkan aku.
Aku suka dengan Ben. Kelihatannya dia cerdas dan baik hati. Cukup pantas untuk
perempuan seperti Angela.
Aku mengacungkan ibu jari ke Emmet dari bawah meja. Dan saat bersamaan Mrs. Goff
berdiri, mengucapkan salam ke kelas.
Oke, kuakui—tadi itu menyenangkan,
batin Emmet.
Aku tersenyum sendiri, senang telah berhasil membuat satu kisah cinta berakhir
bahagia. Aku sangat yakin Ben akan melanjutkan niatnya, dan Angela akan menerima
hadiahku. Hutangku telah lunas.
Betapa menggelikannya manusia, menjadikan perbedaan tinggi enam inchi
mengacaukan kebahagiaan mereka.
Kesuksesan rencana tadi mengembalikan suasana hatiku jadi baik. Aku tersenyum lagi
seraya duduk lebih nyaman, siap-siap untuk terhibur. Bagaimanapun, seperti yang Bella
katakan, aku belum pernah melihat dia di kelas olahraga.
Pikiran Mike lebih mudah ditemui diantara dengungan suara-suara disana. Pikirannya
jadi terlalu familiar selama satu minggu ini. Dengan mengeluh aku mengalah untuk
262
mendengarkan lewat dia. Paling tidak aku tahu dia akan memperhatikan Bella.
Aku mendengarkan tepat saat dia menawarkan diri jadi pasangan badminton Bella; saat
bersamaan, bentuk berpasangan yang lain terlintas di kepala Mike. Senyumku lenyap, gigiku
terkatup erat, dan aku mesti mengingatkan diriku bahwa membunuh Mike Newton bukan
sesuatu yang bisa dimaafkan.
“Terima kasih, Mike—kau tahu, kau tak perlu melakukannya.”
“Jangan khawatir, aku tidak akan mengganggumu.”
Mereka saling senyum satu sama lain. Dan di kepala Mike berkelebatan berbagai
insiden sebelumnya di kelas olahraga—selalu saja dengan berbagai cara berhubungan dengan
Bella.
Awalnya Mike bermain sendirian, Bella cuma berdiri enggan di belakang lapangan,
memegangi raketnya hati-hati seakan itu senjata. Kemudian Coach Clapp menyuruh Mike
memberi Bella kesempatan main.
Oh, aduh,
batin Mike saat Bella melangkah maju sambil mengeluh. Dia memegang
raketnya dengan canggung.
Jenifer Ford sengaja mengarahkan servis langsung ke Bella. Mike melihat Bella maju
menghadang tapi ayunan raketnya jauh dari sasaran. Mike pun buru-buru mengejar koknya.
Pada saat itu aku melihat arah ayunan raket Bella dengan ngeri. Dan benar saja,
raketnya mengenai ujung atas net dan memantul kembali ke dia, memukul keningnya
sebelum kemudian terpelintir dan mengenai bahu Mike dengan suara keras.
Ow. Ow. Aduh. Itu pasti akan meninggalkan bekas.
Bella mengelus-elus keningnya. Rasanya sulit untuk tetap tinggal di tempatku,
mengetahui dia terluka. Tapi apa yang bisa kulakukan jika disana? Dan kelihatannya tidak
terlalu serius... Aku menahan diri dan tetap mengawasi saja. Jika dia berniat untuk tetap
melanjutkan, aku akan mencari alasan untuk mengeluarkan dia dari kelas.
Coach Clapp tertawa.
“Sori, Newton.” Gadis itu adalah orang paling ceroboh yang
pernah kulihat. Sebaiknya tidak perlu membuat yang lain jadi korbannya.
Dia sengaja memunggungi Mike dan Bella, ganti mengawasi pertandingan lain supaya
Bella bisa kembali jadi penonton saja.
Aduh,
batin Mike lagi sambil memijat- mijat tangannya. Dia menoleh ke Bella.
“Apa
263
kau tidak apa-apa?”
“Tidak apa-apa, kau sendiri?”
tanyanya malu, mukanya merah.
“Kurasa aku baik- baik saja.” Jangan sampai kedengaran seperti anak cengeng. Tapi
ya ampun, ini sakit!
Mike mengayun-ngayunkan tangannya sambil meringis.
“Aku akan tinggal di belakang sini saja.”
Bella terlihat malu daripada sakit. Mungkin
Mike yang kena pukul lebih keras. Aku jelas
berharap
itu yang terjadi. Paling tidak Bella
tidak ikut main lagi. Dia memegang raketnya sangat hati-hati di belakang punggung, matanya
melebar menyesal... Aku menyamarkan tawaku sebagai batuk.
