Cari Blog Ini

movie mania

2.



Tanpa menoleh, aku tahu Emmet, Rosalie, dan Jasper menatap Alice. Dia cuma angkat
bahu. Dia tidak dapat melihat yang lalu, hanya masa depan.
Dia  mengeceknya  sekarang. Kami  sama-sama mengolah penglihatannya. Dan  sama-
sama terkejut.
“Kamu akan pergi?” dia berbisik sedih.
Yang lain menatapku.
“Apa aku begitu?” aku mendesis lewat sela-sela gigi.
Dia  melihatnya  kalau begitu,  begitu aku  mengambil  keputusan, dan  pilihan  lainnya
yang jauh lebih kelam.
“Oh!”
Bella Swan, mati. Mataku, merah terang oleh darah segar. Pencarian oleh penduduk.
Penantian kami sebelum semua aman dan memulai lagi dari awal...
“Oh!” Alice kaget lagi. gambarannya jadi lebih detail. Aku melihat bagian dalam rumah
Sherif  Swan untuk pertama kalinya. Melihat  Bella di  dapurnya yang kecil dengan lemari
kuning.   Dia   memunggungi   ku   ketika   aku   menyelinap   dari   balik   bayangan...merasakan
aromanya menuntunku...
“Stop!” aku mengerang, tidak tahan lagi.
“Sori,” bisiknya, matanya melebar.
Sang monster kegirangan.
Penglihatannya   berubah  lagi.  Jalanan  kosong  malam-malam,   pepohonan  berselimut
salju di sisinya, berlalu cepat dua ratus mil perjam.
“Aku akan merindukanmu,” ujar Alice, “Tak perduli seberapa singkat kau pergi.”
Emmet dan Rosalie bertukar pandang prihatin.
Kami hampir sampai di belokan jalan masuk ke rumah.
“Turunkan kami disini,” pinta Alice. “Kau sebaiknya memberitahu Carlisle sendir i.”
Aku mengangguk, dan mobilnya mendecit berhenti.
Emmet, Rosalie,  dan Jasper  turun tanpa komentar;  dia  akan minta penjelasan Alice
setelah ini. Alice menyentuh pundakku.
“Kau akan mengambil jalan yang benar.” ucapnya pelan. Bukan penglihatan kali ini—
sebuah perintah. “Dia satu-satunya keluarga Charlie Swan. Itu akan membunuhnya juga.”
21
   

“Iya.” kataku, setuju hanya pada bagian terakhir.
Kemudian   ia   turun.  Alisnya  bertaut   gelisah.  Mereka   masuk   ke  hutan,  menghilang
sebelum aku memutar mobil.
Aku melaju cepat  ke arah kota. Dan aku tahu penglihatan Alice  akan  berganti  dari
kegelapan malam menjadi siang. Begitu menginjak sembilan puluh mil perjam menuju Forks,
aku tidak yakin dengan tujuanku. Berpamitan dengan ayahku? Atau menyerah pada monster
dalam diriku? Mobilku melaju kencang diatas aspal.
22
   

2. Buku Terbuka
Aku berbar ing diatas tumpukan salju, membuat cekungan disekitar  tubuhku. Kulitku
mendingin menyesuaikan udara sekitar. Sebutir es jatuh ke kulitku seperti beledu.
Langit   diatasku  cerah,   bertabur   bintang,  sebagian  bependar   biru,  sebagian   kuning.
Kerlip-kerlip itu begitu megah dihadapan kegelapan malam—pemandangan luarbiasa. Sangat
cantik. Atau  mungkin  lebih  tepat  disebut  indah.  Seharusnya,  jika  aku  benar-benar   dapat
melihatnya.
Ini   tidak  jadi   lebih  baik.  Enam  hari   sudah  lewat,  enam   hari  besembunyi  di  hutan
belantara teritori keluarga Denali. Tapi aku belum juga mendapati kebebasan sejak pertama
kali mencium aroma gadis itu.
Ketika  menatap ke  langit, seakan ada penghalang  antara mataku  dan keindahannya.
Penghalangnya adalah sesosok wajah, wajah manusia  biasa yang tidak istimewa, tapi  aku
tidak bisa mengusirnya.
Aku mendengar  suara pikiran mendekat sebelum suara langkahnya. Bunyi gerakannya
hanya berupa gesekan halus.
Aku tidak kaget Tanya membututi  kesini. Aku tahu beberapa hari ini ia ingin bicara
denganku, menunggu hingga yakin pada pilihan katanya.
Dia  muncul  enam  puluh yard didepanku, mendarat  dengan bertelanjang  kaki di atas
batu hitam dan menyeimbangkan tubuhnya.
Kulit   Tanya   keperakan   dibawah   cahaya   malam.   Rambut   pirang   ikal   panjangnya
berpendar  pucat, hampir  pink seperti strawberi. Matanya yang kuning madu berkilat saat
menatapku,  yang  setengah  terpendam  dibawah  salju.  Bibirnya  yang  penuh tertarik  halus
membentuk senyuman.
Sangat cantik.
Jika
aku benar-benar bisa melihatnya. Aku mendesah.
Dia   membungkuk   ke   ujung  batu,   ujung   jari   menyentuh   permukaannya,   badannya
bergelung.
23
   

Cannonball.
Dia membatin.
Dia   melentingkan  dirinya   keatas;   tubuhnya   menjadi   bayangan   gelap   saat   bersalto
dengan   anggun  diantaraku  dan  bintang-bintang.   Dia  melipat   tubuhnya   seperti   bola   saat
menubruk dengan keras tumpukan salju disampingku.
Salju   langsung   berhamburan   seperti   badai.   Langit   diatasku   menggelap   dan   aku
tertimbun dibawah kelembutan lapisan salju.
Aku mendesah lagi,  tapi  tidak bangkit. Kegelapan  ini  tidak menyakitkan juga  tidak
membantu pandanganku. Aku masih melihat wajah yang sama.
“Edward?”
Salju beterbangan lagi saat Tanya pelan-pelan menggali. Dia mengusap sisa-sisa salju
dari wajahku yang tidak bergerak, dia tidak benar-benar  bertemu pandang dengan tatapanku
yang kosong.
“Sor y,” dia berbisik. “Cuma bercanda.”
“Aku tahu. Itu lucu, kok.”
Mulutnya bergerak turun.
“Menurut Irina dan Katie sebaiknya aku membiarkanmu sendir ian. Pikir  mereka aku
mengganggumu.”
“Sama sekali tidak.” aku meyakinkan dia. “Sebaliknya, aku yang bersikap tidak sopan
—sangat kasar. Maafkan aku.”
Kau akan pulang, iya kan?
pikirnya.
“Aku belum... sepenuhnya... memutuskan itu.”
Tapi kau tidak akan tinggal disini.
Pikirannya kini muram, sedih.
“Tidak. Sepertinya tidak akan...membantu.”
Dia meringis. “Itu salahku, iya kan?”
“Tentu saja bukan.” aku berbohong.
Tidak usah bersikap sopan.
Aku tersenyum.
Aku membuatmu tidak nyaman,
sesalnya.
“Tidak.”
Sebelah   alisnya   terangkat,   ekspresinya   sangat   tidak   percaya   hingga   aku   terpaksa
24
   

