tenggorokanku. Sebetulnya, aku merasa sedikit lebih mudah untuk bernapas; godaan itu lebih
bisa ditahan setelah terbiasa.
“Rasanya aku bisa mengerti.” aku memaksa. Mungkin sikap sopan dapat membuat dia
menjawab pertanyaanku selama aku nekat menanyakannnya.
Pandangannya menunduk lagi. Ini membatku tidak sabar. Aku ingin menyentuh
dagunya dan mengangkat wajahnya agar bisa membaca matanya. Tapi itu terlalu bodoh—
berbahaya—untuk menyentuh kulitnya lagi.
Mendadak ia mendongak. Rasanya lega bisa melihat emosi di matanya lagi. dia bicara
cepat, buru-buru.
“Ibuku menikah lagi.”
Ah, ini sangat manusia, mudah dipahami. Kesedihan tampak di matanya dan
memunculkan kerut diantara alisnya.
“Itu tidak terdengar terlalu rumit.” kataku. Suaraku halus tanpa perlu dibuat-buat.
Kesedihan dia anehnya membuatku merasa tidak berdaya, berharap bisa melakukan sesuatu
untuk membuatnya merasa lebih baik. Dorongan yang aneh. “Kapan itu terjadi?”
“September lalu.” dia mengeluh panjang—lebih dari mendesah. Kutahan napasku
ketika kehatangatan napasnya menyapu wajahku.
“Dan kau tidak menyukainya.” aku menerka, memancing lebih banyak.
“Tidak, Phil baik.” jawabnya, membetulkan asumsiku. Muncul seberkas senyum di
ujung bibirnya yang penuh. “Terlalu muda barangkali, tapi cukup baik.”
Ini tidak cocok dengan skenario yang kubangun.
“Kenapa kau tidak tinggal bersama mereka?” aku bertanya lagi, suaraku kelewat
penasaran. Terdengar terlalu mencampuri. Yang harus kuakui, memang begitu.
“Phil sering bepergian. Dia pemain bola.” berkas senyumnya makin tampak; pilihan
karirnya membuat dia kagum.
Aku ikut tersenyum. Aku bukan sedang ingin membuat dia nyaman. Aku hanya ingin
membalas senyumanya—untuk memancing lebih banyak.
“Apakah dia terkenal?” aku melihat ke bundelan daftar nama pemain profesional di
kepalaku, mengira-ngira Phil yang mana...
“Barangkali tidak. Dia bukan pemain
andal
.” lagi-lagi tersenyum, “Benar-benar liga
41
kecil. Dia sering berpindah-pindah.”
Daftar pemain di kepalaku langsung ganti, dan tabulasi perkiraan yang baru segera
muncul tidak sampai sedetik kemudian. Pada saat bersamaan, aku membayangkan skenario
baru.
“Dan ibumu mengirimmu ke sini supaya ia bisa bepergian dengannya.” kataku.
Membuat asumsi kelihatannya lebih mudah untuk memancingnya cerita daripada bertanya.
Dan berhasil lagi. Dagunya terangkat, ekspresinya mendadak datar.
“Tidak, dia tidak mengirimku ke sini.” katanya, suaranya berubah tajam. Tebakanku
sepertinya menyinggung dia, meskipun aku tidak tahu kenapa. “Aku sendiri yang mau.”
Aku tidak tahu maksudnya, atau alasan dibalik nada bicaranya. Aku benar-benar tidak
paham.
Jadi aku menyer ah. Dia benar-benar tidak masuk akal. Dia tidak seperti kebanyakan
manusia. Mungkin bukan hanya keheningan pikiran dan semerbak darahnya yang tidak
umum dari dia.
“Aku tak mengerti.” aku mengakui, sebal telah kalah.
“Mula-mula dia tinggal denganku, tapi dia merindukan Phil.” dia menjelaskan pelan-
pelan, nadanya makin sayu di tiap katanya, “Ini membuatnya tidak bahagia... jadi kuputuskan
sudah waktunya menghabiskan waktu yang lebih berkualitas bersama Charlie.”
Kerut tipis diantara matanya makin dalam.
“Tapi sekarang kau tidak bahagia,” gumamku. Aku tidak bisa berhenti menebak keras-
keras, berharap mendapat reaksi darinya. Kali ini, ternyata tidak terlalu keliru.
“Terus?” ujarnya, seakan tidak ada lagi yang bisa dipertimbangkan.
Aku menatap matanya, merasa akhirnya berhasil melihat kedalam hatinya. Dalam satu
kata itu dia menempatkan dirinya di tempat paling bawah dalam prioritas hidupnya. Tidak
seperti manusia lainnya, kebutuhannya sendiri ditempatkan paling dasar.
Dia lebih mementingkan orang lain.
Saat melihat hal ini, misteri dibalik pikirannya yang sunyi mulai sedikit terungkap.
“Itu tidak adil.” tanggapku ringan. Aku mengangkat bahu, coba terlihat santai, sambil
menyembunyikan keingin tauanku yang makin besar.
Dia tertawa dingin. “Tidakkah ada yang pernah memberitahumu? Hidup tidak adil.”
42
Aku ingin ikut tertawa, meskipun sama tidak merasa gembira. Aku tahu sedikit tentang
hidup yang tidak adil. “Aku yakin
pernah
mendengarnya disuatu tempat sebelum ini.”
Dia menatapku balik, terlihat bingung lagi. Matanya mengerjap sesaat, dan kembali
menatapku lagi.
“Ya sudah, itu saja.” dia memberitahu.
Tapi aku belum mau menyudahi pembicaraan ini. Dua kerut V diantar a matanya, sisa
kesenduannya, menggangguku. Aku ingin menghapusnya dengan ujung jariku. Tapi, tentu
saja, aku tidak dapat menyentuhnya. Itu sangat tidak aman.
“Kau pandai berpura-pura.” aku berkata pelan, masih mempertimbangkan hipotesa
selanjutnya. “Tapi aku berani bertaruh kau lebih menderita daripada yang kau perlihatkan
pada orang lain.”
