Cari Blog Ini

movie mania

12.

yang kau katakan pada Jessica...” Aku tidak sanggup membuat suaraku tetap
santai. “
Well
, itu menggangguku.”
Dia  langsung mengambil  sikap defensif. “Aku tidak terkejut kau mendengar  sesuatu
yang tidak kau sukai. Kau tahu kan apa kata pepatah tentang tukang nguping.”
Tukang nguping  tidak akan pernah mendengar  sesuatu  yang baik buat diri  mereka,
begitu pepatahnya.
“Aku sudah mengingatkan bahwa aku akan mendengarkan.”
“Dan aku sudah mengingatkan tidak semua yang kupikirkan baik untuk kau ketahui.”
Ah, yang dia maksud saat aku membuatnya menangis. Penyesalan membuat  suaraku
makin parau. “Memang. Meski begitu, kau tidak sepenuhnya benar. Aku ingin tahu apa yang
kau pikirkan—semuanya. Aku hanya berharap... kau tidak memikirkan beberapa hal.”
Lagi-lagi separuh bohong. Aku tahu,
tidak
seharusnya aku berharap dia peduli padaku.
Tapi toh aku mengharapkannya. Tentu saja aku mengharapkannya.
“Itu sama saja,” gerutunya dengan bersungut-sungut.
“Tapi bukan itu masalahnya sekarang.”
“Lalu apa?”
Dia   mencondongkan  tubuh  ke   depan.  Tangan  kanannya  memegangi  leher.  Dan  itu
menarik perhatianku. Pasti kulitnya halus sekali...
Fokus,
perintahku pada diriku.
“Apakah   kau  benar-benar   yakin  kau  lebih   peduli   padaku  daripada  aku  padamu?”
Buatku pertanyaan itu terdengar menggelikan, seakan kata- katanya campur aduk.
Matanya  melebar,  napasnya  terhenti.  Kemudian  dia   berpaling,  berkedip  cepat.   Dia
menghela napas pelan.
“Kau melakukannya lagi,” gumamnya.
“Apa?”
“Membuatku terpesona,” akunya, sambil menatap mataku hati-hati.
“Oh.” Hmm. Aku tidak tahu bagaimana cara mengatasi itu. Aku juga tidak yakin aku
tidak
mau
membuatnya begitu. Aku masih tidak percaya bisa
melakukannya.
Tapi itu tidak
akan membantu pembicaraan ini.
“Bukan salahmu.” Dia menghela napas lagi. “Kau tak bisa mencegahnya.”
242
   

“Apakah kau akan menjawab pertanyaanku?” desakku.
Dia memandangi meja. “Ya.”
Cuma itu yang dia katakan.
“Ya, kau akan menjawab, atau ya, kau benar-benar  berpendapat begitu?” tanyaku tidak
sabar.
“Ya,   aku   benar-benar   berpendapat   begitu,”   jawabnya   pelan,   masih   menghindari
tatapanku. Ada  nada sendu pada  suaranya. Dan dia tersipu lagi. Giginya mulai menggigit
bibirnya.
Aku jadi sadar, pasti sangat sulit buat dia untuk mengakui itu, karena dia benar-benar
mempercayainya.   Dan   aku   tidak   jauh   beda   dengan   si   pengecut   Mike   Newton,   yang
menanyakan perasaan Bella duluan sebelum menyatakan perasaannya. Tidak penting bahwa
rasanya  aku  telah mengungkapkan perasaanku dengan jelas,  yang  pasti,  dia  tidak pernah
menangkapnya. Jadi tidak ada alasan bagiku untuk mengelak.
“Kau salah.” Aku meyakinkan dia. Pasti dia mendengar kelembutan dalam suaraku.
Bella   menatapku.  Tatapannya  misterius,  tidak memberitahu  apa-apa.  “Kau  tak bisa
mengetahuinya,” bisiknya pelan.
Menurutnya   aku   meremehkan   perasaannya   karena   aku   tidak   bisa   mendengar
pikirannya. Tapi yang sebenarnya terjadi, dia lah yang meremehkan perasaan
ku
.
“Apa yang membuatmu berpikir begitu?” Aku bertanya-tanya.
Dia menatapku balik, dengan kerut diantara alisnya, dan sambil menggigit bibir. Untuk
kesekian kali, dengan sia-sia aku berharap bisa
mendengar
pikirannya.
Aku  hampir   memohon  padanya  untuk  memberitahu   apa   yang  sedang  berkecamuk
dalam pikirannya, tapi dia mengangkat jarinya untuk mencegahku bicara.
“Biarkan aku berpikir,” pintanya.
Selama dia cuma mengatur pikiran, aku bisa sabar.
Atau, aku bisa pura-pura sabar.
Dia   mengatupkan   tangan,   mengait   dan  menguraikan   jemarinya  yang   mungil.  Dia
mengamati tangannya seakan itu milik orang lain saat dia mulai bicara.

Well
, terlepas dari kenyataannya,” gumamnya ragu-ragu. “Kadang-kadang... aku tidak
yakin—
aku
tidak   tahu   car anya   membaca   pikiran—tapi   terkadang   rasanya   seolah   kau
243
   

berusaha mengucapkan selamat tinggal ketika kau mengatakan sesuatu yang lain.” Dia tidak
mendongak.
Dia menangkapnya, ya kan? Sadarkah dia bahwa hanya karena diriku lemah dan egois
maka aku tetap ada disini? Apa dia memandang remeh perasaanku hanya karena itu?
“Peka,”   bisikku,   dan   menghela   napas.   Kemudian   aku   melihat   dengan   ngeri   saat
ekspresinya   berubah   terluka.  Aku   buru-buru  menyangkal   asumsinya.  “Tapi   justru  itulah
kenapa kau salah.” Aku berhenti sebentar, mengingat-ingat kata pertama dari penjelasannya.
Kata itu menggangguku, meski  tidak terlalu mengerti maknanya. “Apa maksudmu dengan
'kenyataannya'?”

Well
, lihat aku,” ujarnya.
Aku
sedang
melihatnya. Yang dari tadi kulakukan adalah melihatnya. Apa maksudnya?
“Aku  sangat  biasa-biasa saja.”  Dia  menjelaskan. “
Well
, kecuali  untuk  hal-hal buruk
seperti pengalaman yang sangat dekat dengan kematian, dan aku begitu canggung sehingga
bisa  dibilang  nyaris   tak  berdaya.  Sedang  kan kau?”  dia  melambaikan  tangan ke  arahku,
seakan sedang menegaskan sesuatu yang sudah sangat jelas.
Dia   pikir   dia   biasa-biasa   saja?   Dia   pikir,   entah   bagaimana,   aku   jauh   lebih   baik
dibanding dirinya?  Berdasar   perkiraan siapa? Orang  konyol yang berpikiran  picik seperti
Jessica   atau   Ms.   Cope?   Bagaimana   mungkin   dia   tidak   menyadari   bahwa   dia   adalah
perempuan paling cantik...paling indah... bahkan kata-kata itu tidak cukup untuk melukisan
dirinya.
Dan dia tidak menyadari hal itu.
“Kau sendiri tidak melihat dirimu dengan jelas,” kataku padanya. “Kuakui kau benar
tentang hal-hal buruk itu...” Aku tertawa kecut. Aku tidak menganggap takdir  gelap yang
memburunya   menggelikan.   Namun   begitu,   kecanggungannya   cukup   lucu   juga.
Menggemaskan. Apa mungkin dia  mau percaya  jika  kukatakan dia  itu cantik luar-dalam?
Mungkin dia lebih percaya dengan bukti. “Tapi kau tidak mendengar  apa  yang dipikirkan
setiap laki-laki di sekolah ini tentangmu pada hari pertamamu di sini.”
Ah,  aku  ingat  harapan  dan getaran hati,  yang  jadi  pikiran  mereka  waktu  itu. Yang
kemudian   berubah   menjadi   fantasi-fantasi   yang   mustahil.   Mustahil   karena   Bella   tidak
menginginkan satupun dari mereka.
244
   

Padaku lah Bella mengatakan ya.
Senyumku pasti sombong.
Sementara wajahnya kosong karena terkejut. “Aku tak percaya...” gumamnya.
“Percayalah sekali ini saja—kau bukan manusia biasa.”
Keberadaannya sendiri saja cukup jadi alasan untuk menghargai seisi dunia lainnya.
Dia tidak terbiasa dengan pujian, bisa kulihat itu. Satu lagi yang
mesti
dia biasakan. Dia
merona, dan buru-buru mengubah topik pembicaraan. “Tapi aku tidak mengucapkan selamat
tinggal.”
“Tidakkah kau mengerti? Itu yang membuktikan bahwa aku benar. Akulah yang paling
peduli, karena seandainya aku bisa melakukannya...” Apakah aku akan bisa jadi cukup tidak-
egois  untuk melakukan apa yang seharusnya?  Aku menggeleng putus  asa. Aku harus  bisa
mendapatkan kekuatan itu. Dia pantas memperoleh kehidupan, bukan seperti yang Alice lihat
di masa depan. “Seandainya meninggalkanmu adalah sesuatu yang harus kulakukan...” dan
memang itu yang seharusnya, ya  kan? Tidak ada itu malaikat yang sembrono. Bella bukan
untukku. “Akan kusakiti diriku sendiri demi menjagamu agar tidak terluka, supaya kau tetap
aman.”
Karena sudah mengatakannya, aku bersikeras bahwa itulah yang seharusnya terjadi.
Dia  mendelik  padaku.  Entah bagaimana,  ucapanku  telah  membuatnya  marah.  “Dan
pikirmu aku takkan melakukan hal yang sama?”
Dia sangat marah—begitu lembut dan rapuh. Bagaimana mungkin dia bisa menyakiti
orang lain?  “Kau  takkan pernah perlu membuat keputusan itu,”  sanggahku dengan suara
tertekan, menyadari besarnya perbedaan diantara kami.
Dia  menatapku. Kini sorot prihatin menggantikan amarah di  matanya, memunculkan
kerut diantara dua mata itu.
Pasti  ada  yang  salah  dengan dunia  ini  jika  seseorang,  yang begitu  baik dan rapuh
seperti dia, tidak memiliki malaikat pelindung untuk menjaganya tetap aman.
Well,
batinku dengan humor gelap,
paling tidak dia memiliki vampir pelindung.
Aku tersenyum.  Aku senang  dengan  alasan itu. “Tentu saja  menjagamu tetap aman
mulai terasa seperti pekerjaan purnawaktu yang senantiasa memerlukan kehadiranku.”
Dia tersenyum juga. “Tak seorangpun mencoba membunuhku hari ini,” ucapnya santai.
245
:

