meninggalkannya.
Adakah yang bisa kulakukan yang
tidak
akan melukainya? Apa saja?
Aku seharusnya tetap pergi. Aku seharusnya tidak kembali ke Forks. Aku hanya akan
membuatnya menderita.
Pertanyaannya sekarang, apakah itu akan menghentikan keinginanku untuk tetap
tinggal? Apakah itu bisa mencegahku untuk menjadikannya lebih buruk lagi?
Melihat perasaanku saat ini, merasakan kehangatannya di sampingku...
Tidak, tetap tidak bisa. Tidak akan ada yang bisa menghentikanku. Aku tidak akan
sanggup untuk pergi. Aku tidak akan sanggup meninggalkan dia.
“Ah.” Aku mengerang tak berdaya. “Ini salah.”
“Memangnya aku bilang apa?” tanyanya cepat-cepat, merasa bersalah.
“Tidakkah kau mengerti, Bella? Tidak masalah bagiku membuat diriku sendiri merana,
tapi kalau kau melibatkan dirimu terlalu jauh, itu masalah lain lagi. aku tak mau mendengar
kau merasa seperti itu lagi.” Itulah yang sebenarnya, sekaligus kebohongan. Bagian diriku
yang paling egois mengawang-awang karena tahu dia juga menginginkan aku seperti aku
menginginkan dia. “Ini salah. Ini tidak aman. Aku berbahaya, Bella—kumohon,
mengertilah.”
“Tidak.” Bibirnya mencebik merajuk.
Aku berperang dengan diriku sendiri begitu hebatnya—sebagian ingin dia menerimaku
apa adanya, sebagian ingin dia mendengar peringatanku dan lari—sehingga kata-kata yang
keluar berupa geraman. “Aku serius.”
“Begitu juga aku.” Dia bersikeras. “Sudah kubilang, tidak penting kau itu apa. Sudah
terlambat.”
Terlambat?
Dalam ingatanku, dunia begitu muram, gelap dan pucat, saat aku mengawasi bayang-
bayang hitam merangkak di pekarangan rumah Bella menuju sosoknya yang tertidur. Tak
terelakan dan tak terhentikan. Bayang-bayang itu mencuri rona pada kulitnya, dan
menenggelamkan dia kedalam kegelapan.
Terlambat?
Penglihatan Alice muncul di kepalaku, mata merah- darah Bella menatapku datar. Tanpa
211
ekspresi—tapi tidak mungkin dia
tidak
membenciku atas masa depan itu. Membenciku
karena telah merampas segalanya. Merampas hidupnya dan jiwanya.
Ini belum terlambat.
“Jangan pernah katakan itu,” desisku.
Dia melihat keluar jendela, dan dia menggigit bibirnya lagi. Tangannya mengeras di
pangkuannya. Napasnya tersedak dan tak beraturan.
“Apa yang sedang kau pikirkan?” Aku harus tahu.
Dia menggeleng tanpa melihat ke arahku. Aku melihat sesuatu berkilau di pipinya,
seperti kristal.
Perasaanku langsung nyeri. “Kau menangis?” Aku membuatnya
menangis
. Aku
melukainya sedalam itu.
Dia menghapus air matanya dengan punggung tangan.
“Tidak,” elaknya dengan suara gemetar.
Instingku yang terpendam dalam mendorongku untuk meraih dia—dalam detik itu aku
merasa menjadi lebih manusia dari kapanpun. Tapi kemudian aku ingat bahwa aku...bukan.
Dan kuturunkan tanganku.
“Maafkan aku,” sesalku dengan rahangku terkunci. Bagaimana bisa aku mengatakan
padanya seberapa menyesalnya aku? Maaf atas segala kesalahan bodoh yang telah kubuat.
Maaf atas keegoisanku yang tak beujung. Maaf atas nasibnya yang sial karena untuk pertama
kalinya telah menginspirasi aku pada kisah cinta yang tragis ini. Maaf juga atas sesuatu yang
diluar konstrolku—bahwa aku telah menjadi monster yang dipilih oleh takdir untuk
mengakhiri hidupnya.
Aku mengambil napas dalam-dalam—mengabaikan rasa perih yang diakibatkan
aromanya—dan berusaha menguasai diri.
Aku ingin mengganti topik, untuk memikirkan sesuatu yang lain. Dan untung bagiku,
rasa penasaranku pada gadis ini tidak ada habis-habisnya. Aku selalu punya pertanyaan.
“Aku bertanya-tanya,” kataku kemudian.
“Ya?” Dia berusaha tegar, namun air mata masih menggantung di suaranya.
“Apa yang kau pikirkan di lorong tadi, sebelum aku muncul? Aku tak bisa mengerti
ekspresimu—kau tidak terlihat setakut itu, kau seperti sedang berkonsentrasi keras pada
212
sesuatu.” Aku ingat ekspresinya—sambil berusaha melupakan dari mata siapa aku
melihatnya—tatapannya penuh tekad.
“Aku sedang mencoba mengingat bagimana cara menghadapi serangan. Kau tahu kan,
ilmu bela diri,” jawabnya dengan lebih terkendali. Tapi kemudian nadanya yang tenang tidak
berlanjut, nadanya berubah jadi marah, “Aku bermaksud menghancurkan hidungnya hingga
melesak ke kepala.”
Kini kemarahannya yang menggemaskan tidak lagi lucu. Aku bisa melihat sosoknya
yang rapuh—hanya balutan sutra diatas permukaan kaca—terpojok oleh manusia bengis
kekar yang ingin menyakitinya. Amarah mendidih di belakang kepalaku.
“Kau akan melawan mereka?” Aku ingin mengerang. Instingnya mematikan—bagi
dirinya sendiri. “Tidakkah kau ingin melarikan diri?”
“Aku sering terjatuh kalau lari,” ucapnya malu-malu.
“Bagaimana kalau berteriak meminta tolong?”
“Aku juga bermaksud melakukannya.”
Aku menggeleng-geleng tidak percaya. Bagaimana caranya dia bisa bertahan hidup
sebelum datang ke Forks?
“Kau benar.” Suaraku terdengar masam. “Aku jelas-jelas melawan takdir karena
mencoba menjagamu tetap hidup.”
Dia menghela napas, dan memandang keluar jendela. Kemudian ia kembali menatapku.
“Apakah besok kita akan bertemu?” pintanya tiba-tiba.
Karena toh akhirnya akan ke neraka juga, jadi kenapa tidak sekalian saja.
“Ya—ada tugas yang harus dikumpulkan.” Aku tersenyum padanya. Rasanya
menyenangkan bisa melakukannya. “Aku akan menunggumu saat makan siang.”
Jantungnya berdegup kencang; jantungku yang mati mendadak terasa hangat.
Aku menghentikan mobil di depan rumahnya. Dia tetap tidak bergerak.
“Kau
janji
akan datang besok?”
“Aku janji.”
Kok bisa-bisanya melakukan sesuatu yang salah tapi terasa semenyenangkan ini? Pasti
ada yang keliru.
Dia mengangguk puas, dan mulai mencopot jaketku.
213
Aku buru-buru mencegahnya, “kau boleh menyimpannya.” Aku ingin dia memiliki
sesuatu dariku. Sebuah kenang-kenangan, seperti tutup botol dalam sakuku... “Kau tidak
punya jaket yang bisa kau pakai besok.”
Dia tetap mengembalikannya padaku sambil tersenyum menyesal. “Aku tak mau
menjelaskannya pada Charlie.”
Bisa kubayangkan. Aku pun tersenyum. “Oh, benar.”
Dia sudah memegang gagang pintu mobil, tapi berhenti. Dia enggan pergi, sama seperti
aku enggan dia pergi.
Aku tidak mau meninggalkannya tanpa perlindungan, bahkan hanya sebentar saja...
Peter dan Charlotte sedang dalam perjalanan, pasti sudah jauh melewati Seattle. Tapi
selalu ada yang lain. Dunia ini bukan tempat yang aman buat manusia, dan buat dia
kelihatannya jauh lebih berbahaya lagi.
“Bella?” Dan aku terkejut dengan betapa menyenangkannya rasanya hanya dengan
mengucapkan namanya saja.
“Ya?”
“Maukah kau beranji padaku?”
“Ya.” Dia langsung setuju. Tapi kemudian tatapannya menajam, seakan sedang
mencari-cari alasan untuk menolak.
“Jangan pergi ke hutan seorang diri.” Aku bertanya-tanya, apakah permintaan itu akan
memicu penolakan di matanya.
Dia mengerjap, kaget. “Kenapa?”
Aku menoleh ke kegelapan malam yang tidak bisa dipercaya. Ketiadaan cahaya bukan
masalah buat mata
ku,
tapi itu juga berlaku sama buat pemburu lainnya. Itu hanya
membutakan manusia.
“Aku tidak selalu yang paling berbahaya di luar sana. Anggap saja begitu.”
Dia gemetar, namun cepat menguasai dir i, dan bahkan sempat tersenyum ketika
mengatakan, “terserah apa katamu.”
Napasnya menyentuh wajahku, begitu manis dan harum.
Aku bisa tinggal begini semalaman, tapi dia butuh tidur. Dua keinginan itu kelihatannya
sama kuat, dan masih berperang dalam diriku: menginginkan dia versus menginginkan dia
214
aman.
Aku mendesah pada kemustahilan ini.