Dia mengerutkan muka, matanya menyipit dan mulutnya mencebik kesamping, lalu ia
membuang muka kedepan. Dia tidak suka saat tebakanku benar. Dia bukan martir biasa—ia
tidak ingin orang lain tahu penderitaannya.
“Apa aku salah?”
Badannya bergerak gelisah, tapi pura-pura tidak mendengar.
Itu membuatku tersenyum. “Kurasa tidak,”
“Kenapa ini
penting
buatmu?” tuntutnya, masih membuang muka.
“Pertanyaan yang bagus.” aku akui, lebih pada diriku sendiri daripada menjawabnya.
Ketajamannya lebih baik daripadaku—dia langsung melihat ke inti masalah sementara
aku berpusing di pinggiran, menebak asal-asalan. Detail kehidupan manusia seharusnya
tidak
penting buatku. Suatu kesalahan untuk peduli dengan isi pikirannya. Selain melindungi
keluargaku dari kecurigaan, problem manusia tidak penting.
Aku tidak biasa kalah dalam hal intuisi. Aku terlalu mengandalkan pendengaran
ekstraku—kelihatannya aku tidak sepeka seperti yang kupikir.
Dia mengeluh sambil masih memandang kesal ke depan kelas. Ekspresi frustasinya
terlihat lucu. Semua situasi ini, pembicaraan ini, lucu. Belum pernah ada orang yang berada
dalam situasi seberbahaya ini dariku kecuali gadis kecil ini—kapan saja, kalau aku terlena,
aku bisa menghirup lewat hidung dan menyerangnya sebelum bisa kucegah—dan
dia
kesal
karena aku belum menjawab pertanyaannya.
43
“Apa aku mengganggumu.” tanyaku, sambil tersenyum tanpa sebab.
Dia bermaksud mengerling sekilas, tapi tatapannya terperangkap pandanganku.
“Tidak juga.” Dia member itahu. “Aku lebih kesal pada diriku sendiri. Ekspresiku
sangat mudah ditebak—ibuku selalu menyebutku buku yang terbuka.”
Keningnya mengerut, menggerutu.
Aku menatapnya terheran-heran. Alasan dia kesal karena menurutnya aku melihat
dirinya
terlalu mudah.
Sungguh aneh. Aku belum pernah berusaha sekeras ini untuk bisa
memahami seseorang selama hidupku—atau lebih tepatnya eksistensiku,
hidup
bukan istilah
yang tepat. Aku tidak bisa disebut
hidup.
“Kebalikannya,” bantahku, merasa aneh... khawatir, seakan ada bahaya tersembunyi
yang tidak bisa kulihat. Tiba-tiba aku berada di tubir jurang, gelisah. “Aku malah sulit
menebakmu.”
“Kalau begitu kau pasti sangat pintar membaca sifat orang.” dia menebak, membuat
asumsinya sendiri, yang lagi-lagi, tepat sasaran.
“Biasanya.” aku mengiyakan.
Aku tersenyum lebar, membiarkan mulutku tertarik kebelakang untuk memperlihatkan
kilatan barisan gigi tajam dibaliknya.
Itu kelakukan bodoh. Tapi entah kenapa aku sangat ingin memberi peringatan pada
gadis itu. Badannya duduk lebih dekat dari sebelumnya, tanpa sadar bergeser selama
pembicaraan tadi. Semua isyarat kecil yang biasanya menakuti manusia kelihatannya tidak
berlaku pada gadis ini. Kenapa dia tidak juga lari ketakutan dariku dengan dihantui teror
mengerikan? Tentunya dia cukup melihat sisi gelapku untuk menyadari bahayanya, sejeli
sebagaimana dia kelihatanya.
Aku tidak bisa melihat apa peringatanku menimbulkan efek. Mr Banner baru saja
menyuruh semua untuk tenang, dan gadis itu langsung berpaling dariku. Dia terlihat lega
karena teralihkan, jadi mungkin secara tidak sadar dia mengerti.
Aku harap dia begitu.
Aku menyadari muncul kekaguman dalam diriku, meskipun sudah coba kuusir. Aku
tidak boleh mendapati Bella Swan menarik. Aku tidak akan sanggup menahan diriku. Tapi
belum apa-apa aku sudah tidak sabar ingin bicara dengannya. Aku ingin tahu lebih banyak
44
tentang ibunya, kehidupannya sebelum kesini, hubungan dia dengan ayahnya. Semua hal
sepele yang akan mengungkap kepribadiannya. Tapi setiap detik yang kuhabiskan
bersamanya adalah suatu kesalahan, resiko yang tidak semestinya dia tanggung.
Tidak sadar, tiba-tiba ia mengibas rambutnya tepat pada saat aku mengambil napas.
Gelombang pekat aromanya langsung memukul belakang tenggorokanku.
Ini sama dengan waktu pertama kali—seperti bola penghancur. Kesakitan akibat api
yang membakar dahagaku membuatku pusing. Aku harus mencengkram meja lagi agar tetap
duduk. Kali ini aku lebih bisa mengontrolnya. Minimal aku tidak merusak apa-apa. Monster
dalam diriku menggeram, tapi tidak menikmati kesakitanku. Dia terikat kencang. Paling tidak
untuk saat ini.
Aku berhenti bernapas, dan menjauh sebisanya dari gadis itu.
Tidak, aku tidak boleh mendapati dia menarik. Semakin menarik dia bagiku, semakin
besar kemungkinan aku akan membunuhnya. Aku sudah membuat dua kesalahan kecil hari
ini. Apa aku akan membuat yang ketiga, yang
tidak
kecil?
Begitu bel berbunyi, aku langsung cepat-cepat keluar—mungkin menghancurkan
segala kesan baik yang tadi aku bangun. Lagi, di luar aku menghirup dalam-dalam udara
segar yang lembab seakan itu ramuan penyembuh. Aku pergi sejauh mungkin dari gadis itu.
Emmet menunggu di depan kelas Spanyol. Dia melihat ekspresi liarku sekilas.