Kemudian selama setengah detik wajahnya berubah spekulatif sebelum kemudian tatapannya
jadi misterius lagi.
“Belum,” tambahku datar.
“Belum.”  Secara  mengejutkan  dia  sependapat.  Kukira   dia   akan  menyangkal  setiap
usaha untuk melindunginya.
Tega-teganya  dia.  DASAR  EGOIS!   Tega-teganya  dia  melakukan  hal  itu  pada  kita!
Teriakan murka pikiran Rosalie memecah konsentrasiku.
“Tenanglah,   Rose,”   kudengar   bisikan   Emmet   dari   seberang   kafetaria.   Tangannya
merangkul erat pundak Rosalie—menahannya.
Sori, Edward,
sesal Alice dalam hati.
Dia bisa menebak Bella tahu terlalu banyak dari
isi pembicaraanmu...dan, well, akan lebih parah lagi andai aku tidak langsung memberitahu
yang sebenarnya. Percayalah.
Aku   mengernyit   pada   gambaran   yang   mengikutinya,  akan   apa   yang   bakal   terjadi
seandainya Rosalie baru tahu ketika di rumah, dimana dia tidak perlu menahan diri untuk
melindungi identitasnya. Aku mesti menyembunyikan Aston Martinku jika dia masih belum
juga   tenang   saat   sekolah   usai.   Gambaran   mobil   favoritku   hancur   berkeping-keping
membuatku kesal—meski tahu aku pantas menerimanya.
Jasper juga tidak terlalu senang dengan keputusanku.
Biar kutangani mereka nanti. Siang ini waktuku bersama Bella tidak terlalu banyak, dan
aku tidak mau menyia-nyiakannya. Dan aku jadi teringat dengan peringatan Alice tadi.
Kugeser  jauh-jauh histeria  pikiran Rosalie yang  masih  belum  berhenti.  “Aku punya
pertanyaan lain untukmu.”
“Tanyakan saja,” ujarnya sambil tersenyum.
“Apakah kau benar-benar  harus  ke  Seattle sabtu ini, atau kah itu hanya alasan untuk
menolak semua penggemarmu?”
Dia  cemberut. “Kau tahu, aku belum memaafkanmu untuk masalah Tyler. Itu semua
salahmu, sehingga dia mengira aku akan pergi ke prom bersamanya.”
“Oh,   dia   akan   mengajakmu   sendiri   tanpa   bantuanku—aku   cuma   ingin   melihat
reaksimu.”
Aku tergelak mengingat ekspresi syoknya. Tidak satupun cerita horor  tentang diriku
   

bisa   membuatnya   sesyok   itu.   Kebenar an   tidak   membuatnya   takut.   Dia   ingin   bersama
denganku. Jalan pikirannya benar-benar ruwet.
“Kalau aku mengajakmu, apakah kau akan menolak?”
“Mungkin tidak. Tapi  aku kemudian akan membatalkannya—berpura-pura  sakit atau
mengalami cedera pergelangan kaki.”
Benar-benar aneh. “Kenapa kau melakukan itu?”
Dia   menggeleng,   seakan   kecewa   aku   tidak   langsung   mengerti.   “Kau   tak   pernah
melihatku di kelas olahraga, tapi kupikir kau bakal mengerti.”
Ah. “Apakah kau sedang bicara tentang fakta bahwa kau tak bisa berjalan di permukaan
rata tanpa tersandung?”
“Tentu saja.”
“Itu bukan masalah. Tergantung siapa yang memimpin dansanya.”
Selama  sepersekian detik, perasaanku meluap gembira pada  bayangan merangkulnya
pada saat berdansa—dan pasti dia memakai sesuatu yang cantik dan indah ketimbang sweter
jelek ini.
Dengan sangat jelas aku ingat bagaimana tubuhnya terasa dibawah pelukanku setelah
menyelematkan  dia  dari  terjangan
van
.  Aku  lebih  bisa  mengingat  sensasinya  ketimbang
kepanikanku waktu itu. Dia terasa begitu hangat dan lembut, sangat pas dalam rengkuhan
tubuhku...
Aku kembali dari ingatan itu.
“Tapi   kau   belum   bilang—”   kataku   buru-buru,   mencegah   dia   mendebat   soal
kecanggungannya,  seperti  yang  jelas-jelas  ingin dia lakukan.  “Apakah  kau sudah  mantap
ingin ke Seattle, atau kau tidak keberatan kita melakukan sesuatu yang berbeda?”
Sedikit rumit—memberinya kesempatan untuk memilih, tapi tanpa memberinya pilihan
untuk   tidak   bersamaku.   Kurasa   itu   tetap   adil.   Lagipula   tadi   malam   aku   sudah   janji
padanya...dan aku senang pada ide untuk memenuhinya—hampir  sebesar  kecemasanku pada
ide itu sendiri.
Sabtu nanti matahari akan bersinar. Aku bisa memperlihatkan diriku yang sebenarnya,
jika aku cukup berani untuk menghadapi kengerian dan kejijikan dia. Aku tahu tempat yang
tepat untuk mengambil resiko itu...
247
   

“Aku terbuka untuk tawaran lain. Tapi aku punya satu permintaan.”
Setuju, tapi dengan syarat. Apa yang dia inginkan?
“Apa?”
“Boleh aku yang mengemudi?”
Apa ini idenya untuk melucu? “Kenapa?”

Well
, terutama karena waktu kubilang kepada Charlie akan pergi ke Seattle, dia secara
spesifik bertanya apakah aku pergi sendirian, dan waktu itu, memang ya. Kalau dia bertanya
lagi, barangkali aku tidak akan berbohong, tapi rasanya dia tidak
akan
bertanya  lagi, dan
meninggalkan truk di rumah akan membuatnya bertanya-tanya. Juga karena cara menyetir mu
membuatku takut.”
Aku memutar bola mataku. “Dari semua hal dalam diriku yang bisa membuatmu takut,
kau malah takut dengan caraku mengemudi.” Aku menggeleng tak percaya. Jujur  saja, jalan
pikirannya betul-betul terbalik.
Edward,
panggil Alice mendesak.
Mendadak, aku menatap ke sinar cerah matahari; salah satu dari penglihatan Alice.
Itu tempat  yang  sangat  kukenal,  tempat  dimana  aku  akan  mengajak Bella—sebuah
padang rumput  kecil, yang belum pernah dikunjungi siapapun selain diriku. Tempat sunyi
yang indah, tempat aku biasa menyendiri—cukup jauh dari jalan setapak atau pemukiman
penduduk hingga bahkan pikiranku bisa tenang, tidak mendengar apa-apa.
Alice   mengenalinya   juga,   karena   dia   telah   melihatku   disana,   pada   salah   satu
penglihatannya yang tidak terlalu lama—salah satu dari penglihatan kabur dan bekedip- kedip
yang Alice tunjukan padaku di pagi ketika Bella kuselamatkan dari terjangan
van.
Dalam   penglihatan   yang   berkedip-kedip   itu,   aku   tidak   sendirian.   Dan   sekarang
semuanya  jelas—Bella bersamaku  disana.  Berarti aku  berani  mengambil resiko  itu.  Bella
memandangiku, pelangi menari di depan wajahnya, matanya tidak bisa dijajaki.
Itu tempat  yang  sama,
batin Alice.  Pikirannya  diliputi  kengerian  yang  tidak cocok
dengan  penglihatan  itu. Tegang,  itu  mungkin, tapi  kenapa  ngeri?  Apa  maksudnya dengan
tempat yang
sama?
Kemudian aku melihatnya.
Edward!
teriak Alice nyaring.
Aku mencintainya, Edward!
248
   

