Tanpa menoleh, aku tahu Emmet, Rosalie, dan Jasper menatap Alice. Dia cuma angkat
bahu. Dia tidak dapat melihat yang lalu, hanya masa depan.
Dia mengeceknya sekarang. Kami sama-sama mengolah penglihatannya. Dan sama-
sama terkejut.
“Kamu akan pergi?” dia berbisik sedih.
Yang lain menatapku.
“Apa aku begitu?” aku mendesis lewat sela-sela gigi.
Dia melihatnya kalau begitu, begitu aku mengambil keputusan, dan pilihan lainnya
yang jauh lebih kelam.
“Oh!”
Bella Swan, mati. Mataku, merah terang oleh darah segar. Pencarian oleh penduduk.
Penantian kami sebelum semua aman dan memulai lagi dari awal...
“Oh!” Alice kaget lagi. gambarannya jadi lebih detail. Aku melihat bagian dalam rumah
Sherif Swan untuk pertama kalinya. Melihat Bella di dapurnya yang kecil dengan lemari
kuning. Dia memunggungi ku ketika aku menyelinap dari balik bayangan...merasakan
aromanya menuntunku...
“Stop!” aku mengerang, tidak tahan lagi.
“Sori,” bisiknya, matanya melebar.
Sang monster kegirangan.
Penglihatannya berubah lagi. Jalanan kosong malam-malam, pepohonan berselimut
salju di sisinya, berlalu cepat dua ratus mil perjam.
“Aku akan merindukanmu,” ujar Alice, “Tak perduli seberapa singkat kau pergi.”
Emmet dan Rosalie bertukar pandang prihatin.
Kami hampir sampai di belokan jalan masuk ke rumah.
“Turunkan kami disini,” pinta Alice. “Kau sebaiknya memberitahu Carlisle sendir i.”
Aku mengangguk, dan mobilnya mendecit berhenti.
Emmet, Rosalie, dan Jasper turun tanpa komentar; dia akan minta penjelasan Alice
setelah ini. Alice menyentuh pundakku.
“Kau akan mengambil jalan yang benar.” ucapnya pelan. Bukan penglihatan kali ini—
sebuah perintah. “Dia satu-satunya keluarga Charlie Swan. Itu akan membunuhnya juga.”
21
“Iya.” kataku, setuju hanya pada bagian terakhir.
Kemudian ia turun. Alisnya bertaut gelisah. Mereka masuk ke hutan, menghilang
sebelum aku memutar mobil.
Aku melaju cepat ke arah kota. Dan aku tahu penglihatan Alice akan berganti dari
kegelapan malam menjadi siang. Begitu menginjak sembilan puluh mil perjam menuju Forks,
aku tidak yakin dengan tujuanku. Berpamitan dengan ayahku? Atau menyerah pada monster
dalam diriku? Mobilku melaju kencang diatas aspal.
22
2. Buku Terbuka
Aku berbar ing diatas tumpukan salju, membuat cekungan disekitar tubuhku. Kulitku
mendingin menyesuaikan udara sekitar. Sebutir es jatuh ke kulitku seperti beledu.
Langit diatasku cerah, bertabur bintang, sebagian bependar biru, sebagian kuning.
Kerlip-kerlip itu begitu megah dihadapan kegelapan malam—pemandangan luarbiasa. Sangat
cantik. Atau mungkin lebih tepat disebut indah. Seharusnya, jika aku benar-benar dapat
melihatnya.
Ini tidak jadi lebih baik. Enam hari sudah lewat, enam hari besembunyi di hutan
belantara teritori keluarga Denali. Tapi aku belum juga mendapati kebebasan sejak pertama
kali mencium aroma gadis itu.
Ketika menatap ke langit, seakan ada penghalang antara mataku dan keindahannya.
Penghalangnya adalah sesosok wajah, wajah manusia biasa yang tidak istimewa, tapi aku
tidak bisa mengusirnya.
Aku mendengar suara pikiran mendekat sebelum suara langkahnya. Bunyi gerakannya
hanya berupa gesekan halus.
Aku tidak kaget Tanya membututi kesini. Aku tahu beberapa hari ini ia ingin bicara
denganku, menunggu hingga yakin pada pilihan katanya.
Dia muncul enam puluh yard didepanku, mendarat dengan bertelanjang kaki di atas
batu hitam dan menyeimbangkan tubuhnya.
Kulit Tanya keperakan dibawah cahaya malam. Rambut pirang ikal panjangnya
berpendar pucat, hampir pink seperti strawberi. Matanya yang kuning madu berkilat saat
menatapku, yang setengah terpendam dibawah salju. Bibirnya yang penuh tertarik halus
membentuk senyuman.
Sangat cantik.
Jika
aku benar-benar bisa melihatnya. Aku mendesah.
Dia membungkuk ke ujung batu, ujung jari menyentuh permukaannya, badannya
bergelung.
23
Cannonball.
Dia membatin.
Dia melentingkan dirinya keatas; tubuhnya menjadi bayangan gelap saat bersalto
dengan anggun diantaraku dan bintang-bintang. Dia melipat tubuhnya seperti bola saat
menubruk dengan keras tumpukan salju disampingku.
Salju langsung berhamburan seperti badai. Langit diatasku menggelap dan aku
tertimbun dibawah kelembutan lapisan salju.
Aku mendesah lagi, tapi tidak bangkit. Kegelapan ini tidak menyakitkan juga tidak
membantu pandanganku. Aku masih melihat wajah yang sama.
“Edward?”
Salju beterbangan lagi saat Tanya pelan-pelan menggali. Dia mengusap sisa-sisa salju
dari wajahku yang tidak bergerak, dia tidak benar-benar bertemu pandang dengan tatapanku
yang kosong.
“Sor y,” dia berbisik. “Cuma bercanda.”
“Aku tahu. Itu lucu, kok.”
Mulutnya bergerak turun.
“Menurut Irina dan Katie sebaiknya aku membiarkanmu sendir ian. Pikir mereka aku
mengganggumu.”