Bagaimana tadi?
Dia membatin khawatir.
“Tidak ada yang mati.” aku bergumam.
Kurasa itu berita baik. Saat aku melihat Alice kabur dari kelas, kukira...
Dalam perjalanan masuk kelas, aku melihat ingatannya barusan, melihat keluar lewat
pintu yang terbuka dari kelas sebelumnya: Alice berjalan panik dengan wajah kosong
melintasi lapangan menuju gedung kelas biologi. Tadi ia ingin ikut mengejar, tapi kemudian
memutuskan untuk tinggal. Jika Alice butuh bantuan, ia akan bilang...
Aku menutup mataku ngeri sekaligus jijik saat tiba di kursi. “Aku tidak sadar tadi itu
segitu dekat. Tadi aku tidak berniat akan... aku tidak tahu seburuk itu,” bisikku.
Memang tidak.
Dia meyakinkan aku.
Tidak ada yang mati, iya kan?
“Iya.” desisku lewat sela gigi. “Kali ini.”
Mungkin lain kali akan lebih mudah.
45
“Tentu.”
Atau, mungkin kau akan membunuhnya.
Dia mengangkat bahu.
Kau bukan orang
pertama yang mengacau. Tidak akan ada yang menuduhmu teledor. Kadang memang ada
orang yang baunya terlalu nikmat. Aku kagum kau bisa menahannya selama ini.
“Itu tidak menolong, Emmet.”
Aku menentang penerimaannya pada ide bahwa aku dapat membunuh gadis itu, seakan
itu hal yang tidak terelakan. Apa dia yang salah jika baunya menggiurkan?
Aku tahu ketika itu terjadi padaku maka...,
Emmet terkenang, membawaku kembali ke
lima puluh tahun yang lalu, ke sebuah jalan pedesaan. Waktu itu petang, hampir malam.
Seorang wanita paruh baya sedang mengangkat cuciannya dari seutas tali yang membentang
diantara dua pohon apel. Aroma apel menggantung kuat di udara—masa panan telah selesai
dan sisa-sisa buah yang rusak berserakan di tanah, dari luka di kulitnya menguar bau kental
yang pekat. Aroma segar rumput yang baru dipotong menjadi latar. Harmonis. Emmet sedang
menyusuri jalan itu, baru kembali setelah dimintai tolong Rosalie. Langit keunguan
diatasnya, jingga di sebalah barat pepohonan. Dia sudah akan membelok di ujung jalan dan
tidak ada alasan untuk mengingat sore itu, kecuali kemudian angin malam menerbangkan
sprei putih yang baru akan diambil dan mengehembuskan aroma perempuan itu ke wajah
Emmet.
“Ah,” aku menggeram pelan. Seakan ingatanku masih belum cukup.
Aku tahu. Tidak sampai setengah detik. Aku bahkan tidak berpikir untuk menahannya.
Ingatannya jadi terlalu gamblang untuk ditahan.
Aku langsung terlonjak, gigiku terkatup sangat rapat hinga bisa memotong besi.
“Esta bien, Edward?” tanya Senora Goff, terkejut dengan gerakan mendadakku. Aku
bisa melihat wajahku di pikirannya, dan aku tahu aku terlihat jauh dari baik-baik saja.
“Me perdona,” bisikku, sambil segera menuju pintu.
“Emmet—por favor, puedas tu ayuda a tu hermano?” pinta Senora Goff pada Emmet,
tanpa menahanku keluar kelas.
“Tentu saja.” Aku dengar Emmet menjawab. Dan dia sudah mengikutiku.
Dia mengikutiku menjauh dari kelas, hingga berhasil mengejar dan memegang
pundakku.
46
Aku menampiknya dengan kekuatan yang tidak perlu. Itu akan meremukan tulang
lengan manusia, dan telapak tangannya sekaligus.
“Sori, Edward.”
“Aku tahu.” aku menghirup panjang, membersihkan kepala dan paru-paruku.
“Apa seburuk seperti itu?” dia bertanya, berusaha tidak memikirkan aroma dan rasanya
saat menanyakan itu, dan tidak terlalu berhasil.
“Lebih parah, Emmet, lebih parah.”
Dia terhenyak.
Mungkin...
“Tidak, tidak akan lebih baik jika aku melupakannya. Kembali ke kelas, Emmet. Aku
ingin sendirian.”
Dia meninggalkanku tanpa berkomentar atau berpikir, cepat-cepat menjauh. Ia akan
mengatakan ke guru Spanyol kami bahwa aku sakit, atau bolos, atau aku ini seorang vampir
berbahaya yang lepas kendali. Apa alasan dia penting? Mungkin aku tidak akan kembali.
Mungkin aku harus pergi.
Aku ke mobil lagi, menunggu hingga sekolah usai. Bersembunyi. Lagi.
Aku seharusnya menggunakan waktuku untuk mengambil keputusan atau coba
memantapkan diri. Tapi, seperti seorang pecandu, aku justru menyapu gumaman-gumaman
pikiran yang ada didalam kelas. Suara- suara yang sangat kukenal muncul, tapi aku tidak
sedang tertarik mendengarkan penglihatan Alice atau keluhan Rosalie. Cukup mudah
menemukan Jessica, tapi gadis itu sedang tidak besamanya. Jadi aku terus mencari. Pikiran
Mike Newton menarik perhatianku, dan akhirnya aku menemukan lokasi gadis itu. Di kelas
olahraga bersama Mike Newton. Dia kesal, karena tadi aku bicara dengan gadis itu di kelas
biologi. Dia sedang mengejar tanggapannya saat menyinggung topik itu...
Aku belum pernah melihat dia benar-benar bicara dengan siapapun sebelumnya. Tentu
saja ia akan melihat Bella menarik. Aku tidak suka caranya menatap Bella. Tapi Bella tidak
kelihatan terlalu bersemangat. Apa katanya tadi? 'aku bertanya-tanya apa yang terjadi
padanya senin lalu.' Kira-kira seperti itu. Kedengarannya dia tidak takut. Pembicaraannya
paling-paling tidak penting...