Aku langsung mengusirnya.
Dia tidak mencintai Bella seperti aku mencintainya. Penglihatannya mustahil. Keliru.
Dia pasti salah, melihat sesuatu yang tidak mungkin.
Tidak   sampai   setengah   detik   telah   berlalu.   Bella   menatap   wajahku   penasaran,
menunggu persetujuanku atas permintaannya. Apa dia sempat melihat kekalutanku, atau itu
terlalu cepat untuk dia?
Aku fokus pada dirinya, pada pembicaraan yang belum selesai ini. Kuusir  jauh-jauh
Alice,   juga   penglihatannya   yang   keliru,   dari   pikiranku.   Hal   itu   tidak   layak   mendapat
perhatianku.
Meski begitu, aku terlanjur  tidak bisa mengimbangi suasana hati Bella. Aku bertanya
dengan nada serius  dan agak muram, “tidakkah kau ingin memberitahu ayahmu, kau akan
melewatkan hari itu bersamaku?”
Kuusir lebih jauh lebih penglihatan itu, menjaganya agar tidak terlintas di pikiranku.
“Dengan Charlie, berbohong selalu lebih baik,” ucapnya yakin akan hal itu. “Lagi pula,
memangnya kita mau kemana?”
Alice  pasti salah. Sangat  salah.  Sama sekali tidak mungkin itu bisa terjadi. Dan itu
penglihatan yang sudah sangat lama, sudah tidak relevan lagi. Banyak hal telah berubah.
“Prakiraan cuacanya bagus,” kataku pelan sambil berusaha mengatasi  kepanikan dan
kebimbanganku. Alice pasti salah. Aku akan melanjutkan seakan aku tidak mendengar atau
melihat apa-apa. “Jadi aku akan menghilang untuk sementara... dan kau bisa ikut bersamaku
kalau mau.”
Bella langsung mengerti yang kumaksud; matanya jadi cerah dan bersemangat. “Dan
kau akan memperlihatkan padaku yang kau maksud mengenai matahari?”
Mungkin, seperti yang sudah-sudah, reaksi dia besok akan berbeda dari  yang kukira.
Aku  tersenyum  pada kemungkinan itu. Dan  aku berjuang  untuk  bisa kembali  menikmati
momen santai ini. “Ya.  Tapi...” Dia  belum bilang  ya. “Kalau  kau tidak  ingin...  berduaan
denganku, aku tetap tidak ingin kau pergi  ke Seattle  sendirian. Aku khawatir  memikirkan
masalah yang mungkin menimpamu di kota sebesar itu.”
Bibirnya mengatup rapat; dia tersinggung.
“Phoenix tiga kali  lebih besar  daripada Seattle—itu baru jumlah populasinya. Untuk
249
   

ukuran—”
“Tapi   nyatanya,   insiden   yang   kau   alami   tidak   bermula   di   Phoenix,”   sanggahku,
menyela pembenarannya. “Jadi, lebih baik kau berada di dekatku.”
Dia bisa bersamaku selamanya dan itu tetap masih belum cukup.
Aku tidak boleh berpikiran seperti itu. Kami tidak punya waktu selamanya. Tiap detik
berjalan lebih cepat dari sebelumnya; tiap detik mengubah dirinya sementara aku tidak akan
pernah berubah.
“Karena   itu   sudah   terjadi,   aku   tak   keberatan   berduaan   saja   denganmu,”   ujarnya
sependapat.
Bukan, itu lebih karena instingnya yang terbalik.
“Aku tahu.” Aku menghela napas. “Meski begitu, kau harus memberitahu Charlie.”
“Kenapa aku harus repot-repot melakukannya?” tanyanya ngeri.
Aku mendelik ke dia, penglihatan yang tidak lagi mampu kutahan akhirnya berkeliaran
di kepalaku.
“Sebagai   satu   alasan   kecil   bagiku   untuk   memulangkanmu,”   desisku.   Dia   mesti
memberiku kesempatan—satu orang saksi untuk membuatku tetap waspada.
Kenapa Alice mesti menunjukan penglihatan itu sekarang?
Bella menelan ludah, kemudian menatapku lama. Apa yang dia lihat?
“Kurasa aku akan mengambil resiko itu.”
Ugh! Apa dia tipe orang yang jadi bersemangat ketika nyawanya sedang terancam? Apa
dia mencari sesuatu yang bisa memacu adrenalinnya?
Aku mendelik marah ke Alice, yang sedang melirikku dengan tatapan memperingatkan.
Di   sampingnya,  Rosalie  menatapku  murka.  Tapi  aku  tidak  terlalu  peduli.  Biar  saja   dia
menghancurkan mobilku. Itu cuma mainan.
“Kita bicara yang lain saja,” saran Bella tiba-tiba.
Aku kembali melihat ke arahnya, bertanya-tanya kenapa dia begitu tidak peduli dengan
apa yang sudah jelas-jelas di depan mata. Kenapa dia tidak menganggapku sebagai monster,
seperti yang semestinya?
“Apa yang ingin kau bicarakan?”
Matanya  bergerak ke  kiri  dan ke  kanan, seakan  sedang memastikan tidak  ada yang
250
   

menguping. Dia pasti berencana untuk mengungkit topik yang berhubungan dengan mitos-
mitos itu lagi. Matanya berhenti sejenak, badannya membeku, lalu dia kembali melihat ke
arahku.
“Kenapa kau pergi ke Goat Rocks akhir pekan lalu... untuk berburu? Charlie bilang, itu
bukan tempat yang baik untuk
hiking
, banyak beruang.”
Benar-benar tidak peduli.
Aku menatapnya, mengangkat satu alis.
“Beruang?” Dia menahan napas.
Aku tersenyum kecut saat mengamati hal itu meresap dalam pikirannya. Apa ini akan
membuat dia menanggapiku dengan serius?
Dia mengendalikan ekspresinya. “Kau tahu, sekarang bukan musim berburu beruang,”
ucapnya sungguh-sungguh dengan mata menyipit.
“Kalau  kau  membaca  dengan  teliti,  peraturannya  hanya  mencakup  berburu  dengan
senjata.”
Sejenak dia tidak bisa mengendalikan ekspresinya lagi. Mulutnya ternganga.
“Beruang?” Kali ini dengan nada sangsi, bukan lagi syok.
“Beruang Grizzly adalah kesukaan Emmet.”
Aku mengamati matanya, melihat dia mengolah ucapanku.
“Hmm,” gumamnya. Dia menunduk dan menggigit pizanya. Dia  mengunyah sambil
berpikir, lalu meneguk minumannya.
“Jadi,” akhirnya dia mendongak. “Kesukaanmu apa?”
Mestinya aku bisa menduga pertanyaan dia, tapi aku tidak. Bella selalu saja menarik,
sekecil apapun itu.
“Singa gunung,” jawabku cepat.
“Ah.”   Nadanya   santai,   detak   jantungnya   tetap   tenang,   seakan   kita   sedang
membicarakan tempat makan yang paling enak.
Baiklah kalau begitu. Jika dia memang menganggapnya ini bukan sesuatu yang tidak
umum...
“Tentu  saja,   kami   harus   berhati-hati  agar   tidak  membahayakan  lingkungan  dengan
kegiatan berburu kami.” Aku berusaha mengimbangi nada suaranya. “Kami berusaha fokus
251
   

pada area yang jumlah populasi binatang predatornya tinggi—menciptakan daerah jangkauan
sejauh  mungkin. Di  sekitar   sini   banyak  rusa   dan kijang,  dan  itu sebenarnya  cukup,  tapi
dimana kesenangannya?”
Dia mendengarkan dengan ekspresi tertarik yang sopan, seakan aku seorang guru yang
sedang mengajar. Mau tidak mau aku tersenyum.
“Ya, benar,” gumamnya santai. Dia menggigit pizzanya lagi.
“Awal musim semi adalah musim berburu beruang kesukaan Emmet.” Aku meneruskan
dengan kuliahku. “Mereka baru saja selesai hibernasi, jadi lebih pemarah.”
Tujuh puluh tahun kemudian, dia masih belum bisa melupakan kekalahan pertamanya
dulu.
“Tak ada  yang lebih menyenangkan daripada  beruang  Grizzly yang sedang marah.”
Bella mengangguk-angguk serius.
Aku tertawa terbahak-bahak, menggeleng-geleng pada ketenangannya yang tidak logis.
Itu pasti dibuat-buat. “Tolong katakan apa yang benar-benar kau pikirkan.”
“Aku   mencoba   membayangkannya—tapi   tidak   bisa.”   Kerutan   muncul   diantara
matanya. “Bagaimana kalian berburu beruang tanpa senjata?”
“Oh, kami punya senjata.” Kupamerkan gigiku dengan seringai lebar. Kukira dia akan
terlonjak, tapi ternyata tetap tenang. “Pokoknya bukan jenis senjata yang terpikir oleh mereka
ketika membuat peraturan berburu. Kalau kau pernah melihat beruang menyerang di acara
televisi, kau seharusnya bisa membayangkan cara Emmet berburu.”
Dia melirik ke meja tempat keluargaku duduk, dan gemetar.
Akhirnya. Kemudian aku tertawa sendiri karena aku tahu sebagian dari diriku berharap
dia tetap tidak peduli.
Matanya yang gelap terlihat lebar  dan dalam  saat menatapku. “Apa kau juga seperti
beruang?” suaranya hampir seperti bisikan.
“Lebih  seperti   singa,  atau   begitulah   kata  mereka.”  Aku   berusaha   bicara   senormal
mungkin. “Barangkali pilihan kami mencerminkan kepribadian kami.”
Sudut   bibirnya   sedikit   tertarik   ke   atas.   Kelihatannya   dia   berusaha   tersenyum.
“Barangkali.”   Kemudian   dia   menelengkan   kepalanya,   rasa   penasaran   terlihat   jelas   di
matanya. “ Apakah aku akan pernah melihatnya?”
252
   