“Sama sekali tidak.” aku meyakinkan dia. “Sebaliknya, aku yang bersikap tidak sopan
—sangat kasar. Maafkan aku.”
Kau akan pulang, iya kan?
pikirnya.
“Aku belum... sepenuhnya... memutuskan itu.”
Tapi kau tidak akan tinggal disini.
Pikirannya kini muram, sedih.
“Tidak. Sepertinya tidak akan...membantu.”
Dia meringis. “Itu salahku, iya kan?”
“Tentu saja bukan.” aku berbohong.
Tidak usah bersikap sopan.
Aku tersenyum.
Aku membuatmu tidak nyaman,
sesalnya.
“Tidak.”
Sebelah alisnya terangkat, ekspresinya sangat tidak percaya hingga aku terpaksa
24
tertawa. Satu tawa singkat, diikuti desahan.
“Oke.” Aku akui. “Sedikit.”
Dia ikut mendesah, lalu menumpangkan dagunya ke tangan. Perasaannya kecewa.
“Kau beribu kali lebih indah dari bintang-bintang, Tanya. Tentu saja, kau menyadari itu.
Jangan biarkan kebebalanku melemahkan kepercayaan dirimu.” aku sedikit geli jika dia
sampai
begitu
.
“Aku tidak biasa ditolak.” dia menggerutu, bibir bawahnya terangkat cemberut.
“Itu pasti.” Aku setuju, sambil coba menghalau pikiran dia saat ribuan penaklukannya
berkelebat. Kebanyakan Tanya memilih manusia—populasi mereka lebih banyak salah satu
alasannya, dengan tambahan kehangatan serta kelembutan mereka. Dan selalu berhasrat
tinggi, pastinya.
“Dasar
Succubus
,” godaku, berharap bisa mengalihkan kelebat ingatannya.
Dia menyeringai, menampakan giginya. “Yang asli.”
Tidak seperti Carlisle, Tanya dan saudarinya menemukan nurani mereka belakangan.
Pada akhirnya, ketertarikan mereka pada pria lah yang mencegah mereka menjadi pembunuh.
Sekarang para pria yang mereka cintai...hidup.
“Saat kau datang kesini,” Tanya berkata pelan, “Aku kira...”
Aku tahu apa yang dia pikir kemarin. Dan seharusnya aku sudah menerka itu sebelum
kesini. Tapi kemarin aku sedang tidak bisa berpikir sehat.
“Kau mengira aku berubah pikiran.”
“Iya.” dia memberengut.
“Aku menyesal membuatmu berharap, Tanya. Aku tidak bermaksud—aku tidak
berpikir. Hanya saja aku pergi dengan... buru-buru.”
“Kurasa kau tidak akan memberitahu alasannya, kan...?”
Aku bangkit duduk dan merangkul kakiku, bersikap menghindar. “Aku tidak ingin
membicarakan itu.”
Tanya, Irina, dan Kate sangat baik menjalani pilihan hidup mereka. Bahkan lebih baik,
dalam beber apa hal, daripada Carlisle. Terlepas dari kedekatannya yang sableng dengan
mereka yang seharusnya—dan pernah—menjadi mangsanya, mereka tidak pernah membuat
kesalahan. Aku terlalu malu mengakui kelemahanku pada Tanya.
25
“Masalah perempuan?” dia menebak, mengacuhkan keenggananku.
Aku tertawa hambar. “Tidak seperti yang kau maksud.”
Dia terdiam. Pikirannya beralih ke dugaan lain, dia coba mengurai maksud jawabanku.
“Sedikitpun tidak mendekati.” aku memberitahu.
“Satu saja petunjuk?” pohonnya.
“Sudah lah, Tanya.”
Dia diam lagi, masih menebak-nebak. Kuacuhkan dia, dan sia-sia mengagumi bintang.
Akhirnya ia menyerah. Pikirannya mendesak ke hal lain.
Kau akan kemana, Edward, jika kau pergi? Kembali ke Carlisle?
“Sepertinya tidak.” Desisku.
Akan kemana aku? Aku tidak dapat menemukan satu tempatpun di dunia ini yang
menarik. Tidak ada yang ingin aku kunjungi. Karena, tidak perduli kemanapun, aku tidak
akan pergi
kesitu—
aku hanya lari
dari.
Aku benci itu. Sejak kapan aku jadi pengecut?
Tanya merangkulkan tangannya yang gemulai ke pundakku. Aku bergeming, tapi tidak
menampik. Dia tidak bermaksud lebih dari sekedar bersahabat. Sebagian besar.
“Menurutku kau akan kembali.” katanya, suaranya menyisakan sedikit logat Rusia yang
telah lama hilang. “Tak perduli apapun itu...atau siapapun...yang menghantuimu. Kau pasti
akan menghadapinya. Kau selalu begitu.”
Pikirannya sejalan dengan ucapannya. Aku coba memposisikan diri seperti yang ia
gambarkan. Bagian yang selalu menghadapi apapun. Ada baiknya memandang diriku seperti
itu lagi. Aku tidak pernah meragukan keteguhanku, kemampuanku menghadapi kesulitan,
sebelum kejadian mengerikan di kelas biologi kemarin.
Kucium pipinya, dan cepat-cepat menarik kepalaku ketika ia memalingkan wajah ke
arahku. Mulutnya memberengut. Dia tersenyum kering.
“Terima kasih, Tanya. Aku butuh mendengar itu.”
Pikirannya menggerutu. “Sama-sama, kukira. Kuharap kau bisa lebih masuk akal,
Edward.”
“Maaf, Tanya. Kau tahu kau terlalu baik untukku. Aku hanya... belum menemukan
yang kucari.”
26
“Kalau begitu, jika kau pergi sebelum kita bertemu lagi...Sampai ketemu lagi, Edward.”
“Sampai ketemu lagi.” pada saat mengucapkannya, aku bisa melihatnya. Aku bisa
melihat diriku pergi. Punya cukup kekuatan untuk kembali ke tempat yang kuingini. “terima
kasih lagi, Tanya.”