“Sampai ketemu besok,” ucapku, meski tahu aku akan segera menemuinya jauh
sebelum itu. Dia sendiri baru akan bertemu dengan
ku
besok.
“Baik kalau begitu.” Kemudian dia membuka pintu.
Lagi-lagi terasa nyeri sekali, melihatnya pergi.
Aku mencondongkan badan ke arahnya, ingin menahan dia disini. “Bella?”
Dia menoleh, dan membeku, terkejut mendapati wajah kami begitu dekat.
Begitu pula denganku, meluap-luap karena kedekatan ini. Kehangatan datang
bergelombang membasuh wajahku. Aku bisa merasakan segalanya kecuali kelembutan
kulitnya...
Jantungnya berdegup kencang, dan bibirnya merekah.
“Tidur nyenyak ya,” bisikku, dan segera menjauh sebelum dorongan dalam tubuhku—
entah haus yang biasanya atau hasrat aneh yang baru kali ini kurasakan—akan membuatku
melakukan sesuatu yang bisa menyakitinya.
Untuk sesaat dia masih duduk diam tidak bergerak, matanya melebar dan membeku.
Terpesona, kukira.
Begitu pula denganku.
Dia kembali menguasai diri—meski wajahnya masih agak terpana—dan terlihat
limbung ketika keluar dari mobil hingga harus berpegangan agar tidak jatuh.
Aku tertawa geli—berharap dia tidak mendengarnya.
Aku melihat dia sempat tersandung ketika sampai di depan pintu. Untuk sementara
aman. Dan aku akan segera kembali untuk memastikan.
Aku bisa merasakan tatapannya mengikutiku saat mobilku melaju pergi. Ini merupakan
sensasi yang berbeda dari biasanya. Biasanya, secara harfiah aku
menyaksikan
diriku melalui
pandangan orang lain yang menatapku pergi. Tapi anehnya ini jauh lebih menyenangkan—
sensasi semu dari tatapan yang mengawasi. Aku tahu ini menyenangkan hanya karena
tatapannya berasal dari Bella
.
Berjuta pikiran berkecamuk dalam kepalaku saat berkendara tanpa tujuan di tengah
kegelapan malam.
215
Selama beberapa lama aku berputar-putar tak tentu arah. Aku memikirkan Bella, lega
karena akhirnya dia tahu yang sebenarnya. Tidak perlu lagi waswas jati diriku terbongkar.
Dia sudah tahu. Itu tidak penting buat dia. Meski jelas-jelas buat dia ini buruk, tetap saja
sangat melegakan.
Lebih dari itu, aku memikirkan perasaan Bella padaku. Dia tidak mungkin menyukaiku
sebesar aku mencintanya—perasaan cinta yang sedahsyat dan semelimpah ini barangkali
akan menghancurkan tubuh rapuh dia. Tapi perasaannya cukup kuat juga. Cukup kuat hingga
bisa menundukkan insting takut dia. Cukup kuat untuk ingin bersamaku. Dan berada
bersamanya adalah kebahagiaan paling besar yang pernah kurasakan.
Untuk sesaat—saat aku sudah sendirian dan tidak ada siapapun yang bisa kusakiti—aku
membiarkan diriku untuk menikmati kebahagiaan ini tanpa harus dibebani tragedinya. Hanya
untuk merasa bahagia karena dia juga menyukaiku. Hanya untuk bersuka ria karena telah
berhasil memenangkan perasaannya. Hanya untuk terus mengingat kembali bagaimana
rasanya duduk di dekat dia, mendengar suaranya, dan mendapat senyumannya.
Aku mengingat kembali senyum itu, menyaksikan bibirnya yang penuh ter tarik di
kedua sudutnya hingga menggerakkan garis-garis pipinya, bagaimana matanya menghangat
dan mencair... Malam ini jari-jarinya terasa hangat dan lembut pada tanganku. Aku
membayangkan bagaimana rasanya jika menyentuh kulit pipinya yang lembut—balutan sutra
pada permukaan kaca...begitu mudah pecah.
Aku tidak tahu kemana anganku berujung hingga terlambat. Pada saat sedang
menyelami kerapuhannya, gambaran baru wajahnya menyeruak dalam anganku.
Tersesat di tengah kegelapan, pucat karena takut—namun rahangnya terkunci penuh
tekad, tatapannya sengit, badannya yang ramping siap menyerang sosok-sosok besar yang
mengurungnya. Mimpi buruk yang suram...
“Ah.” Aku mengerang saat kebencian membara yang telah terlupakan oleh kebahagiaan
tadi, muncul lagi ke permukaan.
Aku sendirian. Bella telah aman di rumahnya; untuk sesaat aku lega bahwa Charlie
Swan—kepala polisi setempat, yang terlatih dan bersenjata—merupakan ayahnya. Itu
membuatnya lebih aman.
Dia sudah aman. Tidak akan makan waktu lama untuk membalas orang-orang itu...
216
Tidak. Bella layak mendapatkan yang lebih baik dari itu. Aku tidak akan membiarkan
dia jatuh cinta pada seorang pembunuh.
Tapi...bagaimana dengan perempuan-perempuan lain yang bisa jadi korban manusia
biadab itu?
Bella memang sudah aman. Angela dan Jessica juga sudah aman di rumahnya.
Namun monster itu masih berkeliaran di Port Angeles. Monster-manusia—apa itu
membuatnya jadi urusan manusia? Untuk melakukan pembunuhan, yang sudah gatal ingin
kulakukan, adalah salah. Aku tahu itu. Tapi membiarkannya berkeliaran untuk menyerang
orang lain juga tidak benar.
Si penerima tamu pirang yang di restoran tadi, si pelayan yang tak pernah kuperhatikan,
keduanya sama-sama membuatku kesal. Tapi, bukan berarti mereka pantas untuk berada
dalam bahaya.
Satu dari mereka mungkin Bellanya seseorang.
Kenyataan itu memastikan keputusanku.
Aku memutar mobil ke utara. Aku langsung tancap gas begitu punya tujuan. Kapanpun
aku punya masalah yang tidak bisa kuatasi, aku tahu kemana bisa minta bantuan.
Alice sedang duduk di beranda, menungguku. Aku berhenti di depan rumah, tidak
masuk ke garasi.
“Carlisle di ruangannya,” Alice memberitahuku sebelum aku sempat bertanya.
“Terima kasih,” ucapku sambil mengacak-acak rambutnya saat melewati dia.
Terima kasih telah menjawab teleponku,
sindirnya dalam hati.
“Oh.” Aku berhenti di depan pintu, mengeluarkan hand phoneku, lalu membukanya.
“Sori. Aku bahkan tidak mengecek itu dari siapa. Aku sedang...sibuk.”
“Ya, aku tahu. Aku juga minta maaf. Pada saat aku melihat itu akan terjadi, kau sudah
tahu.”
“Tadi itu hampir saja...” gumamku.
Maaf,
ulangnya, malu pada dirinya.
Sangat mudah untuk berbaik hati karena tahu Bella sudah aman. “Tidak usah menyesal.
Aku mengerti kau tidak mungkin mengawasi segalanya. Tidak ada yang berharap kau bisa
jadi mahatahu, Alice.”
217
“Thanks.”
“Aku hampir mengajakmu makan malam tadi—apa kau sempat melihat itu sebelum
aku berubah pikiran?”
Dia cemberut. “Tidak, aku melewatkan itu juga. Coba aku tahu. Aku pasti datang.”
“Kau sedang berkonsentrasi ke apa, sampai melewatkan begitu banyak?”
Jasper sedang memikirkan perayaan anniversary kami.
Dia tertawa.
Dia berusaha
untuk tidak membuat keputusan tentang hadiahku, tapi kurasa aku bisa menebaknya...
“Dasar, memalukan.”
“Yup.”
Dia mengerutkan bibir dan menatapku, ada ekspresi menuduh pada wajahnya.
Lain kali
aku akan mengawasi lebih baik. Apa kau akan memberitahu mereka kalau dia tahu?
Aku mengeluh. “Ya. Nanti.”
Aku tidak akan bilang apa-apa. Tapi tolong beritahu Rosalie ketika aku sedang tidak
ada, oke?
“Oke.”
Bella menerimanya dengan baik.
“Terlalu baik.”
Alice cemberut padaku.
Jangan meremehkan Bella.
Aku berusaha memblokir gambaran yang tidak ingin kulihat—Bella dan Alice
bersahabat.
Karena mulai tak sabar, aku mengeluh panjang. Aku ingin segera menyelesaikan babak
selanjutnya dari malam ini; aku ingin segera mengakhirinya. Tapi aku sedikit waswas untuk
meninggalkan Forks...
“Alice...” Tapi dia sudah tahu apa yang ingin kutanyakan.
Malam ini dia akan baik-baik saja. Mulai sekarang aku akan mengawasinya lebih
baik. Bisa dibilang dia membutuhkan pengawasan dua puluh empat jam penuh, iya kan?
“Kurang lebih begitu.”
“Ngomong-ngomong, kau akan segera menemuinya tidak lama lagi.”
Aku mengambil napas panjang. Kata-kata itu begitu indah buatku.
“Ayo sana—cepat selesaikan biar kau bisa segera menemuinya.”
218
Aku mengangguk, dan buru-buru ke kamar Carlisle.