Dia terus berpikir negatif seperti itu, senang dengan ide bahwa Bella kelihatannya tidak
47
terlalu tertarik dengan pembicaraan denganku tadi. Ini menggangguku lebih dari semestinya,
jadi aku berhenti mendengarkan.
Aku menyalakan CD musik rock, menyalakan keras-keras hingga suara-suara lainnya
tenggelam. Aku harus berkonsentrasi penuh pada musiknya untuk mencegahku kembali
melayari pikiran Mike Newton, untuk mengintai gadis polos itu...
Aku mencuri-curi beberapa kali, setelah hampir satu jam. Bukan mengintai, aku coba
meyakinkan diriku. Hanya bersiap-siap. Aku ingin tahu kapan tepatnya ia akan keluar dari
ruang olahraga
,
ketika akan tiba di parkiran. Aku tidak mau kaget.
Saat murid- murid mulai keluar dari ruang olahraga, aku keluar dari mobil, tidak yakin
kenapa. Diluar hujan rintik-rintik—kuacuhkan saat mulai membasahi rambutku.
Apa aku ingin dia melihatku ada di sini? Apa aku berharap ia akan datang bicara
padaku? Apa yang kulakukan?
Meskipun terus meyakinkan diri untuk kembali ke mobil, karena sikap tidak
bertanggung jawab ini, aku tetap tidak bergerak. Aku melipat tangan di dada dan bernapas
sangat pelan ketika melihat dia berjalan ke arahku. Sudut bibirnya turun. Dia tidak melihatku.
Beberapa kali dia melihat ke awan sambil meringis, seakan mereka menyinggung
perasaannya.
Aku merasa kecewa ia sampai di mobil sebelum melewatiku. Apa memangnya dia akan
bicara denganku? Apa aku akan bicara denganya?
Dia masuk ke dalam truk Chevy merah kusam, si bongsor karatan yang umurnya lebih
tua dari ayahnya. Aku memperhatikan dia menyalakan truknya—mesin tua itu menderum
lebih keras dari kendaran-kendaran lain di parkiran—dan kemudian menjurkan tangannya
kearah penghangat. Udara dingin pasti membuatnya tidak nyaman—dia tidak suka. Dia
menyisir rambutnya dengan jari, mengarahkan ke penghangat seakan sedang mengeringkan
rambut. Aku membayangkan bagaimana baunya di dalam sana, dan segera membuang jauh-
jauh pikiran itu.
Dia melihat sekitar sebelum mundur, dan akhirnya melihat ke arahku. Dia menatapku
balik hanya setengah detik, dan bisa kulihat di matanya ia terkejut sebelum kemudian
berpaling dan memundurkan truknya. Tapi kemudian mendecit berhenti lagi, belakang
truknya hampir menyenggol Toyota Corolla milik Erin Teague.
48
Dia menatap kaca spionnya, mulutnya menganga ngeri. Ketika mobil lain lewat, ia
mengecek spionnya dua kali sebelum pelan-pelan keluar dari tempat parkir, sangat hati-hati
hingga membuatku geli. Mungkin di pikirannya dia itu
berbahaya
saat mengendarai truk
jompo itu.
Bayangan seorang Bella Swan berbahaya bagi orang lain, tak perduli apapun yang
dikendarainya, membuatku tertawa saat dia melintas, memandang lurus kedepan.
49
3. Fenomena
Aku tidak haus, tapi kuputuskan untuk tetap berburu. Sedikit pencegahan, meski aku
tahu tetap tidak akan cukup.
Carlisle ikut menemani; kami belum sempat bicara berdua sejak aku kembali. Saat
berlari menembus kegelapan hutan, ia mengingat kembali ucapan perpisahan satu minggu
lalu.
“Edward?”
“Aku harus pergi, Carlisle. Aku harus pergi sekarang juga.”
“Apa yang terjadi.”
“Tidak ada. Belum. Tapi akan terjadi, jika aku tinggal.”
Dia menggapai tanganku, tapi aku menjauh. Dan bisa kurasakan betapa itu menyakiti
perasaannya.
“Aku tidak mengerti.”
“Apa kau pernah...apa ada masa dimana...”
Kulihat diriku menarik napas panjang, melihat kilat liar di mataku melalui tatapannya
yang prihatin.
“Pernahkah ada orang yang baunya lebih mengundang bagimu dari yang lain? Sangat
sangat mengundang?”
“Oh.”
Saat tahu dia mengerti, wajahku tertunduk malu. Dia menjangkau untuk menyentuhku,
tak perduli aku coba menghindar lagi, dan memegang pundakku.
“Lakukan apa yang harus kau lakukan untuk menahannya. Aku akan merindukanmu.
Ini, bawa mobilku. Ini lebih cepat.”
Sekarang dia bertanya-tanya, apa waktu itu ia melakukan hal yang tepat dengan
mengirimku pergi. Khawatir telah menyakiti perasaanku karena kurang percaya padaku.
“Tidak.” bisikku sambil lari. “Memang itu yang kubutuhkan. Jika kau memintaku tetap
tinggal, sangat mungkin aku akan mengkhianati kepercayaan itu.”
“Aku sangat sedih kau menderita, Edward. Tapi kau harus melakukan apa yang kau
50
bisa untuk menjaga putri
Chief
Swan tetap hidup. Bahkan jika harus meninggalkan kami
lagi.”
“Aku tahu, aku tahu.”
“Lantas kenapa kau kembali? Kau tahu betapa bahagianya aku melihat dirimu lagi, tapi
jika ini terlalu sulit...”
“Aku tidak suka jadi pengecut,” aku mengaku.
Kami melambat—hampir berlari normal.
“Tapi itu lebih baik daripada membahayakan dia. Dia akan pergi dalam satu atau dua
tahun lagi.”
“Kau betul, aku tahu itu.” Sebetulnya perkataan Carlisle justru membuatku lebih ingin
tinggal. Gadis itu akan pergi satu atau dua tahun lagi...