Aku   tidak   perlu   gambaran   dari   Alice   untuk   mengilustrasikan   kengerian   ini—
imajinasiku sendiri sudah cukup.
“Tentu saja tidak!” Aku menggeram padanya.
Dia menjauh ke belakang. Matanya tertegun sekaligus takut.
Aku bersandar  ke  kursi, menjauh juga. Dia tidak akan pernah melihatnya. Dia tidak
boleh melakukan itu agar aku bisa menjaganya tetap hidup.
“Terlalu   menakutkan   buatku?”   suaranya   tetap   datar.   Sedang   jantungnya,   biar
bagaimanapun, berdetak dua kali lebih cepat.
“Kalau cuma karena itu, aku sudah akan mengajakmu nantai malam,” jawabku ketus.
“Kau
perlu
merasakan ketakutan yang sebenarnya. Tak ada cara yang lebih baik buatmu.”
“Lalu kenapa?” desaknya tidak peduli.
Aku mendelik sengit, menunggu dia untuk takut.
Aku
sendiri takut. Bisa kubayangkan
bagaimana jadinya jika Bella ada di dekatku saat aku sedang berburu...
Matanya masih tetap penasaran dan tidak sabar. Hanya itu. Tidak ada takut. Dia masih
menunggu jawabanku.
Tapi satu jamku dengan dia sudah habis.
“Nanti saja jawabnya,” kataku masih kesal, dan aku berdiri. “Kita bakal terlambat.”
Dia memandang ke sekelilingnya, bingung, seakan lupa sedang makan siang. Bahkan
seperti lupa sedang berada di sekolah—terkejut bahwa aku dan dia tidak sedang sendirian di
tempat yang terpencil. Aku sangat mengerti perasaan itu. Sulit mengingat sekelilingku jika
sedang bersamanya.
Dia   cepat-cepat   bangkit,   sedikit   terhuyung-huyung,   dan   menyampirkan   tasnya   ke
pundak.
“Kalau begitu sampai nanti,” jawabnya.
Aku bisa melihat dia belum menyerah; dia benar-benar akan menagih jawabanku.
253
   

12. Kesulitan
Kami berdua berjalan bersama-sama menuju kelas  Biologi. Aku berusaha  fokus  pada
momen ini, pada gadis di sampingku, pada apa yang nyata dan solid, pada apapun yang bisa
menjauhkan dari penglihatan palsunya Alice.
Kami  meleweati  Angela  Weber,   yang  sedang   berlama-lama   di   lorong.  Dia   sedang
mendiskusikan sebuah tugas  bersama dengan seorang cowok dari kelas  trigono. Aku cuma
mengamati pikirannya sekilas, mengira akan kecewa lagi, namun aku justru kaget  karena
mendapati nuansanya yang sayu.
Ah, ternyata ada juga
yang
Angela inginkan. Sayangnya, itu bukan sesuatu yang bisa
dibungkus dan dikirim dengan mudah.
Aku jadi merasa  lebih  tenang setelah mendengar  kerinduan terpendam  Angela. Aku
bisa mengerti keputus-asaan dia. Dan saat itu juga aku merasa senasib dengannya.
Walau aneh, aku merasa terhibur karena tahu aku bukan satu-satunya yang mengalami
kisah cinta yang tragis. Patah hati ada dimana-mana.
Detik berikutnya aku jadi marah. Tidak
seharusnya
kisah Angela
berakhir  tragis. Dia
manusia,  pujaannya  juga  manusia.  Dan   perbedaan  mereka   yang  menurut  dia  tidak  bisa
ditanggulangi adalah konyol. Benar-benar konyol jika dibandingkan dengan situasiku. Patah
hatinya tidak
beralasan
. Kesedihan yang sia-sia, tidak ada alasan bagi dia untuk tidak bisa
bersama  orang yang ia  inginkan. Kenapa  dia  tidak bisa  mendapatkan  yang  ia  inginkan?
Kenapa kisah cintanya tidak bisa berakhir bahagia?
Aku sudah  berniat memberinya  hadiah...
Well
, aku  akan  memberi  dia  apa  yang dia
inginkan. Dengan kemampuan alamiku, mungkin itu tidak akan terlalu sulit.
Aku   ganti   mengamati   pikiran   cowok   disampingnya,   pemuda   dambaannya.   Dan
sepertinya anak itu bukannya tidak tertarik, hanya  saja dia juga  terkendala  oleh kesulitan
yang sama dengan Angela. Tidak punya harapan dan sudah menyerah duluan.
Yang perlu kulakukan cuma merencanakan sesuatu untuk mendorong mereka...
Rencana  itu pun langsung terbentuk dengan mudah, naskahnya  tersusun  begitu saja.
Aku butuh bantuan Emmet—membujuknya untuk mau terlibat adalah satu-satunya kesulitan.
254
   

Sifat manusia jauh lebih mudah untuk dimanipulasi ketimbang vampir.
Aku  puas  dengan  rencanaku,  dengan  hadiahku  untuk  Angela.  Itu  pengalihan  yang
menyenangkan dari masalahku sendiri. Seandainya saja masalahku bisa diatasi semudah itu.
Moodku   sedikit   lebih   baik   saat   aku   dan   Bella   duduk   di   tempat   kami.   Mungkin
sebaiknya aku lebih optimis. Mungkin di luar sana ada solusi yang terlewatkan olehku, sama
seperti solusi sederhana Angela yang tidak terlihat olehnya. Mungkin tidak terlalu mirip...tapi
kenapa mesti membuang-buang waktu dengan berputus asa? Aku tidak punya banyak waktu
untuk disia-siakan jika menyangkut tentang Bella. Setiap detik berharga.
Mr. Banner  masuk sambil menarik meja beroda yang diatasnya terdapat TV dan VCR
kuno. Dia melompati satu bab pelajaran yang menurut dia tidak menarik—kelainan genetis—
dengan memutar film selama tiga hari kedepan.
Lorenzo's Oil
bukan film yang terlalu riang,
tapi itu tidak mengendurkan semangat seisi kelas. Tidak ada catatan, tidak ada bahan tes. Tiga
hari bebas. Kesukaan manusia.
Bagiku sendiri tidak terlalu penting. Aku tidak berencana memperhatikan apapun selain
Bella.
Hari   ini   aku  tidak   menarik   kursiku  menjauh.   Biasanya   aku   melakukannya   untuk
memberi   ruang   buat   bernapas.   Sebagai   gantinya,   aku   duduk   di   dekatnya   seperti   yang
dilakukan manusia normal. Lebih dekat dari saat duduk di mobil, cukup dekat hingga sisi kiri
tubuhku terbenam ke dalam kehangatan dari kulitnya.
Itu  pengalaman  yang  ganjil,  menyenangkan  sekaligus  mendebarkan,  tapi  aku  lebih
menyukai ini ketimbang duduk di sebrang meja seperti di kafetaria. Ini  melebihi dari yang
biasa kudapat, namun tetap saja aku langsung menyadari bahwa ini masih belum cukup. Aku
belum puas. Berada sedekat ini dengannya hanya membuatku ingin berada lebih dekat lagi.
Aku telah menuduhnya sebagai magnet bagi mara bahaya. Saat ini terasa seper ti itulah
arti harfiahnya. Aku
adalah
bahaya, dan, dengan setiap inchi lebih dekat dengannya, daya
tariknya jadi semakin kuat.
Kemudian Mr. Varner mematikan lampu.
Rasanya aneh bagaimana  itu  membuat  situasinya  jadi  lain, padahal  kegelapan tidak
terlalu   berdampak   buat   mataku.   Aku   masih   bisa   melihat   seterang   dan   sejelas   seperti
sebelumnya. Setiap detail dalam ruangan ini terlihat sangat jelas.
255
   

Jadi, kenapa mendadak muncul aliran listrik yang menyengat tubuhku? Apakah karena
aku tahu cuma aku satu-satunya yang masih bisa melihat dengan jelas? Bahwa Bella dan aku
tidak terlihat oleh orang lain? Seperti kami sedang sendirian, hanya berdua saja, tersembunyi
di kegelapan, duduk bersebelahan begitu dekat...
Tau-tau   tanganku   sudah   bergerak   ke   arahnya   tanpa   bisa   kukontrol.   Hanya   untuk
menyentuh   tangannya,   untuk   menggenggamnya  di  tengah   kegelapan.  Apa  itu   bisa   jadi
kesalahan  yang mengerikan?  Jika  kulit  dinginku  mengganggu,  dia  cuma  tinggal  menarik
tangannya...
Kutarik tanganku lagi, kudekap lenganku rapat-rapat di dada, dan mengepalkan tangan.
Tidak   boleh   ada   kesalahan.   Aku   sudah   berjanji   dengan   diriku   untuk   tidak   membuat
kesalahan,  tidak peduli  seberapa  kecil  kelihatannya.  Jika  aku  memegang tangannya,  aku
hanya akan meminta lebih lagi—sentuhan lain yang tidak berdasar, gerakan lain yang lebih
dekat. Aku bisa merasakan itu. Jenis hasrat yang baru, berkembang di dalam diriku, berusaha
menembus pengendalianku.
Tidak boleh ada kesalahan.
Bella juga mendekap lengannya di dada. Tangannya juga terkepal.
Apa yang kau pikirkan?
Aku sangat ingin membisikkan kata-kata itu, tapi ruangannya
terlalu sunyi untuk menyamarkan bisikan sekalipun.
Filmnya dimulai, memberi tambahan penerangan sedikit. Bella melirik. Dia menyadari
kekakuan posisi badanku—seperti badannya—dan tersenyum. Bibirnya sedikit merekah, dan
matanya terlihat hangat mengundang.
Atau, barangkali aku melihat apa yang ingin kulihat.
Aku tersenyum balik; dia seperti kehabisan napas dan buru-buru berpaling.
Itu membuatnya lebih buruk. Aku tidak tahu pikirannya, tapi aku jadi yakin dugaanku
tepat, bahwa dia
ingin
aku menyentuhnya. Dia merasakan hasrat berbahaya ini sama seperti
diriku.
Aliran listrik mengalir diantara badanku dan dia.
Selama sisa pelajaran dia tidak bergerak sama sekali, terus mendekap lengannya rapat-
rapat, sama seperti aku juga terus mendekap lenganku. Sesekali dia melirik, dan segera saja
aliran listrik yang lebih kuat menyambarku.
256
   