Dia sedang menungguku, pandangannya ke arah pintu dan bukannya ke buku tebal
yang ada di mejanya.
“Aku mendengar Alice memberitahumu dimana aku,” sambutnya sambil tersenyum.
Akhirnya aku merasa lega bisa bertemu Carlisle, untuk melihat empati dan kecerdasan
di matanya. Dia pasti tahu apa yang mesti dilakukan.
“Aku butuh bantuan.”
“Apa saja, Edward.”
“Apa Alice memberitahumu apa yang terjadi pada Bella tadi?”
Hampir terjadi,
dia mengoreksi.
“Ya, hampir. Aku bingung, Carlisle. Kau tahu, aku ingin...sangat ingin...untuk
membunuh orang itu.” kata-kata itu berhamburan begitu saja. “Sangat ingin. Tapi aku tahu itu
salah, karena itu berarti balas dendam, bukan keadilan. Murni karena marah. Namun tetap
saja, rasanya tidak benar membiarkan seorang pembunuh dan pemerkosa kambuhan
berkeliaran di Port Angeles! Aku tidak kenal penduduk di sana, tapi aku tidak bisa
membiarkan ada perempuan lain yang akan menggantikan posisi Bella dan jadi korban
monster itu. Perempuan itu mungkin punya seseorang yang perasaannya sama dengan
perasaanku pada Bella. Sama menderitanya seperti diriku jika dia disakiti. Itu tidak betul—”
Senyum lebarnya yang tiba-tiba muncul menghentikan semburan kata-kataku.
Efek kehadirannya sangat baik untukmu, iya kan? Kau jadi begitu pengasih, dan
sangat terkontrol. Aku terkesan.
“Aku tidak sedang butuh pujian, Carlisle.”
“Tentu saja tidak. Tapi aku kan tidak bisa mengekang pikiranku.” Dia tersenyum lagi.
“Aku akan membereskannya. Kau tenang saja. Tidak akan ada lagi korban berikutnya.”
Aku bisa melihat rencana di kepalanya. Itulah tepatnya yang kubutuhkan. Memang, itu
tidak memuaskan insting buasku, tapi aku bisa melihat itu hal yang tepat.
“Akan kutunjukan dimana orang itu.”
“Ayo kita pergi.”
Dia mengambil tas dokter hitam miliknya. Sebetulnya aku lebih setuju jika memakai
penenang yang lebih kuat—seperti dengan memecahkan kepalanya—tapi biar Carlisle
219
melakukan dengan caranya.
Kami memakai mobilku. Alice masih ada di beranda. Dia tersenyum dan melambaikan
tangan saat kami menjauh. Kulihat dia mengecek jauh ke depan di pikirannya; kami tidak
akan kesulitan.
Perjalanannya sangat singkat karena jalanan kosong. Lampu mobil kumatikan agar
tidak menarik perhatian. Aku tersenyum membayangkan bagaimana reaksi Bella dengan
kecepatan seperti
ini.
Padahal tadi, sebelum dia protes, aku sudah lebih pelan dari biasanya—
untuk memperlama waktu.
Carlisle juga sedang memikirkan Bella.
Tak kusangka sebaik ini dampak Bella bagi Edward. Sangat tak terduga. Barangkali
memang harus seperti ini jalannya. Mungkin ini demi tujuan yang lebih jauh. Hanya saja...
Dia membayangkan Bella dengan kulit pucat dingin dan mata merah-darah, namun
segera mengalihkan bayangan itu.
Ya.
Hanya saja.
Sudah tentu. Karena, dimana sisi baiknya kalau menghancurkan
sesuatu yang begitu murni dan indah?
Aku memandang ke kegelapan malam. Semua kebahagiaan tadi hancur karena pikiran
Carlisle.
Edward pantas untuk bahagia. Dia harus bahagia.
Kesungguhan pikiran Carlisle
mengejutkanku.
Pasti ada jalan keluar,
pikirnya lagi.
Kuharap aku bisa mempercayai itu. Tapi tidak ada tujuan yang lebih jauh dari apa yang
terjadi pada Bella. Yang ada hanya siluman rubah-betina jahat yang mengendalikanku, yang
tidak tahan melihat Bella menjalani kehidupannya.
Aku tidak berlama-lama di Port Angeles. Aku membawa Carlisle ke depan bar, tempat
mahluk bernama Lonnie itu meratapi kekecewaannya bersama dua rekannya—yang sudah
lebih dulu mabuk berat. Carlisle bisa melihat betapa beratnya bagiku untuk berada sedekat ini
—hingga bisa mendengar pikiran monster itu dan melihat ingatannya, ingatan tentang Bella
yang bercampur dengan gadis-gadis lain yang sudah jadi korbannya.
Napasku memburu. Kucengkram erat kemudi di hadapanku.
Pergilah, Edward,
ucap Carlisle lembut.
Akan kubuat dia tidak bisa menyakiti siapa-
siapa lagi. Kembalilah ke Bella.
220
Pilihan kata Carlisle sangat tepat. Nama Bella adalah satu-satunya yang bisa
mengalihkan pikiranku.
Kutinggalkan Carlisle sendirian di mobil, dan lari menuju Forks lewat hutan. Ini makan
waktu lebih cepat ketimbang naik mobil. Hanya dalam beberapa menit aku sudah meniti di
bawah jendela kamar Bella dan merangkak masuk.
Aku mendesah lega. Semuanya telah seperti seharusnya. Bella aman di tempat tidurnya,
bermimpi, dengan rambutnya yang basah tergerai diatas bantal.
Tapi, tidak seperti malam-malam lainnya, kini dia meringkuk memeluk badannya.
Kurasa karena dingin. Sebelum aku sempat duduk di tempat biasanya, dia menggigil,
bibirnya ikut gemetar.
Aku memperhatikan sejenak, kemudian menyelinap keluar ke lorong, menjelejahi
bagian dalam rumahnya untuk pertama kalinya.
Dengkuran Charlie keras dan stabil. Aku bahkan hampir bisa menangkap mimpinya.
Sesuatu tentang kegiatan di air dan menunggu dengan sabar...memancing barangkali?
Nah, disana, di dekat tangga, letak lemari yang kucari-cari. Aku membukanya penuh
harap, dan menemukan yang kucari. Aku memilih selimut yang paling tebal, dan kubawa
kembali ke kamar. Akan kukembalikan lagi sebelum dia bangun, tidak akan ada yang tahu.
Sambil menahan napas, dengan hati-hati kuselimuti dia; dia tidak beraksi dengan beban
tambahan itu. Kemudian aku kembali duduk di kursi goyang di pojokan.
Sambil menunggu waswas sampai dia merasa hangat, aku memikirkan Carlisle,
bertanya-tanya dimana dia sekarang. Aku tahu rencananya akan berjalan lancar—Alice telah
melihatnya.
Memikirkan ayahku membuatku menghela napas—Car lisle terlalu memujiku.
Seandainya saja aku adalah sosok yang ia pikir. Sosok itu, yang pantas untuk bahagia,
barangkali cukup pantas buat gadis yang sedang tidur ini. Betapa berbedanya seandainya aku
bisa menjadi Edward yang seperti itu.
Saat sedang mempertimbangkan hal itu, tiba-tiba muncul gambaran lain yang tidak
diundang.
Untuk sesaat, sosok siluman rubah betina yang tadi kubayangkan, yang mengidamkan
kehancuran Bella, digantikan oleh sosok malaikat bodoh yang sembrono. Seorang malaikat
221
pelindung—sesuatu yang seperti versi Carlisle tentang diriku. Dengan senyum acuh, mata
biru yang licik, malaikat itu membuat Bella sedemikian rupa hingga tidak mungkin bisa
kujaga: Aroma tajam yang konyol untuk menggugah seleraku, pikiran yang sunyi untuk
memancing penasaranku, kecantikan yang mempesona untuk menghipnotis mataku, hati
yang tidak egois untuk menangkap kekagumanku; Dia hapus juga insting pelindungan
dirinya—supaya Bella tidak takut dan betah berada di dekatku—dan, yang terakhir,
tambahkan kesialan tanpa batas.
Dengan tawa sembrono, malaikat yang tidak bertanggung jawab itu mendorong kreasi
rapuhnya tepat ke hadapanku. Dia percayakan Bella pada moralku yang rusak untuk
menjaganya tetap hidup.
Dalam pandangan ini, aku bukan eksekutor Bella, melainkan dialah hadiahku.
Aku menggeleng-geleng sendiri pada bayangan malaikat tak bermoral seperti itu. Dia
tidak jauh berbeda dengan monster. Tidak mungkin mahluk suci bisa berkelakuan seburuk
itu. Paling tidak kalau siluman rubah betina aku masih bisa melawannya.
Lagi pula, aku tidak punya malaikat pelindung. Mereka cuma untuk orang-orang baik
—orang-orang seperti Bella. Tapi dimana malaikat dia selama ini? Siapa yang mengawasi
dia?
Aku tertawa pelan, tertegun, saat menyadari bahwa saat ini aku lah yang memainkan
peran itu.
Malaikat berwujud vampir—benar-benar kontras.
Setelah lewat setengah jam, posisi Bella mulai lebih rileks. Napasnya makin dalam.
Dan dia mulai bergumam. Aku tersenyum puas. Ini hal sepele, tapi paling tidak malam ini dia
bisa tidur lebih nyaman berkat aku disini.