Carlisle berhenti dan aku ikut berhenti; dia memperhatikan ekspresiku.
Tapi kau tidak akan pergi, iya kan?
Aku tidak menjawab.
Apa karena harga diri, Edward? Tidak ada yang memalukan dalam—
“Bukan, bukan karena harga diri yang membuatku tinggal. Tidak kali ini.”
Apa karena tidak ada tempat yang bisa kau tuju?
Aku tertawa pendek. “Tidak. Hal itu tidak akan menghentikanku, jika aku bisa
membuat diriku pergi.”
“Tentu kami akan ikut, jika itu yang kau butuhkan. Kau hanya perlu minta. Kau selalu
ikut pindah tanpa mengeluh buat yang lain. Mereka tidak akan kesal.”
Aku mengangkat sebelah alisku.
Dia tertawa. “Iya, Rosalie mungkin, tapi di berhutang padamu. Bagaimanapun juga,
jauh lebih baik kita pergi sekarang, sebelum ada insiden, daripada nanti, setelah ada korban
jiwa.” pada akhirnya candanya lenyap.
Aku mengacuhkan kata-katanya.
“Iya,” aku menyetujui. Suaraku parau.
Tapi kau tidak akan pergi?
Aku mendesah. “Seharusnya aku pergi.”
“Apa yang menahanmu disini, Edward? Aku tidak bisa menangkap maksudmu...”
51
“Aku tidak tahu apa bisa menjelaskannya.” bahkan ke diriku sendiri. Itu tidak masuk
akal.
Dia menilai ekspresiku.
Tidak, aku tidak mengerti. Tapi aku akan menghargai privasimu, jika itu kemauanmu.
“Terima kasih. Kau terlalu baik, mengingat bagaimana aku tidak pernah memberikan
privasi ke siapapun.” dengan satu pengecualian. Dan aku sedang berusaha mengatasi itu, iya
kan?
Kita masing-masing punya kebiasaannya sendiri.
Dia tertawa lagi.
Ayo?
Dia baru saja mencium bau sekawanan rusa. Tapi sangat sulit untuk bersemangat,
bahkan dengan buruan yang paling baik, jika baunya tidak lagi lagi mengundang selera. Saat
ini, dengan ingatan darah gadis itu, bau rusa jadi terasa menjijikan.
Aku mendesah. “Ayo,” Aku mengikuti, meskipun tahu bahwa menelan darah lagi tidak
akan terlalu menolong.
Kami mengambil posisi berburu, badan membungkuk dengan cakar didepan,
membiarkan baunya yang tidak mengundang menuntun kami mendekat tanpa suara.
Cuaca mulai dingin ketika kami pulang. Salju yang mencair telah membeku; lapisan
kaca tipis menyelimuti segalanya—tiap ujung cemara, tiap daun pakis, tiap batang rumput,
semua tertutup es.
Sementara Carlisle berganti baju untuk shift pagi di rumah sakit, aku tinggal di tepi
sungai, menunggu matahari terbit. Perutku kembung karena kebanyakan darah. Tapi tetap
tidak akan ada artinya jika duduk disamping gadis itu lagi.
Dingin dan mematung sama seperti batu yang kududuki, aku mengamati air gelap yang
mengalir diantara pinggir sungai yang licin, menatap dasarnya.
Carlisle benar. Aku seharusnya meninggalkan Forks. Mereka bisa mengatur alibinya.
Sekolah asrama di Eropa. Mengunjungi saudara jauh. Gejolak remaja yang kabur dari rumah.
Apapun itu tidak penting. Tidak akan ada yang bertanya lebih jauh.
Hanya selama satu atau dua tahun, dan gadis itu akan menghilang. Dia akan
melanjutkan hidupnya—dia akan
memiliki
kehidupan untuk dijalani. Dia akan pergi kuliah,
menua, memulai karir, mungkin menikah dengan seseorang. Aku bisa membayangkannya—
52
melihat gadis itu mengenakan gaun putih dan berjalan dengan iringan musik, lengannya
mengait ke lengan ayahnya.
Sungguh ganjil, rasa sakit yang diakibatkan gambaran itu. Aku tidak bisa mengerti.
Apa aku cemburu karena dia memiliki masa depan yang tak bisa kumiliki? Itu tidak masuk
akal. Setiap manusia di sekitarku memiliki masa depan serupa—kehidupan—dan aku jarang
iri pada mereka.
Aku harus meninggalkan dia demi masa depannya. Berhenti membahayakan
kehidupannya. Itu hal yang benar untuk dilakukan. Carlisle selalu memilih jalan yang benar.
Aku harus mendengarkan dia.
Matahari terbit dibalik awan. Sinar redup berkilauan dari tiap-tiap permukaan kaca
yang membeku.
Satu hari lagi, aku memutuskan. Aku akan menemui dia satu hari lagi. Aku bisa
mengatasinya. Mungkin aku akan member itahu kepergianku, agar cerita yang berkembang
meyakinkan.
Ini akan sulit; belum apa-apa keenggananku sudah mencari-cari alasan untuk tinggal—
untuk menundanya dua atau tiga hari lagi, atau empat... tapi aku akan melakukan hal yang
tepat. Aku tahu aku bisa mempercayai nasihat Carlisle. Dan aku juga tahu aku terlalu bias
untuk membuat keputusan yang tepat sendirian.
Sangat terlalu bias. Sebarapa banyak keengganan ini berasal dari obsesi penasaran, dan
berapa banyak yang dari rasa haus yang tidak terpuaskan?
Aku masuk kedalam untuk ganti pakain untuk sekolah.
Alice sedang menungguku, duduk di anak tangga teratas di lantai tiga.
Kau akan pergi lagi.
dia cemberut padaku.
Aku mendesah dan menangguk.
Kali ini aku tidak bisa melihat kemana pergimu.
“Aku belum tahu kemana tujuanku,” bisikku.
Aku ingin kau tinggal.
Aku menggeleng.
Mungkin Jazz dan aku bisa ikut denganmu?