Satu jam berlalu lambat. Ini pengalaman baru. Aku tidak keberatan duduk begini terus
selama berhari-hari hanya untuk menikmati sensasi ini sepenuhnya.
Bermacam   pikiran  berkecamuk  dalam   kepalaku  selama   menit   demi   menit   berlalu.
Rasionalitasku   bergumul   dengan   hasratku   sementara   aku   berusaha   mencari  pembenaran
untuk bisa menyentuhnya.
Akhirnya Mr Varner menyalakan lampu lagi.
Dalam   terang,   atmosfer   ruangan   kembali   normal.   Bella   menghela   napas   dan
melepaskan  dekapannya,  kemudian  melemaskan  jemarinya.  Pasti   tidak   nyaman   buat  dia
bertahan di posisi itu selama tadi. Sebaliknya buatku sangat mudah—diam mematung sudah
jadi sifat alamiku.
Aku tertawa geli melihat ekspresi lega di wajahnya. “
Well
, tadi itu menarik.”
“Hmmm,” gumamnya. Jelas dia mengerti apa yang kumaksud, tapi tidak berkomentar.
Itu jadi membuatku tidak bisa mendengar apa yang sedang dipikirkan dia
saat ini
.
Aku menghela napas. Berharap seperti apapun tetap tidak akan membantu.
“Yuk?” ajakku sambil berdiri.
Dia  mengerutkan muka  dan bangkit  dengan agak terhuyung, tangannya mencari-cari
pegangan supaya tidak jatuh.
Aku bisa menawarkan tanganku. Atau aku bisa memegangi sikunya hingga dia  bisa
berdiri seimbang. Tentu itu bukan pelanggaran yang terlalu berat...
Tidak boleh ada kesalahan.
Dia  sangat pendiam saat kami  berjalan ke ruang gimnasium. Kerut  diantara matanya
jadi bukti bahwa dia sedang berpikir keras. Aku sendiri juga sedang bepikir keras.
Satu sentuhan saja tidak akan menyakiti dia. Sisi egoisku masih saja bersiker as.
Aku  bisa  dengan  mudah  mengatur   tekanan  sentuhanku.  Itu  sama  sekali tidak  sulit,
selama aku bisa mengontrol diriku sepenuhnya. Indera perabaku jauh lebih sensitif dibanding
manusia; aku bisa ber
juggling
dengan selusin gelas kristal tanpa memecahkan gelas-gelas itu;
aku bisa memegang gelembung sabun tanpa memecahkannya. Selama aku bisa mengontrol
diriku...
Bella seperti gelembung sabun—rapuh dan tidak abadi.
Sampai berapa lama lagi aku bisa membenarkan kehadiranku dalam hidupnya? Berapa
257
   

banyak waktu yang kupunya? Akankah ada kesempatan lain seperti kesempatan ini, seperti
saat ini, seperti detik ini?
Bella tidak selalu bisa berada dalam jangkauan tanganku seperti ini...
Sesampainya di depan ruang gimnasium, dia berbalik menghadapku. Matanya melebar
saat melihat ekspresi wajahku. Dia tidak bicara. Kuamati bayangan diriku yang terpantul di
matanya,   dan   melihat  pergumulan   dalam   diriku.  Aku   menyaksikan   bagaimana  wajahku
berubah saat sisi baikku kalah dalam peperangan itu.
Dan tanganku sudah terangkat begitu saja. Selembut seakan dia terbuat dari kaca yang
paling tipis, seakan dia serapuh gelembung sabun, jari-jariku membelai  kulit pipinya yang
hangat. Dibawah sentuhanku, pipinya  jadi  memanas, dan bisa  kurasakan denyut  darahnya
semakin cepat dibalik kulitnya yang bening.
Cukup,
perintahku,   meski   tanganku   masih   ingin   meneruskan   belaiannya   ke   sisi
wajahnya yang lain.
Cukup.
Rasanya  sulit  untuk  menarik tanganku,  untuk  menghentikan diriku agar  tidak  lebih
mendekat lagi ke dia. Tapi aku berhasil melakukannya.
Dan dalam sekejapan itu beribu pilihan yang berbeda berkecamuk dalam pikiranku—
beribu pilihan cara untuk menyentuhnya. Ujung jariku menelusuri bentuk bibirnya. Telapak
tanganku mengusap dagunya. Mengambil sejumput rambutnya dengan tanganku. Lenganku
melingkari pinggangnya, merangkulnya dalam dekapanku.
Cukup.
Aku memaksa diriku untuk berbalik, untuk menjauh darinya. Badanku bergerak kaku—
ingin menolak.
Kubiarkan pikiranku tertinggal  di belakang untuk mengawasi  Bella  saat aku berlalu
menjauh, hampir lari untuk menghindari godaannya. Aku menangkap pikiran Mike Newton
—itu yang paling berisik—sementara dia menyaksikan Bella berjalan linglung melewatinya.
Mata Bella tidak fokus  dan pipinya merah. Mike mendelik, dan tiba-tiba namaku bercampur
dengan sumpah serapah di kepalanya; aku tidak tahan untuk tidak menyeringai menanggapi
itu.
Tanganku masih seperti tersengat listrik. Aku melemaskan dan mengepalkan, tapi tetap
saja sengatan itu tetap ada.
258
   

Tidak, aku tidak menyakiti dia—tapi menyentuhnya tetap sebuah kesalahan.
Rasanya   seperti   api—seper ti   haus   yang   biasanya   membakar   tenggorokanku   telah
menyebar ke sekujur tubuh.
Lain  kali,  saat  berada  di  dekatnya,  mampukah  aku  mengendalikan  diri  untuk  tidak
menyentuhnya   lagi?   Dan  jika   sudah  menyentuhnya   satu  kali,   sanggupkah   aku   berhenti
sampai disitu saja?
Tidak   boleh   ada   kesalahan   lagi.   Titik.
Nikmati   saja   kenangannya,   Edward,
aku
memberitahu diriku dengan muram,
dan jaga tanganmu untuk dirimu sendiri.
Pilihannya itu,
atau aku harus  memaksa diriku untuk pergi...entah bagaimana  caranya. Karena  aku  tidak
boleh berada di dekatnya jika terus-terusan membuat kesalahan.
Aku mengambil napas panjang dan menenangkan pikiran.
Aku bertemu Emmet di depan kelas bahasa Spanyol.
“Hai, Edward.”
Dia terlihat lebih baik. Aneh, tapi lebih baik. Bahagia.
“Hai, Em.”  Apa aku terlihat bahagia?  Sepertinya  begitu, terlepas  dari  kekacauan  di
dalam kepalaku, aku merasa begitu.
Sebainya kau hati-hati, kid. Rosalie ingin merobek mulutmu.
Aku  mendesah.  “Sori  aku  membuatmu  harus   menghadapi  kemarahannya.  Apa   kau
marah denganku?”
“Tidak.   Lama-lama   Rose   juga   akan   lupa.   Biar   bagaimanapun   memang   sudah
seharusnya itu terjadi.”
Dengan apa yang dilihat Alice bakal terjadi...
Mengingat penglihatan Alice bukan sesuatu yang kubutuhkan saat ini. Aku memandang
lurus kedepan, gigiku terkunci rapat.
Saat sedang mencari pengalih perhatian, Ben Cheney masuk ke kelas  mendului kami.
Ah—ini kesempatanku untuk memberi hadiah ke Angela Weber.
Aku berhenti dan menangkap lengan Emmet. “Tunggu sebentar.”
Ada apa?
“Aku tahu aku tidak pantas mendapatkannya, tapi maukah kau menolongku?”
“Menolong bagaimana?” tanyanya penasaran.
Di bawah napasku—dan dengan kecepatan yanag tidak mungkin diikuti pendengaran
manusia, tidak peduli seberapa keras kata-kata itu diucapkan—kujelaskan padanya apa yang
259
   

kumau.
Dia terlongo. Pikirannya sama kosongnya dengan wajahnya.
“Jadi?” bisikku. “Kamu mau membantuku?”
Butuh semenit buatnya untuk merespon. “Tapi,
kenapa
?”
“Ayolah, Emmet. Kenapa
tidak
?”
Siapa kau dan apa yang kau lakukan terhadap saudaraku?
“Bukankah kau selalu mengeluh bahwa sekolah selalu saja membosankan? Ini sesuatu
yang berbeda, kan? Anggap saja ini  sebagai  eksperimen—eksperimen terhadap sifat dasar
manusia.”
Dia  memandangku sebentar  sebelum  menyerah. “
Well
, ini
memang
berbeda, kuakui
itu...   Baiklah   kalau   begitu.”   Emmet   mendengus   lalu   mengangkat   bahu.   “Aku   akan
membantumu.”
Aku tersenyum padanya. Kini  aku jadi lebih bersemangat  dengan rencanaku setelah
Emmet setuju untuk terlibat. Rosalie memang selalu menjengkelkan, tapi aku akan selalu
berhutang padanya karena telah memilih Emmetl; tidak ada yang memiliki saudara lebih baik
ketimbang diriku.
Emmet tidak butuh latihan. Aku membisikkan sekali lagi baris-baris skenario miliknya
pada saat kami masuk ke dalam kelas.
Ben sudah duduk di belakangku. Dia sedang mencari-cari tugasnya untuk dikumpulkan.
Emmet  dan  aku  duduk dan  melakukan hal yang sama.  Kelas  masih  belum  sepenuhnnya
tenang; gumaman orang-orang yang saling ngobrol tidak akan berhenti sampai Mrs.  Goff
menyuruh  mereka diam.  Dia sendiri tidak  buru-buru, dia  sedang  memberi  nilai tes  kelas
sebelumnya.
“Jadi,” ujar  Emmet dengan suara lebih keras dari yang dibutuhkan—jika dia memang
berniat bicara hanya padaku. “Apa kau sudah mengajak Angela Weber kencan?”
Suara   kesibukan   di   belakangku   tiba-tiba   terhenti,   perhatian   Ben   terpaku   pada
pembicaraanku dan Emmet.
Angela? Mereka sedang membicarakan Angela?
Bagus. Aku berhasil menarik perhatiannya.
“Belum,” jawabku sambil menggeleng agar terlihat menyesal.
260
   