Dia bangkit berdiri dengan anggun, kemudian lari pergi, membelah hamparan salju
dengan sangat cepat hingga kakinya tidak terbenam pada kelembutannya; ia tidak
meninggalkan jejak di salju. Dia tidak menoleh ke belakang. Penolakanku mengganggunya
lebih dari yang ia kira. Dia tidak ingin menemuiku lagi sebelum aku pergi.
Mulutku merengut menyesal. Aku tidak suka menyakiti Tanya, meskipun perasaannya
tidak dalam, tidak terlalu murni, dan juga bukan sesuatu yang bisa kubalas. Tapi tetap saja itu
membuatku kurang
gentleman
.
Kutumpangkan daguku ke lutut dan memandangi bintang lagi, meskipun tiba- tiba aku
tidak sabar untuk pulang. Aku tahu Alice pasti melihatku datang, dan segera memberitahu
yang lain. Ini akan membuat mer eka gembira—Carlisle dan Esme terutama. Tapi kupandangi
bintang-bintang itu lebih lama, coba melihat melampaui wajah di benakku. Diantara diriku
dan kerlip di langit, sepasang mata coklat-muda yang membingungkan itu menatapku,
kelihatan bertanya-tanya apa arti keputusan ini baginya. Tentu saja, aku tidak tahu pasti apa
arti tatapan misteriusnya. Bahkan dalam bayanganku, aku tidak dapat mendengar pikirannya.
Mata Bella Swan terus bertanya-tanya, tetap menghalangi bintang. Dengan helaan berat aku
menyerah, kemudian berdiri. Jika berlari, aku akan tiba di mobil Carlisle kurang dari satu
jam...
Dalam ketergesaan menemui keluargaku—dan keinginan menjadi seorang Edward
yang menghadapi apapun—aku berlari kencang melintasi padang salju dibawah temaram
bintang, tanpa meninggalkan jejak.
“Semua akan baik-baik saja,”
Alice menarik napas. Tatapannya kosong, tangan Jasper
memegang sikunya, menuntun dia saat rombongan kami berjalan rapat melintasi kafetaria.
Rosalie dan Emmet mempin di depan. Emmet terlihat konyol dengan gaya bodyguardnya
seakan sedang di daerah musuh. Rose terlihat khawatir juga, tapi lebih pada kesal.
27
“Tentu saja iya.” aku menggerutu. Kelakukan mereka menggelikan. Jika tidak yakin
bisa mengatasi, aku akan tinggal di rumah.
Perbuahan mendadak dari pagi yang normal, bahkan menyenangkan—tadi malam turun
salju, dan Emmet serta Jasper tidak terlalu memanfaatkan lamunanku untuk
membombardirku dengan bola salju; ketika bosan dengan keacuhanku, mereka saling
menyerang sendiri—kewaspadaan berlebihan ini terlihat lucu jika saja tidak menjengkelkan.
“Dia belum datang, tapi dari arahnya nanti...ia tidak akan melawan angin jika kita
duduk di tempat biasa.”
“
Tentu saja
kita akan duduk di tempat biasa. Hentikan, Alice. Kau membuatku kesal.
Aku baik-baik saja.”
Dia mengerjap saat Jasper menuntun duduk. Matanya kembali fokus.
“Hmm,” gumamnya, terkejut. “Sepertinya kau betul.”
“
Tentu saja
iya.” aku memberengut.
Aku tidak suka jadi pusat kerisauan. Tiba-tiba aku bersimpati pada Jasper, teringat
bagaimana selama ini kami sangat protektif. Dia bertemu pandang denganku, dan
menyeringai.
Mengganggu, bukan?
Aku mendesis padanya.
Apa baru minggu lalu ruangan ini terlihat sangat membosankan? Sehingga rasanya
hampir seperti tidur, koma, saat berada disini? Hari ini syarafku tegang. Inderaku waspada
penuh; kupantau setiap suara, setiap penglihatan, setiap gerakan udara yang menyentuh
kulitku, setiap pikiran. Terutama pikiran. Hanya satu indra yang kumatikan, tak ingin
kupakai. Penciuman, tentu saja. Aku tidak bernapas.
Aku mengharapkan nama keluarga Cullen lebih sering disebut di pikiran-pikiran yang
keluwati. Seharian aku menunggu, mencari apapun yang diceritakan si anak baru Bella Swan.
Coba melihat gosip barunya. Tapi tidak ada apa-apa. Tidak ada yang menyadari kehadiran
lima vampir di kafetaria, sama seperti sebelum anak perempuan itu datang. Beberapa
manusia masih memikirkan gadis itu, masih dengan pikiran yang sama dengan minggu lalu.
Bukannya bosan, aku malah terkesima.
Apa dia tidak mengatakan apapun tentang diriku?
28
Mustahil dia tidak menyadari tatapan gelap-ku yang mengancam. Aku melihatnya
bereaksi. Sudah pasti aku membuatnya takut. Aku cukup yakin ia akan cerita ke seseorang,
mungkin sedikit dibumbui agar lebih baik. Menambah tanda-tanda ancaman yang lain.
Kemudian, ia juga dengar aku minta pindah kelas biologi. Dia pasti menebak, setelah
melihat ekspresiku, bahwa dia penyebabnya. Anak perempuan normal pasti akan bertanya
kemana-mana, membandingkan pengalaman, mencari kesamaan yang dapat menjelaskan
sikapku hingga dia tidak merasa sendirian. Manusia cenderung ingin bersikap normal,
diterima. Membaur dengan lingkungannya, seperti sekawanan domba. Kebutuhan seperti itu
biasanya kuat pada masa-masa remaja. Tidak terkecuali pada Gadis itu tentunya.