“Edward,” desahnya, dan dia tersenyum.
Aku menyingkirkan tragedinya sesaat, membiarkan diriku diliputi kebahagiaan.
222
11. Interogasi
CNN mengulas berita itu duluan.
Aku bersyukur muncul sebelum aku berangkat sekolah. Aku tidak sabar ingin
mendengar cara manusia mengulas kejadiannya, dan seberapa menarik perhatian. Untung
hari ini ada berita yang lebih besar. Ada gempa bumi di Amerika Selatan dan penculikan
tokoh politik di Timur Tengah. Jadi berita itu cuma diulas beberapa detik, dengan satu foto
yang tidak jelas.
“Alonzo Calderas Wallace, tersangka pembunuh dan pemerkosa kambuhan, yang jadi
buron di negara bagian Texas dan Oklahoma, telah berhasil ditangkap di Portland, Oregon.
Wallace berhasil ditangkap berkat adanya informasi dari orang yang tak dikenal. Dia
ditemukan tidak sadarkan diri di sebuah gang dini hari tadi, hanya beberapa meter dari kantor
polisi. Saat ini pihak berwenang belum bisa menentukan apakah dia akan disidangkan di
Texas atau di Oklahoma.”
Fotonya agak buram, foto buron. Dia masih berjanggut lebat waktu foto itu diambil.
Bahkan jika Bella menonton dia tidak akan mengenalinya. Kuharap dia tidak menonton; itu
bisa membuatnya ketakutan.
“Beritanya tidak akan sampai ke Forks. Kejadiannya terlalu jauh untuk jadi berita
lokal,” beritahu Alice padaku. “Beruntung ada Carlisle yang bisa membawanya keluar dari
negara bagian ini.”
Aku mengangguk. Bella sendiri tidak terlalu sering nonton TV. Aku juga jarang melihat
ayahnya menonton acara selain olahraga.
Aku telah melakukan yang kubisa. Monster itu tidak lagi berkeliaran, dan aku tidak
jadi pembunuh. Paling tidak, bukan belakangan ini. Pilihanku tepat dengan
mempercayakannya pada Carlisle, walaupun aku tidak sepenuhnya puas penjahat itu bisa
lolos semudah itu. Kuharap dia akan diadili di Texas, dimana hukuman mati masih sering
diberikan...
Tidak. Itu tidak penting lagi. Aku akan melupakan hal itu, dan fokus pada apa yang
paling penting.
223
Aku baru meninggalkan kamar Bella tidak sampai satu jam yang lalu, tapi aku sudah
tidak sabar ingin menemuinya lagi.
“Alice, maukah kau—”
Dia langsung memotongku, “Rosalie yang akan mengemudi. Dia akan berlagak marah,
tapi tahu sendiri, dia akan senang punya alasan untuk memamerkan mobilnya.” Alice tertawa
riang.
Aku tersenyum padanya. “Sampai ketemu di sekolah.”
Alice menghela napas, dan senyumku berubah jadi seringai.
Aku tahu, aku tahu,
batinnya.
Belum saatnya. Aku Akan menunggu sampai kau siap
buat Bella mengenalku. Kau mestinya tahu, ini bukan karena aku egois. Bella juga akan
menyukaiku.
Aku tidak menanggapi, dan buru-buru keluar. Itu cara pandang yang berbeda untuk
melihat situasi ini.
Maukah
Bella mengenal Alice? Maukah dia punya sahabat seorang
vampir?
Kalau dari sudut pandang Bella...mungkin ide itu tidak terlalu mengganggu.
Aku mengeluh sendiri. Apa yang Bella mau dan apa yang terbaik bagi Bella adalah dua
hal yang bertentangan.
Aku mulai gelisah ketika parkir di depan rumah Bella. Pepatah manusia mengatakan,
banyak hal kelihatan berbeda di pagi hari—hal itu berubah karena kau tidur. Apakah aku juga
akan kelihatan berbeda di mata Bella, di bawah langit mendung dan berkabut pada pagi hari
ini? Mungkinkah kebenaran itu akhirnya meresap ketika dia tidur? Mungkinkah akhirnya dia
takut?
Sepertinya tadi malam mimpinya indah. Ketika menggumamkan namaku berulang-
ulang, dia tersenyum. Lebih dari sekali dia memohon agar aku tetap tinggal. Apa itu tidak
akan ada artinya hari ini?
Aku menunggu dengan cemas, mendengarkan suara-suara yang ditimbulkannya di
dalam rumah—langkahnya yang setengah berlari di tangga, sobekan kertas timah, benturan
botol-botol saat dia menutup lemari es. Sepertinya dia sedang terburu-buru. Tidak sabar ingin
cepat-cepat ke sekolah? Bayangan itu membuatku tersenyum, penuh harapan lagi.
Aku melihat ke jam. Sepertinya—jika menghitung-hitung kecepatan maksimal truknya
224
—dia hampir terlambat.
Bella menghambur keluar rumah. Tasnya disampirkan di pundak. Rambut ikalnya agak
berantakan. Sweter hijau yang dia pakai tidak cukup tebal untuk melindungi tubuhnya dari
dinginnya kabut.
Sweter panjang itu ukurannya kebesaran sehingga menyamarkan bentuk tubuh Bella
yang gemulai, mengubah lekuk-lekuknya yang menawan jadi tidak berbentuk. Namun aku
sama menyukainya seperti jika dia memakai blus biru muda tadi malam...warna biru
mengalir bagai air di permukaan tubuhnya, kainnya membalut kulitnya begitu rupa hingga
terlihat sangat menarik, potongannya cukup pendek untuk menunjukkan tulang selangkanya
yang mempesona, yang melengkung indah dari bawah leher...
Kurasa lebih baik aku menjauhkan bayangan itu. Jadi aku bersyukur dengan sweter
yang dia pakai. Aku tidak boleh membuat kesalahan. Dan merupakan kesalahan besar jika
aku sampai terhanyut pada hasrat aneh yang mulai terbebas dalam diriku, hasrat terhadap
bibirnya...kulitnya...tubuhnya.... Hasrat yang selama seratus tahun terkurung rapat. Tapi aku
tidak boleh membayangkan itu. Aku tidak boleh membayangkan menyentuhnya, karena itu
mustahil.
Aku akan meremukkan dia.
Setelah membanting pintu Bella langsung lari hingga hampir saja tidak menyadari
mobilku.
Kemudian dia berhenti mendadak. Tubuhnya membeku. Tasnya merosot ke tangan, dan
matanya membelalak saat melihat mobilku.
Aku keluar, tanpa repot-repot mengekang kecepatan kilatku, dan membukakan pintu
mobil untuk dia. Aku tidak mau mengelabuinya lagi—paling tidak saat kami berdua, aku
akan menjadi diriku sendiri.
Dia menatapku, terkejut saat aku muncul begitu saja. Kemudian kekagetan di matanya
berubah jadi sesuatu yang lain, dan aku tidak perlu lagi takut perasaannya berubah. Hangat,
kagum, terpesona, semua jadi satu pada mata coklatnya yang mencair.
“Kau mau berangkat bersamaku hari ini?” tanyaku padanya. Tidak seperti waktu makan
malam kemarin, aku memberinya pilihan. Mulai sekarang, semua harus sesuai kemauannya.
“Ya, terima kasih,” gumamnya sambil masuk kedalam mobilku tanpa ragu-ragu.
225
Apa aku akan berhenti keheranan, bahwa akulah orang yang dijawab ya olehnya?
Sepertinya aku akan terus heran.
Aku langsung melesat mengitari mobil, tidak sabar ingin berada di sampingnya. Dia
tidak terlihat kaget dengan kemunculanku yang tiba-tiba.
Kebahagiaan yang kurasakan ketika dia duduk disampingku seperti ini, tidak ada
bandingannya. Walau aku sangat menikmati kedekatan keluargaku, juga dengan berbagai
kemewahan yang kupunya, aku belum pernah merasa sebahagia ini. Bahkan walau tahu kalau
ini salah, bahwa ini tidak akan berakhir dengan baik, tetap saja tidak bisa menghapus
senyumku.
Jaketku kusampirkan di sandaran kursinya. Kulihat dia memandanginya.
“Aku membawakan jaket untukmu.” Itu alasan yang kupakai untuk datang tanpa
diundang. Pagi ini dingin. Dia tidak punya jaket. Tentunya ini bentuk sikap ksatria yang bisa
diterima. “Aku tak ingin kau sakit atau apa.”
“Aku tak selemah itu, kau tahu,” sanggahnya sambil menatap dadaku dan bukannya
wajahku, seakan dia ragu-ragu untuk menatap mataku. Tapi jaketku dipakai juga tanpa harus
kupaksa.
“Benarkah?” gumamku sendiri.
Dia terlihat menerawang ke luar saat kami mulai jalan. Aku hanya tahan berdiam diri
selama beberapa detik. Aku harus tahu apa yang dia pikirkan pagi ini. Ada banyak hal yang
berubah diantara kami sejak matahari terbit.
“Apa tidak ada rentetan pertanyaan hari ini?” tanyaku sesantai mungkin.
Dia tersenyum, terlihat lega aku mengungkitnya. “Apakah pertanyaan- pertanyaanku
mengganggumu?”
“Tidak seperti reaksimu,” jawabku jujur sambil tersenyum untuk membalas
senyumnya.