tertawa. Satu tawa singkat, diikuti desahan.
“Oke.” Aku akui. “Sedikit.”
Dia ikut mendesah, lalu menumpangkan dagunya ke tangan. Perasaannya kecewa.
“Kau beribu kali lebih indah dari bintang-bintang, Tanya. Tentu saja, kau menyadari itu.
Jangan  biarkan  kebebalanku  melemahkan  kepercayaan  dirimu.”  aku  sedikit   geli  jika  dia
sampai
begitu
.
“Aku tidak biasa ditolak.” dia menggerutu, bibir bawahnya terangkat cemberut.
“Itu pasti.” Aku setuju, sambil coba menghalau pikiran dia saat ribuan penaklukannya
berkelebat. Kebanyakan Tanya memilih manusia—populasi mereka lebih banyak salah satu
alasannya,  dengan  tambahan  kehangatan   serta  kelembutan  mereka.  Dan  selalu  berhasrat
tinggi,  pastinya.
“Dasar
Succubus
,” godaku, berharap bisa mengalihkan kelebat ingatannya.
Dia menyeringai, menampakan giginya. “Yang asli.”
Tidak seperti  Carlisle, Tanya dan saudarinya menemukan nurani  mereka  belakangan.
Pada akhirnya, ketertarikan mereka pada pria lah yang mencegah mereka menjadi pembunuh.
Sekarang para pria yang mereka cintai...hidup.
“Saat kau datang kesini,” Tanya berkata pelan, “Aku kira...”
Aku tahu apa yang dia pikir kemarin. Dan seharusnya aku sudah menerka itu sebelum
kesini. Tapi kemarin aku sedang tidak bisa berpikir  sehat.
“Kau mengira aku berubah pikiran.”
“Iya.” dia memberengut.
“Aku   menyesal   membuatmu   berharap,   Tanya.   Aku   tidak   bermaksud—aku   tidak
berpikir. Hanya saja aku pergi dengan... buru-buru.”
“Kurasa kau tidak akan memberitahu alasannya, kan...?”
Aku  bangkit  duduk  dan  merangkul  kakiku, bersikap  menghindar.  “Aku  tidak  ingin
membicarakan itu.”
Tanya, Irina, dan Kate sangat baik menjalani pilihan hidup mereka. Bahkan lebih baik,
dalam  beber apa  hal,  daripada  Carlisle.  Terlepas  dari  kedekatannya   yang  sableng  dengan
mereka yang seharusnya—dan pernah—menjadi mangsanya, mereka tidak pernah membuat
kesalahan. Aku terlalu malu mengakui kelemahanku pada Tanya.
25
   

“Masalah perempuan?” dia menebak, mengacuhkan keenggananku.
Aku tertawa hambar. “Tidak seperti yang kau maksud.”
Dia terdiam. Pikirannya beralih ke dugaan lain, dia coba mengurai maksud jawabanku.
“Sedikitpun tidak mendekati.” aku memberitahu.
“Satu saja petunjuk?” pohonnya.
“Sudah lah, Tanya.”
Dia diam lagi, masih menebak-nebak. Kuacuhkan dia, dan sia-sia mengagumi bintang.
Akhirnya ia menyerah. Pikirannya mendesak ke hal lain.
Kau akan kemana, Edward, jika kau pergi? Kembali ke Carlisle?
“Sepertinya tidak.” Desisku.
Akan  kemana  aku?  Aku tidak  dapat  menemukan  satu tempatpun di  dunia ini  yang
menarik. Tidak ada yang ingin aku kunjungi. Karena, tidak perduli  kemanapun, aku tidak
akan pergi
kesitu—
aku hanya lari
dari.
Aku benci itu. Sejak kapan aku jadi pengecut?
Tanya merangkulkan tangannya yang gemulai ke pundakku. Aku bergeming, tapi tidak
menampik. Dia tidak bermaksud lebih dari sekedar bersahabat. Sebagian besar.
“Menurutku kau akan kembali.” katanya, suaranya menyisakan sedikit logat Rusia yang
telah lama hilang. “Tak perduli apapun itu...atau siapapun...yang menghantuimu. Kau pasti
akan menghadapinya. Kau selalu begitu.”
Pikirannya  sejalan  dengan  ucapannya.  Aku coba  memposisikan  diri  seperti  yang ia
gambarkan. Bagian yang selalu menghadapi apapun. Ada baiknya memandang diriku seperti
itu lagi.  Aku tidak pernah meragukan keteguhanku, kemampuanku menghadapi  kesulitan,
sebelum kejadian mengerikan di kelas biologi kemarin.
Kucium pipinya, dan cepat-cepat menarik kepalaku ketika ia memalingkan wajah ke
arahku. Mulutnya memberengut. Dia tersenyum kering.
“Terima kasih, Tanya. Aku butuh mendengar itu.”
Pikirannya   menggerutu.  “Sama-sama,  kukira.  Kuharap   kau  bisa   lebih  masuk  akal,
Edward.”
“Maaf, Tanya.  Kau tahu kau  terlalu  baik  untukku. Aku  hanya...  belum  menemukan
yang kucari.”
26
   