Apa yang lucu?
Emmet ingin tahu.
“Nanti saja,” gumamku.
Bella tidak ikut main lagi. Coach Clapp mengabaikan dia dan membiarkan Mike
bermain sendirian.
Di penghujung jam, aku sudah menyelesaikan tesnya dengan mudah. Dan Mrs. Goff
mengijinkanku keluar lebih awal. Aku mendengarkan pikiran Mike lekat-lekat selama
berjalan melintasi halaman sekolah. Dia memutuskan untuk menanyakan Bella tentang aku.
Jessica bersumpah mereka berkencan. Kenapa? Kenapa Edward harus memilih Bella?
Dia tidak menyadari kejadian yang sebenarnya—bahwa Bella lah yang memilih
aku.
“Jadi.”
“Jadi apa?”
tanya Bella bingung.
“Kau jalan dengan Cullen, heh?” Kau dengan si aneh itu. Kurasa, jika orang kaya
sebegitu pentingnya buatmu...
Aku menggertakan gigi mendengar asumsinya yang merendahkan itu.
“Itu bukan urusanmu, Mike.”
Defensif. Jadi itu betul. Sial. “Aku tidak suka.”
“Memang tidak perlu,” sergah Bella marah.
Kenapa Bella tidak melihat betapa anehnya si Cullen itu? Mereka semuanya aneh.
Melihat bagaimana cara dia memandang Bella membuatku merinding. “Caranya
memandangmu... seolah ingin memakanmu.”
Aku ngeri menunggu respon Bella.
264
Mukanya merah padam, dia menekan bibirnya seakan sedang menahan napas.
Kemudian, tiba-tiba keluar suara tawa dari mulutnya.
Sekarang dia menertawakan aku. Sial.
Mike memutar badan, dan pergi ke ruang ganti, pikirannya sunyi.
Aku bersandar ke tembok ruang gimnasium sambil berusaha mengendalikan diri.
Bagaimana bisa dia menertawakan tuduhan Mike—begitu tepat sasaran hingga
membuatku khawatir jangan-jangan penduduk Forks sudah jadi ter lalu
sadar
... kenapa dia
tertawa pada tebakan bahwa aku mau membunuhnya, ketika dia tahu itu sepenuhnya tepat?
Apanya yang lucu dari itu?
Ada apa dengan dia?
Apa dia punya selera humor yang gelap? Itu tidak cocok dengan karakternya, tapi
bagaimana aku bisa yakin? Atau mungkin lamunanku tentang malaikat sembrono itu ada
betulnya, paling tidak di satu sisi, bahwa Bella tidak punya rasa takut sama sekali. Pemberani
—itu istilah umumnya. Yang lain mungkin akan bilang dia itu bodoh, tapi aku tahu
bagaimana cerdasnya dia. Namun, apapun alasannya, ketidak kenal takutan dia dan keanehan
selera humornya itu, tidak baik untuk dirinya. Apakah hal itu yang membuat dia selalu berada
dalam bahaya? Mungkin dia akan selalu membutuhkan kehadiranku disampingnya...
Begitu saja, dan seketika suasana hatiku sudah membumbung tinggi.
Jika aku bisa mendisiplinkan diri, membuat diriku tetap aman, maka mungkin aku bisa
tetap berada disampingnya.
Ketika dia berjalan menuju pintu, pundaknya terlihat kaku dan dia sedang menggigit
birbirnya lagi—tanda gelisah. Tapi begitu matanya menatapku, pundaknya yang kaku
langsung rileks dan senyum mengembang di wajahnya. Ekspresinya sangat damai. Dia
berjalan ke arahku tanpa ragu-ragu, hanya berhenti ketika dia sudah begitu dekat hingga
kehangatan badannya menyapuku seperti gelombang.
“Hai,” bisiknya.
Kebahagaiaan yang kurasakan saat ini, lagi, tidak ada bandingannya.
“Halo,” sapaku, lalu—karena moodku yang tiba-tiba jadi begitu enteng, aku tidak tahan
untuk tidak menggodanya—aku menambahkan, “bagaimana kelas olahragamu?”
Senyumnya bimbang. “Baik-baik saja.”
265
Dia tidak pandai berbohong.
“Benarkah?” aku sudah akan melanjutkan pertanyaanku—aku masih mengkhawatirkan
kepalanya; apa masih sakit?—tapi kemudian pikiran ribut Mike Newton memecah
konsentrasiku.