Tapi tidak satupun memperhatikan kami, di meja kami biasanya. Bella pasti sangat
pemalu, jika sampai tidak cerita ke siapapun. Barangkali pada ayahnya, mungkin itu orang
terdekatnya...meskipun tampaknya tidak begitu, mengingat dia tidak menghabiskan hidupnya
bersama ayahnya sebelum ini. Kemungkinan ia lebih dekat dengan ibunya. Tetap saja, aku
mesti berpapasan dengan
Chief
Swan secepatnya dan mendengar pikirannya.
“Ada yang baru?” tanya Jasper.
“Tidak ada. Dia...pasti tidak cerita apa-apa.”
Semua menaikan alis kaget.
“Mungkin kau tidak semengerikan yang kau kira,” Emmet terkekeh, “Berani taruhan
aku bisa lebih menakuti dia daripada
itu
.”
Aku mendelik.
“Sudah tahu kenapa...?” Dia masih penasaran dengan kesunyian benak gadis itu.
“Kita sudah membahas itu. Aku tidak
tahu.
”
“Dia akan masuk.” Alice berbisik. Badanku kaku. “Coba bersikap seperti manusia.”
“Manusia, ya?” tanya Emmet.
Dia mengangkat tinju kanannya, membalik telapak tangannya hingga memperlihatkan
bola salju yang ia sembunyikan di genggamannya. Tentu saja tidak meleleh. Dia meremas
hingga mengeras menjadi bongkahan es. Matanya mengincar Jasper, tapi aku tahu kemana
pikirannya. Ke Alice, tentu saja. Ketika tiba-tiba esnya meluncur ke Alice, dia menepis santai
dengan kibasan jari. Bongkahan es itu terlempar melintasi ruangan, terlalu cepat untuk diikuti
mata manusia, lalu menghantam tembok hingga berhamburan. Temboknya rengkah.
29
Orang-orang disekitarnya memeloti pecahan es yang berserakan di lantai, saling lirik
mencari biang onarnya. Mereka tidak mencari terlalu jauh. Tidak ada yang menoleh kesini.
“Sangat manusia, Emmet.” Rosalie menegur mesra. “Kenapa tidak sekalian kau tinju
temboknya hingga runtuh?”
“Terlihat lebih impresif jika kau yang melakukannya, sayang.”
Aku pura-pura memperhatikan, tersenyum kecil seakan menikmati gurauan mer eka.
Aku berusaha tidak melihat ke gadis itu. Tapi kesanalah pendengaranku sepenuhnya.
Aku bisa mendengar ketidaksabaran Jessica pada si murid baru, yang sepertinya
sedang melamun, berdiri kaku di antrian. Kulihat, lewat pikiran Jessica, pipi Bella Swan
bersemu merah muda oleh darah.
Aku menarik napas pendek, siap-siap menahan napas jika aromanya sampai ke
dekatku.
Mike Newton bersama dua gadis itu. Aku mendegar dua suaranya, pikiran dan verbal,
ketika bertanya ke Jessica ada apa dengan gadis itu. Aku tidak suka dengan jalan pikirannya,
yang merasa teracuhkan oleh lamunan si gadis.
“Tidak apa-apa.” Bella menjawab dengan suara lirih, sangat jernih. Kedengarannya
seperti dering bel diantara dengung samar di seantero kafetaria. Tapi itu lebih karena aku
sedang menyimaknya dengan keras.
“Hari ini aku minum soda saja,” dia melanjutkan sembari maju mengikuti antrian.
Aku tidak bisa menahan diri untuk tidak melirik. Dia sedang memandangi lantai,
berangsur darah menghilang dari wajahnya. Aku cepat- cepat membuang muka, ke Emmet,
yang tertawa melihat seringai panik di wajahku.
Kau terlihat sakit, bro.
Aku mengatur mimikku agar terlihat santai.
Di telingaku Jessica berteriak heran dengan selera makan gadis itu. “Kau tidak lapar?”
“Sebenarnya, aku merasa sedikit tidak enak badan.” suaranya memelan, tapi masih
sangat jelas.
Kenapa itu menggangguku, rasa prihatin yang tiba-tiba muncul dari pikiran Mike
Newton? Memang kenapa jika pikirannya terlalu protektif? Bukan urusanku jika Mike
Newton bersikap berlebihan ke dia. Mungkin seperti itu juga sikap yang lain. Bukankah
30
minggu lalu, secara naluri, aku juga ingin melindungi dia? Sebelum ingin membunuhnya...
Tapi
apa
gadis itu sakit?
Sulit menilainya—dia terlihat sangat lembut dengan kulitnya yang jernih
menerawang... kemudian kusadari aku ikut khawatir, sama seperti anak tolol itu, dan kupaksa
untuk tidak memikirkan kesehatannya.
Bagaimanapun juga, aku tidak suka memantau dia lewat pikiran Mike. Aku pindah ke
Jessica, memperhatikan ketiganya memilih meja. Untung mereka duduk di tempat biasa, di
salah satu meja terdepan. Tidak melawan angin, seperti janji Alice.
Alice menyikutku.
Dia akan melihat kesini, bersikap manusia.
Aku mengatupkan gigi rapat-rapat dibalik seringai senyumku.
“Tenang, Edward.” sindir Emmet. “Terus terang. Paling ujung-ujungnya kau
membunuh satu orang. Dunia tidak akan berakhir.”
“Tunggu saja,” gerutuku.
Emmet tertawa. “Kau mesti belajar melupakan sesuatu. Seperti diriku. Keabadian
adalah waktu yang panjang untuk menyesali kesalahan.”
Seketika itu juga, Alice melempar es yang ia sembunyikan ke muka Emmet.
Dia mengerjap, kaget, dan menyeringai waspada.
“Kau yang mulai duluan,” Emmet mencondongkan tubuh ke seberang meja lalu
mengibaskan rambutnya yang mengerak beku. Air beterbangan, setengah cair setengah beku.
“Aduh!” keluh Rose. Dia dan Alice menyingkir dari semburan hujan Emmet.
