Cari Blog Ini

movie mania

3.

tenggorokanku. Sebetulnya, aku merasa sedikit lebih mudah untuk bernapas; godaan itu lebih
bisa ditahan setelah terbiasa.
“Rasanya aku bisa mengerti.” aku memaksa. Mungkin sikap sopan dapat membuat dia
menjawab pertanyaanku selama aku nekat menanyakannnya.
Pandangannya   menunduk   lagi.   Ini   membatku   tidak   sabar.   Aku   ingin   menyentuh
dagunya dan mengangkat  wajahnya agar  bisa  membaca matanya. Tapi itu terlalu bodoh—
berbahaya—untuk menyentuh kulitnya lagi.
Mendadak ia mendongak. Rasanya lega bisa melihat emosi di matanya lagi. dia bicara
cepat, buru-buru.
“Ibuku menikah lagi.”
Ah,   ini   sangat   manusia,   mudah   dipahami.   Kesedihan   tampak   di   matanya   dan
memunculkan kerut diantara alisnya.
“Itu  tidak  terdengar   terlalu   rumit.”  kataku.  Suaraku   halus  tanpa  perlu  dibuat-buat.
Kesedihan dia anehnya membuatku merasa tidak berdaya, berharap bisa melakukan sesuatu
untuk membuatnya merasa lebih baik. Dorongan yang aneh. “Kapan itu terjadi?”
“September   lalu.”   dia   mengeluh  panjang—lebih   dari  mendesah.   Kutahan   napasku
ketika kehatangatan napasnya menyapu wajahku.
“Dan kau tidak menyukainya.” aku menerka, memancing lebih banyak.
“Tidak,  Phil  baik.”  jawabnya,  membetulkan  asumsiku.  Muncul  seberkas   senyum  di
ujung bibirnya yang penuh. “Terlalu muda barangkali, tapi cukup baik.”
Ini tidak cocok dengan skenario yang kubangun.
“Kenapa   kau   tidak  tinggal   bersama   mereka?”   aku  bertanya   lagi,   suaraku  kelewat
penasaran. Terdengar terlalu mencampuri. Yang harus kuakui, memang begitu.
“Phil sering bepergian. Dia pemain bola.” berkas  senyumnya makin tampak;  pilihan
karirnya membuat dia kagum.
Aku ikut tersenyum. Aku bukan sedang ingin membuat dia nyaman. Aku hanya ingin
membalas senyumanya—untuk memancing lebih banyak.
“Apakah dia  terkenal?”  aku melihat ke bundelan daftar  nama pemain profesional di
kepalaku, mengira-ngira Phil yang mana...
“Barangkali tidak. Dia  bukan pemain
andal
.” lagi-lagi  tersenyum, “Benar-benar  liga
41
   

kecil. Dia sering berpindah-pindah.”
Daftar  pemain di  kepalaku langsung ganti, dan  tabulasi perkiraan yang  baru segera
muncul tidak sampai sedetik kemudian. Pada saat bersamaan, aku membayangkan skenario
baru.
“Dan   ibumu   mengirimmu   ke   sini   supaya   ia   bisa   bepergian   dengannya.”   kataku.
Membuat asumsi kelihatannya lebih mudah untuk memancingnya cerita daripada bertanya.
Dan berhasil lagi. Dagunya terangkat, ekspresinya mendadak datar.
“Tidak, dia tidak mengirimku ke  sini.” katanya, suaranya  berubah tajam. Tebakanku
sepertinya menyinggung dia, meskipun aku tidak tahu kenapa. “Aku sendiri yang mau.”
Aku tidak tahu maksudnya, atau alasan dibalik nada bicaranya. Aku benar-benar tidak
paham.
Jadi  aku menyer ah. Dia benar-benar  tidak masuk akal. Dia tidak seperti  kebanyakan
manusia.  Mungkin  bukan  hanya  keheningan   pikiran  dan  semerbak  darahnya   yang  tidak
umum dari dia.
“Aku tak mengerti.” aku mengakui, sebal telah kalah.
“Mula-mula dia tinggal denganku, tapi dia merindukan Phil.” dia menjelaskan pelan-
pelan, nadanya makin sayu di tiap katanya, “Ini membuatnya tidak bahagia... jadi kuputuskan
sudah waktunya menghabiskan waktu yang lebih berkualitas bersama Charlie.”
Kerut tipis diantara matanya makin dalam.
“Tapi sekarang kau tidak bahagia,” gumamku. Aku tidak bisa berhenti menebak keras-
keras, berharap mendapat reaksi darinya. Kali ini, ternyata tidak terlalu keliru.
“Terus?” ujarnya, seakan tidak ada lagi yang bisa dipertimbangkan.
Aku menatap matanya, merasa akhirnya berhasil melihat kedalam hatinya. Dalam satu
kata itu dia menempatkan dirinya di tempat paling bawah dalam prioritas  hidupnya. Tidak
seperti manusia lainnya, kebutuhannya sendiri ditempatkan paling dasar.
Dia lebih mementingkan orang lain.
Saat melihat hal ini, misteri dibalik pikirannya yang sunyi mulai sedikit terungkap.
“Itu tidak adil.” tanggapku ringan. Aku mengangkat bahu, coba terlihat santai, sambil
menyembunyikan keingin tauanku yang makin besar.
Dia tertawa dingin. “Tidakkah ada yang pernah memberitahumu? Hidup tidak adil.”
42
   