“Kenapa belum?” Emmet berimprovisasi, “Apa kau takut?”
Aku meringis padanya. “Bukan karena itu. Kudengar dia tertarik dengan orang lain.”
Edward Cullen ingin mengajak Angela kencan? Tapi... Tidak. Aku tidak suka itu. Aku
tidak mau dia dekat-dekat Angela. Dia...tidak pantas untuk Angela. Tidak...aman.
Aku tidak menduga yang muncul adalah insting untuk melindungi. Yang kurencanakan
adalah cemburu. Tapi apapun itu sama saja.
“Kau membiarkan itu menghentikanmu?” tanya Emmet mengejek, berimprovisasi lagi.
“Kau tidak mau bersaing?”
Aku mendelik padanya, “Bukan begitu. Kurasa dia sudah terlanjur suka dengan seorang
bocah bernama Ben, salah satu dari teman-temannya. Aku tidak mau berusaha meyakinkan
dia yang sebaliknya. Masih ada gadis-gadis lain.”
Reaksi di belakangku menggemparkan.
“Ben siapa?” tanya Emmet, kembali ke naskahnya.
“Kalau tidak salah pasangan labku bilang namanya Ben Cheney. Aku tidak tahu pasti
yang mana orangnya.”
Aku menahan senyumku. Hanya keluarga Cullen yang sombong yang bisa lolos  saat
pura-pura tidak kenal setiap murid di sekolahan yang kecil ini.
Pikiran Ben berkecamuk tidak karuan.
Aku? Daripada Edward Cullen? Tapi kenapa
dia bisa suka denganku?
“Edward,” Emmet berbisik dengan suara rendah, melirik ke bocah di belakangku. “Dia
tepat di belakangmu,” mimiknya dibuat sedemikian rupa hingga si Ben bisa dengan mudah
membaca kata-katanya.
“Oh.”
Aku berbalik ke belakang dan mendelik ke bocah itu. Untuk sesaat, tatapan di balik
kacamata  itu  ketakutan,  tapi   kemudian   dia  menegakkan  pundaknya,  merasa  tersinggung
karena diremehkan. Mukanya memerah karena marah.
“Huh,” dengusku arogan kemudian kembali menoleh ke Emmet.
Dia pikir dia lebih baik dariku. Tapi Angela tidak berpikir begitu. Akan kubuktikan ke
orang sombong ini...
Sempurna.
261
   

“Tapi,  bukannya   katamu Angela  mengajak  si  Yorkie   ke  pesta   dansa  nanti?”   tanya
Emmet  sambil  mendengus  ketika  menyebut   nama  bocah  yang  sering  ia  cemooh  karena
kecanggungannya.
“Nampaknya   itu   keputusan   dia   bersama   teman-teman   perempuannya.”   Aku   ingin
meyakinkan bahwa Ben betul-betul mengerti tentang hal ini. “Angela itu pemalu. Jika B—
well
, jika seorang laki-laki tidak punya nyali untuk mengajaknya kencan, Angela tidak akan
pernah mengajaknya.”
“Kau sendiri suka dengan gadis yang pemalu.” Emmet kembali berimprovisasi.
Gadis
yang pemalu. Gadis seperti...hmm, aku tidak tahu. Mungkin Bella Swan?
Aku   menyeringai   padanya.   “Tepat.”   kemudian   aku   kembali   ke   pertunjukan   ini.
“Mungkin Angela akan capek menunggu. Mungkin aku akan mengajaknya ke pesta prom.”
Tidak,  kau  tidak  akan.
Batin  Ben sambil  menegakkan  duduknya.
Memang  kenapa
kalau dia lebih tinggi dariku? Jika dia sendiri tidak peduli, begitu pula aku. Angela adalah
orang   yang   paling   baik,   paling   cerdas,   dan   paling   cantik   di   sekolahan   ini...dan   dia
menginginkan aku.
Aku suka  dengan  Ben.  Kelihatannya  dia  cerdas  dan  baik  hati. Cukup  pantas  untuk
perempuan seperti Angela.
Aku mengacungkan ibu jari ke Emmet dari bawah meja. Dan saat bersamaan Mrs. Goff
berdiri, mengucapkan salam ke kelas.
Oke, kuakui—tadi itu menyenangkan,
batin Emmet.
Aku   tersenyum   sendiri,   senang   telah   berhasil   membuat   satu   kisah   cinta   berakhir
bahagia.  Aku   sangat   yakin  Ben   akan   melanjutkan   niatnya,   dan  Angela   akan   menerima
hadiahku. Hutangku telah lunas.
Betapa   menggelikannya   manusia,   menjadikan   perbedaan   tinggi   enam   inchi
mengacaukan kebahagiaan mereka.
Kesuksesan rencana tadi mengembalikan suasana hatiku jadi baik. Aku tersenyum lagi
seraya  duduk  lebih  nyaman,  siap-siap  untuk  terhibur. Bagaimanapun,  seperti  yang  Bella
katakan, aku belum pernah melihat dia di kelas olahraga.
Pikiran Mike lebih mudah ditemui diantara dengungan suara-suara disana. Pikirannya
jadi   terlalu   familiar   selama   satu   minggu   ini.   Dengan   mengeluh   aku   mengalah   untuk
262
   

mendengarkan lewat dia. Paling tidak aku tahu dia akan memperhatikan Bella.
Aku mendengarkan tepat saat dia menawarkan diri jadi pasangan badminton Bella; saat
bersamaan, bentuk berpasangan yang lain terlintas di kepala Mike. Senyumku lenyap, gigiku
terkatup erat, dan aku mesti mengingatkan diriku bahwa membunuh Mike Newton bukan
sesuatu yang bisa dimaafkan.
“Terima kasih, Mike—kau tahu, kau tak perlu melakukannya.”
“Jangan khawatir, aku tidak akan mengganggumu.”
Mereka  saling  senyum  satu   sama  lain.  Dan  di   kepala  Mike  berkelebatan  berbagai
insiden sebelumnya di kelas olahraga—selalu saja dengan berbagai cara berhubungan dengan
Bella.
Awalnya  Mike bermain sendirian, Bella  cuma  berdiri  enggan di belakang lapangan,
memegangi raketnya  hati-hati seakan itu senjata. Kemudian Coach Clapp menyuruh Mike
memberi Bella kesempatan main.
Oh, aduh,
batin Mike  saat Bella  melangkah maju sambil mengeluh. Dia memegang
raketnya dengan canggung.
Jenifer  Ford sengaja mengarahkan servis langsung ke Bella. Mike melihat Bella maju
menghadang tapi ayunan raketnya jauh dari sasaran. Mike pun buru-buru mengejar koknya.
Pada   saat   itu  aku  melihat   arah   ayunan  raket  Bella   dengan   ngeri.  Dan  benar  saja,
raketnya   mengenai   ujung   atas   net  dan  memantul   kembali  ke  dia,   memukul   keningnya
sebelum kemudian terpelintir dan mengenai bahu Mike dengan suara keras.
Ow. Ow. Aduh. Itu pasti akan meninggalkan bekas.
Bella   mengelus-elus   keningnya.   Rasanya   sulit   untuk   tetap   tinggal   di   tempatku,
mengetahui dia terluka. Tapi apa yang bisa  kulakukan jika  disana? Dan kelihatannya tidak
terlalu  serius...  Aku menahan  diri  dan tetap  mengawasi  saja.  Jika dia berniat  untuk tetap
melanjutkan, aku akan mencari alasan untuk mengeluarkan dia dari kelas.
Coach Clapp tertawa.
“Sori, Newton.”  Gadis  itu adalah orang paling ceroboh yang
pernah kulihat. Sebaiknya tidak perlu membuat yang lain jadi korbannya.
Dia sengaja memunggungi Mike dan Bella, ganti mengawasi pertandingan lain supaya
Bella bisa kembali jadi penonton saja.
Aduh,
batin Mike lagi sambil memijat- mijat tangannya. Dia  menoleh ke Bella.
“Apa
263
   