Alice tertawa, dan kami semua kembali menikmati canda ini. Aku bisa melihat di
pikiran Alice bagaimana ia mengarsiteki momen sempurna ini. Dan aku tahu sang gadis itu—
aku mesti berhenti berpikiran begitu, seakan dia satu-satunya perempuan di dunia—bahwa
Bella
sedang memperhatikan kami tertawa dan bercanda, terlihat bahagia dan normal, seideal
lukisan Norman Rockwell.
Alice terus tertawa, dan mengangkat nampannya sebagai perisai. Sang gadis—Bella—
pasti masih menonton.
...memandangi keluarga Cullen lagi,
seseorang membatin, menarik perhatianku.
Otomatis aku menoleh kearah panggilan yang tak disengaja itu, segera mengenali
suaranya sebelum pandanganku sampai—aku sering mendengarnya hari ini.
31
Tapi mataku sedikit melewati Jessica, dan tertumbuk pada tatapan dalam gadis itu.
Dia cepat-cepat menunduk, bersembunyi dibalik rambutnya.
Apa yang dia pikirkan? Rasa frustasi ini makin lama makin menjadi, bukanya
menghilang. Aku mencoba—tidak terlalu yakin karena belum pernah melakukanya—
menyelidiki dengan pikiranku pada kesunyian di sekeliling gadis itu. Pendengaran ekstraku
selalu muncul alami, tanpa diminta; aku tidak pernah mengupayakannya. Tapi aku
berkonsentrasi sekarang, coba menembus penghalang apapun disekelilingnya.
Tidak ada apa-apa selain hening.
Ada apa sih dengan Bella?
Batin Jessica, sejalan dengan frustasiku.
“Edward Cullen menatapmu,” dia berbisik di telinga si Swan, sambil cekikikan. Tidak
ada nada sinis atau cemburu. Jessica kelihatannya pandai sok bersahabat.
Aku mendengarkan, terlalu tertarik, pada responnya.
“Dia tidak kelihatan marah, iya kan?” dia balik berbisik.
Jadi dia menyadari reaksi liarku kemarin. Tentu saja begitu.
Pertanyaan itu membingungkan Jessica. Aku melihat wajahku di benaknya ketika ia
mengecek ekspresiku, tapi aku tidak menatapnya. Aku masih berkonsentrasi pada gadis itu,
coba mendengar
sesuatu
. Hal itu kelihatannya tidak membantu sema sekali.
“Tidak.” jawab Jess, dan aku tahu dia berharap bisa berkata iya—bagaimana tatapanku
sangat mengganggu pikiran dia—meskipun tidak ada tanda-tanda hal itu di suaranya.
“Apakah seharusnya dia marah?”
“Sepertinya dia tidak suka padaku,” gadis itu kembali berbisik, menelungkupkan kepala
di tangan seakan tiba-tiba letih. Aku coba memahami gerakannya, tapi cuma bisa menebak.
Mungkin dia
memang
letih.
“Keluarga Cullen tidak menyukai siapapun,” Jessica meyakinkan dia. “
Well
, mereka
memang tidak memedulikan siapa-siapa.”
mereka selalu begitu.
Pikirannya menggerutu.
“Tapi dia masih memandangimu.”
“Sudah jangan dilihat lagi,” gadis itu mendesis kesal, mengangkat kepalanya untuk
memastikan Jessica mematuhinya.
Jessica terkekeh, melakukan apa yang diminta.
Gadis itu tidak mengalihkan pandangan dari mejanya selama sisa istirahat. Sepertinya
32
—sepertinya tentu saja, aku tidak bisa yakin—hal itu disengaja. Kelihatannya sebetulnya ia
ingin melihatku. Badannya menggeser sedikit, dagunya hampir menoleh, tapi kemudian ia
tahan, menghela napas panjang, dan menatap ke siapapun di mejanya yang sedang bicara.
Kuacuhkan sebagian besar pikiran di meja itu, karena tidak berkaitan dengan dia. Mike
Newton merencanakan perang salju sepulang sekolah, tidak sadar telah turun hujan. Butir-
butir halus yang meyalang ke atap telah berubah menjadi rintik. Apa dia tidak mendengar
perubahannya? Terdengar nyaring kalau buatku.
Ketika jam istirahat selesai, aku masih tetap duduk. Manusia-manusia itu mulai keluar.
Tanpa sadar aku membedakan langkah kakinya dari yang lain, seperti ada yang penting atau
aneh dari bunyinya. Benar-benar bodoh.
Keluargaku juga belum beranjak. Mereka menunggu keputusanku.
Apa aku akan pergi ke kelas, duduk disamping si gadis, dimana bisa kucium bau
darahnya yang bukan main kuatnya itu dan merasakan kehangatan nadinya di kulitku? Apa
aku cukup kuat untuk tahan? Atau, cukup satu hari saja?
“Aku...
rasa
tidak apa-apa,” Alice berkata ragu, “Kau telah memutuskan. Aku
pikir
kau
akan melewati satu jam ini.”
Tapi Alice tahu betul bagaimana sebuah keputusan dapat cepat berubah.
“Kenapa mesti memaksakan diri, Edward?” protes Jasper. Meski berusaha tidak merasa
puas melihat ganti aku yang lemah, kedengarannya ia sedikit merasa begitu, hanya sedikit.
“Pulang lah. Jangan buru-buru.”
“Kenapa mesti dibesar-besarkan?” Emmet tidak setuju, “Pilihannya apa dia akan
membunuhnya atau tidak. Lebih cepat tahu lebih baik.”
“Aku belum ingin pindah lagi,” Rosalie memprotes. “Aku tidak mau mengulang lagi
dari awal. Kita hampir lulus, Emmet.
Akhirnya.
”
Aku juga tersiksa pada pilihannya. Aku ingin, sangat ingin, menatap kedepan
ketimbang lari lagi. Tapi aku juga tidak mau memaksakan diri. Minggu lalu suatu kesalahan
bagi Jasper menahan haus terlalu lama; apa ini juga akan menjadi kesalahan sia-sia seperti
itu.