Ujung bibirnya mengerut turun. “Apakah reaksiku buruk?”
“Tidak, itu masalahnya. Kau menerimanya dengan tenang sekali—tidak wajar.” Tidak
ada satu jeritanpun. Bagaimana itu mungkin? “Itu memuatku bertanya-tanya, apa yang
sebenarnya kau pikirkan.”
Tentu saja, apapun yang dia perbuat atau tidak perbuat, membuatku bertanya-tanya.
226
“Aku selalu mengatakan apa yang sebenarnya kupikirkan.”
“Kau mengeditnya.”
Dia menggigit bibirnya lagi, kelihatannya tidak sadar—reflek ketika sedang tegang.
“Tidak terlalu banyak.”
Hanya dengan mendengar kata-kata itu sudah membuat penasaranku memuncak. Apa
yang dengan sengaja ia tutupi dariku?
“Cukup untuk memuatku gila,” sergahku.
Dia ragu sejenak, lalu berbisik, “Kau tidak ingin mendengarnya.”
Aku harus berpikir sebentar, mengulang kembali seluruh pembicaraan tadi malam, kata
perkata, mencari hubungannya. Mungkin aku mesti lebih berkonsentrasi lagi karena aku tidak
bisa membayangkan ada sesuatu yang tidak ingin kudengar dari dia. Tapi kemudian—karena
nada bicaranya sama dengan tadi malam; ada kepedihan yang tiba-tiba muncul—aku ingat.
Secara spesifik aku sempat meminta dia untuk tidak mengucapkan pikirannya;
Jangan
pernah katakan itu.
Aku hampir menggeram ketika itu, dan membuatnya menangis...
Apa itu yang ia sembunyikan? Kedalaman perasaannya padaku? Bahwa sosokku
sebagai monster tidak penting buatnya, dan bahwa sudah terlambat untuk berubah pikiran?
Aku tidak bisa berkata apa-apa. Kebahagiaan dan penderitaan ini terlalu kuat untuk
diungkapkan lewat kata-kata. Benturan keduanya terlalu liar untuk dijelaskan. Keadaan
hening, hanya ada suara dari detak jantungnya yang teratur.
“Di mana keluargamu yang lain?” tanyanya tiba-tiba.
Aku mengambil napas panjang—merasakan aroma pekatnya yang membakar untuk
pertama kalinya pagi ini; aku mulai terbiasa, aku menyadari dengan puas—dan memaksa
diriku serileks mungkin.
“Mereka naik mobil Rosalie.” Kebetulan ada tempat kosong di samping mobil yang ia
tanyakan, dan aku parkir disitu. Kuseembunyikan senyumku saat matanya membelalak.
“Kelewat mencolok, kan?”
“Mmm, wow. Kalau Rosalie punya
itu
, kenapa dia pergi bersamamu? “
Rosalie pasti akan menikmati reaksi Bella...jika dia mau bersikap obyektif tentang
Bella, yang mana kuragukan.
“Seperti kataku, kelewat mencolok. Kami
berusaha
membaur.”
227
“Kalian tidak berhasil.” Dan dia tertawa riang.
Keriangan suara tawanya menghangatkan jantungku.
“Jadi kenapa Rosalie mengemudi sendiri kalau itu kelewat menarik perhatian?”
tanyanya heran.
“Tidakkah kau tahu? Aku melanggar
semua
aturan sekarang.”
Jawabanku pasti tidak terlalu menakuktkan—jadi tentu saja, Bella tersenyum
mendengarnya.
Dia tidak menunggu untuk dibukakan pintu, sama seperti tadi malam. Sekarang aku
harus menjaga sikapku—jadi aku tidak bisa melesat untuk menahannya—tapi untuk
selanjutnya dia harus mulai membiasakan diri untuk diperlakukan dengan sopan. Dan harus
secepatnya.
Aku berjalan di sampingnya sedekat yang aku berani sambil mengamati kalau-kalau dia
merasa risih. Dua kali tangannya sedikit terjuntai ke arahku, namun ditarik lagi. Kelihatannya
seperti
ingin menyentuhku... Napasku memburu.
“Kenapa kalian mempunyai mobil-mobil seperti itu? Kalau kalian memang
menginginkan privasi?” tanyanya sambil jalan.
“Memanjakan diri. Kami semua suka ngebut.”
“Sudah kuduga,” gumamnya masam.
Dia tidak mendongak untuk melihat seringai jailku.
Ya ampun! Aku tidak percaya ini! Bagaimana cara Bella melakukannya? Aku tidak
mengerti! Kenapa?
Suara batin Jessica menyela pikiranku. Dia sedang menunggu Bella, berlindung dari
guyuran hujan di bawah atap kafetaria. Jaket Bella di tangannya. Matanya membelalak tidak
percaya.
Kemudian Bella melihat juga. Rona merah muda muncul di pipinya ketika dia
menangkap reaksi Jessica. Pikiran Jessica
terbaca
dengan jelas di wajahnya.
“Hei Jessica. Terima kasih sudah ingat membawanya,” sapa Bella. Dia mengambil
jaketnya dan Jessica memberikan masih sambil melongo.
Aku harus sopan pada teman Bella, entah dia itu teman yang baik atau bukan.
“Selamat, pagi Jessica.”
228
Waahhh...
Mata Jessica makin membelalak. Ini aneh...dan jujur saja, sedikit
memalukan...menyadari bagaimana berada di dekat Bella telah melunakkan diriku.
Sepertinya tidak ada lagi orang yang takut. Jika Emmet sampai tahu, dia pasti akan
menertawaiku habis-habisan.
“Err...hai,” gumam Jessica tidak jelas. Kemudian matanya memelototi Bella. “Kalau
begitu sampai ketemu di kelas Trigono.”
Kau harus menceritakan semuanya. Tidak boleh tidak. Setiap detailnya. Aku harus
mendapatkan detailnya! Si Edward CULLEN!! Dunia tidak adil!
Bibir Bella cemberut. “Yeah, sampai ketemu nanti.”
Benak Jessica makin berkeliaran saat berjalan menuju kelas. Sesekali dia menoleh ke
belakang.
Cerita lengkapnya. Aku tidak mau terima jika kurang dari itu. Apa mereka memang
sudah berencana untuk bertemu tadi malam? Apa mereka sudah berkencan? Sudah berapa
lama? Tega-teganya Bella merahasiakan hal ini? Kenapa juga dia
mau
merahasiakannya?
Ini tidak mungkin cuma iseng—Bella pasti serius. Apa ada kemungkinan yang lain? Aku
akan
mencari tahu. Kira-kira, apa dia sudah menciumnya? Ya ampun...
Benak Jessica tiba-tiba
terputus, dia ganti membayangkan adegan itu. Aku langsung berusaha mengusirnya.
Itu tidak akan mungkin terjadi. Namun tetap saja aku...
Tidak, aku menolak untuk membenarkan tindakan yang seperti itu, bahkan tidak ke
diriku sendiri. Aku menginginkan dia dengan cara salah seperti apa lagi? Dan cara mana yang
akhirnya akan berujung pada kematiannya?
Aku menggeleng, berusaha ceria lagi.
“Apa yang akan kau katakan padanya?” .
“Hei!” desisnya tajam. “Kupikir kau tak bisa membaca pikiranku!”
“Aku tak bisa.” Aku menatap kaget, berusaha mengolah ucapanya. Ah—kami pasti
memikirkan hal yang sama. Hmm...aku cukup suka itu. “Bagaimanapun, aku bisa membaca
pikirannya—dia tak sabar ingin menginterogasimu di kelas.”
Bella mengerang. Kemudian dengan begitu saja dia melepas jaketku. Awalnya aku
tidak sadar—aku sama sekali tidak meminta jaketku; aku lebih memilih dia pakai
229
terus...sebagai kenang-kenangan—jadi aku terlambat membantu melepaskannya. Dia
mengembalikan jaketku, dan memakai jaketnya sendiri tanpa melihat kalau tanganku sudah
siap membantu. Aku merengut karenanya, namun cepat mengontrol ekspresiku agar tidak
dilihat dia.
“Jadi, kau akan bilang apa padanya?” desakku.
“Tolong bantu aku sedikit. Apa yang ingin diketahuinya?”
Aku tersenyum, dan menggeleng. Aku ingin mendengar apa yang dia pikirkan saat itu
juga, tanpa persiapan. “Itu tidak adil.”
Matanya menyipit. “Tidak, kau tidak akan memberitahu apa yang kau ketahui—itu baru
tidak adil.”
Betul—dia tidak suka standar ganda.
Kami sampai di depan kelasnya—dimana aku harus meninggalkan dia; aku bertanya-
tanya apa Ms. Cope mau membantu menukar jadwal pelajaran bahasa Inggrisku... Sebaiknya
jangan, aku harus berlaku adil.
“Dia ingin tahu apakah kita diam-diam berkencan,” kataku lambat-lambat. “Dan dia
ingin tahu bagaimana perasaanmu terhadapku.”
Matanya melebar—bukannya kaget, tapi dibuat-buat. Dia sok polos.
“Iihh,” gumamnya. “Apa yang harus kukatakan?”
“Hmm.” Dia selalu saja mencoba mengorekku ketimbang membuka pikirannya sendir i.
Aku menimbang-nimbang bagaimana menjawabnya.