“Kalau begitu, jika kau pergi sebelum kita bertemu lagi...Sampai ketemu lagi, Edward.”
“Sampai   ketemu  lagi.”  pada   saat  mengucapkannya,  aku  bisa  melihatnya. Aku  bisa
melihat diriku pergi. Punya cukup kekuatan untuk kembali ke tempat yang kuingini. “terima
kasih lagi, Tanya.”
Dia  bangkit berdiri  dengan  anggun, kemudian lari pergi, membelah hamparan salju
dengan   sangat   cepat   hingga   kakinya   tidak   terbenam   pada   kelembutannya;   ia   tidak
meninggalkan jejak di salju. Dia tidak menoleh ke belakang. Penolakanku mengganggunya
lebih dari yang ia kira. Dia tidak ingin menemuiku lagi sebelum aku pergi.
Mulutku merengut menyesal. Aku tidak suka menyakiti Tanya, meskipun perasaannya
tidak dalam, tidak terlalu murni, dan juga bukan sesuatu yang bisa kubalas. Tapi tetap saja itu
membuatku kurang
gentleman
.
Kutumpangkan daguku ke lutut dan memandangi bintang lagi, meskipun tiba- tiba aku
tidak sabar untuk pulang. Aku tahu Alice pasti  melihatku datang, dan segera memberitahu
yang lain. Ini akan membuat mer eka gembira—Carlisle dan Esme terutama. Tapi kupandangi
bintang-bintang itu lebih lama, coba melihat melampaui wajah di benakku. Diantara diriku
dan   kerlip  di   langit,  sepasang   mata   coklat-muda   yang   membingungkan   itu  menatapku,
kelihatan bertanya-tanya apa arti keputusan ini baginya. Tentu saja, aku tidak tahu pasti apa
arti tatapan misteriusnya. Bahkan dalam bayanganku, aku tidak dapat mendengar pikirannya.
Mata Bella Swan terus bertanya-tanya, tetap menghalangi bintang. Dengan helaan berat aku
menyerah, kemudian berdiri. Jika berlari, aku akan tiba di mobil Carlisle kurang dari  satu
jam...
Dalam   ketergesaan   menemui  keluargaku—dan  keinginan  menjadi   seorang   Edward
yang menghadapi  apapun—aku  berlari  kencang melintasi  padang  salju  dibawah  temaram
bintang, tanpa meninggalkan jejak.
“Semua akan baik-baik saja,”
Alice menarik napas. Tatapannya kosong, tangan Jasper
memegang sikunya, menuntun dia saat rombongan kami berjalan rapat melintasi kafetaria.
Rosalie  dan Emmet mempin di depan. Emmet terlihat konyol dengan gaya bodyguardnya
seakan sedang di daerah musuh. Rose terlihat khawatir juga, tapi lebih pada kesal.
27
   

“Tentu saja iya.” aku menggerutu. Kelakukan mereka menggelikan. Jika tidak yakin
bisa mengatasi, aku akan tinggal di rumah.
Perbuahan mendadak dari pagi yang normal, bahkan menyenangkan—tadi malam turun
salju,   dan   Emmet   serta   Jasper   tidak   terlalu   memanfaatkan   lamunanku   untuk
membombardirku   dengan   bola   salju;   ketika   bosan   dengan   keacuhanku,   mereka   saling
menyerang sendiri—kewaspadaan berlebihan ini terlihat lucu jika saja tidak menjengkelkan.
“Dia  belum  datang, tapi  dari  arahnya  nanti...ia  tidak akan melawan angin jika  kita
duduk di tempat biasa.”

Tentu saja
kita akan duduk di tempat biasa. Hentikan, Alice. Kau membuatku kesal.
Aku baik-baik saja.”
Dia mengerjap saat Jasper menuntun duduk. Matanya kembali fokus.
“Hmm,” gumamnya, terkejut. “Sepertinya kau betul.”

Tentu saja
iya.” aku memberengut.
Aku  tidak suka  jadi  pusat  kerisauan. Tiba-tiba  aku bersimpati  pada  Jasper, teringat
bagaimana   selama   ini   kami   sangat   protektif.   Dia   bertemu   pandang   denganku,   dan
menyeringai.
Mengganggu, bukan?
Aku mendesis padanya.
Apa  baru  minggu  lalu ruangan ini terlihat  sangat  membosankan?  Sehingga  rasanya
hampir seperti tidur, koma, saat berada disini? Hari ini syarafku tegang. Inderaku waspada
penuh;  kupantau  setiap   suara,  setiap  penglihatan,  setiap  gerakan  udara  yang  menyentuh
kulitku,  setiap   pikiran.   Terutama   pikiran.  Hanya   satu   indra   yang   kumatikan,   tak   ingin
kupakai. Penciuman, tentu saja. Aku tidak bernapas.
Aku mengharapkan nama keluarga Cullen lebih sering disebut di pikiran-pikiran yang
keluwati. Seharian aku menunggu, mencari apapun yang diceritakan si anak baru Bella Swan.
Coba melihat gosip barunya. Tapi tidak ada apa-apa. Tidak ada yang menyadari kehadiran
lima   vampir   di   kafetaria,   sama   seperti   sebelum   anak   perempuan  itu   datang.   Beberapa
manusia masih memikirkan gadis itu, masih dengan pikiran yang sama dengan minggu lalu.
Bukannya bosan, aku malah terkesima.
Apa dia tidak mengatakan apapun tentang diriku?
28
   

Mustahil  dia  tidak  menyadari  tatapan  gelap-ku   yang  mengancam.  Aku   melihatnya
bereaksi. Sudah pasti aku membuatnya takut. Aku cukup yakin ia akan cerita ke seseorang,
mungkin sedikit dibumbui agar lebih baik. Menambah tanda-tanda ancaman yang lain.
Kemudian, ia juga dengar aku minta pindah kelas  biologi. Dia pasti menebak, setelah
melihat  ekspresiku, bahwa dia penyebabnya. Anak perempuan normal  pasti akan bertanya
kemana-mana,  membandingkan  pengalaman,   mencari   kesamaan  yang   dapat   menjelaskan
sikapku   hingga   dia  tidak   merasa   sendirian.  Manusia  cenderung   ingin   bersikap   normal,
diterima. Membaur  dengan lingkungannya, seperti sekawanan domba. Kebutuhan seperti itu
biasanya kuat pada masa-masa remaja. Tidak terkecuali pada Gadis itu tentunya.
Tapi  tidak satupun  memperhatikan  kami, di  meja kami  biasanya.  Bella pasti sangat
pemalu, jika sampai tidak cerita ke siapapun. Barangkali pada ayahnya, mungkin itu orang
terdekatnya...meskipun tampaknya tidak begitu, mengingat dia tidak menghabiskan hidupnya
bersama ayahnya sebelum ini. Kemungkinan ia lebih dekat dengan ibunya. Tetap saja, aku
mesti berpapasan dengan
Chief
Swan secepatnya dan mendengar pikirannya.
“Ada yang baru?” tanya Jasper.
“Tidak ada. Dia...pasti tidak cerita apa-apa.”
Semua menaikan alis kaget.
“Mungkin kau tidak semengerikan yang kau kira,” Emmet  terkekeh, “Berani taruhan
aku bisa lebih menakuti dia daripada
itu
.”
Aku mendelik.
“Sudah tahu kenapa...?” Dia masih penasaran dengan kesunyian benak gadis itu.
“Kita sudah membahas itu. Aku tidak
tahu.