Aku ingin ikut tertawa, meskipun sama tidak merasa gembira. Aku tahu sedikit tentang
hidup yang tidak adil. “Aku yakin
pernah
mendengarnya disuatu tempat sebelum ini.”
Dia  menatapku  balik, terlihat  bingung lagi. Matanya mengerjap sesaat, dan kembali
menatapku lagi.
“Ya sudah, itu saja.” dia memberitahu.
Tapi aku belum mau menyudahi pembicaraan ini. Dua kerut V diantar a matanya, sisa
kesenduannya, menggangguku. Aku ingin menghapusnya dengan ujung jariku. Tapi, tentu
saja, aku tidak dapat menyentuhnya. Itu sangat tidak aman.
“Kau  pandai   berpura-pura.”  aku  berkata  pelan,  masih  mempertimbangkan  hipotesa
selanjutnya. “Tapi  aku berani  bertaruh kau lebih menderita daripada yang kau perlihatkan
pada orang lain.”
Dia mengerutkan muka, matanya menyipit dan mulutnya mencebik kesamping, lalu ia
membuang muka kedepan. Dia tidak suka saat tebakanku benar. Dia bukan martir biasa—ia
tidak ingin orang lain tahu penderitaannya.
“Apa aku salah?”
Badannya bergerak gelisah, tapi pura-pura tidak mendengar.
Itu membuatku tersenyum. “Kurasa tidak,”
“Kenapa ini
penting
buatmu?” tuntutnya, masih membuang muka.
“Pertanyaan yang bagus.” aku akui, lebih pada diriku sendiri daripada menjawabnya.
Ketajamannya lebih baik daripadaku—dia langsung melihat ke inti masalah sementara
aku berpusing di pinggiran, menebak asal-asalan. Detail kehidupan manusia seharusnya
tidak
penting  buatku.   Suatu  kesalahan   untuk  peduli  dengan  isi  pikirannya.  Selain  melindungi
keluargaku dari kecurigaan, problem manusia tidak penting.
Aku   tidak   biasa   kalah   dalam   hal   intuisi.  Aku   terlalu   mengandalkan   pendengaran
ekstraku—kelihatannya aku tidak sepeka seperti yang kupikir.
Dia  mengeluh sambil  masih  memandang  kesal ke  depan kelas. Ekspresi frustasinya
terlihat lucu. Semua situasi ini, pembicaraan ini, lucu. Belum pernah ada orang yang berada
dalam situasi seberbahaya ini dariku kecuali gadis kecil ini—kapan saja, kalau aku terlena,
aku bisa menghirup lewat hidung dan menyerangnya sebelum bisa kucegah—dan
dia
kesal
karena aku belum menjawab pertanyaannya.
43
   

“Apa aku mengganggumu.” tanyaku, sambil tersenyum tanpa sebab.
Dia bermaksud mengerling sekilas, tapi tatapannya terperangkap pandanganku.
“Tidak   juga.”   Dia  member itahu.   “Aku  lebih  kesal   pada   diriku   sendiri.   Ekspresiku
sangat mudah ditebak—ibuku selalu menyebutku buku yang terbuka.”
Keningnya mengerut, menggerutu.
Aku  menatapnya  terheran-heran.  Alasan   dia   kesal  karena   menurutnya  aku  melihat
dirinya
terlalu mudah.
Sungguh aneh. Aku belum pernah berusaha sekeras  ini untuk bisa
memahami seseorang selama hidupku—atau lebih tepatnya eksistensiku,
hidup
bukan istilah
yang tepat. Aku tidak bisa disebut
hidup.
“Kebalikannya,”  bantahku, merasa  aneh...  khawatir, seakan ada bahaya tersembunyi
yang  tidak  bisa  kulihat.  Tiba-tiba  aku berada  di  tubir   jurang, gelisah.  “Aku  malah  sulit
menebakmu.”
“Kalau begitu kau pasti sangat pintar  membaca sifat orang.” dia menebak, membuat
asumsinya sendiri, yang lagi-lagi, tepat sasaran.
“Biasanya.” aku mengiyakan.
Aku tersenyum lebar, membiarkan mulutku tertarik kebelakang untuk memperlihatkan
kilatan barisan gigi tajam dibaliknya.
Itu kelakukan bodoh.  Tapi  entah kenapa aku  sangat  ingin memberi peringatan pada
gadis   itu.   Badannya   duduk   lebih   dekat   dari   sebelumnya,   tanpa   sadar   bergeser   selama
pembicaraan tadi. Semua isyarat kecil yang biasanya menakuti manusia kelihatannya tidak
berlaku pada gadis  ini. Kenapa dia  tidak juga lari ketakutan dariku dengan dihantui  teror
mengerikan?  Tentunya dia cukup melihat sisi gelapku  untuk menyadari  bahayanya,  sejeli
sebagaimana dia kelihatanya.
Aku  tidak  bisa  melihat  apa  peringatanku  menimbulkan  efek.  Mr   Banner  baru  saja
menyuruh semua untuk tenang, dan gadis  itu langsung berpaling dariku. Dia  terlihat  lega
karena teralihkan, jadi mungkin secara tidak sadar dia mengerti.
Aku harap dia begitu.
Aku menyadari  muncul  kekaguman dalam diriku, meskipun sudah coba kuusir. Aku
tidak boleh mendapati Bella Swan menarik. Aku tidak akan sanggup menahan diriku. Tapi
belum apa-apa aku sudah tidak sabar ingin bicara dengannya. Aku ingin tahu lebih banyak
44
   

tentang ibunya, kehidupannya  sebelum kesini, hubungan dia  dengan ayahnya. Semua hal
sepele   yang   akan   mengungkap   kepribadiannya.   Tapi   setiap   detik   yang   kuhabiskan
bersamanya adalah suatu kesalahan, resiko yang tidak semestinya dia tanggung.
Tidak sadar, tiba-tiba  ia mengibas rambutnya  tepat pada  saat aku mengambil  napas.
Gelombang pekat aromanya langsung memukul belakang tenggorokanku.
Ini  sama dengan waktu pertama  kali—seperti bola penghancur. Kesakitan akibat api
yang membakar  dahagaku membuatku pusing. Aku harus mencengkram meja lagi agar  tetap
duduk. Kali ini aku lebih bisa mengontrolnya. Minimal aku tidak merusak apa-apa. Monster
dalam diriku menggeram, tapi tidak menikmati kesakitanku. Dia terikat kencang. Paling tidak
untuk saat ini.
Aku berhenti bernapas, dan menjauh sebisanya dari gadis itu.
Tidak, aku tidak boleh  mendapati dia menarik. Semakin menarik dia bagiku, semakin
besar  kemungkinan aku akan membunuhnya. Aku sudah membuat dua kesalahan kecil hari
ini. Apa aku akan membuat yang ketiga, yang
tidak
kecil?
Begitu   bel   berbunyi,   aku   langsung   cepat-cepat   keluar—mungkin   menghancurkan
segala  kesan baik yang tadi aku bangun. Lagi, di luar  aku menghirup dalam-dalam udara
segar yang lembab seakan itu ramuan penyembuh. Aku pergi sejauh mungkin dari gadis itu.
Emmet menunggu di depan kelas Spanyol. Dia melihat ekspresi liarku sekilas.
Bagaimana tadi?
Dia membatin khawatir.
“Tidak ada yang mati.” aku bergumam.
Kurasa itu berita baik. Saat aku melihat Alice kabur dari kelas, kukira...
Dalam perjalanan masuk kelas, aku melihat ingatannya barusan, melihat keluar lewat
pintu   yang   terbuka   dari   kelas  sebelumnya:  Alice   berjalan   panik  dengan   wajah   kosong
melintasi lapangan menuju gedung kelas biologi. Tadi ia ingin ikut mengejar, tapi kemudian
memutuskan untuk tinggal. Jika Alice butuh bantuan, ia akan bilang...
Aku menutup mataku ngeri sekaligus jijik saat tiba di kursi. “Aku tidak sadar tadi itu
segitu dekat. Tadi aku tidak berniat akan... aku tidak tahu seburuk itu,” bisikku.
Memang tidak.
Dia meyakinkan aku.
Tidak ada yang mati, iya kan?
“Iya.” desisku lewat sela gigi. “Kali ini.”
Mungkin lain kali akan lebih mudah.
45
   