Sejumput rambutnya yang agak basah karena kabut, terlepas dari belakang telinga, dan
terjuntai di sekitar tulang selangkanya yang sekarang tersembunyi dibalik sweter. Itu menarik
perhatian mataku...pada lekuk tulangnya yang masih agak kelihatan...
Kuraih rambut itu hati-hati agar jangan sampai menyentuh kulitnya—pagi ini sudah
cukup dingin tanpa ketambahan sentuhanku—dan mengembalikannya ke balik telinga agar
tidak menarik perhatianku lagi. Aku ingat saat Mike Newton menyentuh rambutnya, ketika
itu Bella langsung menjauh. Kali ini reaksinya sama sekali berbeda; pupil matanya melebar,
aliran darah di balik kulitnya menderas, dan detak jantungnya mendadak tidak beraturan.
Aku berusaha menyembunyikan senyumku saat menjawab pertanyaannya. “Kurasa kau
bisa mengatakan ya untuk petanyaan pertama... kalau kau tidak keberatan—,” biarkan dia
230
yang memilih, harus selalu begitu, “—itu lebih mudah daripada penjelasan lainnya.”
“Aku tak keberatan,” bisiknya. Detak jantungnya masih belum teratur.
“Dan untuk pertanyaan yang satu lagi...” kini aku tidak bisa menyembunyikan
senyumku. “
Well
, aku akan mendengar jawabannya langsung darimu.”
Biarkan Bella mempertimbangkan hal
itu.
Aku menahan tawaku saat syok terlihat di
wajahnya.
Aku cepat-cepat berbalik, sebelum dia sempat menuntut jawaban lagi. Aku menemui
kesulitan untuk tidak menjawab apapun yang ia tanya. Dan aku ingin mendengar pikiran
nya,
bukan pikiranku sendiri.
“Sampai ketemu saat makan siang,” kataku sambil menoleh melihatnya, sekedar alasan
untuk mengecek apa dia masih memandangiku dengan terlongo. Dan, dia masih begitu,
dengan mulut terbuka. Aku berbalik lagi dan tertawa.
Samar-samar aku menyadari pikiran syok orang-orang disekitarku—tatapan mereka
bergantian ke aku dan Bella. Namun aku tidak terlalu memperhatikan mereka. Aku tidak bisa
berkonsentrasi. Untuk melangkah dengan tenang saja sudah susah. Aku ingin lari—benar-
benar lari, secepat kilat hingga menghilang, seperti terbang. Sebagian dariku sekarang sudah
terbang.
Sesampainya di kelas jaketku kupakai. Keharuman pekat Bella yang tertinggal pun
bergelung disekelilingku. Kubiarkan tenggorokanku terbakar supaya nanti saat bertemu lagi
lebih mudah mengatasinya.
Ada untungnya juga para guru sudah tidak pernah menanyaiku lagi. Hari ini mungkin
mereka bisa memergokiku tanpa jawaban. Pikiranku sedang berkeliaran ke tempat lain;
hanya badanku yang di kelas.
Tentu saja aku sedang memandangi Bella. Itu jadi alamiah—sealami seperti bernapas.
Dia sedang bercakap-cakap dengan Mike Newton, dan sebisa mungkin berusaha
mengalihkan pembicaraan ke Jessica. Aku menyer ingai begitu lebar hingga Rob Sawyer,
yang duduk di meja sebelahku, berjengit di kursinya dan bergeser menjauh.
Ugh. Menyeramkan.
Well
, aku tidak sepenuhnya kehilangan tajiku.
Kadang-kadang aku juga mengawasi Jessica. Dia tidak sabar menunggu jam ke empat,
231
dan sedang memikirkan daftar pertanyaan untuk Bella. Aku sendiri sepuluh kali lebih tidak
sabar ketimbang Jessica.
Dan aku juga mendengarkan Angela Weber.
Aku tidak lupa dengan hutang budiku padanya—karena telah memikirkan yang baik-
baik saja tentang Bella dan pertolongannya tadi malam. Jadi sepanjang pelajaran aku
mencari-cari sesuatu yang ia inginkan. Kusangka itu akan mudah; seperti kebanyakan orang,
pasti ada barang-barang mewah atau benda tertentu yang dia idam-idamkan. Beberapa,
mungkin. Aku akan mengirimkannya tanpa nama, dan menganggap impas.
Tapi ternyata Angela sama polosnya dengan Bella. Pikirannya sangat aneh untuk
ukuran remaja. Bahagia. Barangkali ini alasan dari kebaikan hatinya yang tidak lazim—dia
satu dari beberapa orang yang telah memiliki yang dia inginkan, dan menginginkan yang
telah ia miliki. Jika tidak sedang memperhatikan pelajaran, dia memikirkan adik kembarnya,
yang akan ia ajak ke pantai akhir pekan nanti—terhibur oleh semangat mereka dengan sikap
hampir keibuan. Dia sering diminta menjaga mereka, tapi itu tidak membuatnya kesal... Itu
sangat murah hati.
Tapi tidak terlalu menolong buatku.
Pasti ada sesuatu yang dia mau. Aku cuma perlu terus mencari. Tapi nanti lagi. Ini
saatnya kelas Trigono Bella bersama Jessica.
Aku tidak memperhatikan jalanku saat menuju kelas bahasa Inggris. Jessica sudah
duduk di kursinya. Kedua kakinya mengetuk-ngetuk lantai tidak sabaran menunggu Bella
datang.
Sebaliknya, ketika sampai di kursiku, aku langsung sepenuhnya diam. Aku sampai
harus mengingatkan diriku untuk sesekali membuat gerakan, untuk memainkan sandiwaraku
sebagai manusia. Itu sangat sulit, pikiranku terlalu fokus ke Jessica. Kuharap dia benar-benar
memperhatikan, benar-benar membaca wajah Bella untukku.
Ketukan Jessica makin cepat ketika Bella memasuki kelas.
Dia kelihatan...murung. Kenapa? Mungkin tidak terjadi apa-apa antara dia dengan
Edward Cullen. Itu pasti mengecewakan. Kecuali...dengan begitu Edward berarti masih
sendirian...jika tiba-tiba Edward tertarik untuk kencan, aku tidak kebaratan membantunya...
Wajah Bella tidak kelihatan murung, melainkan malas. Dia gelisah—dia tahu aku akan
232
mendengar semuanya. Aku tersenyum sendiri.
“Ceritakan semuanya!”
desak Jess, sementara Bella masih melepas jaketnya untuk
disampirkan di kursi. Dia bergerak dengan enngan.
Ugh, di lamban sekali. Ayo cepat ceritakan!
“Apa yang ingin kau ketahui?”
tanya Bella setengah hati setelah dia duduk.
“Apa yang terjadi semalam?”
“Dia mengajakku makan malam, lalu mengantarku pulang.”
Lalu? Ayolah, pasti lebih dari itu! Paling-paling dia bohong, aku tahu itu. Aku akan
cari tahu yang sebenarnya.
“Bagaimana kau bisa pulang secepat itu?”
Kulihat Bella memutar bola matanya dari pandangan curiga Jessica.
“Dia ngebut seperti orang sinting. Mengerikan.”
Dia tersenyum, senyuman kecil. Dan aku tergelak, memotong pembicaraan Mr. Mason.
Tawaku berusaha kuubah jadi batuk, tapi tidak ada yang tertipu. Mr. Mason memelototiku,
tapi aku bahkan tidak mau repot-repot mendengarkan pikirannya. Aku masih sibuk dengan
Jessica.
Huh. Sepertinya dia menceritakan yang sebenarnya. Kenapa dia mesti membuatku
menanyakannya kata per kata? Kalau itu aku, pasti sudah tidak sabar untuk
menceritakannya.
“Apakah itu semacam kencan—apakah kau memberitahunya untuk menemuimu
disana?”
Jessica mengamati baik-baik ekspresi Bella, dan kecewa karena kelihatannya datar-
datar saja.
“Tidak—aku
sangat
terkejut melihatnya di sana,”
beritahu Bella.
Apa yang terjadi?? “Tapi hari ini dia menjemputmu ke sekolah?” Pasti ada cerita
lainnya.
“Ya—itu juga kejutan. Dia memerhatikan aku tidak membawa jaket semalam.”
Itu tidak terlalu menarik,
batin Jessica, lagi-lagi kecewa.
Aku capek mendengar rentetan pertanyaannya—aku mau mendengar sesuatu yang
belum kuketahui. Kuharap Jessica tidak terlalu kecewa hingga melewatkan pertanyaan yang
233
kutunggu-tunggu.
“Jadi, kalian akan berkencan lagi?”
desak Jessica.
“Dia menawarkan mengantarku ke Seattle sabtu nanti, karena menurut dia, trukku
tidak bakal sanggup—apakah itu masuk hitungan?”
Hmm. Sepertinya Edward juga cukup serius...well, jaga Bella baik-baik. Pasti ada
yang aneh dengan si Edward, jika bukan Bella-nya yang aneh. Bagaimana INI bisa terjadi?
“Ya.”
Jessica menjawab pertanyaan Bella.
“Well, kalau begitu, ya,”
tegas Bella.
“W-o-w. Edward Cullen.” Entah Bella menyukai Edward atau tidak, ini berita besar.
“Aku tahu,”
desah Bella.
Nada suara Bella menyemangati Jessica.
Akhirnya—dia menyadari juga situasinya. Dia
juga pasti tahu...