Aku tidak mau membuat keluargaku terusir. Mereka tidak akan berterima kasih jika itu
sampai terjadi.
33
Tapi aku ingin masuk ke kelas bilogiku. Harus diakui aku ingin melihat wajahnya lagi.
Akhirnya, alasan itu yang membuatku mengambil keputusan. Penasaran. Aku marah
pada diriku sendiri karena meladeninya. Bukankah aku sudah bertekad untuk tidak
membiarkan kesunyian pikiran gadis itu membuatku terlalu penasaran padanya? Tetap saja,
disinilah aku, amat terlalu ingin tahu.
Aku ingin tahu apa yang dia pikirkan. Pikirannya tertutup, tapi matanya sangat terbuka.
Mungkin aku bisa membacanya lewat situ.
“Tidak, Rose, kupikir betul-betul akan baik-baik saja,” Alice meyakinkan. “Ini...makin
tegas. Aku sembilan 93 persen yakin tidak akan ada kejadian buruk jika dia masuk kelas.” dia
mengerling penasaran, bertanya-tanya apa yang merubah pikiranku sehingga penglihatannya
lebih pasti.
Apa rasa penasaran cukup untuk membuat Bella Swan tetap hidup?
Emmet betul, tampaknya—kenapa tidak cepat-cepat diselesaikan? Akan kuhadapi
godaan itu.
“Ayo masuk kelas,” perintahku, beranjak dari meja. Aku menjauh dari mereka tanpa
menoleh kebelakang. Bisa kudengar kecemasan Alice, kecaman Jasper, persetujuan Emmet,
dan kejengkelan Rosalie membuntutiku.
Aku belum terlambat. Mr. Banner masih sibuk mempersiapkan percobaan hari ini.
Gadis itu telah duduk di mejanya—di meja
kami.
Wajahnya menunduk lagi, sibuk mencoret-
coret buku catatannya. Aku memperhatikan yang dia gambar saat mendekat, penasaran pada
hal sepele buah pikirannya. Tapi tidak ada maknanya. Hanya gambar lingkaran-lingkaran
acak. Barangkali dia tidak memperhatikan bentuknya, tapi sedang memikirkan hal lain?
Aku menarik kursiku sedikit berisik, membiarkan kakinya menggesek lantai; manusia
merasa lebih nyaman ketika mendengar bunyi yang mengawali kehadir an seseorang.
Aku tahu dia mendengar; dia tidak mendongak, tapi tangannya melewatkan satu
lingkaran, membuat gambarnya tidak imbang.
Kenapa dia tidak mendongak? Mungkin ia takut. Kali ini aku mesti memberi kesan
yang lebih baik. Membuatnya berpikir telah membayangkan yang bukan-bukan sebelumnya.
“Halo,” kataku dengan suara pelan, yang biasanya membuat manusia lebih nyaman,
menyunggingkan senyum sopan tanpa memperlihatkan gigi.
34
Dia mendongak, mata-lebar coklatnya terkejut—hampir bingung—dan penuh tanya. Itu
adalah tatapan sama yang menghalangi pandanganku selama satu minggu kemarin.
Saat memandang mata-coklat-anehnya yang dalam, aku sadar kebencian itu—
kebencian pada gadis ini yang entah bagaimana layak mendapatkannya hanya karena hidup
—langsung sirna. Tanpa bernapas, tanpa merasakan aromanya, sulit dibayangkan seseorang
serapuh ini pantas dibenci.
Pipinya merona, tidak berkata apa-apa.
Aku terus menatap kedalam matanya, mencari dasarnya, dan coba mengacuhkan rona
kulitnya yang mengundang. Aku punya cukup persediaan udara untuk bicara seperlunya.
“Namaku Edward Cullen,” sapaku, meskipun aku tahu dia sudah tahu. Itu hanya cara
sopan untuk memulai pembicaraan. “Aku belum sempat memperkenalkan diri minggu lalu.
Kau pasti Bella Swan.”
Dia terlihat bingung—muncul kerut kecil diantara matanya. Butuh setengah detik lebih
lama untuk dia menjawab.
“B-bagaimana kau tahu namaku?” dia balik bertanya, suaranya gugup.
Aku pasti benar-benar menakutinya. Ini membuatku merasa bersalah; dia begitu lemah.
Aku tertawa sopan—itu suara yang kutau membuat manusia rileks. Lagi, aku berhat-hati
dengan gigiku.
“Oh, kurasa semua orang tahu namamu.” pasti dia baru menyadari dirinya menjadi
pusat perhatian di tempat yang membosankan ini. “Seluruh kota telah menantikan
kedatanganmu.”
Dia mengerutkan dahi, seakan itu membuatnya tidak senang. Kurasa, bagi orang
sepemalu dia, perhatian adalah hal yang tidak mengenakan. Kebanyakan manusia merasa
sebaliknya. Kendati tidak mau terlalu menonjol, saat bersamaan mereka mencari perhatian.
“Bukan.” katanya, “Maksudku, kenapa kau memanggilku Bella?”
“Kau mau dipanggil Isabella?” tanyaku heran, bingung kemana arah pertanyaannya.
Aku tidak mengerti. Jelas-jelas dia meralatnya berulang kali. Apa manusia memang serumit
ini tanpa bantuan suara mentalnya?
“Tidak, aku lebih suka Bella,” jawabnya, menggerakan kepalanya sedikit. Dari
sikapnya—jika aku benar membacanya—dia tersiksa antara malu dan bingung. “Tapi kupikir
35
Charlie—maksudku ayahku—pasti memanggilku Isabella dibelakangku—pasti itulah yang
diketahui orang-orang disini.” kulitnya bersemu jadi merah muda.
“Oh,” ujarku konyol, cepat-cepat membuang muka.
Aku baru sadar maksudnya: aku kelepasan bicara—ceroboh. Jika saja tidak menguping
pembicaraan orang seharian kemarin, aku akan memanggil dia dengan nama lengkap, seperti
yang lainnya. Dia menyadari perbedaan itu.