“Tentu.”
Atau,  mungkin  kau  akan  membunuhnya.
Dia   mengangkat  bahu.
Kau  bukan  orang
pertama yang mengacau. Tidak akan ada yang menuduhmu teledor. Kadang memang ada
orang yang baunya terlalu nikmat. Aku kagum kau bisa menahannya selama ini.
“Itu tidak menolong, Emmet.”
Aku menentang penerimaannya pada ide bahwa aku dapat membunuh gadis itu, seakan
itu hal yang tidak terelakan. Apa dia yang salah jika baunya menggiurkan?
Aku tahu ketika itu terjadi padaku maka...,
Emmet terkenang, membawaku kembali ke
lima puluh tahun yang lalu, ke  sebuah jalan pedesaan. Waktu itu petang, hampir  malam.
Seorang wanita paruh baya sedang mengangkat cuciannya dari seutas tali yang membentang
diantara dua pohon apel. Aroma apel menggantung kuat di udara—masa panan telah selesai
dan sisa-sisa buah yang rusak berserakan di tanah, dari luka di kulitnya menguar  bau kental
yang pekat. Aroma segar rumput yang baru dipotong menjadi latar. Harmonis. Emmet sedang
menyusuri   jalan   itu,   baru   kembali   setelah   dimintai   tolong   Rosalie.   Langit   keunguan
diatasnya, jingga di sebalah barat pepohonan. Dia sudah akan membelok di ujung jalan dan
tidak ada alasan untuk mengingat sore  itu, kecuali kemudian angin malam menerbangkan
sprei putih yang baru akan diambil dan mengehembuskan aroma perempuan itu ke wajah
Emmet.
“Ah,” aku menggeram pelan. Seakan ingatanku masih belum cukup.
Aku tahu. Tidak sampai setengah detik. Aku bahkan tidak berpikir untuk menahannya.
Ingatannya jadi terlalu gamblang untuk ditahan.
Aku langsung terlonjak, gigiku terkatup sangat rapat hinga bisa memotong besi.
“Esta bien, Edward?” tanya Senora Goff, terkejut dengan gerakan mendadakku. Aku
bisa melihat wajahku di pikirannya, dan aku tahu aku terlihat jauh dari baik-baik saja.
“Me perdona,” bisikku, sambil segera menuju pintu.
“Emmet—por  favor, puedas tu ayuda a tu hermano?” pinta Senora Goff pada Emmet,
tanpa menahanku keluar kelas.
“Tentu saja.” Aku dengar Emmet menjawab. Dan dia sudah mengikutiku.
Dia   mengikutiku   menjauh   dari   kelas,   hingga   berhasil   mengejar   dan   memegang
pundakku.
46
   

Aku  menampiknya   dengan  kekuatan yang  tidak perlu.  Itu  akan  meremukan  tulang
lengan manusia, dan telapak tangannya sekaligus.
“Sori, Edward.”
“Aku tahu.” aku menghirup panjang, membersihkan kepala dan paru-paruku.
“Apa seburuk seperti itu?” dia bertanya, berusaha tidak memikirkan aroma dan rasanya
saat menanyakan itu, dan tidak terlalu berhasil.
“Lebih parah, Emmet, lebih parah.”
Dia terhenyak.
Mungkin...
“Tidak, tidak akan lebih baik jika aku melupakannya. Kembali ke kelas, Emmet. Aku
ingin sendirian.”
Dia  meninggalkanku tanpa berkomentar  atau  berpikir, cepat-cepat menjauh.  Ia akan
mengatakan ke guru Spanyol kami bahwa aku sakit, atau bolos, atau aku ini seorang vampir
berbahaya yang lepas  kendali. Apa  alasan dia penting?  Mungkin  aku tidak akan  kembali.
Mungkin aku harus pergi.
Aku ke mobil lagi, menunggu hingga sekolah usai. Bersembunyi. Lagi.
Aku   seharusnya   menggunakan   waktuku   untuk   mengambil   keputusan   atau   coba
memantapkan diri. Tapi, seperti seorang pecandu, aku justru menyapu gumaman-gumaman
pikiran yang ada didalam kelas. Suara- suara  yang  sangat  kukenal  muncul, tapi aku tidak
sedang   tertarik   mendengarkan   penglihatan  Alice   atau   keluhan   Rosalie.   Cukup   mudah
menemukan Jessica, tapi gadis itu sedang tidak besamanya. Jadi aku terus  mencari. Pikiran
Mike Newton menarik perhatianku, dan akhirnya aku menemukan lokasi gadis itu. Di kelas
olahraga bersama Mike Newton. Dia kesal, karena tadi aku bicara dengan gadis itu di kelas
biologi. Dia sedang mengejar tanggapannya saat menyinggung topik itu...
Aku belum pernah melihat dia benar-benar bicara dengan siapapun sebelumnya. Tentu
saja ia akan melihat Bella menarik. Aku tidak suka caranya menatap Bella. Tapi Bella tidak
kelihatan  terlalu  bersemangat.  Apa  katanya  tadi? 'aku  bertanya-tanya apa  yang terjadi
padanya senin lalu.' Kira-kira seperti itu. Kedengarannya dia tidak takut. Pembicaraannya
paling-paling tidak penting...
Dia terus berpikir  negatif seperti itu, senang dengan ide bahwa Bella kelihatannya tidak
47
   