“Dia akan masuk.” Alice berbisik. Badanku kaku. “Coba bersikap seperti manusia.”
“Manusia, ya?” tanya Emmet.
Dia mengangkat tinju kanannya, membalik telapak tangannya hingga memperlihatkan
bola salju yang ia sembunyikan di genggamannya. Tentu saja tidak meleleh. Dia  meremas
hingga mengeras menjadi  bongkahan es. Matanya  mengincar  Jasper, tapi aku tahu kemana
pikirannya. Ke Alice, tentu saja. Ketika tiba-tiba esnya meluncur ke Alice, dia menepis santai
dengan kibasan jari. Bongkahan es itu terlempar melintasi ruangan, terlalu cepat untuk diikuti
mata manusia, lalu menghantam tembok hingga berhamburan. Temboknya rengkah.
29
   

Orang-orang disekitarnya  memeloti pecahan es  yang berserakan di lantai, saling lirik
mencari biang onarnya. Mereka tidak mencari terlalu jauh. Tidak ada yang menoleh kesini.
“Sangat manusia, Emmet.” Rosalie menegur  mesra. “Kenapa tidak sekalian kau tinju
temboknya hingga runtuh?”
“Terlihat lebih impresif jika kau yang melakukannya, sayang.”
Aku  pura-pura  memperhatikan,  tersenyum  kecil  seakan menikmati  gurauan  mer eka.
Aku berusaha tidak melihat ke gadis itu. Tapi kesanalah pendengaranku sepenuhnya.
Aku  bisa  mendengar   ketidaksabaran  Jessica   pada  si   murid  baru,  yang   sepertinya
sedang melamun, berdiri kaku di antrian. Kulihat, lewat pikiran Jessica, pipi  Bella Swan
bersemu merah muda oleh darah.
Aku   menarik   napas   pendek,   siap-siap   menahan   napas   jika   aromanya   sampai   ke
dekatku.
Mike Newton bersama dua gadis itu. Aku mendegar  dua suaranya, pikiran dan verbal,
ketika bertanya ke Jessica ada apa dengan gadis itu. Aku tidak suka dengan jalan pikirannya,
yang merasa teracuhkan oleh lamunan si gadis.
“Tidak  apa-apa.”  Bella  menjawab  dengan  suara  lirih,  sangat  jernih.  Kedengarannya
seperti  dering bel  diantara dengung samar  di seantero kafetaria. Tapi itu lebih karena aku
sedang menyimaknya dengan keras.
“Hari ini aku minum soda saja,” dia melanjutkan sembari maju mengikuti antrian.
Aku  tidak  bisa   menahan  diri   untuk  tidak  melirik.  Dia  sedang  memandangi  lantai,
berangsur  darah menghilang dari wajahnya. Aku cepat- cepat membuang muka, ke  Emmet,
yang tertawa melihat seringai panik di wajahku.
Kau terlihat sakit, bro.
Aku mengatur mimikku agar terlihat santai.
Di telingaku Jessica berteriak heran dengan selera makan gadis itu. “Kau tidak lapar?”
“Sebenarnya, aku merasa  sedikit  tidak  enak  badan.”  suaranya  memelan,  tapi  masih
sangat jelas.
Kenapa  itu  menggangguku,  rasa   prihatin   yang  tiba-tiba  muncul   dari  pikiran  Mike
Newton?  Memang   kenapa   jika   pikirannya  terlalu   protektif?   Bukan   urusanku   jika   Mike
Newton bersikap berlebihan ke  dia.  Mungkin seperti itu juga sikap yang  lain. Bukankah
30
   

minggu lalu, secara naluri, aku juga ingin melindungi dia? Sebelum ingin membunuhnya...
Tapi
apa
gadis itu sakit?
Sulit   menilainya—dia   terlihat   sangat   lembut   dengan   kulitnya   yang   jernih
menerawang... kemudian kusadari aku ikut khawatir, sama seperti anak tolol itu, dan kupaksa
untuk tidak memikirkan kesehatannya.
Bagaimanapun juga, aku tidak suka memantau dia lewat pikiran Mike. Aku pindah ke
Jessica, memperhatikan ketiganya memilih meja. Untung mereka duduk di tempat biasa, di
salah satu meja terdepan. Tidak melawan angin, seperti janji Alice.
Alice menyikutku.
Dia akan melihat kesini, bersikap manusia.
Aku mengatupkan gigi rapat-rapat dibalik seringai senyumku.
“Tenang,   Edward.”   sindir   Emmet.   “Terus   terang.   Paling   ujung-ujungnya   kau
membunuh satu orang. Dunia tidak akan berakhir.”
“Tunggu saja,” gerutuku.
Emmet  tertawa.  “Kau   mesti  belajar  melupakan  sesuatu.  Seperti  diriku.  Keabadian
adalah waktu yang panjang untuk menyesali kesalahan.”
Seketika itu juga, Alice melempar es yang ia sembunyikan ke muka Emmet.
Dia mengerjap, kaget, dan menyeringai waspada.
“Kau   yang   mulai   duluan,”   Emmet   mencondongkan   tubuh   ke   seberang   meja   lalu
mengibaskan rambutnya yang mengerak beku. Air beterbangan, setengah cair setengah beku.
“Aduh!” keluh Rose. Dia dan Alice menyingkir dari semburan hujan Emmet.
Alice  tertawa,  dan  kami  semua  kembali  menikmati  canda  ini.  Aku  bisa  melihat  di
pikiran Alice bagaimana ia mengarsiteki momen sempurna ini. Dan aku tahu sang gadis itu—
aku mesti berhenti berpikiran begitu, seakan dia satu-satunya perempuan di dunia—bahwa
Bella
sedang memperhatikan kami tertawa dan bercanda, terlihat bahagia dan normal, seideal
lukisan Norman Rockwell.
Alice terus tertawa, dan mengangkat nampannya sebagai perisai. Sang gadis—Bella—
pasti masih menonton.
...memandangi keluarga Cullen lagi,
seseorang membatin, menarik perhatianku.
Otomatis   aku  menoleh  kearah  panggilan  yang  tak  disengaja  itu,  segera   mengenali
suaranya sebelum pandanganku sampai—aku sering mendengarnya hari ini.
31
   