“Mereka lebih membutuhkan kalian berdua saat aku tidak disini. Dan pikirkan
53
bagaimana Esme. Apa kau ingin membawa pergi setengah keluarganya sekaligus?”
Kau akan membuatnya sedih.
“Aku tahu. Maka itu kau harus tinggal.”
Itu tidak sama dengan jika ada kau disini, kau tahu itu.
“Ya. Tapi aku harus melakukan apa yang benar.”
Ada banyak jalan yang benar, dan banyak jalan yang salah, bukankah begitu?
Selama sekejapan mata ia larut dalam salah satu penglihatannya yang aneh; aku
mengamati bersamanya saat gambaran kabur itu berkedip- kedip dan berputar. Aku melihat
diriku bercampur dengan bayangan aneh yang tidak dapat kukenali—bentuknya samar dan
tidak jelas. Kemudian, tiba-tiba kulitku berkilauan dibawah sinar matahari di tengah padang
rumput kecil. Ini tempat yang aku tahu. Ada sesuatu disana bersamaku, tapi, lagi, sangat
kabur. Tidak cukup jelas untuk dikenali. Gambaran itu bergoyang-goyang kemudian
menghilang seraya jutaan pilihan masa depan yang lain berkelebat kilat.
“Aku tidak bisa menangkap sebagaian besar dari itu,” aku memberitahunya saat
penglihatannya memudar.
Aku juga. Masa depanmu berganti-ganti sangat cepat hingga aku tidak bisa
mengikutinya. Menurutku, meskipun...
Dia berhenti, dan menyisipkan di pikirannya simpanan penglihatan lainnya yang cukup
banyak. Semuanya serupa—kabur dan tidak jelas.
“
Menurut
ku sesuatu ada yang berubah,” dia mengucapkannya dengan suara verbal.
“Hidupmu kelihatannya sedang tiba di persimpangan jalan.”
Aku tertawa muram. “Kau pasti sadar bukan, kau jadi kedengaran seperti seorang
gypsy
gadungan di karnaval?”
Dia menjulurkan lidah mungilnya padaku.
“Bagaimana dengan hari ini?” Suaraku mendadak gelisah.
“Aku tidak melihat kau membunuh siap-siapa hari ini,” dia meyakinkan aku.
“Thanks, Alice.”
“Cepat ganti baju. Aku tidak akan mengatakan apa- apa—biar kau sendiri yang
memberitahu mereka saat kau siap.”
Dia berdiri dan meloncat mundur menuruni tangga, pundaknya terkulai.
Aku akan
54
merindukanmu. Sungguh.
Ya, aku juga akan sangat merindukannya.
Itu adalah perjalanan yang sepi. Jasper tahu Alice sedang kecewa terhadap sesuatu, tapi
juga tahu jika dia memang ingin membicarakan hal itu dia pasti sudah menyinggungnya.
Sedang Emmet dan Rosalie sudah lupa dengan sekitarnya, lagi-lagi sedang tenggelam dalam
dunia mereka sendiri, saling memandang dengan tatapan mesra—agak risih melihatnya.
Kami cukup sadar bagaimana sangat saling jatuh cintanya mereka. Mungkin cuma aku yang
kadang sinis karena satu-satunya yang masih sendirian. Ada hari-hari dimana terasa lebih
berat saat hidup bersama dengan tiga pasangan yang sempurna. Ini adalah salah satunya.
Mungkin mereka akan lebih bahagia tanpa aku. Mengingat aku sekarang sudah seperti
kakek-kakek, temperamental dan gampang marah.
Tentu saja, pertama yang kulakukan saat tiba di sekolah adalah mencari gadis itu.
Hanya mempersiapkan diri.
Yup, betul.
Memalukan bagaimana duniaku tiba-tiba terlihat tidak ada isinya kecuali dia—seluruh
eksistensiku jadi berpusat disekeliling gadis itu.
Sebetulnya cukup mudah dipahami; setelah delapan puluh tahun menjalani hal yang
sama setiap hari dan setiap malam, satu perubahan kecil pasti akan jadi titik perhatian.
Dia belum datang. Tapi betulkah itu gelegar mesin truknya dikejauhan. Aku bersandar
ke mobil menunggu. Alice menemani. Yang lain langsung masuk ke kelas. Mereka bosan
dengan kegundahanku—terlalu sulit untuk bisa memahami ada manusia yang dapat
mengganggu pikiranku begitu lama, tidak perduli betapa nikmat aromanya.
Kendaraan gadis itu muncul dengan lambat, matanya berkonsentrasi keras ke jalan dan
tangannya mencengkram erat roda kemudi. Dia kelihatan mencemaskan sesuatu. Aku segera
tahu kemudian, menyadari bahwa setiap manusia menampakan mimik serupa hari ini.
Jalanan licin karena es, dan mereka berusaha mengemudi lebih hati-hati. Aku lihat dia benar-
benar serius menanggapi hal itu.
Tampaknya sejalan dengan karakter yang berhasil kupelajari. Aku menambahkan ini ke
daftar singkatku: dia adalah orang yang serius, orang yang bertanggung jawab.
55
Mobilnya diparkir tidak jauh, tapi dia belum menyadari aku disini, mengamati dia. Aku
membayangkan apa yang akan dia lakukan ketika sadar? Tersipu lalu pergi? Itu tebakan
pertamaku. Tapi mungkin ia akan menatap balik. Mungkin akan datang bicara padaku.
Aku mengambil napas panjang, mengisi paru-paru, sekedar berjaga-jaga.
Dia keluar dari truk dengan hati-hati, mengecek pijakannya yang licin dulu. Dia tidak
mendongak, dan itu membuatku frustasi. Mungkin sebaiknya aku kesana bicara dengan dia...
Tidak, itu salah.
Bukannya ke kelas, dia justru ke belakang truknya, sambil berpegangan pada sisi
truknya dengan cara menggelikan, tidak yakin dengan langkahnya. Itu membuatku
tersenyum, dan bisa kurasakan mata Alice menatapku. Aku mengabaikan apa yang ia
pikirkan—aku sedang menikmati menonton gadis itu saat mengecek rantai saljunya. Dia
benar-benar kelihatan hampir jatuh, kakinya selalu terpleset. Padahal yang lain tidak
mengalami kesulitan—apa dia parkir di tempat yang paling licin?