terlalu tertarik dengan pembicaraan denganku tadi. Ini menggangguku lebih dari semestinya,
jadi aku berhenti mendengarkan.
Aku menyalakan CD  musik rock, menyalakan keras-keras hingga suara-suara lainnya
tenggelam. Aku  harus  berkonsentrasi   penuh  pada  musiknya   untuk  mencegahku  kembali
melayari pikiran Mike Newton, untuk mengintai gadis polos itu...
Aku mencuri-curi beberapa kali, setelah hampir  satu jam. Bukan mengintai, aku coba
meyakinkan diriku. Hanya bersiap-siap. Aku ingin tahu kapan tepatnya ia akan keluar dari
ruang olahraga
,
ketika akan tiba di parkiran. Aku tidak mau kaget.
Saat murid- murid mulai keluar dari ruang olahraga, aku keluar  dari mobil, tidak yakin
kenapa. Diluar hujan rintik-rintik—kuacuhkan saat mulai membasahi rambutku.
Apa  aku  ingin  dia  melihatku  ada  di  sini?  Apa  aku  berharap ia  akan  datang bicara
padaku? Apa yang kulakukan?
Meskipun   terus   meyakinkan   diri   untuk   kembali   ke   mobil,   karena   sikap   tidak
bertanggung jawab ini, aku tetap tidak bergerak. Aku melipat tangan di dada dan bernapas
sangat pelan ketika melihat dia berjalan ke arahku. Sudut bibirnya turun. Dia tidak melihatku.
Beberapa   kali   dia   melihat   ke   awan   sambil   meringis,   seakan   mereka   menyinggung
perasaannya.
Aku merasa kecewa ia sampai di mobil sebelum melewatiku. Apa memangnya dia akan
bicara denganku? Apa aku akan bicara denganya?
Dia masuk ke dalam truk Chevy merah kusam, si bongsor  karatan yang umurnya lebih
tua dari ayahnya. Aku memperhatikan dia  menyalakan truknya—mesin tua itu menderum
lebih keras  dari  kendaran-kendaran lain di parkiran—dan kemudian menjurkan tangannya
kearah  penghangat.  Udara  dingin  pasti   membuatnya   tidak  nyaman—dia   tidak  suka.  Dia
menyisir rambutnya dengan jari, mengarahkan ke penghangat seakan sedang mengeringkan
rambut. Aku membayangkan bagaimana baunya di dalam sana, dan segera membuang jauh-
jauh pikiran itu.
Dia melihat sekitar sebelum mundur, dan akhirnya melihat ke arahku. Dia menatapku
balik  hanya   setengah  detik,   dan  bisa   kulihat   di  matanya  ia  terkejut  sebelum   kemudian
berpaling   dan   memundurkan   truknya.   Tapi   kemudian   mendecit   berhenti   lagi,   belakang
truknya hampir menyenggol Toyota Corolla milik Erin Teague.
48
   

Dia  menatap kaca spionnya, mulutnya  menganga  ngeri. Ketika mobil  lain lewat, ia
mengecek spionnya dua kali sebelum pelan-pelan keluar dari tempat parkir, sangat hati-hati
hingga membuatku geli. Mungkin  di pikirannya  dia itu
berbahaya
saat  mengendarai  truk
jompo itu.
Bayangan  seorang  Bella  Swan  berbahaya  bagi  orang lain,  tak perduli  apapun  yang
dikendarainya, membuatku tertawa saat dia melintas, memandang lurus kedepan.
49
   

3. Fenomena
Aku tidak haus, tapi kuputuskan untuk tetap berburu. Sedikit pencegahan, meski aku
tahu tetap tidak akan cukup.
Carlisle  ikut  menemani;  kami  belum sempat  bicara berdua sejak aku kembali. Saat
berlari menembus  kegelapan hutan, ia mengingat kembali  ucapan perpisahan satu minggu
lalu.
“Edward?”
“Aku harus pergi, Carlisle. Aku harus pergi sekarang juga.”
“Apa yang terjadi.”
“Tidak ada. Belum. Tapi akan terjadi, jika aku tinggal.”
Dia menggapai tanganku, tapi aku menjauh. Dan bisa kurasakan betapa itu menyakiti
perasaannya.
“Aku tidak mengerti.”
“Apa kau pernah...apa ada masa dimana...”
Kulihat diriku menarik napas panjang, melihat kilat liar  di mataku melalui tatapannya
yang prihatin.
“Pernahkah ada orang yang baunya lebih mengundang bagimu dari yang lain? Sangat
sangat mengundang?”
“Oh.”
Saat tahu dia mengerti, wajahku tertunduk malu. Dia menjangkau untuk menyentuhku,
tak perduli aku coba menghindar lagi, dan memegang pundakku.
“Lakukan apa yang harus kau lakukan untuk menahannya. Aku akan merindukanmu.
Ini, bawa mobilku. Ini lebih cepat.”
Sekarang   dia   bertanya-tanya,   apa   waktu  itu   ia   melakukan   hal  yang  tepat  dengan
mengirimku pergi. Khawatir telah menyakiti perasaanku karena kurang percaya padaku.
“Tidak.” bisikku sambil lari. “Memang itu yang kubutuhkan. Jika kau memintaku tetap
tinggal, sangat mungkin aku akan mengkhianati kepercayaan itu.”
“Aku sangat sedih kau menderita, Edward. Tapi  kau harus melakukan apa yang kau
50
   