kau tidak apa-apa?”
“Tidak apa-apa, kau sendiri?”
tanyanya malu, mukanya merah.
“Kurasa aku baik- baik saja.” Jangan sampai kedengaran seperti anak cengeng. Tapi
ya ampun, ini sakit!
Mike mengayun-ngayunkan tangannya sambil meringis.
“Aku akan tinggal di belakang sini saja.”
Bella terlihat malu daripada sakit. Mungkin
Mike yang kena pukul  lebih keras. Aku jelas
berharap
itu yang terjadi. Paling tidak Bella
tidak ikut main lagi. Dia memegang raketnya sangat hati-hati di belakang punggung, matanya
melebar menyesal... Aku menyamarkan tawaku sebagai batuk.
Apa yang lucu?
Emmet ingin tahu.
“Nanti saja,” gumamku.
Bella   tidak  ikut  main  lagi.   Coach   Clapp  mengabaikan   dia   dan  membiarkan  Mike
bermain sendirian.
Di penghujung jam, aku sudah menyelesaikan tesnya dengan mudah. Dan Mrs. Goff
mengijinkanku   keluar   lebih   awal.  Aku   mendengarkan   pikiran   Mike   lekat-lekat   selama
berjalan melintasi halaman sekolah. Dia memutuskan untuk menanyakan Bella tentang aku.
Jessica bersumpah mereka berkencan. Kenapa? Kenapa Edward harus memilih Bella?
Dia tidak menyadari kejadian yang sebenarnya—bahwa Bella lah yang memilih
aku.
“Jadi.”
“Jadi apa?”
tanya Bella bingung.
“Kau jalan dengan Cullen, heh?” Kau dengan si aneh itu. Kurasa, jika orang kaya
sebegitu pentingnya buatmu...
Aku menggertakan gigi mendengar asumsinya yang merendahkan itu.
“Itu bukan urusanmu, Mike.”
Defensif. Jadi itu betul. Sial. “Aku tidak suka.”
“Memang tidak perlu,” sergah Bella marah.
Kenapa Bella tidak melihat betapa anehnya si Cullen itu? Mereka semuanya aneh.
Melihat   bagaimana   cara   dia   memandang   Bella   membuatku   merinding.   “Caranya
memandangmu... seolah ingin memakanmu.”
Aku ngeri menunggu respon Bella.
264
   

Mukanya   merah   padam,   dia   menekan   bibirnya   seakan   sedang   menahan   napas.
Kemudian, tiba-tiba keluar suara tawa dari mulutnya.
Sekarang dia menertawakan aku. Sial.
Mike memutar badan, dan pergi ke ruang ganti, pikirannya sunyi.
Aku bersandar ke tembok ruang gimnasium sambil berusaha mengendalikan diri.
Bagaimana   bisa   dia   menertawakan   tuduhan   Mike—begitu   tepat   sasaran   hingga
membuatku khawatir  jangan-jangan penduduk Forks sudah jadi ter lalu
sadar
... kenapa dia
tertawa pada tebakan bahwa aku mau membunuhnya, ketika dia tahu itu sepenuhnya tepat?
Apanya yang lucu dari itu?
Ada apa dengan dia?
Apa  dia  punya  selera  humor  yang gelap?  Itu  tidak  cocok  dengan  karakternya, tapi
bagaimana  aku bisa  yakin? Atau mungkin lamunanku  tentang malaikat  sembrono itu ada
betulnya, paling tidak di satu sisi, bahwa Bella tidak punya rasa takut sama sekali. Pemberani
—itu   istilah   umumnya.  Yang   lain   mungkin   akan   bilang   dia   itu   bodoh,   tapi   aku   tahu
bagaimana cerdasnya dia. Namun, apapun alasannya, ketidak kenal takutan dia dan keanehan
selera humornya itu, tidak baik untuk dirinya. Apakah hal itu yang membuat dia selalu berada
dalam bahaya?  Mungkin dia akan selalu membutuhkan kehadiranku disampingnya...
Begitu saja, dan seketika suasana hatiku sudah membumbung tinggi.
Jika aku bisa mendisiplinkan diri, membuat diriku tetap aman, maka mungkin aku bisa
tetap berada disampingnya.
Ketika dia berjalan menuju pintu, pundaknya terlihat kaku dan dia  sedang menggigit
birbirnya   lagi—tanda   gelisah.   Tapi   begitu   matanya   menatapku,   pundaknya   yang   kaku
langsung  rileks  dan  senyum   mengembang   di  wajahnya.   Ekspresinya   sangat   damai.  Dia
berjalan  ke arahku tanpa ragu-ragu, hanya berhenti  ketika  dia  sudah  begitu dekat hingga
kehangatan badannya menyapuku seperti gelombang.
“Hai,” bisiknya.
Kebahagaiaan yang kurasakan saat ini, lagi, tidak ada bandingannya.
“Halo,” sapaku, lalu—karena moodku yang tiba-tiba jadi begitu enteng, aku tidak tahan
untuk tidak menggodanya—aku menambahkan, “bagaimana kelas olahragamu?”
Senyumnya bimbang. “Baik-baik saja.”
265
   

Dia tidak pandai berbohong.
“Benarkah?” aku sudah akan melanjutkan pertanyaanku—aku masih mengkhawatirkan
kepalanya;   apa   masih   sakit?—tapi   kemudian   pikiran   ribut   Mike   Newton   memecah
konsentrasiku.
Aku
benci
dia. Kuharap dia mati. Semoga mobil mewahnya terjun ke jurang. Kenapa
dia harus menganggu Bella segala? Kenapa dia tidak bergaul saja dengan kaumnya sendiri
—kaum orang-orang aneh.
“Apa?” desak Bella.
Mataku kembali fokus  ke Bella. Dia melihat ke Mike yang memunggungi kami pergi,
kemudian ke aku lagi.
“Newton membuatku kesal,” akuku.
Dia  terperanjat, dan senyumnya  lenyap. Dia pasti lupa aku punya  kemampuan untuk
mengawasi   semua   kekikukan   dia   selama   satu   jam   tadi,   atau   berharap   aku   tidak
menggunakannya. “Kau tidak sedang mendengarkan lagi, kan?”
“Bagaimana kepalamu?”
“Kau ini bukan main!” desisnya kesal, lalu pergi meninggalkanku, berjalan cepat-cepat
ke parkiran. Mukanya merah padam—dia malu.
Aku megejarnya, berharap kemarahannya segera reda. Biasanya dia cepat memaafkan.
“Kau  sendiri   yang   bilang,  aku   tak   pernah   melihatmu  di   kelas   olahraga—aku  jadi
penasaran.”
Dia tidak menjawab. Dia masih tampak kesal.
Sesampainya di parkiran mendadak dia berhenti saat menyadari jalan menuju mobilku
terhalangi oleh kerumunan cowok.
Kira-kira seberapa cepat mobil ini di jalan bebas hambatan...
Coba lihat pedal gas SMGnya itu. Aku belum pernah melihatnya selain di majalah...
Peleknya keren...
Tentu saja, kuharap aku punya enampuluh ribu dolar di kantongku...
Ini lah sebabnya kenapa Rosalie sebaiknya hanya menggunakan mobilnya saat keluar
kota saja.
Aku  menyelinap  diantara  mereka   menuju  mobilku;   setelah  bimbang  sejenak,  Bella
266
   

mengikuti.
“Kelewat mencolok,” gumamku saat dia masuk ke mobil.
“Mobil apa itu?”
“M3.”
Dahinya berkerut. “Aku tidak paham jenis-jenis mobil.”
“Itu  keluaran  BMW.”  Aku  memutar   bola   mataku,   lalu  fokus   pada   usahaku   untuk
mundur   tanpa   menyenggol   siapapun.   Terutama   aku   harus   memusatkan   padangan   pada
beberapa cowok yang kelihatannya tidak mau bergerak sama sekali. Cukup dengan setengah
detik bertemu pandang denganku, mereka berhasil diyakinkan untuk minggir.
“Kau masih marah?” tanyaku padanya. Kerutan di dahinya telah lenyap.
“Jelas.”sergahnya kasar.
Aku menghela napas. Mungkin mestinya tadi aku tidak mengungkitnya. Oh, baiklah.
Kurasa aku bisa mencoba untuk minta maaf. “Maukah kau memaafkanku kalau aku meminta
maaf?”
Dia   memper timbangkan   sejenak.   “Mungkin...,   kalau   kau   bersungguh-sungguh.”
akhirnya dia memutuskan. “
Dan
kalau kau berjanji tidak mengulanginya lagi.”
Aku tidak mau berbohong, dan tidak mungkin aku setuju pada hal
itu.
Mungkin aku
bisa menawarkan janji yang lain...
“Bagaimana   kalau   aku   bersungguh-sungguh,
dan
aku   setuju   membiarkanmu
mengemudi sabtu nanti?” Aku berjengit dalam hati pada pikiran itu.
Kerut   diantara   matanya   kembali   muncul   saat   dia   sedang   mempertimbangkan
tawaranku. “Setuju,” ucapnya setelah beberapa saat.
Sekarang  untuk  permintaan  maafku...  Aku  belum  pernah  dengan  sengaja
mencoba
membuat   Bella   terpesona,   tapi   sekarang   kelihatannya   waktu   yang   tepat.   Sambil
mengemudikan mobilku menjauh dari sekolahan, aku menatap lekat-lekat ke dalam matanya,
bertanya-tanya apa sudah melakukannya dengan benar. Aku menggunakan nada yang paling
membujuk.
“Kalau begitu aku sangat menyesal telah membuatmu marah.”
Jantungnya   berdetak   lebih   keras   dari   sebelumnya,   iramanya   berantakan.   Matanya
melebar, kelihatan seperti terhipnotis.
267
   