Tapi mataku sedikit melewati Jessica, dan tertumbuk pada tatapan dalam gadis itu.
Dia cepat-cepat menunduk, bersembunyi dibalik rambutnya.
Apa   yang   dia   pikirkan?   Rasa   frustasi   ini   makin   lama   makin   menjadi,   bukanya
menghilang.   Aku   mencoba—tidak   terlalu   yakin   karena   belum   pernah   melakukanya—
menyelidiki dengan pikiranku pada kesunyian di sekeliling gadis itu. Pendengaran ekstraku
selalu   muncul   alami,   tanpa   diminta;   aku   tidak   pernah   mengupayakannya.   Tapi   aku
berkonsentrasi sekarang, coba menembus penghalang apapun disekelilingnya.
Tidak ada apa-apa selain hening.
Ada apa sih dengan Bella?
Batin Jessica, sejalan dengan frustasiku.
“Edward Cullen menatapmu,” dia berbisik di telinga si Swan, sambil cekikikan. Tidak
ada nada sinis atau cemburu. Jessica kelihatannya pandai sok bersahabat.
Aku mendengarkan, terlalu tertarik, pada responnya.
“Dia tidak kelihatan marah, iya kan?” dia balik berbisik.
Jadi dia menyadari reaksi liarku kemarin. Tentu saja begitu.
Pertanyaan itu membingungkan Jessica. Aku melihat wajahku di benaknya  ketika ia
mengecek ekspresiku, tapi aku tidak menatapnya. Aku masih berkonsentrasi pada gadis itu,
coba mendengar
sesuatu
. Hal itu kelihatannya tidak membantu sema sekali.
“Tidak.” jawab Jess, dan aku tahu dia berharap bisa berkata iya—bagaimana tatapanku
sangat   mengganggu   pikiran   dia—meskipun   tidak   ada   tanda-tanda   hal   itu   di   suaranya.
“Apakah seharusnya dia marah?”
“Sepertinya dia tidak suka padaku,” gadis itu kembali berbisik, menelungkupkan kepala
di tangan seakan tiba-tiba letih. Aku coba memahami gerakannya, tapi cuma bisa menebak.
Mungkin dia
memang
letih.
“Keluarga  Cullen  tidak menyukai  siapapun,”  Jessica meyakinkan dia. “
Well
, mereka
memang  tidak  memedulikan  siapa-siapa.”
mereka   selalu  begitu.
Pikirannya   menggerutu.
“Tapi dia masih memandangimu.”
“Sudah jangan dilihat lagi,”  gadis  itu  mendesis  kesal,  mengangkat  kepalanya  untuk
memastikan Jessica mematuhinya.
Jessica terkekeh, melakukan apa yang diminta.
Gadis itu tidak mengalihkan pandangan dari mejanya selama sisa istirahat. Sepertinya
32
   

—sepertinya tentu saja, aku tidak bisa yakin—hal itu disengaja. Kelihatannya sebetulnya ia
ingin melihatku. Badannya  menggeser  sedikit, dagunya hampir  menoleh, tapi  kemudian ia
tahan, menghela napas panjang, dan menatap ke siapapun di mejanya yang sedang bicara.
Kuacuhkan sebagian besar pikiran di meja itu, karena tidak berkaitan dengan dia. Mike
Newton merencanakan perang salju sepulang sekolah, tidak sadar  telah turun hujan. Butir-
butir  halus yang meyalang ke atap telah berubah menjadi rintik. Apa dia tidak mendengar
perubahannya? Terdengar nyaring kalau buatku.
Ketika jam istirahat selesai, aku masih tetap duduk. Manusia-manusia itu mulai keluar.
Tanpa sadar aku membedakan langkah kakinya dari yang lain, seperti ada yang penting atau
aneh dari bunyinya. Benar-benar bodoh.
Keluargaku juga belum beranjak. Mereka menunggu keputusanku.
Apa  aku  akan  pergi  ke  kelas, duduk  disamping  si  gadis,  dimana  bisa  kucium  bau
darahnya yang bukan main kuatnya itu dan merasakan kehangatan nadinya di kulitku? Apa
aku cukup kuat untuk tahan? Atau, cukup satu hari saja?
“Aku...
rasa
tidak apa-apa,” Alice berkata ragu, “Kau telah memutuskan. Aku
pikir
kau
akan melewati satu jam ini.”
Tapi Alice tahu betul bagaimana sebuah keputusan dapat cepat berubah.
“Kenapa mesti memaksakan diri, Edward?” protes Jasper. Meski berusaha tidak merasa
puas melihat ganti aku yang lemah, kedengarannya ia sedikit merasa begitu, hanya sedikit.
“Pulang lah. Jangan buru-buru.”
“Kenapa   mesti   dibesar-besarkan?”   Emmet   tidak   setuju,   “Pilihannya   apa   dia   akan
membunuhnya atau tidak. Lebih cepat tahu lebih baik.”
“Aku belum ingin pindah lagi,” Rosalie memprotes. “Aku tidak mau mengulang lagi
dari awal. Kita hampir lulus, Emmet.
Akhirnya.