bisa untuk  menjaga putri
Chief
Swan tetap hidup. Bahkan  jika  harus  meninggalkan kami
lagi.”
“Aku tahu, aku tahu.”
“Lantas kenapa kau kembali? Kau tahu betapa bahagianya aku melihat dirimu lagi, tapi
jika ini terlalu sulit...”
“Aku tidak suka jadi pengecut,” aku mengaku.
Kami melambat—hampir berlari normal.
“Tapi itu lebih baik daripada membahayakan dia. Dia akan pergi dalam satu atau dua
tahun lagi.”
“Kau betul, aku tahu itu.” Sebetulnya perkataan Carlisle justru membuatku lebih ingin
tinggal. Gadis itu akan pergi satu atau dua tahun lagi...
Carlisle berhenti dan aku ikut berhenti; dia memperhatikan ekspresiku.
Tapi kau tidak akan pergi, iya kan?
Aku tidak menjawab.
Apa karena harga diri, Edward? Tidak ada yang memalukan dalam—
“Bukan, bukan karena harga diri yang membuatku tinggal. Tidak kali ini.”
Apa karena tidak ada tempat yang bisa kau tuju?
Aku   tertawa   pendek.   “Tidak.   Hal   itu   tidak   akan   menghentikanku,   jika   aku   bisa
membuat diriku pergi.”
“Tentu kami akan ikut, jika itu yang kau butuhkan. Kau hanya perlu minta. Kau selalu
ikut pindah tanpa mengeluh buat yang lain. Mereka tidak akan kesal.”
Aku mengangkat sebelah alisku.
Dia  tertawa. “Iya, Rosalie mungkin, tapi di berhutang padamu. Bagaimanapun juga,
jauh lebih baik kita pergi sekarang, sebelum ada insiden, daripada nanti, setelah ada korban
jiwa.” pada akhirnya candanya lenyap.
Aku mengacuhkan kata-katanya.
“Iya,” aku menyetujui. Suaraku parau.
Tapi kau tidak akan pergi?
Aku mendesah. “Seharusnya aku pergi.”
“Apa yang menahanmu disini, Edward? Aku tidak bisa menangkap maksudmu...”
51
   

“Aku tidak tahu apa bisa menjelaskannya.” bahkan ke diriku sendiri. Itu tidak masuk
akal.
Dia menilai ekspresiku.
Tidak, aku tidak mengerti. Tapi aku akan menghargai privasimu, jika itu kemauanmu.
“Terima kasih. Kau terlalu baik, mengingat bagaimana aku tidak pernah memberikan
privasi ke siapapun.” dengan satu pengecualian. Dan aku sedang berusaha mengatasi itu, iya
kan?
Kita masing-masing punya kebiasaannya sendiri.
Dia tertawa lagi.
Ayo?
Dia   baru  saja  mencium  bau  sekawanan  rusa.  Tapi  sangat  sulit  untuk  bersemangat,
bahkan dengan buruan yang paling baik, jika baunya tidak lagi lagi mengundang selera. Saat
ini, dengan ingatan darah gadis itu, bau rusa jadi terasa menjijikan.
Aku mendesah. “Ayo,” Aku mengikuti, meskipun tahu bahwa menelan darah lagi tidak
akan terlalu menolong.
Kami   mengambil   posisi   berburu,   badan   membungkuk   dengan   cakar   didepan,
membiarkan baunya yang tidak mengundang menuntun kami mendekat tanpa suara.
Cuaca mulai dingin ketika kami pulang. Salju yang mencair  telah membeku; lapisan
kaca tipis menyelimuti segalanya—tiap ujung cemara, tiap daun pakis, tiap batang rumput,
semua tertutup es.
Sementara Carlisle berganti baju untuk shift pagi di rumah sakit, aku tinggal di tepi
sungai, menunggu matahari  terbit. Perutku kembung karena kebanyakan darah. Tapi  tetap
tidak akan ada artinya jika duduk disamping gadis itu lagi.
Dingin dan mematung sama seperti batu yang kududuki, aku mengamati air gelap yang
mengalir diantara pinggir sungai yang licin, menatap dasarnya.
Carlisle  benar. Aku seharusnya meninggalkan Forks. Mereka  bisa  mengatur  alibinya.
Sekolah asrama di Eropa. Mengunjungi saudara jauh. Gejolak remaja yang kabur dari rumah.
Apapun itu tidak penting. Tidak akan ada yang bertanya lebih jauh.
Hanya   selama   satu   atau   dua   tahun,   dan   gadis   itu   akan   menghilang.   Dia   akan
melanjutkan hidupnya—dia akan
memiliki
kehidupan untuk dijalani. Dia akan pergi kuliah,
menua, memulai karir, mungkin menikah dengan seseorang. Aku bisa membayangkannya—
52
   

melihat  gadis  itu mengenakan  gaun  putih  dan  berjalan  dengan iringan  musik,  lengannya
mengait ke lengan ayahnya.
Sungguh ganjil, rasa sakit yang diakibatkan gambaran itu. Aku tidak bisa mengerti.
Apa aku cemburu karena dia memiliki masa depan yang tak bisa kumiliki? Itu tidak masuk
akal. Setiap manusia di sekitarku memiliki masa depan serupa—kehidupan—dan aku jarang
iri pada mereka.
Aku   harus   meninggalkan   dia   demi   masa   depannya.   Berhenti   membahayakan
kehidupannya. Itu hal yang benar  untuk dilakukan. Carlisle selalu memilih jalan yang benar.
Aku harus mendengarkan dia.
Matahari  terbit  dibalik  awan.  Sinar   redup berkilauan  dari  tiap-tiap permukaan  kaca
yang membeku.
Satu  hari   lagi,  aku  memutuskan.  Aku   akan  menemui  dia   satu  hari  lagi.  Aku  bisa
mengatasinya. Mungkin aku akan member itahu kepergianku, agar cerita  yang berkembang
meyakinkan.
Ini akan sulit; belum apa-apa keenggananku sudah mencari-cari alasan untuk tinggal—
untuk menundanya dua atau tiga hari lagi, atau empat... tapi aku akan melakukan hal yang
tepat. Aku tahu aku bisa  mempercayai  nasihat Carlisle. Dan aku juga tahu aku terlalu bias
untuk membuat keputusan yang tepat sendirian.
Sangat terlalu bias. Sebarapa banyak keengganan ini berasal dari obsesi penasaran, dan
berapa banyak yang dari rasa haus yang tidak terpuaskan?
Aku masuk kedalam untuk ganti pakain untuk sekolah.
Alice sedang menungguku, duduk di anak tangga teratas di lantai tiga.
Kau akan pergi lagi.
dia cemberut padaku.
Aku mendesah dan menangguk.
Kali ini aku tidak bisa melihat kemana pergimu.
“Aku belum tahu kemana tujuanku,” bisikku.
Aku ingin kau tinggal.
Aku menggeleng.
Mungkin Jazz dan aku bisa ikut denganmu?
“Mereka   lebih   membutuhkan   kalian   berdua   saat   aku   tidak   disini.   Dan   pikirkan
53
   