Aku
benci
dia. Kuharap dia mati. Semoga mobil mewahnya terjun ke jurang. Kenapa
dia harus menganggu Bella segala? Kenapa dia tidak bergaul saja dengan kaumnya sendiri
—kaum orang-orang aneh.
“Apa?” desak Bella.
Mataku kembali fokus ke Bella. Dia melihat ke Mike yang memunggungi kami pergi,
kemudian ke aku lagi.
“Newton membuatku kesal,” akuku.
Dia terperanjat, dan senyumnya lenyap. Dia pasti lupa aku punya kemampuan untuk
mengawasi semua kekikukan dia selama satu jam tadi, atau berharap aku tidak
menggunakannya. “Kau tidak sedang mendengarkan lagi, kan?”
“Bagaimana kepalamu?”
“Kau ini bukan main!” desisnya kesal, lalu pergi meninggalkanku, berjalan cepat-cepat
ke parkiran. Mukanya merah padam—dia malu.
Aku megejarnya, berharap kemarahannya segera reda. Biasanya dia cepat memaafkan.
“Kau sendiri yang bilang, aku tak pernah melihatmu di kelas olahraga—aku jadi
penasaran.”
Dia tidak menjawab. Dia masih tampak kesal.
Sesampainya di parkiran mendadak dia berhenti saat menyadari jalan menuju mobilku
terhalangi oleh kerumunan cowok.
Kira-kira seberapa cepat mobil ini di jalan bebas hambatan...
Coba lihat pedal gas SMGnya itu. Aku belum pernah melihatnya selain di majalah...
Peleknya keren...
Tentu saja, kuharap aku punya enampuluh ribu dolar di kantongku...
Ini lah sebabnya kenapa Rosalie sebaiknya hanya menggunakan mobilnya saat keluar
kota saja.
Aku menyelinap diantara mereka menuju mobilku; setelah bimbang sejenak, Bella
266
mengikuti.
“Kelewat mencolok,” gumamku saat dia masuk ke mobil.
“Mobil apa itu?”
“M3.”
Dahinya berkerut. “Aku tidak paham jenis-jenis mobil.”
“Itu keluaran BMW.” Aku memutar bola mataku, lalu fokus pada usahaku untuk
mundur tanpa menyenggol siapapun. Terutama aku harus memusatkan padangan pada
beberapa cowok yang kelihatannya tidak mau bergerak sama sekali. Cukup dengan setengah
detik bertemu pandang denganku, mereka berhasil diyakinkan untuk minggir.
“Kau masih marah?” tanyaku padanya. Kerutan di dahinya telah lenyap.
“Jelas.”sergahnya kasar.
Aku menghela napas. Mungkin mestinya tadi aku tidak mengungkitnya. Oh, baiklah.
Kurasa aku bisa mencoba untuk minta maaf. “Maukah kau memaafkanku kalau aku meminta
maaf?”
Dia memper timbangkan sejenak. “Mungkin..., kalau kau bersungguh-sungguh.”
akhirnya dia memutuskan. “
Dan
kalau kau berjanji tidak mengulanginya lagi.”
Aku tidak mau berbohong, dan tidak mungkin aku setuju pada hal
itu.
Mungkin aku
bisa menawarkan janji yang lain...
“Bagaimana kalau aku bersungguh-sungguh,
dan
aku setuju membiarkanmu
mengemudi sabtu nanti?” Aku berjengit dalam hati pada pikiran itu.
Kerut diantara matanya kembali muncul saat dia sedang mempertimbangkan
tawaranku. “Setuju,” ucapnya setelah beberapa saat.
Sekarang untuk permintaan maafku... Aku belum pernah dengan sengaja
mencoba
membuat Bella terpesona, tapi sekarang kelihatannya waktu yang tepat. Sambil
mengemudikan mobilku menjauh dari sekolahan, aku menatap lekat-lekat ke dalam matanya,
bertanya-tanya apa sudah melakukannya dengan benar. Aku menggunakan nada yang paling
membujuk.
“Kalau begitu aku sangat menyesal telah membuatmu marah.”
Jantungnya berdetak lebih keras dari sebelumnya, iramanya berantakan. Matanya
melebar, kelihatan seperti terhipnotis.
267
Aku setengah tersenyum. Sepertinya aku telah melakukan dengan benar. Tentu saja,
aku juga sulit berpaling dari matanya. Sama-sama terpesona. Untung aku sudah hapal jalan
ini.
“Dan aku akan tiba di depan rumahmu pagi-pagi sekali sabtu nanti,” tambahku,
melengkapi permintaan maafku.