Dia terdiam, melihat kebawah dengan ekspresi aneh. Tatapannya...lembut? Seakan ada
sesuatu pada bannya yang membuat dia...
emosional?
Lagi, rasa penasaran membakar seperti dahaga. Seakan aku
harus
mengetahui apa yang
dia pikirkan—seakan tidak ada lagi yang berarti.
Aku akan bicara ke dia. Lagipula dia kelihatan butuh bantuan, paling tidak sampai
meninggalkan parkiran yang licin. Tapi, sepertinya itu tidak mungkin. Dia tidak suka salju,
jadi pasti tidak akan suka dengan tangan pucatku yang dingin. Aku seharusnya pakai sarung
tangan—
“TIDAK!” Alice berteriak panik.
Ototku mengejang dan langsung mengamati pikirannya, ketakutan pertamaku adalah
aku telah membuat keputusan yang salah dan ia melihatku melakukan kekejian itu. Tapi
ternyata tidak ada hubungannya denganku.
Tyler Crowley kelihatan terlalu ngebut saat belok ke parkiran. Pilihan itu membuat
mobilnya meluncur sepanjang per mukaan es...
Penglihatan itu datang setengah detik sebelum kejadian. Mobil
van
Tyler telah tiba di
kelokan saat aku masih memperhatikan kejadian yang membuat Alice membelalak ngeri.
Tidak, penglihatan ini tidak ada kaitannya denganku, namun juga
segalanya
berkaitan
56
denganku, karena
Van
Tyler—ban mobilnya kini melintasi permukaan es menuju ke arah
yang paling buruk—akan berputar-putar dan tergelincir sepanjang parkiran menabrak gadis
yang tanpa diundang telah menjadi pusat duniaku.
Bahkan tanpa kemampuan Alice sangat mudah membaca lintasan kendaraan itu, yang
meluncur diluar kendali Tyler.
Gadis itu, berdiri tepat di tempat yang salah, di belakang truknya. Ia mendongak,
bingung karena mendengar suara lengkingan bising. Dia melihat tepat kedalam mataku yang
membelalak ngeri, dan kemudian menoleh untuk melihat kematiannya mendekat.
Jangan dia!
Kata-kata itu berteriak dalam kepalaku seakan berasal dari orang lain.
Masih terkunci dalam pikiran Alice, aku melihat penglihatannya mendadak berubah,
tapi aku tidak punya waktu menunggu hasilnya.
Aku langsung bergerak kilat melintasi parkiran, melemparkan diriku diantara
van
yang
tergelincir dan sang gadis yang membeku. Aku bergerak sangat cepat hingga semuanya
kelihatan kabur kecuali fokus tujuanku. Dia tidak melihatku—tidak ada mata manusia yang
sanggup mengikuti kecepatanku—masih terkejut memandangi benda gelap besar yang akan
segera menggilas badannya ke belakang truk.
Aku menangkap pingganggnya, menubruk terlalu cepat daripada seharusnya. Dalam
sepersekian detik diantara waktu aku merenggut tubuh rampingnya dari jalur kematian, dan
waktu dimana aku menjatuhkan diri ke tanah dengan dia di pelukanku, aku jadi bisa
merasakan dengan jelas kerapuhan tubuhnya.
Ketika mendengar kepalanya membentur permukaan es, tubuhku serasa membeku.
Tapi aku tidak punya satu detik pun untuk memastikan keadaannya. Aku dengar
van
itu
sudah di belakang kami berdua, menderak begitu menyenggol bemper besi truk gadis itu.
Van
itu kemudian berubah arah, menuju arahnya lagi—seakan dia itu magnet.
Umpatan yang belum pernah kuucapkan dihadapan seorang perempuan terselip
diantara gigiku.
Aku telah berbuat terlalu banyak. Saat hampir saja meloncat tinggi untuk menghindari
dia dari bahaya, aku menyadari kesalahan itu. Tapi itu tetap tidak menghentikanku
melakukan yang lain, sekaligus juga tidak menyangkal akibatnya—bukan saja resiko bagiku,
tapi juga bagi seluruh keluargaku.
57
Terekspos.
Dan serangan ke-dua
ini
tidak membantu. Tidak akan kubiarkan
van
ini berhasil
menghancurkan dia.
Aku menaruh dia lalu mengulurkan tangan, menangkap
van
itu sebelum menyentuhnya.
Daya dorongnya membantingku mundur ke mobil sebelah. Bisa kurasakan sisi mobilnya di
belakang bahu.
Van
itu bergetar, kemudian terayun. Dua ban sampingnya terangkat.
Jika kulepas tanganku, salah satu ban itu akan jatuh menimpa kaki gadis itu.
Oh, demi
orang-orang kudus,
kapan malapetakanya selesai? Apa lagi yang akan salah?
Aku tidak mungkin begini terus, mengangkat
van
di udara sampai bantuan datang. Juga tidak
mungkin melemparnya—ada supirnya yang mesti dipertimbangkan, pikirannya panik.
Sambil mengggeram dalam perut, kusorong
van
itu sedikit. Saat mau jatuh, kutangkap
bawahnya dengan tangan kanan, sedang tangan kiri merangkul pinggang gadis itu dan
menariknya keluar dari bawah mobil. Badannya lunglai saat kugeser hingga kakinya aman
dan merapat ke sisiku—apa dia sadarkan diri? Seberapa besar luka yang kutimbulkan gara-
gara penyelamatan ceroboh tadi?
Kulepas
van
itu setelah dia aman. Jendelanya pecah berantakan saat terbanting jatuh.
Aku tahu situasiku terpojok. Seberapa banyak yang dia lihat? Apa ada saksi yang lain?
Pertanyaan-pertanyaan itu
seharusnya
jadi kekhawatiran yang paling besar.