Aku setengah tersenyum. Sepertinya aku telah melakukan dengan benar. Tentu saja,
aku juga sulit berpaling dari matanya. Sama-sama terpesona. Untung aku sudah hapal jalan
ini.
“Dan  aku   akan   tiba   di   depan   rumahmu   pagi-pagi   sekali   sabtu   nanti,”   tambahku,
melengkapi permintaan maafku.
Dia  mengerjap beberapa kali, dan menggoyang kepalanya  seperti ingin menjenihkan
isinya.  “Mmm,” gumamnya, “rasanya  tidak terlalu  membantu  bila  Charlie  melihat  volvo
asing di halaman rumahnya.”
Ah,  betapa masih sedikitnya  pengetahuan dia tentang diriku. “Aku  tidak berencana
membawa mobil.”
“Bagaimana—” Dia sudah mau akan bertanya.
Tapi   kusela   duluan.  Jawabannya  sulit  dijelaskan   jika   tanpa  didemonstrasikan,  dan
sekarang bukan waktu yang tepat. “Jangan khawatir soal itu. Aku akan datang, tanpa mobil.”
Dia   menelengkan  kepala,  sesaat   seperti  ingin  bertanya  lebih  lanjut,  tapi  kemudian
berubah pikiran.
“Apakah ini sudah cukup 'nanti' seperti  yang kau janjikan?”  Dia  mengingatkan pada
pembicaraan yang belum selesai di kafetaria  tadi;  dia melepas  satu pertanyaan sulit hanya
untuk kembali pada pertanyaan yang juga tidak mengenakan.
“Kurasa sudah,” jawabku enggan.
Aku parkir di depan rumahnya. Mendadak aku jadi tegang memikirkan bagaimana cara
menjelaskannya...tanpa   membuat   sifat   monsterku   jadi   terlihat   dengan   jelas,   tanpa
membuatnya takut. Atau, apakah menutupi sifat gelapku itu salah?
Dia  menunggu dengan ekspresi tertarik yang sopan seperti tadi siang. Jika aku tidak
sedang gelisah, ketenangannya yang tidak masuk akal ini pasti akan membuatku tertawa.
“Kau masih ingin tahu kenapa kau tidak bisa melihatku berburu?” tanyaku akhirnya.

Well
, aku terutama ingin tahu bagaimana reaksimu.”
“Apa aku membuatmu takut?” aku sangat yakin dia akan menyangkal.
“Tidak.”
Aku berusaha untuk tidak tersenyum, tapi gagal. “Aku minta maaf  telah membuatmu
takut.” Dan senyumku pun lenyap. “Hanya saja, membayangkan kau ada disana... sementar a
268
   

kami berburu.”
“Pasti buruk?”
Membayangkannya saja sudah terlalu mengerikan—Bella yang begitu rapuh berada di
tengah  kegelapan;   sosokku   yang  lepas   kendali...  Aku   berusaha  mengusir   bayangan   itu.
“Sangat.”
“Karena...?”
Aku mengambil  napas  dalam-dalam, berkonsentrasi pada rasa  haus  yang  membakar
kerongkonganku. Merasakannya dalam-dalam, mengaturnya, membuktikan dominasiku atas
sensasi itu. Rasa haus itu tidak akan pernah menguasaiku lagi—kuharap itu benar-benar  bisa
jadi kenyataan. Aku
akan
jadi lebih aman untuk Bella.
Kutatap awan yang menggantung di luar tanpa benar-benar menatapnya, berharap bisa
percaya bahwa tekadku semata akan membuat perbedaan jika saat berburu aku menemukan
aromanya.
“Ketika   kami   berburu...kami   membiarkan   indra   mengendalikan   diri   kami.”
Kupertimbangkan setiap kata yang mau kuucapkan. “Tanpa banyak menggunakan pikiran.
Terutama indra penciuman kami. Kalau kau berada di dekatku ketika aku kehilangan kendali
seperti itu...”
Aku menggeleng dengan perasaan tersiksa, membayangkan apa yang akan—bukan apa
yang
mungkin
, tapi apa yang
akan—
pasti terjadi.
Aku   mendengarkan   suara   detak   jantungnya,   lalu  menoleh,  resah,   untuk   membaca
matanya.
Wajah Bella nampak tenang, tatapannya sungguh-sungguh. Mulutnya sedikit mengerut
—yang kuduga karena—prihatin. Tapi prihatin karena apa? Keamanan dirinya? Atau karena
kegundahanku? Aku terus  menatapnya,  berusaha  menerjemahkan  ekpresi  ambigunya  jadi
sesuatu yang pasti.
Dia menatap balik. Matanya melebar  setelah beberapa saat, dan pupilnya meluas meski
cahaya disini tidak berubah.
Napasku   semakin   cepat,   dan   mendadak   keheningan   ini   berubah.   Getaran   yang
kurasakan siang tadi memenuhi atmosfer sekelilingku. Aliran listrik yang mengalir  diantara
kami   dan  hasarat  untuk   menyentuhnya,  dalam  sekejap  berkembang  lebih  kuat   dari  rasa
269
   

hausku.
Aliran listrik  ini  membuatku  seperti  memiliki  denyut  jantung lagi. Tubuhku menar i
bersamanya,  seakan  aku  manusia.   Lebih   dari  apapun  di   dunia   ini  aku  ingin   merasakan
kehangatan bibirnya di bibirku. Selama sekejap, aku berusaha mati-matian mencari kekuatan,
untuk mengontrol diriku, untuk sanggup mendekatkan bibirku ke bibirnya...
Dia menarik napas—tersendat. Dan pada saat itulah aku sadar  bahwa ketika napasku
memburu, justru saat bersamaan napasnya terhenti sama sekali.
Aku memejamkan mata, berusaha memutus aliran listrik diantara kami.
Tidak boleh ada kesalahan.
Keberadaan bella  sangat bergantung pada ribuan keseimbangan proses  kimiawi yang
sensitif. Semuanya sangat mudah terganggu. Irama denyut paru-paru, aliran oksigen, adalah
soal hidup-mati bagi dia. Debaran detak jantungnya yang rapuh bisa dihentikan begitu saja
oleh berbagai macam insiden konyol atau oleh penyakit atau oleh...diriku.
Semua anggota keluargaku tidak akan ragu-ragu untuk menukarkan keabadian mereka
kalau  itu  bisa   membuat   mereka   menjadi  manusia  lagi.  Mereka  siap  menantang  apapun,
dibakar hidup-hidup selama berhari-hari atau bahkan berabad-abad bila perlu.
Kebanyakan   dari   kaum   kami   menyanjung-nyanjung   keabadian   melebihi   apapun.
Bahkan ada manusia yang mengidamkannya, yang mencari  di tempat-tempat  gelap  untuk
bisa menemukan mahluk yang mau memberi mereka hadiah kegelapan itu...
Bukan  kami.   Bukan   keluargaku.  Kami   akan   menukar  apapun   untuk  bisa   menjadi
manusia lagi.
Tapi, tidak satupun dari kami yang pernah seputus asa ingin kembali seperti diriku saat
ini.
Aku memandangi bintik-bintik mikroskopis  yang ada di kaca depan, seakan solusinya
tersembunyi di situ. Getaran listrik itu masih belum lenyap, dan aku harus  berkonsentrasi
untuk menjaga tanganku tetap berada di kemudi.
Tangan kananku mulai tersengat listr ik lagi, seperti saat habis menyentuhnya.
“Bella, kurasa kau harus masuk sekarang.”
Dia  langsung menurut, tanpa  berkomentar, keluar  dari mobil dan menutup pintunya.
Apakah dia juga merasakan kemungkinan terjadinya petaka sejelas yang kurasakan?
270
 
  

Apakah menyakitkan baginya untuk pergi, sama seperti menyakitkannya bagiku untuk
membiarkan dia pergi? Satu- satunya penghibur  adalah bawah aku akan segera menemuinya.
Lebih cepat dari  dia akan melihatku. Aku tersenyum pada  hal itu, kemudian menurunkan
kaca  jendela samping dan mencondongkan tubuhku untuk bicara dengannya sekali lagi—
sekarang sudah lebih aman, dengan kehangatan tubuhnya di luar mobil.
Dia menoleh untuk mencari tahu apa yang kumau, penasaran.
Masih   saja   penasaran,   meski   hari   ini   dia   sudah   menanyaiku   berbagai   macam
pertanyaan. Rasa penasaranku sendiri sama sekali belum terpuaskan; menjawab pertanyaan-
pertanyaannya hari ini hanya mengungkapkan rahasiaku—aku tidak mendapat apa-apa dari
dia kecuali dugaan belaka. Itu tidak adil.
“Oh, Bella?”
“Ya?”
“Besok giliranku.”
Dahinya berkerut. “Giliran apa?”
“Bertanya padamu.”  Besok, ketika  kami berdua  berada di  tempat  yang  lebih aman,
dikelilingi saksi-saksi, aku akan mendapat jawabanku. Aku tersenyum pada pikiran itu, lalu
berpaling karena dia tidak menunjukan tanda-tanda akan beranjak. Bahkan dengan dia di luar
mobil, gaung getaran listrk itu masih menggantung di  sekelilingku. Aku juga  ingin keluar,
untuk mengantarnya ke depan pintu sebagai alasan untuk bisa tetap di sampingnya...
Tidak boleh ada kesalahan.
Aku   menginjak   pedal  gas,   lalu  menghela   napas   begitu   dia   hilang   di   belakangku.
Kelihatannya  aku selalu lari menuju Bella atau melarikan diri dari  dia, tidak pernah tetap
tinggal   di   tempat.  Aku   mesti   mencar i   cara   untuk   bisa   mengendalikan   diriku  jika   mau
semuanya berjalan lancar.

Baca selanjutnya ..