Aku   juga   tersiksa   pada   pilihannya.   Aku   ingin,   sangat   ingin,   menatap   kedepan
ketimbang lari lagi. Tapi aku juga tidak mau memaksakan diri. Minggu lalu suatu kesalahan
bagi Jasper  menahan haus terlalu lama; apa ini juga akan menjadi kesalahan sia-sia seperti
itu.
Aku tidak mau membuat keluargaku terusir. Mereka tidak akan berterima kasih jika itu
sampai terjadi.
33
   

Tapi aku ingin masuk ke kelas bilogiku. Harus diakui aku ingin melihat wajahnya lagi.
Akhirnya, alasan itu yang membuatku mengambil keputusan. Penasaran. Aku marah
pada   diriku   sendiri   karena   meladeninya.   Bukankah   aku   sudah   bertekad   untuk   tidak
membiarkan kesunyian pikiran gadis itu membuatku terlalu penasaran padanya? Tetap saja,
disinilah aku, amat terlalu ingin tahu.
Aku ingin tahu apa yang dia pikirkan. Pikirannya tertutup, tapi matanya sangat terbuka.
Mungkin aku bisa membacanya lewat situ.
“Tidak, Rose, kupikir betul-betul akan baik-baik saja,” Alice meyakinkan. “Ini...makin
tegas. Aku sembilan 93 persen yakin tidak akan ada kejadian buruk jika dia masuk kelas.” dia
mengerling penasaran, bertanya-tanya apa yang merubah pikiranku sehingga penglihatannya
lebih pasti.
Apa rasa penasaran cukup untuk membuat Bella Swan tetap hidup?
Emmet   betul,   tampaknya—kenapa   tidak   cepat-cepat   diselesaikan?   Akan   kuhadapi
godaan itu.
“Ayo masuk kelas,” perintahku, beranjak dari meja. Aku menjauh dari mereka tanpa
menoleh kebelakang. Bisa kudengar kecemasan Alice, kecaman Jasper, persetujuan Emmet,
dan kejengkelan Rosalie membuntutiku.
Aku  belum  terlambat.  Mr. Banner   masih  sibuk  mempersiapkan  percobaan  hari  ini.
Gadis itu telah duduk di mejanya—di meja
kami.
Wajahnya menunduk lagi, sibuk mencoret-
coret buku catatannya. Aku memperhatikan yang dia gambar  saat mendekat, penasaran pada
hal sepele  buah pikirannya.  Tapi  tidak ada  maknanya. Hanya  gambar  lingkaran-lingkaran
acak. Barangkali dia tidak memperhatikan bentuknya, tapi sedang memikirkan hal lain?
Aku menarik kursiku sedikit berisik, membiarkan kakinya menggesek lantai; manusia
merasa lebih nyaman ketika mendengar bunyi yang mengawali kehadir an seseorang.
Aku   tahu   dia   mendengar;   dia  tidak   mendongak,   tapi   tangannya   melewatkan  satu
lingkaran, membuat gambarnya tidak imbang.
Kenapa dia  tidak mendongak?  Mungkin ia takut. Kali ini  aku mesti  memberi kesan
yang lebih baik. Membuatnya berpikir telah membayangkan yang bukan-bukan sebelumnya.
“Halo,” kataku dengan suara pelan, yang biasanya membuat manusia lebih nyaman,
menyunggingkan senyum sopan tanpa memperlihatkan gigi.
34
   

Dia mendongak, mata-lebar coklatnya terkejut—hampir bingung—dan penuh tanya. Itu
adalah tatapan sama yang menghalangi pandanganku selama satu minggu kemarin.
Saat   memandang   mata-coklat-anehnya   yang   dalam,   aku   sadar   kebencian   itu—
kebencian pada gadis ini yang entah bagaimana layak mendapatkannya hanya karena hidup
—langsung sirna. Tanpa bernapas, tanpa merasakan aromanya, sulit dibayangkan seseorang
serapuh ini pantas dibenci.
Pipinya merona, tidak berkata apa-apa.
Aku terus menatap kedalam matanya, mencari dasarnya, dan coba mengacuhkan rona
kulitnya yang mengundang. Aku punya cukup persediaan udara untuk bicara seperlunya.
“Namaku Edward Cullen,” sapaku, meskipun aku tahu dia sudah tahu. Itu hanya cara
sopan untuk memulai pembicaraan. “Aku belum sempat memperkenalkan diri minggu lalu.
Kau pasti Bella Swan.”
Dia terlihat bingung—muncul kerut kecil diantara matanya. Butuh setengah detik lebih
lama untuk dia menjawab.
“B-bagaimana kau tahu namaku?” dia balik bertanya, suaranya gugup.
Aku pasti benar-benar  menakutinya. Ini membuatku merasa bersalah; dia begitu lemah.
Aku tertawa sopan—itu suara  yang kutau membuat  manusia rileks. Lagi, aku berhat-hati
dengan gigiku.
“Oh,  kurasa semua orang  tahu  namamu.” pasti dia baru menyadari  dirinya  menjadi
pusat   perhatian   di   tempat   yang   membosankan   ini.   “Seluruh   kota   telah   menantikan
kedatanganmu.”
Dia  mengerutkan   dahi,   seakan  itu   membuatnya   tidak   senang.   Kurasa,  bagi   orang
sepemalu dia, perhatian adalah hal yang  tidak mengenakan. Kebanyakan manusia merasa
sebaliknya. Kendati tidak mau terlalu menonjol, saat bersamaan mereka mencari perhatian.
“Bukan.” katanya, “Maksudku, kenapa kau memanggilku Bella?”
“Kau mau  dipanggil  Isabella?”  tanyaku heran, bingung kemana arah pertanyaannya.
Aku tidak mengerti. Jelas-jelas dia meralatnya berulang kali. Apa manusia memang serumit
ini tanpa bantuan suara mentalnya?
“Tidak,   aku   lebih   suka   Bella,”   jawabnya,   menggerakan   kepalanya   sedikit.   Dari
sikapnya—jika aku benar membacanya—dia tersiksa antara malu dan bingung. “Tapi kupikir
35
   