Tapi aku terlalu cemas hingga tidak memikirkan ancaman itu. Aku terlalu panik telah
melukai dia dalam usaha melindunginya. Terlalu takut mendapati dirinya sedekat ini,
mengetahui dapat saja menghirup baunya. Terlalu menyadari kehangatan tubuhnya yang
lembut menyentuh tubuhku—bahkan dengan penghalang jaket masih terasa kehangatannya...
Ketakutan itu adalah yang terbesar. Saat teriakan orang-orang mendekat, aku
memeriksa wajahnya, melihat apa dia sadar—berharap-ngeri dia tidak berdarah.
Matanya terbuka. syok.
“Bella?” Aku bertanya khawatir. “Apa kau baik-baik saja?”
“Iya tidak apa-apa.” dia menjawab spontan dengan suara linglung.
Aku sangat lega mendengar suaranya. Aku menarik napas lewat sela gigi, dan tidak
keberatan dengan rasa terbakar di tenggorokan yang menyer tainya. Justru bisa dibilang aku
menyambutnya.
58
Dia berusaha untuk duduk, tapi aku belum siap melepasnya. Entah bagaimana aku
merasa...lebih aman? Lebih baik, paling tidak, masih memegangi dia di sisiku.
“Hati-hati,” aku memperingatkan. “Kurasa kepalamu terbentur cukup keras.”
Tidak ada bau darah segar—untung saja—tapi ini tidak menyingkirkan kemungkinan
luka dalam. Aku mendadak jadi cemas ingin segera membawanya ke Carlisle, memeriksanya
dengan peralatan lengkap.
“Aduh.” keluhnya, nadanya terkejut saat menyadari aku benar tentang kepalanya.
“Itulah yang kupikirkan.” aku sudah sedikit lega hingga bisa melihat kelucuan
ekspresinya. Aku hampir tertawa geli.
“Bagaimana bisa...” suaranya perlahan menghilang, matanya mengerjap bingung.
“Bagaimana kau bisa sampai disini secepat itu?”
Kelegaan berubah masam, rasa humor lenyap. Dia melihat terlalu banyak.
Kini, saat gadis ini kelihatan baik-baik saja, kecemasan terhadap keluargaku jadi nyata.
“Aku berdiri di sebelahmu, Bella.” aku tahu dari pengalaman, jika sangat yakin saat
berbohong, maka orang lain jadi ragu dengan apa yang benar.
Dia berusaha duduk lagi. Kali ini kuijinkan. Aku butuh mengambil napas agar bisa
memainkan peran dengan benar. Aku butuh menjauh dari kehangatan darah pada tubuhnya
agar tidak terkombinasi dengan aromanya hingga membuatku kewalahan. Aku menjauh
sejauh mungkin di ruang sempit diantara himpitan dua kendaraan ini.
Dia mendongak menatapku. Aku menatap balik. Berpaling duluan adalah kesalahan
yang dibuat oleh seorang pembohong amatir, dan aku bukan amatiran. Ekpresiku lembut,
bersahabat... Sepertinya itu membingungkan dia. Itu bagus.
Kini orang-orang mulai merubung. Kebanyakan para murid. Mereka saling mendesak
maju untuk menonton. Dimana-mana terdengar teriakan dan pekik kaget pikiran. Kuamati
pikiran-pikiran itu sekilas untuk memastikan tidak ada yang curiga, dan kemudian
kuredupkan suaranya untuk berkonsentrasi hanya pada si gadis.
Dia teralihkan oleh kegemparan orang-orang. Dia melihat ke sekeliling, ekspresinya
masih syok. Dia berusaha untuk berdiri.
Aku pegang pundaknya untuk menahannya.
“Coba jangan berdiri dulu.” dia
kelihatannya
baik-baik saja, tapi apa dia boleh
59
menggerakan leher? Lagi, aku berharap ada Carlisle. Tahunan mempelajari teor i kedokteran
tidak sebanding dengan berabad-abad praktek secara langsung.
“Tapi dingin,” dia mengeluh.
Dia hampir terbunuh dua kali berturutan dan nyar is luka parah satu kali, namun dingin
yang ia risaukan. Kekehan pendek sempat terselip dari gigiku sebelum kembali ingat
situasinya tidak lucu.
Bella mengerjap, dan kemudian matanya fokus ke wajahku. “Kau ada disebelah sana.”
Hal itu membuatku masam lagi.
Dia melirik ke tempatku tadi, meski sekarang tidak ada yang bisa dilihat kecuali mobil
Tyler. “Kau ada di sebelah mobilmu.”
“Tidak.”
“Aku melihatmu.” dia ngotot; suaranya seperti anak kecil ketika sedang keras kepala.
Dagunya terangkat maju.
“Bella, aku sedang berdiri disampingmu, dan aku menarikmu.”
Aku menatapnya lekat-lekat kedalam mata lebarnya, berusaha meyakinkan dia untuk
menerima versiku—satu-satunya versi rasional yang ada.
Rahangnya mengeras. “Tidak.”
Aku berusaha tetap tenang, tidak panik. Jika aku bisa menenangkannya sebentar,
mencuri waktu untuk menghilangkan bukti... aku bisa meruntuhkan ceritanya dengan
menyalahkan kepalanya yang terluka.
“Kumohon, Bella,” aku berkata dengan suara sungguh-sungguh. Mendadak aku
ingin
dia mempercayai diriku. Sangat ingin, bukan hanya karena insiden ini. Hasrat yang konyol.
Apa gunanya membuat dia memparcayai
aku
?
“Kenapa?” dia bertanya, masih ngotot.
“Percayalah padaku,” aku memohon.
“Mau kah kau berjanji akan menjelaskan semuanya nanti?”
Membuatku marah harus berbohong lagi padanya, ketika aku berharap bahwa entah
bagaimana aku layak mendapatkan kepercayaan dia. Jadi, saat menjawabnya, nadaku ketus.
“Baik.”
“Baik.” dia mengulangi dengan nada ketus sama.
60
3.
Langganan:
Postingan (Atom)