Dia mengerjap beberapa kali, dan menggoyang kepalanya seperti ingin menjenihkan
isinya. “Mmm,” gumamnya, “rasanya tidak terlalu membantu bila Charlie melihat volvo
asing di halaman rumahnya.”
Ah, betapa masih sedikitnya pengetahuan dia tentang diriku. “Aku tidak berencana
membawa mobil.”
“Bagaimana—” Dia sudah mau akan bertanya.
Tapi kusela duluan. Jawabannya sulit dijelaskan jika tanpa didemonstrasikan, dan
sekarang bukan waktu yang tepat. “Jangan khawatir soal itu. Aku akan datang, tanpa mobil.”
Dia menelengkan kepala, sesaat seperti ingin bertanya lebih lanjut, tapi kemudian
berubah pikiran.
“Apakah ini sudah cukup 'nanti' seperti yang kau janjikan?” Dia mengingatkan pada
pembicaraan yang belum selesai di kafetaria tadi; dia melepas satu pertanyaan sulit hanya
untuk kembali pada pertanyaan yang juga tidak mengenakan.
“Kurasa sudah,” jawabku enggan.
Aku parkir di depan rumahnya. Mendadak aku jadi tegang memikirkan bagaimana cara
menjelaskannya...tanpa membuat sifat monsterku jadi terlihat dengan jelas, tanpa
membuatnya takut. Atau, apakah menutupi sifat gelapku itu salah?
Dia menunggu dengan ekspresi tertarik yang sopan seperti tadi siang. Jika aku tidak
sedang gelisah, ketenangannya yang tidak masuk akal ini pasti akan membuatku tertawa.
“Kau masih ingin tahu kenapa kau tidak bisa melihatku berburu?” tanyaku akhirnya.
“
Well
, aku terutama ingin tahu bagaimana reaksimu.”
“Apa aku membuatmu takut?” aku sangat yakin dia akan menyangkal.
“Tidak.”
Aku berusaha untuk tidak tersenyum, tapi gagal. “Aku minta maaf telah membuatmu
takut.” Dan senyumku pun lenyap. “Hanya saja, membayangkan kau ada disana... sementar a
268
kami berburu.”
“Pasti buruk?”
Membayangkannya saja sudah terlalu mengerikan—Bella yang begitu rapuh berada di
tengah kegelapan; sosokku yang lepas kendali... Aku berusaha mengusir bayangan itu.
“Sangat.”
“Karena...?”
Aku mengambil napas dalam-dalam, berkonsentrasi pada rasa haus yang membakar
kerongkonganku. Merasakannya dalam-dalam, mengaturnya, membuktikan dominasiku atas
sensasi itu. Rasa haus itu tidak akan pernah menguasaiku lagi—kuharap itu benar-benar bisa
jadi kenyataan. Aku
akan
jadi lebih aman untuk Bella.
Kutatap awan yang menggantung di luar tanpa benar-benar menatapnya, berharap bisa
percaya bahwa tekadku semata akan membuat perbedaan jika saat berburu aku menemukan
aromanya.
“Ketika kami berburu...kami membiarkan indra mengendalikan diri kami.”
Kupertimbangkan setiap kata yang mau kuucapkan. “Tanpa banyak menggunakan pikiran.
Terutama indra penciuman kami. Kalau kau berada di dekatku ketika aku kehilangan kendali
seperti itu...”
Aku menggeleng dengan perasaan tersiksa, membayangkan apa yang akan—bukan apa
yang
mungkin
, tapi apa yang
akan—
pasti terjadi.
Aku mendengarkan suara detak jantungnya, lalu menoleh, resah, untuk membaca
matanya.
Wajah Bella nampak tenang, tatapannya sungguh-sungguh. Mulutnya sedikit mengerut
—yang kuduga karena—prihatin. Tapi prihatin karena apa? Keamanan dirinya? Atau karena
kegundahanku? Aku terus menatapnya, berusaha menerjemahkan ekpresi ambigunya jadi
sesuatu yang pasti.
Dia menatap balik. Matanya melebar setelah beberapa saat, dan pupilnya meluas meski
cahaya disini tidak berubah.
Napasku semakin cepat, dan mendadak keheningan ini berubah. Getaran yang
kurasakan siang tadi memenuhi atmosfer sekelilingku. Aliran listrik yang mengalir diantara
kami dan hasarat untuk menyentuhnya, dalam sekejap berkembang lebih kuat dari rasa
269
hausku.