Charlie—maksudku ayahku—pasti  memanggilku Isabella  dibelakangku—pasti itulah  yang
diketahui orang-orang disini.” kulitnya bersemu jadi merah muda.
“Oh,” ujarku konyol, cepat-cepat membuang muka.
Aku baru sadar maksudnya: aku kelepasan bicara—ceroboh. Jika saja tidak menguping
pembicaraan orang seharian kemarin, aku akan memanggil dia dengan nama lengkap, seperti
yang lainnya. Dia menyadari perbedaan itu.
Aku  merasa  geram.  Dia  sangat  cepat  menebak  kelalaianku.  Cukup  tajam,  terutama
untuk seseorang yang semestinya takut ketika berada didekatku.
Tapi aku punya masalah yang lebih besar  dari sekedar kecurigaan yang tersembunyi di
pikirannya.
Aku kehabisan udara. Jika ingin bicara lagi, aku harus mengambil napas.
Akan  sulit  menghindari  percakapan.  Sial  baginya, semeja  denganku  berarti menjadi
rekan se
lab-
ku, dan kami mesti berpasangan hari ini. Akan terlihat aneh—dan sangat tidak
sopan—jika mengacuhkannya selama mengerjakan tugas berdua. Itu akan membuat dia lebih
curiga, lebih takut...
Aku   menjauh   sebisanya   tanpa   harus   menggeser   dudukku,   menjulurkan   kepala
kesamping. Aku  memberanikan  diri,  mengunci  otot-ototku,  dan menghirup cepat  dalam-
dalam lewat mulut.
Ahh!
Sangat Sakit. Bahkan tanpa mencium baunya, aku bisa merasakan aromanya di lidahku.
Kerongkonganku terbakar hebat lagi. Gejolaknya sama kuatnya dengan minggu lalu.
Aku mengatupkan gigi rapat-rapat sambil berusaha menguasai diri.
“Mulai.” perintah Mr. Banner.
Dibutuhkan  setiap  titik  pengendalian-diri  yang  kuperoleh selama   tujuh-puluh  tahun
kerja-keras   hanya   untuk   tersenyum  dan  menoleh  ke   gadis   itu,  yang  sedang  menunduk
memandangi meja.
“Kau duluan, partner?” aku menawarkan.
Dia menatapku. Seketika itu juga ekspresinya berubah kosong, matanya lebar. Apa ada
yang ganjil dengan ekspresiku? Apa dia ketakutan lagi? Dia tidak bilang apa- apa.
“Atau aku bisa memulainya kalau kau mau?” aku berkata pelan.
36
   

“Tidak.” katanya, dan wajahnya berubah dari putih jadi merah muda lagi. “Aku akan
memulainya.”
Aku memilih memperhatikan peralatan yang ada di meja, sebuah mikroskop, sekotak
slide
, daripada mengawasi darahnya mengalir  di balik kulitnya yang jernih. Aku mengambil
satu   napas   cepat   lagi,   melalui   sela   gigi,   dan   menjengit   ketika   rasanya   membuat
tenggorokanku perih.
“Profase.” sebutnya setelah pengamatan singkat. Dia sudah akan mengganti
slide
-nya,
meskipun tadi hampir tidak menelitinya.
“Boleh   aku  melihatnya?”  secara   reflek—hal   yang  bodoh,   seakan   aku  satu  spesies
dengannya—aku menggapai menghentikan tangannya. Selama sedetik, kehangatan kulitnya
membakar  kulitku. Rasanya seperti tersengat listrik—tentunya jauh lebih panas dari sekedar
sembilan-puluh-delapan-koma-enam   derajat.   Panasnya   membakar   cepat   dari   tangan   ke
lengan. Ia buru-buru menarik tangannya.
“Maaf,”   gumamku   lewat   sela   gigi.   Aku   butuh   sesuatu   untuk   dilihat.   Kuambil
mikroskopnya dan kuteliti sebentar. Dia benar.
“Profase,” aku setuju.
Aku  masih  belum   siap   menoleh  ke   dia.  Bernapas   cepat   lewat  gertak   gigi   sambil
mengabaikan   dahaga   yang   membakar.  Aku   berkonsentrasi   pada   satu   tugas   sederhana,
menulis pada lembar kerja, dan kemudian mengganti
slide
yang baru.
Apa  yang  dia  pikirkan  sekarang?  Apa  rasanya  bagi  dia,  saat  menyentuh  tanganku?
Kulitku pasti sedingin es—menjijikan. Tidak heran dia diam.
Aku menatap sekilas
slide
-nya.
“Anafase,” aku berkata sendiri saat akan menulis.
“Boleh kulihat?” tanyanya.
Aku  menatapnya, terkejut  karena  dia  bersungguh-sungguh. Tangannya  mengulur   ke
mikroskop. Dia tidak
terlihat
takut. Apa dia benar-benar mengira jawabanku salah?
Aku tidak bisa menahan senyum ketika melihat wajahnya saat menyodorkan mikroskop
ke dia.
Dia  melihat ke lensa dengan sangsi, dan langsung kecewa. Sudut mulutnya bergerak
turun.
37
   


Slide
tiga?” dia meminta, dengan mata masih di mikroskop, tapi mengulurkan tangan.
Aku menaruh
slide
ketiga  ke tangannya, tidak membiarkan kulitku menyentuhnya kali ini.
Duduk   disampingnya   serasa   duduk   disamping   lampu   pijar.   Tubuhku   pelan-pelan
menghangat.
Dia  tidak terlalu lama melihat. “Interfase,” katanya datar—mungkin berusaha terlalu
keras  agar  terdengar seperti itu—kemudian mendorong mikroskopnya ke arahku. Dia tidak
menyentuh kertas kerjanya, menungguku yang menulis. Aku meneliti ulang—dia benar lagi.
Kami berhasil  selesai dengan cara ini, bicara satu kata bergantian dan tidak bertemu
pandang.   Kami   yang   pertama   selesai—lainnya   tampak   kesulitan.   Mike   Newton   sulit
berkonsentrasi—dia berusaha mengawasi Bella dan aku.
Aku   harap   dia   tetap   tinggal   dimanapun   dia   pergi   kemarin,
batin   Mike,   sambil
menatapku sebal. Aku tidak tahu para anak cowok  kesal padaku. Ini perkembangan baru,
sejak kedatangan gadis  ini sepertinya. Bahkan lebih menariknya, aku menemukan—dalam
kekagetanku—kekesalan serupa pada mereka.
Kulihat lagi gadis itu, terpesona pada besarnya malapetaka, kehebohan, serta kerusakan
yang ditimbulkan pada hidupku, tak perduli betapa normal, dan tidak mengancamnya sosok
dia bagiku.
Itu   bukannya   aku   tidak   melihat   apa   yang   Mike   lihat.   Bisa   dibilang   dia   cukup
cantik...dalam cara yang tidak biasa. Lebih baik dari sekedar manis, wajahnya
menarik.
Tidak
cukup   simetris—dagunya   yang   kecil   tidak   imbang   dengan   tulang   pipinya   yang   lebar;
pewarnaannya ekstrim—kulitnya yang terang dengan rambutnya yang gelap terlihat kontras;
dan ada matanya, yang penuh rahasia...
Sepasang mata yang mendadak sepertinya menatapku bosan.
Aku menatap balik, coba menerka satu dari segala rahasia dirinya.
“Kau memakai lensa kontak, ya?” dia tiba-tiba bertanya.
Pertanyaan   yang   aneh.   “Tidak.”   aku   hampir   tersenyum   pada   ide   mempertajam
penglihatan-
ku
.
“Oh,” gumamnya. “kupikir ada yang berbeda dengan matamu.”
Mendadak  moodku  lenyap  saat  menyadar i hari  ini  bukan  cuma  aku yang  berusaha
mengorek keterangan.
38
   