bagaimana Esme. Apa kau ingin membawa pergi setengah keluarganya sekaligus?”
Kau akan membuatnya sedih.
“Aku tahu. Maka itu kau harus tinggal.”
Itu tidak sama dengan jika ada kau disini, kau tahu itu.
“Ya. Tapi aku harus melakukan apa yang benar.”
Ada banyak jalan yang benar, dan banyak jalan yang salah, bukankah begitu?
Selama  sekejapan   mata   ia  larut   dalam   salah  satu   penglihatannya   yang   aneh;   aku
mengamati bersamanya saat gambaran kabur  itu berkedip- kedip dan berputar. Aku melihat
diriku bercampur  dengan bayangan aneh yang tidak dapat kukenali—bentuknya samar  dan
tidak jelas. Kemudian, tiba-tiba kulitku berkilauan dibawah sinar matahari di tengah padang
rumput kecil. Ini tempat yang aku tahu. Ada sesuatu disana bersamaku, tapi, lagi,  sangat
kabur.   Tidak   cukup   jelas   untuk   dikenali.   Gambaran   itu   bergoyang-goyang   kemudian
menghilang seraya jutaan pilihan masa depan yang lain berkelebat kilat.
“Aku   tidak   bisa   menangkap   sebagaian   besar   dari   itu,”   aku   memberitahunya   saat
penglihatannya memudar.
Aku   juga.   Masa   depanmu   berganti-ganti   sangat   cepat   hingga   aku   tidak   bisa
mengikutinya. Menurutku, meskipun...
Dia berhenti, dan menyisipkan di pikirannya simpanan penglihatan lainnya yang cukup
banyak. Semuanya serupa—kabur dan tidak jelas.

Menurut
ku  sesuatu  ada  yang  berubah,”  dia  mengucapkannya  dengan  suara  verbal.
“Hidupmu kelihatannya sedang tiba di persimpangan jalan.”
Aku  tertawa  muram.  “Kau  pasti  sadar  bukan,  kau  jadi  kedengaran  seperti  seorang
gypsy
gadungan di karnaval?”
Dia menjulurkan lidah mungilnya padaku.
“Bagaimana dengan hari ini?” Suaraku mendadak gelisah.
“Aku tidak melihat kau membunuh siap-siapa hari ini,” dia meyakinkan aku.
“Thanks, Alice.”
“Cepat   ganti   baju.  Aku   tidak   akan   mengatakan   apa- apa—biar   kau   sendiri   yang
memberitahu mereka saat kau siap.”
Dia   berdiri   dan  meloncat   mundur   menuruni  tangga,  pundaknya  terkulai.
Aku  akan
54
   

merindukanmu. Sungguh.
Ya, aku juga akan sangat merindukannya.
Itu adalah perjalanan yang sepi. Jasper tahu Alice sedang kecewa terhadap sesuatu, tapi
juga tahu jika dia  memang ingin membicarakan hal itu dia  pasti sudah menyinggungnya.
Sedang Emmet dan Rosalie sudah lupa dengan sekitarnya, lagi-lagi sedang tenggelam dalam
dunia  mereka   sendiri,  saling  memandang  dengan  tatapan  mesra—agak  risih  melihatnya.
Kami cukup sadar  bagaimana sangat saling jatuh cintanya mereka. Mungkin cuma aku yang
kadang sinis karena satu-satunya yang masih sendirian. Ada  hari-hari dimana terasa lebih
berat saat hidup bersama dengan tiga pasangan yang sempurna. Ini adalah salah satunya.
Mungkin mereka akan lebih bahagia tanpa aku. Mengingat aku sekarang sudah seperti
kakek-kakek, temperamental dan gampang marah.
Tentu saja,  pertama  yang  kulakukan  saat  tiba  di  sekolah  adalah  mencari  gadis  itu.
Hanya mempersiapkan diri.
Yup, betul.
Memalukan bagaimana duniaku tiba-tiba terlihat tidak ada isinya kecuali dia—seluruh
eksistensiku jadi berpusat disekeliling gadis itu.
Sebetulnya  cukup mudah dipahami;  setelah delapan puluh tahun menjalani hal  yang
sama setiap hari dan setiap malam, satu perubahan kecil pasti akan jadi titik perhatian.
Dia belum datang. Tapi betulkah itu gelegar mesin truknya dikejauhan. Aku bersandar
ke mobil menunggu. Alice menemani. Yang lain langsung masuk ke kelas. Mereka  bosan
dengan   kegundahanku—terlalu   sulit   untuk   bisa   memahami   ada   manusia   yang   dapat
mengganggu pikiranku begitu lama, tidak perduli betapa nikmat aromanya.
Kendaraan gadis itu muncul dengan lambat, matanya berkonsentrasi keras ke jalan dan
tangannya mencengkram erat roda kemudi. Dia kelihatan mencemaskan sesuatu. Aku segera
tahu   kemudian,   menyadari   bahwa   setiap   manusia   menampakan  mimik   serupa   hari   ini.
Jalanan licin karena es, dan mereka berusaha mengemudi lebih hati-hati. Aku lihat dia benar-
benar serius menanggapi hal itu.
Tampaknya sejalan dengan karakter  yang berhasil kupelajari. Aku menambahkan ini ke
daftar singkatku: dia adalah orang yang serius, orang yang bertanggung jawab.
55
   