“Tunggu!”
Tiba-tiba dia ingat pertanyaan yang paling penting. “
Apakah dia sudah
menciummu?” Please bilang ya. Lalu ceritakan setiap detailnya!
“Belum,”
gumam Bella pelan, lalu dia menunduk, memandangi tangannya. “
Bukan
begitu.”
Sial. Kuharap... Ha. Sepertinya Bella juga mengharapkannya.
Aku mengerutkan dahi. Bella memang terlihat kecewa akan sesuatu, tapi tidak mungkin
itu alasannya. Dia tidak mungkin menginginkan hal itu. Dia tidak mungkin mau sedekat itu
dengan
gigi
ku. Seperti yang dia ketahui, aku punya taring.
Aku menggigil.
“Menurutmu hari sabtu...?”
desak Jessica lagi.
Bella bahkan terlihat lebih kecewa ketika berkata,
“Aku sangat meragukannya.”
Yah, dia memang menginginkannya. Itu pasti menyebalkan buat dia.
Apakah karena melihatnya lewat persepsi Jessica maka sepertinya asumsi Jessica betul?
Selama setengah detik pikiranku disela oleh bayangan—yang mustahil—tentang
bagaimana rasanya jika mencium Bella. Bibirku pada bibirnya, batu-dingin pada kehangatan,
merasakan kelembutannya yang seperti sutra...
Kemudian dia mati.
Aku menggeleng-geleng sambil meringis, lalu memperhatikan lagi.
234
“Apa yang kalian obrolkan?” Apa kau bicara dengannya, atau kau justru membuatnya
harus bertanya satu persatu seperti ini?
Aku tersenyum kecut. Tebakan Jessica tidak terlalu melenceng.
“Entahlah, Jess, banyak. Kami membicarakan tentang tugas esai bahasa Inggris,
sedikit.”
Sangat, sangat sedikit. Aku tersenyum lebar.
Oh, AYOLAH. “Ayolah, Bella! Ceritakan detailnya.”
Bella ragu sejenak.
“Well, baiklah... akan kuceritakan satu. Mestinya kau lihat pelayan restoran
merayunya—terang-terangan sekali. Tapi dia tidak memerhatikan pelayan itu sama sekali.”
Detail yang aneh untuk diceritakan. Aku bahkan tidak menyangka Bella menyadari hal
itu. Sepertinya itu tidak terlalu relevan.
Menarik... “Itu pertanda baik. Apakah pelayan itu cantik?”
Hmm. Jessica menanggapinya dengan lebih serius ketimbang aku. Pasti urusan
perempuan.
“Sangat,” ujar Bella. “Dan barangkali umurnya 19 atau 20.”
Sesaat Jessica ingat ketika ia dan Mike kencan senin kemarin—Mike bersikap terlalu
sopan dengan si pelayan, yang menurut Jessica sama sekali tidak cantik. Dia mengusir
ingatan itu dan kembali. Dia mengekang kekesalannya agar bisa meneruskan pertanyaannya.
“Lebih baik lagi. dia pasti menyukaimu.”
“Ku
rasa
begitu,”
ucap Bella tidak yakin, dan aku hampir saja berdiri. “
Tapi sulit
mengetahuinya. Sikapnya selalu misterius.”
Aku pasti tidak setransparan dan se-lepas kendali seperti yang kupikir. Namun tetap
saja...dengan pengamatan yang ia punya... Bagaimana mungkin dia tidak menyadari bahwa
aku jatuh cinta padanya? Kuulang kembali seluruh pembicaraan kami berdua, dan baru sadar
aku memang belum pernah mengucapkan kata-kata itu. Tapi rasanya ungkapan itu sudah
terbalut dalam setiap kata yang kuucapkan.
Wow. Bagaimana caranya kau bisa duduk di samping seorang model dan mengobrol
dengannya? “Aku tidak mengira kau berani sekali hanya berduaan dengannya.”
Bella terlihat syok.
“Kenapa?”
235
Reaksi yang aneh. Memangnya menurut dia yang kumaksud apa? “Dia begitu...” Apa
istilahnya yang tepat? “Mengintimidasi. Aku takkan tahu apa yang harus kukatakan
padanya.” Bahkan tadi aku tidak bisa bicara dengan benar, padahal dia cuma mengucapkan
selamat pagi. Aku pasti kelihatan seperti orang idiot.
Bella tersenyum.
“Tapi aku memang punya beberapa masalah dengan logika ketika
bersamanya.”
Dia pasti sekedar menghibur Jessica. Bella terlihat begitu terkendali ketika bersamaku.
“Oh, well,” desah Jessica. “Dia memang luar biasa tampan.”
Tatapan Bella tiba-tiba jadi dingin. Pancaran matanya mirip seperti ketika sedang
tersinggung. Jessica sendiri tidak menangkap perubahan itu.
“Dia jauh lebih dari pada sekedar sangat tampan,”
tukas Bella.
Oooh. Akhirnya muncul juga. “Sungguh? Seperti apa?”
Bella menggigit bibirnya sebelum menjawab.
“Aku tak bisa menjelaskannya dengan
tepat... tapi dia jauh lebih luar biasa di balik wajahnya.”
Dia berpaling dari Jessica,
tatapannya berubah tidak fokus seakan sedang memandangi sesuatu yang jauh.
Yang kurasakan saat ini mirip dengan yang kurasakan ketika Carlisle atau Esme
menyanjungku lebih dari yang sepantasnya. Mirip, tapi lebih dalam, dan lebih melimpah.
Jangan berlagak bodoh—tidak ada yang lebih baik ketimbang wajahnya! Kecuali
mungkin badannya. Hhh. “Apakah itu mungkin?”
Jessica terkikik.
Bella tidak menoleh. Dia terus memandang ke kejauhan, mengabaikan Jessica.
Orang normal pasti sudah berbunga-bunga. Barangkali jika kutanyakan dengan
bahasa yang lebih sederhana. Ha ha. Aku seperti bicara dengan anak TK. “Jadi, kau
menyukainya?”
Badanku membeku.
Bella tidak melihat ke Jessica.
“Ya.”
“Maksudku, kau
benar-benar
menyukainya?”
“Ya.”
Lihat, dia tersipu-sipu!
Ya, aku sedang melihatnya.
“
Seberapa
suka?”
desak Jessica.
236
Ruang kelasku mungkin saja diguncang gempa dan aku tidak menyadarinya.
Wajah Bella bersemu merah—aku hampir bisa merasakan hangatnya.
“Terlalu suka,” bisiknya. “Lebih dari dia menyukaiku. Tapi aku tidak tahu bagaimana
mengatasinya.”
Sial! Apa tadi yang Mr. Varner tanyakan? “Mmm. Nomer berapa Mr. Varner?”
Untung Jessica tidak bisa menanyai Bella lagi. Aku butuh waktu sebentar.
Apa coba yang dipikirkan gadis itu?
Lebih dari dia menyukaiku?
Darimana dia dapat
ide
itu
?
Tapi aku tidak tahu bagaimana mengatasinya
? Apa coba itu artinya? Aku tidak bisa
menemukan penjelasan yang rasional dari perkataanya. Ucapannya tak beralasan.
Rasanya aku seperti tidak dihargai. Sesuatu yang sudah sangat-sangat jelas, entah
bagaimana jadi terpelintir di dalam otaknya yang ganjil.
Lebih dari dia menyukaiku
?
Barangkali dia memang masih perlu dibawa ke psikiater.
Aku melihat ke jam, dan menggertakan gigi. Kenapa satu menit jadi terasa seabad
untuk mahluk abadi sepertiku? Kemana larinya akal sehatku?
Rahangku terkatup rapat selama jam pelajaran Mr. Varner. Aku lebih banyak
mendengar pelajaran di kelas Bella ketimbang di kelasku sendiri. Bella dan Jessica tidak
bicara lagi, tapi sesekali Jessica melirik ke Bella. Satu kali, wajahnya sempat bersemu merah
tanpa alasan yang jelas.
Jam makan siang tidak datang-datang juga.
Kuharap Jessica bisa mendapatkan semua jawaban yang kutunggu saat jam pelajaran
selesai. Tapi Bella lebih cepat dari dia.
Sesaat setelah bel bunyi, Bella menoleh ke Jessica.
“Di kelas Inggris, Mike bertanya apakah kau mengatakan sesuatu tentang Senin
Malam,”
kata Bella sambil tersenyum. Aku mengerti apa yang dia lakukan—menyerang
adalah pertahanan yang terbaik.
Mike bertanya tentang aku?
Perasaan senang membuat pikiran Jessica jadi melunak,
tanpa sindiran seperti biasanya.
“Kau bercanda! Apa katamu?”
“Kubilang kau sangat menikmatinya—dia kelihatan senang.”
“Katakan apa persisnya yang dikatakannya, juga jawabanmu!”
Jelas, cuma itu yang bisa kudapat dari Jessica hari ini. Bella tersenyum seakan sedang
237
memikirkan hal yang sama, seakan dia telah memenangkan ronde ini.
Well
, pada saat makan siang nanti akan lain ceritanya. Aku harus lebih berhasil
ketimbang Jessica. Akan kupastikan itu.
Hanya kadang-kadang Aku saja mengecek pikiran Jessica selama jam pelajaran
selanjutnya. Aku tidak tahan dengan obsesinya pada Mike Newton. Aku sudah cukup
mendengar tentang Mike Newton selama dua minggu ini. Sudah untung dia masih hidup.