Aku mengangkat bahu, bahuku kaku, dan berpaling ke depan kelas.
Tentu saja ada yang berubah pada mataku. Untuk persiapan hari ini, godaan hari  ini,
aku menghabiskan sepanjang akhir  pekan dengan berburu, memuaskan dahagaku sebanyak
mungkin, agak kebanyakan sepertinya. Aku menenggelamkan diriku dengan darah binatang
banyak-banyak. Bukannya itu akan banyak berguna jika dibanding aroma menggiurkan yang
menguar dari kulitnya. Minggu lalu, mataku hitam karena haus. Sekarang, tubuhku dibanjiri
darah, mataku berubah hangat keemasan. Kuning terang akibat usaha berlebihan memuaskan
dahaga.
Kelepasan bicara lagi. Jika tahu maksudnya, aku akan menjawab iya.
Dua tahun aku di sekolahan ini, dia satu-satunya yang memperhatikanku dengan cukup
teliti   untuk   menyadari   perubahan   warnah  mataku.  Yang  lainnya,   saat   terpesona   dengan
keluargaku, cenderung buru-buru berpaling saat kami  balas  menatap. Mereka bersembunyi
minder, secara naluri mengacuhkan detail sosok  kami  agar  jangan terlalu  menger ti. Acuh
adalah berkah bagi pikiran manusia.
Kenapa harus gadis ini yang melihat terlalu banyak?
Mr. Banner mendekati meja kami. Dengan lega aku menghirup napas dari udara bersih
yang dibawanya sebelum bercampur dengan aroma gadis ini.
“Jadi,  Edward,”  ujarnya, meneliti  jawaban  kami, “tidakkah kau pikir   Isabella perlu
diberi kesempatan menggunakan mikroskop?”
“Bella.”  spontan aku meralat. “Sebenarnya  dia mengidentifikasi tiga  dari  lima
slide
ini.”
Pikiran  Mr. Banner   berubah  skeptis   saat  menoleh  ke  sang gadis. “Apa  kau pernah
melakukan percobaan ini sebelumnya?”
Aku memperhatikan, tertarik, saat dia tersenyum, terlihat sedikit malu
“Tidak dengan akar bawang merah.”
“W
hitefish Blastula?
” Mr. Banner menyelidik.
“Yeah.”
Ini mengejutkan dia. Percobaan hari ini adalah materi yang dia ambil dari kelas khusus.
Dia mengangguk-angguk ke gadis itu. “Apa kau masuk kelas khusus di Phoenix?”
“Ya.”
39
   

Ternyata untuk ukuran manusia dia termasuk pintar. Ini tidak mengejutkan.

Well
,”   Ucap   Mr.   Banner,   sambil   mengerutkan   mulutnya.   “Kupikir   kalian   cocok
menjadi partner.” dia berputar  dan  menjauh sambil bergumam  pelan,  “Agar  yang  lainnya
dapat   kesempatan  untuk  belajar,”  Aku   ragu  gadis  itu  bisa  mendengarnya.  Dia   kembali
menggambar lingkaran.
Dua kali salah dalam satu jam. Sangat memalukan. Meski  benar-benar  tidak tahu apa
yang dia pikirkan—seberapa besar ketakutannya, seberapa besar  kecurigaannya—aku harus
meninggalkan kesan yang lebih baik.
“Sayang sekali turun salju, ya kan?” kataku, mengulang pembicaraan ringan yang telah
kudengar  ratusan kali hari ini. Topik sederhana yang membosankan. Tentang cuaca—selalu
aman.
Dia menatapku dengan ekspresi ragu yang terlihat jelas di matanya—reaksi tidak wajar
untuk ucapanku yang wajar. “Tidak juga.” jawabnya, mengejutkanku lagi.
Aku kembali  mengarahkan pembicaraan ke  topik sepele. Dia  berasal dari kota  yang
cuacanya hangat—kulitnya menunjukan itu, disamping kejujurannya—dan cuaca dingin pasti
membuat dia tidak nyaman. Sentuhan esku pasti membuatnya begitu...
“Kau tidak suka dingin.” aku menebak.
“Atau basah.” dia menambahkan.
“Forks  pasti  bukan  tempat   menyenangkan  bagimu.”
mungkin  sebaiknya  kau  tidak
datang kesini,
aku ingin menambahkan.
Mungkin sebaiknya kau kembali ke asalmu.
Rasanya aku tidak terlalu yakin menginginkan hal  itu. Aku akan selalu ingat  aroma
darahnya—apa ada jaminan aku tidak  akan mengikuti dia kesana? Disamping itu, jika  ia
pergi, pikirannya akan selamanya jadi misteri. Teka teki yang akan terus mengganggu.
“Kau tak tahu bagaimana rasanya.” dia berkata pelan, nadanya dingin.
Jawabannya tidak seperti yang kuharap. Itu membuatku ingin bertanya lagi.
“Lalu kenapa  kau datang  kesini.”  tanyaku, yang segera sadar  kedengarannya terlalu
ingin tahu, tidak santai seperti percakapan biasa. Tidak sopan, terlalu menyelidik.
“Jawabannya...rumit.”
Mata lebarnya  mengerjap,  tidak menambahkan apa-apa lagi.  Itu membuatku hampir
meledak   penasaran—rasa   penasaran   itu   membakar   sama   panasnya   dengan   dahaga   di
40

Baca selanjutnya ..