Mobilnya diparkir tidak jauh, tapi dia belum menyadari aku disini, mengamati dia. Aku
membayangkan apa  yang  akan  dia  lakukan ketika  sadar?  Tersipu lalu pergi?  Itu tebakan
pertamaku. Tapi mungkin ia akan menatap balik. Mungkin akan datang bicara padaku.
Aku mengambil napas panjang, mengisi paru-paru, sekedar berjaga-jaga.
Dia keluar dari truk dengan hati-hati, mengecek pijakannya yang licin dulu. Dia tidak
mendongak, dan itu membuatku frustasi. Mungkin sebaiknya aku kesana bicara dengan dia...
Tidak, itu salah.
Bukannya  ke   kelas,  dia  justru  ke   belakang  truknya,  sambil   berpegangan  pada   sisi
truknya   dengan   cara   menggelikan,   tidak   yakin   dengan   langkahnya.   Itu   membuatku
tersenyum,  dan   bisa   kurasakan   mata   Alice   menatapku.  Aku   mengabaikan   apa   yang  ia
pikirkan—aku  sedang menikmati  menonton  gadis   itu  saat  mengecek rantai  saljunya.  Dia
benar-benar   kelihatan   hampir   jatuh,   kakinya   selalu   terpleset.   Padahal   yang   lain   tidak
mengalami kesulitan—apa dia parkir di tempat yang paling licin?
Dia terdiam, melihat kebawah dengan ekspresi aneh. Tatapannya...lembut? Seakan ada
sesuatu pada bannya yang membuat dia...
emosional?
Lagi, rasa penasaran membakar seperti dahaga. Seakan aku
harus
mengetahui apa yang
dia pikirkan—seakan tidak ada lagi yang berarti.
Aku akan bicara  ke dia. Lagipula dia  kelihatan butuh bantuan, paling tidak  sampai
meninggalkan parkiran yang licin. Tapi, sepertinya itu tidak mungkin. Dia tidak suka salju,
jadi pasti tidak akan suka dengan tangan pucatku yang dingin. Aku seharusnya pakai sarung
tangan—
“TIDAK!” Alice berteriak panik.
Ototku mengejang dan langsung mengamati pikirannya, ketakutan pertamaku adalah
aku telah membuat  keputusan yang  salah  dan ia melihatku  melakukan  kekejian  itu.  Tapi
ternyata tidak ada hubungannya denganku.
Tyler  Crowley kelihatan  terlalu ngebut saat belok ke  parkiran. Pilihan itu membuat
mobilnya meluncur sepanjang per mukaan es...
Penglihatan itu datang setengah detik sebelum kejadian. Mobil
van
Tyler  telah tiba di
kelokan saat aku masih memperhatikan kejadian yang membuat Alice membelalak ngeri.
Tidak, penglihatan ini tidak ada kaitannya denganku, namun juga
segalanya
berkaitan
56
   

denganku, karena
Van
Tyler—ban mobilnya  kini  melintasi  permukaan es  menuju ke arah
yang paling buruk—akan berputar-putar  dan tergelincir  sepanjang parkiran menabrak gadis
yang tanpa diundang telah menjadi pusat duniaku.
Bahkan tanpa kemampuan Alice sangat mudah membaca lintasan kendaraan itu, yang
meluncur diluar kendali Tyler.
Gadis  itu,  berdiri   tepat  di  tempat  yang  salah,  di  belakang truknya.  Ia  mendongak,
bingung karena mendengar  suara lengkingan bising. Dia melihat tepat kedalam mataku yang
membelalak ngeri, dan kemudian menoleh untuk melihat kematiannya mendekat.
Jangan dia!
Kata-kata itu berteriak dalam kepalaku seakan berasal dari orang lain.
Masih terkunci  dalam pikiran Alice, aku melihat penglihatannya mendadak berubah,
tapi aku tidak punya waktu menunggu hasilnya.
Aku langsung bergerak kilat melintasi parkiran, melemparkan diriku diantara
van
yang
tergelincir   dan  sang  gadis   yang  membeku.  Aku  bergerak  sangat  cepat  hingga  semuanya
kelihatan kabur kecuali fokus tujuanku. Dia tidak melihatku—tidak ada mata manusia yang
sanggup mengikuti kecepatanku—masih terkejut memandangi benda gelap besar yang akan
segera menggilas badannya ke belakang truk.
Aku menangkap pingganggnya, menubruk  terlalu cepat  daripada seharusnya. Dalam
sepersekian detik diantara waktu aku merenggut tubuh rampingnya dari jalur  kematian, dan
waktu   dimana   aku  menjatuhkan   diri   ke   tanah   dengan   dia  di   pelukanku,   aku   jadi  bisa
merasakan dengan jelas kerapuhan tubuhnya.
Ketika mendengar kepalanya membentur permukaan es, tubuhku serasa membeku.
Tapi aku tidak punya satu detik pun untuk memastikan keadaannya. Aku dengar
van
itu
sudah di  belakang kami  berdua, menderak begitu menyenggol bemper  besi truk gadis itu.
Van
itu kemudian berubah arah, menuju arahnya lagi—seakan dia itu magnet.
Umpatan   yang   belum   pernah   kuucapkan   dihadapan   seorang   perempuan   terselip
diantara gigiku.
Aku telah berbuat terlalu banyak. Saat hampir saja meloncat tinggi untuk menghindari
dia   dari   bahaya,   aku   menyadari   kesalahan   itu.   Tapi   itu   tetap   tidak   menghentikanku
melakukan yang lain, sekaligus juga tidak menyangkal akibatnya—bukan saja resiko bagiku,
tapi juga bagi seluruh keluargaku.
57
   

Terekspos.
Dan   serangan   ke-dua
ini
tidak   membantu.  Tidak  akan   kubiarkan
van
ini   berhasil
menghancurkan dia.
Aku menaruh dia lalu mengulurkan tangan, menangkap
van
itu sebelum menyentuhnya.
Daya dorongnya membantingku mundur ke mobil sebelah. Bisa kurasakan sisi mobilnya di
belakang bahu.
Van
itu bergetar, kemudian terayun. Dua ban sampingnya terangkat.
Jika kulepas tanganku, salah satu ban itu akan jatuh menimpa kaki gadis itu.
Oh, demi
orang-orang kudus,
kapan malapetakanya selesai? Apa lagi yang akan salah?
Aku tidak mungkin begini terus, mengangkat
van
di udara sampai bantuan datang. Juga tidak
mungkin melemparnya—ada supirnya yang mesti dipertimbangkan, pikirannya panik.
Sambil mengggeram dalam perut, kusorong
van
itu sedikit. Saat mau jatuh, kutangkap
bawahnya   dengan   tangan  kanan,  sedang   tangan  kiri   merangkul   pinggang   gadis  itu  dan
menariknya keluar dari bawah mobil. Badannya lunglai saat kugeser  hingga kakinya aman
dan merapat ke sisiku—apa dia sadarkan diri? Seberapa besar luka yang kutimbulkan gara-
gara penyelamatan ceroboh tadi?
Kulepas
van
itu setelah dia aman. Jendelanya pecah berantakan saat terbanting jatuh.
Aku tahu situasiku terpojok. Seberapa banyak yang dia lihat? Apa ada saksi yang lain?
Pertanyaan-pertanyaan itu
seharusnya
jadi kekhawatiran yang paling besar.
Tapi aku terlalu cemas  hingga tidak memikirkan ancaman itu. Aku terlalu panik telah
melukai   dia   dalam   usaha   melindunginya.   Terlalu   takut   mendapati   dirinya   sedekat   ini,
mengetahui   dapat  saja  menghirup  baunya.  Terlalu  menyadari  kehangatan  tubuhnya   yang
lembut menyentuh tubuhku—bahkan dengan penghalang jaket masih terasa kehangatannya...
Ketakutan   itu   adalah   yang   terbesar.   Saat   teriakan   orang-orang   mendekat,   aku
memeriksa wajahnya, melihat apa dia sadar—berharap-ngeri dia tidak berdarah.
Matanya terbuka. syok.
“Bella?” Aku bertanya khawatir. “Apa kau baik-baik saja?”
“Iya tidak apa-apa.” dia menjawab spontan dengan suara linglung.
Aku sangat lega mendengar suaranya. Aku menarik napas lewat sela gigi, dan tidak
keberatan dengan rasa terbakar di tenggorokan yang menyer tainya. Justru bisa dibilang aku
menyambutnya.
58
   