Aku berjalan dengan malas ke ruang gimnasium bersama Alice. Kami selalu malas jika
menyangkut aktivitas fisik bersama manusia. Ini hari pertama bermain badminton. Alice jadi
pasanganku. Aku mendesah bosan, mengayunkan raketku dengan sangat-sangat pelan untuk
mengembalikan kok nya ke seberang net. Lauren Mallory jadi lawan kami; dia gagal
memukulnya. Alice memutar-mutar raketnya sambil menatap ke langit-langit.
Kami semua membenci pelajaran olahraga, terutama Emmet. Mengalah dalam
pertandingan bertentangan dengan filosofi hidupnya. Pelajaran olahraga hari ini lebih parah
dari biasanya—aku hampir sekesal Emmet.
Sebalum kepalaku meledak, Coach Clapp menyudahi permainan. Dengan geli aku
bersyukur dia melewatkan sarapannya—percobaan awal untuk diet—dan rasa lapar yang
diakibatkannya membuat dia ingin cepat-cepat mencari makan. Dia berjanji ke dirinya
sendiri akan mengulang lagi besok...
Ini memberiku cukup waktu untuk ke kelas Bella sebelum dia keluar.
Selamat bersenang- senang,
batin Alice saat dia bergegas menemui Jasper.
Aku cuma
perlu bersabar beberapa hari lagi. Kurasa kau tidak mau menyampaikan salamku untuk
Bella, kan?
Aku menggeleng jengkel. Apa semua paranormal memang sombong?
Sekedar informasi, matahari akan bersinar cerah akhir pekan nanti. Kau mungkin
perlu mengatur ulang rencanamu.
Aku menghela napas saat berjalan ke arah yang berlawanan dengan Alice. Sombong,
tapi jelas berguna.
Aku bersandar di depan kelas Bella, menunggu. Aku berdiri cukup dekat hingga bisa
mendengar suara Jessica dari balik tembok, sama jelasnya dengan suara pikirannya.
“Hari ini kau tidak akan duduk bersama kami, kan?”
dia terlihat...berseri- seri. Berani
238
taruhan, pasti ada banyak yang tidak ia ceritakan.
“Ku
rasa
tidak,” jawab Bella. Anehnya, dengan ragu.
Bukannya tadi aku sudah janji akan makan siang bersamanya? Apa yang dia
pikir
?
Mereka keluar kelas berdua, sama-sama tercengang ketika melihatku. Tapi aku cuma
bisa mendengar pikiran Jessica.
Baik sekali dia. Wow. Oh, pasti itu, pasti ada lebih banyak lagi yang tidak Bella
ceritakan. Barangkali aku akan meneleponnya nanti malam...atau mungkin aku tidak usah
menyemangatinya. Huh. Kuharap Edward cepat bosan dengan Bella. Mike sih cukup manis
tapi...wow.
“Sampai nanti, Bella.”
Bella menghampiriku, berhenti beberapa langkah dariku, masih belum yakin. Pipinya
merona merah muda.
Aku sekarang cukup mengenalnya untuk yakin bahwa bukan takut yang membuatnya
ragu. Rupanya ini ada kaitannya dengan jurang perasaan yang dia bayangkan.
Lebih dari dia
menyukaiku
. Sangat absurd!
“Halo,” sapaku dengan suara parau.
Wajahnya makin cerah. “Hai.”
Kelihatannya dia tidak tahu harus berkata apa lagi, jadi kami diam saja selama berjalan
ke kafetaria.
Jaketku bekerja dengan baik—aromanya jadi tidak setajam biasanya. Ini cuma rasa
terbakar yang sudah sering kurasakan. Dengan mudah bisa kuabaikan.
Bella nampak resah ketika berjalan di antrian. Tanpa sadar dia memain-mainkan
resleting jaketnya, dan mengganti-ganti tumpuan kakinya dengan gugup. Dia sering
melirikku, namun tiap kali bertemu pandang, dia langsung menunduk, seakan malu. Apa ini
karena ada begitu banyak orang yang menatap kami? Mungkin dia bisa mendengar bisikan-
bisikan mereka—gosip yang terucap tidak beda dengan isi kepala mereka.
Atau barangkali dia sadar, dari melihat ekspresiku, bahwa dia dalam kesulitan.
Dia tidak bicara apa-apa sampai aku mengambil makanan untuk dia. Aku tidak tahu
kesukaannya apa—belum tahu—jadi aku mengambil satu dari tiap makanan yang ada.
“Apa yang kau lakukan?” desisnya pelan. “Kau tidak mengambil itu semua untukku,
239
kan?”
Aku menggeleng, dan membawa nampannya ke kasir. “Tentu saja separuhnya
untukku.”
Alisnya terangkat skeptis, tapi tidak berkomentar. Setelah membayar makanannya, aku
mengajaknya duduk di tempat kami bicara minggu lalu. Sepertinya itu sudah berlalu lama
sekali. Semuanya tampak berbeda sekarang.
Dia duduk di sebrangku lagi. Kudorong nampannya ke dia.
“Ambil apa saja yang kau mau.”
Dia mengambil sebuah apel dan memutar-mutarnya di tangan. Sorot matanya
menyelidik.
“Aku penasaran.”
Benar-benar kejutan.
“Apa yang kau lakukan bila ada yang menantangmu makan?” Dia mengucapkannya
dengan sangat pelan hingga tidak mungkin ada orang yang bisa mendengar. Telinga
keluargaku lain lagi, jika mereka sedang memperhatikan. Mestinya aku terlebih dulu
mengatakan sesuatu ke mereka...
“Kau selalu saja penasaran,” keluhku. Oh, baiklah. Ini bukannya aku belum pernah
makan sebelumnya. Ini bagian dari bersikap ksatria. Bagian yang tidak menyenangkan.
Aku mengambil yang terdekat, dan menatap matanya sembari menggigit apapun ini.
Tanpa melihat aku tidak tahu apa yang kumakan. Bentuknya tipis dan padat, sama
menjijikannya dengan semua makanan manusia lainnya. Aku mengunyah cepat-cepat dan
menelannya, menyembunyikan ekspresi jijik di wajahku. Gumpalan makanan itu bergerak
pelan dan tidak nyaman di tenggorokanku. Aku mengeluh saat memikirkan harus
memuntahkannya lagi nanti. Menjijikan!
Ekspresi Bella syok. Kagum.
“Kalau seseorang menantangmu makan kotoran, kau bisa melakukannya, ya kan?”
Hidungnya mengerut dan ia tersenyum. “Aku pernah melakukannya... ketika ditantang.
Tidak terlalu buruk.”
Aku tertawa. “Kurasa aku tidak terkejut.”
Mereka terlihat nyaman, ya kan? Dilihat dari bahasa tubuhnya begitu. Nanti biar
240
kuberitahu ke Bella. Edward mencondongkan tubuhnya ke Bella seperti seharusnya jika dia
tertarik pada Bella. Dia terlihat tertarik. Dia terlihat...sempurna.
Jessica menghela napas.
Yumy.
Aku bertemu pandang dengan tatapan penasaran Jessica, dan dia langsung berpaling
gugup, cekikikan ke teman sebelahnya.
Hmm. Barangkali sebaiknya aku tetap dengan Mike saja. Realita, bukan fantasi...
“Jessica sedang memerhatikan semua tindak-tandukku.” Aku memberitahu Bella.
“Nanti dia akan memaparkannya padamu.”
Kusorongkan sisa makanannya ke Bella—pizza, setelah kulihat—bertanya-tanya
bagaimana memulainya. Rasa frustasiku kembali muncul, kata-kata itu terulang kembali di
kepalaku:
lebih dari dia menyukaiku. Tapi aku tidak tahu bagaimana cara mengatasinya.
Dia menggigit sisa pizza tadi. Itu membuatku takjub, melihat begitu percayanya dia
padaku. Tentu saja dia tidak tahu aku punya liur berbisa yang beracun—meski tidak akan
menular dengan cara seperti itu. Tetap saja, kukira dia akan memperlakukanku dengan cara
yang berbeda, seperti sesuatu yang lain. Tapi dia tidak pernah memperlakukanku berbeda—
paling tidak, tidak dengan cara yang negatif...
Aku mesti memulainya pelan-pelan.
“Jadi pelayannya cantik, ya?”
Dia mengangkat alisnya. “Kau benar-benar tidak memerhatikan?”
Dia pikir ada perempuan lain yang bisa mengalihkan perhatianku darinya. Lagi-lagi
absurd.
“Tidak. Aku memikirkan banyak hal.” Diantaranya perhatianku tertuju pada blus tipis
yang membalut tubuhnya...
Untungnya sekarang dia memakai sweter jelek ini.
“Perempuan malang,” ujar Bella sambil tersenyum.
Dia senang aku tidak tertarik pada pelayan itu. Cukup bisa dipahami. Sudah berapa
kali, coba, aku membayangkan meremukkan Mike Newton sewaktu di kelas Biologi?
Tapi tidak mungkin dia percaya bahwa perasaan manusianya, pengalaman tujuh belas
tahunnya yang pendek, bisa lebih kuat dari hasrat abadi yang telah terbangun selama satu
abad dalam diriku.
241
11.
Langganan:
Postingan (Atom)