Aku merasa geram. Dia sangat cepat menebak kelalaianku. Cukup tajam, terutama
untuk seseorang yang semestinya takut ketika berada didekatku.
Tapi aku punya masalah yang lebih besar dari sekedar kecurigaan yang tersembunyi di
pikirannya.
Aku kehabisan udara. Jika ingin bicara lagi, aku harus mengambil napas.
Akan sulit menghindari percakapan. Sial baginya, semeja denganku berarti menjadi
rekan se
lab-
ku, dan kami mesti berpasangan hari ini. Akan terlihat aneh—dan sangat tidak
sopan—jika mengacuhkannya selama mengerjakan tugas berdua. Itu akan membuat dia lebih
curiga, lebih takut...
Aku menjauh sebisanya tanpa harus menggeser dudukku, menjulurkan kepala
kesamping. Aku memberanikan diri, mengunci otot-ototku, dan menghirup cepat dalam-
dalam lewat mulut.
Ahh!
Sangat Sakit. Bahkan tanpa mencium baunya, aku bisa merasakan aromanya di lidahku.
Kerongkonganku terbakar hebat lagi. Gejolaknya sama kuatnya dengan minggu lalu.
Aku mengatupkan gigi rapat-rapat sambil berusaha menguasai diri.
“Mulai.” perintah Mr. Banner.
Dibutuhkan setiap titik pengendalian-diri yang kuperoleh selama tujuh-puluh tahun
kerja-keras hanya untuk tersenyum dan menoleh ke gadis itu, yang sedang menunduk
memandangi meja.
“Kau duluan, partner?” aku menawarkan.
Dia menatapku. Seketika itu juga ekspresinya berubah kosong, matanya lebar. Apa ada
yang ganjil dengan ekspresiku? Apa dia ketakutan lagi? Dia tidak bilang apa- apa.
“Atau aku bisa memulainya kalau kau mau?” aku berkata pelan.
36
“Tidak.” katanya, dan wajahnya berubah dari putih jadi merah muda lagi. “Aku akan
memulainya.”
Aku memilih memperhatikan peralatan yang ada di meja, sebuah mikroskop, sekotak
slide
, daripada mengawasi darahnya mengalir di balik kulitnya yang jernih. Aku mengambil
satu napas cepat lagi, melalui sela gigi, dan menjengit ketika rasanya membuat
tenggorokanku perih.
“Profase.” sebutnya setelah pengamatan singkat. Dia sudah akan mengganti
slide
-nya,
meskipun tadi hampir tidak menelitinya.
“Boleh aku melihatnya?” secara reflek—hal yang bodoh, seakan aku satu spesies
dengannya—aku menggapai menghentikan tangannya. Selama sedetik, kehangatan kulitnya
membakar kulitku. Rasanya seperti tersengat listrik—tentunya jauh lebih panas dari sekedar
sembilan-puluh-delapan-koma-enam derajat. Panasnya membakar cepat dari tangan ke
lengan. Ia buru-buru menarik tangannya.
“Maaf,” gumamku lewat sela gigi. Aku butuh sesuatu untuk dilihat. Kuambil
mikroskopnya dan kuteliti sebentar. Dia benar.
“Profase,” aku setuju.
Aku masih belum siap menoleh ke dia. Bernapas cepat lewat gertak gigi sambil
mengabaikan dahaga yang membakar. Aku berkonsentrasi pada satu tugas sederhana,
menulis pada lembar kerja, dan kemudian mengganti
slide
yang baru.
Apa yang dia pikirkan sekarang? Apa rasanya bagi dia, saat menyentuh tanganku?
Kulitku pasti sedingin es—menjijikan. Tidak heran dia diam.
Aku menatap sekilas
slide
-nya.
“Anafase,” aku berkata sendiri saat akan menulis.
“Boleh kulihat?” tanyanya.
Aku menatapnya, terkejut karena dia bersungguh-sungguh. Tangannya mengulur ke
mikroskop. Dia tidak
terlihat
takut. Apa dia benar-benar mengira jawabanku salah?
Aku tidak bisa menahan senyum ketika melihat wajahnya saat menyodorkan mikroskop
ke dia.
Dia melihat ke lensa dengan sangsi, dan langsung kecewa. Sudut mulutnya bergerak
turun.
37
“
Slide
tiga?” dia meminta, dengan mata masih di mikroskop, tapi mengulurkan tangan.
Aku menaruh
slide
ketiga ke tangannya, tidak membiarkan kulitku menyentuhnya kali ini.
Duduk disampingnya serasa duduk disamping lampu pijar. Tubuhku pelan-pelan
menghangat.
Dia tidak terlalu lama melihat. “Interfase,” katanya datar—mungkin berusaha terlalu
keras agar terdengar seperti itu—kemudian mendorong mikroskopnya ke arahku. Dia tidak
menyentuh kertas kerjanya, menungguku yang menulis. Aku meneliti ulang—dia benar lagi.
Kami berhasil selesai dengan cara ini, bicara satu kata bergantian dan tidak bertemu
pandang. Kami yang pertama selesai—lainnya tampak kesulitan. Mike Newton sulit
berkonsentrasi—dia berusaha mengawasi Bella dan aku.
Aku harap dia tetap tinggal dimanapun dia pergi kemarin,
batin Mike, sambil
menatapku sebal. Aku tidak tahu para anak cowok kesal padaku. Ini perkembangan baru,
sejak kedatangan gadis ini sepertinya. Bahkan lebih menariknya, aku menemukan—dalam
kekagetanku—kekesalan serupa pada mereka.
Kulihat lagi gadis itu, terpesona pada besarnya malapetaka, kehebohan, serta kerusakan
yang ditimbulkan pada hidupku, tak perduli betapa normal, dan tidak mengancamnya sosok
dia bagiku.
Itu bukannya aku tidak melihat apa yang Mike lihat. Bisa dibilang dia cukup
cantik...dalam cara yang tidak biasa. Lebih baik dari sekedar manis, wajahnya
menarik.