Dia  berusaha  untuk duduk,  tapi  aku belum  siap melepasnya. Entah  bagaimana aku
merasa...lebih aman? Lebih baik, paling tidak, masih memegangi dia di sisiku.
“Hati-hati,” aku memperingatkan. “Kurasa kepalamu terbentur cukup keras.”
Tidak ada bau darah segar—untung saja—tapi ini tidak menyingkirkan kemungkinan
luka dalam. Aku mendadak jadi cemas ingin segera membawanya ke Carlisle, memeriksanya
dengan peralatan lengkap.
“Aduh.” keluhnya, nadanya terkejut saat menyadari aku benar tentang kepalanya.
“Itulah   yang   kupikirkan.”   aku   sudah   sedikit   lega   hingga   bisa   melihat   kelucuan
ekspresinya. Aku hampir tertawa geli.
“Bagaimana   bisa...”   suaranya   perlahan   menghilang,   matanya   mengerjap   bingung.
“Bagaimana kau bisa sampai disini secepat itu?”
Kelegaan berubah masam, rasa humor lenyap. Dia melihat terlalu banyak.
Kini, saat gadis ini kelihatan baik-baik saja, kecemasan terhadap keluargaku jadi nyata.
“Aku berdiri di sebelahmu, Bella.” aku tahu dari pengalaman, jika sangat yakin saat
berbohong, maka orang lain jadi ragu dengan apa yang benar.
Dia  berusaha  duduk lagi. Kali  ini kuijinkan.  Aku butuh mengambil napas  agar   bisa
memainkan peran dengan benar. Aku butuh menjauh dari kehangatan darah pada tubuhnya
agar  tidak  terkombinasi   dengan   aromanya  hingga   membuatku  kewalahan.  Aku   menjauh
sejauh mungkin di ruang sempit diantara himpitan dua kendaraan ini.
Dia  mendongak menatapku. Aku menatap balik.  Berpaling duluan adalah  kesalahan
yang dibuat oleh seorang pembohong amatir, dan aku bukan amatiran. Ekpresiku lembut,
bersahabat... Sepertinya itu membingungkan dia. Itu bagus.
Kini orang-orang mulai merubung. Kebanyakan para murid. Mereka saling mendesak
maju untuk menonton. Dimana-mana terdengar  teriakan dan pekik kaget pikiran. Kuamati
pikiran-pikiran   itu   sekilas   untuk   memastikan   tidak   ada   yang   curiga,   dan   kemudian
kuredupkan suaranya untuk berkonsentrasi hanya pada si gadis.
Dia  teralihkan oleh  kegemparan orang-orang. Dia melihat ke  sekeliling, ekspresinya
masih syok. Dia berusaha untuk berdiri.
Aku pegang pundaknya untuk menahannya.
“Coba   jangan   berdiri   dulu.”   dia
kelihatannya
baik-baik   saja,   tapi   apa   dia   boleh
59
   

menggerakan leher? Lagi, aku berharap ada Carlisle. Tahunan mempelajari teor i kedokteran
tidak sebanding dengan berabad-abad praktek secara langsung.
“Tapi dingin,” dia mengeluh.
Dia hampir  terbunuh dua kali berturutan dan nyar is luka parah satu kali, namun dingin
yang   ia  risaukan.   Kekehan   pendek   sempat   terselip   dari   gigiku   sebelum   kembali   ingat
situasinya tidak lucu.
Bella mengerjap, dan kemudian matanya fokus ke wajahku. “Kau ada disebelah sana.”
Hal itu membuatku masam lagi.
Dia melirik ke tempatku tadi, meski sekarang tidak ada yang bisa dilihat kecuali mobil
Tyler. “Kau ada di sebelah mobilmu.”
“Tidak.”
“Aku melihatmu.” dia ngotot; suaranya seperti anak kecil ketika sedang keras kepala.
Dagunya terangkat maju.
“Bella, aku sedang berdiri disampingmu, dan aku menarikmu.”
Aku menatapnya  lekat-lekat kedalam mata lebarnya, berusaha meyakinkan dia untuk
menerima versiku—satu-satunya versi rasional yang ada.
Rahangnya mengeras. “Tidak.”
Aku   berusaha   tetap   tenang,   tidak   panik.   Jika   aku  bisa   menenangkannya   sebentar,
mencuri   waktu   untuk   menghilangkan   bukti...   aku   bisa   meruntuhkan   ceritanya   dengan
menyalahkan kepalanya yang terluka.
“Kumohon, Bella,” aku berkata dengan suara sungguh-sungguh. Mendadak aku
ingin
dia mempercayai diriku. Sangat ingin, bukan hanya karena insiden ini. Hasrat yang konyol.
Apa gunanya membuat dia memparcayai
aku
?
“Kenapa?” dia bertanya, masih ngotot.
“Percayalah padaku,” aku memohon.
“Mau kah kau berjanji akan menjelaskan semuanya nanti?”
Membuatku marah harus  berbohong lagi padanya, ketika aku berharap bahwa entah
bagaimana aku layak mendapatkan kepercayaan dia. Jadi, saat menjawabnya, nadaku ketus.
“Baik.”
“Baik.” dia mengulangi dengan nada ketus sama.
60

Baca selanjutnya ..