Aliran listrik ini membuatku seperti memiliki denyut jantung lagi. Tubuhku menar i
bersamanya, seakan aku manusia. Lebih dari apapun di dunia ini aku ingin merasakan
kehangatan bibirnya di bibirku. Selama sekejap, aku berusaha mati-matian mencari kekuatan,
untuk mengontrol diriku, untuk sanggup mendekatkan bibirku ke bibirnya...
Dia menarik napas—tersendat. Dan pada saat itulah aku sadar bahwa ketika napasku
memburu, justru saat bersamaan napasnya terhenti sama sekali.
Aku memejamkan mata, berusaha memutus aliran listrik diantara kami.
Tidak boleh ada kesalahan.
Keberadaan bella sangat bergantung pada ribuan keseimbangan proses kimiawi yang
sensitif. Semuanya sangat mudah terganggu. Irama denyut paru-paru, aliran oksigen, adalah
soal hidup-mati bagi dia. Debaran detak jantungnya yang rapuh bisa dihentikan begitu saja
oleh berbagai macam insiden konyol atau oleh penyakit atau oleh...diriku.
Semua anggota keluargaku tidak akan ragu-ragu untuk menukarkan keabadian mereka
kalau itu bisa membuat mereka menjadi manusia lagi. Mereka siap menantang apapun,
dibakar hidup-hidup selama berhari-hari atau bahkan berabad-abad bila perlu.
Kebanyakan dari kaum kami menyanjung-nyanjung keabadian melebihi apapun.
Bahkan ada manusia yang mengidamkannya, yang mencari di tempat-tempat gelap untuk
bisa menemukan mahluk yang mau memberi mereka hadiah kegelapan itu...
Bukan kami. Bukan keluargaku. Kami akan menukar apapun untuk bisa menjadi
manusia lagi.
Tapi, tidak satupun dari kami yang pernah seputus asa ingin kembali seperti diriku saat
ini.
Aku memandangi bintik-bintik mikroskopis yang ada di kaca depan, seakan solusinya
tersembunyi di situ. Getaran listrik itu masih belum lenyap, dan aku harus berkonsentrasi
untuk menjaga tanganku tetap berada di kemudi.
Tangan kananku mulai tersengat listr ik lagi, seperti saat habis menyentuhnya.
“Bella, kurasa kau harus masuk sekarang.”
Dia langsung menurut, tanpa berkomentar, keluar dari mobil dan menutup pintunya.
Apakah dia juga merasakan kemungkinan terjadinya petaka sejelas yang kurasakan?
270
Apakah menyakitkan baginya untuk pergi, sama seperti menyakitkannya bagiku untuk
membiarkan dia pergi? Satu- satunya penghibur adalah bawah aku akan segera menemuinya.
Lebih cepat dari dia akan melihatku. Aku tersenyum pada hal itu, kemudian menurunkan
kaca jendela samping dan mencondongkan tubuhku untuk bicara dengannya sekali lagi—
sekarang sudah lebih aman, dengan kehangatan tubuhnya di luar mobil.
Dia menoleh untuk mencari tahu apa yang kumau, penasaran.
Masih saja penasaran, meski hari ini dia sudah menanyaiku berbagai macam
pertanyaan. Rasa penasaranku sendiri sama sekali belum terpuaskan; menjawab pertanyaan-
pertanyaannya hari ini hanya mengungkapkan rahasiaku—aku tidak mendapat apa-apa dari
dia kecuali dugaan belaka. Itu tidak adil.
“Oh, Bella?”
“Ya?”
“Besok giliranku.”
Dahinya berkerut. “Giliran apa?”
“Bertanya padamu.” Besok, ketika kami berdua berada di tempat yang lebih aman,
dikelilingi saksi-saksi, aku akan mendapat jawabanku. Aku tersenyum pada pikiran itu, lalu
berpaling karena dia tidak menunjukan tanda-tanda akan beranjak. Bahkan dengan dia di luar
mobil, gaung getaran listrk itu masih menggantung di sekelilingku. Aku juga ingin keluar,
untuk mengantarnya ke depan pintu sebagai alasan untuk bisa tetap di sampingnya...
Tidak boleh ada kesalahan.
Aku menginjak pedal gas, lalu menghela napas begitu dia hilang di belakangku.
Kelihatannya aku selalu lari menuju Bella atau melarikan diri dari dia, tidak pernah tetap
tinggal di tempat. Aku mesti mencar i cara untuk bisa mengendalikan diriku jika mau
semuanya berjalan lancar.
12.
Langganan:
Postingan (Atom)