Tidak
cukup simetris—dagunya yang kecil tidak imbang dengan tulang pipinya yang lebar;
pewarnaannya ekstrim—kulitnya yang terang dengan rambutnya yang gelap terlihat kontras;
dan ada matanya, yang penuh rahasia...
Sepasang mata yang mendadak sepertinya menatapku bosan.
Aku menatap balik, coba menerka satu dari segala rahasia dirinya.
“Kau memakai lensa kontak, ya?” dia tiba-tiba bertanya.
Pertanyaan yang aneh. “Tidak.” aku hampir tersenyum pada ide mempertajam
penglihatan-
ku
.
“Oh,” gumamnya. “kupikir ada yang berbeda dengan matamu.”
Mendadak moodku lenyap saat menyadar i hari ini bukan cuma aku yang berusaha
mengorek keterangan.
38
Aku mengangkat bahu, bahuku kaku, dan berpaling ke depan kelas.
Tentu saja ada yang berubah pada mataku. Untuk persiapan hari ini, godaan hari ini,
aku menghabiskan sepanjang akhir pekan dengan berburu, memuaskan dahagaku sebanyak
mungkin, agak kebanyakan sepertinya. Aku menenggelamkan diriku dengan darah binatang
banyak-banyak. Bukannya itu akan banyak berguna jika dibanding aroma menggiurkan yang
menguar dari kulitnya. Minggu lalu, mataku hitam karena haus. Sekarang, tubuhku dibanjiri
darah, mataku berubah hangat keemasan. Kuning terang akibat usaha berlebihan memuaskan
dahaga.
Kelepasan bicara lagi. Jika tahu maksudnya, aku akan menjawab iya.
Dua tahun aku di sekolahan ini, dia satu-satunya yang memperhatikanku dengan cukup
teliti untuk menyadari perubahan warnah mataku. Yang lainnya, saat terpesona dengan
keluargaku, cenderung buru-buru berpaling saat kami balas menatap. Mereka bersembunyi
minder, secara naluri mengacuhkan detail sosok kami agar jangan terlalu menger ti. Acuh
adalah berkah bagi pikiran manusia.
Kenapa harus gadis ini yang melihat terlalu banyak?
Mr. Banner mendekati meja kami. Dengan lega aku menghirup napas dari udara bersih
yang dibawanya sebelum bercampur dengan aroma gadis ini.
“Jadi, Edward,” ujarnya, meneliti jawaban kami, “tidakkah kau pikir Isabella perlu
diberi kesempatan menggunakan mikroskop?”
“Bella.” spontan aku meralat. “Sebenarnya dia mengidentifikasi tiga dari lima
slide
ini.”
Pikiran Mr. Banner berubah skeptis saat menoleh ke sang gadis. “Apa kau pernah
melakukan percobaan ini sebelumnya?”
Aku memperhatikan, tertarik, saat dia tersenyum, terlihat sedikit malu
“Tidak dengan akar bawang merah.”
“W
hitefish Blastula?
” Mr. Banner menyelidik.
“Yeah.”
Ini mengejutkan dia. Percobaan hari ini adalah materi yang dia ambil dari kelas khusus.
Dia mengangguk-angguk ke gadis itu. “Apa kau masuk kelas khusus di Phoenix?”
“Ya.”
39
Ternyata untuk ukuran manusia dia termasuk pintar. Ini tidak mengejutkan.
“
Well
,” Ucap Mr. Banner, sambil mengerutkan mulutnya. “Kupikir kalian cocok
menjadi partner.” dia berputar dan menjauh sambil bergumam pelan, “Agar yang lainnya
dapat kesempatan untuk belajar,” Aku ragu gadis itu bisa mendengarnya. Dia kembali
menggambar lingkaran.
Dua kali salah dalam satu jam. Sangat memalukan. Meski benar-benar tidak tahu apa
yang dia pikirkan—seberapa besar ketakutannya, seberapa besar kecurigaannya—aku harus
meninggalkan kesan yang lebih baik.
“Sayang sekali turun salju, ya kan?” kataku, mengulang pembicaraan ringan yang telah
kudengar ratusan kali hari ini. Topik sederhana yang membosankan. Tentang cuaca—selalu
aman.
Dia menatapku dengan ekspresi ragu yang terlihat jelas di matanya—reaksi tidak wajar
untuk ucapanku yang wajar. “Tidak juga.” jawabnya, mengejutkanku lagi.
Aku kembali mengarahkan pembicaraan ke topik sepele. Dia berasal dari kota yang
cuacanya hangat—kulitnya menunjukan itu, disamping kejujurannya—dan cuaca dingin pasti
membuat dia tidak nyaman. Sentuhan esku pasti membuatnya begitu...
“Kau tidak suka dingin.” aku menebak.
“Atau basah.” dia menambahkan.
“Forks pasti bukan tempat menyenangkan bagimu.”
mungkin sebaiknya kau tidak
datang kesini,
aku ingin menambahkan.
Mungkin sebaiknya kau kembali ke asalmu.
Rasanya aku tidak terlalu yakin menginginkan hal itu. Aku akan selalu ingat aroma
darahnya—apa ada jaminan aku tidak akan mengikuti dia kesana? Disamping itu, jika ia
pergi, pikirannya akan selamanya jadi misteri. Teka teki yang akan terus mengganggu.
“Kau tak tahu bagaimana rasanya.” dia berkata pelan, nadanya dingin.
Jawabannya tidak seperti yang kuharap. Itu membuatku ingin bertanya lagi.
“Lalu kenapa kau datang kesini.” tanyaku, yang segera sadar kedengarannya terlalu
ingin tahu, tidak santai seperti percakapan biasa. Tidak sopan, terlalu menyelidik.
“Jawabannya...rumit.”
Mata lebarnya mengerjap, tidak menambahkan apa-apa lagi. Itu membuatku hampir
meledak penasaran—rasa penasaran itu membakar sama panasnya dengan dahaga di
40
2.
Langganan:
Postingan (Atom)

